• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

3. Hasil Belajar

D. Perumusan Masalah

Bertolak dari uraian di atas, perumusan masalah yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini antara lain :

commit to user

1. Apakah terdapat perbedaan dalam pencapaian hasil belajar siswa antara pembelajaran yang menggunakan pendekatan kooperatif tipe jigsaw dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ekspositori dengan ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas?

2. Apakah pendekatan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik digunakan dalam pencapaian hasil belajar siswa dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran ekspositori dengan ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan pokok yang hendak dicapai dalam penelitian ini antara lain : 1. Untuk mengetahui perbedaan dalam pencapaian hasil belajar siswa antara

pembelajaran yang menggunakan pendekatan kooperatif tipe jigsaw dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ekspositori metode ceramah tanya jawab tugas.

2. Untuk mengetahui apakah pendekatan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik digunakan dalam pencapaian hasil belajar siswa dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran ekspositori metode ceramah tanya jawab tugas.

F. Manfaat Penelitian

Aktivitas yang dilakukan oleh setiap orang sudah sepantasnya mengharapkan sesuatu yang berguna untuk kepentingannya. Demikian pula dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat teoritis

Untuk memberikan sumbangan teori di bidang pendidikan khususnya mengenai pendekatan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru

Untuk memberikan alternatif pendekatan pembelajaran, sehingga guru dapat memilih pendekatan pembelajaran yang tepat untuk siswanya.

commit to user

Untuk memberikan variasi pembelajaran kepada siswa selaku peserta didik, dengan memberikan kesempatan siswa untuk berpikir kritis dan lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

c. Bagi Penulis

Untuk membekali penulis sebagai calon guru mengenai pendekatan-pendekatan pembelajaran khususnya mengenai pendekatan-pendekatan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

commit to user 8 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Studi Komparasi

Studi berasal dari kata “Study” yang berarti belajar atau mempelajari. Studi dapat diartikan usaha untuk mempelajari secara seksama (Purwadarminta, 1989: 513).

Van Dallen dalam Arikunto (2002: 236-237) menyebutkan bahwa “Penelitian komparasi yaitu ingin membandingkan dua atau tiga kejadian dengan melihat penyebab-penyebabnya”.

Aswarni Sudjud dalam Arikunto (2002: 236) mengemukakan bahwa “Penelitian komparasi akan dapat menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan tentang benda-benda, tentang orang, tentang prosedur kerja, tentang ide-ide, kritik terhadap orang, kelompok, terhadap suatu ide atau suatu prosedur kerja”.

Menurut Suharsimi (2002: 31) studi komparasi adalah suatu penyelidik -an y-ang bertuju-an memb-andingk-an dua perkara/fenomena atau lebih.

Kesimpulan berdasarkan beberapa pengertian di atas bahwa studi komparasi adalah penelitian yang membandingkan antara beberapa variabel yang

saling berhubungan dengan mengemukakan perbedaan-perbedaan atau

persamaan-persamaannya.

2. Pendekatan Pembelajaran

Menurut Wina Sanjaya (2010: 127) “Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran”. Margono (1995: 39) menyatakan bahwa “Pendekatan adalah jalan satu arah yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pengajaran, dilihat dari sudut bagaimana materi itu disusun dan disajikan”.

Menurut Peter Salim dan Yani Salim (1991: 329) mengatakan bahwa “Pendekatan adalah perihal mendekati atau mendekatkan”. Dari beberapa

commit to user

pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan adalah suatu usaha untuk mendekati atau mendekatkan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Istilah pembelajaran menurut Purwadarminta dalam Gino et al (1999: 30) sama dengan instruction atau pengajaran. Pengajaran mempunyai arti cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan. Menurut Gino et al (1999: 32), “Pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar dengan jalan mengaktifkan faktor intern dan faktor ekstern dalam kegiatan belajar mengajar”.

Driscoll dalam Slavin (2008: 170) mendefinisikan “Pembelajaran sebagai perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman”. Kesimpulan berdasarkan beberapa pendapat di atas bahwa pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh guru agar terjadi perubahan tingkah laku sehingga diperoleh kemampuan baru dalam diri siswa.

Jadi pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara yang dipergunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.

a. Pendekatan Pembelajaran Ekspositori

1) Pengertian Pembelajaran Ekspositori (Ekspository Learning)

Dalam pembelajaran ekspositori (ekspository learning) Syaiful Bahri

Djamarah dan Aswan Zain (2002: 23) mengemukakan bahwa guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur.

Menurut Wina Sanjaya (2010: 179) “Pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal”.

Margono (1995: 48) menyatakan bahwa dalam pembelajaran ekspositori ini pusat pengajarannya pada guru dimana guru memberikan informasi, menerangkan suatu konsep, mendemonstrasikan ketrampilan- nya mengenai pola, aturan, dalil, member kesempatan siswa bertanya, guru memberikan

commit to user

contoh soal siswa diminta mengerjakan soal secara individu atau bersama-sama.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembe- lajaran ekspositori adalah pembelajaran yang berorientasi kepada guru dalam penyampaian materi pembelajaran yang dilakukan secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan tersebut dapat dikuasai siswa dengan baik.

2) Karakteristik Pembelajaran Ekspositori

Menurut Wina Sanjaya (2010: 179) terdapat beberapa karakteristik pembelajaran ekspositori, yaitu :

a) Pembelajaran ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi

pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan pembelajaran ini, oleh karena itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah.

b) Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran

yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.

c) Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu

sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang diuraikan.

3) Metode Pembelajaran Ekspositori

Dalam prakteknya, metode mengajar dalam pendekatan ekspositori tidak digunakan sendiri-sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 110-118) kemungkinan kombinasi metode mengajar yang diterapkan oleh guru antara lain :

a) Ceramah, Tanya Jawab dan Tugas (CTT)

Mengingat ceramah banyak segi yang kurang menguntungkan, maka penggunaannya harus didukung dengan alat dan media atau dengan metode lain. Karena itu, setelah guru memberikan ceramah, maka dipandang perlu untuk memberikan kesempatan kepada siswanya mengadakan tanya jawab. Tanya jawab ini diperlukan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap apa yang telah disampaikan guru melalui metode ceramah. Untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan yang telah disampaikan, maka pada tahap selanjutnya siswa diberi

commit to user

tugas, misalnya membuat kesimpulan hasil ceramah, mengerjakan pekerjaan rumah, diskusi, dan sebagainya.

b) Ceramah, Diskusi dan Tugas (CDT)

Penggunaan ketiga jenis metode mengajar ini dapat dilakukan diawali dengan pemberian informasi kepada siswa tentang bahan yang akan didiskusikan oleh siswa, lalu memberikan masalah untuk didiskusi-kan. Kemudian diikuti dengan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa.

Ceramah dimaksudkan untuk memberikan penjelasan/informasi me- ngenai bahan apa yang akan dibahas dalam diskusi, sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pada akhir kegiatan diskusi siswa diberikan beberapa tugas yang harus dikerjakan saat itu juga. Maksudnya untuk mengetahui hasil yang dicapai siswa melalui diskusi tersebut. Dengan demikian, tugas ini sekaligus merupakan umpan balik bagi guru terhadap hasil diskusi yang dilakukan siswa.

c) Ceramah, Demonstrasi dan Eksperimen (CDE)

Penggunaan metode demonstrasi selalu diikuti dengan eksperimen. Apapun yang didemonstrasikan, baik oleh guru maupun oleh siswa (yang dianggap mampu untuk melakukan demonstrasi), tanpa diikuti dengan eksperimen tidak akan mencapai hasil yang efektif. Dalam melaksanakan demonstrasi, seorang demonstrator menjelaskan apa yang akan didemonstrasikannya (biasanya suatu proses), sehingga semua siswa dapat mengikuti jalannya demonstrasi tersebut dengan baik.

Metode eksperimen adalah metode yang siswanya mencoba mem- praktekan suatu proses tersebut, setelah melihat/mengamati apa yang telah didemonstrasikan oleh seorang demonstrator. Eksperimen dapat juga dilakukan untuk membuktikan kebenaran sesuatu, misalnya menguji sebuah hipotesis. Dalam pelaksanaannya, metode demon- strasi dan eksperimen dapat digabungkan; artinya, setelah dilakukan demonstrasi kemudian diikuti eksperimen dengan disertai penjelasan secara lisan (ceramah).

d) Ceramah, Sosiodrama dan Diskusi (CSD)

Sebelum metode sosiodrama digunakan, terlebih dahulu harus diawali dengan penjelasan dari guru tentang situasi social yang akan didramatisasikan oleh para pemain/pelaku. Tanpa diberikan penjelas- an, anak didik tidak akan dapat melakukan peranannya dengan baik. Karena itu, ceramah mengenai masalah sosial yang akan didemon-strasikan penting sekali dilaksanakan sebelum melakukan sosiodrama.

Sosiodrama adalah sandiwara tanpa naskah (skript) dan tanpa latihan terlebih dahulu, sehingga dilakukan secara spontan. Masalah yang didramatisasikan adalah mengenai situasi sosial. Sosiodrama akan menarik bila pada situasi yang sedang memuncak, kemudian di-

commit to user

hentikan. Selanjutnya diadakan diskusi, bagaimana jalan cerita se- lanjutnya, atau pemecahan masalah selanjutnya.

e) Ceramah, Problem Solving dan Tugas (CPT)

Pada saat guru memberikan pelajaran kepada siswa, adakalanya timbul suatu persoalan/masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya penjelasan secara lisan melalui ceramah. Untuk itu guru perlu

menggunakan metode pemecahan masalah atau problem solving, sebagai

jalan keluarnya. Kemudian diakhiri dengan tugas-tugas, baik individu maupun tugas kelompok, sehingga siswa melakukan tukar pikiran dalam

memecahkan masalah yang dihadapinya. Metode ini banyak

menimbulkan kegiatan belajar siswa yang lebih optimal.

f) Ceramah, Demonstrasi dan Latihan (CDL)

Metode latihan umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari bahan yang dipelajarinya. Karena itu, metode ceramah dapat digunakan sebelum maupun sesudah latihan dilakukan. Tujuan dari ceramah untuk memberikan penjelasan kepada siswa mengenai bentuk keterampilan tertentu yang akan dilakukannya. Kemudian untuk metode demonstrasi di sini dimaksud- kan untuk memperagakan atau mempertunjukkan suatu keterampilan yang akan dipelajari siswa.

b. Pendekatan Pembelajaran Ekspositori Metode CTT 1) Hakikat Metode CTT

Penggunaan metode ceramah pada proses belajar mengajar memang

terkadang menimbulkan kesenjangan komunikasi (communication gap)

ketika pesan yang disampaikan oleh guru tidak diterima sama sekali oleh siswa, dan juga terjadi kesalahan komunikasi, yaitu ketika penerimaan pesan atau pemahaman siswa tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh guru. Kedua hal ini menyebabkan metode ceramah kurang efektif. Ketidak efektifan tersebut ditunjukkan dengan besar pesan atau materi yang dapat diserap dan diingat oleh siswa. Untuk memaksimalkan penerimaan dan ingatan siswa terhadap pelajaran, diperlukan pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu indera siswa dalam proses belajar mengajar. Implikasinya adalah harus menggunakan metode ceramah bervariasi dalam proses belajar mengajar. Ceramah bervariasi yang dimaksud adalah memvariasikan komponen-komponen pengajaran dengan metode ceramah. W. Gulo (2004:

commit to user

142) mengemukakan empat komponen yang dapat divariasikan dalam metode ceramah bervariasi, yaitu “(1)metode, (2)media, (3)penampilan, (4)bahan sajian”.

Salah satu variasi metode ceramah yang paling sering digunakan adalah metode ceramah-tanya jawab-tugas. Metode ceramah-tanya jawab-tugas merupakan penggabungan atau variasi antara metode ceramah dengan metode tanya jawab dan metode tugas. Variasi metode ceramah-tanya jawab-tugas ini bertujuan untuk meningkatkan keefektifan pengajaran dengan metode ceramah, maka di samping memanfaatkan keunggulan-keunggulannya, juga diupayakan mengatasi kelemahan-kelemahannya yakni dengan diterapkannya metode tanya jawab dan metode tugas.

2) Kelebihan dan Kekurangan Metode CTT a) Metode Ceramah

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 110) metode ceramah mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain : Kelebihan Metode Ceramah :

(1)Guru mudah menguasai kelas

(2)Mudah mengorganisasikantempat duduk/kelas

(3)Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar

(4)Mudah mempersiapkan dan melaksanaknnya (5)Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik. Kelemahan Metode Ceramah :

(1)Mudah menjadi verbalisme ( pengertian kata-kata )

(2)Yang visual menjadi rugi, yang auditif ( mendengar ) lebih besar menerimanya.

(3)Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan.

(4)Guru menyimpulkan bahawa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali.

(5)Menyebabkan siswa menjadi pasif. b)Metode Tanya Jawab

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 107-108) metode tanya jawab memiliki beberapa kelebihan dan kekura-ngan antara lain :

commit to user

Kelebihan Metode Tanya Jawab :

(1)Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika itu siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya.

(2)Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir, termasuk daya ingatan.

(3)Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

Kelemahan Metode Tanya Jawab :

(1)Siswa merasa takut, apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.

(2)Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.

(3)Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang

(4)Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.

c) Metode Tugas

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 98) metode tugas memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain :

Kelebihannya :

(1)Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok

(2)Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru (3)Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa

(4)Dapat mengembangkan kreativitas siswa.

Kekurangannya :

(1)Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain

(2)Khusus untuk tugas kelompok , tidk jarang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu sajka, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik.

(3)Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa

(4)Sering memberikan tugas yang monoton ( tak bervariasi ). Dapat menimbulkan kebosanan siswa.

d)Metode Ceramah Tanya Jawab Tugas (CTT)

Dengan adanya variasi atau penggabungan antara metode ceramah dengan metode tanya jawab serta metode pemberian tugas, maka dapat disimpulkan bahwa keunggulan-keunggulan yang terdapat pada metode

commit to user

ceramah tersebut dimanfaatkan, sedangkan kelemahan-kelemahannya yang berupa kurangnya keterlibatan siswa dapat diatasi dengan dengan keunggulan-keunggulan yang terdapat pada metode tanya jawab, begitupun juga kelemahan-kelemahan pada metode tanya jawab yang berupa tidak meratanya pertanyaan yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat diatasi dengan keunggulan pada metode pemberian tugas. 3) Langkah-langkah Metode CTT

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002: 111) langkah-langkah penggunaan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas ini yaitu :

a) Persiapan, yakni menciptakan kondisi belajar siswa.

b) Pelaksanaan

(1)Penyajian, tahap guru menyampaikan bahan pelajaran (metode ceramah)

(2)Asosiasi/komparasi, artinya memberi kesempatan pada siswa untuk menghubungkan dan membandingkan materi ceramah yang telah diterimanya melalui tanya jawab (metode tanya jawab) sebagai variasi/pengembangan metode untuk mengaktifkan siswa/melibatkan siswa dalam pembelajaran.

(3)Generalisasi/kesimpulan, memberikan tugas kepada siswa untuk membuat kesimpulan melalui hasil ceramah (metode tugas) atau mengerjakan soal-soal yang telah disediakan.

c) Evaluasi, yakni mengadakan penilaian terhadap pemahaman siswa

mengenai bahan yang telah diterimanya, melaui tes lisan dan tulisan atau tugas lain.

c. Pendekatan Pembelajaran Kooperatif

1) Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Menurut Slavin dalam Isjoni (2010: 17) menyebutkan bahwa cooperative

learning merupakan model pembelajaran yang telah dikenal sejak lama, pada saat itu guru mendorong para siswa untuk melakukan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti diskusi atau pengajaran oleh teman sebaya.

Menurut Jhonson & Jhonson dalam Isjoni (2010: 17) mengemukakan cooperative learning adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan

commit to user

kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.

Anita Lie dalam Isjoni (2010: 16) menyebut cooperative learning dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. Lebih jauh dikatakan, cooperative learning hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-6 orang saja.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa cooperative learning merupakan strategi yang menempatkan siswa belajar dalam kelompok yang beranggotakan 4-6 siswa dengan tingkat kemampuan atau jenis kelamin atau latar belakang yang berbeda. Pembelajaran harus menekankan kerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang sama, oleh sebab itu penanaman keterampilan cooperative sangat perlu dilakukan, dengan menghargai pendapat orang lain, mendorong berpartisipasi, berani bertanya dan berbagi tugas.

2) Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Pada hakekatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok,

tetapi tidak setiap kerja kelompok dikatakan cooperative learning. Menurut

Bennet dalam Isjoni (2010: 41) menyatakan ada lima unsur dasar yang dapat

membedakan cooperative learning dengan kerja kelompok, yaitu:

a) Positive Interdependence, yaitu hubungan timbal balik yang didasari adanya kepentingan yang sama atau perasaan diantara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya.

b) Interaction Face to face, yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa adanya perantara.

c) Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam

anggota kelompok sehingga siswa termotivasi untuk membantu

temannya, karena tujuan dalam cooperative learning adalah menjadikan

setiap anggota kelompoknya menjadi lebih kuat pribadinya.

d) Membutuhkan keluwesan, yaitu menciptakan hubungan antar pribadi,

mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan kerja yang efektif

commit to user

e) Meningkatkan ketrampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah

(proses kelompok), yaitu siswa belajar ketrampilan bekerjasama dan berhubungan yang sangat diperlukan di masyarakat.

Dalam cooperative learning tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa atau peserta didik juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan membangun tugas anggota kelompok selama kegiatan.

Menurut Lungdren dalam Isjoni (2010: 46-48) mengemukakan keteram- pilan-keterampilan selama kooperatif tersebut sebagai berikut:

a) Keterampilan Kooperatif Tingkat Awal

(1)Menggunakan kesepakatan, adalah menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam kelompok.

(2)Menghargai kontribusi, berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan anggota lain.

(3)Mengambil giliran dan berbagi tugas, artinya setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

(4)Berada dalam kelompok, maksudnya setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung

(5)Berada dalam tugas, adalah meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan.

(6)Mendorong partisipasi, berarti mendorong semua anggota ke- lompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

(7)Mengundang orang lain, maksudnya adalah meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi terhadap tugas.

(8)Menyelesaikan tugas dalam waktunya.

(9)Menghormati perbedaan individu, berarti bersikap menghormati terhadap budaya, suku, ras atau pengalaman dari semua siswa.

b) Keterampilan Kooperatif Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan peng- hargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkn dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, mengorganisasikan dan mengurangi ketegangan.

c) Keterampilan Kooperatif Tingkat Akhir

Keterampilan tingkat akhir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan dan berkompromi.

commit to user

3) Macam-macam Tipe dalam Pembelajaran Kooperatif

Menurut Anita Lie (2005: 55) tipe-tipe atau metode yang ada dalam pembelajaran kooperatif antara lain :

(a) Mencari Pasangan (Make a Match) yaitu siswa mencari pasangan

sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan

(b) Bertukar Pasangan. Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk

bekerja sama dengan orang lain.

(c) Berpikir-Berpasangan-Berempat (Think Pair Share) yaitu siswa diberi

kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.

(d) Berkirim Salam dan Soal yaitu teknik belajar yang memberikan

kesempatan siswa untuk melatih membuat pertanyaan sendiri dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya.

(e) Kepala Bernomor (Numbered Heads) yaitu setiap siswa saling

membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

(f) Kepala Bernomor Terstruktur (Numbered Heads Together) merupakan

modifikasi dari teknik belajar kepala bernomor.

(g) Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray) memberikan kesempatan

kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain.

(h) Keliling Kelompok yaitu teknik belajar yang masing-masing anggota

kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain.

(i) Kancing Gemerincing yaitu setiap siswa diberi kesempatan untuk

mengeluarkan pendapatnya masing-masing, jadi dalam teknik ini diharapkan tidak akan ada siswa yang lebih dominan untuk berpendapat.

(j) Keliling Kelas yaitu masing-masing kelompok mendapatkan

kesempatan untuk memamerkan hasil kerja mereka dan melihat hasil kerja kelompok lain.

(k) Lingkaran Kecil Lingkaran Besar (Inside-Outside Circle) yaitu siswa

yang membuat lingkaran saling bertukar informasi antara satu dengan yang lainnya.

(l) Tari Bambu merupakan modifikasi dari teknik belajar Inside-Outside

Circle

(m) Bercerita Berpasangan (Paired Storytelling) merupakan teknik bela- jar

yang menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengar- kan, berbicara dan berkelompok.

(n) Jigsaw adalah teknik belajar yang mendorong siswa aktif dan saling

membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil yang maksimal. Untuk kajian yang lebih jauh akan dibahas dalam penelitian ini.

commit to user

d. Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 1) Pengertian Jigsaw

Menurut Anita Lie (2005: 69) Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et al

sebagai pendekatan cooperative learning. Tehnik atau tipe ini biasa

digunakan dalam pengajaran membaca , menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Metode ini digunakan dalam beberapa mata pelajaran seperti,

Dokumen terkait