• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

3. Hasil Belajar

Hasil belajar menurut Sudjana (2008: 22) adalah “Kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”

commit to user

dan menurut Hasibuan dan Moedjiono (1988: 3-4) “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.”

Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir, maupun ketrampilan motorik dan di sekolah, hasil belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang ditempuhnya. (Sukmadinata, 2003: 102).

Masidjo (1995: 25) mengemukakan bahwa ”Hasil belajar merupakan hasil akhir yang dicapai oleh anak didik dalam mengikuti seluruh program studi yang telah direncanakan dalam rangkaian kegiatan belajar, bisa dinyatakan dengan nilai-nilai yang diperoleh melalui tes formatif. Tes formatif diperoleh melalui ujian formatif yang memuat sebagian bahan pelajaran untuk mencapai sebagian bidang hasil belajar. Bidang hasil belajar dalam penilaian tes formatif itu misalnya adalah ulangan harian, tes sisipan 1, tes sisipan 2, yang isinya merupakan sebagian dari bahan pelajaran”.

Kesimpulan dari pendapat di atas, yaitu bahwa hasil belajar adalah hasil yang menunjukkan penguasaan siswa akan materi pelajaran yang ditempuhnya. Hasil belajar siswa tidak akan tampak jika siswa belum melakukan suatu usaha yang diperoleh melalui aktivitas belajar.

Belajar memegang peranan yang sangat penting dalam proses pengajaran. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas yaitu mengalami. Belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sejak lahir manusia telah memulai usahanya untuk memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan dirinya. Oleh karena itu, para ahli berusaha menjelaskan pengertian belajar menurut sudut pandang yang berbeda-beda, walaupun demikian terdapat juga persamaan dalam definisi-definisi tersebut.

Lester D Crow dan Alice Crow dalam Roestiyah (1989: 141) mengemukakan bahwa “Belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan,

commit to user

pengetahuan, dan sikap”. Jadi, seseorang dikatakan belajar jika ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar dalam hal ini merupakan suatu proses dimana guru terutama melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman edukatif untuk mencapai suatu tujuan. Hal yang perlu kita perhatikan adalah pola perubahan pada pengetahuan selama pengalaman belajar itu berlangsung.

Burton dalam Aunurrahman (2009: 35) menyebutkan bahwa “Belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya, sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya”.

Sukmadinata (2003: 155-156) mengemukakan beberapa definisi belajar dari para ahli, antara lain :

Witherington (1952: 165): “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.

Hilgard (1962: 252): “Belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”.

Di Vesta and Thompson (1970: 112): “Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.

Wragg dalam Aunurrahman (2009: 36) mengemukakan bahwa “Terdapat ciri umum dalam kegiatan belajar, yaitu: (1) Belajar menunjukkan suatu aktifitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja, (2) Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungannya dalam hal ini dapat berupa manusia atau obyek-obyek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh atau ditemukan sebelumnya, akan tetapi menimbulkan perhatian kembali bagi individu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya interaksi. (3) Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku”.

Jadi, kesimpulan yang dapat ditarik dari beberapa pendapat di atas yaitu, bahwa belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku, baik melalui latihan dan pengalaman yang

commit to user

menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.

Hasil belajar siswa diukur melalui tes sehingga dapat ketahui keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar. Menurut Rakhmat dan Didi Suherdi (2001: 56) “Tes hasil belajar adalah alat atau prosedur sistematik untuk mengukur hasil belajar siswa”.

Tes hasil belajar adalah suatu tes yang mengukur prestasi seseorang dalam suatu bidang sebagai hasil proses belajar yang khas, yang dilakukan secara sengaja dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap dan nilai. Kemampuan atau kecakapan aktual yang dimiliki siswa inilah yang dilaporkan oleh suatu tes hasil belajar, dengan demikian fungsi utama tes hasil belajar adalah mengukur keberhasilan belajar siswa dan sekaligus pula mengukur keberhasilan guru dalam mengajar suatu mata pelajaran. (Masidjo,1995: 39-40).

Sudijono (2005: 67) menyatakan bahwa “Tes dalam dunia evaluasi pendidikan adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas, baik berupa pertanyaan -pertanyaan (yang harus dijawab), atau perintah-perintah (yang harus dikerjakan) oleh testee, sehingga (atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut) dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi

testee”.

Menurut Benyamin Bloom dalam Sudjana (2008: 22) ”Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional pengklasifikasian hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan rahah psikomotorik”.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesia dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.

commit to user

Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau refleksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilam dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yaitu : (a) gerak reflek, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilam kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif .

Ketiga ranah tersebut menjadi aspek penilain hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai isi bahan.

Dokumen terkait