• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Dalam dokumen Laporan Kimia Pertanian Unsoed (Halaman 52-61)

LAPORAN PRATIKUM KIMIA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO

B. Prosedur Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

X T (%) Y 0 100 % 109 (1/1) = 0 0,02 95 % 109 (1/0,95) = 0,0223 0,04 92 % 109 ( 1/0,92) = 0,0362 0,06 90 % 109 (1/0,9) = 0,457 0,08 86 % 109 (1/0,86) = 0,0655 Sampel 50 % 109 ( 1/0,5) = 0,3010 X Y X^2 X,Y 0 0 0.02 0.0223 0.0004 0.000446 0.04 0.362 0.0016 0.01448 0.06 0.0457 0.0036 0.002742

0.08 0.655 0.0064 0.0524 jumlah 0.012 0.070068 0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 f(x) = 0.77x + 0 R² = 0.98 Y Linear (Y) Konsentrasi CuSO4 Transmitasi b = = 0,17126 Y = a + bX Y sampel= a + bX 0,3010 = 0 + 0,17126 X X = 1,7575 ∑X2 ∑XY

B. Pembahasan

Spektrofotometri adalah metode analisis suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa mengabsorbsi berkas cahaya. Spektrofotometri mengukur energi secara relatif bila energi tersebut direfleksikan, ditransmisikan atau diemisikan sebagai fungsi panjang gelombang.

Prinsip kerjanya, suatu sumber cahaya, intensitasnya akan berkurang karena adanya serapan oleh senyawa tersebut dan sebagian dipantulkan atau dihamburkan. Fungsi spektrofotometri adalah untuk mengukur absorbansi dalam daerah tamapk dan UV serta mengukur konsentrasi larutan berwarna.

Mengenai spektofotometer pada analisis kimia untuk pertanian yanitu untuk mengetahu spectrum cahaya pada tanaman. Tanaman membutuhkan gelombang spectrum yang sama (day light) untuk melakukan fotosintesis.

Tanaman lebih banyak menyerap sinar berwarna biiru dengan panjang gelombang 440-470 nm dan sinar berwarna merah antara 640-660 nm. Spectrum warna inilah yang paling efektif bagi klorofil untuk melakukan fotosintesis.

Spectrum warna biru dibutuhkan semua tanaman hijau dan juga jenis alga (ganggang) terutama untuk pertumbuhan vegetative, sementara spectrum warna

merah dibutuhkan oleh tanaman yang lebih sensitive dengan spektrum warna tersebut untuk melakukan fotosintesis. Umumnya tanaman tanaman yang mempunyai daun dominan berwarna merah, dan untuk perkembangan generatif tanaman.

Tembaga (III) sulfat, juga dikenal sebagai sulfat cupric, adalah senyawa dengan rumus kimia CuSO4. Garam ini ada sebagai serangkaian senyawa yang berbeda dalam derajay mereka hidrasi. Bentuk anhidrat adalah bubuk hijau atau abu-abu putih pucat, sedangkan pentahidran garam paling sering ditemukan, adalah biru terang. Tembaga sulfat exothermically larut dalam air untuk memberikan kompleks akua yang memiliki geometri molekul octahedral dan para magnetic. Nama lain tembaga (III) sulfat adalah vitrol biru dan bluestone

CuSO4 adalah sebuah fungisida. Namun beberapa jamur mampu beradaptasi dengan peningkatan kadar ion tembaga. Dicampur dengan kapur biasanya disebut campuran Bordeaux dan digunakan untuk mengontrol jamur. Sebuah campuran CuSO4 dengan ammonium karbonat digunkan dalam hortikultura untuk mencegah pelembaban biji. Penggunaanny sebagai herbisida bukan pertanian, melainkan untuk control searangan tanaman, air dan akar tumbuhan dengan pipa yang mengandung air.

Sifat-sifat kimia CuSO4 :

CuSO4 akan terdekomposisi sebelum mencair pada 150oC, akan kehilangan dua molekul airnya pada suhu 63oC, diikuti 2 molekul lagi pada suhu 109oC dan

molekul air teakhir pada suhu 200oC. proses dehidrasi melalui dekomposisi separuh tembaga, 2 gugus akua yang berlawanan akan terlepas untuk menghasilkan separuh tembaga tetra akua. Tahap dehidrasi kedua dimulai ketika 2 gugus akua terakhir terlepas. Dehidrasi sempurna terjadi ketika molekul air yang tidak terikat terlepas.

Deret standar menggunakan persamaan garis linier untuk menghitung konsentrasi sampel. Persamaan garis linier didapatkan dari memplotkan absorbansi dengan konsentrasi. Kurva deret standar didapatkan persamaan linier Y=mx+c. dimana Y adalah absorbansi, x adalah konsentrasi, sedangkan m adalah kemiringan/slope. Slope adalah perbandingan antara absorbansi terhadap konsentrasi, sedangkan c / konstanta karena secara pratikum standar dimulai dari konsentrasi 0 maka seharusnya nilai Y juga adalah 0 karena sesua dengan hokum Lambert Beer. Namunketika memasukkan nilai absorbansi dan konsentrasi kedalam kuva nilai c. akan tetap muncul akibat dari perhitungan yang dilakukan oleh program,namun karena nilainya sangat kecil maka dianggap tidak ada pengaruhnya, sehingga dapat diabaikan. Sehingga persamaan untuk deret standar adalah y = mx. Jadi, untuk mencari konsentrasi sampel hanya tinggal memasukkan data pengukuran absorbansi sampel ke persamaan y = mx. Dimana y adalah absorbansi sampel hasil pengukuran, m adalah kemiringan garis, dan x adalah konsentrasi sampel yang ingin diketahui.

Diagram pencar adalah gambaran yang menunjukkan kemungkinan hubungan antara pasanagan dua macam variable dan menunjukkan keeratan

hubungan antara dua variable tersebut yang sering diwujudkan sebagai koefisien korelasi. Diagaram pencar juga dapat digunalan untuk mengecek apakah suatu variable dapat digunakan untuk mengganti variable lain.

Regresi adalah suatu metode analisis statistic yang digunakan untuk melihat pengaruh antara dua atau lebih variable. Hubungan variable tersebut bersifat fungsional yang diwujudkan dalam suatu model metematis. Pada setiap analisis regresi, variable dibedakan menjadi dua bagian, yaitu variable respons dan variable bebas. Analisis regresi digunakan hamper pada setiap bidang kehidupan, baik dalam bidang pertanian, ekonomi, dan keuangan, industry, dan ketenagakerjaan, dll. Kegunaan analisis regresi diantarnya untuk mengetahio variable-variabel kunci yang memiliki pengaruh suatu variable bergantung, pemodelan, serta pendugaan.

Koefisien determinas sering diartikan sebagai besar kemampuan semua variable bebas dalam menjelaskan varians dari variabek terikatnya. Secara sederhana koefisien determinasi dihitung mengkuadratkan koefisien korelasi (R). penggunaan R sering menimbulkan permasalahan, yaitu bahwa nilainya akan selalu meningkat dengan adanya penambahan variable bebas dalam suatu model. Hal ini akan menimbulkan bias. Oleh karena itu, banyak peneliti yang menyarankan adjusted R squere. Rumus determinasi sebagai berikut:

r 2 = = (∑XY)

2

∑X2 . ∑Y2

(∑XY) (∑XY) ∑X2 . ∑Y2

Adapun hasil dari praktikum ini yaitu pada larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0 M, didapatkan hasil transmitasi sebesar 100% dan absorbansinya sebesar 0. Pada larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,02 M, didapatkan hasil transmitasi sebesar 95% dan absorbansinya sebesar 0,0223. Pada larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,04 M, didapatkan hasil transmitasi sebesar 92% dan absorbansinya sebesar 0,0362. Pada larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,06 M, didapatkan hasil transmitasi 90% dan absorbansinya sebesar 0,457. Pada larutan CuSO4 dengan konsentrasi 0,08 M, didapatkan hasil transmitasi sebesar 86% dan absorbansinya sebesar 0,0655. Dan pada larutan sampel , didapatkan trasnmitasi sebesar 50% dan absorbansinya sebesar 0,3010.

Setelah mencari koefisien regresi dengan rumus b =

x2

XY

, maka

didapatkan hasil 0,17126. Setelah koefisien regresi didapat, maka nilai itu dimasukkan ke persamaan Y= a + bX , sehingga konsentrasi larutan sampel yang didapat adalah sebesar 1,7575 M.

Setelah semua nilai didapat, lalu dimasukkan ke dalam betuk perhitungan dengan membuat kurva kalibrasi yang menunjukkan hubungan antara konsentrasi CuSO4 dengan absorbannya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Semakin besar nilai absorbansi maka semakin besar pula konsentrasi

sampel yang didapat.

2. Semakin pekat larutan maka semakin besar konsentrasi zat pada larutan

tersbut.

3. Prinsip metode spekrofotometri adalah menganalisis larutan dengan skala

kecil.

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press : Jakarta

Khopkar. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press : Jakarta

Mathias, Ahmad. 2005. Spektofotometri. Exacta : Solo

Sastrohamidjojo. 1992. Spektroskopi Inframerah. Liberty Yogya :Yogyakarta

Dalam dokumen Laporan Kimia Pertanian Unsoed (Halaman 52-61)

Dokumen terkait