• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada penelitian usaha asparagus diperlukan analisis terhadap aspek non finasial dan aspek finansial, untuk memberikan gambaran terhadap usaha yang akan dijalankan diperlukan analisis terhadap aspek non finansial. Penelitian aspek

non finansial usaha budidaya asparagus terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajeman dan hukum, aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.

Aspek Pasar

Aspek non finansial yang pertama kali perlu dilakukan adalah menganalisis aspek pasar, saat memutuskan untuk melakukan usaha budidaya asparagus, maka pengusaha harus mampu mengetahui keadaan pasar yang potensial untuk memasarkan produk. Keadaan pasar yang potensial bagi pengusaha budidaya asparagus adalah keadaan pasar yang belum banyak pelaku usaha sejenis, sehingga produk yang dihasilkan habis terserap oleh pasar dan jumlah pesaing asparagus yang belum banyak. Pada penelitian ini menganalisi permintaan dan penawaran asparagus hijau segar yang di produksi kelompok tani.

1. Permintaan dan penawaran

Permintaan asparagus pada kelompok tani dilihat dari banyaknya produk yang diminta konsumen. Hasil panen budidaya asparagus yang dilakukan kelompok tani asparagus Al’istiqomah berkisar 23 Kg per dua hari dari 6 petani asparagus. Penawaran asparagus perbulan selama 1 tahun pada kelompok tani Al’istiqomah jumlahnya berfluktuasi sedangkan permintaan perbulan sebesar 900 kg. Sehingga rata-rata persentase permintaan yang terpenuhi sekitar 38%. Adapun rinciannya dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Permintaan dan penawaran asparagus bulan November Al’istiqomah

Hari

Penawaran per dua hari

Permintaan

per dua hari Permintaan yang Terpenuhi (%) kg kg 2 22.40 60 37 4 25.40 60 42 6 22.30 60 37 8 21.70 60 36 10 23.45 60 39 12 22.10 60 37 14 21.20 60 35 16 22.80 60 38 18 22.40 60 37 20 24.45 60 41 22 24.35 60 41 24 22.30 60 37 26 24.48 60 41 28 23.20 60 39 30 23.20 60 39 Rata-rata 23.05 60 38

Permintaan yang tidak terpenuhi oleh kelompok tani tersebut membuat adanya kekurangan ketersediaan asparagus di pasar, sehingga pembagian hasil panen akan diatur oleh Pak Koswara selaku ketua kelompok tani asparagus

Al’istiqomah. Jika dilihat dari Tabel 4, rata-rata permintaan dari konsumen baru terpenuhi sekitar 38%. Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa masih adanya

peluang bagi kelompok tani untuk dapat memenuhi dan mengembangkan usahanya.

2. Strategi Pemasaran a. Produk

Asparagus yang dibudidayakan dibagi 2 jenis, yaitu asparagus putih dan hijau. Perbedaan asparagus ini dibedakan dari proses panen, asparagus putih di panen pada saat rebung masih didalam tanah, sedangkan asparagus hijau dipanen saat rebung sudah muncul dipermukaan tanah dan terkena langsung sinar matahari. Kelompok tani asparagus Al’istiqomah hanya memproduksi asparagus hijau segar yang ukurannya sudah mencapai 30 cm diatas permukaan tanah, jenis asparagus hijau ini lebih mudah dipanen dibanding asparagus putih yang harus menggali tanah untuk panen rebung asparagus. Jenis bibit yang digunakan kelompok adalah bibit UC 157 F2, jenis yang sudah disosialisasikan oleh ICDF (International Cooperation Development Fund) yang cocok dibudidayakan di daerah Bandung. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada budidaya kelompok tani asparagus Al’istiqomah, kelompok tani tersebut menghasilkan rebung asparagus grade A, B dan baby asparagus yang memiliki klasifikasi masing-masing (tabel 5). Rebung asparagus yang dihasilkan dengan Grade A, B dan baby asparagus oleh kelompok tani Al’istiqomah tidak dibedakan berdasarkan waktu panen, karena hasil panen asparagus dengan waktu yang sama selalu memiliki ukuran rebung yang bervariasi. Asparagus hijau segar semua grade memiliki serat dan rasa yang sama saat konsumis, hanya ukuran rebung yang membedakan.

Tabel 5 Klasifikasi asparagus berdasarkan grade Foto Asparagus Klasifikasi

Grade A (Besar) memiliki diameter rebung berkisar 15-20 mm, memiliki bentuk fisik rebung yang lurus dan ujung mahkota belum mekar serta panjang rebung 30 cm

Grade B memiliki diameter rebung berkisar 10-15 mm, memiliki bentuk fisik yang agak lurus dan ujung mahkota belum mekar serta panjang rebung 30 cm

Grade C/Baby Asparagus memiliki diameter 5-10 mm dan panjang rebung 30 cm

b. Harga

Kelompok tani asparagus Al’istiqomah menjual hasil panen kelompok tani ke ditributor sayuran organik Soreang Kabupaten Bandung yang nantinya akan disalurkan kepada swalayan di Jakarta. Harga yang diberikan kelompok tani sebesar Rp 30 000/Kg untuk semua grade, grading asparagus dilakukan hanya untuk menyeragamkan tiap ikatan asparagus. Harga tersebut ditentukan oleh kelompok karena dianggap sudah mendapatkan keuntungan dari biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk proses budidaya asparagus. Ukuran asparagus tidak mempengaruhi rasa asparagus yang dihasilkan, perbedaan rasa rebung asparagus hanya dapar dibedakan antara rebung asparagus berwarna hijau dan rebung asparagus berwarna putih. Rebung asparagus berwarna hijau (dipanen saat sudah keluar dari permukaan tanah) memiiki fisik lebih keras dibanding rebung asparagus berwarna putih (dipanen sebelum keluar dari dalam tanah) yang cendrung lebih lembut dibanding asparagus hijau.

c. Tempat (Saluran Distribusi)

Gambar 4 Saluran Pemasaran Kelompok Tani Asparagus Al’istiqomah Petani asparagus Al’istiqomah tersebar di Kecamatan Ciwidey yang merupakan salah satu kecamatan tujuan wisata diwilayah Bandung, sehingga jalur utama distribusi hingga ke distributor yang terletak di Soreang Kabupaten Bandung dapat tersalurkan dengan baik. Proses distribusi dilakukan setiap dua hari sekali ke distributor sayuran. Proses panen petani dilakukan pada pagi dan sore hari, yang nantinya setiap dua hari hasil panen di ambil oleh ketua kelompok untuk dikumpulkan dan disalurkan tiap dua hari sekali pada jam 17.00 WIB ke Biomedia distributor sayuran di Soreang Kabupaten Bandung. Kemudian Biomedia mendistribusikan asparagus ke supermarket yang berada di Jakarta pada pukul 03.00 WIB. Berdasarkan hasil wawancara kepada ketua kelompok dan pihak Biomedia, hasil panen asparagus yang disalurkan kepada Biomedia selalu dibayar seluruhnya oleh Biomedia kepada kelompok tani, meskipun apabila asparagus mengalami kerusakan pada saat proses pengangkutan atau asparagus tidak habis terjual di supermarket menjadi tanggung jawab Biomedia.

4. Promosi

Promosi merupakan kegiatan terpenting untuk mengenalkan produk yang dihasilkan, kegiatan promosi yang dilakukan oleh kelompok tani Al’istiqomah dilakukan dengan cara memberikan contoh rebung hasil panen dari anggota kelompok tersebut kepada distributor, kemudian oleh distributor ditawarkan ke supermarket yang berada di Jakarta, selain memberikan contoh rebung asparagus yang dihasilkan oleh anggota, kelompok tani Al’istiqomah juga menambahkan label dengan nama Al’istiqomah pada kemasan asparagus dengan tujuan konsumen mengetahui asparagus tersebut diproduksi oleh kelompok tani

Al’istiqomah (gambar 5). Anggota kelompok tani Al’istiqomah Kelompok tani asparagus Al’istiqomah Biomedia Papaya Supermarket

Gambar 5 Label asparagus kelompok tani Al’istiqomah 3. Hasil analisis aspek pasar

Hasil dari analisis aspek pasar yang terdiri dari permintaan dan penawaran asparagus hijau segar serta strategi pemasaran yang dilakukan oleh petani asparagus Al’istiqomah budidaya asparagus hijau segar bahwa usaha yang dijalankan di Kecamatan Ciwidey layak untuk dilakukan. Persentase terpenuhinya permintaan rata-rata 38% sehingga masih ada peluang untuk memenuhi permintaan dan mengembangkan usaha budidaya asparagus tersebut. Serta strategi pemasaran yang dilakukan oleh kelompok tani Al’istiqomah dengan memberikan contoh hasil panen dan label menjadikan komoditas mudah diterima.

Aspek Teknis

Menurut Nurmalina, 2008 aspek teknis adalah aspek mengenai proses pembangunan bisnis secara teknis dan pengoprasiannya setelah usaha tersebut selesai dibangun, oleh karena itu analisis secara teknis menjadi hal yang penting dalam menjalankan budidaya asparagus. Aspek teknis yang dimaksud meliputi lokasi usaha budidaya asparagus, skala usaha, proses produksi dan layout. Aspek teknis tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Lokasi usaha

Syarat tumbuh asparagus yang merupakan tanaman dari daerah subtropis, oleh sebab itu asparagus pada daerah tropis sebaiknya ditanam di daerah yang memiliki ketinggian sekitar 900 sampai 1200 meter dpl dengan suhu sekitar 15 sampai 25oC dan curah hujan yang merata sepanjang tahun yaitu berkisar 2.500 sampai 3.000 mm/tahun berdasarkan data dari ICDF, 2014. Lokasi usaha budidaya kelompok tani Al’istiqomah terletak di wilayah Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, lokasi ini memiliki kriteria yang cocok untuk dilakukan budidaya, Kecamatan Ciwidey yang memiliki ketinggian kisaran 900 sampai 1100 dpl, suhu rata-rata tahun 2000 sampai 2012 berkisar 25.5oC dan curah hujan dari tahun 2000 sampai tahun 2012 sebesar 1246 mm (BPS, 2014), menjadikan lokasi ini mendukung keberhasilan budidaya asparagus. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, untuk memperoleh input seperti Tabel 6 yang dibutuhkan untuk melakukan budidaya asparagus tidak ada kesulitan yang besar.

Tabel 6 Input yang dibutuhkan untuk budidaya asparagus Input Ketersediaan

Pupuk kandang kotoran ayam

Banyak perternakan ayam di wilayah Ciwidey, sehingga mudah diperoleh

dan banyak pedagang yang menjual pupuk kandang ayam Pupuk kandang

kotoran kambing

Banyak perternakan kambing di wilayah Ciwidey, sehingga mudah diperoleh dan banyak pedagang yang menjual pupuk kandang kambing

Pupuk kandang kotoran sapi

Banyak perternakan sapi di wilayah Ciwidey, sehingga mudah diperoleh dan banyak pedagang yang menjual pupuk kandang sapi

Kapur dolomite Toko Pertanian

Jerami Banyak sawah dan jerami dapat diperoleh dengan gratis, hanya perlu mengeluarkan biaya penggangkutan

Tenaga kerja Wilayah budidaya asparagus merupakan wilayah pertanian, sehingga tenaga kerja untuk pertanian mudah diperoleh a. Letak pasar yang dituju

Hasil panen asparagus hijau segar yang dibudidayakan petani asparagus

Al’istiqomah diambil oleh distributor Biomedika yang kemudian disalurkan kepada Papaya supermarket yang berada di Jakarta, adapun pasar tujuan tersebut seperti pada Tabel 7

Tabel 7 Pasar tujuan kelompok tani asparagus Al’istiqomah

Pasar Tujuan Letak

Gd. City Walk Sudirman Tanah Abang Jakarta

One Park Residences Kebayoran Baru

Papaya Fresh Gallery PT. Victorry Retailindo cabang Jl. Melawai

b. Ketersediaan bahan baku

Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung yang merupakan wilayah sektor pertanian dan peternakan yang umumnya dijadikan sumber penghasilan utama, menjadikan lokasi ini mudah memperoleh bahan baku dan ketersediaanya melimpah, seperti pupuk kandang, jerami, pupuk cair kencing kelinci, bambu dan air untuk menyiram tanaman. Bahan baku input tersebut yang dibutuhkan dalam budidaya tidak selalu diperoleh dari sumber yang sama dan tidak ada sistem mengikat antar pihak. Sistem kerja sama belum dilakukan oleh kelompok, karena kebutuhan akan input seperti pupuk kandang, jerami, pupuk cair urine kelinci belum membutuhkan dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Adapun kebutuhan untuk luasan 320 meter persegi dibutuhkan input seperti Tabel 8 .

Tabel 8 Kebutuhan Input dalam usaha asparagus hingga umur usaha 5 tahun

No Uraian Jumlah Satuan

1 Pupuk Kandang Ayam 16 256 Kg

2 Pupuk Kandang Kambing 4 608 Kg

3 Pupuk Kandang Sapi 2 304 Kg

4 Pupuk Cair Urine Kelinci 4 659 Liter

5 Kapur Dolomite 23 Kg

c. Air

Lokasi lahan budidaya asparagus memiliki ketersediaan air yang melimpah, lokasi lahan yang dekat dengan irigasi dan saluran air menjadikan lahan tersebut mudah dialiri air untuk memenuhi kebutuhan asparagus terhadap air.

d. Suplai tenaga kerja

Suplai tenaga kerja yang terlibat dalam budidaya asparagus dari tenaga kerja luar keluarga hanya sebatas untuk pesiapan lahan, membuat bedeng, pemupukan dasar dan penanaman bibit ke lahan. Kegiatan perawatan dan panen pada budidaya asparagus setiap hari masih menggunakan tenaga kerja dalam keluarga. Ketua kelompok yang memiliki pengalaman baik dalam budidaya aparagus sebelum dibentuknya kelompok petani asparagus Al’istiqomah hingga sudah diresmikan kelompok secara legal dan dikirimnya Pak Koswara selaku ketua kelompok tani ke Desa Plaga Bali yang merupakan sentra asparagus untuk mempelajari budidaya asparagus, menjadikan pak Koswara sebagai sumberdaya manusia terlatih dalam bidang asparagus dan disalurkan ilmu budidaya kepada petani asparagus Al’istiqomah. Hasil budidaya asparagus yang di hasilkan kelompok setiap dua hari sekali akan di ambil Pak Koswara dan disalurkan ke distributor sayuran untuk dipasarkan, sehingga kelompok sudah memiliki pasar yang selalu menyerap hasil panen asparagus.

e. Iklim

Syarat tumbuh asparagus yang merupakan tanaman dari daerah subtropis, oleh sebab itu asparagus pada daerah tropis sebaiknya ditanam di daerah yang memiliki ketinggian sekitar 900 sampai 1200 meter dari permukaan laut dengan suhu sekitar 15 sampai 25oC dan curah hujan yang merata sepanjang tahun yaitu berkisar 2 500 sampai 3 000 mm/tahun berdasarkan ICDF, 2014. Lokasi usaha budidaya anggota asosisasi asparagus Indonesia terletah tersebar di wilayah Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, lokasi ini memilki kriteria yang cocok untuk dilakukan budidaya, Kecamatan Ciwidey yang memiliki ketinggian kisaran 900 sampai 1100 meter dpl, suhu rata-rata dari tahun 2000 sampai tahun 2012 berkisar 25.2 oC dan curah hujan rata-rata dari tahun 2000 sampai tahun 2012 berkisar 1246 mm/tahun (BPS, 2014).

f. Fasilitas transportasi

Anggota kelompok yang dominan dalam kegiatan budidaya mengunakan sepeda motor menjadikan kegiatan tersebut semakin mudah dilakukan, hingga ditribusi hasil panen yang dikumpulkan oleh ketua kelompok akan disalurkan ke ditributor menggunakan sepeda motor. Kondisi jalan utama yang merupakan jalur wisata menyebabkan kondisi fisik jalan tersebut beraspal bagus dan lebar, serta jalur masuk ke lahan-lahan budidaya yang tidak terlalu sulit untuk kendaraan sepeda motor walaupun tidak sebagus jalur utama.

g. Rencana pengembangan usaha

Rencana pengembangan usaha kelompok tani asparagus Al’istiqomah yang perlu dilakukan adalah pengembangan lahan budidaya dengan menggunakan rumah naungan/greenhouse yang bertujuan untuk meningkatkan volume produksi rebung dengan mengurangi frekusensi air hujan yang berlebihan yang dapat menyebabkan rebung kurang maksimal hasilnya. Dampak dari air hujan yang terus-menerus menyebabkan rebung asparagus yang dihasilkan jadi bengkok bahkan hingga tidak mengeluarkan rebung.

2. Skala usaha

Luas lahan petani yang menjadi responden sekitar 1920 m2 yang terdiri dari enam orang petani yang sedang dalam masa produktif, dari enam responden kelompok tani Al’istiqomah memiliki luas lahan di bawah satu hektar. Skala usaha budidaya asparagus digolongkan usaha kecil dengan rata-rata lahan dari enam responden sebesar 320 m2.

3. Proses produksi

Kegiatan proses produksi yang dilakukan Kelompok tani asparagus

Al’istiqomah dalam budidaya asparagus sebagai berikut : a. Bibit

Bibit yang digunakan kelompok tani Al’istiqomah merupakan bibit turunan

F2 UC 157 (gambar 6), umur bibit yang di beli anggota tani merupakan bibit dengan umur 3 bulan. Umur bibit yang sudah mencapai 3 bulan membuat anggota tani tinggal menanam bibit pada lahan yang sudah di persiapkan untuk budidaya. Media tanama yang digunakan untuk bibit adalah polybag dengan isi tanah yang sudah dicampur dengan kompos. Bibit dibeli dari Pak Koswara ketua kelompok yang juga menyemaikan benih asparagus untuk kebutuhan bibit asparagus bagi

Gambar 6 Benih dan bibit kelompok tani asparagus Al’istiqomah b. Persiapan Lahan

Bibit yang sudah disemai sebelum ditanam ke lahan diperlukan persiapan, lahan yang akan digunakan digali berbentuk parit sedalam 40 cm, lebar 80 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi fisik lahan. Parit yang sudah digali nantinya dilapisi paling dasar dengan menggunakan jerami setinggi 5 cm, lalu ditambahkan pupuk kompos yang sudah di campur antara pupuk kandang ayam, kambing dan sapi dengan komposisi 2:2:1 hingga 15 cm dari permukaan jerami yang sudah ditaruh dalam parit. Lahan yang akan digunakan sebelumnya diberikan kapur dolomite yang berfungsi mengubah sifat tanah asam menjadi basa dan setelah komposisi jerami, pupuk dasar dan kapur tersebut disiapkan maka lahan didiamkan selama 10 hari dan baru bisa digunakan untuk memindahkan bibit ke lahan.

c. Cara Tanam

Pada lahan responden menggunakan teknik tanam double row, yang dimana teknik ini dalam satu bedeng ditemukan dua baris tanaman. Bibit asparagus yang sudah disemai berumur 3 bulan dipindahkan ke dalam parit yang sudah diisi dengan jerami dan pupuk kompos, dengan jarak tanam antar baris tanaman 20 cm dan tanaman dengan pinggir parit 20 cm, serta jarak tanaman dalam baris dengan jarak 25 cm. Bibit yang ditanam didalam parit di letakan dan di tanam pada kedalaman 5 cm pada pupuk kandang dan ditambah timbunan pupuk kandang dengan ketinggian 5 cm.

d. Perawatan

Asparagus masuk masa produktif untuk dapat mulai di panen saaat tanaman sudah berumur 8 bulan dari mulai tanaman tumbuh, saat umur 8 bulan sampai 12 bulan ini adalah masa dimana tanaman masih masuk masa tanaman belajar menghasilkan yang biasanya di panen tiga hari sekali. Perawatan dibagi dua jenis pemupukan, yang pertama pupuk cor yang menggunakan pupuk cair dari urine kelinci yang diberikan tiap dua minggu sekali dan pupuk susulan diberikan tiap 4 bulan sekali mengunakan pupuk kandang ayam yang nantinya akan di beri didalam parit. Perawatan asparagus sejauh ini tidak menggunakan pestisida untuk mengusir hama dan penyakit, dari penelitian yang dilakukan pada kelompok ini ditemukan risiko yang banyak dihadapi saat air hujan yang berlebihan, sehingga produksi asparagus menurun dari biasanya.

e. Panen

Proses panen saat tanaman sudah berumur satu tahun hingga umur proyek habis selama lima tahun, asparagus dipanen adalah asparagus hijau segar yang muncul dari permukaan tanah. Asparagus dipanen mengunakan pisau dan dipanen

ketika rebung sudah mencapai ukuran 30 cm dari pemukaan tanah. Rebung yang terserap pasar adalah rebung segala ukuran grade tetapi harus tetap lurus. Asparagus yang sudah dipanen nantinya akan di sortir ulang kembali oleh kelompok dan distribusikan ke distributor sayuran di Soreang Bandung.

4. Layout

Budidaya asparagus yang dilakukan kelompok tani asparagus Al’istiqomah tersebar di wilayah Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, petani pada umumnya menanam asparagus dengan teknik doble row yang dimana terdapat 2 baris tanaman dalam 1 bedeng, seperti pada gambar 7. Pada gambar 7 bagian sebelah kanan menggambarkan kondisi lubang parit/lubang bedeng yang nanti akan disusun komposisi persiapan lahan, seperti jerami, pupuk kandang kotoran ayam, sapi dan kambing sebagai pupuk dasar. Saat pupuk dasar tersebut sudah diletakan baru bibit asparagus yang sudah berumur 3 bulan di tanam ke dalam lubang bedeng yang berisi pupuk dasar, bibit di tanam kedalaman 5 cm dari permukaan komposisi pupuk dasar baru nanti di timbun dengan tanah lahan sampai ketinggian + 10 cm. Pada luasan lahan 320 m2 dengan panjang 20 m dan lebar 16 m terdapat 8 bedeng dalam lahan tersebut. Lebar tiap bedeng 80 cm, jarak antar tanaman tiap baris yang memanjang 25 cm dan jarak tanaman aspragus kesamping dalam satu bedeng 40 cm. Jika dengan luasan 320 m2 dan asparagus ditanam sesuai prosedur teknis maka lahan tersebut akan menamung 711 bibit asparagus.

Gambar 7 Layout lahan 5. Pemilihan Jenis Peralatan

Budidaya asparagus yang dilakukan oleh kelompok tani asparagus

Al’istiqomah masih menggunakan peralatan yang masih tradisional, proses pengolahan lahan yang masih menggunakan tenaga manusia, proses panen yang mengunakan pisau dan pengiriman asparagus yang dibawa menggunakan wadah keranjang plastik yang diikat ke motor untuk distribusikan.

6. Hasil Analisis Aspek Teknis

Analisis yang dilakukan pada kelompok tani asparagus Al’istiqomah disimpulkan bahwa secara teknis tidak menghadapi kendala budidaya yang sangat menghambat budidaya asparagus, hanya saja ketika curah hujan yang berlebihan mengakibatkan hasil panen asparagus menurun dari biasanya. Pemilihan lahan sebagai lokasi budidaya, proses produksi, tata letak bedeng dan kolam penampungan air dan penggunaan teknlogi yang digunakan mendukung kegiatan usaha asparagus dilakukan. analisis terhadap aspek teknis pada kelompok tani asparagus Al’istiqomah untuk dijalankan.

Aspek Manajemen dan Hukum

Ada beberapa kajian yang perlu dilakukan dalam menganalisis aspek manajemen dan hukum. Aspek manajemen dalam hal ini mengkaji bentuk usaha, pengadaan tenaga kerja, struktur organisasi, dan jumlah tenaga kerja yang akan digunakan dalam menjalankan usaha. Sedangkan dalam aspek hukum kajian yang perlu dilakukan yaitu mengenai kelengkapan dan keabsahan dokumen usaha yang berisi bentuk badan usaha sampai pada izin-izin usaha yang dimiliki suatu usaha. 1. Manajemen

Kelompok tani asparagus Al’istiqomah menggunakan tenaga kerja luar keluarga pada saat persiapan lahan dan penanaman bibit ke lahan, sedangkan untuk perawatan hingga pemanenan asaparagus dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga. Tingkat pendidikan dan jabatan petani dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9 Karakteristik petani asparagus Al’istiqomah

No Nama Pendidikan Jabatan Keterangan

1 Pak Nandang Taryana SMP Bendahara Pembudidaya

2 Pak Yuda S1 Anggota Pembudidaya

3 Pak Ade SMP Anggota Pembudidaya

4 Pak Deni SMA Anggota Pembudidaya

5 Pak Iwit SMP Anggota Pembudidaya

6 Pak Dano D3 Anggota Pembudidaya

Berdasarkan tabel 9 petani asparagus pendidikan paling banyak lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) orang sebanyak tiga orang, sedangkan pendidikan tertinggi petani adalah Strata 1. Kriteria pendidikan petani tidak menjadi penentu untuk memegang jabatan dalam kelompok tani. Kemampuan petani dalam budidaya asparagus diperoleh dari Pak Koswara selaku ketua kelompok yang sudah memiliki pengalaman budidaya serta dibekali pelatihan ke Desa Plaga Bali yang merupakan salah satu sentra produksi asparagus terkenal di Indonesia yang dibina oleh ICDF (International Cooperation Development Fund) melalui program OVOP (One Village One Product). Analisis aspek manajemen di kelompok tani asparagus Al’istiqomah meliputi fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan produksi, dan pengendalian. Fungsi perencanaan budidaya ditentukan oleh masing-masing petani dan pengorganisasian dilakukan oleh musyawarah kelompok. Perencanaan budidaya asparagus melingkupi bagaimana melakukan kegiatan budidaya yang sesuai standart tanam, ketersedian bahan baku, menentukan harga, promosi, pemasaran

dan memperoleh modal. Fungsi pengorganisasian bertujuan untuk mengkoordinasikan setiap fungsi dan tugas kepada anggota, sehingga kelompok dapat berjalan dengan baik dan terintegrasi.

Pelaksanaan produksi dan pengendalian dilakukan oleh masing-masing petani pada lahan masing-masing yang sudah menerima pelatihan sebelumnya

Dokumen terkait