• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilakukan pada kelompok tani asparagus Al’istiqomah yang merupakan kelompok tani yang pertama membudidayakan asparagus di Ciwidey Kabupaten Bandung. Lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan atas pertimbangan bahwa Kabupaten Bandung merupakan salah satu lokasi dataran tinggi yang cocok untuk budidaya asparagus. Pengambilan data pada lokasi penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai Desember 2014.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan 6 orang responden serta dengan pengamatan langsung di lapangan dan kuisioner. Data primer tersebut meliputi data-data mengenai kondisi geografis setempat, data aspek non finansial dan finansial dari usaha yang diteliti. Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka hasil riset terdahulu dan berbagai literatur seperti buku, internet yang berkaitan, dan instansi-instansi yang terkait seperti Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Perpustakaan LSI IPB, Perpustakan FEM IPB, Pusat Kajian Hortikultur IPB, artikel, hasil riset, dan bahan pustaka yang lain.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data primer dan sekunder yang telah didapatkan dalam penelitian ini merupakan data kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data dan informasi secara kualitatif digunakan untuk keperluan analisis aspek non finansial yang mencakup aspek pasar, teknis, manajemen, sosial dan lingkungan, sedangkan pengolahan data secara kuantitatif dilakukan untuk menganalisis kelayakan aspek finansial dari usaha. Data kuantitatif yang diperoleh diolah dengan menggunakan komputer, yakni menggunakan software Microsoft Excel dimana data disajikan dalam bentuk tabulasi untuk mempermudah dalam melakukan analisis.

Analisis Aspek Pasar

Analisis aspek pasar akan melihat pasar potensial, permintaan akan produk asparagus, persaingan, startegi pemasaran, bauran pemasaran yang direncanakan oleh usaha tersebut.

Analisis Aspek Teknis

Aspek teknis dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran mengenai lokasi bisnis budidaya asparagus di Kabupaten Bandung, pemilihan jenis teknologi dan peralatan, proses produksi yang dilakukan dalam budidaya asparagus. Aspek teknis dinyatakan layak jika lokasi usaha, teknologi, proses produksi, dan tata letak usaha dapat menghasilkan produk secara optimal serta mendukung kegiatan pengembangan usaha dalam memperoleh laba.

Analisis Aspek Manajemen dan Hukum

Aspek manajemen dianalisis mengenai hal-hal yang menentukan deskripsi serta pemegang jabatan pada bisnis budidaya asparagus. Aspek manajemen meliputi bagaimana merencanakan pengolahan usaha. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek ini adalah bentuk usaha yang digunakan, jenis pekerjaan yang diperlukan agar usaha dapat berjalan dengan lancar, persyaratan yang diperlukan untuk menjalankan usaha, struktur organisasi yang digunakan dan penyediaan tenaga kerja yang dibutuhkan.

Aspek hukum mempelajari bentuk badan usaha yang akan digunakan, jaminan dalam mengajukan pinjaman. Selain itu aspek hukum dalam kegiatan bisnis diperlukan untuk mempermudah dan memperlancar kegiatan bisnis ada saat bekerjasama dengan pihak lain.

Analisis Aspek Sosial, Ekonomi, dan lingkungan

Aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dinyatakan layak jika kegiatan bisnis memberikan manfaat pada masyarakat sekitar usaha seperti dalam membuka lapangan pekerjaan baru, dan meningkatkan pendapatan masyarakat serta pada aspek lingkungan dapat dilakukan dengan menganalisis perkiraan dampak yang ditimbulkan terhadap berjalannya kegiatan bisnis budidaya asparagus terhadap kondisi lingkungan masyarakat sekitar bisnis.

Analisis Aspek Finansial

Analisis finansial diperlukan kriteria investasi yang digunakan untuk menyatakan layak atau tidaknya suatu usaha. Kriteria investasi yang digunakan yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefi Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PP). Data kuantitatif diolah dengan menggunakan Software Microsoft Excel.

Net Present Value

Suatu bisnis dapat dinyatakan layak jika jumlah seluruh manfaat yang diterimanya melebihi biaya yang dikeluarkan. Selisih antara manfaat dan biaya disebut dengan manfaat bersih atau arus kas bersih. Net Present Value atau nilai kini manfaat bersih adalah selisih antara total present value manfaat dengan total present value biaya, atau jumlah present value dari manfaat bersih tambahan

selama umur bisnis. Nilai yang dihasilkan oleh perhitungan NPV adalah dalam satuan mata uang (Rp). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

���= � − �

(1 +�)� �

�=1 keterangan:

Bt = Manfaat pada tahun ke-t Ct = Biaya (Cost) pada tahun ke-t n = Umur proyek

i = Tingkat Discount Rate (%)

t = Tahun kegiatan bisnis (t= 1,2,3,4,5), tahun awal bisnis tahun 0 atau tahun 1 tergantung karakteristik bisnisnya.

Pada metode NPV terdapat 3 kriteria penilaian investasi yaitu apabila NPV > 0 berarti layak untuk dilakukan. Sebaliknya, apabila nilai NPV < 0 maka usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. NPV = 0 berarti usaha tersebut sulit dilaksanakan karena manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan.

Net Benefit Cost Ratio

Net Benefit Cost Ratio (B/C) adalah rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Net B/C menunjukkan besarnya tingkat tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar 1 rupiah. Proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan apabila nilai B/C > 1. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

��� = � − � (1+�)� � �=1 � − � (1+�)� � �=1 Keterangan:

Bt = Manfaat (Benefit) tahun ke-t Ct = Biaya (Cost) tahun ke-t t = Tahun

i = Discount Rate(%)

Internal Rate of Return

Internal Rate of Return adalah tingkat discount rate (DR) yang menghasilkan NPV sama dengan 0. Besaran yang dihasilkan dari perhitungan ini adalah dalam satuan persentase (%). Sebuah bisnis dikatakan layak apabila IRR- nya lebih besar dari opportunity cost of capital-nya (DR). Secara matematis IRR dapat dirumuskan sebagai berikut:

��� =�1

���1

���1− ���2 �

(�2− �1) Keterangan:

i1 = Discount rate yang menghasilkan NPV positif i2 = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV yang bernilai positif

Kriteria kelayakan investasi berdasarkan IRR, Yaitu: IRR > i, artinya usaha layak untuk dilakukan

IRR < i, artinya usaha tidak layak untuk dilakukan

Pada penelitian ini IRR dilakukan dengan menggunakan formula yang telah tersedia di Software Microsoft Excel.

Payback Period

Metode ini mencoba mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Bisnis yang payback period-nya singkat atau cepat pengembaliannya kemungkinan besar akan dipilih. Usaha layak untuk dilaksanakan jika payback period lebih kecil dari umur proyek. Secara matematis payback period dapat dirumuskan sebagai berikut:

�� = �

� Keterangan:

PP = jumlah waktu (tahun) yang diperlukan untuk mengembalikan modal investasi yang ditanamkan.

I = besarnya biaya investasi yang diperlukan.

Ab = manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya.

Kriteria kelayakan investasi berdasarkan PP, yaitu PP < 5 tahun, artinya usaha layak untuk dilaksanakan.

Compounding Factor

Compounding Factor (F/P)in digunakan untuk meghitung nilai di waktu akan datang (F), jika telah diketahui sejumlah uang disaat sekarang (P) untuk suatu periode waktu tertentu (n)

Nilai di masa yang akan datang (Future Value) = F=P(1+i)n Keterangan :

P = Present Amount i = Discount rate n = Time period

Analisis Switching Value

Analisis switching value merupakan perhitungan untuk mengukur perubahan maksimum dari perubahan suatu komponen inflow (penurunan harga output, penurunan produksi) atau perubahan komponen outflow (peningkatan harga input/peningkatan biaya produksi) yang masih dapat ditoleransi agar bisnis masih tetap layak. Oleh karena itu perubahan jangan melebihi nilai tersebut. Bila melebihi maka bisnis menjadi tidak layak untuk dijalankan. Perhitungan ini mengacu kepada berapa besar perubahan terjadi sampai NPV sama dengan nol (NPV = 0). Perubahan-perubahan yang bisa terjadi dalam menjalankan bisnis

umumnya dikarenakan oleh kenaikan dalam biaya, penurunan harga produk, dan lain-lain.

Asumsi Dasar

Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Jenis asparagus yang ditanam adalah benih UC157 F2 yang diperoleh dari Dinas Pertanian Bandung dengan Harga Rp5 000 000/ons dan bibit asparagus Rp5 000/tanaman umur tiga bulan

2. Seluruh modal yang digunakan petani dalam usaha budidaya asparagus ini merupakan modal sendiri milik petani, dengan tingkat discount rate yang digunakan sebesar 7% berdasarkan tingkat suku bunga deposito BCA 15 Oktober 2014, alasan pemilihan tingkat suku bunga deposito tersebut dikarenakan bank yang digunakan oleh mayoritas petani di kelompok tani asparagus Al’istiqomah.

3. Harga-harga yang berlaku merupakan harga yang terjadi pada saat dilakukan penelitian bulan November 2014.

4. Harga seluruh input dan output yang digunakan dalam penelitian ini konstan hingga akhir umur usaha.

5. Asparagus yang di produksi merupakan asparagus hijau dan hasil produksi asparagus semua habis terjual.

6. Produksi asparagus bulan 0 hingga 8, memasuki masa tanaman belum menghasilkan dan pada bulan ke 9 hingga 12 memasuki masa tanaman menghasilkan yang dapat dipanen 2 kali dalam seminggu. Saat memasuki bulan ke 12 hingga 60 asparagus dapat dipanen 3 kali dalam seminggu. Produksi asparagus dari tahun pertama hingga tahun ke 4 akan naik produksinya, hingga pada tahun ke 4 sampai tahun selanjutnya asparagus akan mengalami penurunan produksi rebungnya, maka umur ekonomis tanaman asparagus ditentukan hingga umur 5 tahun (lampiran 3)

7. Penyusutan dihitung berdasarkan metode garis lurus dimana harga beli dikurangi dengan nilai sisa kemudian dibagi dengan umur ekonomis.

Dokumen terkait