Tataniaga tebu dari petani hingga ke konsumen melibatkan beberapa lembaga tataniaga. Lembaga tataniaga yang terlibat di dalamnya memiliki peran petani dalam usaha untuk menjalankan kegiatan usahatani dan memasarkan tebu hasil kebun mereka. Petani responden yang berjumlah 33 orang menggunakan saluran yang berbeda yang didasarkan pada letak geografis dan luasan lahan yang diusahakan petani. Lembaga tataniaga yang terlibat dalam tataniaga tebu adalah petani, penempur, penebas, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Kelompok Tani dan pabrik gula.
1. Petani merupakan lembaga yang berperan dalam kegiatan produksi tebu. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) merupakan perkumpulam para petani tebu yang berperan dalam proses lelang gula. APTRI menjaga agar harga lelang gula tidak terlampau rendah sehingga merugikan petani tebu. Keberadaan APTRI ini membuat petani tebu memiliki posisi tawar yang tinggi
2. Pedagang besar (Penebas) merupakan lembaga yang berperan sebagai pedagang yang membeli tebu hasil petani dan menggiling hasil tebu dari petani ke pabrik gula. Biaya pemanenan dan pengangkutan petani ditanggung oleh penebas.
3. Kontraktor tebu (penempur) merupakan lembaga yang berperan juga sebagai pedagang yang membeli tebu hasil petani tebu dan menggiling hasil tebu dari petani ke pabrik gula. Lembaga tataniaga ini membeli tebu guna memenuhi kuota penggilingan ke pabrik gula sehingga mendapatkan kepercayaan dari pabrik gula untuk melakukan penggilingan. Biaya pemanenan dan pengangkutan ditanggung oleh penempur.
4. Kelompok tani tebu merupakan lembaga perkumpulan petani tebu yang merupakan jembatan antara petani kecil dengan pabrik gula untuk mengolah tebu menjadi gula dan pembagian hasil giling tebu.
5. Pabrik gula merupakan lembaga yang memiliki tugas untuk menjadi perantara peminjaman modal usaha, mengolah tebu menjadi gula dengan cara digiling, serta pembagian hasil jual gula lewat sistem bagi hasil. Pabrik gula hanya menggiling tebu milik petani yang memiliki nomor kontrak dengan pabrik gula. Tebu yang digiling menjadi gula kemudian dijual kepada pihak investor melalui sistem lelang.
Saluran Tataniaga
Penelitian ini mengambil responden sebanyak 33 petani dengan volume tebu sebesar 504 880 kuintal. Terdapat empat saluran tataniaga tebu yang berada di kecamatan Trangkil. Saluran pertama dilalui oleh tiga lembaga tataniaga yaitu petani tebu, kelompok tani, dan pabrik gula yang diikuti sebanyak 16 petani atau sebesar 48,5 persen. Saluraan kedua tataniaga tebu melalui tiga lembaga tataniaga yaitu petani tebu, penebas, dan pabrik gula yang diikuti oleh empat petani atau sebesar 12,1 persen. Saluran ketiga tataniaga tebu melalui tiga lembaga tataniaga yaitu petani tebu, penempur, dan pabrik gula yang diikuti oleh tiga petani atau
sebesar 9,1 persen. Saluran tataniaga yang terakhir diikuti oleh 10 petani atau sebesar 30,3 persen yang merupakan saluran tataniaga terpendek yaitu petani dan pabrik gula.
Saluran Tataniaga 1
Saluran yang terdiri dari petani, kelompok tani, dan pabrik gula ini diikuti oleh 16 petani responden dengan jumlah tebu yang dipasok ke pabrik gula sebesar 43 280 kuintal atau sebesar 8.37 persen. Petani yang tergabung dalam kelompok tani ini didominasi oleh petani yang memiliki lahan kecil. Selain itu, karakteristik kelompok tani ini didasarkan pada tempat kebun tebu mereka yang saling berdekatan, yaitu sekitar Desa Ketanen dan Desa Pesucen.
Kelompok tani ini sangat membantu kegiatan usahatani petani tebu. Kelompok tani bertindak sebagai fasilitator bagi para petani anggota yang pada kontraknya dengan pabrik gula diwakilkan atas nama satu orang yaitu ketua kelompok tani. Para anggota kelompok tani mendapatkan bantuan modal dari pabrik gula berupa kredit biaya garap dan tanam serta biaya tebang angkut. Hal ini mewajibkan petani untuk menggiling tebunya ke pabrik gula karena adanya kewajiban untuk membayar kredit dan bunga tersebut kepada pabrik gula pada akhir periode giling atau pemberian bagi hasil antara petani dan pabrik gula. Bantuan kredit yang diberikan oleh pabrik gula adalah hasil kerjasama antara pabrik gula dengan bank penyedia Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE).
Pabrik gula berperan sebagai pihak yang mengolah tebu menjadi gula. Tebu yang sudah menjadi gula kemudian dilelang melalui perantara Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di Semarang. Sistem bagi hasil antara pabrik gula dan petani dibagi menjadi dua bagian yaitu 34 persen bagian pabrik gula sebagai imbalan untuk biaya giling tebu dan 66 persen hasil lelang gula milik petani. 66 persen hasil lelang gula ini diberikan kepada petani berupa tunai sebesar 90 persen dan natura berupa gula 10 persen. Apabila kelompok tani masih memiliki kewajiban untuk membayar kewajiban berupa kredit dan potongan lain, maka pada akhir periode giling pendapatan petani akan dipotong dengan kewajiban tersebut.
Saluran Tataniaga 2
Saluran tataniaga ini terdiri dari tiga lembaga tataniaga, yaitu petani, penempur, dan pabrik gula ini diikuti oleh tiga orang petani responden dengan jumlah tebu yang dipasok ke pabrik gula sebesar 11 200 kuintal atau 2.22 persen. Petani menggunakan saluran tataniaga dua ini adalah petani yang tidak memiliki surat kontrak dengan pabrik gula. Selain itu alasan petani menggunakan saluran tataniaga dua adalah petani lebih mudah dalam menjual hasil tebu lebih mudah dan cepat.
Kondisi seperti ini dianggap menguntungkan oleh petani yang menggunakan saluran tataniaga dua. Saluran ini diminati oleh petani karena memberikan kemudahan bagi petani dan petani tidak perlu menanggung risiko setelah hasil gilingan. Risiko akan ditanggung oleh penempur yang membeli hasil panen tabu miliknya. Kontraktor tebu memiliki surat kontrak dengan pabrik gula dan akan membawa tebu hasil pembeliannya dengan petani ke pabrik gula untuk digilingkan. Kontraktor tebu membeli tebu milik petani untuk memenuhi surat kontrak yang sudah ditandatangani dengan pabrik gula.
Kontraktor tebu akan mendatangi pemilik tebu untuk membeli tebu yang telah siap panen. Kontraktor tebu akan melakukan kegiatan tawar menawar harga tebu. Kontraktor tebu membeli tebu milik petani sebesar Rp 41 300/kuintal tebu. Setelah harga disepakati oleh kedua pihak , maka petani akan melakukan penebangan dan pengangkutan tebu yang telah dibeli dari petani. Tebu yang telah ditebang dibawa ke pabrik gula untuk digiling. Hasil tebu yang digiling oleh pabrik gula akan diikutkan dalam lelang yang diadakan pabrik gula dengan investor.
Harga tebu ditentukan melalui kesepakatan antara penempur dengan petani tebu. Sistem pembelian dilakukan dengan tunai. Petani tebu mendapatkan informasi pasar dari penempur dan petani tebu lainnya. Petani memiliki posisi tawar yang tinggi karena dapat menentukan harga melalui negosiasi dengan penempur.
Saluran Tataniaga 3
Saluran tataniaga ini terdiri dari tiga lembaga tataniaga, yaitu petani tebu, penebas dan pabrik gula yang diikuti oleh empat orang petani responden dengan jumlah tebu yang dipasok ke pabrik gula sebesar 12 150 kuintal atau sebesar 2.41 persen. Pedagang besar membeli tebu yang siap panen milik petani berdasarkan luasan harga. Harga tebu petani dibeli dengan harga Rp 36 500 000/hektar. Pedagang besar membeli tebu petani seharga Rp 40 900/kuintal.
Petani yang menggunakan saluran tiga ini adalah petani yang tidak memiliki surat kontrak dengan pabrik gula. Selain itu petani menggunakan saluran tiga ini petani lebih mudah dalam menjual hasil tebu, cepat dan biaya pemanenan ditanggung oleh penebas. Kondisi ini dianggap menguntungkan oleh petani yang menggunakan saluran tataniaga tiga. Saluran ini memberikan kemudahan bagi petani dan petani tidak perlu menanggung biaya pemanenan atas hasil usahatani tebunya.
Pedagang besar dan petani melakukan kegiatan tawar menawar harga tebu. Setelah harga tebu disepakati oleh kedua belah pihak maka penebas melakukan penebangan dan pengangkutan tebu yang telah dibeli dari petani. Tebu yang telah ditebang akan diangkut ke pabrik gula untuk digiling. Hasil tebu yang digiling oleh pabrik gula akan diikutkan lelang yang diadakan pabrik gula dan investor. Dalam hal ini penebas mempunyai kemungkinan rugi karena menanggung risiko dari hasil penggilingan tebu dari tebu yang dibeli dari petani.
Harga tebu ditentukan melalui kesepakatan antara penebas dan petani tebu. Sistem pembelian dilakukan dengan cara tunai. Petani memiliki posisi tawar yang tinggi karena dapat menentukan harga melalui negosiasi dengan penebas.
Saluran Tataniaga 4
Saluran tataniaga empat adalah saluran tataniaga terpendek yang hanya melalui dua lembaga tataniaga, yaitu petani dan pabrik gula. Sebanyak 10 petani responden dengan jumlah tebu yang dipasok ke pabrik gula sebesar 439 250 kuintal atau sebesar 87 persen. Saluran ini digunakan oleh petani besar yang memiliki lahan yang luas dan memiliki kontrak dengan pabrik gula.
Petani pada saluran empat melakukan peminjaman modal berupa kredit melalui pabrik gula dan petani memiliki kontrak giling langsung dengan pabrik gula. Petani tebu pada saluran tebu ini menyalurkan tebunya ke pabrik gula secara
langsung untuk kemudian digiling dan menjadi gula. Petani tebu terikat dengan pabrik gula karena adanya kontrak dan kewajiban berupa pinjaman untuk kegiatan usahatani melalui program KKPE yang harus dibayarkan pada akhir periode giling. Kewajiban ini akan dipotong secara langsung dari bagi hasil penjualan tebu yang sudah digiling menjadi gula, sehingga pabrik gula tidak mengalami masalah dengan pembayaran kewajiban petani.
Petani dalam hal ini sebagai lembaga penyedia tebu mengeluarkan biaya tataniaga. Seluruh biaya tataniaga ditanggung oleh petani seperti biaya tebang, biaya angkut, biaya pengemasan serta iuran APTRI. Tebu tersebut kemudian digiling di pabrik gula dan menjadi gula. Petani mendapatkan hasil tunai dari penjualan gula miliknya setelah proses lelang gula berakhir.
Berdasarkan Gambar 3, dapat diketahui bahwa sebesar 87 persen tebu hasil petani disalurkan langsung dari petani ke PG Trangkil tanpa melalui perantara. Hal tersebut dikarenakan adanya pinjaman berupa kredit yang diberikan PG Trangkil kepada petani sebagai modal untuk kegiatan usahatani melalui program KKPE yang harus dibayarkan pada akhir periode giling dari bagi hasil penjualan tebu yang sudah digiling menjadi gula.
Analisis Fungsi Tataniaga
Setiap lembaga tataniaga memiliki fungsi yang berbeda dalam penyampaian tebu dari mulai petani sampai ke pabrik gula. Lembaga tataniaga pada tataniaga
Gambar 3 Sistem tataniaga tebu di Kecamatan Trangkil tahun 2012 Saluran 2 Saluran 1 Petani tebu 33 petani 504 880 kuintal Kelompok tani 16 petani 43 280 kuintal 8.37 % Penempur 3 petani 11 200 kuintal 2.22 % Penebas 4 petani 12 150 kuintal 2.41 % Saluran 4 10 petani 439 250 kuintal 87 % Pabrik gula Trangkil
504 880 kuintal Saluran 3
tebu ini memiliki fungsi utama untuk memperlancar proses penyampaian pada tataniaga tebu itu sendiri. Fungsi tataniaga dikelompokkan menjadi fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas.
Tabel 16 Fungsi dan aktivitas dari petani dan setiap lembaga tataniaga tebu di Kecamatan Trangkil Lembaga Tataniaga Fungsi Tataniaga Aktivitas Petani Pertukaran Penjualan
Fisik Penebangan dan pengangkutan
Kelompok Tani Pertukaran Pengumpulan tebu dan menggilingkan tebu ke pabrik gula
Fasilitas Pembiayaan
Penempur Pertukaran Pembelian tebu petani Menjual tebu ke pabrik gula Fasilitas Penanggungan resiko
Informasi pasar Penebas Pertukaran Pembelian tebu petani
Menjual tebu ke pabrik gula Fasilitas Informasi pasar
Fisik Penebangan dan pengangkutan
Petani
Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh petani tebu di kecamatan Trangkil adalah fungsi pertukaran dan fungsi fisik. Fungsi pertukaran yang dilakukan adalah fungsi penjualan. Fungsi fisik berupa fungsi pengangkutan tebu dari lahan petani ke pabrik gula untuk digiling.
a. Fungsi Pertukaran
Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh petani adalah fungsi penjualan. pada saluran satu terdapat tiga orang petani yang menjual tebunya kepada kontaktor tebu, empat orang petani melakuakan penjualan tebunya melalui kelompok tani.
Penjualan tebu dilakukan di kebun tebu milik petani. Lembaga tataniaga akan mendatangi petani untuk membeli hasil panen petani. APTRI dan kelompok tani memiliki data mengenai data tanam dan panen petani sehingga lembaga tataniaga tersebut akan mendatangi petani yang telah siap panen. Pedagang besar merupakan langganan dari petani yang menjual tebu kepada penebas.
b. Fungsi Fisik
Fungsi fisik yang dilakukan petani adalah fungsi pengangkutan yang dilakukan oleh petani. Proses pemanenan dan pengangkutan dilakukan oleh buruh yang disewa. Biaya pemanenan dan pengangkutan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani merupakan biaya pinjaman yang dikeluarkan oleh pabrik gula dan kelompok tani. Biaya tersebut akan dibayar oleh petani setelah petani mendapatkan hasil dari gilingan tebu. Pada saluran biaya pemanenan dan pengangkutan akan ditanggung sepenuhnya oleh penebas yang membeli tebu milik petani.
Kelompok Tani
Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh kelompok tani adalah fungsi pertukaran dan fungsi fasilitas. Fungsi tataniaga kelompok tani terdapat pada saluran satu.
a. Fungsi Pertukaran
Kelompok tani melakukan fungsi pertukaran berupa pengumpulan tebu milik anggota dan menggilingkan tebu ke pabrik gula. Petani anggota tidak dapat melakukan proses giling di pabrik gula secara langsung karena tidak memiliki kontrak. Kelompok tani yang diwakilkan oleh satu nama memiliki surat kontrak dan dapat menggilingkan tebu milik petani anggota.
b. Fungsi Fasilitas
Kelompok tani memfasilitasi petani anggota dalam fungsi pembiayaan seperti kredit modal usaha. Kredit modal usaha diperoleh dari pabrik gula yang bekerjasama dengan Bank yang menyediakan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) dan biaya administrasi dibagi secara rata kepada petani menurut kuintal tebu yang dihasilkan. Selain itu fungsi informasi pasar dilakukan oleh kelompok tani.
Penempur
Penempur melakukan fungsi tataniaga seperti fungsi pertukaran dan fungsi fasilitas. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh penempur adalah fungsi pembelian dan penjualan sedangkan fungsi fasilitas penempur adalah penanggungan risiko dan informasi pasar. Fungsi tataniaga penempur terdapat pada saluran dua.
a. Fungsi Pertukaran
Penempur memiliki kontrak dengan pabrik gula sehingga kontraktor harus memenuhi pasokan tebu yang akan disalurkan ke pabrik gula. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh penempur adalah fungsi pembelian dan fungsi penjualan. Fungsi pembelian dilakukan di lahan petani secara langsung. Pada saat panen tiba penempur akan mendatangi petani untuk melakukan pembelian tebu. Biaya angkut dan tebang ditanggung oleh petani sehingga penempur menyepakati harga tebu dengan petani dengan melakukan kegiatan tawar menawar. Fungsi penjualan yang dilakukan oleh penempur adalah saat penempur menjual tebu ke pabrik gula. Tebu yang telah dibeli dari petani dibawa ke pabrik gula untuk digiling. Tebu yang telah digiling akan diikutkan lelang yang diadakan oleh pabrik gula.
b. Fungsi Fasilitas
Penempur melakukan fungsi fasilitas yaitu penanggungan risiko dan informasi pasar. Kontraktor tebu menanggung semua risiko atas tebu yang dibelinya dari petani. Dalam hal ini petani tebu membeli tebu petani yang sudah ditebang dan diangkut oleh petani. Biaya tebang dan angkut ditanggung oleh petani. Risiko mengenai rendahnya rendemen atau kerusakan ditanggung oleh penempur karena penempur harus memasok tebu yang sesuai kontraknya antara penempur dengan pabrik gula. Informasi pasar yang dibutuhkan oleh penempur adalah informasi harga beli tebu, petani yang menjual tebu dan tidak memiliki kontrak serta kewajiban dengan pihak lain, harga jual tebu dan rendemen.
Penebas
Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh penebas adalah fungsi pertukaran dan fungsi fisik. Fungsi tataniaga tersebut terdapat pada saluran tataniaga tiga.
a. Fungsi Pertukaran
Penebas ini melakukan fungsi pertukaran berupa pembelian tebu dari petani. Dalam hal ini penebas membeli tebu petani yang tidak memiliki kontrak dan kewajiban dengan pihak manapun. Pedagang besar membeli tebu petani secara tunai di lahan tebu petani penjual. Setelah itu penebas menggiling tebu ke pabrik gula dan dilelang sehingga penebas pun menjalani fungsi penjualan.
b. Fungsi Fisik
Penebas mendatangi lahan tebu untuk membeli tebu milik petani. Kegiatan panen berupa tebang dan angkut pun dilakukan oleh buruh yang disewa oleh penebas. Seluruh biaya tebang dan angkut dibayarkan oleh penebas sehingga petani tidak mengeluarkan biaya.
Analisis Struktur Pasar
Struktur pasar dapat dilihat dari jumlah pembeli dan penjual yang ada di dalam pasar, kondisi dan keadaan produk, kemudahan untuk keluar masuk pasar dan tingkat informasi pasar. Setiap lembaga tataniaga perlu mengetahui struktur pasar yang ada agar dapat bertindak efisien dalam tataniaga suatu produk. Berikut adalah analisis struktur pasar yang dihadapi oleh pelaku pasar dalam tataniaga tebu di Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Struktur Pasar di Tingkat Petani
Struktur pasar yang dihadapi oleh petani mengarah kepada pasar oligopsoni. Hal ini dapat dilihat dari jumlah petani di kecamatan Trangkil yang banyak dan seluruh petani berperan sebagai penjual tebu. Petani hanya memiliki opsi menjual tebunya kepada beberapa lembaga yaitu pedagang perantara dan pabrik gula saja.Tidak semua petani menjual tebu dalam bentuk utuh, sebagaian besar petani menjual tebu dalam bentuk olahannya, yaitu gula melalui fungsi APTRI dalam proses lelang. Sifat produk yang diperdagangkan pun bersifat homogen, yaitu tebu. Terdapat hambatan untuk keluar dan masuk pasar karena petani terikat dengan penyedia modal. Usahatani tebu memerlukan modal yang besar, yaitu Rp 18 000 000 per hektar untuk tunas 1 dan Rp 10 000 000 per hektar tunas 2. Petani yang mendapatkan modal dari Pabrik Gula Trangkil harus menggilingkan tebunya ke Pabrik Gula Trangkil karena pembayaran kredit modal akan dipotong dari hasil penjualan gula milik petani, sehingga terdapat hambatan untuk keluar pasar. Harga gula yang merupakan hasil olahan tebu ditentukan oleh lelang yang dilakukan APTRI di Semarang, Jawa Tengah. Petani pun mendapatkan informasi yang lengkap dari Pabrik Gula Trangkil yang mencakup identitas petani, rendemen, kuintal gula, bagi hasil antara Pabrik Gula dan petani, kewajiban petani dari kredit modal, dan pendapatan petani.
Struktur Pasar di Tingkat Kelompok Tani
Struktur pasar yang dihadapi oleh kelompok tani mengarah kepada pasar monopsoni dikarenakan kelompok tani hanya menjual tebu ke pabrik gula Trangkil. Hal ini dikarenakan kelompok tani merupakan gabungan dari para
petani namun petani yang bergabung pada kelompok tani ini tidak memiliki kontrak sehingga difasilitasi oleh kelompok tani. Kelompok tani yang berada di kecamatan Trangkil banyak, hal ini dikarenakan untuk memperoleh ijin giling di pabrik gula, selain itu petani yang memiliki lahan yang kecil dan petani merasa lebih baik untuk bergabung karena akan mendapatkan kemudahan untuk pengurusan kredit modal, proses pelaksanaan usahatani, dan kegiatan pasca usahatani. Produk yang diperdagangkan homogen yaitu tebu. Terdapat hambatan keluar masuk pasar karena seluruh petani pada kelompok tani ini menggunakan kredit modal yang difasilitasi oleh Pabrik Gula Trangkil, sehingga kelompok tani ini tidak dapat keluar dari pasar karena terkait modal tersebut. Selain terikat karena modal, kelompok tani pun terkait pada wilayah lahan yang berdekatan sehingga petani tidak dapat keluar dari kelompok dan pasar. Informasi mengenai pasar didapatkan dari Pabrik Gula Trangkil saat pembayaran bagi hasil yang mencakup informasi yang sama dengan petani tebu.
Struktur Pasar di Tingkat Penebas
Struktur pasar yang dihadapi oleh penebas mendekati oligopsoni. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pemain yang sedikit di wilayah kecamatan Trangkil. Pedagang besar juga merupakan petani tebu sehingga penebas tentu memiliki kontrak dengan pabrik gula. Produk yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu tebu. Harga ditentukan melalui sistem tawar menawar antara penebas dengan petani. Hambatan masuk ke dalam pasar adalah sulitnya mendapatkan surat kontrak dengan pabrik gula. Hambatan ini tergolong kecil karena surat kontrak dapat diajukan kepada pabrik gula dengan mengikuti cara dan persyaratan yang berlaku. Hambatan keluar penebas harus menggilingkan tebu kepada pabrik gula sesuai kesepakatan dalam surat kontrak. Informasi yang didapatkan adalah informasi harga beli tebu, biaya pemanenan dan biaya pengangkutan, rendemen tebu dan permintaan tebu. Informasi biaya angkut dan tebang dibutuhkan karena penebas yang menanggung biaya tersebut.
Struktur Pasar di Tingkat Penempur
Struktur pasar yang dihadapi oleh penempur adalah pasar oligopsoni. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penempur yang sedikit. Produk yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu tebu. Harga ditentukan melalui sistem tawar menawar dengan petani. Hambatan untuk keluar masuk pasar termasuk kecil karena penempur merupakan petani tebu. Kontraktor tebu melakukan kegiatan pembelian tebu dikarenakan ingin memenuhi kebutuhan jumlah pasokan tebu sesuai kontrak antara penempur dengan pabrik gula. Hambatan masuk ke dalam pasar adalah sulitnya mendapatkan surat kontrak ijin giling dengan pabrik gula. Informasi yang didapatkan adalah informasi mengenai harga beli tebu, lokasi petani yang menjual tebu dan rendemen tebu. Pembayaran tebu dilakukan secara tunai. Informasi mengenai pasar didapatkan penempur dari pabrik gula dan sesama penempur.
Analisis Perilaku Pasar
Perilaku pasar merupakan pola atau tingkah laku lembaga-lembaga tataniaga yang menyesuaikan dengan struktur pasar. Analisis perilaku pasar dapat dilihat dari praktek pembelian dan penjualan yang dilakukan lembaga tataniaga,
sistem penentuan harga dan pembayaran, dan kerjasama antar lembaga tataniaga.