Penelitian dilakukan di Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Trangkil merupakan wilayah penghasil tebu terbesar di Jawa Tengah. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei 2013 dengan pertimbangan pada bulan tersebut merupakan masa panen tebu di wilayah tersebut sehingga mempermudah untuk melihat saluran tataniaga yang ada di Trangkil.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung (observasi) dan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang tersaji pada kuesioner kepada pelaku tataniaga tebu baik itu petani maupun pedagang. Pengamatan secara langsung juga dilakukan terhadap kegiatan tataniaga tebu untuk mengetahuo saluran tataniaga dan lembaga tataniaga yang terlibat pada alur tataniaga tebu.
Data sekunder pun diperlukan pada penelitian ini. Data sekunder didapatkan dari studi literatur, tinjauan pustaka, serta beberapa penelitian terdahulu. Selain itu, data yang menunjukkan data terhadap komoditi tebu yang menunjang seperti dari Badan Pusat Statistika, Direktorat Jendral Perkebunan, Departemen Pertanian RI, dan Dinas Perkebunan Jawa Tengah. Data sekunder ini dipergunakan sebagai pelengkap dari data primer.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara dengan panduan kuesioner kepada pelaku tataniaga tebu baik itu petani maupun pedagang. Responden petani dipilih dengan menggunakan teknik purposive atau sengaja, hal ini dilakukan dengan cara memilih petani yang menggunakan saluran tataniaga berbeda. Pemilihan yang sengaja ini ditujukan agar saluran tataniaga tebu yang berada di Kecamatan Trangkil ini terlihat. Jumlah petani yang dijadikan responden adalah sebanyak 33 orang untuk mewakili petani di setiap saluran tataniaga dan terdapat 7 pedagang yang menjadi responden dalam penelitian ini.
Pengambian sampel untuk pedagang atau lembaga tataniaga selain petani tebu dilakukan dengan cara mengikuti alur tataniaga tebu hingga sampai ke tangan pabrik gula. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak mengetahui mengenai lembaga tataniaga yang terlibat dalam tataniaga tebu di Trangkil, sehingga peneliti harus mencari tahu melalui petani dan lembaga tataniaga dan selanjutnya akan diketahui dari pelaku tataniaga sebelumnya. Akhir dari pencarian pelaku tataniaga ini adalah konsumen akhir. Jumlah lembaga tataniaga yang menjadi responden akan diketahui berdasarkan informasi yag didapat dari lembaga tataniaga sebelumnya.
Metode Pengolahan Data
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tataniaga tebu di Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Efisiensi tataniaga tebu dapat diperoleh melalui analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Penelitian analisis kualitatif efisiensi tataniaga tebu meliputi lembaga dan saluran tataniaga tataniaga, fungsi tataniaga, struktur pasar, dan perilaku pasar. Penelitian analisis kualitatif efisiensi tataniaga tebu ini dijelaskan secara deskriptif untuk menjabarkan semua detail dari saluran tataniaga, fungsi tataniaga, struktur pasar, perilaku pasar, serta permasalahan yang terjadi pada daerah penelitian. Sedangkan analisis kuantitaif dilakukan melalui pendekatan majin tataniaga, farmer’s share, dan rasio keuntungan terhadap biaya. Efisiensi tataniaga tebu dapat dilihat dari analisis struktur pasar, perilaku pasar, saluran tataniaga, marjin tataniaga, farmer’s share, dan rasio keuntungan terhadap biaya. Analisis sistem tataniaga digunakan untuk mengetahui rangakaian keseluruhan mulai dari petani sampai dengan konsumen akhir atau pabrik gula. Dalam penilitian ini yang diamati sistem tataniaganya hanya sampai dengan tebu tidak termasuk tataniaga gula.
Analisis Lembaga dan Saluran Tataniaga
Analisis saluran tataniaga tebu di Kecamatan Trangkil dilakukan dengan menelusuri kegiatan tataniaga yang ada mulai dari petani hingga ke konsumen akhir. Penelusuran mengenai saluran tataniaga akan diketahui pola saluran tataniaga yang terjadi dan jumlah lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tersebut. Perbedaan pada saluran tataniaga akan berpengaruh pada tingkat pendapatan yang diterima oleh masing-masing lembaga tataniaga yang terlibat.
Analisis Fungsi Tataniaga
Fungsi-fungsi dari setiap lembaga tataniaga dapat diketahui berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing lembaga tataniaga. Fungsi dari lembaga tataniaga adalah menyalurkan komoditi dari produsen sampai ke tangan konsumen. Selain menyalurkan komoditi, melalui analisis ini pun akan diketahui biaya yang dikeluarkan dalam setiap kegiatan tataniaga. Pedekatan fungsi-fungsi tataniaga yang akan dianalisis adalah:
1. Fungsi Pertukaran
Aktivitas pemindahan kepemilikan dari barang dan jasa yang meliputi fungsi pembelian dan fungsi penjualan.
2. Fungsi Fisik
Tindakan yang berhubungan dengan barang dan jasa agar memiliki kegunaan waktu, tempat, dan bentuk. Fungsi fisik ini meliputi fungsi penyimpanan, pengangkutan, dan pengolahan.
3. Fungsi Fasilitas
Kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar kegiatan pertukaran barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Fungsi fasilitas ini meliputi standarisasi dan grading, pembiayaan, penanggulangan risiko, dan informasi pasar.
Analisis Struktur Pasar
Analisis struktur pasar dapat dilihat dari jumlah pembeli, jumlah penjual, sifat produk, pengetahuan akan informasi pasar, dan hambatan untuk masuk dan
keluar pasar. Melalui lima hal tersebut maka akan diketahui struktur pasar yang dihadapi oleh pelaku tataniaga. Struktur pasar yang mungkin dihadapi oleh pelaku tataniaga adalah pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik, monopoli, dan oligopoli.
Analisis Perilaku Pasar
Analisis ini dilihat dari tingkah laku pasar dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam kegiatan tataniaga. Kegiatan pembelian, penjualan, penentuan harga, cara pembayaran, dan kerjasama yang dilakukan mempengaruhi perilaku setiap lembaga tataniaga yang terlibat. Analisis perilaku pasar digunakan untuk mengetahui karakteristik konsumen.
Analisis Efisiensi Tataniaga
Efisiensi tataniaga dapat dilihat dari beberapa faktor seperti marjin tataniaga, farmer’s share, serta analisis keuntungan terhadap biaya. Selain dari faktor-faktor tersebut, terdapat pula beberapa faktor yang perlu dipertibangkan seperti saluran tataniaga, fungsi-fungsi tataniaga, lembaga-lembaga tataniaga, struktur pasara, dan perilaku pasar. Indikator tercapainya efisiensi tataniaga adalah menurunnya biaya tataniaga tanpa mempengaruhi output yang dipasarkan. Sistem tataniaga akan tercipta bila seluruh lembaga tataniaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga memperoleh kepuasan dari adanya kegiatan tersebut.
Analisis Marjin Tataniaga
Marjin tataniaga merupakan perbedaan harga di tingkat petani produsen (Pf) dengan harga di tingkat konsumen akhir (Pr) dengan demikian marjin tataniaga adalah MT = Pr – Pf. Melalui penelusuran saluran tataniaga, diharapkan dapat diperoleh informasi tentang marjin pada tiap lembaga tataniaga. Analisis marjin tataniaga digunakan untuk melihat tingkat efisiensi tataniaga tebu. Marjin tataniaga dihitung berdasarkan pengurangan harga penjualan dengan harga pembelian pada setiap tingkat lembaga tataniaga. Menurut Limbong dan Sitorus (1985), besarnya marjin tataniaga pada suatu saluran tataniaga merupakan penjumlahan dari marjin yang diperoleh setiap lembaga tataniaga. Marjin juga didefinisikan sebagai penjumlahan dari keuntungan dan biaya tataniaga yang dikeluarkan dalam pelaksanaan sistem (1985) tersebut maka secara matematis perhitungan nilai marjin tataniaga dapat dirumuskan sebagai berikut:
Mi = Hji - Hbi
Atau
Mi = Ci+ πi
Dan besarnya marjin tataniaga pada saluran tataniaga adalah:
MT= ∑Mi
Keterangan:
Mi = Marjin tataniaga pada pasar tingkat ke-i (Rp/Kg) Hji = Harga penjualan pada pasar tingkat ke-i (Rp/Kg) Hbi = Harga pembelian pada pasar tingkat ke-i (Rp/Kg) Ci = Biaya pembelian pada tingkat pasar ke-i (Rp/Kg) Πi = Keuntungan tataniaga pada pasar tingkat ke-i (Rp/Kg) I = 1, 2, 3,...,n
Selain itu, marjin tataniaga juga dapat diperoleh dari penjumlahan biaya tataniaga dan keuntungan tataniaga pada suatu saluran tataniaga yang terbentuk. Hal ini dapat diartikan sebagai value added dari komoditi yang dipasarkan (Limbong dan Sitorus, 1985). Analisis marjin tataniaga dapat dipakai untuk melihat keragaan pasar pada suatu sistem tataniaga.
Analisis Farmer’s Share
Pendapatan yang diterima petani farmer’s share merupakan perbandingan persentase harga yang diterima oleh petani dengan harga yang dibayar di tingkat konsumen akhir. Secara matematis farmer’s share dihitung sebagai berikut:
Fs = x 100% Keterangan:
Fs : Persentase harga yang diterima petani dari harga konsumen akhir Pf : Harga di tingkat petani
Pr : Harga di tingkat konsumen
Semakin mahal konsumen membayar harga yang ditawarkan oleh lembaga tataniaga (pedagang), maka yang diterima oleh petani akan semakin sedikit, karena petani menjual komoditi pertanian dengan harga yang relatif rendah. Hal ini memperlihatkan adanya hubungan negatif antara marjin tataniaga dengan bagian yang diterima oleh petani. Semakin besar marjin maka penerimaan petani relatif kecil.
Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya
Rasio keuntungan dan biaya (analisis L/C Ratio) adalah persentase keuntungan tataniaga terhadap biaya pemasran yang secara teknis (operasional) untuk mengetahui tingkat efisiennya. Penyebaran rasio keuntungan dan biaya pada masing-masing lembaga tataniaga dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio Keuntungan Biaya (Li/Ci) = Keterangan:
Li : keuntungan lembaga tataniaga Ci : biaya tataniaga