• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Obyek Penelitian Letak Geografis dan Administrasi

Kelurahan Pulokerto terletak di wilayah Kota Palembang yang berada di wilayah selatan kota. Kelurahan Pulokerto merupakan bagian dari Kecamatan Gandus. Kelurahan ini memiliki gugus wilayah yang terdiri 50% rawa, 30% daratan serta 20% persen berada di wilayah sungai. Wilayah tersebut terletak pada 2°59 27.99 Lintang Selatan 104°45 24.24 Bujur Timur. Kelurahan Pulokerto memiliki luas wilayah 34,91 kilometer persegi, wilayah ini dilalui oleh Sungai Musi sebagai sungai utama yang membelah Kota Palembang.

Iklim Kelurahan Pulokerto merupakan iklim daerah tropis dengan angin lembab nisbi dengan kecepatan angin berkisar antara 2300 - 4500 meter per jam. Suhu wilayah ini berkisar antara 23.4oC sampai dengan 31.7oC. Curah hujan pertahun berkisar antara 2000-3000 milimeter. Sedangkan kelembaban udara berkisar antara 75% - 89% dengan rata-rata penyinaran matahari 45% persen. Topografi tanah relatif datar dan rendah serta rawa. Hanya sebagian kecil wilayah tersebut yang tanahnya terletak pada tempat yang agak tinggi. Wilayah ini sebagian besar adalah rawa sehingga pada saat musim hujan daerah tersebut tergenang.

Letak Kelurahan Pulokerto berada di ujung Kota Palembang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Banyuasin. Batas-batas wilayah Kelurahan Pulokerto terdiri dari :

- Sebelah Barat : Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim. - Sebelah Utara : Desa Sukajadi, Kecamatan Talang Kelapa,

Kabupaten Banyuasin.

- Sebelah Timur : Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus. - Sebelah Selatan : Kelurahan Kramasan, Kecamatan Kertapati.

Jarak orbitasi yang dapat ditempuh dari kelurahan ke kecamatan bervariasi namun dengan kendaraan bermotor dapat ditempuh selama 20 menit, sedangkan jarak dari kelurahan ke pusat kota dapat ditempuh dengan 60 menit dengan kendaraan bermotor dan jarak dari kelurahan ke provinsi dapat ditempuh selama 80 menit atau sekitar 25 kilometer.

Tabel 4 Orbitasi jarak dan waktu tempuh di Kelurahan Pulokerto

No Orbitasi Jarak Waktu

1 Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan 10 km 20 menit

2 Jarak dari pusat pemerintah kota 20 km 60 menit

3 Jarak dari pusat pemerintah provinsi 25 km 80 menit Sejarah berdirinya Kelurahan Pulokerto sudah sejak lama, tempat ini dahulunya hanya dihuni satu keluarga yang dikenal dengan nama Pak Kerto. Keluarga ini bermata pencaharian nelayan dan petani. Keluarga Kerto samakin bertambah dengan pesatnya interaksi dengan penduduk luar dan jumlah anggota keluarga makin bertambah, untuk mengabadikan wilayah tersebut maka dinamakanlah Pulokerto. Pulo yang berarti hamparan sungai atau pulau dan Kerto adalah nama penghuni pertama di wilayah ini. Pulokerto pada tahun 1999 masih berada di bawah administrasi wilayah Kecamatan Ilir Barat II, tepatnya Kelurahan Gandus. Tahun 2001, Wilayah Pulokerto berdiri menjadi satuan pemerintah Kelurahan Pulokerto berpisah dari Kelurahan Gandus. Sebelumnya Kelurahan Pulokerto masuk pada wilayah administrasi Kelurahan Gandus. Kelurahan Pulokerto berpisah berdasarkan peraturan daerah Kota Palembang No. 9 tanggal 20 September 2001. Status Desa Pulokerto di tingkatkan menjadi Kelurahan Pulokerto. Kelurahan Pulokerto menempati kantor kelurahan di tengah kawasan pemukiman masyarakat yang berukuran 520 meter persegi. Kawasan Kelurahan Pulokerto sebagian berada di pinggir Sungai Musi dan Delta Musi. Terdapat 4 rukun warga yang menempati wilayah daerah pinggiran sungai Musi antara lain RW 7, 8, 9 dan 10 sedangkan sisanya berada wilayah perbukitan.

Keadaan Demografis

Penduduk Kelurahan Pulokerto memiliki tingkat kondisi ekonomi yang berada pada pada tingkat prasejahtera dan sejahtera. Profesi yang digeluti oleh kalangan yang ada di wilayah ini adalah pedagang, petani, nelayan, buruh dan aparatur pemerintah. Hasil sensus 2010 penduduk Kelurahan Pulokerto berjumlah 11 786 jiwa dimana laki-laki berjumlah 5 962 jiwa atau 50,58% dan perempuan 5 824 jiwa atau 49,41% dengan perbandingan ratio penduduk 1.17 antara laki- laki dan perempuan atau 102,37% berarti setiap 100 orang penduduk perempuan

terdapat 102 orang penduduk laki-laki. Wilayah Pulokerto memiliki 2 953 kepala keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak. Wilayah Pulokerto dibagi menjadi 32 Rukun Tetangga dan 10 Rukun Warga. Kepadatan Kelurahan Pulokerto 338 jiwa per kilometer persegi. Kepadatan yang terpadat di RW 2, 3 dan 4 yaitu sebanyak 44 jiwa per kilometerpersegi, sedangkan kepadatan yang terendah di RW 7, 8 dan 10 yaitu sebanyak 24 jiwa per kilometerpersegi. Wilayah yang padat memiliki spesifikasi wilayah berada di dataran dimana aksesibilitas jalan raya dan sarana yang menunjang. Sedangkan untuk, wilayah yang tidak terlampau padat tidak memiliki aksesibitas yang lengkap sehingga masyarakat lebih cenderung memanfaatkan kondisi alam yang ada.

Tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku seseorang dalam menjalani roda kehidupan dimana pendidikan yang tinggi mempengaruhi usaha mata pencaharian seseorang sehingga berdampak pada status ekonomi yang dimiliki masyarakat. Hal ini dapat di jelaskan pada Tabel 5.

Tabel 5 Persentase tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Pulokerto

No Tingkat Pendidikan Jumlah

Penduduk Persentase (%) 1 Belum Sekolah 3 500 29,70 2 Tidak sekolah 1 580 13,41 3 SD/ MI 2 990 25,37 4 SMP/MTs 2 569 21,80 5 SMA/ MA 880 7,47 6 AK/ DIPLOMA 156 1,32 7 Pergurutan Tinggi 111 0,94 Total 11 786 100,00

Sumber : Puskesmas Gandus Tahun 2010

Jumlah masyarakat yang memiliki status pendidikan yang baik berada di 54,64% sedangkan yang sangat baik hanya 2,26% dan 43,1% berada dalam keadaan tidak memiliki pendidikan. Masyarakat Pulokerto sebagian besar adalah nelayan dan petani serta pekerja bangunan ataupun buruh karet yang tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Anggapan masyarakat pendidikan tinggi

sulit untuk diraih karena kebutuhan pangan dan papan yang sangat sulit dijangkau apalagi harus memikirkan pendidikan yang memang mahal. Angka pendidikan ini juga mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat, dimana dari survey yang dilakukan oleh Puskesmas Gandus, hanya 64% rumah tangga yang memiliki jamban,. sedangkan sisanya membuang ke sungai. Selain itu, dampak dari pendidikan yang rendah adalah pemanfaatan ASI sebagai asupan bayi yang rendah dikarenakan tingkat pendapatan keluarga yang kurang memenuhi kebutuhan ditambah dengan tingkat kesehatan ibu yang kurang, terutama pada gejala kurang energi protein.

Komposisi mata pencaharian masyarakat Kelurahan Pulokerto memiliki mata pencaharian di bidang pertanian, buruh pabrik dan bangunan, pedagang dan pegawai negeri sipil. Komposisi terbesar 52% adalah nelayan dan petani, sedangkan yang kedua adalah buruh bangunan dan pabrik sebesar 30% dan sisanya 18% adalah pedagang dan pegawai negeri sipil. Sebagian masyarakat memiliki waktu kerja yang tidak menentu, mata pencaharian nelayan dilakukan pada waktu sore dan pagi hari sedangkan pertanian dilakukan sesuai dengan masa tanam dan panen. Umumnya di wilayah ini pertanian terbagi atas dua yaitu pertanian rawa dan perkebunan. Pertanian rawa dilakukan dengan menanam padi rawa dengan musim tanam satu hingga dua kali dalam setahun dengan masa tanam empat hingga enam bulan. Sedangkan pertanian perkebunan dilakukan sesuai dengan kondisi alam. Perkebunan yang dikelola dalam hal ini adalah karet. Disamping pertanaman, masyarakat juga memanfaatkan ternak sapi, kambing, ayam dan itik/ bebek sebagai mata pencaharian tambahan, disamping bertani dan nelayan. Berdasarkan pantauan peneliti terdapat dua kelompok peternak yang membudidayakan sapi dan kambing yang berjumlah 1000 ekor yang dikelola atas bantuan dinas pertaian dan peternakan dinas pertanian Kota Palembang.

Aktivititas Keagamaan, Pendidikan, Kesehatan

Kegiatan masyarakat di kelurahan Pulokerto sangatlah beragam selain memiliki mata pencaharian utama sebagai petani dan nelayan. Pada bidang keagamaan saja masyarakat memiliki perkumpulan badan amal kematian di tiap masjid. Kelurahan Pulokerto memiliki fasilitas rumah ibadah berupa masjid sebanyak enam buah dan Mushola atau langgar sebanyak empat buah yang

masing-masing dimanfaatkan sebagai aktivitas keagamaan seperti solat jumat, solat berjamaah dan pengajian ibu-ibu dan anak-anak. Sedangkan aktivititas pendidikan kelurahan ini memiliki empat buah sekolah dasar, dua buah taman kanak-kanak, dua buah taman bermain anak PAUD dan taman bacaan. Masing- masing fasilitas sekolah dimanfaatkan oleh masyarakat Pulokerto untuk mendidik anak-anak dan membina masyarakat.

Selain itu terdapat satu buah Puskesmas di Kecamatan serta dua buah puskesmas pembantu yang ada di Kelurahan Pulokerto yang melayani jasa kesehatan masyarakat seperti pengecekkan kesehatan, pemeriksaan ibu hamil, penyelenggaraan imunisasi dan penyuluhan kesehatan. Dua puskesmas pembantu ini terletak berjauhan. Satu puskesmas terapung yang terletak di pinggiran sungai tepat berada di kampung laut Pulokerto, satu puskesmas pembantu yang berada di pemukiman masyarakat berada di Desa Air Itam. Selain itu terdapat juga pos pelayanan terpadu yang membantu masyarakat untuk imunisasi tambahan tiap bulannya. Posyandu yang terdapat di Pulokerto dari tahun 2009 hingga sekarang jumlahnya bertambah. Tahun 2009 posyandu berjumlah sembilan posyandu dengan bergulirnya kegiatan program perbaikan gizi terjadi penambahan posyandu sebanyak tiga buah sehingga menjadi dua belas posyandu. Penambahan ini merupakan tanda peningkatan kesadaran masyarakat akan kesehatan mulai bertambah. Selain itu pula dengan adanya program perbaikan gizi, terjadi penurunan angka kekurangan energi protein yang dialami oleh ibu hamil dan ibu dan balita dan disamping itu pelayanan jasa kesehatan seperti konseling, penyuluhan dan pengobatan menjadi rutin dilakukan tiap bulannya di masing- masing posyandu, sekolah, dan pada acara keagamaan.

Perhubungan dan Komunikasi

Kelurahan Pulokerto telah memiliki sarana dan prasarana transportasi namun masih belum memadai. Sarana jalan masih belum beraspal maupun jalan yang masih setapak dimana dilaluinya harus dengan jalan kaki. Sedangkan prasarana yang belum memadai seperti angkutan umum yang kurang tersedia. Masyarakat mengandalkan ojek ataupun mobil angkutan kota yang beroperasi dari pukul 06.00-16.00 WIB sebagai alat transportasi darat. Sedangkan disisi lain

masyarakat juga mengandalkan transportasi laut yang dikenal dengan ketek atau perahu bermotor.

Setiap masyarakat Pulokerto memiliki televisi dan radio sebagai media saluran komunikasi. Selain itu, beberapa dari mereka telah memiliki telepon genggam yang dimanfaatkan sebagai saluran komunikasi antar keluarga ataupun rekanan bisnis. Sarana komunikasi lain pun mulai terbuka seperti warung telkom yang ada di tengah kelurahan, telepon umum. Dampak terhadap teknologi komunikasi mengakibatkan terbukanya usaha bisnis bagi masyarakat seperti warung internet yang dikelola oleh masyarakat sendiri, tercatat terdapat tiga buah warnet yang menempati pemukiman masyarakat yang menyebar di komplek Griya Asri. Disamping itu juga, komunikasi tradisional pun masih digunakan seperti papan pengumuman di tingkat Rukun Warga, penggunaan masjid sebagai sarana informasi, pertemuan gotong royong warga tiap bulannya.

Komunikasi dalam sebuah masyarakat tentu tidak terlepas dari masyarakat secara langsung baik tokoh masyarakat yang dianggap sebagi informasi utama atau tokoh pendapat yang selalu dimintakan pendapatnya. Masing-masing rukun tetangga memiliki pemimpin-pemimpin yang dianggap sebagai opinion leader yang memberikan informasi setiap program pembangunan yang akan datang. Informasi ini didapat dari sosialisasi yang dilakukan di kelurahan atau kecamatan. Tokoh-tokoh ini umumnya menjabat sebagai perangkat rukun warga ataupun rukun tetangga sehingga masyarakat akan lebih mudah menghubungi mereka yang menjadi sasaran dan diinformasikan ke masyarakat luas. Selain itu juga setiap tiga bulan sekali masyarakat Kelurahan Pulokerto mengadakan rapat dan pertemuan bersama antar masyarakat di kelurahan membahas seputar permasalahan yang ada di masyarakat.

Program Perbaikan Gizi dalam Kelompok Gizi Masyarakat Pulokerto Program perbaikan gizi melalui pemberdayaan masyarakat merupakan singkatan dari Nutrition Intervention Through Community Empowerment disingkat dengan NICE adalah salah satu program yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB). Program perbaikan gizi dilatar belakangi oleh banyaknya kasus gizi buruk dan kekurangan gizi yang menimpa masyarakat miskin terutama masyarakat pinggiran dan pedesaan. Program perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam hal permasalahan gizi dan kesehatan di wilayahnya.

Kelurahan Pulokerto merupakan salah satu wilayah yang mendapat program perbaikan gizi masyarakat. Sebanyak empat kelurahan yang terpilih menjadi prioritas program yaitu Kelurahan Karang Anyar, Karang Jaya, Gandus, dan Kelurahan Pulokerto. Proses pemilihan dilakukan oleh pihak Kecamatan, Kelurahan dan Dinas Kesehatan Kota Palembang. Keterpilihan wilayah Pulokerto memperoleh program didasarkan pada: (1) Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan yang dimiliki di wilayah tersebut; (2) Kurangnya bidan kesehatan dan petugas kesehatan; (3) Penduduk yang memiliki mata pencaharian kurang dari layak dibawah Rp.750.000 perbulannya; (4) Pernah terjadi gizi buruk dan tingginya prevalensi kematian ibu dan balita serta kurang gizi; (5) Minimnya sanitasi kesehatan warga.

Tujuan Program Perbaikan Gizi

Tujuan program perbaikan gizi adalah: (1) Terbangunnya lembaga kemasyarakatan dalam bentuk kelompok sadar gizi yang dipercaya, representatif, terbuka serta aksesibiltas bagi masyarakat sehingga berperansertanya masyarakat terhadap program perbaikan gizi; (2) Terlaksananya program perbaikan gizi yang dilaksanakan bersama pihak masyarakat dan pemerintah dalam satuan kerja; (3) Bersinerginya program perbaikan gizi dan program pemberdayaan yang sejenisnya yang membantu masyarakat dalam hal memberikan solusi terhadap permasalahan yang dialami sehingga mampu mandiri. Selain itu membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat bersama pemerintah menanggulangi permasalahan kesehatan terutama permasalahan gizi.

Organisasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi

Organisasi pelaksana adalah Dinas Kesehatan Kota Palembang sebagai Manajer proyek program perbaikan gizi masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Palembang melakukan sosialisasi kepada pihak kecamatan dan kelurahan sebagai koordinasi dalam penentuan dan pelaksanaan program di wilayah Kecamatan Gandus. Setelah memperoleh sasaran kelurahan yang menerima proyek program perbaikan gizi, ditentukanlah kelompok kerja program yang dipilih langsung oleh masyarakat. Kelompok kerja melakukan tugasnya dibantu oleh fasilitator masyarakat beserta petugas puskesmas sebagai pendamping masyarakat. Pelaksanaan program dimonitoring dan dievaluasi oleh petugas puskesmas dan dinas kesehatan Kota Palembang.

Sasaran Penerima Program Perbaikan Gizi

Sasaran penerima program perbaikan gizi adalah posyandu, ibu dan balita dari kalangan keluarga miskin, kader posyandu, sekolah dasar dan madrasah, serta masyarakat desa penerima paket gizi masyarakat (PGM). Proyek program perbaikan gizi diberikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bersifat penyuluhan dan pelatihan. Kegiatan tersebut diusulkan dalam bentuk paket gizi masyarakat oleh kelompok gizi melalui partisipasi aktif masyarakat.

Strategi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi

Strategi pelaksanaan program perbaikan gizi dilakukan dengan membentuk kelompok kerja. Kelompok kerja berjumlah sepuluh orang dari kalangan masyarakat setempat. Komposisi kelompok kerja di Kelurahan Pulokerto terdiri dari enam orang perempuan dan empat orang laki-laki. Komposisi kelompok dihasilkan dari rapat kelurahan yang terjadi pada tanggal 14 Desember 2009. Tujuan keterlibatan laki-laki dalam kelompok kerja agar dapat memberikan perlindungan dan membantu tugas anggota perempuan. Masing-masing perwakilan dari sepuluh rukun warga terwakilkan dalam kelompok kerja tersebut. Fungsi kelompok kerja adalah melakukan pendataan target sasaran penerima program yang didasarkan pada data hasil survey dan wawancara dengan penerima program. Setelah memperoleh data, kelompok kerja melakukan diskusi terbatas bersama dengan fasilitator dan petugas puskesmas untuk menentukan paket gizi yang akan direncanakan. Paket gizi masyarakat adalah kumpulan

agenda kerja yang diusulkan oleh kelompok gizi masyarakat kepada pihak penyandang dana program. Pengusulan paket gizi diusulkan melalui dinas kesehatan kota yang diketahui oleh pimpinan lokal dan pelaksana program di lapangan. Paket gizi dibuat oleh kelompok sebanyak tiga kali dalam masa proyek program perbaikan gizi selama tiga tahun.

Kelompok kerja melakukan tugas setelah dana pakat gizi diterima dari penyelenggara proyek. Adapun kegiatan yang dikelola oleh kelompok adalah kegiatan yang menunjang kesadaran masyarakat tentang perbaikan gizi. Kegiatan yang dilakukan adalah: (1) Melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhan oleh posyandu seperti meja, kursi dan alat ukur; (2) Memberikan pelatihan kepada kader posyandu oleh petugas puskesmas setiap bulannya; (3) Memberikan pendampingan pengisian buku sistem informasi posyandu oleh kelompok dan petugas puskesmas setiap bulannya; (4) Memberikan penyuluhan kepada masyarakat khususnya ibu rumah tangga yang di selenggarakan di posyandu setiap bulannya oleh petugas kesehatan; (5) Memberikan pelatihan dan penyuluhan kepada ibu hamil dan ibu menyusui tentang kesehatan ibu oleh petugas kesehatan yang dilaksanakan di salah satu rumah tokoh masyarakat; (6) Memberikan penyuluhan kepada pedagang kantin sekolah tentang kesehatan makanan sekolah yang baik untuk dikonsumsi yang diselenggarakan di tiga sekolah dasar Kelurahan Pulokerto.

Kelompok kerja menganggarkan perbaikan sanitasi sekolah yang telah rusak. Penganggaran ini telah menjadi bagian dari aturan dari proyek program perbaikan gizi. Kelompok gizi masyarakat Pulokerto melakukan pemugaran di dua sekolah yaitu SD Negeri 172 dan SD Muhammadiyah Air Itam dengan memugar kamar mandi sekolah dan membuat tempat cuci tangan serta mambangun sarana penampungan air. Masa proyek program perbaikan gizi hanya terbatas tiga tahun sehingga kelompok diwajibkan mengalokasikan dana 10% dari dana paket gizi tahap tiga untuk membangun ekonom kreatif masyarakat. Bentuk dari ekonomi kreatif yang dikelola oleh kelompok gizi Pulokerto adalah membangun unit usaha penjualan bambu yang bekerja sama dengan petani bambu di wilayah Pulokerto.

Kegiatan yang telah dilakukan dilaporkan setiap bulannya oleh kelompok kerja baik dalam bentuk laporan kegiatan maupun laporan keuangan. Laporan tersebut diaudit oleh petugas kesehatan puskemas dan dinas kesehatan sebagai penyelenggara proyek program perbaikan gizi. Adapun kegiatan dari proyek program perbaikan gizi dapat digambarkan melalui siklus pada sketsa Gambar 3.

Gambar 3 Siklus kegiatan program perbaikan gizi

Tahap Perencanaan

Pembentukan Kelompok di Masyarakat (Pokja)

Pembuatan Paket Gizi

Masyarakat (Survey dan Musyawarah kelompok)

Tahap Pelaksanaan

Pembuatan proposal Paket gizi

Pelaksanaan kegiatan Paket gizi

Tahap Evaluasi Laporan Pertanggung jawaban Kelompok tertulis dan lisan

Audit program kegiatan KGM Tahap Persiapan Sosialisasi Program Perbaikan Gizi Penunjukkan wilayah sasaran program Keputusan Dinas Kesehatan, Puskesmas Kecamatan dan Kelurahan

Deskripsi Peristiwa Komunikasi pada Program Pemberdayaan Perbaikan Gizi Masyarakat

Pertemuan Pembentukan Kelompok Kerja

Pembentukan kelompok gizi masyarakat atau disingkat dengan KGM adalah salah satu peristiwa komunikasi yang menjadi objek penelitian dari peneliti. Peristiwa pembentukan kelompok adalah bagian dari tahapan ke dua setelah penentuan sasaran proyek program perbaikan gizi yang ditentukan oleh pihak pemegang kebijakan. Pembentukan kelompok gizi dilakukan pada hari Senin tanggal 14 Desember 2009 pukul 10.00-12.00 WIB. Pembentukan kelompok dilakukan di kantor aula Kelurahan Pulokerto.

Peserta yang hadir saat pembentukan berjumlah 25 orang yang mewakili dari berbagai unsur dari kalangan masyarakat. Unsur yang terwakilkan dari masyarakat antara lain adalah kaum perempuan baik berasal kader posyandu, ibu PKK Kelurahan Pulokerto, tokoh masyarakat, pendidik maupun ibu rumah tangga, sedangkan dari kaum laki-laki kebanyakan adalah Rukun Tetangga, Rukun Warga, tokoh pemuda serta tokoh agama. Kegiatan pertemuan didominasi oleh kaum perempuan. Jumlah kaum perempuan yang hadir sebanyak 15 orang dan kaum laki-laki berjumlah 10 orang. Informasi kegiatan dilakukan dengan mengundang masyarakat baik dengan mengirimkan surat ke tokoh masyarakat dan pihak RT dan RW serta menempelkan surat ke papan pengumuman yang dapat dibaca oleh masyarakat. Dominasi kaum perempuan yang hadir adalah salah satu syarat karena di dalam surat undangan tersebut ditujukan kepada kaum ibu. Selain itu, peserta yang juga hadir adalah petugas kesehatan dan fasilitator program.

Partisipan rapat yang telah hadir memasuki ruangan aula Kelurahan Pulokerto yang lebarnya 70 meter persegi. Partisipan duduk di setiap kursi yang telah dipersiapkan. Kursi tersebut diatur berjejer lima vertikal dan lima horizontal. Bentuk pertemuan menggunakan pola huruf U, dimana masing-masing partisipan rapat dapat saling bertatap muka. Tidak ada batasan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan hanya saja terjadi dengan sendirinya perempuan duduk dengan rombongan perempuan dan laki-laki duduk pada rombongan laki-laki sehingga terlihat seperti mengelompok.

Pertemuan dibuka setelah semua partisipan rapat hadir di dalam ruangan. Rapat dibuka langsung oleh lurah Pulokerto dengan mengucapkan salam dan memberikan beberapa alasan pertemuan rapat serta arahan rapat. Adapun ungkapan dari lurah tersebut tertuang dalam kutipan berikut ini.

“Rapat pertemuan ini kito adakan dengan alasan bahwa pentingnya

program NICE ini bagi kito supaya jelas dan dak menimbulkan tando tanyo bagi kito dan perlunya kito membicarakannyo karena masyarakat kito yang nak mengelolanya nantinyo sehingga perlu hadir untuk memahaminyo sehingga dak saling mencurigai....selain itu perlunyo kerja samo dari kito masyarakat untuk saling bahu membahu dan saling membantu dalam pengelolaan program tersebut kedepannyo... aku mengharapkan nantinya setelah terpilihnya pengurus kelompok yang terpilih ini dak katek saling mencurigai atupun saling melempar tanggung jawab.... jadi ini la tanggung jawab kito yang ado di sini... berarti kito la jadi wakil dari masyarakat kito...jadi siapo itu yang menjadi kelompok kerja dalam program ini nanti aku serahkan pada maysrakat yang ado ini.... baiknyo mak mano

jadi aku hanya mendengarkan bae kemauan kamu yang ado”.

Lurah berpesan agar peserta rapat dapat aktif mendengarkan dan terlibat langsung dalam rapat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan terhadap unsur pemerintah. Partisipan rapat diberikan kebebasan untuk bertanya bila masih ada dalam rapat ini yang masih belum jelas sehingga tidak menimbulkan salah tafsir terhadap kegiatan program yang akan dijalankan nantinya. Lurah juga berpesan, setelah kelompok kerja terpilih, agar memaksimalkan program tersebut dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga dapat dirasakan masyarakat disetiap lapisan.

Pengantar dari lurah telah disampaikan, selanjutnya pengeras suara berpindah kepada petugas kesehatan yang merupakan perwakilan dari NICE atau

Dokumen terkait