BAHAN DAN METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Lemak Susu
Rataan kadar lemak susu penelitian akibat perlakuan pada P0, P1 dan P2 berturut-turut adalah 3,570±0,027%; 3,42±0,107% dan 3,35±0,135%. Hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan. Tabel 11. Rataan kadar lemak susu kambing Peranakan Etawah (PE)
A Bulan Perlakuan 1 2 3 Rataan (%) 100% (P0) 3,597 3,568 3,543 3,570± 0,027a 80:20% (P1) 3,543 3,340 3,390 3,424 ± 0,107a 60:40% (P2) 3,483 3,215 3,361 3,353 ± 0,135a Rataan (%)_ 3,541 3,374 3,431
Keterangan : Huruf yang tidak berbeda pada nilai rataan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05).
Kadar lemak susu hasil penelitian ini lebih rendah dibanding hasil penelitian terdahulu seperti hasil penelitian Ramadhan et al., (2013) yaitu dalam kisaran 5,98-6,981%, hasil penelitian Senjaya (2012) yaitu dalam kisaran 5,80-6,274%, hasil penelitian Ayuningsih (2007) yaitu dalam kisaran 6,25-7,18% dan hasil penelitian Asminaya (2007) yaitu dalam kisaran 5,39-7,18%. Namun terdapat hasil penelitian lainnya yang masih termasuk dalam kisaran penelitian ini yaitu Utari et al., (2013) dalam kisaran 2,95-6,84% dan hasil penelitian Zuriati et al., (2011) yaitu dalam kisaran 2,579-6,353%. Hasil penelitian ini menunjukkan kadar lemak masih sesuai dengan Standar Nasional Indonesia nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 3,0% (BSN, 2011). Menurut Sofriani (2012) menyatakan bahwa kadar lemak susu pada hewan ruminansia termasuk kambing, bergantung pada faktor intrinsik (spesies hewan, bangsa, gen, usia kehamilan dan periode laktasi) dan faktor ekstrinsik (lingkungan).
Lemak susu (lipid) merupakan salah satu faktor yang menentukan harga susu, jumlah nutrien yang harus diberikan dan karakteristik fisik dan sensori dari susu yang diproduksi. Triasil gliserol merupakan bagian terbesar dari bahan penyusun lemak susu (98%), komponen lainnya yaitu terdiri atas monoasilgliserida, fosfolipid, kolesterol dan asam lemak nonesterifikasi. Pada ruminansia, asetat dan beta-hidroxybutirat (BHBA) juga merupakan substrat utama ketersediaan prekursor pembentuk asam lemak susu (Rumetor, 2008). Selama biosintetis susu keterlibatan faktor hormon juga sangat penting seperti hormon prolaktin dan oxytocin (Rumetor, 2008). Selain itu peran enzim juga sangat penting seperti enzim xanthine oxidase yang berperan pelepasan lemak susu dari apikal membran epitel sel mamari ke lumen alveolar (Utari et al., 2012).
Hasil analisis ragam kadar lemak susu penelitian akibat perlakuan P0, P1 dan P2 berturut-turut adalah 3,570±0,027%, 3,424±0,107% dan 3,353±0,135%. Hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan, namun secara numerik perlakuan yang menghasilkan kadar lemak paling tinggi adalah P0 lebih unggul 4,08% jika dibanding P1 dan 6,07% jikan dibanding P2. Kadar lemak P0 lebih tinggi walupun tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) disebabkan karena perlakuan P0 berupa hijauan daun singkong 100% sehingga memberi kesempatan untuk ternak lebih banyak konsumsi hijauan untuk memenuhi kebutuhan produksi dan hidup pokoknya sehingga secara selaras akan lebih banyak konsumsi serat kasar dan akan memberikan pengaruh terhadap hasil fermentasi didalam rumen dan ketersedian nutrisi yang siap diserap didalam usus halus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sofriani (2012) yang menyatakan bahwa komponen lemak umumnya mudah mengalami perubahan dengan adanya
persentase perubahan pemberian hijauan. Menurut Tillman et al., (1991) menyatakan bahwa pemberian hijuan akan meningkatkan kadar asetat sedangkan pemberian konsentrat akan meningkatkan propionat, yang mana asetat lebih mengarah ke lemak susu dan propionat ke arah produksi susu. Menurut Basya (1993) menyatakan bahwa pemberian konsentrat yang terlalu banyak tidak akan selalu dapat meningkatkan produksi susu dan kualitas susu.
Tingginya kadar lemak P0 dikarenakan produksi susu hasil perlakuan P0 lebih rendah secara nyata jika dibanding dengan perlakuan P1 dan P2 sehingga akan mempengaruhi distribusi komponen susu termasuk lemak susu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wibowo et al., (2013) yang menyatakan bahwa meningkatnya produksi susu akan mengakibatkan menurunnya total solid dan lemak susu yang dihasilkan, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan distribusi zat makanan antara ternak yang memiliki produksi susu rendah dengan yang memiliki produksi susu tinggi. Komposisi lemak susu akan semakin menurun karena pemberian konsentrat. Hal ini disebabkan kandungan protein yang cukup tinggi dalam konsentrat merupakan pemacu produksi asam propionat didalam rumen yang kemudian diserap di dalam darah. Pakan berupa hijauan akan menghasilkan banyak asetat didalam rumen sebagai bahan baku sintesis lemak susu (Sodiq dan Abidin 2002).
Selain itu rendahnya kadar lemak susu dikarenakan penggunaan hijauan daun singkong yang masih muda, karena selama penelitian berlangsung hijauan yang diberikan berupa daun cabang tanaman ubi yang belum dipanen bukan daun cabang yang setelah dipanen sehingga akan mempengaruhi ketersediaan serat kasar pada hijauan. Hal ini sesuai dengan pernyatan Tillman et al., (1991) yang
menyatakan bahwa pemberian rumput-rumput yang muda dengan serat kasar yang rendah tidak berpengaruh terhadap perubahan kadar lemak susu. Selain itu tidak adanya perbedaan yang nyata kadar lemak susu antar perlakuan dikarenakan kandungan serat kasar dalam ransum pada P0, P1 dan P2 yang hampir sama.
Pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat mampu menghasilkan kadar lemak susu yang masih sesuai dengan SNI nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 3,0%. Data ini menunjukkan bahwa pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar pelakuan terhadap kadar lemak susu.
Protein Susu
Rataan kadar protein susu penelitian akibat perlakuan pada P0, P1 dan P2 berturut-turut adalah 4,133±0,134%; 4,404±0,150% dan 4,662±0,157% . Hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan.
Tabel 12. Rataan kadar protein susu kambing Peranakan Etawah (PE) A Bulan Perlakuan 1 2 3 Rataan (%) 100% (P0) 4,276 4,015 4,109 4,133 ± 0,134a 80:20 (P1) 4,304 4,332 4,576 4,404 ± 0,150a 60:40 (P2) 4,834 4,625 4,527 4,662 ± 0,157a Rataan (%) 4,710 4,323 4,404
Keterangan : Huruf yang tidak berbeda pada nilai rataan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05).
Kadar protein susu hasil penelitian ini lebih rendah dibanding hasil penelitian Pembayu (2013) yaitu dalam kisaran 5,35-6,14%, hasil penelitian Ayuningsih (2007) yaitu dalam kisaran 5,02-5,75%, lebih tinggi dibanding hasil penelitian Asminaya (2007) yaitu dalam kisaran 3,22-3,96%, hasil penelitian Sukarini (2012) yaitu dalam kisaran 2,93-3,65% dan dalam kisaran hasil
penelitian Rangkuti (2011) yaitu dalam kisaran 4,17-4,56%, hasil penelitian Zakaria (2012) yaitu dalam kisaran 3,25-4,61%. Menurut Sofriani (2012) menyatakan bahwa pada umumnya, persentase jumlah dari protein susu ditentukan oleh tingkatan laktasi, komposisi pakan, jenis hewan, keturunan, musim dan kesehatan ambing. Namun hasil peneltian ini menunjukkan kadar protein kasar susu masih dalam kisaran normal karakteristik kambing PE dan masih sesuai dengan SNI susu segar. Menurut Zuriati et al., (2011) menyatakan bahwa karakteristik protein susu pada kambing PE yaitu dalam kisaran 3,377-5,203% dan hasil kadar protein kasar susu penelitian ini masih sesuai dengan Standar Nasional Indonesia nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 3,0% (BSN, 2011)
Hasil analisis ragam kadar protein susu penelitian akibat perlakuan berbagai imbangan hijauan dengan konsentrat P0, P1 dan P2 berturut-turut adalah 4,133±0,134%; 4,404±0,150% dan 4,662±0,157%. Hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan, namun secara numerik perlakuan yang menghasilkan kadar protein susu paling tinggi adalah P2 lebih unggul daripada P1 dan P0 yaitu mencapai 5,77% dan 11,34% . Manurut Fox dan McSweeney ( 1998) menyatakan bahwa protein susu dari induk kambing yang mendapat tambahan konsentrat cenderung lebih tinggi. Menurut Zakaria (2012) menyatakan bahwa pengaruh pakan terhadap kadar protein susu adalah kecil, sehingga tidak ada efek yang nyata terhadap perlakuan yang diberikan. Kadar protein susu tidak dipengaruhi oleh perlakuan pakan, meskipun konsumsinya lebih tinggi. Variasi dalam kadar protein adalah lebih kecil jika dibandingkan dengan kadar lemak susu yang sensitif terhadap perubahan pakan, karena protein susu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetik ternak daripada
faktor lingkungan termasuk pakan. Menurut Asminaya (2007) menyatakan bahwa sintesis protein susu ini dikontrol oleh gen, yang mengandung material genetik asam deoxiribonukleat (DNA) untuk proses transkripsi dan translasi didalam sel myoepitel pada alveolar.
Tidak adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan mungkin didukung oleh pengaruh lingkungan, hal ini karena selama penelitian ternak kambing perah diberi pakan komplit dengan komposisi nutrien yang relatif sama dan umur semua ternak dalam kisaran 2-3 tahun dengan dimulainya masa laktasi yang sama. Menurut Asminaya (2007) menyatakan bahwa kandungan protein susu bervariasi tergantung dari bangsa, produksi susu, tingkat laktasi, kualitas dan kuantitas makanannya dan kadar protein dalam ransum.
Asam amino akan diserap didalam usus kemudian dialirkan melalui darah dan akan masuk ke dalam sel sekretori ambing kemudian akan disintesis menjadi protein susu (Utari, 2012). Asam amino yang diserap merupakan sumbangan protein mikroba rumen yang mencapai 40-80% (Sofriani, 2012). Sintesis protein susu berasal dari asam amino yang beredar didalam darah sebagai hasil penyerapan saluran pencernaan maupun hasil perombakan protein tubuh dan asam amino yang disintesis oleh sel epitel kelenjar susu. Prekursor pembentukan protein susu yang disintesis didalam kelenjar mamae adalah asam amino esensial dan asam amino non esensial yang berasal dari plasma darah. Selain itu glukosa dan beberapa sumber nitrogen diperlukan untuk sintesis asam amino di kelenjar
susu. Asam amino tersebut akan diubah menjadi casein, α-laktoglobulin dan β -laktalbumin didalam kelenjar susu (Asminaya, 2007).
Protein susu merupakan 95% bagian dari total nitrogen pada susu. Umumnya, persentase jumlah dari protein susu ditentukan oleh tingkatan laktasi, komposisi pakan, jenis hewan, keturunan, musim dan kesehatan ambing. Protein susu tersusun atas kasein, whey, serum albumin dan imunoglubulin. Komposisi kasein berkisar dari 76% sampai 86% dari total protein susu, persentase tersebut umumnya tidak ditentukan oleh tingkatan laktasi dan komposisi pakan. Albumin dan immunoglobulin disintesis pada sel epithelial kelenjar susu dengan asam amino sebagai prekursor utamanya (Sofriani, 2012).
Pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat mampu menghasilkan kadar protein susu yang masih sesuai dengan SNI nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 2,8%. Data ini menunjukkan bahwa pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar pelakuan terhadap protein susu.
BKTL (Solid Non Fat)
Rataan kadar bahan kering tanpa lemak susu hasil penelitian akibat perlakuan pada P0, P1 dan P2 berturut-turut adalah 9,3825±0,122%, 9,6237±0,045% dan 9,6247±0,047%. Hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan.
Tabel 13. Rataan BKTL susu kambing Peranakan Etawah (PE). Bulan Perlakuan 1 2 3 Rataan (%) 100% (P0) 9,4326 9,4705 9,2445 9,3825±0,122a 80:20% (P1) 9,6644 9,5767 9,6299 9,6237±0,045a 60:40% (P2) 9,6693 9,6286 9,5762 9,6247±0,047a Rataan (%) 9,5888 9,5586 9,4835
Keterangan : Huruf yang tidak berbeda pada nilai rataan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05).
Kadar bahan kering tanpa lemak susu hasil penelitian ini lebih rendah dibanding hasil penelitian Ayuningsih (2007) yaitu dalam kisaran 9,78-10,35%, namun beberapa hasil penelitian terdahulu sudah mendekati atau terdapat dalam kisarannya seperti hasil penelitian Zakaria (2012) yaitu dalam kisaran 8,64-9,8%, hasil penelitian Asminaya (2007) yaitu dalam kisaran 8,96-9,52%, hasil penelitian Utari et al.,(2012) dalam kisaran 9,56-13,14%, hasil penelitian Senjaya (2012) yaitu dalam kisaran 8,821-8,769%, hasil penelitian Sofriani (2012) yaitu dalam kisaran 8,01-9,66%, hasil penelitian Rangkuti (2011) yaitu dalam kisaran 9,44-9,86% dan hasil penelitian Pembayu (2013) yaitu dalam kisaran 8,84-11,26%.
Menurut Zuriati et al., (2011) karakteristik bahan kering tanpa lemak susu pada kambing PE yaitu dalam kisaran 8,873-10,281% dan hasil kadar bahan kering tanpa lemak penelitian ini masih sesuai dengan Standar Nasional Indonesia nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 7,8% (BSN, 2011). Bahan kering tanpa lemak pada susu merupakan parameter yang dipakai untuk menentukan pengaruh lemak terhadap komposisi bahan kering susu (Ayuningsih, 2007).
Hasil analisis ragam BKTL susu penelitian akibat perlakuan berbagai imbangan hijauan dengan konsentrat P0, P1 dan P2 berturut-turut adalah 9,383±0,122%, 9,624±0,045% dan 9,625±0,047%. Hasil tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan, namun secara numerik perlakuan yang menghasilkan BKTL susu paling tinggi adalah P2 lalu terus menurun pada P1 dan P0. Dalam hasil penelitian ini kadar protein susu yang dihasilkan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata sehingga akan mempengaruhi daripada BKTL susu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zakaria (2012) yang menyatakan bahwa kadar BKTL meningkat sejalan dengan
meningkatnya kadar protein. Dengan kata lain kadar protein berkorelasi positif dengan kadar BKTL. Menurut Sudono (1983) menyatakan bahwa tidak terdapatnya perbedaan yang nyata dari kadar BKTL susu sejalan dengan keadaan dimana kadar protein dan laktosa susu tidak berbeda. Hal ini disebabkan karena BKTL susu ditentukan oleh komponen protein (kasein dan albumin) dan laktosa, disamping vitamin-vitamin, enzim-enzim dan mineral susu. Menurut French (1980) dan Larson (1985) kandungan BKTL susu jauh lebih kecil variasinya dibandingkan dengan variasi kandungan lemak susu.
Nilai sebenarnya dari kualitas susu adalah terletak pada kandungan BKTL Susu (Tillman et al., 1986). Pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat mampu menghasilkan BKTL yang masih sesuai dengan SNI nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 7,8%. Data ini menunjukkan bahwa pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar pelakuan terhadap BKTL susu.
Berat Jenis Susu
Rataan berat jenis susu penelitian akibat perlakuan pada P0, P1 dan P2 berurutan adalah 1,03263±0,0005; 1,03371±0,0001 dan 1,03378±0,0002. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,05) antar perlakuan.
Tabel 14. Rataan berat jenis susu kambing Peranakan Etawah (PE). A Bulan Perlakuan 1 2 3 Rataan 100% (P0) 1,03270 1,03297 1,03211 1,03263 ± 0,0005a 80:20% (P1) 1,03376 1,03360 1,03377 1,03371 ± 0,0001b 60:40% (P2) 1,03384 1,03392 1,03358 1,03378 ± 0,0002b Rataan 1,03347 1,03350 1,03315
Keterangan : Huruf yang berbeda pada nilai rataan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05).
Berat jenis susu hasil penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu seperti penelitian Zakaria (2012) yaitu dalam kisaran 1,0284– 1,0327, hasil penelitian Asminaya (2007) yaitu dalam kisaran 1,0271-1,0284, hasil penelitian Fitriyanto et al.,(2013) yaitu dalam kisaran 1,0290-1,0289, hasil penelitian Sukarini (2012) yaitu dalam kisaran 1,0280–1,030 dan hasil penelitian ini juga masih terdapat dalam kisaran penelitian terdahulu seperti penelitian Senjaya (2012) yaitu dalam kisaran 1,0244-1,0364, hasil penelitian Sofriani (2012) yaitu dalam kisaran 1,0274-1,033 dan hasil penelitian Ayuningsih (2007) yaitu dalam kisaran 1,0273-1,0302.
Menurut Zuriati et al., (2011) karakteristik BJ susu kambing PE adalah dalam kisaran 1,031-1,035. Sedangkan menurut Edelsten (1988) yaitu bahwa berat jenis susu kambing bervariasi antara 1.0260 sampai 1.0420 dan hasil ini masih sesuai dengan SNI mutu susu segar yaitu minimum 1,0270 (BSN, 2011).
Hasil analisis ragam terhadap berat jenis susu kambing PE yaitu berturut-turut pada perlakuan P0, P1 dan P2 pada imbangan hijauan dan konsentrat yang berbeda adalah 1,03263±0,0005; 1,03371±0,0001 dan 1,03378±0,0002. Dapat dilihat pada perlakuan P2 berat jenis susu lebih tinggi jika dibanding dengan perlakuan P1 dan P0. Hal ini akibat pemberian kualitas ransum yang berbeda, pada P2 imbangan hijauan dengan konsentrat adalah 60:40 dan pada P1 adalah 80:20 lalu pada P0 100 hijauan daun singkong, akibat pemberian ransum yang berbeda maka akan meperngaruhi ketersedian zat yang akan digunakan dalam sintesis komposisi susu di sel epitel alveoli, walaupun secara komposisi nutrien semua perlakuan relatif sama tetapi berbagai bahan pakan yang digunakan akan mempengaruhi suasana fermentasi didalam rumen.
Hasil analisis ragam terhadap protein kasar menunjukkan nilai P2 dan P1 yang paling tinggi lebih unggul dibanding P0 yaitu berturut-turut unggul 11,34% dan 6,15%. Untuk lemak susu tidak begitu berpengaruh terhadap BJ susu walaupun nilai P0 paling unggul dibanding P2 dan P1. Bahan kering dan bahan kering tanpa lemak susu walaupun tidak berbeda nyata tetapi P2 dan P1 lebih unggul dibanding P0 sehingga akibat dari komponen ini maka BJ secara nyata mempengaruhi BJ susu. Menurut Eckles, et al. (1957) menyatakan bahwa perubahan berat jenis susu dipengaruhi berat jenis masing-masing komponen susu yaitu protein (1.346), lemak (0.93), laktosa (1.666) dan garam (4.12).
Berat jenis susu menunjukkan imbangan komponen zat-zat pembentuk didalamnya dan sangat dipengaruhi oleh kadar lemak dan bahan kering tanpa lemak yang tidak lepas dari pengaruh makanan dan kadar air didalam susu (Eckles
et al., 1984). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan berat jenis susu adalah
faktor komposisi susu itu sendiri, yang terdiri dari protein, lemak, laktosa, gas dan mineral dalam susu (Eckles et al., 1957). Selain itu perubahan BJ juga dipengaruhi oleh kandungan BKTL (bahan kering tanpa lemak) sedangkan pengaruh lemak relatif kecil karena berat jenisnya paling rendah (Zakaria, 2012). Abubakar (2000) menyatakan bahwa semakin bahan kering meningkat maka berat jenis dan viskositasakan meningkat.
Rendahnya nilai BJ susu pada P0 mungkin disebabkan nilai kandungan lemak pada P0 paling tinggi sehingga akan mempengaruhi BJ susu, selain itu kualitas pakan berupa 100% daun singkong pada P0 akan mempengaruhi komponen susu terutama lemak, laktosa susu dan garam-garam mineral serta vitamin yang sangat berperan penting dalam meningkatkan BJ susu. Menurut
Muljana (1982) menyatakan bahwa berat jenis susu berbanding terbalik dengan kadar lemak susu dimana semakin tinggi kadar lemak susu semakin rendah berat jenis susu. Tillman et al., (1986) dan Sauvan dan Morand Fehr (1979) menyatakan bahwa ketersediaan karbohidrat mudah terlarut pada hijauan adalah rendah. Karena itu, suplementasi konsentrat yang mengandung campuran bahan-bahan sumber energi, protein serta mineral (mikro dan makro) merupakan salah satu solusi untuk dapat meningkatkan produk fermentasi rumen yang pada giliran berikutnya dapat menyediakan nutrien yang cukup untuk pembentukan susu. Konsentrat dan hijauan dengan kandungan yang lengkap dan seimbang penghasil protein, lemak, karbohidrat dan mineral diharapkan bisa memenuhi kebutuhan produksi susu.
Berat jenis merupakan besaran turunan yang diturunkan dari hasil bagi massa dan volumnya. Suatu ciri khas zat adalah berat jenisnya. Zat-zat yang jenisnya berbeda memiliki berat jenis yang berbeda. Air susu mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada air (Zakaria, 2012). Berat jenis adalah massa di bagi volume, sedangkan berat spesifik adalah berat jenis zat dibandingkan dengan berat jenis air pada suhu yang sama. Parameter berat jenis susu dapat pula digunakan untuk mengetahui pemalsuan susu yang ditambahkan oleh susu skim, santan dan bahan-bahan lain yang tidak seharusnya ada pada susu murni.
Pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat mampu menghasilkan berat jenis susu yang masih sesuai dengan SNI nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 1,0270. Data ini menunjukkan bahwa pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar pelakuan terhadap berat jenis susu.
Bahan Kering Susu
Semua komponen penyusun susu selain air disebut total bahan kering (Hanafi, 2007). Rataan berat bahan kering susu penelitian akibat perlakuan pada P0, P1 dan P2 berturut -turut adalah 12,9516±0,143%; 13,0475±0,148% dan 12,9771±0,159%. Hasil ini menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan.
Tabel 15. Rataan bahan kering susu kambing Peranakan Etawah (PE). Bulan Perlakuan 1 2 3 Rataan (%) 100% (P0) 13,0290 13,0383 12,7874 12,9516±0,143a 80:20% (P1) 13,2072 12,9160 13,0192 13,0475±0,148a 60:40% (P2) 13,1514 12,8429 12,9370 12,9771±0,159a Rataan (%) 13,1292 12,9324 12,9145
Keterangan : Huruf yang tidak berbeda pada nilai rataan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05).
Bahan kering susu hasil penelitian ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu seperti Asminaya (2007) yaitu sekitar 14,37-16,8%, hasil penelitian Senjaya (2012) yaitu sekitar 14,625-15,043%, hasil penelitian Rangkuti (2011) yaitu sekitar 15,48-16,79% dan hasil penelitian Pembayu (2013) yaitu sekitar 15,92-21,21%. Namun ada beberapa perbandingan hasil penelitian terdahulu yang masuk dalam hasil penelitian ini seperti hasil penelitian Zakaria (2012) yaitu sekitar 12,99-15,5% dan hasil penelitian Sofriani (2012) yaitu sekitar 11,17-15,46%. Menurut Zuriati et al., (2011) karakteristik bahan kering susu kambing PE adalah dalam kisaran 11,652 -16,388%. Hasil ini masih sesuai dengan SNI syarat mutu susu segar yaitu minimum 1,0270 (BSN, 2011).
Hasil analisis ragam terhadap berat jenis susu kambing PE yaitu berturut-turut pada perlakuan P0, P1 dan P2 pada imbangan hijauan dan konsentrat yang berbeda adalah 12,9516±0,143%; 13,0475±0,148% dan 12,9771±0,159%. Hasil
data bahan kering ini menggunakan rumus Fleisman yaitu berdasarkan kadar lemak dan BJ susu. Oleh karena itu kadar bahan kering susu sangat dipengaruhi terutama oleh kadar lemak sedangkan BJ dalam hal ini tidak terlalu berpengaruh (Lukman et al., 2009).
Bahan kering P2 dan P1 secara numerik lebih tinggi jika dibandingkan dengan P0 hal ini dikarenakan efek dari pemberian berbagai imbangan hijauan dan konsentrat sehingga akan memberikan penampilan kualitas makanan yang berbeda pula dan pada akhirnya akan mempengaruhi fermentasi didalam rumen serta zat-zat yang tersedia di usus halus untuk bahan baku pembentukan komponen susu di ambing. Menurut Hanafi (2007) yang menyatakan bahwa komponen bahan kering susu dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan. Pada susu normal, kadar bahan keringnya mencapai 12%.
Tidak adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan mungkin dikarenakan kualitas nutrisi pada pakan P0, P1 dan P2 yang diberikan relatif sama. Mungkin perbedaan antara komponen penyusun bahan kering susu terjadi karena perbedaan penggunaan zat-zat makanan pada ransum sehingga akan mempengaruhi komposisi bahan kering susu. Menurut Rangkuti (2011) menyatakan bahwa kadar bahan kering susu tergantung pada zat-zat makanan yang dikonsumsi oleh ternak dan pemanfaatannya yang kemudian digunakan sebagai prekursor dalam pembentukan komposisi bahan kering atau padatan didalam susu. Menurut Fitriyanto et al., (2013) yang menyatakan bahwa bahan kering terdiri dari butiran-butiran lemak (globula), laktosa, protein dan garam, kandungan tertinggi terdapat pada protein diikuti oleh lemak, laktosa dan mineral yang kesemuanya dipengaruhi oleh pakan yang diberikan.
Tidak terdapatnya secara nyata antar perlakuan terhadap bahan kering mungkin dikarenakan komposisi susu itu sendiri seperti lemak susu, protein susu serta BKTL susu yang secara statistik tidak berbeda nyata pula, selain itu faktor ternak pada masa laktasi juga sangat mempengaruhi, selama penelitian ternak yang digunakan adalah ternak dengan masa laktasi yang pertama semua. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zeng et al., (1997) yang menyatakan bahwa perubahan komponen susu termasuk bahan kering bergantung pada periode laktasi ternak tersebut, komposisi bahan kering, lemak, protein dan bahan kering tanpa lemak paling tinggi, yaitu dalam jangka waktu satu bulan setelah melahirkan dan perlahan berkurang pada bulan-bulan setelahnya.
Pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat mampu menghasilkan bahan kering susu yang masih sesuai dengan SNI nomor 3141.1:2011 yaitu minimal 7,8%. Data ini menunjukkan bahwa pemberian berbagai imbangan hijauan daun singkong dengan konsentrat menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata antar pelakuan terhadap bahan kering susu.
Rekapitulasi Hasil Penelitian
Tabel 16. Data rekapitulasi nilai lemak, protein, solid non fat, berat jenis dan bahan kering susu kambing Peranakan Etawah.
Perlakuan Rataan Parameter b Lemak Susu (%) Protein Susu (%) Solid Non Fat (%) Berat Jenis Susu BK Susu (%) 100% (P0) 3,570± 0,027a 4,133 ± 0,134a 9,3825± 0,122a 1,03263 ± 0,0005a 12,9516± 0,143a 80:20% (P1) 3,424 ± 0,107a 4,404 ± 0,150a 9,6237± 0,045a 1,03371 ± 0,0001b 13,0475± 0,148a 60:40% (P2) 3,353 ± 0,135a 4,662 ± 0,157a 9,6247± 0,047a 1,03378 ± 0,0002b 12,9771± 0,159a
Berdasarkan rekapitulasi hasil penelitian dapat diperoleh bahwa secara statistik tidak ada pengaruh yang nyata antar perlakuan terhadap rataan lemak susu (P>0,05), namun secara numerik rataan lemak susu pada perlakuan P0 adalah yang paling tinggi yaitu 3,570±0,027% selanjutnya diikuti oleh P1 3,424±0,107% dan P2 3,353±0,135%. Rataan protein susu secara statistik tidak ada pengaruh yang nyata antar perlakuan (P>0,05), namun secara numerik rataan protein susu