Bangsa sapi perah yang dipelihara oleh Perusahaan X adalah Fries Holland (FH). Populasi sapi perah pada tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Populasi Ternak Sapi Perah di Perusahaan X Tahun 2007
Bulan Laktasi Kering Dara Pedet Jantan Muda Total ST % ST % ST % ST % ST % ST % Januari 45,00 56,25 15,00 18,75 15,00 18,75 3,00 3,75 2,00 2,50 80,00 100,00 Febuari 48,00 58,72 12,00 14,68 15,00 18,35 5,75 7,03 1,00 1,22 81,75 100,00 Maret 45,00 52,79 22,00 25,81 11,50 13,49 6,75 7,92 0,00 0,00 85,25 100,00 April 44,00 48,75 29,00 32,13 8,50 9,42 8,75 9,70 0,00 0,00 90,25 100,00 Mei 50,00 54,05 23,00 24,86 7,50 8,11 12,00 12,97 0,00 0,00 92,50 100,00 Juni 63,00 67,92 9,00 9,70 8,50 9,16 12,25 13,21 0,00 0,00 92,75 100,00 Juli 66,00 69,11 10,00 10,47 7,50 7,85 12,00 12,57 0,00 0,00 95,50 100,00 Agustus 65,00 67,36 11,00 11,40 9,00 9,33 11,50 11,92 0,00 0,00 96,50 100,00 September 71,00 72,45 6,00 6,12 9,00 9,18 12,00 12,24 0,00 0,00 98,00 100,00 Oktober 64,00 65,64 13,00 13,33 8,50 8,72 12,00 12,31 0,00 0,00 97,50 100,00 November 55,00 56,99 22,00 22,80 7,50 7,77 12,00 12,44 0,00 0,00 96,50 100,00 Desember 49,00 51,58 28,00 29,47 6,00 6,32 12,00 12,63 0,00 0,00 95,00 100,00 Rata/bulan 55,42 60,13 16,67 18,29 9,46 10,54 10,00 10,72 0,25 0,31 91,79 100,00
Tabel 5 menunjukkan sapi laktasi merupakan jumlah ternak sapi terbanyak di Perusahaan X. Persentase rata-rata sapi laktasi selama tahun 2007 adalah 60,13 persen. Menurut Sudono (1999), persentase sapi laktasi merupakan faktor yang penting dan tak dapat diabaikan dalam tata laksana yang baik dalam suatu peternakan untuk menjamin pendapatan peternak. Peternakan sapi perah yang baik yang mempunyai sapi laktasi sebanyak > 60 persen.
Berdasarkan Tabel 5, kepemilikan awal tahun ternak sapi perah sebanyak 80 ST kemudian di akhir tahun meningkat menjadi 95 ST. Hal ini disebabkan adanya peningkatan jumlah pedet yang dilahirkan selama tahun 2007 yaitu sebanyak 85 ekor dan yang dijual 37 ekor. Pada akhir tahun jumlah pedet adalah 48 ekor/12,00 ST. Sapi dara di awal tahun berjumlah 15 ST kemudian pada akhir tahun mengalami
penurunan menjadi 6 ST, hal ini karena sapi dara sudah berumur di atas dua tahun sehingga masuk ke golongan sapi induk. Sapi induk di awal tahun berjumlah 60 ST kemudian meningkat menjadi 77 ST.
Perusahaan memiliki 2 ST sapi jantan muda pada awal tahun, tetapi seluruh ternak jantan muda tersebut dijual pada bulan Febuari dan Maret 2007 karena perusahaan hanya menggunakan sistem Inseminasi Buatan (IB) dalam perkawinan. Pemeliharaan jantan muda akan menambah beban biaya pakan sehingga kurang efisien jika perusahaan tetap memeliharanya.
Pemasaran dan Produksi Susu
Produksi susu mencakup susu yang dijual, diberikan ke pedet serta yang diminum oleh pemilik dan tenaga kerja. Produksi susu yang dihasilkan di Perusahaan X selama setahun sebanyak 303.002,60 liter. Rata-rata produktivitas ternak sapi perusahaan adalah 14,99 liter/ekor/hari. Berdasarkan penelitian Andryani (2007) di CV. Cisarua Integrated Farming (CIF), jumlah produksi susu di CV. CIF masih lebih rendah dari Perusahaan X yaitu sebesar 12,77 liter/ekor/hari.
Susu yang telah diperah dijual dengan harga Rp 2.800,00 per liter. Tenaga kerja (supir) mengantar susu setiap pagi dan sore ke Cimory Resto. Cimory Resto merupakan restoran yang menyediakan susu dan hasil olahannya sebagai menu utama. Hasil susu Perusahaan X telah memenuhistandar kualitas penjualan sehingga Cimory Resto mau bekerjasama dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakunya. Standar kualitas yang ditentukan Cimory Resto antara lain, berat jenis susu harus > 1,028 dan dengan jumlah mikroba maksimal 1.000.000 cfu/ml.
Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi Perah Perkandangan
Sistem pemeliharaan yang dilakukan Perusahaan X adalah sistem intensif. Sapi dikandangkan terus menerus sepanjang hari. Kandang yang dibangun berfungsi untuk melindungi ternak sapi perah dari terik sinar matahari, angin, hujan, pengaruh buruk lingkungan dan juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Kandang di Perusahaan X dibuat permanen dengan lantai terbuat dari semen cor.
Bahan pembuatan lantai sangat berpengaruh terhadap kesehatan ternak, terutama sapi perah. Jika lantai basah atau terlalu lembab maka akan terkena resiko penyakit. Di Peternakan X lantai kandang dibuat miring beberapa derajat agar feses, urine maupun sisa makanan langsung mengalir ke parit-parit/saluran pembuangan yang juga terdapat di kandang. Dinding kandang terbuat dari tembok yang dibangun setinggi 160 cm, sedangkan untuk kandang induk 250 cm. Untuk bahan pembuatan atap kandang memakai asbes. Tipe kandang adalah tail to tail, tipe ini memudahkan tenaga kerja dalam membersihkan kandang. Membersihkan sapi, kandang dan peralatan susu dilakukan dalam satu kegiatan yang akan dilakukan sebelum pemerahan dilakukan. Hal ini untuk mencegah ternak sapi dari penyakit yang salah satunya datang dari keadaan kandang atau ternak yang kotor.
Perkawinan
Cara perkawinan ternak yang dilakukan di Perusahaan X adalah dengan menggunakan kawin suntik atau IB (Inseminasi Buatan). Cara tersebut digunakan karena dianggap lebih praktis dan efisien jika dibandingkan dengan memelihara dan menggunakan pejantan untuk kawin alami. Rata-rata service per conception perusahaan kurang dari 2,00. Menurut Sudono (1999), untuk di Indonesia yang baik adalah kurang dari 2,00. Sedangkan untuk selang beranak di Perusahaan X berkisar antara 12 sampai 13 bulan, Sudono et al. (2003) menyatakan bahwa jika selang beranak diperpanjang sampai 450 hari (+ 15 bulan), maka akan meningkatkan produksi susu sebesar 3,5 persen, tetapi jika dilihat dari segi ekonomi maka akan merugikan dibandingkan dengan biaya makanan yang diberikan.
Tenaga Kerja
Tenaga kerja di Perusahaan X berjumlah 11 orang, tenaga kerja kandang berjumlah 10 orang dan rata-rata dapat menangani 9,18 ST/hari. Tenaga kerja yang digunakan di Perusahaan X sudah efisien, hal ini sesuai dengan pendapat Sudono (1999) yang menyatakan bahwa seorang tenaga kerja menangani enam sampai tujuh ekor sapi dewasa (6-7 ST). Penggunaan tenaga kerja yang relatif tinggi di Perusahaan X diharapkan pendapatan yang akan diterima semakin tinggi.
Pekerjaan tenaga kerja di Perusahaan X khususnya tenaga kerja luar keluarga bagian kandang antara lain, mencari hijauan, memberikan hijauan, memberikan air
minum, memberikan konsentrat, memandikan sapi, membersihkan kandang dan peralatan susu serta memerah sapi. Supir bertugas mengangkut dan mengantarkan susu, mengangkut hijauan serta membeli konsentrat.
Tenaga kerja mulai bekerja pada pukul 05.30-16.30 WIB, tetapi dalam rentang waktu tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk bekerja. Rata-rata tenaga kerja kandang bekerja selama 586 menit/orang/hari (1,22 HKP) dan supir sebesar 438 menit/hari (0,91 HKP). Kegiatan mencari hijauan membutuhkan waktu yang paling lama yaitu rata-rata 240 menit/hari. Hal ini disebabkan oleh lokasi pencarian yang cukup jauh yaitu + 15 kilometer dari perusahaan. Hijauan diperoleh dari kebun rumput sendiri yang berada di Desa Citeko dan sisanya dicari di lahan pertanian/kebun rumput milik orang lain di sekitar Kecamatan Cisarua. Pencarian hijauan biasanya dilakukan pagi hari antara pukul 08.00-12.00 WIB.
Kegiatan membersihkan kandang, memandikan sapi dan membersihkan peralatan susu dilakukan secara berturut-turut sebelum pemerahan, kegiatan ini dilakukan dua kali sehari. Fungsinya untuk mencegah sapi dari penyakit juga menghindari masuknya kotoran ke susu. Membersihkan kandang dan peralatan susu meliputi membersihkan lantai dari kotoran dan sisa-sisa makan sapi, membersihkan tempat makan dan minum juga membersihkan milk can. Tenaga kerja umumnya menggunakan sapu lidi, sekop dan semprotan dari selang air. Lantai disapu dan dibersihkan, kemudian limbah tersebut dibuang dan dialirkan ke parit yang terdapat dalam kandang.
Total kandang yang ada berjumlah 5 buah (4 milik Perusahaan X dan 1 menyewa) dan total milk can 18 buah, sedangkan tenaga kerja yang membersihkan ada 10 orang sehingga membutuhkan curahan waktu yang lebih sedikit dengan rata-rata 36 menit/hari. Waktu yang digunakan untuk memerah berkisar antara 10-15 menit/ekor.
Pencatatan (Recording)
Pencatatan yang lengkap perlu dilakukan, pencatatan berfungsi untuk melihat keadaan ternak sapi dilihat dari produksi, kesehatan, reproduksi dan yang berhubungan dengan manajemen perusahaan seperti data penjualan (susu, ternak sapi), data pembelian dan transaksi keuangan. Hal ini penting dalam memperkirakan
keuntungan ataupun jika ada kerugian yang terjadi, tetapi Perusahaan X, khususnya pemilik baru mencatat produksi saja.
Penanganan Limbah
Perusahaan menampung feses pada bak tampung yang berukuran 36 m2. Pemilik tidak mengolah maupun menjual feses, tetapi membiarkan masyarakat sekitar untuk menjual atau memanfaatkannya. Salah satu tujuan perusahaan adalah mengolah limbah untuk meningkatkan pendapatan, tetapi karena terbatasnya lahan maka hal tersebut belum bisa dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan penelitian Ilyas dan Sudarnika (2002) yang menyatakan bahwa ketersediaan lahan merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi pola pengelolaan limbah pada kegiatan usahaternak sapi perah.
Kesehatan Ternak
Upaya pemeliharaan kesehatan ternak dilakukan sendiri oleh pemilik. Pemilik sudah berpengalaman dan mempunyai pengetahuan di bidang tersebut. Pemilik adalah salah satu penyuluh peternakan, khususnya sebagai inseminator, paramedis dan teknisi transfer embrio.
Penyakit yang paling banyak menyerang pada ternak sapi perah di Perusahaan X adalah diare. Selama tahun 2007, sebanyak 6 ekor ternak terkena diare, 2 ekor terkena penyakit kembung, dan 2 ekor terjangkit mastitis klinis, karena penanganan yang cukup cepat maka penyakit mastitis klinis tidak sempat menular ke ternak lain. Pemerintah juga turut serta dalam penanganan penyakit dengan mewajibkan pemberian vaksin setiap setahun sekali. Pemberian vaksin ada dua jenis yaitu vaksin antraks serta vaksin untuk penyakit kuku dan mulut, vaksinasi dilakukan ke setiap ternak yang berguna untuk mencegah wabah penyakit menular tersebut.
Pakan dan Air Minum
Pakan yang diberikan berupa konsentrat dan hijauan. Pakan hijauan berupa rumput lapang yang diberikan sebanyak 34,33 kg/ST/hari, sedangkan untuk konsentrat terdiri dari ampas tahu dan konsentrat jadi merek KPS Feed. Konsentrat KPS Feed dibeli dari KUD Giri Tani dengan jarak + 2 km dari lokasi Perusahaan X, sedangkan ampas tahu dibeli dari Jakarta. Komposisi konsentrat jadi terdiri dari
bungkil kelapa, jagung giling, onggok, dedak padi, pollard, mineral dan vitamin. Konsentrat jadi yang diberikan pada sapi induk, dara dan pedet sebesar 6,13 kg/ST/hari, sedangkan untuk ampas tahu hanya diberikan pada sapi induk yaitu 3,56 kg/hari. Konsentrat diberikan tiga kali sehari, pukul 06.00, 12.00 dan 16.00 WIB, pemberian dilakukan sebelum pemerahan hal ini berfungsi untuk menenangkan sapi ketika diperah.
Saat musim hujan, pakan hijauan mudah didapat, tetapi ketika musim kemarau produksi hijauan menurun sehingga tenaga kerja perusahaan perlu menyediakan waktu yang lebih banyak untuk mencari hijauan ke tempat lain. Frekuensi pemberian hijauan dilakukan dua kali sehari, yaitu pukul 07.30 dan pukul 18.00 WIB. Hijauan yang diberikan berupa rumput lapang dan tidak dicacah, sedangkan pemberian rumput budidaya seperti rumput gajah tidak pernah dilakukan, karena lahan perusahaan terbatas untuk menanam rumput.
Ketersediaan air bersih sangat penting bagi sebuah peternakan. Tenaga kerja memberikan air minum ad libitum (tak terbatas). Hal ini disebabkan susu yang dihasilkan 87 persen berupa air dan sisanya bahan kering, sehingga sebaiknya sapi diberi minum setiap saat (sekenyangnya) (Sudono et al., 2003). Didukung pula dengan mudahnya mendapatkan air dari mata air pegunungan di wilayah Cisarua.
Biaya Usahaternak
Komponen biaya usaha terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap selama periode penelitian (tahun). Total biaya variabel dan biaya tetap masing-masing yaitu Rp 378.510.065 dan Rp 338.473.671, atau total biaya per bulan yang harus dikeluarkan perusahaan sebesar Rp 59.748.645. Komponen biaya Perusahaan X dalam setahun dapat dilihat pada Tabel 6.
Pakan termasuk ke dalam biaya variabel dan persentase biaya untuk pembelian pakan adalah yang tertinggi di Perusahaan X (Tabel 6), yaitu sebesar 55,39 persen. Menurut Sudono (1999), keuntungan yang diperoleh akan naik dengan naiknya produksi susu, walaupun kebutuhan pakan untuk sapi-sapi yang berproduksi tinggi akan bertambah. Jadi biaya per liter susu atau biaya untuk memproduksi satu liter susu akan semakin kecil dengan semakin tingginya produksi susu.
Tabel 6. Komponen Biaya Perusahaan X Tahun 2007 Jumlah Komponen Biaya Rp % Biaya Variabel Pakan 361.314.065 55,39 IB dan Obat-obatan 3.652.000 0,51 Perlengkapan 6.944.000 0,97 Air 1.200.000 0,17 Listrik 5.400.000 0,75 Biaya Tetap Transportasi 56.970.000 7,95 Sewa Kandang 1.500.000 0,21 Penyusutan Bangunan 15.633.333 2,18 Penyusutan Peralatan 2.173.333 0,30 Penyusutan Ternak 20.000.004 2,79 Penyusutan Kendaraan 6.000.000 0,84
Tenaga Kerja Luar Keluarga
- Gaji Pokok 127.200.000 17,74
- THR 21.200.000 2,96
- Bonus 5.955.000 0,83
- Tunjangan Kesehatan 300.000 0,04
- Sembako 25.542.000 3,56
Tenaga Kerja Dalam Keluarga
- Gaji Pokok 48.000.000 6,69
- THR 8.000.000 1,12
Total Biaya 716.983.736 100,00
Jenis pakan yang diberikan kepada semua ternak sapi perah di atas umur tiga minggu adalah konsentrat jadi merek KPS Feed. Biaya pakan konsentrat selama satu tahun dengan pembelian sebesar 202.922,30 kg adalah Rp 314.529.565. Harga konsentrat jadi adalah Rp 1.550 per kilogram. Pemberian ampas tahu hanya diberikan kepada sapi induk saja, harga ampas tahu Rp 500 per kilogram, harga ampas tahu tersebut lebih murah daripada konsentrat jadi. Hal ini sesuai seperti penelitian Anisa (2008) di Kabupaten Bandung, bahwa salah satu tujuan pemberian ampas tahu karena alasan ekonomis, yaitu untuk menekan biaya pakan.
Untuk perhitungan biaya rumput sudah termasuk ke dalam biaya tenaga kerja, jumlah pemberian rumput selama setahun sebesar 1.135.734,00 kg. Total biaya pakan di Perusahaan X selama setahun sebesar Rp 361.314.065 (Tabel 7).
Tabel 7. Penggunaan Pakan di Perusahaan X Tahun 2007
Jenis Pakan Jumlah Pemberian (Kg) Total (Rp)
Konsentrat Jadi 202.922,30 314.529.565
Ampas Tahu 93.569,00 46.784.500
Pemilik melakukan IB sendiri tanpa bantuan mantri hewan. Straw yang digunakan untuk IB dibeli dari KUD Giri Tani seharga Rp 25.000 per straw. Biaya IB selama Tahun 2007 sebesar Rp 1.925.000. Selain itu, pemilik juga mengobati sendiri ternak yang terjangkit penyakit. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan dan pencegahan penyakit selama tahun 2007 di Perusahaan X adalah sebagai berikut: diare Rp 696.000; kembung Rp 50.000; mastitis klinis Rp 345.000; vaksin antraks Rp 318.000; serta vaksin penyakit kuku dan mulut Rp 318.000. Jadi biaya total untuk pengobatan dan pencegahan penyakit adalah Rp 1.727.000, dan biaya total untuk IB dan obat-obatan sebesar Rp 3.652.000
Gaji tenaga kerja dalam keluarga untuk pemilik dan isteri masing-masing sebesar Rp 2.500.000 dan Rp 1.500.000 per bulan. Gaji pokok tenaga kerja luar keluarga di Perusahaan X berkisar antara Rp 800.000 – Rp 1.200.000. Perbedaan gaji berdasarkan atas pengalaman dan lama bekerja di perusahaan. Rata-rata biaya untuk tenaga kerja luar keluarga setiap bulan adalah Rp 1.092.537 per orang. Total persentase biaya tenaga kerja adalah kedua terbesar setelah biaya pakan yaitu sebesar 32,94 persen. Menurut Sudono (1999), biaya tenaga kerja merupakan biaya produksi terbesar kedua setelah biaya pakan yaitu 20-30 persen dari biaya produksi. Biaya tenaga kerja di Perusahaan X lebih besar dari 30 persen, hal ini disebabkan oleh karakter pemilik yang mementingkan kesejahteraan tenaga kerjanya.
Berdasarkan Tabel 6, bonus yang diberikan berupa uang sebesar Rp 25.000 jika tenaga kerja kandang menangani kelahiran sapi perah. Bonus juga diberikan pada tenaga kerja yang bisa meningkatkan jumlah produksi susu pada sapi yang menjadi tanggungjawabnya. Bonus untuk supir akan diberikan setiap kali berangkat untuk membeli ampas tahu ke Jakarta, yaitu sebesar Rp 20.000. Bonus Lebaran diberikan satu tahun satu kali kepada seluruh tenaga kerja luar keluarga, bonus yang diberikan berupa bingkisan yang terdiri dari sirup 2 botol dan daging 2 kg, yaitu sebesar Rp 130.000 per orang. Total bonus yang diberikan Perusahaan X selama
Sembako diberikan setiap bulan kepada seluruh tenaga kerja luar keluarga yang terdiri dari 50 kg beras, 0,5 kg kopi, 1kg gula, dan 0,75 kg ikan asin. Rata-rata biaya sembako setiap bulan sebesar Rp 193.500 per orang. Sedangkan untuk biaya kesehatan adalah yang paling kecil diantara komponen biaya tenaga kerja, yaitu 0,04 persen. Perusahaan akan memberikan vitamin kepada tenaga kerja kandang ketika memasuki pergantian musim. Hal ini dilakukan karena jika salah satu tenaga kerja ada yang sakit maka rata-rata akan menurunkan + 14 persen per ekor dari produksi susu harian. Berdasarkan penelitian Rushen et al. dalam Moberg dan Mench (2000) bahwa produksi susu akan berkurang 10 persen ketika sapi tidak nyaman dengan perlakuan pemerah yang baru.
Biaya komponen tenaga kerja yang termasuk ke dalam biaya tetap adalah Tunjangan Hari Raya (THR), gaji tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga. Gaji tenaga kerja dalam keluarga termasuk biaya tetap tidak tunai, dan yang ikut mengelola perusahaan adalah pemilik dan isterinya. Sedangkan THR merupakan biaya tetap tunai yang diberikan kepada tenaga kerja luar keluarga dan dalam keluarga dan nilainya adalah dua kali dari gaji pokok.
Perlengkapan mempunyai daya tahan kurang dari satu tahun. Biaya perlengkapan yang dikeluarkan tahun 2007 sebesar Rp 6.944.000. Perlengkapan terdiri dari sepatu boot, sikat, sapu lidi, saringan kain, perlengkapan kesehatan, ember plastik, vaselin, dan lap. Perlengkapan kesehatan terdiri dari desinfektan, yodium tincture dan sarung tangan.
Persentase biaya air adalah 0,16 persen. Rata-rata biaya air yang dikeluarkan sebesar Rp 100.000 per bulan. Biaya air terdiri dari pembayaran ke PDAM dan juga pembayaran untuk pemakaian air dari mata air pegunungan.
Transportasi digunakan untuk mencari rumput, mengantarkan susu untuk dijual ke Cimory Resto, membeli konsentrat KPS Feed ke KUD Giri Tani, dan membeli ampas tahu ke Jakarta. Rata-rata biaya transportasi (bensin) per bulan untuk mencari rumput, mengantarkan susu dan membeli konsentrat adalah Rp 2.129.167, sedangkan biaya transportasi per bulan untuk membeli ampas tahu sebesar Rp 2.250.000. Perawatan alat transportasi mengeluarkan biaya sebesar Rp 4.420.000, jadi total biaya transportasi selama setahun adalah Rp 56.970.000.
Alat transportasi yang digunakan di Perusahaan X adalah mobil jenis pick up. Kendaraan ini dibeli dengan harga Rp 100.000.000 dengan usia ekonomis selama 10 tahun dan nilai sisa sebesar Rp 40.000.000, jadi penyusutan kendaraan di Perusahaan X selama tahun 2007 adalah Rp 6.000.000.
Tabel 8. Jenis dan Penyusutan Peralatan di Perusahaan X Tahun 2007
Jenis Peralatan Jumlah (buah) Total Harga (Rp) Umur Ekonomis (Tahun) Penyusutan (Rp/Thn) Selang 3 360.000 2 180.000 Sikat Kawat 4 60.000 2 30.000 Tambang 4 120.000 2 60.000 Arit 12 420.000 3 140.000 Sekop 2 100.000 3 33.333 Cangkul 2 100.000 3 33.333 Gun IB 1 500.000 3 166.667
Ember Stainless Steel 3 900.000 5 180.000
Milk Can - 40 Liter 12 4.800.000 5 960.000 - 20 Liter 3 750.000 5 150.000 - 15 Liter 1 200.000 5 40.000 - 10 Liter 2 350.000 5 70.000 Kalkulator 1 50.000 5 10.000
Pemotong Kuku Sapi 1 1.200.000 10 120.000
Peralatan adalah investasi alat yang mempunyai umur pakai lebih dari satu tahun. Nilai penyusutan terkecil di Perusahaan X adalah penyusutan peralatan, yaitu sebesar 0,30 persen (Tabel 6). Penyusutan peralatan Perusahaan X selama satu tahun sebesar Rp 2.173.333. Umur ekonomis dari peralatan yang digunakan berkisar antara 2-10 tahun.
Penyusutan ternak yang dihitung adalah hanya untuk induk yang sudah berumur 7 tahun, umur ekonomis induk adalah 10 tahun. Total penyusutan yaitu sebesar Rp 20.000.004 per tahun, nilai penyusutan ternak adalah yang terbesar dibandingkan nilai penyusutan lainnya, yaitu 2,79 persen.
Kandang yang dimiliki Perusahaan X hanya berjumlah 4 buah, karena lahan yang dimiliki perusahaan tidak mencukupi untuk menambah kandang baru, sehingga
biaya sewa kandang adalah yang paling kecil dari total biaya tetap, yaitu 0,19 persen. Penyusutan 4 buah kandang yang terdiri dari 2 kandang sapi induk, 1 kandang sapi
dara, dan 1 kandang pedet berturut-turut adalah Rp 7.333.334; Rp 2.666.667; dan Rp 5.000.000 per tahun. Usia ekonomis masing-masing kandang adalah 15 tahun
kecuali untuk kandang pedet hanya 5 tahun. Total penyusutan kandang selama setahun adalah Rp 15.000.001. Selain kandang, perusahaan juga mempunyai tempat penampungan feces dan gudang penyimpanan pakan. Usia ekonomis tempat penampungan feses 5 tahun, sedangkan gudang adalah 15 tahun. Untuk nilai penyusutan bangunan selama setahun adalah penampungan feses Rp 300.000 dan gudang Rp 333.333.
Penerimaan
Penerimaan terdiri dari penjualan susu, penjualan ternak, susu yang dikonsumsi oleh pemilik dan tenaga kerja, serta perubahan nilai ternak. Total penerimaan Perusahaan X selama setahun sebesar Rp 965.570.080. Komponen penerimaan di Perusahaan X dapat dilihat pada Tabel 9.
Penjualan ternak sapi perah selama tahun 2007 berjumlah 52 ekor, antara lain induk 11 ekor, jantan muda 4 ekor, dan pedet 37 ekor. Penjualan induk, jantan muda dan pedet berturut-turut adalah Rp 87.200.000; Rp 13.500.000; dan Rp 67.700.000. Harga pedet berkisar antara Rp 1.500.000-2.100.000,- per ekor, sedangkan kisaran harga jual sapi induk adalah Rp 5.000.000-8.500.000 per ekor.
Tabel 9. Komponen Penerimaan Perusahaan X Tahun 2007 Jumlah Komponen Penerimaan
Rp %
Penjualan Susu 707.286.440 73,25
Penjualan Ternak 162.000.000 16,78
Susu yang Dikonsumsi Pemilik dan Tenaga Kerja
5.533.640 0,57 Perubahan Nilai Ternak 90.750.000 9,40
Total Penerimaan 965.570.080 100,00
Berdasarkan Tabel 9, komponen penerimaan terbesar adalah dari penjualan susu yaitu 73,25 persen. Penerimaan terkecil merupakan penerimaan berupa
konsumsi susu oleh pemilik dan tenaga kerja sebesar 1.976,3 liter per tahun atau Rp 5.533.640,-.
Perubahan nilai ternak adalah selisih antara nilai ternak pada akhir tahun (Desember 2007) dengan nilai awal tahun (Januari 2007), nilai ternak dihitung dengan mengalikan stok ternak dengan harga ternak. Perubahan nilai ternak yang terjadi di Perusahaan X sebesar Rp 90.750.000 (Tabel 10).
Tabel 10. Perubahan Nilai Ternak di Perusahaan X selama Tahun 2007 Ternak sapi Awal
(ekor) Akhir (ekor) Perubahan (ekor) Jumlah (Rp) Induk 60 77 17 130.500.000 Dara 30 12 (18) (90.500.000) Pedet 12 48 36 62.750.000 Jantan Muda 4 0 (4) (12.000.000) Jumlah 106 137 31 90.750.000
Keterangan : Nilai dalam ( ) menunjukkan nilai yang negatif
Perubahan yang bernilai negatif adalah pada sapi dara dan jantan muda. Penurunan kepemilikan ternak jantan muda karena dijual, sedangkan untuk sapi dara karena pertambahan usia, sehingga sudah masuk ke kelompok umur sapi induk.
Tabel 11. Perincian Penggunaan Susu Tahun 2007
Uraian Jumlah (liter)
A. Dikonsumsi
1.Pedet 48.424,00 2.Pemilik dan Tenaga Kerja 1.976,30
B. Dijual 252.602,30
Total 303.002,60
Berdasarkan Tabel 11, rata-rata penjualan susu setiap hari adalah 692,06 liter, sedangkan untuk rata-rata susu yang dikonsumsi pedet adalah 3,28 liter/ekor/hari. Pedet yang diberikan susu adalah yang berumur kurang dari empat bulan. Rata-rata susu yang dikonsumsi oleh pemilik dan tenaga kerja sebesar 5,41 liter/hari. Pemilik
mengizinkan tenaga kerja untuk meminum susu, tetapi tidak diizinkan untuk menjualnya. Susu yang dikonsumsi tenaga kerja berkisar 0,2 - 0,7 liter/orang/hari.
Pendapatan
Pendapatan merupakan selisih penerimaan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Total pendapatan Perusahaan X tahun 2007 sebesar Rp 248.586.344. Rata-rata pendapatan per bulan adalah Rp 20.715.529. Jika melihat dari total pendapatan maka keputusan pemilik untuk menjadikan usaha peternakan sapi perah sebagai mata pencaharian utama sudah tepat. Total pendapatan di Perusahaan X selama tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Tingkat Pendapatan Perusahaan X Tahun 2007
Uraian Jumlah (Rp) A. Penerimaan 965.570.080 B. Biaya Variabel 378.510.065 Tetap 338.473.671 Total B 716.983.736 Pendapatan (A-B) 248.586.344
Rasio Penerimaan dengan Biaya
Nilai rasio penerimaan total (penjualan ternak, penjualan susu, susu yang dikonsumsi dan perubahan nilai ternak) dengan biaya total di Perusahaan X sebesar