VERA AGUSTINA YANTI
DAFTAR LAMPIRAN
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kondisi geografis dan demografis di empat lokasi penelitian berdasarkan Tabel 11 menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing berdasarkan jenis usaha, potensi wilayah, produk unggulan, profil UMKM, dan Program Pemerintah Dinas UMKM. Pelaku UMKM Bandung dan Bogor memiliki penduduk rata-rata penduduknya dalam tingkat usia produktif.
Masyarakat UMKM wilayah Bandung dan Bogor memiliki beragam aneka usaha.
Tabel 11 : Deskripsi Gambaran Umum Lokasi Penelitian Bandung dan Bogor
Keterangan Kab
Bandung Kota Bandung Kab
Bogor Kota
Bogor
Jumlah penduduk
(Orang) 3.534.114 2.424.957 2792.907 1.047.922
Mata pencaharian
Koperasi & UMKM Akses permodalan Beragam pelatihan Potensi wilayah Budidaya pertanian Sektor Pariwisata Argo industri
Agro wisata Daerah industri
Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bogor dan Kota Bogor memiliki potensi wilayah dan produk unggulan yang berbeda. Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor banyak memiliki potensi di sektor pertanian dan potensi industri agro wisata, sedangkan Kota Bandung dan Kota Bogor potensi unggulan adalah di sektor pariwisata. Pada sisi lain produk unggulan yang dimiliki di masing-masing wilayah untuk Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor produk unggulan Kabupaten adalah industri olahan pangan yaitu berupa produk kopi dan produk tanaman buah. Untuk produk unggulan pelaku UMKM wilayah perkotaan adalah kerajinan baik berupa tas, wayang dan industri fashion yaitu konveksi.
Program penyuluhan yang dilakukan Pemerintah di keempat wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Kota Bandung dan Kota Bogor adalah rata-rata program penyuluhan terkait pengemasan produk dan pemasaran online dan sudah dilakukan melalui beberapa tahap dan beragam program berupa mobil kemasan keliling yang tujuannya dapat menjangkau seluruh pelaku UMKM untuk memperoleh kesempatan memiliki kemampuan membuat kemasan yang menarik sesuai dengan harapan konsumen. Adanya kampung digital yang bekerjasama dengan Universitas dan Instansi swasta yang bertujuan untuk memberikan pelatihan terkait dengan pemasaran online.
Program Dinas UMKM di tiap lokasi penelitian rata-rata telah memberikan pelatihan dan pembinaan kerjasama serta menyediakan akses permodalan. Profil UMKM tertinggi adalah di wilayah Kabupaten Bandung dengan jumlah populasi pelaku usaha yang lebih banyak dibandingkan dengan tiga wilayah lainnya.
Gambaran Obyek Penelitian
Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor adalah wilayah bagian Provinsi Jawa Barat memiliki sumber daya alam dan potensi unggulan yang beragam oleh industri kecil, menengah, dan usaha yang dihasilkan diantaranya: (1) Usaha Olahan Pangan, (2) Konveksi, dan (3) Kerajinan.
Secara keseluruhan gambaran profilpelaku usaha UMKM di wilayah Bandung dan Bogor dalam memanfaatkan sarana TIK disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Deskripsi profil pelaku usaha UMKM di Bandung dan Bogor
Sub Peubah Kategori Frek (n) Persentase(%)
1 Usia (Tahun) < 20 Tahun 9 2,5
20 – 35 Tahun 121 33,7
36 – 47 Tahun 135 37,6
> 47 Tahun 94 26,2
2 Pengalaman Usaha (Tahun) 1-10 Tahun 222 61,8
11-20 Tahun 91 25,3
21-30 Tahun 33 9,2
>30 Tahun 13 3,6
3 Modal usaha (Rp) < 50.000.000 329 91,6
Tabel 12 (Lanjutan)
Sub Peubah Kategori Frek (n) Persentase(%)
50.000.000-100.000.000 19 5,3 101.000.000–
150.000.000 5 1,4
> 151.000.000 6 1,7
4 Pendidikan SD 68 18,9
SMP 202 56,3
SMA 88 24,5
S1/D3 1 0,3
5 Pendidikan Non Formal < 5 /tahun 347 96,7
(Tahun) > 5 /tahun 12 3,3
6 Lama Menggunakan TIK 1 – 5 tahun 329 91,6
(Tahun) 6 – 11 tahun 27 7,5
12 – 16 tahun 0 0
>17 tahun 3 0,8
7 Kepemilikan sarana TIK(Unit) 1 – 5 unit 353 98,3
6 – 11 unit 5 1,4
12 – 18unit 1 0,3
8 Jumlah Tanggungan
Keluarga(Orang) 7 – 10 orang 4 1,1
11 – 15 orang 2 0,6
> 15 orang 1 0,3
9 Jumlah Pegawai(Orang) 0 – 10 orang 290 80,8
11 – 21 orang 49 13,6
22 – 31 orang 8 2,2
>31 orang 12 3,3
10 Jumlah Omzet (Rp) < 50.000.000 264 73,5
50.000.000 –
100.000.000 55 15,3
101.000.000 –
150.000.000 15 4,2
> 151.000.000 25 7,0
11 Jenis Kelamin Laki-laki 194 54
Perempuan 165 46
Berdasarkan uji statistik deskriptif, melalui uji distribusi frekwensi (df) dengan proporsinya berupa persentase, pada Tabel 12, menunjukkan bahwa keseluruhan profil pelaku UMKM wilayah Bandung dan Bogor dalam penggunaan sarana TIK, sebagian responden dalam penelitian ini, posisi tertinggi di usia produktif yaitu 36-47 tahun, dan pada pengalaman usaha rentang 1-10 tahun memiliki persentase tertinggi. Adapun sebagian besar pelaku usaha hanya menamatkan pendidikan sampai jenjang pendidikan menengah (SMP), rata-rata secara umum memiliki jumlah omzet antara 10 sampai dengan 50 juta, jumlah kepemilikan pegawai frekwensi rata-rata memiliki persentase tertinggi memiliki
karyawan kurang dari 10 orang dan sarana TIK yang dimiliki pelaku usaha pada umumnya memiliki unit sarana TIK antara 1-5 unit.
Pada tingkat kosmopolitan dengan perhitungan uji distribusi frekwensi (df) menunjukkan sebagian responden memilih Skor 2. Hal ini ditunjukkan pada rata-rata jawaban terbanyak berada pada Skor 2 yaitu kategori rendah sebanyak 120 jawaban. Pernyataan keseluruhan responden tingkat kosmopolitan tergolong berkategori diantara rentang skala rendah dan tinggi, rata-rata masih berkategori rendah yaitu berdasarkan pengukuran skala Likert sebesar 2.11.
Tabel 13 Deskripsi distribusi tanggapan pelaku usaha variabel profil individu pelaku usaha pertanian/non pertanian (X1)
Indikator 1 2 3 4
No N N N N
1 Tk
Kekosmopolitan 109 120 108 21
2 Motivasi 108 111 117 6
Hal tersebut menunjukkan bahwa para responden jarang melakukan aktivitas untuk mencari informasi terbaru, melalui internet terkait usahanya dan intensitas untuk mengikuti event–event dan mengunjungi lembaga terkait tergolong berkategori rendah, terkait untuk mendapatkan informasi yang menunjang kinerja usaha.Pada indikator motivasi memanfaatkan sarana TIK, sebagian besar responden dalam penelitian ini pada dasarnya memiliki motivasi tinggi dalam memanfaatkan TIK, khususnya penggunaan seluler, berdasarkan uji distribusi frekwensi (df) menunjukkan dengan banyaknya responden yang menjawab setuju dengan pernyataan yang diajukan pada skor 3 sebanyak 117 jawaban. Secara umum tingkat profil pelaku usaha ditinjau dari tingkat motivasi dan tingkat kosmopolitan menunjukkan seluruh hasil jawaban responden menunjukkan rata-rata motivasi secara keseluruhan berkategori rendah.
Berdasarkan pengukuran skala Likert sebesar 1.96.
Sebagian besar responden memiliki intensitas tinggi dalam memanfaatkan media HP, aktivitas berinteraksi dengan pelanggan dan promosi produk, baik itu HP konvensional atau berbasis smartphone android, adapun memanfaatkan media sosial juga melalui sarana HP, responden berpendapat bahwa penggunaan teknologi selain saluran seluler, yaitu berupa komputer penggunaanya rendah, pelaku usaha dalam penggunaan smartphone selalu ada inisiatif dalam menggunakan sarana tersebut, untuk meningkatkan kinerja usahanya, yakin dengan menggunakan media internet akan: (1) memperluas jaringan mitra usaha, dan (2) adanya dorongan untuk sukses. Rata-rata distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap profil pelaku usaha secara keseluruhan berada pada kategori sedang.
Deskripsi Dukungan Lingkungan Eksternal Pelaku Usaha dalam Memanfaatkan Sarana TIK
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada 358 responden, maka deskripsi variabel dukungan lingkungan eksternal (X2) dapat dipaparkan berdasarkan data pada Tabel 14, dengan pengolah data menggunakan distribusi frekwensi (df) menunjukkan sebagian responden dalam penelitian tampak
memilihterbanyak pada Skor 2 dapat diketahui sebagian besar responden dalam penelitian merasakan adanya kekurangan kualitas dukungan pendampingan, hal tersebut tercermin dengan banyak responden yang memberikan jawaban pada Skor 2 dengan jumlah sebanyak 189 jawaban artinya responden tertinggi memberikan penilaian skor rendah pada kualitas dukungan pendampingan.
Pengukuran berdasarkan skala Likert menunjukkan kategori rendah 2.2. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa (1) intensitas pendampingan dan penyuluhan cukup rendah hal ini pendampingannya tidak berkelanjutan dan kurang intensif, (2)informasi yang disampaikan oleh pendamping tidak mudah untuk diaplikasikan, dan (3) informasi disampaikan pendamping juga dirasa belum sesuai dengan kebutuhan, (4) pendamping cukup jarang datang dalam kegiatan penyuluhan, untuk indikator dukungan program pemberdayaan UMKM, bukti empiris di lapangan menunjukkan responden masih merasakan adanya kekurangan. Hal tersebut tampak dari banyaknya responden yang memberikan penilaian pada skor 2 yaitu rendah, dengan jumlah sebanyak 153 jawaban.
Berdasarkan pengukuran skala Likert 2.5 Kondisi ini menggambarkan dalam kategori rendah, fasilitas yang disediakan oleh pemerintah khususnya dinas UMKM yang meliputi: sarana dan prasarana, silabus dan modul, trainer dan program-programnya masih belum memenuhi ekspektasi dari responden.
Adapun fakta di lapangan terkait dengan ketersediaan infrastruktur jaringan, responden juga menunjukkan hal tersebut sudah cukup tersedia.
Pernyataan ini didukung oleh banyaknya jawaban responden yang menilai pada skor 3 yaitu memadai dengan jumlah sebanyak 182 jawaban. Infrastruktur jaringan yang tersedia cukup memadai meliputi jaringan kabel telpon sebagai akses informasi, ketersediaan toko service HP/Komputer untuk mendukung pemeliharaan sarana dan alat TIK, sarana infrastruktur jaringan kabel untuk akses saluran telpon, sarana menara pemancar untuk akses saluran jaringan seluler HP, jaringan wi-fi, bangunan fisik/toko penyedia voucher isi ulang di sekitar usaha, sarana saluran pemancar untuk radio dan sarana saluran pemancar stasiun TV.
Media-media yang digunakan untuk mengakses sarana TIK oleh responden sejauh ini adalah telepon, handphone, komputer dan media eletronik lainnya. Rata – rata distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap dukungan lingkungan eksternal secara keseluruhan berada pada kategori rendah berdasarkan skala Likert ketersediaan akses informasi sebesar 2.6, sedangkan ketersediaan infrastruktur sebesar 2.66.
Tabel 14 Deskripsi distribusi tanggapan pelaku usaha UMKM terhadap variabel dukungan lingkungan eksternal (X2)
No Indikator 1 2 3 4
n n n n
1 Kualitas Dukungan
Pendampingan 48 189 106 15
2 Dukungan
Prog.Pemberdayaan 37 153 144 24
3 Ketersediaan Akses
Informasi TIK 42 86 209 21
4 Ketersediaan
Infras.Jaringan 43 83 182 50
Deskripsi Persepsi Pelaku Usaha dalam Memanfaatkan Sarana TIK
Berdasarkan Tabel 15 berikut ini, dapat diketahui bahwa pada indikator persepsi kesesuaian penggunaan TIK dengan kebutuhan responden memberi penilaian sudah merasa sesuai, menunjukkan bahwa sebagian responden dalam penelitian tampak memilih terbanyak pada Skor 3, dapat diketahui sebagian besar responden dalam penelitian merasakan hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya responden yang memberikan jawaban pada Skor 3 dengan jumlah sebanyak 258 jawaban. Kondisi ini menunjukkan bahwa responden memiliki keyakinan penggunaan sarana TIK, khususnya penggunaan media HP, merupakan media yang tepat untuk usahanya, sesuai untuk mencari informasi harga, sesuai untuk membuat inovasi–inovasi produk usahanya, sesuai dengan kebutuhan untuk mencari mitra bisnisnya, untuk usahanya dan dapat bertransaksi online secara cepat serta sesuai untuk mencari informasi harga dengan cepat.
Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori tinggi yaitu sebesar 3.1.
Indikator persepsi tentang kemudahan untuk digunakan, responden juga menunjukkan setuju dengan pernyataan yang diajukan. Hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya jawaban responden yang berada pada Skor 3 dengan jumlah sebanyak 247 jawaban. Penilaian pelaku usaha terhadap X2.1 persepsi sesuai kebutuhan pelaku usaha dengan pemanfaatan sarana TIK memiliki kategori sangat tinggi sebesar persepsi sesuai kemudahan untuk digunakan terhadap karakteristik inovasi TIK. Kondisi ini menunjukkan bahwa menurut responden sarana penunjang TIK yang meliputi HP dan komputer yang terkoneksi internet cukup mudah digunakan untuk membantu aktivitas usahanya. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori tinggi yaitu sebesar 2.9.
Pada indikator persepsi keuntungan relatif, sebagian besar responden menunjukkan setuju dengan pernyataan yang diajukan yakni hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya jawaban responden yang berada pada Skor 3 dengan jumlah 258 jawaban. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.74. Hal ini menggambarkan bahwa responden menggunakan sarana TIK jauh lebih membantu dalam hal percepatan transaksi usaha dibandingkan dengan tidak, lebih memudahkan akses komunikasi dengan pelanggan, lebih mudah melakukan administrasidan lain sebagainya.
Pada indikator persepsi kemudahan untuk melihat hasil responden juga menunjukkan setuju dengan pernyataan yang diajukan. Hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya responden yang memberikan jawaban pada Skor 3 sebanyak 258 jawaban. Fakta di lapangan responden memiliki kepercayaan dan keyakinan dengan menggunakan HP, komunikasi dengan pelanggan cepat dan responden dapat melihat dengan cepat kebutuhan pelanggan kondisi ini menggambarkan bahwa dengan memanfaatkan sarana TIK, dapat membantu aktivitas kegiatan promosi, pembuatan pelaporan, melihat peluang bisnis dan perkembangan usaha.
Pada indikator persepsi kemudahan melihat hasil atau dampak dari penggunaan sarana TIK, sebagian besar responden menunjukkan setuju dengan pernyataan yang diajukan yakni hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya jawaban responden yang berada pada Skor 3 dengan jumlah 258. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori tinggi yaitu sebesar 2.9.
Hal tersebut menunjukkan bahwa responden merasakan adanya kemudahan dalam mencoba segala alternatif sarana TIK dalam menunjang
aktivitas usahanya mulai dari kegiatan promosi, penjualan, komunikasi dengan pelanggan, proses administratif hingga melihat perkembangan yang terjadi pada usahanya. Rata – rata distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap persepsi secara keseluruhan berada pada kategori tinggi. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori tinggi yaitu sebesar 2.9.
Tabel 15 Deskripsi distribusi tanggapan pelaku usaha UMKM variabel persepsi pelaku usaha terhadap karakteristik inovasi TIK (X3)
No Indikator 1 2 3 4
n n n n
1 Persepsi
kesesuaian dengan
kebutuhan 14 14 242 88
2 Persepsi kemudahan
digunakan 13 37 246 62
3 Persepsi kemudahan
melihat hasil 14 32 258 54
4 Persepsi
keuntungan relatif 18 105 186 49
5 Persepsi
kemud.Dicoba 17 40 243 58
Deskripsi Varibel Pemanfaatan Sarana TIK
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner, maka deskripsi variabel tingkat intensitas pemanfaatan TIK (X4) dapat dipaparkan berdasarkan uraian pada Tabel 16, yang berkategori sangat rendah pada frekwensi pemanfaatan sarana TIK adalah berjumlah 200, sedang berkategori tinggi sebesar 107, dan berkategori sangat tinggi sebesar 31. Hal tersebut menunjukkan pada sebagian responden yang berkedudukan di Kabupaten cukup jarang memanfaatkannya sarana TIK, khususnya pemanfaatan media komputer (PC), dan notebook. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.4.
Pada indikator tingkat pengelolaan informasi, melalui uji deskriptif menunjukkan sebagian besar responden intensitasnya pengelolaan informasi masuk dalam kategori cukup sering, contohnya seperti browsing, mengunduh dan mencetak informasi tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya responden yang memberikan jawaban pada skor 3 dengan jumlah 217 jawaban. Rata – rata distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap pemanfaatan TIK secara keseluruhan berada pada kategori tinggi. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.79.
Tabel 16 Deskripsi distribusi tanggapan pelaku usaha variabel pemanfaatan TIK (X4)
No Indikator 1 2 3 4
n n n n
1 Tk Intensitas
Pemanfaatan
sarana TIK 20 200 107 31
2 Tk
Pengelolaan
Informasi 22 86 217 33
Deskripsi Variabel Tingkat Kompetensi Pelaku Usaha dalam Memanfaatkan sarana TIK
Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa kompetensi personal dari responden yang ada dalam penelitian ini, menunjukkan sebagian besar responden memberi jawaban pada Skor 2 dengan total sebanyak 171 jawaban, berdasarkan uraian diatas: hal tersebut menggambarkan bahwa kemampuan personal masyarakat pelaku usaha UMKM berkategori sedang. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.5.
Rata-rata pelaku usaha memiliki kecakapan cukup baik dalam menjalankan aktivitas usahanya. Pada tingkat kompetensi teknis, pada dasarnya sebagian dari kalangan pelaku UMKM sudah memiliki kompetensi teknis yang cukup memadai, dimana hal tersebut ditunjukkan banyaknya jawaban pada Skor 3 dengan jumlah sebanyak 194 jawaban. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden sudah memiliki pengetahuan, sikap yang mendukung dan terampil, khususnya dalam penggunaan sarana seluler berupa HP baik berupa HP konvensional maupun smartphone. Rata–rata distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap kompetensi pelaku usaha dalam memanfaatkan TIK secara keseluruhan berada pada kategori sedang. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.7.
Tabel 17 Deskripsi Distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap tingkat kompetensi dalam memanfaatkan TIK (Y1)
No Indikator 1 2 3 4
n n n n
1 Kompetensi personal 21 171 132 34
2 Kompetensi teknis 42 67 194 55
Deskripsi Variabel Tingkat Keberlanjutan Pelaku Usaha
Berdasarkan hasil sebaran kuesioner, maka deskripsi variabel tingkat keberlanjutan usaha dapat diuraikan berdasarkan Tabel 18.
Indikator sub peubah pendapatan, responden menunjukkan setuju pada nilai Skor 3 dengan jumlah jawaban sebesar 176. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.5.
Pada indikator sub peubah pertumbuhan usaha, jumlah jawaban tertinggi pada nilai Skor 2 dengan jumlah jawaban sebesar 245. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.2.
Sub peubah kualitas produk dengan jawaban tertinggi dengan nilai Skor 2, sedangkan indikator daya saing,dengan jumlah jawaban tertinggi pada nilai Skor 3. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang untuk kualitas produk yaitu sebesar 2.2. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang untuk daya saing yaitu sebesar 2.5, kondisi lingkungan usaha dengan nilai skor 3, dengan jumlah jawaban tertinggi sebesar 233. Rata-rata secara keseluruhan distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap tingkat keberlanjutan usaha tingkat keberlanjutan usaha berkategori sedang. Berdasarkan pengukuran skala Likert berkategori sedang yaitu sebesar 2.7.
Tabel 18 Deskripsi distribusi tanggapan pelaku usaha terhadap tingkat keberlanjutan usaha (Y2)
No Indikator 1 2 3 4
n n n n
1 Pendapatan 24 136 176 23
2 Pertumbuhan usaha 27 245 70 17
3 Kualitas Produk 36 194 110 10
4 Daya saing 24 157 159 19
5 Kondisi Ling. Usaha 29 70 233 27
Tingkat Pemanfaatan Sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi Pelaku usaha UMKM
Tingkat pemanfaatan sarana teknologi pelaku UMKM di Bandung dan Bogor
Tingkat kemajuan teknologi saat ini sudah merasuk ke beragam bidang di segala aspek kehidupan manusia. Salah satunya ditemukan jaringan internet, jejaringan ini mampu membuat interkoneksi antar manusia menjadi maha cepat.
Kemudahan akses informasi, dan biaya murah menjadikan sarana teknologi berperan penting dalam setiap aktivitas. Era informasi saat ini disebut juga era digital. Salah satu contohnya kemajuan teknologi digital saat ini telah dikembangkannya obyek technology yaitu kecerdasan buatan menghasilkan bahasa alami dan antarmuka pengguna grafis. Paket perangkat lunak lainnya menggunakan kemampuan yang disebut agen intellegent untuk melakukan aktivitas, berdasarkan instruksi dari pengguna misalnya beberapa paket surat elektronik melalui kemampuan agen yang cerdas untuk mengatur, mengirim, dan menyaring pesan maupun informasi melalui surat elektronik. Hal ini sangat membantu dunia usaha untuk mendukung pelayanan, kecepatan dan aktivitas bisnis. Bagi dunia bisnis bahwa informasi digunakan usahawan adalah untuk meraih keunggulan kompetitif. Menurut Porter (1980) keunggulan kompetitif merujuk kepada faktor–faktor organisasi yang memungkinkan suatu organisasi melampaui para pesaingnya. Menurut penelitian Adeosun (Saleh 2016) menunjukkan penggunaan TIK memberikan nilai positif bagi strategi managemen yan terkait dengan aspek komunikasi, akses informasi, pengambilan keputusan, managemen data, knowledge management pada sebuah organisasi. Sejalan pula dengan hasil penelitian Handarkho et. al (2014) menunjukkan penggunaan aplikasi web berupa e-commerce pada pelaku UMKM di kampung Cyber
Yogyakarta untuk menampilkan usaha dan semua produk jualan warga yang memiliki keunggulan kompetitif terutama bagi pelaku usaha kecil,dengan pendekatan metode USD ( Used Centered Design ) pembangunan website dibuat untuk menjangkau konsumen global.
Pada sisi lain informasi diperoleh dengan memanfaatkan sistem informasi dan teknologi. Penggunaan aplikasi sistem informasi dapat digunakan untuk beragam aktivitas, selain dikalangan organisasi, UMKM, tetapi juga menjadi pilihan perusahaan. Menurut O brien (1990) peran sistem informasi untuk kepentingan bisnis adalah (1) mendukung proses bisnis (2) mendukung pembuatan keputusan, dan (3) mendukung strategi. Pentingnya sistem informasi digunakan oleh pelaku bisnis di tanah air untuk memanfaatkan sistem teknologi informasi dalam beragam aktivitas usahanya, tak terkecuali pelaku usaha UMKM wilayah Bogor dan Bandung, agar mampu bersaing dalam pasar global diperlukan pemanfaatan sarana TIK secara optimal. Berdasarkan data pelaku Usaha UMKM di wilayah Bandung dan Bogor. Merujuk dari hasil penelitian The Asia Foundation (2002) menunjukkan jumlah UMKM yang sudah memanfaatkan sarana aplikasi e-commerce, UMKM di wilayah Bandung dan Bogor hanya 18 persen dari jumlah pelaku usaha yang ada yang telah bergabung dengan situs e-commerce. Harian Bisnis Jawa Barat (2015) menunjukkan bahwa penggunaan sarana TIK bagi UMKM di Provinsi Jawa Barat masih sporadis.
Pada sisi lain setiap individu pelaku usaha UMKM Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan Kota Bandung memiliki karakteristik berbeda dalam menggunakan dan memanfaatkan sarana TIK. Karakteristik pelaku usaha dalam memanfaatkan sarana TIK merupakan gambaran pelaku usaha dalam mengoperasionalkan sarana TIK dalam setiap aktivitas usahanya sehari-hari.
Gambaran karakteristik pelaku usaha UMKM dalam memanfaatkan sarana TIK perangkat keras dan perangkat lunak disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19 Tingkat persentase pemanfaatan sarana TIK pelaku usaha UMKM berdasarkan wilayah
Tabel 19 (Lanjutan)
Pada grafik menunjukkan pemanfaatan sarana/alat TIK smartphone Kabupaten Bogor sebesar 34 persen, oleh karena sebagian responden pelaku usaha UMKM yang tinggal di wilayah Kabupaten Bogor lebih menyukai sarana seluler HP smartphone berbasis android, sebagian besar responden menunjukkan merasa cocok menggunakan sarana seluler berupa HP, dengan bentuknya yang lebih kecil dari komputer mudah dibawa kemana-mana dan bisa dengan mudah mengakses internet dimanapun dengan beragam aplikasi didalamnya, serta memudahkan digunakan komunikasi dengan pelanggan dimanapun. Disamping itu responden lebih mudah mengakses internet yaitu: (1) menelusuri informasi/browsing internet melalui sarana smartphone, dan (2) mengunduh.
Sisi lain penggunaan HP konvensional tertinggi pada pelaku usaha UMKM yang berada di wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 44 persen disusul pelaku usaha yang berada di Kota Bogor sebesar 21 persen, oleh karena sebagian responden pelaku usaha UMKM yang berusia dewasa lanjut, di samping tingkat kemampuan yang rendah dalam pemakaian HP berbasis android, mayoritas menggunakan HP konvensional yang hanya digunakan sebatas alat komunikasi dengan mitra usaha dan pelanggan.
Sebagian responden penggunaan sarana laptop tertinggi pelaku usaha UMKM yang berada di wilayah Kota Bandung diketahui sebesar 19 persen, sebagian besar untuk mengelola informasi dan mengakses internet dalam operasional aktivitas usaha sehari-hari dengan menggunakan laptop, notebook, daripada menggunakan telpon genggam, disusul Kabupaten Bogor 11 persen.
Penggunaan sarana komputer PC tertinggi pada masyarakat pelaku usaha UMKM di Kota Bogor sebesar 21 persen sebagian responden lebih menyukai menggunakan komputer PC untuk operasional administrasi usaha sehari-hari, dan
secara optimal menggunakan internet, disusul Kota Bandung sebesar 14 persen.
Penggunaan sarana TIK berupa tablet, pengguna tertinggi pelaku usaha Kota Bandung dengan nilai sebesar 17 persen disusul pelaku usaha yang tinggal di wilayah Kota Bandung 14 persen. Oleh karena sebagian responden menunjukkan mengakses segala informasi dengan memanfaatkan sarana TIK melalui akses internet, obyek atau gambar yang diunduh menjadi lebih jelas.
Hasil penelitian di lapangan menunjukkan Pelaku UMKM Kabupaten Bandung menggunakan aplikasi BBM adalah sebesar 21 persen, sebagian responden memanfaatkan aplikasi untuk mengelola informasi dan aktivitas usaha yaitu promosi dan komunikasi dengan pelanggan, penggunaan BBM diikuti Kota Bandung sebesar 14 persen, sedangkan pada penggunaan aplikasi WA menunjukkan pelaku UMKM Kota Bogor lebih tinggi dari tiga wilayah
Hasil penelitian di lapangan menunjukkan Pelaku UMKM Kabupaten Bandung menggunakan aplikasi BBM adalah sebesar 21 persen, sebagian responden memanfaatkan aplikasi untuk mengelola informasi dan aktivitas usaha yaitu promosi dan komunikasi dengan pelanggan, penggunaan BBM diikuti Kota Bandung sebesar 14 persen, sedangkan pada penggunaan aplikasi WA menunjukkan pelaku UMKM Kota Bogor lebih tinggi dari tiga wilayah