VERA AGUSTINA YANTI
DAFTAR LAMPIRAN
4 METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Untuk meraih tujuan penelitian ini, disain penelitian yang digunakan dengan metode kuantitatif, agar gejala-gejala sosial yang ada dapat dianalisis secara statistik untuk membuktikan hipotesis, dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode survei. Untuk mendukung dan memperdalam data dalam analisa kuantitatif, maka didukung dengan pendekatan kualitatif untuk menguraikan hasil survei. Metode survei digunakan untuk pengumpulan dari berbagai jenis informasi baik menyangkut fakta maupun opini, dari berbagai sumber seperti catatan lembaga, sensus, laporan data ekonomi dan demografis, tes dan angket (Muljono 2012).
Untuk menggali informasi yang lebih mendalam dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Survei dilakukan dengan wawancara kepada pelaku usaha UMKM, menggunakan pertanyaan dan pertanyaan terstruktur yang dituangkan dalam bentuk kuesioner. Pengumpulan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, dan observasi di lapangan.
Wawancara mendalam dilakukan pada sejumlah informan kunci yang memahami topik penelitian.
Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Kota Bogor. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa (1) wilayah tersebut di atas memiliki sentra produksi UMKM yang jumlahnya cukup besar di wilayah Propinsi Jawa Barat, (2) menghasilkan beragam produk-produk kreatif dan memiliki potensi, dan (3) memiliki prospek yang baik, (4) memiliki populasi yang heterogen yaitu pelaku usaha yang tergabung pada kelompok-kelompok yang beragam berdasarkan jenis jenis usaha. Pengambilan data dilaksanakan mulai Desember 2016 sampai April 2017.
Populasi dan Sampel Populasi
Populasi penelitian ini adalah pelaku usaha yang memiliki (1) aktivitas usaha skala mikro kecil dan menengah, (2) melakukan aktivitas usaha dari memilih bahan baku, mengolah bahan baku sampai dengan produk jadi yang siap didistribusikan kekonsumen, dan (3) memiliki akses dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Karakteristik populasi yang menjadi obyek penelitian adalah komunitas pelaku usaha yang bertempat tinggal di wilayah yang memiliki usaha UMKM bidang non pertanian yaitu sentra usaha produk pakaian jadi atau konveksi (garment), usaha kerajinan kreatif, dan di sektor pertanian yaitu olahan pangan agribisnis, yaitu usaha mikro yang memiliki kriteria sesuai Kepmenkeu no
40 / 2003 yaitu dimiliki keluarga atau peorangan, memiliki hasil penjualan sebesar 500 juta dan dapat mengajukan kredit di lembaga keuangan sebesar 200 juta, sedangkan usaha kecil memiliki kekayaan sebesar dua ratus juta serta dapat mengajukan kredit sebesar lima puluh juta, sedangkan untuk usaha menengah, menurut UU tahun 2008 adalah memiliki kekayaan lebih di atas dua ratus juta dan dapat mengajukan kredit ke bank sebesar lima ratus juta rupiah dan memiliki jumlah tenaga kerja sebesar 20 sampai dengan 99 orang di dua Kabupaten yaitu Bogor dan Bandung dan dua Kota yaitu Bogor dan Bandung.Penelitian ini dilakukan di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan pertimbangan: (1) UMKM Provinsi Jawa Barat memiliki kontribusi sebesar 54,20 persen terhadap PDRB di Provinsi Jabar (Depkop Jabar, 2013), dan (2) Karakteristik budaya masyarakat pelaku usaha UMKM Provinsi Jawa Barat mampu menghasilkan produk-produk yang lebih kreatif dan memiliki potensi. Hal ini mengindikasikan perkembangan UMKM di Provinsi Jawa Barat memiliki prospek yang baik, secara spesifik penelitian dilakukan di dua wilayah Kabupaten dan dua Kota, yakni Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung dan Kota Bogor dan Kota Bandung. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja purposive dengan pertimbangan bahwa kedua Kabupaten dan dua Kota memiliki beragam sentra produksi UMKM dengan jumlah terbesar di wilayah Provinsi Jawa Barat.
Penentuan lokasi penelitian dilakukan dalam dua tahap dari data jumlah keseluruhan pelaku usaha UMKM yang bergerak pada sektor pertanian maupun non pertanian yaitu tahap pertama memilih Kabupaten dan Kota yang memiliki beragam sentra produksi di Provinsi Jawa Barat yaitu memiliki jenis usaha konveksi, kerajinan dan olahan pangan.
Tahap kedua adalah menentukan lokasi yang memiliki populasi melalui penelitian yang bersifat survei yaitu memilih pelaku usaha yang mengelola bahan baku sampai dengan pemasaran pada konsumen dan memiliki akses terhadap penggunaan aplikasi TIK pada setiap kegiatan usahanya. Pada penelitian ini, anggota populasinya bersifat heterogen, yang mana respondennya adalah pemimpin atau pemilik usaha dari jumlah keseluruhan total jumlah UMKM memiliki jenis usaha yang berbeda.
Untuk memenuhi persyaratan responden berupaya dengan menelusuri informasi data melalui instansi instansi terkait dan melakukan langkah atau tahapan yaitu diawali dengan survei awal penelitian, wawancara, dan mengumpulkan data sekunder dari instansi terkait yaitu dinas UMKM pada Kabupaten dan Kota pada dua wilayah tersebut.
Secara ringkas, persyaratan dari responden dari populasi yang sudah ditentukan dalam penelitian ini adalah:
(1) Pelaku usaha yang memiliki usaha sendiri dengan skala usaha mikro kecil menengah, yang diawali dengan pengadaan bahan baku, mengelola atau melakukan proses produksi sampai produk jadi, hingga memasarkan dan mendistribusikan kepada konsumen.
(2) Memiliki kesempatan untuk memanfaatkan sarana TIK untuk akses sistem informasi berbasis TIK dari lingkungan sekitar.
(3) Memanfaatkan sarana TIK untuk mendukung kegiatan usaha. Pemilihan pelaku usaha berdasarkan atas sifatnya yang lebih tanggap dan proaktif terhadap aplikasi informasi teknologi produksi sampai dengan pemasaran
untuk mengakses informasi bisnis terkait dengan informasi harga, informasi yang cepat dan akurat sesuai karakteristik usahanya.
Sampel ditentukan berdasarkan persyaratan responden selain uraian diatas yaitu dengan meninjau aktivitas usahanya, dan responden adalah pelaku usaha yang memiliki dan memimpin usaha dengan pengelolaan usahanya secara mandiri dalam setiap aktivitas usahanya. Dengan
persyaratan responden yang telah diuraikan di atas sebagai dasar untuk menentukan kriteria populasi yang digunakan dalam penelitian, maka didapatkan jumlah populasi UMKM pada empat wilayah secara keseluruhan populasi adalah sebesar 3479, terdiri dari Kabupaten Bandung sejumlah 3033 dengan jumlah pelaku usaha kerajinan sebesar 345, konveksi sebesar 1726 dan olahan pangan sebesar 962; di wilayah Kabupaten Bogor sebesar 253, terdiri pelaku usaha UMKM, 61 kerajinan, 138 olahan pangan, 54 konveksi, Kota Bogor 95 yang memiliki usaha konveksi adalah sebesar 8, kerajinan sebesar 23 dan olahan pangan adalah sebesar 64, sedangkan di Kota Bandung adalah sebesar 98 untuk 17 kerajinan, 23 konveksi dan 58 olahan pangan (Dinas UMKM Kabupaten/Kota Bandung dan Bogor).
Sampel
Penentuan jumlah sampel pelaku Usaha UMKM dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin (Sevilla et al. 1993:161) sebagai berikut :
Berdasarkan rumus di atas, dengan jumlah populasi yang telah sesuai dengan kriteria pada persyaratan responden sebesar 3479 dengan tingkat kesalahan 5 persen, diperoleh sejumlah sampel keseluruhan sebesar 358. Populasi 3479 pada penelitian ini adalah pelaku UMKM yang yang terbagi dalam 2 kelompok besar yaitu pelaku UMKM pertanian dan non pertanian yang memiliki usaha konveksi dan kerajinan pada UMKM non pertanian, olahan pangan pada UMKM pertanian yang berada di Bandung dan Bogor memiliki akses komunikasi serta memiliki usaha sendiri.
Tahapan-tahapan untuk menentukan jumlah sampel:
(1) Membagi dua bidang usaha pertanian dan non pertanian, dengan mengkategorikan dua jenis usaha (non pertanian) dan satu jenis usaha (pertanian) menentukan jumlah sampling setiap wilayah dengan proporsional dengan rumus di bawah ini:
n = N
1+ N(e)2
Keterangan: n = Ukuran sampel N = Ukuran Populasi
E = Galat baku (standar error) 5%
ni= ukuran sampel strata i Ni = ukuran populasi strata Ni
ni = X n N
(2) Tahap selanjutnya adalah pelaku usaha UMKM memiliki populasi heterogen, Penentuan jumlah sampel di tiap-tiap kelompok usaha/jenis usaha dengan mengkategorikan pelaku usaha yang memiliki jenis usaha kerajinan, konveksi dan olahan pangan pada dua Kabupaten/Kota dilakukan dengan tahap tekhnik pengambilan sampelnya dengan teknik non propotioned stratified random sampling berdasarkan jenis usaha. Menurut Sugiyono (2005), teknik ini digunakan bilapopulasi tidak homogen dan tidak berstrata secara proportional disajikan dalam Tabel 6 memilih cluster secara non propotioned random sampling adalah karena populasi.
(3) Untuk menentukan lokasi wilayah penelitian dilakukan secara purposive dengan daerah yang merupakan sentra masing–masing jenis usaha.
(4) Tahap selanjutnya menentukan responden melalui teknik acakdan disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Jumlah populasi yang sudah berkategori dan jumlah sampel
Kabupaten Baleendah (1), Paseh (3), Magahayu (4), Pasir Jambu (1), Ibun (1), Cibiru (1), Cigondewah (2)
Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data Jenis Sumber Data
Untuk keperluan penelitian, jenis data yang diambil adalah data primer dan data sekunder:
(1) Data primer diperoleh melalui kuesioner dan wawancara pelaku usaha UMKM melalui daftar pertanyaan. Data ini digunakan untuk menerangkan variabel-variabel yang akan diteliti diantaranya adalah; profil individu pelaku usaha, persepsi, dukungan lingkungan eksternal, tingkat pemanfaatan TIK.
(2) Data sekunder adalah arsip dokumen tertulis dan soft file database dari Dinas UMKM setempat, berupa data jumlah UMKM pada daerah setempat, lokasi, struktur organisasi, jenis usaha, omzet, jumlah karyawan, dan produk yang dihasilkan masing-masing UMKM di setiap wilayah Kecamatan dan Kelurahan.
Skala Pengukuran
Instrumentasi I diukur menggunakan skala pengukuran rasio, sebagian lainnya menggunakan skala ordinal. Teknik pengukuran persepsi dalam penelitian ini menggunakan skala Likert dengan tingkatan Skala 1 (sangat tidak tepat), Skala 2 (tidak tepat), Skala 3 (tepat), dan Skala 4 (sangat tepat).
Menurut Sugiyono (1999), skala Likert digunakan untuk penelitian terkait dengan sikap, pengertian atau persepsi seseorang atau sekelompok orang-orang tentang suatu variabel, kejadian, konsep dan gejala sosial. Skala Likert terdiri dari sejumlah pernyataan, baik pernyataan positif maupun pernyataan negatif. Bentuk pernyataan positif adalah bentuk pernyataan yang menjadi indikasi sikap positif dan bentuk pernyataan negatif adalah bentuk yang menjadi indikasi sikap negatif.
Setiap pernyataan disediakan empat alternatif jawaban, yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Pemberian skor untuk penggunaan skala Likert untuk pernyataan yang berbentuk sikap positif Skor 4 untuk jawaban pernyataan sangat tepat, Skor 3 adalah jawaban tepat, Skor 2 untuk jawaban tidak tepat dan Skor 1 untuk jawaban sangat tidak tepat.
Untuk penelitian ini skala Likert digunakan dengan menghilangkan jawaban netral sehingga hanya tersedia empat skala:Skala 4= sangat tepat, Skala 3= tepat, Skala 2= tidak tepat dan Skala 1= sangat tidak tepat. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari bias yang disebabkan oleh kecenderungan responden memilih jawaban netral.
Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sugiyono (2003) menunjukkan bahwa data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka-angka, atau data kualitatif yang diangkakan, sehingga gejala-gejala dalam penelitian diukurnya dengan menggunakan skala-skala dan dianalisis menggunakan metode statistik. Data kuantitatif diperoleh dalam bentuk mentah, kuesioner dan catatan, sedangkan data kualitatif merupakan data yang disajikan dalam bentuk kata, skema, gambar.
Data primer adalah data yang didapat langsung dari responden dari sumber pertama atau tempat objek penelitian yang dilakukan yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Data primer dikumpulkan melalui observasi wawancara dan pengamatan langsung, dokumentasi, catatan harian, analisis, dan focus discussion group (FGD) di lapangan, sedangkan data sekunder merupakan data pelengkap untuk menjawab pertanyaan penelitian yang didapat dengan cara langsung atau tidak langsung dari responden atau sumber lain.
Untuk keperluan penelitian data yang akan dianalisis adalah dikumpulkan dengan menggunakan daftar pertanyaan dan disebarkan kepada seluruh anggota pelaku usaha. Pengumpulan data dilakukan pada tahun 2017 di kelompok pelaku usaha di dua Kabupaten dan dua Kota terpilih. Pada tahap awal: (1) pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi nama-nama Kecamatan, Desa, dan data dinas UMKM setempat. Tahap ke 2 merekrut tenaga kerja untuk ikut turut serta berkontribusi membantu peneliti di lapangan guna mendukung kelancaran penelitian. Upaya yang dilakukan: (1) merekrut tenaga trampil untuk ditempatkan sebagai enumerator, membantu dalam hal pengumpulan data, mensosialisasi terkait alat uji (kuesioner), (2) merekrut tenaga enumerator yang memiliki kemampuan dasar penggunaan TIK, dan (3) memberikan pelatihan dan arahan terhadap enumerator terkait dalam proses wawancara dan penilaian pada pelaku usaha dalam memanfaatkan komputer. Untuk selanjutnya tenaga enumerator dapat menilai kemampuan pelaku usaha dalam menggunakan beragam aplikasi sarana TIK, dan memahami petunjuk yang tertuang dalam kuesioner. Metode yang dilakukan enumerator dan peneliti di lapangan melalui metode survei, observasi dengan disertai wawancara yaitu: (1) wawancara menggunakan kuesioner, yaitu wawancara terstruktur pada responden dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan, dan (2) melakukan pendalaman data dokumen dari laporan tertulis yang tersedia di instansi setempat Kantor Dinas Koperasi dan UMKM setempat.
Enumurator adalah orang yang melakukan kegiatan enumerasi pencacah satu persatu atau orang yang mengumpulkan data sensus dengan mengunjungi rumah responden yang membantu tugas tim survei dalam kegiatan pencacahan / pengumpulan data.
Berikut sumber data dan teknik pengumpulan data primer data sekunder disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian No Data dan Informasi yang
Ingin Diperoleh Sumber
Data/Informasi Teknik Pengumpulan Data 1 Demografi wilayah Dinas UMKM dan
Koperasi
Kabupaten& Kota Bogor dan Bandung
Studi dokumentasi
2 Data pelaku usaha Dinas UMKM dan Koperasi
Kabupaten& Kota Bogor dan Bandung
Studi dokumentasi
3 Profil individu pelaku
usaha Pelaku usaha Wawancara dan pengisian
kuesioner, FGD, dan Obervasi
Tabel 7 (Lanjutan)
No Data dan Informasi yang
Ingin Diperoleh Sumber
Data/Informasi Teknik Pengumpulan Data
4 Persepsi Pelaku usaha Wawancara dan pengisian
kuesioner, FGD, dan Observasi
5 Kompetensi pelaku usaha Pelaku usaha Wawancara dan pengisian kuesioner, FGD, dan Observasi
6 Dukungan lingkungan
eksternal Pelaku usaha Wawancara dan pengisian kuesioner, FGD, dan Observasi
7 Keberlanjutan usaha Pelaku usaha Wawancarara, pengisian kuesioner,FGD, Observasi
Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari lima variabel utama yaitu variabel terikat dan tingkat kompetensi TIK, keberlanjutan usaha adalah variabel terikat. Variabel bebas terdiri dari tiga sub variabel yaitu profil individu pelaku usaha UMKM, persepsi pelaku usaha, dukungan lingkungan, dan pemanfaatan TIK Variabel bebas (X) terdiri dari:
(1) Profil individu pelaku usaha (X2) adalah ciri-ciri yang melekat dan sumber daya yang dimiliki pada individu pelaku usaha yang membedakan dirinya dengan orang lain, terkait dengan tujuan penelitian, indikator dari karakteristik individu pelaku usaha yang diungkapkan pada penelitian ini adalah: umur, pendidikan formal dan non formal, tingkat kepemilikan sarana teknologi informasi, lama menggunakan sarana. dan motivasi teknologi informasi, kekosmopolitan.
(2) Dukungan lingkungan eksternal terhadap tingkat kompetensi dalam
memanfaatkan TIK adalah faktor pendukung adalah aspek-aspek atau komponen pendukung yang berperan dalam mendorong tingkat kompetensi perilaku pelaku usaha dalam pemanfaatan TIK. Terkait dengan
pemanfaatan TIK implementasi faktor pendukung tersebut adalah; (1) tingkat kualitas pendampingan, (2) tingkat dukungan program pemberdayaan UMKM, (3) ketersediaan akses informasi, (4) infrastruktur.
(3) Persepsi pelaku usaha terhadap pemanfaatan TIK (X.2) adalah pengertian pelaku usaha terhadap pemanfaatan TIK meliputi indikator bagi pelaku usaha UMKM (1) tingkat kesesuaian dengan kebutuhan, (2) kemudahan untuk diaplikasikan, (3) kemudahan untuk dilihat hasilnya, (4) tingkat keuntungan relatif, (5) Kemudahan untuk dicoba
(4) Pemanfaatan TIK adalah (1) tingkat penggunaan sarana TIK untuk diaplikasikan pada aktivitas usaha dan (2) intensitas pengelolaan.
Variabel Terikat (Y) adalah :
(1)Tingkat kompetensi pelaku usaha adalah tingkat kemampuan atau kapasitas pelaku usaha meliputi pengetahuannya, ketrampilan serta sikap
dalam memanfaatkan TIK dalam aktivitas usahanya.
(2)Tingkat keberlanjutan usaha adalah tingkat usaha yang mampu berproduksi secara terus-menerus dan mampu menjual produknya ke pasar secara kontinyu.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas Instrumen
Instrumentasi merupakan proses penyusunan perangkat yang akan digunakan sebagai alat ukur dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini instrument yang akan digunakan adalah berupa kuesioner yang bersifat terbuka dan tertutup. Alat ukur dikatakan valid apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas dimaksudkan untuk menguji kebenaran atau keakuratan alat ukur dan dikatakan andal reliabel kalau dipergunakan berkali kali dalam kondisi yang sama akan memberikan hasil pengukuran yang sama atau sedikit berbeda atau bervariasi. Validitas dan keandalan reliabilitas bisa dilakukan pengujian test (Supranto, 2004). Validitas instrumen bertujuan menguji kebenaran yang terungkap dari suatu sampel validitas internal dan seberapa jauh kebenaran tersebut berlaku untuk bagi suatu populasi yang diselidiki validitas eksternal.
Validitas instrumen penelitian ini difokuskan pada validitas isi (content validity) yang bertujuan untuk menguji dengan jumlah populasi sejumlah 30 orang: lebih lanjut validitas instrumen yaitu: (1) apakah instrumen tersebut mampu mengukur apa yang akan diukur, dan (2) apakah informasi yang dikumpulkan telah sesuai dengan konsep yang digunakan (Kerlinger1990). Untuk membantu memperoleh kebenaran instrument, telah dilakukan uji pakar oleh tiga orang pakar terkait.
Menurut Singarimbun dan Effendi (2009), langkah-langkah pengujian validitas konstrak adalah sebagai berikut:
(1) Mendefinisikan secara operasional konsep yang diukur. Suatu konsep selalu memiliki konstrak. Konstrak tersebut harus dicari dengan berbagai cara berikut ini:
(a)Mencari definisi dan rumusan tentang konsep yang diukur, yang telah ditulis para ahli dalam literatur. Jika sekiranya telah ada rumusan yang cukup operasional untuk digunakan sebagai alat pengukur, maka rumusan tersebut dapat langsung dipakai. Bila rumusan belum operasional, maka tugas peneliti merumuskannya seoperasional mungkin.
(b)Jika di dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi atau rumusan konsep yang akan diukur, maka harus membuat definisi dan rumusan konsep tersebut. Untuk lebih mematangkan definisi dan rumusan tersebut, harus mendiskusikannya dengan para ahli lain. Pendapat para ahli lain ini kemudian disarikan ke dalam bentuk rumusan yang operasional.
(c)Menanyakan langsung kepada calon responden penelitian mengenai aspek-aspek konsep yang akan diukur. Jawaban yang diperoleh, peneliti dapat membuat kerangka konsep dan kemudian menyusun pertanyaan yang operasional.
(2) Melakukan uji coba skala pengukur tersebut sejumlah 30 responden.
(3) Menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi product moment Pearson,yang rumusnya sebagai berikut:
N (∑XY) – (∑X ∑Y) r =
√ [N∑X2 – (∑X)2] [N∑Y2 – (∑Y)2]
Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumen mencerminkan kemampuannya dalam mengukur fenomena atau respons secara konsisten. Menurut Kerlinger (1990). Syarat reliabilitas instrumen adalah stabilitas, ketepatan dan kesahihan. Stabilitas berarti bila menggunakan instrumen yang sama untuk mengukur obyek sebanding berbeda, maka akan diperoleh hasil yang sama atau serupa. Ketepatan berarti hasil pengukuran yang didapat dari instrumen yang merupakan hasil–hasil pengukuran sebenarnya. Kesahihan berarti bebas dari kesalahan pengukuran.
Untuk menguatkan keterandalan instrumen, sebelum melakukan penelitian dilakukan uji coba lapangan terhadap pelaku usaha 30 orang. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji reliabilitas Cronbach Alpha dalam software SPSS 20 dilakukan untuk jenis data interval. Menurut Sugiyono (2005) diuraikan bahwa reliabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yangsatu dengan data instrumen yang dijadikan equivalen, bila korelasi positif dan signifikan, maka instrumen dapat dinyatakan reliabel.
Lokasi pengambilan responden untuk uji validitas dan reliabilitas seperti uraian diatas terletak di tiga wilayah yang terdiri atas 30 responden pelaku usaha UMKM di sektor non pertanian (konveksi dan kerajinan) serta sektor pertanian (olahan pangan) dengan ditunjukkan pada Tabel 8.
Tabel 8 Jumlah Sampel Uji Validitas &Uji Reliabilitas
Wilayah Jenis Usaha Jumlah
Kota Jakarta Timur Olahan Pangan 10
Kota Bekasi Konveksi 10
Kota Depok Kerajinan 10
Total 30
Hasil uji yang dilakukan validitas dan reliabilitas yang dilakukan diluar populasi penelitian yang mempunyai karakteristik yang sama serta kondisi yang sama dengan responden. Hasil uji instrumen terlihat pada Tabel 9.
Keterangan:
r = koefisien korelasi product moment Pearson N=Jumlah pengamatan dari masing-masing variabel X = mean dari variabel X
Y = mean dari variabel Y
Tabel 9 Hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian
Peubah Validitas Reliabilitas Keterangan
Koefisien Korelasi (r-tabel=0.361)
Nilai Cronbach Alpha (0.61-0.80)
Profil pelaku usaha 0.480-0.766 0.71-0.81 Valid dan reliabel Dukungan Lingk.Eksternal 0.393-0.933 0.723-0.762 Valid dan reliabel Persepsi Pelaku usaha 0.365-0.850 0.708-0.764 Valid dan reliabel Pemanfaatan sarana TIK 0.487-0.483 0.768-0.782 Valid dan reliabel Kompetensi 0.419-0.761 0.739-0.761 Valid dan reliabel Keberlanjutan Usaha 0.297-0.834 0.728-0.790 Valid dan reliabel Definisi Operasional dan Pengukuran Peubah Penelitian
Secara rinci konsep dan operasionalisasi tiap variabel dan sub variabel dijelaskan sebagai berikut:
(1) Profil individu pelaku usaha UMKM (X.1) terdiri sebagai berikut:
(a) Umur pelaku usaha (X1.1), adalah masa hidup yang telah dilalui oleh responden diukur berdasarkan masa sejak lahir sampai saat ulang tahun terakhir saat menjadi responden. Menurut Huvigrust umur terbagi dalam 3 kategori. Kriteria pengukuran berdasarkan sebaran data di lapangan, diukur dengan menggunakan skala ratio yang dinyatakan dalam tahun.
Untuk kepentingan analisis deskriptif umur diklasifikasikan dalam empat kategori adalah sebagai berikut:
(1) Remaja (17-25 tahun) (2) Dewasa (26-46 tahun) (3) Lanjut usia (46 >)
(b) Tingkat pendidikan formal (X1.2) adalah rentang waktu responden menempuh jenis pendidikan formal sampai dengan yang tertinggi dan dihitung dalam tahun. Kriteria pengukuran tingkat pendidikan diukur sesuai dengan jenjang pendidikan pada UUD No 20 Tahun 2003 Sisdiknas dengan skala ratio dinyatakan dalam tahun, dan untuk kepentingan analisis deskriptif data pengukuran diklasifikasikan dalam tiga kategori adalah sebagai berikut:
(1) Dasar (0-6 thn)
(2) Menengah (9-12 thn) (3) lanjut (> 13 thn)
(c) Pendidikan non formal (X1.3) adalah frekwensi pendidikan non formal yang diikuti responden. Kriteria pengukurannya diukur berdasarkan berdasarkan sebaran data dilapangan dengan skala ratio jumlah frekwensi pelatihan yang pernah diikuti pelaku usaha dalam setahun, untuk kepentingan analisis deskriptif data pengukuran diklasifikasikan dalam tiga kategori adalah sebagai berikut:
(1)Jarang ( < 3)
(2)Sedang (3-5 ) (3)Sering ( >5 )
(d) Lamanya penggunaan TIK (X1.4) adalah rentang waktu pelaku usaha telah menggunakan sarana atau alat TIK untuk akses informasi pada aktivitas usaha sampai saat wawancara dilakukan, kriteria pengukuran berdasarkan sebaran data di lapangan, diukur dengan lamanya waktu pelaku usaha telah memanfaatkan sarana alat TIK, menggunakan skala ratio dengan satu parameter pertanyaan untuk kepentingan analisis deskriptif diklasifikasikan menjadi tiga kategori dengan kriteria berdasarkan sebaran di lapangan sebagai berikut:
(1) Sangat lama (> 17 tahun) (2) Lama (6 –17 tahun) (3) Belum Lama (< 5 tahun)
(f) Kepemilikan TIK (X1.5) adalah sarana prasarana TIK yang sudah
(f) Kepemilikan TIK (X1.5) adalah sarana prasarana TIK yang sudah