• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN DAS Bekasi Bagian Hilir

SURVEI CEPAT TERINTEGRASI UNTUK PEMANTAUAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGATASI BANJIR DI SUNGAI BEKASI

HASIL DAN PEMBAHASAN DAS Bekasi Bagian Hilir

Kombinasi pendekatan spasial, kelingkungan, dan kompleks wilayah yang dapat ditafsirkan dari peta rupabumi, citra penginderaan jauh multi resolusi yang tersedia, peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bekasi dan RTRW Kota Bekasi, serta menyusuri sebagian Sungai Bekasi Bagian Hilir, dideskripsikan secara terperinci dimulai dari DAS Bekasi bagian hilir yang mengalami banjir. Nugratama (2013) melaporkan bahwa berdasarkan data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung, Kementerian Kehutanan, kondisi DAS Bekasi semakin rusak. Ini terlihat dari debit minimum dan maksimal sungai yang lebih dari 50 kali lipat. Hasil penelitian BPDAS Citarum-Ciliwung 2005-2006, debit maksimal rata-rata Sungai Bekasi 254,9 m3/detik, sedangkan debit minimum 1,3 m3/detik. Pada 2007, dari total luas DAS Bekasi 134.568 ha, sebanyak 41.740 h sudah berubah menjadi permukiman, terutama di daerah tengah dan hilir.

Komponen Abiotik: Bentuklahan Sepanjang Sungai Bekasi Hilir

Ditinjau dari bentuklahan, Sungai Bekasi sebagai bagian DAS hilir merupakan meander sungai, dataran banjir, tanggul alam dan rawa belakang. Survei susur sungai menggunakan perahu karet dimulai pada lokasi setelah bendung Bekasi ke arah hilir. Lebar sungai di

atas permukaan air pada saat survei sekitar 20 meter. Masih banyak sisa-sisa sampah organik dan plastik yang tersangkut di pohon dan semak sepanjang sungai, yang dapat digunakan sebagai indikator tingginya air sungai pada saat banjir yang meluap di bantaran sungai. Pada beberapa lokasi ditemukan tebing sungai yang longsor, sementara di sisi yang lain terjadi sedimentasi yang berkembang menjadi dataran banjir.

Komponen Biotik: Dinamika Penutup Lahan Bervegetasi dan Non Vegetasi

Citra penginderaan jauh merekam penutup lahan yang mencerminkan kondisi vegetasi dan non vegetasi sesuai dengan waktu perekamannya. Kondisi vegetasi di sepanjang Sungai Bekasi Hilir boleh dikatakan tinggal sisa-sisa vegetasi alami. Vegetasi di sepanjang sungai yang tersisa berupa pohon-pohon besar yang cukup kuat akarnya, yang mampu menahan erosi air sungai. Rumpun bambu jarang dijumpai di sepanjang sungai. Penduduk yang tinggal di sepanjang sungai mengatakan bahwa bambu tidak cukup kuat menahan erosi sungai.

Beberapa bangunan turap telah didirikan pada lokasi-lokasi yang mengalami erosi sungai dan banjir dengan tujuan untuk melindungi permukiman yang ada di sekitar bantaran sungai. Beberapa tanah longsor masih dijumpai di tebing-tebing sungai, dan masih nampak jelas rumah-rumah yang fondasinya terancam longsor, seperti terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Rumah terancam longsor.

Komponen Budaya: Berkembangnya Pemukiman Sepanjang Sungai

Sejauh ini, masyarakat yang tinggal di sekitar sungai masih membuang sampah di sepanjang bantaran sungai. Kesadaran dari masyarakat akan bahaya membuang sampah ke sungai memang telah tumbuh meskipun jumlahnya masih sangat sedikit. Bentuk kepedulian ini diwujudkan antara lain dengan pemberian pengganti ongkos memisahkan plastik dan sampah lainnya kepada pemulung sebelum dibuang ke bantaran sungai.

Namun demikian, sampah yang dibuang ke sungai tidak hanya berasal dari penduduk yang tinggal di sepanjang sungai, tetapi juga berasal dari perumahan yang jauh dari sungai. Sampah dari perumahan diangkut dengan gerobak ataupun truk. Para pemulung telah dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang dengan memungut sampah yang bisa didaur ulang dan membakar sampah. Namun jumlahnya masih sangat sedikit dibanding volume sampah secara keseluruhan terlihat dari gundukan sampah yang ada di tepi sungai. Sebagian besar sampah berupa sampah plastik yang tak mudah terurai dan mengalir ke sungai. Sejauh ini belum ada kelompok-kelompok peduli lingkungan seperti yang telah berkembang di sepanjang Sungai Ciliwung. Demikian juga dengan tokoh masyarakat seperti Bang Idin yang mengelola Sungai Pasanggrahan dengan melestarikan dan mengembangkan kearifan lokal.

Meskipun masyarakat masih membuang sampah ke sungai, masyarakat lokal, terutama yang tinggal di bantaran sungai tersebut juga telah memiliki kesadaran tentang risiko banjir. Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa banjir yang terjadi diawali dengan naiknya permukaan sungai melebihi kebiasaannya. Pada batas tertentu, ketika air mendekati halaman rumahnya yang menghadap ke sungai, penduduk mulai mengungsi ke rumah orang tua, saudara, atau tetangga yang lokasinya lebih tinggi. Memang pada awal pertumbuhan permukiman penduduk asli lokasinya lebih tinggi dan agak jauh dari sungai. Namun dengan bertambahnya penduduk, keturunan mereka terpaksa membuat rumah lebih mendekati sungai. Demikian juga pendatang, mereka membuat rumah bertingkat dua dengan pintu menghadap ke sungai dan membelakangi sungai.

Sebagai masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai, perahu tambang menjadi salah satu alat untuk penyeberangan dari satu sisi sungai ke sisi yang lain. Beberapa dari perahu tersebut rusak karena terkena banjir, seperti yang tersaji pada Gambar 3.

Dengan kebutuhan perumahan yang semakin meningkat, pengembang perumahan mencari lahan yang relatif lebih murah, diantaranya adalah lahan di sekitar sempadan sungai. Padahal sempadan sungai di kiri-kanan sungai sebaiknya tidak digunakan untuk permukiman. Namun kenyataannya, pengembang perumahan masih terus membuka lahan baru di sempadan Sungai Bekasi seperti yang terlihat pada peta citra Gambar 4. Dari peta citra tersebut menunjukkan beberapa penggunaan lahan yang dijumpai di sempadan Sungai Bekasi bagian hilir yang berbentuk meander yang rawan banjir dan erosi.

Pada saat susur sungai dan survei lapangan, antara lain teridentifikasi adanya tanggul alam lebih ditinggikan dengan menguruknya dengan tanah di sekitarnya (Gambar 5 dan 6). Disamping itu, masih ditambah lagi tembok pemisah antara tanggul alam yang ditinggikan tersebut dengan areal permukiman yang sedang dibangun. Beberapa rumah juga sudah mulai dibangun. Namun sepintas perumahan ini masih rawan banjir dan akan menanggung risiko banjir di kemudian hari. Informasi yang diperoleh dari penggarap bangunan menyatakan bahwa lokasi tersebut dulunya rawa, yang kemudian dikeringkan. Sedangkan pihak pengembang mengatakan bahwa daerah tersebut dulunya berupa kebun. Perumahan yang sedang dibangun ini di masa yang akan datang mempunyai risiko banjir yang tinggi, baik dari luapan Sungai Bekasi, atau genangan air akibat hujan lokal.

Gambar 3. Perahu tambang yang tertimbun akibat banjir yang terjadi 2013.

Pada kondisi tersebut di atas, jika tanggul yang dibangun tidak kuat menahan terjangan banjir, maka akan memperparah risiko banjir. Lokasi perumahan tersebut merupakan rawa belakang (backswamp) yang biasa dijumpai di belakang tanggul alam sepanjang sungai yang bermeander. Peristiwa tanggul jebol yang memperparah dampak banjir dapat terulang lagi dan dapat terjadi di tempat lain. Kualitas tanggul,

penga-Survei Cepat Terintegrasi Untuk Pemantauan...(Poniman, A., dkk.)

perlu mendapat perhatian khusus. Mitigasi banjir sebagai upaya untuk mengurangi risiko banjir perlu ditempuh melalui langkah-langkah yang dipikirkan secara matang melalui skenario dampak penggunaan lahan di daerah perkotaan terhadap risiko banjir (Barredo & Engelen, 2010)

Dari hasil survei langsung di lapangan yang dilengkapi dengan informasi geospasial berbasis citra penginderaan jauh, dapat menimbulkan inspirasi untuk

mengembangkan dan menghubungkan pemikiran-pemikiran baru untuk mengatasi banjir. Sebagai contoh, Huang (2012), mengembangkan konsep “From

confining to sharing for sustainable flood management”. Huang mengembangkan konsep berbagi banjir melalui pengurangan kedalaman banjir, dan memperluas areal banjir, dengan mengembangkan atau mengoptimalkan infrastruktur multiguna.

Gambar 4. Sungai Bekasi Hilir dengan meander dan rawa belakang (backswamp) yang rawan banjir dan erosi mulai dimanfaatkan untuk permukiman, yang sebenarnya lebih cocok untuk lahan pertanian.

Gambar 5. Perumahan yang sedang dibangun

berbatasan langsung dengan Kali Bekasi.

Gambar 6.Tanggul untuk menahan aliran dari sungai.

Cara lain dapat juga mengadopsi kearifan lokal berkaitan dengan sungai yang telah dimiliki beberapa daerah di Indonesia. Sebagai contoh, masyarakat Banjar yang tinggal di Banjarmasin dan sekitarnya, telah biasa hidup dengan budaya sungai, pasang surut, rawa dan banjir. Hanya saja untuk mengadopsi budaya yang ada atau mengembangkan budaya baru berbasis inovasi untuk hidup bersama banjir tidaklah mudah, namun bukan berarti tidak mungkin dilakukan, kalau memang tidak ada alternatif lain yang lebih baik. Marfa”i (2012) telah memulai mengenali kearifan lokal dengan pendekatan geografis, yang tentu berguna untuk pengembangan atau adopsi untuk daerah lain. DAS Hulu dan Tengah: Aliran Permukaan Meningkat Akibat Bertambahnya Penutup Lahan Non Vegetasi

Dalam penelitian ini, pengamatan pada DAS Bekasi Hulu dan Tengah yang difokuskan pada Sub DAS Cikeas menunjukkan bahwa penggunaan lahan di wilayah ini telah mengalami banyak perubahan. Curah hujan yang tinggi dan bertambahnya penutup lahan non vegetasi menyebabkan peningkatan aliran permukaan. Kondisi tersebut menyebabkan debit air sungai meningkat sehingga banjir menjadi lebih sering terjadi dengan frekuensi, keluasan, dan ketinggian

banjir yang semakin parah pada DAS Bekasi Hilir. Bahkan banjir juga meluas ke wilayah DKI Jakarta.

Disamping karena perubahan penutup lahan dari lahan bervegetasi hutan menjadi lahan non vegetasi, banyak ahli menyatakan bahwa telah terjadi kecenderungan global, yaitu perubahan iklim sebagai dampak pemanasan global. Peningkatan frekuensi dan keluasan banjir ternyata juga terjadi di Amerika Serikat (Gilles, Young, Schroeder, Piotrowski, & Chang, 2012), Eropa, Jepang dan berbagai negara lainnya (Huang, 2012).

Permukiman dan penggunaan lahan lainnya di sepanjang bantaran Sungai Cikeas juga semakin meningkat. Banyaknya permukiman baru dan penggunaan lainnya perlu diimbangi dengan upaya penerapan Zero Delta Q Policy untuk menghambat peningkatan besaran debit banjir. Prinsip ini dimaksudkan sebagai suatu kebijakan untuk mempertahankan besaran debit banjir supaya tidak bertambah dari waktu ke waktu (Anshori, 2010). Dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional telah diatur keharusan agar tiap bangunan tidak boleh mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai. Beberapa teknik atau metode yang dapat digunakan untuk menerapkan prinsip Zero Delta Q Policy ini antara lain dengan membuat areal resapan air hujan, lubang resapan biopori, modifikasi lansekap, penampungan air hujan, rain garden, sumur injeksi, dan sumur resapan.

Salah satu penggunaan lahan yang berwawasan

lingkungan yang dapat dijadikan percontohan, yaitu wisata kuliner di sempadan Sungai Cikeas, Sentul yang dikombinasikan dengan Ecoartpark. Sungai juga dibendung, sehingga dapat digunakan untuk wisata air, sekaligus dapat mengurangi penambahan debit sungai di bawahnya secara cepat pada waktu terjadi banjir. Kolam pemancingan yang banyak diminati penduduk merupakan penggunaan lahan yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai upaya mengurangi aliran permukaan dan menambah infiltrasi air kedalam tanah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil survei cepat penginderaan jauh terintegrasi untuk mengatasi bencana banjir di Sungai Bekasi dapatdisampaikan kesimpulan bahwa metode survei penginderaan jauh cepat terintegrasi dapat dilaksanakan dengan standar dan fleksibilitas sesuai dengan kondisi daerah survei dengan memanfaatkan data dan informasi geospasial yang tersedia pada situs web http://.tanahair.indonesia.go.id. Selanjutnya, hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman kondisi geografi dalam mengatasi banjir dengan pendekatan lingkungan, kewilayahan, dan keruangan.

Selain itu, wilayah sepanjang bantaran Sungai Bekasi sebagai bagian dari DAS Bekasi Hilir sebagian besar telah digunakan untuk berbagai penggunaan lahan non vegetatif. DAS Cikeas merupakan lahan

berubah menjadi non vegetatif. Sebagai bagian dari DAS Bekasi, DAS Cikeas telah memberikan kontribusi pada meningkatnya kejadian banjir karena meningkatnya aliran permukaan yang memperbesar debit air.

Saran

Untuk lebih memberikan hasil yang bersifat kuantitatif, disarankan untuk (1) menambahkan survei penginderaan jauh, misalnya dengan menggunakan sensor 6 kamera, yang dipasang pada perahu karet untuk memperoleh data kondisi sempadan sepanjang sungai secara kuantitatif; dan (2) untuk mengetahui ketinggian dari permukaan sungai yang lebih teliti, dapat ditambahkan survei penginderaan jauh Lidar. Dengan demikian dampak banjir akan dapat dipetakan dengan lebih teliti.

Untuk mengontrol perubahan penggunaan lahan di sepanjang bantaran sungai disarankan untuk: (1) menerapkan moratorium izin baru pembangunan sepanjang sempadan Sungai Bekasi; (2) melakukan evaluasi penggunaan lahan yang ada berbasis RTRW Kabupaten dan RTRW Kota. Beberapa alternatif kebijakan yang dapat ditempuh: (a) pembongkaran bangunan sepanjang bantaran Sungai Bekasi; (b) memperkuat tanggul pengaman untuk perumahan yang telah memiliki izin mendirikan bangunan; (c) memperbaiki tata kelola air sepanjang sungai Bekasi dan Sungai Cikeas khususnya, DAS Bekasi pada umumnya; (d) pengembangan budaya lokal adaptasi terhadap banjir, antara lain kolam pemancingan, kolam ikan, menanam pohon rambutan di setiap rumah; (e) kombinasi keempat alternatif; (f) studi banding pengembangan wilayah berbasis tata kelola air dan kearifan lokal -- yang pernah ada atau yang masih eksis – baik di Indonesia maupun di luar negeri (khususnya di Asia Tenggara).

Untuk mengurangi dampak perubahan penggunaan lahan di DAS Cikeas disarankan untuk (1) mempertahankan permukiman dengan kebun buah-buahan yang masih ada pada bagian DAS tengah dan hulu dan dikombinasikan dengan sistem terminal air, sumur resapan, kolam ikan/pemancingan, dan biopori; (2) mengembangkan wisata alam yang dikombinasikan dengan wisata kuliner dan ecoartpark seperti yang telah ada dengan inovasi sistem pengelolaan air yang lebih baik; (3) menerapkan prinsip Zero Delta Q Policy dalam pengelolaan sumber daya air dalam DAS harus terimplementasi dalam dinamika penutup lahan dan penggunaan lahan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapkan terima kasih disampaikan kepada Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Deputi Informasi Geospasial Tematik dan Kepala Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Ekspedisi Geografi Indonesia 2013. Demikian juga kepada tim survei susur sungai dari UNISMA dan survei lapangan di darat dan wawancara yang telah bersama-sama

Survei Cepat Terintegrasi Untuk Pemantauan...(Poniman, A., dkk.)

kepada para responden yang telah memberikan informasi pada saat wawancara.

DAFTAR PUSTAKA

Anshori, I. (2010). Konsepsi Pengelolaan Sumber

Daya Air Menyeluruh dan Terpadu. Dewan Sumber

Daya Air Nasional. Diakses dari http://dsdan.go.id/ [25 Maret 2013]

Bakosurtanal - Puspics. (2001). Pedoman Survei

Cepat Terintegrasi, Inventarisasi Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir. Bakosurtanal. Cibinong, Bogor.

Barredo, J. I., & Engelen, G. (2010). Land Use Scenario Modeling for Flood Risk Mitigation.

Sustainability, 2(5), 1327–1344. doi:10.3390/su2051327

Danoedoro, P. (2009). Land-use Information from the

Satellite Imagery: Versatility and Contents for Local Physical Planning. Lambert Academic Publishing

AG & Co. KG.

Gilles, D., Young, N., Schroeder, H., Piotrowski, J., & Chang, Y.-J. (2012). Inundation Mapping Initiatives of the Iowa Flood Center: Statewide Coverage and Detailed Urban Flooding Analysis. Water. 4(4), 85– 106. doi:10.3390/w4010085

Gunawan, T. (2005). Pedoman Survei Cepat

Terintegrasi Wilayah Kepesisiran. Pusat Survei

Sumber Daya Alam Bakosurtanal-Puspics UGM. Bogor.

Huang, G. (2012). From Confining to Sharing for Sustainable Flood Management. Sustainability. 4(12), 1397–1411. doi:10.3390/su4071397

Marfa‟i, A. (2012). Pengantar Etika Lingkungan dan

Kearifan Lokal. Gadjah Mada Univ. Press.

Yogyakarta.

Nugratama, S. (2013). Selamatkan Banjir Bekasi. Radar Bekasi.

Othman, A., & Gloaguen, R. (2013). River Courses Affected by Landslides and Implications for Hazard Assessment: A High Resolution Remote Sensing Case Study in NE Iraq–W Iran. Remote Sensing. 5(3), 1024–1044. doi:10.3390/rs5031024

Schuetze, T., & Chelleri, L. (2013). Integrating Decentralized Rainwater Management in Urban Planning and Design: Flood Resilient and Sustainable Water Management Using the Example of Coastal Cities in The Netherlands and Taiwan.

Water. 5(2), 593–616. doi:10.3390/w5020593. Zhang, H., Ma, W., & Wang, X. (2008). Rapid

Urbanization and Implications for Flood Risk Management in Hinterland of the Pearl River Delta.