• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Diseminasi Informasi Ilmiah

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional (Halaman 124-130)

LITERASI INFORMASI

DISEMINASI INFORMASI ILMIAH PERGURUAN TINGGI BAGI PENGEMBANGAN MASYARAKAT

C. HASIL DAN PEMBAHASAN Diseminasi Informasi Ilmiah

Diseminasi informasi merupakan suatu kegiatan inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola serta ditujukan kepada masyarakat baik secara kelompok maupun individu agar memperoleh informasi, timbul

120

kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Sedangkan Informasi ilmiah merupakan rekaman informasi yang dirancang secara khusus atau yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan ilmiah dan penelitian untuk mengembangkan dunia pengetahuan dan teknologi.

Informasi ilmiah sangat penting bagi masyarakat, perannya akan berpengaruh bagi kemajuan suatu bangsa menurut Rifki Ismal (2016), yaitu (1) Informasi ilmiah membantu pengambilan keputusan manajemen bahkan negara; (2) Informasi ilmiah adalah dasar pengembangan ilmu dan teknologi; (3) Informasi Ilmiah menunjukkan intelektualitas seorang bahkan bangsa dan Negara; (4) Informasi Ilmiah mengatasi masalah ekonomi yang dihadapi. Pentingnya informasi ilmiah ini akan memacu pengembangan di masyarakat, baik untuk meningkatkan taraf hidup, permasalahan sosial, dan lainnya.

Pustakawan di Perguruan Tinggi

Saat ini, informasi ilmiah sudah semakin berkembang terutama di kalangan perguruan tinggi di Indonesia. Jumlah perguruan tinggi di Indonesia pun jumlahnya cukup banyak, yakni dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini (Pangkalan Data Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, 2016) :

121 Tabel 3.1

Rekap Nasional Semester 2016/2017 Ganjil

Perguruan Tinggi Dosen

Negeri Swasta Total Negeri Swasta Total

PT 122 3.129 3.251 71.037 160.024 231.061

PTA 77 980 1.057 11.878 9.887 21.765

PTK 204 0 204 9.518 0 9.518

Total 403 4.109 4.512 92.433 169.911 262.344 Keterangan :

*PT aktif

*Mahasiswa aktif dan cuti (jenjang Diploma dan S1)

*Dosen aktif, cuti, izin belajar, tugas di Instansi lain dan tugas belajar PT

= semua perguruan tinggi di bawah dikti (PT Umum) PTA

= perguruan tinggi agama di bawah kementerian agama PTK

= perguruan tinggi kedinasan, semua selain dikti dan kementerian agama Grafik 3.1

Grafik Jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia

122

Pada Tabel 3.1 terlihat bahwa terdapat 262.344 perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sebanyak 92.433 merupakan perguruan tinggi negeri dan 169.911 merupakan perguruan tinggi swasta. Sedangkan pada Grafik 3.1 jumlah perguruan tinggi sesuai dengan jenisnya yaitu terdapat 1.108 PT akademi, 246 politeknik, 2.436 sekolah tinggi, 142 institut, dan 575 universitas. Dari banyaknya perguruan tinggi ini terlihat bahwa potensi perkembangan informasi ilmiah akan semakin berkembang seiring berjalannya waktu.

Perguruan tinggi di Indonesia idealnya memiliki pustakawan yang mengelola dan mengemas berbagai informasi ilmiah tiap harinya. Menurut undang-undang perpustakaan No. 43 tahun 2007, disebutkan bahwa pustakawan adalah seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan (Republik Indonesia, 2007). Pustakawan dituntut untuk menjadi kurator buku dan bahan-bahan informasi lainnya yang memberikan layanan kepada pemustaka dalam mengakses informasi, salah satunya informasi ilmiah.

Jumlah pustakawan di perguruan tinggi saat ini dapat dilihat pada Tabel 3.2 di bawah ini (Perpusnas RI, 2016) :

Tabel 3.2

Jumlah Pustakawan Perguruan Tinggi per Desember 2016 Pustakawan Perguruan Tinggi

Pelaksana 94

Lanjutan 153

Penyelia 221

Pertama 257

Muda 332

123

Madya 267

Utama 9

TOTAL 1.333

Dari Tabel 3.2 terlihat bahwa perguruan tinggi di Indonesia memiliki 1.333 pustakawan dengan berbagai level. Pustakawan ini dituntut untuk ikut berkontribusi dalam menyebarkan informasi hasil penelitian dengan cara melakukan kemas ulang informasi yang diawali dengan profiling pemustakanya terlebih dahulu. Pustakawan juga harus mendampingi penelitian dengan tujuan mendokumentasikan dan mendesiminasikan informasi hasil penelitian.

Diseminasi Informasi Ilmiah bagi Masyarakat

Keberadaan ‘masyarakat informasi’ saat terlihat bahwa kegiatan mencari, mengumpulkan dan menggunakan informasi sudah menjadi kegiatan utama di dalam masyarakat yang menjadikan kompetensi informasi menjadi bekal hidup yang utama. Sebelum melakukan suatu diseminasi ke masyarakat, pustakawan harus merubah mindset dan keluar dari zona nyamannya. Kita mengetahui bahwa setiap orang mempunyai zona nyamannya sendiri dan hal ini akan menjadi persoalan ketika daerah nyamanya tersebut tersentuh oleh suatu perubahan. Padahal zona nyaman tersebut suatu saat akan menjadi usang karena sudah tidak sesuai dengan kondisi di sekitar kita sehingga ketika kita tidak melakukan perubahan, maka zona nyaman kita tidak akan mempunyai makna lagi. Oleh karena itu, implementasi diseminasi informasi ilmiah dengan menggunakan berbagai metode baru yang terkini, pustakawan harus mulai untuk bergerak dalam melakukan perubahan paradigma tersebut.

Peran baru pustakawan dalam perkembangan teknologi informasi saat ini tidak lepas dari kemauan pustakawan untuk dapat melayani pemustaka walaupun dengan kemampuan terbatas tidak seperti halnya seorang ahli komputer. Komitmen ini merupakan tanggungjawab seorang pustakawan dalam berperan serta mendukung teknologi karena semua orang yang bekerja di perpustakaan adalah bagian dari revolusi teknologi, suka atau tidak semua lini pekerjaan akan menerima dampak dari perubahan paradigm ini (Gondon, 2003).

The Special Library Association (SLA) (Nugrohoadhi, 2013), memberikan daftar kompetensi pustakawan baik pustakawan akademis, umum ataupun perpustakaan khusus, di antaranya adalah :

1. Memiliki pengetahuan tentang evaluasi dan sumber daya memilih informasi.

2. Memiliki pengetahuan subyek khusus.

3. Memberikan layanan prima, dapat diakses dan layanan informasi yang efektif.

4. Memberikan instruksi yang jelas dan membantu pemustaka.

Kompetensi yang dimiliki oleh pustakawan harus terus dikembangkan demi pengelolaan informasi yang lebih baik, salah satunya yaitu mendiseminasikan informasi ilmiah. Pelaksanaan diseminasi informasi ilmiah kepada masyarakat ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik pegawai internal perpustakaan maupun pengambil kebijakan yaitu pimpinan universitas, seperti ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) universitas dan pimpinan universitas (rektor). Pelaksana diseminasi informasi ilmiah juga diperankan oleh sumber daya manusia yang berkompeten, anggaran tercukupi dan sarana prasarana yang memadai.

Hasil dari diseminasi ini nantinya adalah pemanfaatan hasil penelitian, dan implementasi hasil penelitian berupa program pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan tujuan awal perencanaan program kegiatan.

Misalnya, membuka peluang usaha untuk koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) yang berbasis kearifan lokal.

124 Peran Pustakawan terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi

Setiap Perguruan Tinggi diberikan amanah untuk mencerdaskan bangsa melalui tri dharma yang dirancang untuk dilaksanakan oleh setiap lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Tujuan tri dharma ini untuk dapat tercapai jika civitas akademiknya mempunyai peran dan berkontribusi nyata untuk mewujudkannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, salah satunya seorang pustakawan. Untuk mencapai tujuan tri dharma perguruan tinggi, pustakawan dapat menunjukkan dan meningkatkan perannya dengan cara sebagai berikut (Nashihuddin, 2016) :

1. Kegiatan bidang pendidikan dan pengajaran

Pustakawan dapat berkontribusi melalui kegiatan literasi informasi perpustakaan di perguruan tinggi, seperti pendidikan pemakai (user education), bimbingan pemakai perpustakaan, bimbingan penelusuran informasi ilmiah global, dan menjadi teacher librarian di lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat umum yang membutuhkan jasa pustakawan.

2. Kegiatan bidang penelitian dan pengembangan

Pustakawan dapat berkontribusi melalui kegiatan penelitian dasar kepustakawanan (evidence based research of librarianship), pengajuan proposal hibah kepustakawanan yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi atau melalui sponsorship, dan berkolaborasi dengan dosen/peneliti perguruan tinggi dalam kegiatan penelitian di masyarakat. Kegiatan ini memang perlu upaya keras dan cerdas dari pustakawan karena kegiatan riset bagi pustakawan di perguruan tinggi sangat terbatas.

3. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat

Pustakawan dengan peneliti dapat berkontribusi aktif melalui kegiatan diseminasi informasi hasil penelitian perguruan tinggi ke masyarakat. Pustakawan harus menjalin kerjasama dengan pihak LPPM Universitas agar dapat terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, seperti berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat melalui program pengembangan minat baca masyarakat, literasi informasi, pembinaan perpustakaan masyarakat, atau melalui program diseminasi informasi ilmiah ke masyarakat.

Ketiga tri dharma tersebut diharapkan adanya peran pustakawan perguruan tinggi yang lebih nyata, khususnya dalam hal pemanfaatan informasi ilmiah perguruan tinggi untuk pemberdayaan masyarakat.

Persiapan Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ilmiah ke Masyarakat

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan apabila pustakawan akan melakukan diseminasi informasi ilmiah bagi masyarakat. Beberapa persiapan tersebut (Nashihuddin, 2016), yaitu sebagai berikut :

1. Identifikasi kebutuhan informasi potensial masyarakat setempat.

Pustakawan dan pihak-pihak lain yang terlibat kegiatan diseminasi informasi ilmiah melakukan survei dan observasi ke daerah. Hal tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan informasi potensial masyarakat. Hal-hal yang perlu diidentifikasi dalam kegiatan survei, minimal mencakup potensi dan sumber daya ekonomi daerah, budaya, dan karakteristik masyarakat setempat. Namun, sebelum melakukan tinjauan lapangan, pustakawan perlu menyeleksi hasil-hasil penelitian universitas yang relevan dengan potensi dan sumber daya di daerah agar dapat diadopsi dan diterapkan secara tepat guna oleh masyarakat. Pustakawan perlu melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang membantu terselenggaranya program diserminasi informasi ilmiah di daerah. Pihak-pihak di daerah yang dimaksud adalah pimpinan atau kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD); Badan Pembangunan Daerah (Bapeda), Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda); Sekretariat Daerah (Sekda), dan/atau perguruan tinggi di daerah setempat.

2. Mengecek secara keseluruhan kesiapan sumber daya organisasi

125

Kesiapan ini mencakup petugas (SDM), anggaran, sarana-prasarana, dan bahan promosi kegiatan diseminasi informasi ilmiah bagi masyarakat. Untuk memastikan kesiapan sumber daya organisasi, pustakawan perlu melakukan koordinasi internal secara matang dengan pihak perpustakaan dan lembaga induknya, khususnya dengan LPPM universitas dan pimpinan universitas.

3. Promosi hasil penelitian perguruan tinggi melalui media sosial online

Pustakawan perlu melakukan seleksi terhadap hasil-hasil penelitian yang relevan dengan kebutuhan informasi masyarakat/daerah terlebih dahulu sebelum dipromosikan melalui jejaring media sosial online, seperti Facebook dan Twitter. Dalam proses seleksi karya hasil penelitian, pustakawan dapat menetapkan kriteria sebagai berikut : (a) karya mutakhir (hasil penelitian memiliki nilai iptek yang tinggi dan sedang dicari/dibutuhkan masyarakat); (b) hasil penelitian dapat diterapkan menggunakan teknologi sederhana; dan (c) hasil penelitian memiliki potensi positif dalam perbaikan kehidupan sosial masyarakat.

4. Pembuatan kesepakatan kerjasama kegiatan diseminasi informasi ilmiah bagi masyarakat

Setelah pustakawan mengidentifikasi kebutuhan informasi potensial masyarakat serta menyiapkan sumber daya organisasi dan bahan promosi, langkah berikutnya adalah melakukan dan membuat kesepakatan (agreement) kerjasama dengan daerah. Hal yang perlu diingat pustakawan adalah “perpustakaan dan perguruan tinggi adalah mitra kerja masyarakat”, artinya bahwa perpustakaan dan perguruan tinggi harus mampu memberdayakan masyarakat melalui program inovasi hasil penelitian.

5. Pelaksanaan dan evaluasi kegiatan diseminasi informasi ilmiah bagi masyarakat

Setelah ada kesepakatan kerjasama dengan pihak masyarakat/daerah, tahap terakhir adalah pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Pelaksanaan kegiatan diseminasi informasi ilmiah harus dikemas dalam konsep yang menarik dan interaktif, serta terbuka bagi siapapun untuk menyampaikan ide dan gagasannya untuk berinovasi dalam pelaksanaan kegiatan.

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional (Halaman 124-130)