Rata-Rata Realisasi Kredit Usaha Rakyat Pada Sektor Agribisnis Pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran
Nasabah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nasabah yang masih aktif sebagai penerima KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang ada pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran dan melakukan usaha dalam sektor agribisnis (subsistem hulu, subsistem on farm dan subsistem hilir dan pemasaran).
Karakteristik dalam penelitian ini yang diduga berpengaruh terhadap realisasi KUR diidentifikasikan berdasarkan prinsip 5’C yaitu character, capacity dan collateral.
Rata-rata Realisasi KUR menurut Variabel Character
Nasabah yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah debitur KUR Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran yang berjumlah 40 orang yang memiliki usaha pada sektor agribisnis dan berdomisili di wilayah kerja Bogor Pajajaran. Karakter Nasabah yang dianalisis dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa variabel yaitu usia debitur, pendidikan debitur dan jumlah tanggungan dalam keluarga.
a) Usia
Proses realisasi KUR memperhatikan banyak faktor, salah satunya adalah faktor usia nasabah. Usia memengaruhi kematangan berpikir dan kebijakan serta sikap seseorang dalam mengambil keputusan dan bertindak, karena dianggap dengan semakin bertambahnya usia biasanya pengalaman hidup semakin banyak dalam memecahkan suatu permasalahan. Peningkatan usia juga dapat meningkatkan pengalaman dalam mengelola dan menjalankan usaha, sehingga dapat menjamin keberhasilan usaha yang dijalankan. Pada tingkatan usia yang tinggi dianggap memiliki tanggungjawab jawab yang besar khususnya dalam melunasi pinjaman di bank.
Nasabah penerima Kredit Usaha Rakyat pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran berada pada usia antara 22 - 50 tahun. Berdasarkan Tabel 5, secara keseluruhan diketahui bahwa proporsi terbesar responden yang menerima KUR pada Bank Mandiri berada pada kisaran usia 41-50 tahun, yakni berjumlah 18 orang. Persyaratan pengajuan KUR sendiri memiliki batasan usia yang ditetapkan yaitu usia minimal 21 tahun sedangkan batas maksimal yaitu pembiayaan harus lunas sebelum usia 55 tahun.
Dilihat dari persentase realisasi kredit yang disalurkan, kelompok usia 41 sampai 50 tahun memiliki proporsi persentase realisasi kredit yang paling besar dibandingkan dengan kelompok usia lainnya yaitu 45 persen. Namun rata-rata realisasi KUR paling besar berada pada kelompok usia 31 sampai 40 tahun yaitu sebesar 52 juta rupiah. Dilihat dari jumlah responden debitur, semakin tua usia nasabah maka semakin banyak jumlah debitur yang kreditnya direalisasikan pihakBank. Hal ini menunjukkan bahwa usia nasabah menjadi salah satu faktor bagi pihak Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran yang dapat menentukan besarnya realisasi KUR yang diberikan.
Tabel 5 Rata-rata realisasi KUR menurut usia nasabah tahun 2016
Seluruh responden Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran berada pada usia yang produktif yaitu usia 22 - 50 tahun. Usia yang masih terlalu muda dikhawatirkan belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menjalankan usaha, sedangkan nasabah dengan usia yang sudah melewati batas produktif juga dikhawatirkan akan kurang mampu lagi menjalankan usahanya. Nasabah yang memiliki umur produktif dipertimbangkan sudah memiliki pengalaman usaha dan pengetahuan yang cukup dalam menjalankan usahanya sehingga dengan diberikan tambahan modal akan dapat semakin memajukan usahanya. Usia nasabah juga dapat mempengaruhi keberanian pengusaha untuk mengambil keputusan secara rasional karena peningkatan usia pada umumnya akan meningkatkan kematangan pola pikir dalam memanfaatkan kredit yang diterimanya.
b) Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator dalam realisasi KUR.
Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin luas wawasan dan kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan usahanya menjadi semakin baik. Karakteristik tingkat pendidikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pendidikan akhir nasabah pinjaman KUR. Tabel 6 menunjukkan proporsi tingkat pendidikan debitur KUR Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran. Proporsi terbesar penerima KUR adalah debitur dengan latar belakang pendidikan SLTA yang berjumlah 17 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa pada kenyataannya pihak Bank Mandiri Mitra Usaha Bogor Pajajaran memperhatikan latar belakang tingkat pendidikan dari setiap calon nasabahnya.
Tabel 6 Rata-rata realisasi KUR menurut tingkat pendidikan nasabah tahun 2016 Pendidikan Jumlah responden
Secara deskriptif jika dilihat dari rata-rata realisasi kredit, tingkat pendidikan dari calon debitur memberikan pengaruh yang positif terhadap tingkat realisasi KUR. Pada Tabel 6 diketahui bahwa tingkat pendidikan untuk golongan
perguruan tinggi memperoleh rata-rata realisasi kredit lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainya yaitu sebesar Rp79 375 000. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan debitur maka realisasi KUR yang diberikan akan semakin besar.
Tingkat pendidikan akan menunjukkan kemampuan dari setiap calon nasabah dalam memahami dan mengerti tata cara pengajuan dan penerimaan pinjaman serta mengetahui hak dan kewajibannya sebagai debitur KUR Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran. Selain itu, diduga semakin tinggi tingkat pendidikan debitur maka diharapkan mampu mengelola usahanya dengan baik, sehingga dapat berkembang dan mampu mengembalikan kreditnya dengan lancar. Secara deskriptif dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh didalam proses realisasi KUR Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran.
c) Jumlah tanggungan keluarga
Jumlah tanggungan keluarga diduga berpengaruh negatif terhadap tingkat kepercayaan bank dalam merealisasikan kreditnya. Asumsinya adalah semakin banyak tanggungan keluarga maka akan semakin besar pengeluaran untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Dengan demikian, semakin banyak jumlah tanggungan dalam keluarga diduga semakin kecil realisasi kreditnya. Debitur KUR pada Bank Mandiri Mitra Usaha Bogor Pajajaran memiliki jumlah tanggungan keluarga yang beragam yakni antara 0 sampai 5 orang. Debitur Bank Mandiri sebanyak enam orang belum berkeluarga dan tidak memiliki tanggungan dalam keluarga.
Tabel 7 menunjukkan bahwa proporsi penerima KUR terbesar pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran adalah kelompok dengan jumlah tanggungan keluarga sebanyak tiga orang dengan jumlah responden sebanyak 12 orang atau sebesar 30 persen dari total keseluruhan responden. Proporsi tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan debitur dengan jumlah tanggungan keluarga lebih sedikit. Nasabah yang memiliki jumlah tanggungan dalam keluarga sebanyak tiga orang juga memperoleh rata-rata realisasi KUR paling tinggi jika dibandingkan dengan nasabah yang memiliki jumlah tanggungan dalam keluarga yang lebih sedikit yaitu sebesar Rp55750 000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara deskriptif jumlah tanggungan keluarga tidak memengaruhi realisasi KUR.
Tabel 7 Rata-rata realisasi KUR menurut jumlah tanggungan keluarga tahun 2016 Jumlah Tanggungan
Rata-Rata Realisasi KUR menurut Variabel Capacity
Capacity (kapasitas) merupakan suatu penilaian kepada calon debitur mengenai kemampuan melunasi kewajiban-kewajibannya dari kegiatan usaha yang dilakukannya atau kegiatan usaha yang akan dibiayai dengan kredit dari bank. Aspek capacity yang dijadikan variabel independen meliputi variabel pendapatan bersih usaha perbulan, lama usaha dan jangka waktu kredit.
a) Pendapatan bersih usaha perbulan
Pendapatan bersih usaha debitur per bulan merupakan jumlah dana yang memungkinkan untuk dialokasikan debitur dalam membayar kewajibannya baik dalam membayar angsuran pokok pinjaman maupun bunga pinjaman pada setiap bulannya. Pendapatan bersih usaha debitur per bulan diduga berpengaruh positif terhadap realisasi kredit, dimana semakin besar pendapatan bersih usaha perbulannya maka kemampuan membayar angsuran dan beban bunga akan semakin besar. Pendapatan bersih per bulan debitur KUR yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar antara Rp1 373 000 - Rp27 824 000.
Tabel 8 menunjukkan bahwa rata-rata realisasi kredit terendah berada pada kisaran pendapatan bersih usaha per bulannya Rp1 373 000 - Rp2 850 000 dan tertinggi berada pada kisaran Rp10 542 001 - Rp27 824 000. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi pendapatan bersih usaha perbulan debitur maka semakin besar nilai KUR yang akan direalisasikan. Pendapatan bersih usaha berpengaruh terhadap besarnya realisasi KUR yang disalurkan Bank Mandiri Cabang Bogor Pajajaran. Nilai kredit yang direalisasikan disesuaikan dengan tingkat pendapatan bersih usaha yang dijalankan debitur. Pihak Bank Mandiri tidak akan mencairkan kredit diluar batas kemampuan dari pada nasabahnya. Hal tersebut akan memengaruhi tingkat pengembalian kredit dan berdampak pada NPL dari Bank Mandiri itu sendiri. Secara deskriptif dapat disimpulkan bahwa faktor pendapatan bersih usaha perbulan menjadi penentu besarnya KUR yang direalisasikan Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran.
Tabel 8 Rata-rata realisasi KUR menurut pendapatan bersih usaha perbulan tahun 2016 memperoleh pinjaman KUR adalah telah menjalankan usahanya minimal satu tahun. Penerapan kebijakan tersebut dimaksudkan untuk melihat perkembangan ataupun prospek usaha dari calon debitur, apakah layak untuk mendapatkan bantuan tambahan modal berupa KUR atau tidak. Lama usaha debitur diduga berpengaruh positif terhadap realisasi KUR karena semakin lama suatu usaha
bertahan maka semakin menjamin bahwa usaha tersebut layak untuk dibiayai dan dikembangkan. Lama usaha debitur KUR Bank Mandiri Mitra Usaha Bogor Pajajaran yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar antara dua tahun sampai 16 tahun.
Tabel 9 menunjukkan bahwa proporsi terbesar terdapat pada kelompok nasabah dengan lama usaha antara 6 - 10 tahun dengan jumlah nasabah 20 orang dari total keseluruhan nasabah yang menjadi responden dalam penelitian ini.
Jumlah ini dipengaruhi oleh persyaratan pengajuan KUR yang hanya mewajibkan usaha berjalan minimal satu tahun sehingga sebaran terbesar diperoleh usaha yang sudah cukup lama. Kisaran lama usaha yang lebih tinggi yaitu lebih dari 10 tahun menunjukkan jumlah responden yang lebih sedikit yakni 6 debitur saja. Hal ini dipengaruhi oleh sedikitnya debitur dengan lama usaha diatas 10 tahun yan mengajukan KUR pada Bank Mandiri Mitra Usaha Bogor Pajajaran.
Berdasarkan rata-rata besarnya realisasi KUR, kelompok nasabah dengan lama usaha lebih dari 10 tahun memperoleh rata-rata kredit paling besar yakni sebesar Rp63 333 000. Hal ini menunjukkan bahwa secara deskriptif pihak Bank Mandiri Mitra Usaha Bogor Pajajaran memperhatikan faktor lama usaha sebagai faktor yang berpengaruh terhadap besarnya realisasi kredit yang disalurkan.
Semakin lama usaha berjalan maka akan semakin besar KUR yang direalisasikan.
Semakin lama usaha maka akan terlihat bagaimana perkembangan usaha dari calon debitur sehingga dapat meminimalisasikan dampak terburuk berupa kerugian dari usaha yang dijalankan. Hal ini juga akan berdampak pada proses pengembalian angsuran pinjaman KUR yang diperoleh. Maka dari itu lama usaha menjadi pertimbangan yang dapat menentukan realisasi KUR pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk usaha yang belum lama berdiri untuk dapat direalisasikan KUR. Nilai kredit yang direalisasikan akan disesuaikan dengan kapasitas usaha tersebut.
Tabel 9 Rata-rata realisasi KUR menurut lama usaha nasabah tahun 2016 Lama Usaha
Jangka waktu kredit merupakan waktu jatuh tempo seorang debitur dalam membayar seluruh nilai pinjaman yang diberikan termasuk di dalamnya pembayaran pokok pinjaman berserta bunga pinjaman. Jangka waktu pengembalian diduga berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit KUR. Diasumsikan, bahwa semakin lama jangka waktu pengembalian kredit maka tanggungan angsuran semakin kecil sehingga beban debitur dalam pelunasan kredit menjadi lebih ringan dibandingkan dengan jangka waktu yang lebih singkat (besar pinjaman yang sama). Jadi, semakin panjang jangka waktu pelunasan kredit maka semakin berpeluang bagi debitur untuk mengembalikan kredit dengan lancar.
Tabel 10 Rata-rata realisasi KUR menurut jangka waktu kredit tahun 2016
Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar debitur KUR memiliki jangka waktu kredit sampai dengan dua dan tiga tahun dengan total nasabah masing-masing sebanyak 13 orang. Hal ini dikarenakan atas dasar permintaan dari debitur itu sendiri dan hasil penilaian terhadap kapasitas debitur. Dilihat dari rata-rata realiasi kreditnya, debitur dengan jangka waktu paling lama yakni tiga tahun, memperoleh rata-rata realisasi kredit BTU paling besar dibandingkan dengan yang lain. Semakin lama jangka waktu yang diberikan untuk pelunasan kredit, maka semakin besar nilai kredit yang direalisasikan. Hal tersebut dikarenakan pendapatan bunga yang akan diterima oleh pihak bank juga akan semakin besar. Selain itu, jangka waktu yang semakin panjang dapat meringkankan beban dari debitur di dalam proses pelunasan kreditnya, dimana angsurannya akan menjadi lebih ringan. Akan tetapi jangka waktu yang terlalu lama dapat meningkatkan risiko dari kredit tersebut. Pemberian jangka waktu oleh pihak bank didasarkan atas kapasitas nasabah dalam membayar angsuran setiap bulannya. Selain itu juga, jangka waktu yang diberikan juga mempertimbangkan prospek usaha debitur, apakah di dalam jangka waktu yang diberikan masih memberikan prospek yang bagus. Maka dari itu secara deskriptif dapat disimpulkan bahwa pihak Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran menjadikan variabel jangka waktu kredit sebagai salah satu faktor yang dapat menentukan besar realisasi KUR.
Rata-Rata Realisasi KUR menurut Variabel Collateral a) Nilai agunan
Agunan merupakan jaminan tambahan yang disertakan oleh setiap calon debitur di dalam pengajuan pinjaman di bank. Manfaat agunan sendiri yaitu sebagai alat pengamanan dalam menghadapi kemungkinan adanya ketidakpastian pada kurun waktu yang akan datang pada saat kredit harus dilunasi. Penyaluran KUR untuk para calon nasabah sebenarnya tidak diwajibkan untuk memberi agunan karena KUR merupakan program pemerintah sehingga Pemerintah menjamin kredit yang diajukan debitur. Jaminan KUR dijamin pemerintah sebesar 70 persen melalui PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan 30 persen sisanya ditanggung oleh pihak Bank itu sendiri. Tetapi untuk KUR pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran setiap calon nasabah menyertakan agunan minimal 30 persen dari jumlah kredit yang diajukan calon nasabah.
Nilai variabel agunan diduga berpengaruh positif terhadap realisasi kredit karena semakin besar nilai agunannya maka semakin besar kepercayaan bank untuk memberikan pinjaman yang lebih besar. Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa sebagian besar responden berada pada kisaran nilai agunan antara 89 juta sampai 139 juta yaitu sebanyak sembilan orang atau 22.5 persen dari keseluruhan
responden. Dilihat dari rara-rata realisasi KUR kelompok nasabah yang memiliki nilai agunan lebih dari 190 juta memperoleh rata-rata realisasi kredit yang lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok lainnya. Semakin besar nilai agunan maka semakin besar rata-rata realisasi KUR yang diperoleh respsonden. Secara deskriptif nilai agunan menjadi pertimbangan yang penting bagi pihak Bank Mandiri dalam merealisasikan KUR.
Tabel 11 Rata-rata realisasi KUR menurut nilai agunan nasabah tahun 2016 Nilai agunan
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Realisasi KUR di Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran
Hubungan antara faktor-faktor yang memengaruhi realisasi Kredit Usaha Rakyat pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran dapat ditulis dalam satu fungsi persamaan. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah besarnya nilai realisasi KUR sedangkan variabel independent adalah usia nasabah, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dalam keluarga, pendapatan bersih usaha per bulan , lama usaha, jangka waktu kredit dan nilai agunan.
Berdasarkan hasil regresi linear berganda, model regresi yang terbentuk yaitu realisasi (Y) = - 14 380.465 + 15.757 usia (X1) + 357.716 pendidikan (X2) – 2 899.149 jumlah tanggungan dalam keluarga (X3) + 0.488 pendapatan usaha (X4) + 2 198.86 lama usaha (X5) + 133.202 jangka waktu kredit (X6) + 0.377 nilai agunan (X7).
Tabel 12 menunjukkan hasil pendugaan model linear berganda, diperoleh koefisien determinasi (R Square) sebesar 82 persen. Hal ini menandakan bahwa 82 persen variabel dependent (besar realisasi kredit) dapat dijelaskan oleh model (variabel independent) dan sisanya sebesar 18 persen dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan p-value 0.000 < 0.05 sehingga keputusannya adalah menolak H0 artinya semua variabel bebas (independent) mampu secara bersama-sama menjelaskan variasi dari variabel tak bebas (dependent).
Hasil analisis faktor-faktor yang memengaruhi realisasi KUR pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata (tingkat kesalahan dibawah lima persen) terhadap realisasi kredit adalah pendapatan bersih usaha, lama usaha dan nilai agunan. Variabel usia, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan jangka waktu
kredit tidak berpengaruh nyata terhadap realisasi kredit. Nilai VIF (Variance Inflation Factors) dari masing-masing peubah bebas lebih kecil daripada 10 (Tabel 12). Hal tersebut menandakan bahwa tidak terdapat hubungan yang kuat antar peubah bebas, atau masing-masing peubah bebas tidak saling memengaruhi satu sama lainnya.
Tabel 12 Hasil analisis terhadap faktor-faktor yang memengaruhi realisasi KUR pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran
Variabel Koefisien
regresi T-hit P-Value VIF
(Constant) - 14 380.465 - 0.760 0.453
Usia -15.757 0.31 0.976 2.398
Pendidikan 357.716 0.379 0.707 1.466
Jumlah tanggungan - 2 899.149 - 1.022 0.314 2.552
Pendapatan usaha 0.488* 1.528 0.032 1.414
Lama usaha 2 198.986* 2.408 0.022 1.169
Jangka waktu kredit 133.202 0.306 0.761 1.833
Nilai agunan 0.377* 7.375 0.000 2.209
R-Sq= 82.9 % R-sq(adj)= 79.2 % Durbin-Watson= 2.028 Analysis of Variance
Source DF SS MS F P
Regression 7 4.602E10 6.575E9 22.185 .000
Residul Error 32 9.483E9 2.963E8
Total 39 5.551E10
Keterangan :* Signifikan pada taraf 5 %
Menurut Nugroho (2005) dalam membuat suatu persamaan regresi linier berganda diperlukanbeberapa tahap pemeriksaan asumsi model yaitu:
1. Uji normalitas
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan melihat normalitas probality of the risidual dimana jika nilai data ini berpencar disekitar garis lurus melintang maka dikatakan normal. Lampiran 2 menunjukkan hasil normalitas probality of the risidual dimana data berpencar disekitar garis lurus melintang. Dengan demikian berdasarkan grafik pada Lampiran 2 dapat diketahui bahwa data eror berdistribusi normal. Selain melalui normalitas probality of risidual, uji normalitas dapat juga dilakukan dengan melihat histogram of the residual dimana hasil yang kita peroleh menunjukkan pola seperti fungsi distribusi normal.
2. Uji Homogenitas
Pemeriksaan ini dapat dilihat dari pada standardized residual cumulative probablitydengan faktor X. Jika tidak terdapat suatu pola dalam plot tersebut akan dikatakan bahwa data tersebut homogen. Lampiran 3 menunjukkan bahwa tidak terdapat suatu pola dalam plot tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa data tersebut homogen atau dikatakan komponen eror bersifat homoskedastisitas.
3. Uji Multikolineritas
Pemeriksaan adanya multikolineritas bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya hubungan linear antara variabel independent dalam suatu model regresi
linear berganda baik hubungan tersebut berkorelasi sempurna atau sebaliknya.
Nilai VIF (Variance Inflation Factors) dari masing-masing peubah bebas lebih kecil dari 10 (Tabel 12). Hal tersebut menandakan bahwa tidak terdapat hubungan yang kuat antar peubah bebas atau masing-masing peubah bebas tidak saling memengaruhi satu sama lainnya.
4. Uji autokorelasi
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan melihat pola Standardized Residual terhadap variabel independent yaitu besarnya realisasi KUR yang diterima oleh debitur (Lampiran 3). Grafik tersebut menunjukkan bahwa runtun Standardized Residual bersifat acak. Pemeriksaan melalui uji Durbin-Watson memberikan nilai Durbin Watson dimana diperoleh nilai d = 2.028. Nilai tersebut terletak pada daerah tengah rentang pengujian autokorelasi Durbin-Watson sehingga dapat dikatakan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada komponen error sehingga hasil uji T dan uji F adalah valid.
Pendapatan Bersih Usaha
Pendapatan bersih usaha merupakan salah satu variabel yang paling penting yang memengaruhi besarnya kredit yang direalisasikan. Pendapatan bersih usaha merupakan jumlah dana yang memungkinkan untuk dialokasikan debitur dalam membayar kewajibannya baik dalam membayar angsuran pokok pinjaman maupun bunga pinjaman pada setiap bulannya. Pendapatan bersih usaha debitur per bulan diduga berpengaruh positif terhadap realisasi kredit, dimana semakin besar pendapatan bersih usaha perbulannya maka kemampuan membayar angsuran dan beban bunga akan semakin besar.
Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel pendapatan bersih usaha berpengaruh signifikan terhadap realisasi KUR pada tingkat kepercayaan 95 persen. Variabel pendapatan bersih yang berpengaruh signifikan dapat dilihat dari nilai p-value yang lebih kecil daripada taraf nyata lima persen (sig 0.036 < 0.05). Hal ini sesuai dengan hipotesis analisis deskriptif sebelumnya yang menyatakan bahwa pendapatan bersih usaha berpengaruh positif terhadap realisasi KUR dimana semakin besar pendapatan bersih usaha per bulan maka kemampuan membayar angsuran dan beban bunga kredit semakin meningkat.
Pihak Bank Mandiri sebelum merealisasikan KUR terlebih dahulu akan melakukan survei usaha yang dijalankan calon debitur termasuk menganalisis pendapatan bersih usahanya. Analisis pendapatan bersih usaha ini bertujuan untuk menilai kelayakan usaha debitur dalam menerima KUR dan sebagai acuan dalam menentukan besarnya KUR yang akan direalisasikan. Nasabah dengan pendapatan bersih usahanya yang lebih besar cenderung lebih besar dalam memperoleh jumlah kredit. Semakin tinggi pendapatan bersih usaha setiap bulannya, maka kemampuan untuk melunasi kewajiban dari usaha yang akan dibiayai dengan kredit akan semakin besar. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel pendapatan bersih usaha memberikan pengaruh yang signifikan terhadap besarnya realisasi KUR pada Bank Mandiri Mitra Usaha Cabang Bogor Pajajaran. Hasil analisis tersebut sesuai dengan penelitian Rachmina (2011) Hidayanto (2010), Sembiring (2013), Ali (2014) dan Lesmana (2011) yang menyatakan bahwa variabel pendapatan bersih usaha per bulan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap realisasi kredit.
Nilai Agunan
Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa nilai koefisien variabel agunan positif yang artinya bahwa variabel tersebut berpengaruh positif terhadap realisasi KUR. Variabel agunan berpengaruh signifikan terhadap realisasi KUR yang dapat dilihat dari p-value yang lebih kecil daripada taraf nyata lima persen (sig 0.000 < 0.05). Hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian dimana variabel nilai agunan berpengaruh positif terhadap realisasi KUR, semakin besar nilai agunan yang disertakan dalam pengajuan kredit maka nilai realisasi KUR yang akan diterima akan semakin besar.
Agunan merupakan jaminan tambahan yang disertakan oleh setiap calon debitur di dalam pengajuan pinjaman di bank. Manfaat agunan sendiri yaitu
Agunan merupakan jaminan tambahan yang disertakan oleh setiap calon debitur di dalam pengajuan pinjaman di bank. Manfaat agunan sendiri yaitu