• Tidak ada hasil yang ditemukan

BBRVBD Cibinong atau juga dikenal dengan National Vocational Rehabilitation Center (NVRC) dibangun sebagai wujud persahabatan dan kerjasama Pemerintah RI (Kementerian Sosial) dengan Pemerintah Jepang (JICA) yang peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri Sosial RI (Dra. Inten Soeweno) pada bulan November 1996 dan mulai dibangun awal Tahun 1997. Pada tanggal 29 Desember 1997 Gedung BBRVBD diresmikan oleh Wakil Presiden RI Bapak Try Sutrisno dan mulai operasional melakukan pelayanan rehabilitasi vokasional bagi para penyandang disabilitas tubuh dimulai pada awal tahun 1998. BBRVBD Berlokasi di Jl. SKB No. 5, Karadenan, Cibinong, Bogor, Jawa Barat sebagaimana ditunjukkan oleh gambar pada Lampiran 1.

BBRVBD didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan sistem rehabilitasi vokasional di Indonesia agar para penyandang disabilitas memiliki keterampilan dan keahlian dalam pekerjaan, mandiri sehingga mampu hidup bermasyarakat. Di BBRVBD penyandang disabilitas dibekali pengetahuan, sikap dan keterampilan kerja secara profesional agar mampu bersaing di pasaran kerja.

BBRVBD dipimpin oleh seorang Kepala dengan jabatan setingkat eselon II.a dan 4 (empat) pejabat eselon III.a dan 12 (dua belas) pejabat eselon IV.a serta Kelompok Jabatan Fungsional.

BBRVBD merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis rehabilitasi vokasional bina daksa di lingkungan Kementerian Sosial yang mempunyai tugas melaksanakan pelayanan rehabilitasi vokasional tingkat lanjutan, pelatihan, penelitian/pengkajian dan pengembangan rehabilitasi vokasional bagi penyandang disabilitas tubuh yang berasal dari Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD), Panti Sosial Bina Daksa (PSBD), Loka Bina Karya (LBK) seluruh Indonesia dan masyarakat. Gambaran sebaran asal penyandang disabilitas penerima manfaat BBRVBD dapat dilihat pada gambar di Lampiran 2.

Dalam melaksanakan rehabilitasi vokasional, BBRVBD melaksanakan serangkaian kegiatan seleksi termasuk kelengkapan administrasi dengan persyaratan umum sebagai berikut: penyandang disabilitas tubuh dan tidak memiliki disabilitas lainnya seperti tuna netra, tuna grahita/mental dengan kriteria: sehat jasmani dan rohani dan tidak mempunyai penyakit menular yang dinyatakan dengan surat keterangan dokter, WNI pria maupun wanita, berusia minimal 18 tahun s/d 40 tahun, tidak mempunyai tanggungan keluarga, melampirkan foto copy ijasah pendidikan formal terakhir, diutamakan untuk yang telah lulus mengikuti keterampilan dasar dilengkapi sertifikat dari BBRSBD, PSBD, LBK atau badan diklat/kursus lainnya, tidak memerlukan pelayanan rehabilitasi medik (operasi, pasca operasi, fisioterapi, alat bantu dan lain-lain) selama proses pelatihan berlangsung, tidak menderita epilepsi, tidak buta warna total, tidak memiliki disabilitas ganda, bersedia untuk tinggal di asrama dan mematuhi segala peraturan yang ada.

BBRVBD memberlakukan persyaratan khusus bagi jurusan tertentu, seperti untuk jurusan Komputer yaitu pendidikan minimal SLTA sederajat; untuk jurusan Penjahitan, Pekerjaan Logam dan Otomotif adalah pendidikan minimal

SD sederajat dan memiliki keterampilan dasar; sedangkan untuk jurusan Desain Grafis dan Elektronika adalah pendidikan minimal SLTP sederajat dan memiliki keterampilan dasar.

Pendaftaran dilakukan melalui petugas Dinas Sosial Kabupaten/Kota, Dinas Sosial Provinsi setempat atau ke BBRSBD/PSBD terdekat atau langsung ke BBRVBD, dimana calon peserta mendaftar dan melengkapi berkas pendaftaran di Dinas Sosial Kabupaten/ Kota, Dinas Sosial Provinsi atau ke BBRVBD/BBRSBD/PSBD terdekat atau langsung ke BBRVBD. Kemudian berkas pendaftaran dari Dinas Sosial Kabupaten/Kota dikirim ke Dinsos Provinsi/ BBRVBD/BBRSBD/PSBD yang terdekat atau langsung menghubungi Dinsos Provinsi atau BBRVBD/BBRSBD/PSBD terdekat untuk dicek kelengkapanya. Calon kelayan yang memenuhi syarat akan dipanggil ke Dinsos Provinsi/ BBRVBD/BBRSBD/PSBD yang terdekat untuk mengikuti assesment test.

Pelatihan Vokasional BBRVBD Cibinong

Program pelatihan vokasional disusun berdasarkan dengan mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) serta berorientasi pada kebutuhan lapangan kerja melalui supervisi, penelitian dan pengembangan Bidang Litbang BBRVBD. Pelatihan vokasional di BBRVBD terdiri dari:

(1) Jurusan Komputer yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lanjut bagi penyandang disabilitas tubuh agar memiliki kemampuan berbagai macam program meliputi: Operating System, Ms.Power Point, Ms.Word, Ms.Excel, Operasional Printer, anti virus Internet, Instalasi PC, Instalasi Software, Instalasi Jaringan Lokal (LAN), Ms.Acces, Algoritma, JAVA, Ms.Visual Basic dan Web Desain.

(2) Jurusan Penjahitan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lanjut bagi penyandang disabilitas tubuh agar memiliki kemampuan mengoperasikan berbagai macam mesin kecepatan tinggi (high speed) secara tepat dan aman, merancang berbagai macam pola pakaian pria, wanita dan anak-anak, menjahit sistem tailor maupun industri garmen hingga finishing dan pengepakan.

(3) Jurusan Percetakan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lanjut bagi penyandang disabilitas tubuh agar memiliki kemampuan di bidang grafika, yakni melakukan type setting melalui komputer, membuat desain grafis, pemrosesan photo, pencetakan hitam putih, separasi, penjilidan serta pengoperasian berbagai macam alat/mesin cetak.

(4) Jurusan Elektronika yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lanjut bagi penyandang disabilitas tubuh agar memiliki kemampuan di bidang Elektronika, yaitu kemampuan membuat sistem relay/sequential control program otomatis dengan PLC, rangkaian logika dan system digital, menggulung motor dan trafo, system pendingin dan instalasi listrik serta audio video system sensor.

(5) Pekerjaan Logam yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lanjut bagi penyandang disablitas tubuh agar memiliki kemampuan berproduksi dengan menggunakan/mengoperasikan alat/mesin bubut, frais, las busur manual/SMAW, las oksigen-asetilen serta gambar teknik autocad.

26

(6) Jurusan Otomotif yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lanjut bagi penyandang disabilitas tubuh agar memiliki kemampuan di bidang otomotif mobil dan motor, sehingga kelayan mengetahui, memahami, dan mampu mereperasi sistem engine group,

power train, suspension, electrical, brake, tune-up dan body painting. Setelah mengikuti pelatihan vokasional, penyandang disabilitas peserta pelatihan mengikuti kegiatan Praktek Belajar Kerja (PBK) atau magang (on the job training) yang merupakan suatu proses penerapan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mereka peroleh selama mengikuti pelatihan vokasional, dengan tujuan untuk memberikan wawasan, pengalaman dalam dunia kerja dan sekaligus mempraktekan ilmu dan keterampilannya.

Tahap berikutnya adalah tahap penyaluran kerja yang merupakan tahap penempatan kerja bagi peserta pelatihan BBRVBD Cibinong yang sedang dan atau telah mengikuti pelatihan vokasional maupun PBK di perusahaan, instansi pemerintah maupun usaha mandiri/wiraswasta. Lalu peserta memasuki tahap bimbingan lanjut yang merupakan kegiatan bimbingan, monitoring dan evaluasi terhadap lulusan BBRVBD Cibinong yang berkaitan dengan disiplin kerja, motivasi kerja, produktifitas kerja serta pengembanganya. Sedangkan kontribusi dari perusahaan diharapkan dapat memberikan masukan-masukan untuk peningkatan program rehabilitasi vokasional, khususnya kegiatan PBK dan penyaluran kerja.

Tahap terakhir dari kegiatan rehabilitasi vokasional yang dilakukan oleh BBRVBD Cibinong adalah tahap terminasi, yaitu kegiatan pemutusan hubungan antara kegiatan rehabilitasi BBRVBD dengan kelayan. Kegiatan ini bertujuan agar kelayan dapat mandiri, dan tidak tergantung dengan BBRVBD tempat mereka memperoleh layanan rehabilitasi vokasional. Data Praktek Belajar Kerja (PBK) dan Penyaluran kerja dari peserta pelatihan dari tahun 1998-2011 dapat dilihat pada Tabel 3.

BBRVBD memiliki sarana fisik dengan luas tanah 35.474 m2 dan luas bangunan 12.994 m2. Fasilitas yang tersedia meliputi beberapa fasilitas umum. Aula serbaguna miliki kapasitas tampung maksimum 500 orang, dengan dilengkapi audio visual dan AC. Ruang pertemuan/Aula Melati memiliki kapasitas 200 orang, dilengkapi sound system dan AC. Wisma Mawar berkapasitas 60 orang terdiri dari 23 kamar, kapasitas per kamar 2-3 orang dengan fasilitas AC, TV, kamar mandi di dalam dan tempat cuci.

Ruang konferensi memiliki kapasitas 30 orang dilengkapi dengan audio visual dan AC. Ruang Audio-Visual memiliki kapasitas 60 orang, dilengkapi dengan audio visual dan AC. Laboratorium Bahasa memiliki kapasitas 20 orang dilengkapi dengan audio visual dan AC. Ruang Data dilengkapi dengan hasil karya kelayan, ruangan ber AC. Ruang Seminar memiliki kapasitas 16 orang dilengkapi dengan AC. Terdapat tempat Ibadah (Masjid Al-Fattah) dan fasilitas transportasi berupa 3 (tiga) buah bis, 1 (satu) bis besar, 2 (dua) bis kecil dan kendaraan UPSK dengan garasi mobil. Terdapat koridor/selasar dan halaman.

Fasilitas untuk Kelayan berupa transportasi dari daerah asal ke BBRVBD, pengasramaan maksimal 9 (sembilan) bulan, permakanan maksimal 9 (sembilan) bulan, pelayanan kesehatan, seragam, pakaian olah raga, fasilitas kesenian (alat musik, karaoke). Fasilitas olah raga untuk bulutangkis, tenis meja, bola volley, billiard. Kelayan mendapatkan widyawisata, perpustakaan, pemondokan pada saat

praktek kerja/PBK (selama 2 bulan), uang konsumsi selama PBK (selama 60 hari), transportasi ke tempat PBK, transportasi ke tempat kerja atau untuk kembali ke daerah asal kelayan (apabila kelayan tidak mendapat tempat kerja), fasilitas Pelatihan Vokasional, ruang belajar praktek (workshop) dengan kapasitas 20 kelayan per ruangan.

Aktivitas peserta selama pelatihan disesuaikan dengan aktivitas di dunia kerja pada umumnya. Pukul 6 (enam) pagi, peserta melakukan senam pagi dan dilanjutkan dengan sarapan pagi. Peserta baru mengikuti kegiatan pelatihan mulai dari pukul 8 (delapan) pagi sampai dengan pukul 4 (empat) sore, dengan waktu istirahat selama 1 jam. Pengaturan waktu pelatihan seperti ini disesuaikan dengan jam kerja kantor pada umumnya di dunia kerja dengan tujuan agar peserta pelatihan terbiasa mengikuti pola waktu di tempat kerja nantinya. Hari Sabtu digunakan untuk kegiatan ekstra kurikuler bagi peserta. Sedangkan Hari Minggu tetap sebagai hari libur dimana peserta dapat memanfaatkannya untuk kegiatan bebas. Aktivitas seperti ini dilaksanakan dalam jangka waktu 8 (delapan) bulan selama mereka tinggal di BBRVBD. Aktivitas 2 (dua) bulan berikutnya adalah aktivitas magang di perusahaan, dimana peserta pelatihan benar-benar masuk ke dunia kerja yang sesungguhnya dan mereka tinggal di rumah sewa di sekitar

lokasi magang. Masa ini merupakan masa transisi dari kegiatan „bekerja‟ di

workshop BBRVBD sebagai ajang pelatihan kepada dunia kerja yang sesungguhnya di pasar kerja terbuka.

28

Tabel 3 Rekapitulasi data PBK dan penyaluran kerja kelayan BBRVD tahun 1998-2011

No. Tahun/ Agkatan

Jumlah Peserta

Praktek Belajar Kerja (PBK)

Jmlh perse n

Penyaluran Kerja

Jmlh persen

Jahit Komp DG Elktr PL Oto Jahit Komp DG Elktr PL Oto

1 1998 / I 100 21 16 12 14 18 - 81 81,0 14 4 2 7 3 - 30 30,0 2 1999 / II 100 22 15 20 13 23 - 93 93,0 24 11 5 12 6 - 58 58,0 3 2000 / III 100 20 25 16 26 13 - 100 100,0 21 14 11 16 9 - 71 71,0 4 2001 / IV 100 17 14 9 15 18 - 73 73,0 17 15 9 16 18 - 75 75,0 5 2002 / V 99 18 20 15 18 17 - 88 88,9 17 10 11 12 19 - 69 69,7 6 2003 / VI 100 22 13 13 9 7 - 64 64,0 22 6 7 4 8 - 47 47,0 7 2004 / VII 99 23 17 16 15 21 - 92 92,9 21 10 13 12 15 - 71 71,7 8 2005 / VIII 99 19 14 9 11 12 - 65 65,7 19 13 9 12 12 - 65 65,7 9 2006 / IX 100 18 16 15 13 19 - 81 81,0 18 15 15 13 19 - 80 80,0 10 2007 / X 100 19 21 23 18 19 - 100 100,0 5 4 3 4 4 - 20 20,0 11 2008 / XI 97 17 14 16 10 13 - 70 72,2 17 14 16 10 13 - 70 72,2 12 2009 / XII 97 14 17 18 16 21 - 86 88,7 13 12 15 6 15 - 61 62,9 13 2010/XIII 94 20 20 20 18 16 - 94 100,0 20 13 20 18 16 - 87 92,6 14 2011/XIV 113 18 11 11 11 6 10 67 59,3 18 19 22 20 13 20 112 99,1 JUMLAH 1398 268 233 213 207 223 10 1154 82,5 246 160 158 162 170 20 916 65,5 Sumber: BBRVBD Cibinong, 2012 28

PT Dewhirst Indonesia, Bandung

PT Dewhirst Indonesia didirikan pada tahun 1998, yang merupakan pabrik besar yang menghasilkan 215.000 unit pakaian per minggu dan memiliki karyawan sekitar 5.400 orang pria dan wanita serta berlokasi di Bandung. Pabrik ini memiliki salah satu pembeli dengan label Marks & Spencer UK.

PT Dewhirst merupakan satu dari beberapa pabrik yang memenuhi kuota pekerja penyandang disabilitas sebesar 1 (satu) persen sebagaimana diamanatkan oleh UU No 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Kebanyakan dari pekerja disabilitas merupakan hasil perekrutan dari BBRVBD Cibinong dan beberapa lainnya dari LBK di sekitar Jawa Barat. Penyandang disabilitas direkrut dengan perekrutan normal, tanpa ada pengistimewaan.

Lokasi PT Dewhirst mayoritas mudah diakses bagi penyandang disabilitas. Sebelumnya salah satu bangunan pabrik memiliki kantin dan ruang beribadah di lantai atas, kemudianmereka menyesuaikan tempat kerja yang aksesibel bagi penyandang disabilitas, sehingga sekarang semua fasilitas termasuk kantin dan ruang beberibadah terdapat di lantai dasar. Secara umum, PT Dewhirst memiliki standar yang tinggi dalam bidang kesehatan, keamanan, dan kondisi kerja.

PT Mattel Indonesia, Cikarang

PT. Mattel Indonesia, merupakan perusahaan multinasional dan terdepan dalam bisnis mainan anak-anak. Perusahaan ini merupakan manufaktur boneka terbesar yang memperkerjakan 9000 pekerja di Indonesia. Lokasi perusahaan ini di Jl. Jababeka V B1 G/4-6 Kawasan Industri Jababeka, Cibitung, Bekasi. Produknya yang terkenal adalah boneka barbie, Hot Wheels, Matchbox Car, dan sebagainya.

Perusahaan Mattel, Inc (Induk PT. Mattel Indonesia) yang berpusat di Hawthorne, California, berdiri pada tahun 1945 oleh Harrold Matt Masson dan Elliot Handler. Berawal di industri kayu, yang kemudian membuka cabang bisnis di bidang mainan. Dan pada tahun 1959, mulai diproduksi boneka barbie. Selanjutnya Mattel Inc. merevolusi industri mainan anak-anak dan boneka dengan boneka yang bisa bersuara.

Selain di Indonesia, Mattel juga mendirikan pabrik di Thailand, Malaysia dan Mexico. Salah satu produk Mattel yang terkenal adalah Barbie. Selain boneka, Mattel Inc. pun memproduksi pakaian dan asesoris untuk boneka Barbie tersebut. Hal inilah yang membuat boneka Barbie tetap bertahan sebagai boneka klasik yang masih bertahan di era modern ini. Mattel Indonesia merupakan mitra baru BBRVBD Cibinong yang baru merekrut lulusan pada tahun 2012 sebanyak 6 (enam) orang penyandang disabilitas.

PT Rajawali Mulia Perkasa

PT Rajawali Mulia Perkasa merupakan perusahaan garmen yang terletak di Jl. Pembangunan II No. 31 Kedung Halang, Bogor Utara, Bogor. Berdiri sejak 1989, perusahaan ini memproduksi kemeja yang dipasarkan untuk lokal dengan merk Polo, Valero, Nail Man, Van Jose, dan lainnya. Perusahaan ini juga memproduksi pakaian seragam bank-bank ternama di Indonesia. Karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut berjumlah sekitar 186 orang laki-laki dan

30

perempuan. Walaupun perusahaan ini baru memiliki sedikit karyawan, akan tetapi kepeduliannya terhadap penyandang disabilitas cukup tinggi terlihat dari perekrutan tenaga kerja penyandang disabilitas yang dilakukan oleh perusahaan ini yang prosentasenya sudah melebihi quota 1 (satu) persen.

Karakteristik Peserta Pelatihan

Keberhasilan pelatihan ditentukan oleh komponen-komponen yang ada di dalamnya yaitu diantaranya adalah peserta pelatihan, dimana peserta ditentukan oleh karakteristik peserta (misalnya: demografis, latar belakang pendidikan) yang menentukan lingkup dari pelatihan tersebut (Rose 2009). Khusus untuk penyandang disabilitas, jenis disabilitas turut menentukan kriteria peserta (Griffin dan Nechvoglod 2008). Karakteristik responden dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4 Distribusi responden berdasarkan karakteristik peserta

No. Uraian Kategori F Persen (%)

1. Jenis kelamin 1. Laki-laki 2. Perempuan 3 39 7,1 92,9 N=42 =100% 2. Usia 1. Sangat rendah (20-24 tahun)

2. Rendah (25-28 tahun) 3. Tinggi (29-32 tahun) 4. Sangat tinggi (33-36 tahun)

13 13 10 6 31,0 31,0 23,8 14,2 N=42 =100% 3. Jenis disabilitas 1. Tuna rungu wicara

2. Tuna daksa 0 42 0 100 N=42 =100% 4. Penyebab disabilitas 1. Bawaan lahir 2. Bukan bawaan lahir

11 31 26,2 73,8 N=42 =100% 5. Lama menyandang disabilitas

1. Sangat rendah (8-15 tahun) 2. Rendah (16-22 tahun) 3. Tinggi (23-29 tahun) 4. Sangat tinggi (30-36 tahun)

3 9 23 7 7,1 21,4 54,8 16,7 N=42 =100% 6. Pendidikan formal 1. Sangat rendah (SD) 2. Rendah (SMP) 3. Tinggi (SMA)

4. Sangat tinggi (Perguruan Tinggi)

2 24 15 1 4,8 57,1 35,7 2,4 N=42 =100% 7. Pendidikan non formal 1. Tidak pernah 2. Jarang (1-2 kali) 3. Sering (3 kali) 4. Sangat sering (>3 kali)

35 7 0 0 83,3 16,7 0 0 N=42 =100% 8. Pengalaman kerja 1. 1-2 tahun

2. 3-4 tahun 3. 5-6 tahun 4. 7-8 tahun 23 4 2 13 54,8 9,5 4,8 31 N=42 =100% Jenis Kelamin

Tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan yaitu sebesar 92,9 persen atau sebanyak 39 orang. Hal tersebut sejalan dengan fakta di

lapangan bahwa sektor garmen/penjahitan mempekerjakan mayoritas pegawai perempuan, yaitu sebanyak 70 persen pada tahun 2009 (Putra 2009). Sedangkan responden laki-laki hanya berjumlah 3 (tiga) orang saja atau sekitar 7,1 persen dari total responden. Data BBRVBD tahun 2012 menunjukkan bahwa penyandang disabilitas peminat pelatihan keterampilan penjahitan adalah mayoritas perempuan, yaitu sebesar 79,2 persen dari total peserta pelatihan keterampilan penjahitan.

Usia

Berdasarkan hasil penelitian, semua responden berada di usia sangat produktif yang berada di rentang usia 20-36 tahun, dimana mayoritas berada di rentang usia 20-28 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian Mavromaras dan Palidano tahun 2011 yang menyebutkan bahwa pelatihan vokasional merupakan jalur pendidikan yang popular bagi penyandang disabilitas usia produktif.

Jenis Disabilitas

Khusus untuk pelatihan bagi penyandang disabilitas, jenis disabilitas turut menentukan kriteria peserta (Griffin dan Nechvoglod 2008). Jenis disabilitas dalam penelitian ini adalah macam keterbatasan fisik yang dimiliki responden yang dinyatakan dengan tuna daksa atau tuna rungu wicara. Mengacu pada Tabel 4, semua responden termasuk ke dalam kategori tuna daksa dan tidak ditemukan responden yang mempunyai kategori tuna rungu wicara. Data di lapangan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas dengan jenis disabilitas tuna daksa yang mengikuti pelatihan di BBRVBD Cibinong adalah sebanyak 90 persen yang tersebar di 6 (enam) jurusan penjahitan. Sedangkan penyandang disabilitas daksa yang pernah mengikuti pelatihan vokasional keterampilan penjahitan adalah sebanyak 96,2 persen.

Penyebab Disabilitas

Penyebab disabilitas adalah hal yang menyebabkan responden menyandang disabilitas yang terdiri dari bawaan lahir dan bukan bawaan lahir. Mengacu kepada Tabel 4, sebanyak 26,2 persen penyebab disabilitas responden adalah karena bawaan lahir, sedangkan sisanya sebanyak 73,8 persen dikarenakan bukan bawaan lahir seperti sakit polio, panas (malpraktek), dan kecelakaan (lalu lintas, tersengat aliran listrik, jatuh dari pohon).

Lama Menyandang Disabilitas

Mengacu kepada Tabel 4, responden mengalami disabilitas pada range 8- 36 tahun dimana 54,8 persen responden berada dalam kategori tinggi, yang artinya mereka sudah menyandang disabilitas selama 23-29 tahun.

Pendidikan formal

Mayoritas pendidikan responden berada pada kategori rendah yaitu lulusan SMP yaitu sebesar 57,1 persen dan kemudian terbanyak berikutnya adalah pada kategori tinggi yaitu lulusan SMA sebesar 35,7 persen, dan terdapat 4,8 persen responden yang berkategori pendidikan sangat rendah yaitu lulusan SD. Hal ini sejalan dengan temuan Griffin dan Nechvoglod tahun 2008 yang menyebutkan bahwa kebanyakan penyandang disabilitas memiliki latar pendidikan yang rendah

32

ketika mengikuti pelatihan vokasional. Dalam kasus penelitian ini, rendahnya tingkat pendidikan peserta pelatihan terkait dengan kebijakan lembaga penyelenggara pelatihan mulai tahun 1998-2010 yang mempersyaratkan minimal lulusan SMP untuk menjadi peserta pelatihan vokasional jurusan keterampilan penjahitan. Kemudian pada tahun 2011 sampai sekarang dibuat kebijakan baru, yaitu minimal lulusan SD bagi peserta pelatihan vokasional jurusan keterampilan penjahitan.

Pendidikan Non Formal

Pendidikan non formal adalah kegiatan pembelajaran non formal yang pernah diikuti responden selain pelatihan vokasional di BBRVBD Cibinong, baik sesudah atau sebelum mengikuti pelatihan di BBRVBD Cibinong, yang dinyatakan dalam frekuensi kegiatan. Sebagian besar responden tidak pernah mengikuti pelatihan selain pelatihan di BBRVBD Cibinong, yaitu sebesar 83,3 persen. Hal ini salah satunya disebabkan setelah mereka lulus dari BBRVBD Cibinong dan kemudian diterima kerja, mereka tidak lagi mengikuti pelatihan- pelatihan. Hanya sebesar 16,7 persen responden saja yang pernah mengikuti pelatihan, berdasarkan hasil wawancara beberapa responden pernah mengikuti kegiatan pelatihan di tempat rehabilitasi sosial di provinsi asal mereka sebelum mereka masuk ke BBRVBD Cibinong, antara lain di panti sosial, LBK dan tempat kursus menjahit.

Pengalaman Kerja

Pengalaman kerja adalah lama bekerja yang dimiliki responden sebelum mengikuti pelatihan dan setelah lulus mengikuti pelatihan sampai sekarang yang dinyatakan dalam range waktu. Responden memiliki pengalaman kerja 1-8 tahun. Akan tetapi secara umum responden memiliki pengalaman kerja yang rendah, yaitu 1-2 tahun.

Performa Instruktur

Faktor lain yang dianggap berhubungan dengan pengembangan kompetensi penyandang disabilitas melalui pelatihan vokasional adalah faktor performa instruktur. Faktor ini meliputi penguasaan materi, keinovativan mengajar, dan kemampuan memotivasi. Adapun performa instruktur dari hasil penelitian ini disajikan dalam Tabel 5.

Mengacu kepada Tabel 5, sebesar 69 persen responden menyatakan bahwa keragaan instruktur di BBRVBD Cibinong berada dalam kategori tinggi, yang artinya instruktur memiliki kemampuan yang baik dalam penguasaan materi pelatihan, keinovatifan mengajar termasuk di dalamnya kekreatifan mengajar, dan kemampuan memotivasi penyandang disabilitas peserta pelatihan. Sedangkan sisanya, sebesar 31 persen responden menyatakan bahwa keragaan instruktur berada dalam kategori sangat tinggi, yang artinya mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam penguasaan materi pelatihan, keinovatifan mengajar termasuk di dalamnya kekreatifan mengajar, dan kemampuan memotivasi penyandang disabilitas peserta pelatihan.

Hal ini didukung oleh fakta di lapangan bahwa BBRVBD Cibinong telah melakukan seleksi ketat terhadap calon instruktur agar instruktur yang

memberikan pelatihan memiliki kemampuan yang baik dalam bidang pengajaran/pelatihan. Para instruktur yang ada di pelatihan juga telah melalui tahap diklat sertifikasi oleh lembaga terkait.

Tabel 5 Distribusi responden berdasarkan performa instruktur

No. Uraian Kategori F Persen (%)

1. Penguasaan Materi 1. Sangat Rendah 0 0

2. Rendah 0 0

3. Tinggi 30 71,4

4. Sangat Tinggi 12 28,6

N=42 =100 % 2. Keinovatifan Mengajar 1. Sangat Rendah 0 0

2. Rendah 2 4,8

3. Tinggi 34 81

4. Sangat Tinggi 6 14,2

N=42 =100 % 3. Kemampuan Memotivasi 1. Sangat Rendah 0 0

2. Rendah 9 21,4

3. Tinggi 32 76,2

4. Sangat Tinggi 1 2,4

N=42 =100 % 4 Total Performa Instruktur 1. Sangat Rendah 0 0

2. Rendah 0 0

3. Tinggi 29 69

4. Sangat Tinggi 13 31

N=42 =100 % Penguasaan materi

Penguasaan materi instruktur merupakan salah satu faktor yang krusial dalam keberhasilan pemberian materi (Schempp 1998, Metzler dan Woessmann 2010), termasuk didalamnya persiapan materi (Darling-Hammond et al. 2005). Penguasaan materi dalam konteks penelitian ini adalah tingkat kemampuan instruktur dalam memahami materi pelatihan yang diajarkannya di BBRVBD Cibinong. Dari hasil penelitian, sebanyak 71,4 persen responden menyatakan bahwa penguasan materi pelatihan oleh instruktur berada di kategori tinggi, dan sebanyak 28,6 persen menyatakan penguasan materi pelatihan oleh instruktur berada dalam kategori sangat tinggi. Tingginya penguasaan materi instruktur terkait dengan kualifikasi yang ditetapkan pada saat perekrutan dan adanya kesempatan peningkatan kapasitas bagi instruktur melalui pelatihan-pelatihan yang terkait dengan pekerjaan mereka yang dilaksanakan secara internal oleh Kementerian Sosial ataupun pelatihan eksternal di luar kementerian, di dalam ataupun di luar negeri.

Keinovativan mengajar

Keinovativan mengajar adalah tingkat kemampuan instruktur dalam inovasi dan kreatifitas mengajar. Keinovatifan mengajar juga berperan dalam menyebarkan antusiasme instruktur dalam mengajar terhadap antusiasme peserta didik untuk belajar (Grosu 2011). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden menyatakan bahwa tingkat keinovativan mengajar instruktur berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 81 persen, yang artinya bahwa instruktur yang mengajar memiliki kemampuan mengajar yang inovatif dan kreatif, selalu berusaha menyampaikan materi pelatihan dengan cara yang baru yang tidak membosan bahkan membuat peserta pelatihan merasa tertarik dengan materi yang

34

disampaikan dan juga mempercepat pencapaian tujuan dari pembelajaran dalam pelatihan itu sendiri. Pelatih yang kreatif dan inovatif merupakan salah satu dari kriteria instruktur yang direkrut oleh lembaga penyelenggara pelatihan. selain itu, kegiatan peningkatan kapasitas juga dilakukan oleh lembaga agar instruktur mempunyai kemampuan mengajar yang inovatif dan kreatif, hal tersebut

dilakukan dengan memberikan pelatihan “Metode pembelajaran” secara internal

bagi para instruktur.

Kemampuan memotivasi

Berkaitan dengan kemampuan menotivasi, motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yag penuh energi, terarah, dan bertahan lama (Santrock 2008). Kemampuan memotivasi adalah kemampuan instruktur dalam

Dokumen terkait