Penulis dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 10 Juli 1982 dari Ayah M. Madrodji dan Ibu Icah. Penulis adalah putri kedua dari tiga bersaudara. Pada tahun 2001 penulis di terima di STKIP Siliwangi Bandung jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan lulus pada tahun 2006. Sambil menjalankan kuliah, penulis bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di SLTP Sejahtera 2 Cileungsi, Bogor dan sebagai Auditor dan Trainer Good Manufacturing Practices (GMP) di PT Yupi Indo Jelly Gum, Bogor.
Setelah meraih gelar sarjananya, penulis bekerja menjadi guru pada sekolah inklusi, Sekolah Alam dan Sains Al-Jannah Islamic Fullday School Jakarta Timur sampai dengan tahun 2008. Lalu kemudian bergabung sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Sosial dengan ditempatkan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) rehabilitasi penyandang disabilitas yaitu di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa (BBRVBD) Cibinong. Pada tahun 2010 penulis berkesempatan memperoleh beasiswa tugas belajar dari Kementerian Sosial untuk melanjutkan studi pada program magister Ilmu Penyuluhan Pembangunan Sekolah Pascasarjana IPB.
Semasa studi magisternya, penulis pernah terlibat aktif dalam beberapa kegiatan seperti menjadi Moderator dan Penterjemah pada acara Third Country Training Program bidang Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas yang diikuti oleh negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasifik Afrika atas kerjasama Pemerintah Republik Indonesia dan Japan International Cooperation Agency (JICA), menjadi fasilitator pada kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) IPB tahun 2011-2012 dan Pengembangan
Softskill Senior Resident Mahasiswa Tahap Persiapan Belajar (TPB) IPB Tahun 2012 yang diselenggarakan oleh Direktorat Kemahasiswaan IPB, sebagai Asisten Peneliti pada Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB yang bekerjasama dengan World Bank dalam kajian Studi Kualitatif Efek Rembesan Pilot PNPM-Lingkungan Mandiri Pedesaan di Indonesia tahun 2012, sebagai
Minutes Taker pada Climate Leadership Program yang diselenggarakan oleh
Center for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia Pasific
(CCROM-SEAP) IPB dan Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) tahun 2012, dan sebagai peserta pada program Australian Leadership Award
Fellowship (ALAF) di bidang disabilitas dan masyarakat inklusi yang
diselenggarakan oleh AusAID di Flinders University, Australia Selatan tahun 2012.
Semasa studi magisternya pula, penulis pernah menjadi peserta pada beberapa kegiatan seminar dan workshop, seperti Workshop on Employment of Persons with Disabilities yang diselenggarakan oleh ILO dan AusAID tahun 2011, Seminar on Promoting Persons with Disabilities Livelihood yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajdjaran Bandung tahun 2011, Seminar on Human Right of Persons with Disabilities in Indonesia-Barriers and Hope yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta tahun 2012,
Evaluation Forum for Promotion of Rural Women’s Livelihood with ICT Use
tahun 2013.
Sebagian dari hasil penelitian tesis ini akan dipublikasikan pada Jurnal Sosiokonsepsia - Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial RI.
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kompetensi merupakan aspek yang harus dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam pekerjaannya. Begitu pula dengan penyandang disabilitas yang memerlukan penguasaan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja, agar ia dapat memperoleh pekerjaan dan bersaing dengan orang yang tidak memiliki disabilitas di pasar kerja terbuka.
Penyandang disabilitas merupakan istilah yang digunakan untuk mengganti istilah penyandang cacat. Penyandang disabilitas menurut Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas atau Convention of the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) merupakan istilah bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama di mana ketika berhadapan dengan berbagai hambatan, hal ini dapat menghalangi partisipasi mereka secara penuh dan efektif dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya (UN 2006).
WHO (2011) menyebutkan bahwa jumlah penyandang disabilitas di dunia pada tahun 2010 adalah sebanyak 15,6 persen dari total penduduk dunia, atau lebih dari 1 milyar. Menurut ILO (Pozzan 2011) sebanyak 470 juta penyandang disabilitas diantaranya masuk ke dalam kategori usia kerja. Kemudian data World Bank (Pozzan 2011) menyebutkan bahwa sebanyak 80 persen penyandang disabilitas yang tinggal di negara berkembang hidup di bawah garis kemiskinan. Di Indonesia sendiri, prevalensi penyandang disabilitas pada tahun 2007 adalah sebanyak 21.3 persen (WHO 2011).
Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial RI dalam simcat.depsos.go.id pada tahun 2009, memperlihatkan bahwa berdasarkan pekerjaannya, sebanyak 25,3 persen penyandang disabilitas dalam keadaan bekerja dan sisanya sebanyak 74,7 persen tidak bekerja. Padahal rendahnya tingkat partisipasi penyandang disabilitas dalam dunia kerja menyebabkan sulitnya memutuskan rantai kemiskinan dan disabilitas. Untuk memutus rantai disabilitas dan kemiskinan, para penyandang disabilitas harus memiliki pekerjaan (WHO 2011).
Rendahnya tingkat partisipasi penyandang disabilitas dalam dunia kerja salah satunya disebabkan oleh rendahnya tingkat keterampilan yang dikuasai oleh penyandang disabilitas. Data Pusdatin (2009) memperlihatkan bahwa hanya 10,2 persen penyandang disabilitas yang memiliki keterampilan dan sisanya sebanyak 89,8 persen tidak memiliki keterampilan, padahal sebanyak 34,1 persen penyandang disabilitas berada pada kelompok usia 15-39 tahun yang merupakan kelompok usia produktif. Sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kompetensi penyandang disabilitas agar mereka memiliki kemampuan memadai yang dibutuhkan untuk berpartisipasi di dunia kerja.
Salah satu upaya pemerintah dalam mempersiapkan tenaga kerja penyandang disabilitas dan untuk mewujudkan kemandirian serta meningkatkan kesejahteraan sosial penyandang disabilitas, yaitu dengan memberikan pelayanan rehabilitasi dalam bentuk pelatihan vokasional/keterampilan (UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat Pasal 18(2); UU No. 11 Tahun 2009 tentang
Kesejahteraan Sosial Pasal 7 Ayat 3(c); PP No. 43 Tahun 1998 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat Pasal 47-48). Dalam pelatihan vokasional, penyandang disabilitas dilatih suatu keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja di perusahaan ataupun secara mandiri, sehingga mereka dapat menjadi individu yang mandiri secara ekonomi dan tidak tergantung kepada orang lain (Yoshimitsu 2003). Hal tersebut sesuai dengan falsafah penyuluhan yang diantaranya adalah falsafah pendidikan, yaitu bahwa pendidikan merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki individu secara optimal dan falsafah membantu, yaitu membantu mereka untuk menolong dirinya sendiri (Amanah 2003).
Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa (BBRVBD) Cibinong yang diresmikan tahun 1997 sebagai hasil kerjasama Pemerintah RI dan Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency) merupakan lembaga pemerintah yang menyelenggarakan pelatihan vokasional bagi penyandang disabilitas. Di lembaga ini, penyandang disabilitas dibekali pengetahuan, perbaikan sikap dan terutama pelatihan keterampilan kerja. Ekspektasi dari pelayanan tersebut adalah agar para penyandang disabilitas mampu secara profesional bersaing di pasaran kerja (Roebyantho et al. 2010).
BBRVBD Cibinong resmi memberikan pelayanan kepada penyandang disabilitas sejak tahun 1998. Setiap tahunnya lembaga ini menerima 100 penyandang disabilitas fisik yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia untuk diberikan pelatihan vokasional, lalu disalurkan magang dan diharapkan dapat bekerja di perusahaan atau usaha mandiri. Jenis keterampilan yang diberikan pada pelatihan vokasional terdiri dari: (1) penjahitan, (2) komputer, (3) desain grafis dan percetakan, (4) elektronika, dan (5) pekerjaan logam. Sejak tahun 2011, lembaga ini meningkatkan kapasitasnya dengan menambah 1 (satu) jenis keterampilan, yaitu keterampilan otomotif sehingga kapasitas peserta pelatihannya bertambah menjadi 120 orang per tahun. Adapun jumlah lulusan pelatihan yang sudah terserap oleh dunia kerja disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Rekapitulasi data penempatan kerja kelayan BBRVBD No. Tahun Angkatan Lulusan yang terserap di
pasaran kerja (persen)
1. 1998 I 30 2. 1999 II 58 3. 2000 III 71 4. 2001 IV 75 5. 2002 V 69 6. 2003 VI 47 7. 2004 VII 71 8. 2005 VIII 65 9. 2006 IX 80 10. 2007 X 20 11. 2008 XI 70 12. 2009 XII 61 13. 2010 XIII 87 14. 2011 XIV 98 Total (persen) 65
Mengacu kepada Tabel 1 daya serap tenaga kerja penyandang disabilitas lulusan pelatihan vokasional di BBRVBD Cibinong masih fluktuatif. Persentase
3
serapan tertinggi dicapai pada tahun 2011 pada angka 98 persen dan angka terendah pada tahun 2007 sebanyak 20 persen. Hal tersebut diantaranya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi perusahaan-perusahaan mitra, jumlah perusahaan mitra, dan kemampuan atau kompetensi lulusan.
Didukung oleh majunya industri garmen dan meningkatnya kebutuhan di dunia sandang, lulusan keterampilan penjahitan merupakan lulusan yang memiliki daya serap paling tinggi di dunia kerja di antara keterampilan-keterampilan lainnya. Berdasarkan data BBRVBD (2011), daya serap lulusan keterampilan penjahitan di dunia kerja berada pada angka 95,3 persen dari total semua lulusan keterampilan penjahitan tahun 1998-2011. Jika dibandingkan dengan total lulusan semua jenis keterampilan di BBRVBD Cibinong yang diserap di dunia kerja, maka lulusan keterampilan penjahitan berada di peringkat paling tinggi, yaitu sebesar 26,9 persen.
Tingginya daya serap lulusan keterampilan penjahitan tentunya didukung oleh penguasaan kompetensi yang dimiliki oleh penyandang disabilitas yang mengikuti pelatihan vokasional di keterampilan penjahitan tersebut. Kompetensi dasar yang dilatihkan kepada semua peserta pelatihan adalah kompetensi melaksanakan prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan (K3) dalam bekerja dan kompetensi menjahit dengan mesin, serta didukung oleh kemampuan non teknis yang dibutuhkan di dunia kerja (employability), yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran selama pelatihan. Kompetensi-kompetensi tersebut harus dikuasai oleh peserta pelatihan agar mereka mampu diserap di dunia kerja.
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan pelatihan vokasional di bidang penjahitan terhadap peningkatan kompetensi penyandang disabilitas lulusan pelatihan.
Kerangka Berpikir
Pelatihan vokasional merupakan jalur pendidikan yang umumnya ditempuh oleh penyandang disabilitas usia produktif sebagai langkah untuk mendapatkan pekerjaan, dengan alasan waktu pendidikan singkat, mudah diakses, berorientasi pada dunia kerja, dan lebih sesuai dengan apa yang dibutuhkan perusahaan penyedia lapangan kerja (Mavromaras dan Palidano 2011).
Pelatihan vokasional telah terbukti memberikan perbaikan hidup bagi para penyandang disabilitas di negara-negara berkembang, seperti di Bangladesh (Nuri
et al. 2012) dan di Nepal (Manish 2010). Model yang lazim digunakan untuk pelatihan vokasional sekarang ini adalah pelatihan vokasional berbasis kompetensi (Smith 2010).
Keberhasilan pelatihan ditentukan oleh komponen-komponen yang ada di dalamnya yaitu diantaranya peserta, instruktur/pelatih, kurikulum/materi dan penyelenggara pelatihan, dimana peserta ditentukan oleh karakteristik peserta (misalnya: demografis, latar belakang pendidikan) yang menentukan lingkup dari pelatihan tersebut (Rose 2009). Khusus untuk penyandang disabilitas, jenis disabilitas turut menentukan kriteria peserta (Griffin dan Nechvoglod 2008).
Instruktur mempunyai peran tersendiri dalam menunjang keberhasilan pelatihan. Penguasaan materi instruktur merupakan salah satu faktor yang krusial dalam keberhasilan pemberian materi (Schempp 1998, Metzler dan Woessmann
2010), termasuk didalamnya persiapan materi (Darling-Hammond et al. 2005). Keinovatifan mengajar juga berperan dalam menyebarkan antusiasme instruktur dalam mengajar terhadap antusiasme peserta didik untuk belajar (Grosu 2011). Menurut McGehee (Ali 2005), aspek lain dari instruktur yang penting adalah kemampuan memotivasi.
Materi pelatihan yang disajikan dalam kurikulum pelatihan sebagai salah satu komponen pelatihan harus disusun secara sistematis dan berdasarkan tahapan-tahapan (Ali 2005, Hickerson dan Middleton 1975). Peserta harus mengetahui tujuan pelatihan, adanya praktek yang memadai (proporsional) dan mengetahui hasil belajar dalam bentuk evaluasi (Hickerson dan Middleton 1975). Penyelenggara pelatihan berwenang atas kebijakan dalam menentukan tenaga pengelola pelatihan dan ketersediaan sarana prasarana pelatihan.
Kompetensi merupakan aspek yang harus dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam pekerjaannya. Kompetensi bidang penjahitan terdiri dari berbagai macam kualifikasi dengan berbagai macam kompetensi di dalamnya. Salah satu kualifikasinya adalah operator penjahit, dimana operator penjahit harus menguasai kompetensi dasar berupa kompetensi melaksanakan prosedur kesehatan, keamanan, dan keselamatan (K3) dalam bekerja dan kompetensi menjahit dengan mesin.
Selain kemampuan teknis, diperlukan juga kemampuan non teknis agar para lulusan pelatihan dapat diserap di dunia kerja. Menurut Hillage and Pollard (Pool and Sewell 2007) kemampuan non teknis juga diperlukan agar seseorang dapat memperoleh pekerjaan dan mempertahankan pekerjaannya, kemampuan non teknis ini dikenal dengan employability. Rasul et al. (2010), mengemukakan bahwa employability adalah kesiapan para lulusan untuk mendapatkan pekerjaan dan mengembangkan karir dengan sukses.
Sesuai dengan Rekomendasi ILO No. 99, dimana rehabilitasi vokasional
didefinisikan sebagai “suatu bagian dari proses rehabilitasi secara
berkesinambungan dan terpadu yang menyediakan pelayanan (misalnya: bimbingan kerja, pelatihan kerja, dan penempatan kerja) untuk memungkinkan penyandang disabilitas memperoleh suatu pekerjaan yang tepat dan dapat
mempertahankan pekerjaan tersebut”, maka employability perlu dikuasai oleh para
peserta pelatihan vokasional agar mereka dapat memperoleh dan mempertahankan pekerjaan serta mengembangkan karir dengan sukses.
Wen L. et al. (2010) dalam hasil penelitiannya mengemukakan bahwa
employability yang dibutuhkan di dunia kerja adalah (a) pemecahan masalah, (b) etika kerja, (c) tanggung jawab, (d) bekerja dalam tim, (e) berorientasi pada pelanggan, dan (f) komunikasi dan manajemen konflik.
Pelatihan vokasional di BBRVBD Cibinong sudah berjalan selama 15 tahun, dan bidang penjahitan merupakan bidang dengan daya serap tenaga kerja lulusan terbesar, yaitu sebanyak 95,3 persen dari semua total lulusan bidang penjahitan. Fokus penelitian ini adalah untuk menggambarkan kompetensi kerja penyandang disabilitas di bidang penjahitan dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kompetensi kerja dalam konteks pelatihan vokasional, dengan kerangka penelitian sebagaimana pada Gambar 1.
5
Perumusan Masalah Penelitian
Pengembangan kompetensi penyandang disabilitas melalui pelatihan vokasional yang dilaksanakan di BBRVBD Cibinong dimaksudkan agar penyandang disabilitas alumni pelatihan dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja sesuai dengan bidang keterampilannya. Pelatihan sebagai suatu kegiatan pembelajaran bagi orang dewasa yang didesain untuk mengubah perilaku peserta pelatihan tidak bisa lepas dari komponen pelatihan seperti karakteristik peserta pelatihan, performa instruktur pelatihan, kurikulum pelatihan, dan profil penyelenggara pelatihan. Sehingga diperlukan penelitian untuk melihat hubungan pelatihan terhadap kompetensi yang dicapai oleh penyandang disabilitas lulusan pelatihan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan penelitian sebagai berikut: (1) Bagaimana tingkat kompetensi penyandang disabilitas lulusan pelatihan vokasional bidang penjahitan; (2) Faktor-
Gambar 1 Kerangka berpikir penelitian
X3. Kurikulum Pelatihan
X3.1. Proporsi jenis materi penunjang dan utama X3.2. Kejelasan tujuan pelatihan
X3.3. Kesesuaian materi dan tujuan pelatihan X3.4. Urutan substansi materi pelatihan X3.5. Proporsi waktu teori dan praktek X3.6. Waktu untuk pelatihan X3.7. Evaluasi pelatihan.
Y1. Kompetensi Melaksanakan prosedur K3 dalam bekerja
Y1.1. Mengikuti prosedur K3di tempat kerja Y1.2. Menangani situasi darurat
Y1.3. Menjaga standar keselamatan kerja perorangan yang aman
Y2. Kompetensi menjahit dengan mesin
Y2.1. Menyiapkan tempat dan alat kerja Y2.2. Menyiapkan mesin jahit Y2.3. Mengoperasikan mesin jahit
Y2.4. Menjahit bagian-bagian potongan pakaian Y2.5. Merapikan tempat dan alat kerja
Y3. Employability:
Y3.1. Pemecahan masalah Y3.2. Etika kerja
Y3.3. Tanggung jawab Y3.4. Bekerja dalam tim Y3.5. Berorientasi pada pelanggan Y3.6. Komunikasi dan manajemen konflik
X1. Karakteristik Penyandang Disabilitas Peserta Pelatihan
X1.1. Jenis kelamin X1.2. Usia
X1.3. Jenis disabilitas X1.4. Penyebab disabilitas X1.5. Lama menyandang disabilitas X1.6. Pendidikan formal X1.7. Pendidikan nonformal X1.8. Pengalaman bekerja X2. Performa Instruktur X2.1. Penguasaan materi X2.2. Keinovatifan mengajar X2.3. Kemampuan memotivasi
X4. Profil Penyelenggara Pelatihan
X4.1. Kesesuaian jumlah instruktur X4.2. Tingkat pendidikaninstruktur
X4.3. Kesesuaian jurusan pendidikaninstruktur X4.4. Pendidikan non formal instruktur X4.5. Pengalaman mengajar instruktur X4.6. Sarana dan prasarana pelatihan
faktor apa saja yang berhubungan dengan kompetensi lulusan pelatihan vokasional di bidang penjahitan yang diselenggarakan oleh BBRVBD Cibinong; dan (3) Berkaitan dengan pengembangan kompetensi penyandang disabilitas melalui pelatihan vokasional, aspek apa yang bisa dikembangkan dari pelatihan vokasional untuk meningkatkan kompetensi penyandang disabilitas di bidang penjahitan.
Hipotesis
Mengacu pada permasalahan dan kerangka pikir penelitian, hipotesis penelitian dirumuskan adalah sebagai berikut:
(1) Terdapat hubungan nyata antara karakteristik peserta pelatihan (usia, lama menyandang disabilitas, pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pengalaman kerja) dengan kompetensi penyandang disabilitas lulusan pelatihan vokasional (melaksanakan prosedur K3 dalam bekerja, menjahit dengan mesin, dan employability) di BBRVBD Cibinong;
(2) Terdapat hubungan nyata antara performa instruktur pelatihan (penguasaan materi, keinovatifan mengajar, dan kemampuan memotivasi) dengan kompetensi penyandang disabilitas lulusan pelatihan vokasional (melaksanakan prosedur K3 dalam bekerja, menjahit dengan mesin, dan
employability) di BBRVBD Cibinong;
(3) Terdapat hubungan nyata antara kurikulum pelatihan (proporsi jenis materi utama dan penunjang, kejelasan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dan tujuan pelatihan, urutan substansi materi pelatihan, proporsi waktu teori dan praktek, waktu untuk pelatihan, dan evaluasi pelatihan) dengan kompetensi penyandang disabilitas lulusan pelatihan vokasional (melaksanakan prosedur K3 dalam bekerja, menjahit dengan mesin, dan
employability) di BBRVBD Cibinong;
(4) Terdapat hubungan nyata antara profil penyelenggara pelatihan (kesesuaian jumlah instruktur, tingkat pendidikan instruktur, kesesuaian jurusan pendidikan instruktur, pendidikan non formal instruktur, pengalaman mengajar instruktur, dan sarana parasarana pelatihan) dengan kompetensi penyandang disabilitas lulusan pelatihan vokasional (melaksanakan prosedur K3 dalam bekerja, menjahit dengan mesin, dan
employability) di BBRVBD Cibinong;
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
(1) Menggambarkan tingkat kompetensi penyandang disabilitas lulusan pelatihan vokasional bidang penjahitan;
(2) Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi penyandang disabilitas di bidang penjahitan melalui pelatihan vokasional; dan
(3) Memberikan rekomendasi pengembangan pelatihan vokasional yang lebih efektif bagi peningkatan kompetensi penyandang disabilitas di bidang penjahitan.
7
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi peningkatan kualitas penyelenggaraan pelatihan vokasional sebagai upaya pengembangan kompetensi penyandang disabilitas dalam mempersiapkan tenaga kerja penyandang disabilitas yang kompeten di bidangnya. Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan dalam menentukan kriteria dan indikator pengembangan kompetensi penyandang disabilitas di bidang penjahitan melalui pelatihan vokasional. Bagi Ilmu Penyuluhan, penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan berkaitan dengan peran penyuluhan dalam bentuk pelatihan vokasional untuk mengembangkan potensi penyandang disabilitas sehingga penyandang disabilitas dapat menolong diri mereka sendiri.
TINJAUAN PUSTAKA
Pelatihan Vokasional
Pelatihan merupakan kegiatan pembelajaran yang didesain untuk mengubah kinerja orang dalam melakukan pekerjaan (Hickerson dan Middleton 1975). Pelatihan biasanya berhubungan dengan mempersiapkan seseorang untuk melakukan suatu tugas atau peran, dalam suatu setting pekerjaan (Tight 2002). Peters (Tight 2002) menyebutkan bahwa konsep pelatihan diaplikasikan ketika (1) ada beberapa jenis pekerjaan khusus yang harus dikuasai, (2) diperlukan praktek untuk penguasaan materi pekerjaan tersebut, dan (3) hanya diperlukan sedikit berpikir.
Goldstein dan Gessner (dalam Tight 2002) mendefinisikan pelatihan sebagai perolehan keterampilan, sikap, dan konsep secara sistematis, yang menghasilkan peningkatan kinerja dalam suatu situasi pekerjaan, dilaksanakan dengan metode langsung di tempat kerja (on the job training) dan bisa juga terpisah di suatu ruangan kelas.
Menurut Cushway (dalam Irianto 2001), pelatihan adalah sarana perubahan untuk meningkatkan keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan kepandaian (ability) para karyawan yang umumnya disebabkan oleh beberapa faktor antara lain dengan munculnya fenomena internal dan eksternal organisasi seperti staff turner, perubahan teknologi, perubahan dalam pekerjaan, perubahan peraturan, perubahan dan perkembangan ekonomi, cara dan prosedur baru dalam bekerja, market pressure, kebijakan pemerintah, keinginan karyawan, variasi perilaku dan persamaan kesempatan.
Menurut Hamalik (2000), konsep sistem pelatihan untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas dalam suatu organisasi adalah: dilaksanakan terus menerus dalam membina ketenagakerjaan, dilakukan dengan sengaja, dilaksanakan oleh tenaga profesional, berlangsung dalam satuan waktu tertentu, meningkatkan kemampuan kerja peserta, dan berkenaan dengan tugas peserta dalam pekerjaannya.
Pelatihan merupakan kegiatan pembelajaran. Belajar itu sendiri didefinisikan sebagai proses dimana perilaku diubah, dibentuk, dan dikontrol. Beberapa ahli lain mengistilahkan belajar dengan pengembangan kompetensi (Knowles 1973). Dalam hal ini, pelatihan merupakan proses pembelajaran, dimana dalam pembelajaran tersebut terjadi perubahan perilaku (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dan atau terjadi pengembangan kompetensi peserta pelatihan, dengan menggunakan pendekatan orang dewasa (Hickerson dan Middleton 1975).
Kegiatan pelatihan harus memperhatikan 5 (lima) prinsip berikut ini (Hickerson dan Middleton 1975):
(1) Penghayatan tujuan. Peserta harus mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu,
(2) Rangkaian bertahap. Peserta harus memproses tahap demi tahap dan tiap tahapan harus berubah menjadi lebih sulit dibandingkan dengan tahapan sebelumnya.
9
mempelajari dengan cara yang terbaik yang sesuai dengan gaya belajar mereka
(4) Praktek yang memadai. Semua peserta harus mempraktekkan aksi pekerjaan yang tergambar dalam tujuan perilaku.
(5) Mengetahui hasil belajar. Saat peserta praktek, mereka harus tahu sejauhmana performa mereka benar atau tidak.
Komponen-komponen pelatihan dan pengembangan menurut Ali (2005) terdiri atas:
(1) Tujuan dan sasaran pelatihan dan pengembangan harus jelas dan dapat diukur;
(2) Para pelatih (trainers) harus memiliki kualifikasi yang memadai.
(3) Materi latihan dan pengembangan harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai;
(4) Metode pelatihan dan pengembangan harus sesuai dengan tingkat kemampuan pegawai yang menjadi peserta;
(5) Peserta pelatihan dan pengembangan (trainee) harus memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Sujudi (2003) menyebutkan bahwa komponen pelatihan setidaknya meliputi 4 (empat) komponen, yaitu:
(1) Peserta Pelatihan, yang berhubungan dengan kriteria peserta untuk setiap jenis pelatihan dan jumpal peserta dalam suatu kelas (berhubungan dengan keefektivitasan pelatihan);
(2) Pelatih/fasilitator, yang berhubungan dengan kemampuan kediklatan (berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar), kesesuaian tingkat pendidikan pelatih dengan peserta pelatihan, kesesuaian keahlian dengan materi yang diberikan (latar belakang pendidikan/keahlian pelatih);
(3) Kurikulum, berhubungan dengan kejelasan tujuan pelatihan, materi pelatihan (termasuk urutan materi, proporsi waktu antara teori dan praktek), variasi metode pelatihan untuk setiap substansi, alat bantu pelatihan (kesesuaian jenis dan jumlah), dan evaluasi pelatihan (meliputi adanya instrumen dan kesesuaian instrumen evaluasi dengan kompetensi yang ingin dicapai); (4) Penyelenggara Pelatihan, yang berhubungan dengan kewenangan hukum
yang dimiliki oleh penyelenggara pelatihan dan tersedianya tenaga pengelola pelatihan yang sesuai standar;
Merujuk kepada Mangkuprawira dan Hubeis (2007), pelatihan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu pelatihan umum yang berupa pendidikan dasar untuk semua jenis pekerjaan dan pelatihan khusus yang fokus terhadap suatu bidang pekerjaan, maka pelatihan vokasional ini termasuk ke dalam bidang pelatihan khusus.
Pelatihan vokasional merupakan salah satu dari rangkaian program rehabilitasi vokasional, merupakan upaya agar penyandang disabilitas memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk suatu jenis pekerjaan, sehingga dapat mempertahankan pekerjaan tersebut maupun meningkatkan kedudukannya (Yoshimitsu 2003).
Pelatihan vokasional merupakan jalur pendidikan yang popular bagi penyandang disabilitas usia produktif sebagai langkah untuk mendapatkan pekerjaan, dengan alasan waktu pendidikan singkat, mudah diakses, berorientasi pada dunia kerja, dan lebih sesuai dengan apa yang dibutuhkan perusahaan penyedia lapangan kerja (Mavromaras dan Palidano 2011). Pelatihan vokasional
telah terbukti memberikan perbaikan hidup bagi para penyandang disabilitas di negara-negara berkembang, seperti di Bangladesh (Nuri et al. 2012) dan di Nepal (Manish 2010). Model yang lazim digunakan untuk pelatihan vokasional sekarang ini adalah pelatihan vokasional berbasis kompetensi (Smith 2010).
Peserta merupakan orang yang paling penting dalam pelatihan (Hickerson