Letak Kabupaten Konawe
Secara geografis Kabupaten Konawe terletak di bagian selatan garis khatulistiwa dengan posisi koordinat sekitar 02o45’ hingga 04o15’ Lintang Selatan dan 121o15’ hingga 123o31’ Bujur Timur yang letaknya berada di daratan Pulau Sulawesi yakni Provinsi Sulawesi Tenggara. Luas wilayah Kabupaten Konawe adalah 6.666,52 km2
Batas-batas wilayah Kabupaten Konawe, yaitu; sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Konawe Utara, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Konawe Selatan, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kolaka, sebelah Timur berbatasan dengan Kotamadya Kendari dan Laut Banda dan merupakan bagian dari gugus wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara administrasi Kabupaten Konawe meliputi 26 wilayah kecamatan yang terdiri atas 338 desa/kelurahan.
atau seluas 666.652 hektar setelah terjadi pemekaran wilayah Kabupaten Konawe Utara berdasarkan Undang- Undang nomor : 13 Tahun 2007.
Batasan wilayah penelitian adalah kecamatan Sentra Produksi Kakao Kabupaten Konawe yakni Kecamatan Uepay, Kecamatan Besulutu, dan Kecamatan Abuki, yang memiliki luas lahan penanaman kakao rakyat terbesar di wilayah Kabupaten Konawe dan menjadi wilayah pengembangan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN). Obyek studi dan unit analisis penelitian pada sampel wilayah desa terpilih dari tiga kecamatan sentra produksi kakao yakni: (1) Desa Panggulawu Kecamatan Uepay, (2) Desa Lawonua Kecamatan Besulutu, dan (3) Desa Sambeani Kecamatan Abuki. Karakteristik wilayah Kabupaten konawe yang memiliki topografi landai, berbukit sampai bergunung menjadi sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian pada umumnya dan khususnya sub sektor perkebunan. Kondisi iklim umumnya hampir sama dengan wilayah lain di Sulawesi yang mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, dengan suhu udara berkisar 20oC hingga 33oC. Musim hujan banyak terjadi pada bulan Desember hingga bulan Maret disebabkan kondisi pergerakan arah angin yang berasal dari angin Barat yang bertiup dari Benua Asia dan yang bertiup dari Samudra Pasifik mengandung banyak uap air,
sedangkan musim kemarau terjadi mulai bulan April sampai bulan Nopember disebabkan angin Timur yang bertiup dari Benua Australia kurang mengandung uap air.
Potensi Pertanian lahan kering Kabupaten Konawe memiliki areal baku (existing area) seluas 282.761 hektar, dengan areal perkebunan kakao rakyat yang telah diusahakan masyarakat seluas 59.554 hektar (21,06 % dari existing area
yang ada) dengan luas areal tanaman kakao menghasilkan (TKM) seluas 25.557,20 hektar dan areal tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 33.996,80 hektar. Produktivitas perkebunan kakao rakyat masih di bawah standar rata-rata produktivitas kakao nasional 1,2 ton/ha (Ditjenbun, 2004:51), terlihat dari hasil perkebunan rakyat yang dicapai di daerah penelitian meliputi; produksi kakao 5.769,4 ton, kelapa 2.995,1 ton, lada 1.179,5 ton, kopi 400,4 ton, dan jambu mete 585,1 ton (BPS Kabupaten Konawe, 2008:73-76). Secara rinci mengenai luas areal produksi dan produktivitas tanaman perkebunan Kabupaten Konawe, dapat disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Luas Areal Produksi Tanaman Menghasilkan (TM) dan Produktivitas Tanaman Perkebunan di Wilayah Penelitian
No Jenis Tanaman Luas Areal
TM (ha) Produksi (ton) Produktivitas (ton/ha) 1. Kakao 8.690,65 5.769,40 0,663 2. Kelapa 5.711,00 2.995,10 0,524 3. Lada 3.273,95 1.179,50 0,360 4. Kopi 1.053,10 400,40 0,380 5. Jambu Mete 6.828,50 585,10 0,085 Jumlah 25.557,20 10.929,50 0,427
Sumber : Data Sekunder, Konawe Dalam Angka, diolah 2009
Produksi dan produktivitas tanaman perkebunan lahan kering yang dicapai belum optimal (0,427 ton/ha), terutama produktivitas tanaman kakao rata-rata mencapai 0,663 ton/ha, masih 40 persen di bawah standar rata-rata produktivitas kakao nasional (1,2 ton/ha), yang dapat dicapai usahatani kakao di wilayah sentra produksi Kabupaten Konawe. Indikator produksi dan produktivitas tanaman perkebunan rakyat tersebut, menunjukkan bahwa kondisi budidaya tanaman dalam pengembangan perkebunan rakyat, khususnya tanaman kakao masih memerlukan upaya peningkatan kualitas intensifikasi dan penerapan sistim agribisnis yang utuh dalam masyarakat perkebunan di wilayah penelitian.
Penduduk di Wilayah Penelitian
Penduduk Kabupaten Konawe pasca pemekaran wilayah berdasarkan hasil Supas Penduduk Tahun 2006 adalah berjumlah 224.345 jiwa, yang terdiri atas penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 115.291 jiwa (51,39 persen) dan penduduk berjenis kelamin perempuan sebanyak 109.054 jiwa (48,61 persen). Penduduk yang tercatat di wilayah Kecamatan sentra produksi kakao Kabupaten Konawe yaitu Kecamatan Uepay, Besulutu, dan Abuki adalah 30.390 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 5.065 KK. Kelompok umur dan jenis kelamin penduduk di wilayah penelitian dapat disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Penduduk di Wilayah Penelitian
No Kelompok Umur
(tahun)
Penduduk (jiwa) Jumlah
(jiwa) Persentase (%) Laki-laki Perempuan 1. Di bawah 15 3.921 4.287 8.208 27,01 2. 15 – 25 3.752 2.159 5.911 19,45 3. 26 – 35 2.636 2.494 5.130 16,88 4. 36 – 45 2.937 2.779 5.716 18,81 5. 46 – 55 1.643 1.554 3.197 10,52 6 56 - 65 917 612 1.529 5,03 7. 65 ke atas 208 489 699 2,30 Jumlah 16.014 14.376 30.390 100,00
Sumber : Data Sekunder Profil Kecamatan, diolah 2009.
Kelompok penduduk yang terkategori umur produktif (15 – 55 tahun) sebanyak 19.954 jiwa (65,66 persen) merupakan penduduk usia muda sekaligus usia kerja yang ada di wilayah penelitian, dan selebihnya umur penduduk yang terkategori non produktif (di bawah 15 tahun dan 56 tahun ke atas) sebanyak 10.436 jiwa (34,34 persen) adalah umur penduduk yang termasuk usia sekolah dan beban kerja dalam aktivitas kegiatan masyarakat perkebunan. Umur merupakan suatu faktor yang mempengaruhi kemampuan fisik seseorang dalam berpikir maupun dalam bekerja. Komposisi umur penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16.014 jiwa (52,69 persen), masih lebih banyak dibandingkan penduduk yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 14.376 jiwa (47,31 persen), hal tersebut memberi gambaran bahwa peran laki-laki lebih dominan dalam pencarian nafkah hidup dalam masyarakat perkebunan di wilayah penelitian.
Kemampuan sumberdaya penduduk juga ditentukan dengan tingkat pendidikan yang dimiliki dalam masyarakat perkebunan. Penduduk berdasarkan tingkat pendidikan yang tercatat di wilayah penelitian, disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan di Wilayah Penelitian
No Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1. Belum sekolah/tidak sekolah 10.032 33,01
2. Tidak tamat SD 413 1,36 3. Tamat SD 11.162 36,73 4. Tamat SLTP 4.394 14,46 5. Tamat SLTA 4.100 13,49 6. Sarjana /PT 289 0,95 Jumlah 30.390 100,00
Sumber : Data Sekunder Profil Kecamatan, diolah 2009.
Tingkat pendidikan masyarakat yang dimiliki sebagian besar masih pada tingkat sekolah dasar (SD) yakni sebanyak 11.162 (36,73 persen), dan sebagian kecil penduduk yang dapat memiliki pendidikan hingga jenjang SLTP (14,46 persen), serta SLTA (13,49 persen) dan Perguruan Tinggi (0,95 persen). Kondisi ini menunjukkan bahwa perhatian masyarakat terhadap pendidikan umum masih kurang sehingga menjadi salah satu penyebab hambatan pengembangan kompetensi petani kakao beragribisnis dalam kegiatan usaha perkebunan rakyat.
Kawasan pemukiman penduduk di huni oleh berbagai etnik (suku) baik yang berasal dari etnik lokal atau penduduk asli (suku Tolaki) maupun etnik migran (suku Bugis, Jawa, Bali) yang sebagian besar hidup dari hasil usahatani kakao sebagai petani perkebunan rakyat. Secara rinci mengenai KK penduduk berdasarkan asal etnik, disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Jumlah KK Penduduk berdasarkan Asal Etnik di Wilayah Penelitian
No Asal Etnik Kec.
Uepay (KK) Persen tase (%) Kec. Besulutu (KK) Persen tase (%) Kec. Abuki (KK) Persen tase (%) Jumlah (KK) Persen tase (%) 1. Tolaki (local etnis) 918 58,5 1.036 65,2 1.142 59,9 3.096 61,1 2. Bugis (migrant) 296 18,9 317 19,9 308 16,1 921 18,2 3. Jawa (migrant) 109 6,9 156 10,0 351 18,4 616 12,2 4. Bali (migrant) 246 15,7 79 4,9 107 5,6 432 8,5
Jumlah 1.569 100,0 1.588 100,0 1.908 100,0 5.065 100,0
Keterikatan berbagai asal etnik/suku dalam masyarakat perkebunan, memberikan keragaman tersendiri dalam masyarakat dengan corak pengalaman budaya yang dibawa secara turun temurun dari berbagai etnik masyarakat perkebunan yang ada serta memberi pengaruh terhadap aktivitas petani kakao dalam pengelolaan usahatani kakao di wilayah penelitian. Ikatan asal etnik dominan ditunjukkan oleh suku Tolaki sebanyak 61,1 persen, dan migran suku Bugis sebanyak 18,2 persen, suku Jawa sebanyak 12,2 persen, dan suku Bali sebanyak 8,5 persen dalam masyarakat perkebunan. Akultarasi dan campuran budaya masyarakat yang disebabkan oleh ikatan perkawinan dari penduduk asli dan etnik lainnya menambah kreatifitas masyarakat memanfaatkan potensi sumberdaya lahan untuk pengelolaan usahatani kakao di wilayah penelitian.
Sumber mata pencaharian penduduk sebagian besar yang mempunyai jenis pekerjaan berusahatani adalah penduduk yang memperoleh pendapatan dari hasil pertanian di lahan kering mempunyai status sebagai petani. Secara rinci kondisi mata pencaharian KK penduduk berdasarkan jenis pekerjaan dapat disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Kondisi Mata Pencaharian KK Penduduk berdasarkan Jenis Pekerjaan di Wilayah Penelitian
No Jenis Mata Pencaharian Jumlah (KK) Persentase (%)
1. Petani Kakao 2.045 40,37 2. Petani Pangan 1.506 29,73 3. Peternak 890 17,57 4. PNS /ABRI 171 3,37 5. Pedagang 248 4,89 6. Lain-lain (volunteer) 205 4,05 Jumlah 5.065 100,00
Sumber : Data Sekunder Profil Kecamatan, diolah 2009.
Mata pencaharian KK penduduk yang bekerja sebagai petani kakao di lahan kering sangat potensial menjadi sumber pendapatan masyarakat di wilayah penelitian. Artinya masyarakat banyak menggantungkan hidupnya dari pekerjaan berusahatani (petani) dibanding pekerjaan lainnya luar usahatani untuk memperoleh nafkah hidup bagi keluarganya. Sebagian besar mata pencaharian KK penduduk bekerja sebagai petani kakao (40,37 persen), dan selebihnya KK penduduk bekerja sebagai petani padi/palawija, peternak, dan bidang pekerjaan lainnya.
Prasarana dan Sarana di Wilayah Penelitian
Prasarana dan sarana yang tersedia untuk menunjang aktivitas produksi, sosial dan ekonomi masyarakat perkebunan di wilayah penelitian merupakan faktor penunjang aktivitas petani kakao dalam melaksanakan kegiatan usahatani di lahan kering. Menurut Mosher (1981:74) sarana produksi usahatani adalah salah satu faktor pelancar, sedangkan prasarana jalan merupakan syarat pokok dalam pembangunan pertanian. Prasarana jalan dan jembatan yang tersedia di wilayah penelitian masih terbatas, terlihat dari hubungan transportasi antara desa- desa dalam kecamatan sentra produksi kakao masih sulit dilalui sarana transportasi. Jalan beraspal yang tersedia sepanjang lebih kurang 1.980 km adalah satu-satunya jalan protokol provinsi yang menghubungkan batas-batas wilayah kabupaten. Jalan desa dan kecamatan dalam wilayah Kabupaten Konawe sebagian besar belum beraspal sehingga kurang lancar dilalui kendaraan roda empat (mobil/truk) maupun kendaraan roda dua (motor), khususnya pada musim hujan.
Secara rinci mengenai pembangunan jalan usahatani (JUT) di wilayah penelitian dalam lima tahun terakhir (2005 – 2009) dapat disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Pembangunan Jalan Usahatani di Wilayah Penelitian (2005- 2009)
No Kecamatan
Sentra Produksi Kakao
Pembangunan JUT (tahun) Jumlah
JUT (km) Sponsor 2005 (km) 2006 (km) 2007 (km) 2008 (km) 2009 (km) 1. Uepay - 2 5 5 6 18 Pemda 2. Besulutu 3*) 5 6,5 5 3 22,5 Pemda + *)Msykat 3. Abuki 5 10 10 5 10 35 Pemda Jumlah 8 17 21,5 15 18 75,5
Sumber : Data Sekunder Kantor Bappeda Kabupaten Konawe, diolah 2009.
Pembangunan sarana jalan usahatani (JUT) dalam lima tahun terakhir (2005- 2009) di wilayah penelitian, masih sebagian besar dibangun melalui program pemerintah daerah dari dinas-dinas terkait yakni Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Konawe. JUT yang dilakukan secara partisipatif dengan swadaya masyarakat masih sangat terbatas, yakni sepanjang 3 km (3,97 persen) pada Tahun 2005 di Desa Lawonua Kecamatan Besulutu, selebihnya sepanjang 72,50 km (96,03 persen) dilakukan melalui program Pemda Kabupaten Konawe. Prinsip
pembangunan yang partisipatif menegaskan masyarakat harus menjadi pelaku utama (subyek) dalam pembangunan (Hikmat, 2001:19).
Sarana produksi yang dimiliki masyarakat perkebunan di wilayah penelitian menunjukkan akses petani kakao lahan kering masih terbatas untuk menjangkau kebutuhan sarana produksi yang digunakan dalam proses produksi usahatani (kegiatan on-farm). Selain itu, kondisi ketersediaan sarana produksi usahatani seperti: bibit, pupuk, dan pestisida, serta alat pertanian kecil (APK) masih kurang terpenuhi dalam masyarakat perkebunan karena terbatasnya kemampuan modal finansial untuk menjangkau harga pengadaan saprodi yang terus meningkat dari waktu ke waktu di tingkat petani. Keterbatasan akses penggunaan sarana produksi dalam kegiatan usahatani kakao di lahan kering merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas usahatani kakao mencapai batas optimal di wilayah penelitian. Menurut Ginting (2002:15) petani lahan kering adalah petani yang kurang mampu (miskin) dalam hal permodalan sehingga tidak mampu membeli dan menyediakan sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida) dan memilih jenis tanaman yang sesuai, sehingga pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki tidak mampu mengadaptasi teknologi usahatani lahan kering yang produktif dan berkelanjutan.
Sarana informasi dan komunikasi yang dimiliki masyarakat perkebunan sangat terbatas, di mana fasilitas radio dan televisi (TV) serta media cetak yang ada kurang banyak di akses masyarakat perkebunan sehingga sosialisasi penerapan teknologi tepat guna (TTG) dan informasi harga komoditas pertanian yang banyak tersedia melalui media massa tidak terjangkau oleh komunitas petani pengguna teknologi (audiens). Rendahnya penerimaan informasi TTG dalam masyarakat perkebunan merupakan salah satu penyebab rendahnya pembentukan kompetensi agribisnis dalam masyarakat perkebunan kakao. Menurut Spencer dan Spencer (1993:10) komponen atau elemen yang membentuk kompetensi adalah karakter pribadi (traits) yaitu karakteristik fisik dan reaksi atau respon yang dilakukan secara konsisten terhadap suatu situasi atau informasi.
Sarana peralatan usahatani yang dimiliki masyarakat perkebunan di wilayah penelitian menunjukkan masih terbatas pada penggunaan peralatan konvensional dalam menunjang kegiatan produksi usahatani (on-farm) serta belum terintegrasi
pada kegiatan pengolahan dan prosesing hasil usahatani kakao (off-farm). Peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi umumnya cara-cara biasa seperti; menggunakan alat pacul untuk melakukan pengolahan tanah, penggalian lubang tanam, dan penyiangan tanaman dari gulma yang ada pada lahan usahatani. Sama halnya dengan kegiatan panen dan pengolahan hasil yakni menggunakan peralatan parang dan sabit serta cara manual (memetik dengan tangan) untuk mendapatkan hasil, dan menjemur hasil dengan cara-cara yang sederhana. Kondisi peralatan usahatani yang terbatas dimiliki masyarakat perkebunan membutuhkan banyak waktu dan tenaga kerja untuk melakukan proses produksi, panen, dan pengolahan hasil usahatani kakao dalam setiap musim panen. Di samping itu, terbatasnya sarana peralatan usahatani yang dimiliki petani adalah salah satu hambatan kemampuan agribisnis dan rendahnya kualitas hasil usahatani kakao yang diperoleh dalam setiap musim panen karena petani tidak mampu melakukan proses pengolahan dan prosesing hasil dengan sarana peralatan prosesing yang kurang tersedia di wilayah penelitian.
Modal Finansial Masyarakat Perkebunan di Wilayah Penelitian
Modal finansial masyarakat perkebunan dapat dilihat dari tingkat pendapatan dan sumber modal usahatani yang diinvestasikan dalam kegiatan usahatani. Tingkat pendapatan masyarakat perkebunan sangat ditentukan dari hasil usahatani yang diperoleh pada setiap musim panen. Musim panen usahatani kakao dalam setahun dalam lingkungan masyarakat perkebunan terjadi sebanyak tiga kali, yakni; (1) panen awal yang terjadi pada bulan April- Mei, di mana kondisi buah kakao sudah dapat di panen sekitar 30 persen dari jumlah buah yang matang secara fisiologis, (2) panen raya terjadi pada bulan Juni- Juli, di mana kondisi buah kakao dapat di panen sekitar 60 persen, dan (3) panen akhir terjadi pada bulan Agustus sampai Nopember, di mana kondisi buah kakao hanya 10 persen yang dapat di panen.
Tingkat pendapatan petani kakao sangat ditentukan dari besar- kecilnya hasil panen buah kakao yang diperoleh dalam setahun, sehingga perhitungan pendapatan rata-rata per bulan/minggu/hari hanya dapat ditentukan dari hasil bagi satuan pendapatan per tahun. Perhitungan rata-rata pendapatan petani kakao dalam setahun dari persatuan areal (ha) didapatkan rata-rata pendapatan relatif
berkisar antara Rp 9.612.000,00 hingga Rp. 12.004.800,00 dengan tingkat harga kakao yang berlaku dalam periode bulan Agustus 2009 senilai Rp 23.000,00/kg biji kakao kering atau rata-rata pendapatan per bulan sebesar Rp 900.700,00/ha bagi petani yang memiliki tanaman kakao menghasilkan (TKM) sebanyak 1000 pohon/ha. Perhitungan pendapatan rata-rata tersebut, bersumber dari hasil usahatani dan belum termasuk pendapatan anggota keluarga petani yang bersumber dari pendapatan luar usahatani.
Tingkat pendapatan rata-rata keluarga petani yang bersumber dari luar usahatani, dapat berkisar antara Rp. 350.000,00 hingga Rp 700.000,00/bulan, yang diperoleh dari aktivitas pelayanan jasa keterampilan seperti; mengojek, membuat atap rumbia, buruh bangunan, pengolah batu merah, pengolah pasir, tukang batu, tukang kayu, membuat kerajinan (tembikar, kursi, meja, lemari), dan menokok sagu sebagai bahan pangan alternatif masyarakat etnik lokal setempat. Modal finansial petani yang digunakan dalam usahatani banyak ditentukan dari tabungan atau simpanan yang diperoleh pada setiap musim panen kakao dan pinjaman dari pedagang pengumpul desa, dengan ketentuan pengembalian pinjaman diperhitungkan setelah panen (yarnen).
Kelembagaan Masyarakat Perkebunan di Wilayah Penelitian
Kelembagaan yang ada pada masyarakat perkebunan kakao rakyat di wilayah penelitian adalah kelembagaan produksi, kelembagaan ekonomi, dan kelembagaan sosial, serta kelembagaan pemerintah daerah.
(1) Kelembagaan Produksi
Peranan kelembagaan produksi dalam proses produksi usahatani kakao cukup kuat dengan ikatan etnik untuk melakukan aktivitas kegiatan usahatani secara bersama-sama dalam hal; pengolahan tanah, penanaman, pemupukan tanaman, dan pengendalian hama-penyakit tanaman (hapentan). Adanya ikatan sosial petani berdasarkan etnik merupakan kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun untuk mengatasi secara bersama masalah cara berproduksi dengan memberikan bantuan tenaga kerja terhadap komunitasnya dan secara bersama- sama melakukan pengendalian hama-penyakit tanaman di lingkungan usahatani mereka.
Pola kelembagaan produksi masyarakat masih tetap dipertahankan dan dijaga dalam komunitas, dengan masih eksisnya kelembagaan kelompoktani dan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Kelembagaan SLPHT berfungsi sebagai lembaga produksi karena penekanannya pada ikatan-ikatan yang sifatnya kelompok belajar teknis produksi yang terbentuk dari dan oleh masyarakat dengan kerjasama pengadaan sarana produksi seperti; bibit, pupuk, pestisida dan peralatan usahatani di lingkungannya. Selain itu, mereka melakukan kegiatan pengendalian hama PBK secara bersama dan serentak pada waktu-waktu tertentu dalam usahatani mereka untuk mempertahankan produksi yang akan dipanen melalui wadah kelompok Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).
Model patron-klien dalam kelembagaan produksi komunitas perkebunan banyak ditemukan dalam masyarakat perkebunan, yaitu pemilik lahan luas mempekerjakan petani lainnya yang mempunyai lahan sempit atau tidak memiliki lahan dalam komunitasnya dengan sistem bagi hasil setelah panen. Ketentuan yang diberlakukan dengan model tersebut adalah petani pemilik lahan yang menguasai sumberdaya meminjamkan lahannya kepada pekerja kebun sebagai pengelola kebun dalam batas waktu tertentu (biasanya ketentuan waktu sebanyak 10 kali panen yakni 5 – 10 tahun), selanjutnya hasil produksi dibagi dua yakni sebagian untuk pemilik lahan dan sebagian untuk pekerja kebun. Pada model ini, pekerja kebun berkewajiban memberi setoran hasil panen (buah kakao) kepada pemilik lahan pada setiap musim panen, dan apabila terjadi resiko akibat gagal panen, maka resiko tersebut tetap menjadi tanggung jawab yang dibebankan kepada pekerja kebun untuk diperhitungkan sebagai beban setoran kepada pemilik lahan pada panen selanjutnya.
(2) Kelembagaan Ekonomi
Kelembagaan ekonomi dalam masyarakat perkebunan kakao di wilayah penelitian, pembentukan dan fungsinya lebih banyak ditekankan dalam transaksi penjualan hasil dan jalur pemasaran hasil usahatani. Model transaksi penjualan hasil usahatani dapat dilakukan petani secara tidak langsung melalui kelompok usaha bersama (KUBE) dan penjualan hasil usahatani secara langsung melalui pedagang pengumpul dalam komunitas petani kakao pada setiap musim panen.
Pola KUBE dalam masyarakat perkebunan kakao sudah kurang diminati petani dalam melakukan transaksi penjualan hasil usahatani karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerima nilai hasil penjualan dari pedagang besar dan eksportir yang berhubungan dengan pengurus KUBE. Selain itu masalah keseragaman mutu dan kualitas hasil sangat diperhatikan oleh pembeli, serta ketentuan biaya tambahan dalam melakukan transaksi penjualan hasil banyak dibebankan kepada anggota komunitas petani produsen kakao, seperti; biaya angkutan, biaya retribusi, dan susutan biji kakao (kg) cukup tinggi yang dikeluarkan sebagai biaya oleh anggo ta komunitas.
Pola transaksi secara langsung dengan pedagang pengumpul dalam penjualan hasil usahatani kakao sangat banyak ditemukan dalam masyarakat perkebunan . Pola ini dilakukan oleh masyarakat perkebunan dengan cara petani menjual langsung hasil usahatani kepada pedagang pengumpul kakao di tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten dengan standar mutu dan harga yang ditentukan oleh pedagang pengumpul. Transaksi penjualan hasil dapat dilaksanakan di kebun saat musim panen atau di tempat penampungan hasil pedagang pengumpul. Penerimaan nilai penjualan hasil usahatani langsung tunai di terima oleh petani dan mutu hasil tidak banyak dipermasalahkan oleh pedagang pengumpul sehingga petani cepat menerima hasil penjualan sesuai kesepakatan harga permintaan dan penawaran yang berlaku saat itu. Pedagang pengumpul menetapkan standar harga pembelian kakao petani, yakni pembelian biji kakao non fermentasi dengan penjemuran sehari (kadar air 21 %) dengan harga Rp 11.000,00 per kg, biji kakao kering dengan penjemuran dua hari (kadar air 14 %) dengan harga Rp 14.000,00 per kg, dan biji kakao kering dengan penjemuran tiga sampai empat hari (kering patah, kadar air 5-7 %) dengan harga Rp 23.000,00 per kg, yang harganya sama dengan biji kakao fermentasi di pasaran umum (kondisi penetapan harga berlaku periode bulan Juli 2009).
Jalur pemasaran hasil produksi usahatani kakao sebagian besar (80 %) petani produsen kakao langsung menjual atau memasarkan hasil usahataninya kepada pedagang pengumpul yang ditetapkan menjadi partner business
(langganan) dengan pola transaksi penjualan di kebun saat musim panen. Hanya sebagian kecil (20 %) petani produsen kakao yang menggunakan fungsi KUBE
sebagai wadah kelembagaan ekonomi masyarakat perkebunan sebagai jalur pemasaran hasil usahatani kakao. Pemasaran kakao kurang efektif menggunakan peran kelembagaan ekonomi atau KUBE, disebabkan oleh lambannya traksaksi penjualan hasil usahatani, sedangkan petani ingin cepat memperoleh pertukaran hasil untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan hal tersebut salah satu penyebab lemahnya posisi tawar (bargaining position) komunitas petani produsen kakao dalam menentukan standar harga dan mutu penjualan kakao terhadap konsumen kakao dalam pemasaran hasil produksi usahatani kakao di wilayah penelitian.
(3) Kelembagaan Sosial
Kelembagaan sosial yang terbentuk untuk mendukung aktivitas sosial masyarakat perkebunan kakao di wilayah penelitian adalah kelompoktani, kelompok swadaya masyarakat (KSM), dan forum antar etnis/suku yang proses pembentukannya dilandasi oleh rasa kesamaan kepentingan dan ikatan sosial masyarakat terhadap kondisi sumberdaya dan lingkungannya. Perbedaan kedudukan dan peranan masing-masing individu dalam komunitas yang cenderung menjadi dasar pelapisan sosial maupun konflik sosial masih pada batas-batas toleransi karena nilai kebersamaan dan pembauran masyarakat yang terjadi melalui ikatan perkawinan antar anggota keluarga dari etnik masyarakat yakni etnik lokal maupun etnik migran sudah menjadi model toleransi sosial masyarakat di wilayah penelitian.
Struktur komunitas dalam masyarakat perkebunan terutama ditentukan oleh finansial ekonomi individu anggota komunitas dalam hal kepemilikan luas lahan serta sumberdaya yang dikuasainya dan pada gilirannya akan menentukan hubungan sosial kemasyarakatan. Selain hal tersebut, struktur komunitas sangat