Sulawesi Utara
Provinsi Sulawesi Utara dengan Ibukota Manado ini terletak di bagian Utara Pulau Sulawesi dan merupakan salah satu dari 3 provinsi di Indonesia yang terletak di sebelah Utara garis Khatulistiwa. Secara geografis Sulawesi Utara terletak pada 0.3°-4.3° Lintang Utara (LU) dan 121°-127° Bujur Timur (BT). Kedudukan Sulawesi Utara membujur dari Timur ke Barat dengan daerah paling utara adalah Kepulauan Sangihe dan Talaud di mana wilayah kepulauan ini berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Filipina. Wilayah Utara Sulawesi Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi, Samudra Pasifik dan Republik Filipina, sebelah Timur berbatasan dengan Laut Maluku, sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini, dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Gorontalo.
Iklim daerah Sulawesi Utara termasuk tropis yang dipengaruhi oleh angin muson. Bulan November sampai dengan bulan April bertiup angin Barat yang membawa hujan di pantai Utara sedangkan bulan Mei sampai Oktober terjadi perubahan angin Selatan yang kering. Curah hujan tidak merata dengan angka tahunan berkisar antara 2000-3000 mm, dan jumlah hari hujan antara 90-139 hari. Suhu udara berada pada setiap tingkat ketinggian semakin ke atas semakin sejuk seperti daerah Kota Tomohon, Langowan di Minahasa, Modoinding di Kabupaten Minahasa Selatan, Kota Kotamobagu, Modayag dan Pasi di Kabupaten Bolaang Mongondow.
Sulawesi Utara memiliki luas 15 272.44 km2 yang terbagi menjadi 13 kabupaten atau kota. Provinsi Sulawesi Utara mengalami penambahan 3 kabupaten dan 1 kota pada tahun 2003 dengan Kabupaten Minahasa sebagai kabupaten Induk yaitu Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Tomohon serta Kabupaten Kepulauan Talaud. Terjadi penambahanan 4 wilayah kabupaten atau kota pada tahun 2007 yang terdiri dari: Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Bolmong Utara, Kabupaten Sitaro dan Kota Kotamobagu. Sulawesi Utara juga merupakan provinsi yang kaya akan hasil tanaman pangan dan sentra peternakan. Kepadatan penduduk di Sulawesi Utara tidak terlalu tinggi.
Penduduk Sulawesi Utara terdiri dari 3 kelompok etnis utama yaitu: Suku Minahasa, Suku Sangihe, dan Talaud, Suku Bolaang Mongondow. Masing-masing kelompok etnis tersebut terbagi lagi menjadi beberapa sub etnis yang memiliki bahasa, tradisi dan norma-norma kemasyarakatan yang khas serta diperkuat semangat Mapalus, Mapaluse dan Moposad. Selanjutnya agama yang dianut oleh penduduk di Propinsi Sulawesi Utara adalah Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha. Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2003 jumlah penduduk beragama Islam adalah 617 059 jiwa, kristen protestan 1 371 113 jiwa, katholik 128 529 jiwa, Budha 11 646 jiwa, dan Hindu 28 jiwa.
DKI Jakarta
Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) terletak pada 6°11′ Lintang Selatan (LS) dan 106°50′ Bujur Timur (BT). Provinsi DKI Jakarta terletak di sebelah Selatan Laut Jawa; sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten/Kota Bekasi; sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Depok serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang. Letak provinsi DKI Jakarta yang strategis di Kepulauan Indonesia menjadikan Jakarta pintu gerbang utama dalam perdagangan antar pulau dan hubungan internasional dengan pelabuhan utama yaitu Tanjung Priok dan Bandara Soekarno Hatta.
Jakarta beriklim tropis dengan suhu tahunan rata-rata 27°C dan kelembaban 80-90%. Karena terletak di dekat garis khatulistiwa, arah angin dipengaruhi oleh Angin Musim. Angin Musim Barat bertiup antara November dan April sedangkan Angin Musim Timur antara Mei dan Oktober. Curah hujan rata-rata 2.000 mm, curah hujan paling besar sekitar bulan Januari dan paling kecil pada bulan September.
Provinsi DKI Jakarta mempunyai luas daratan 661.52 km2 dan lautan seluas 6 977.5 km2 serta tercatat ±110 pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu. Secara administrasi, provinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah Kotamadya dan 1 Kabupaten Administrasi yaitu Jakarta Pusat dengan luas daratan 47.90 km2, Jakarta Utara dengan luas daratan 154.01 km2, Jakarta Barat dengan luas daratan 126.15 km2, Jakarta Selatan dengan luas daratan 145.73 km2, Jakarta Timur dengan luas daratan 187.73 km2, dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Berdasarkan data pada tahun 2006 jumlah penduduk di Jakarta sekitar 7 512 323 jiwa namun pada siang hari, angka tersebut akan bertambah seiring datangnya para pekerja dari kota Satelit seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan
Depok. Kotamadya yang paling padat penduduknya adalah Jakarta Timur dengan 2 131 341 penduduk, sementara kotamadya dengan paling sedikit penduduk adalah Kepulauan Seribu, yaitu 19 545 jiwa.
Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi yang lebih maju dan memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Menurut Dinas Kependudukan pada tahun 2006 kepadatan penduduk DKI Jakarta mencapai 11 365 jiwa per km2 dengan berbagai jenis suku dan etnis. Usia produktif wanita lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Sebagian besar (84,3%) penduduk DKI Jakarta berpendidikan wajib 9 tahun dan juga jenjang pendidikan yang lebih tinggi, hanya sebagian kecil (15,7%) yang berpendidikan kurang dari SD atau tidak sekolah sama sekali. Rata-rata penduduk DKI Jakarta memiliki pendapatan kurang lebih Rp. 1 103 474,- per bulan (Susenas KOR 2004; Depkes 2008).
Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugal. Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan. Kemudian Agama yang dianut oleh penduduk DKI Jakarta sangat beragam. Menurut data pemerintah DKI pada tahun 2005, komposisi penganut agama di kota ini adalah Islam 83 %, Kristen Protestan 6.2 %, Katolik 5.7 %, Hindu 1.2 %, dan Buddha 3.5 %.
Gorontalo
Provinsi Gorontalo adalah salah satu dari 32 provinsi di wilayah Republik Indonesia yang memanjang dari Timur ke Barat di Bagian Utara Pulau Sulawesi. Secara geografis terletak diantara 0°, 30' - 1°,0' lintang utara (LU) dan 121°,0' - 123°,30' Bujur Timur (BT). Sebelah Utara Gorontalo berbatasan dengan Laut Sulawesi; sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara; sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah; dan sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini. Provinsi termuda ini memiliki luas wilayah 12 215.44 km2, meliputi: Kota Gorontalo (64.80 km2), Kabupaten Gorontalo (5 338.98 km2), Kabupaten Boalemo (6 761.67 km2).
Gorontalo ini mempunyai ketinggian dari permukaan laut antara 0 - 2 400 meter dengan jumlah pulau-pulau kecil yang teridentifikasi sampai saat ini sebanyak 67 buah serta mempunyai 2 musim iklim yakni musim penghujan dan musim kemarau. Hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Maret, Mei dan Oktober dengan Curah Hujan rata-rata 207.7 mm dan suhu rata-rata 23-31° C.
Jumlah penduduk pada tahun 2000 adalah sebesar 840 386 jiwa. Kabupaten Boalemo 192 795 jiwa, pertumbuhan penduduk sebesar 1.97 % per tahun selama periode 1990-2002. Kabupaten Gorontalo 543 433 jiwa, pertumbuhan penduduk sebesar 1.64 % per tahun selama periode 1990-2002. Kota Gorontalo134 572 jiwa, pertumbuhan penduduk sebesar 74 % per tahun selama periode 1990-2002. Dan pada tahun 2004 jumlah penduduk bertambah menjadi 887 000 jiwa.
Provinsi Gorontalo merupakan provinsi dengan potensial ekonomi yang cukup tinggi. Provinsi ini tercatat beberapa komoditi unggulan, untuk sektor pertanian dan sub sektor perikanan. Untuk kegiatan ekspor, provinsi ini mampu mencapai nilai ekspor hingga US$ 6,2 juta, dengan kontribusi terbesar disumbang dari komoditi jagung sebesar US$ 3,9 juta atau sekitar 63,8% dari total ekspor (Susenas 2006). Keadaan penduduk provinsi Gorontalo tidak berbeda jauh dengan Sulawesi Utara karena latar belakang provinsi ini juga merupakan bekas pecahan provinsi Sulawesi Utara.
Terdapat sedikitnya 7 suku utama yang menetap di provinsi Gorontalo yaitu: Suku Gorontalo, Suku Bugis, Suku Polahi, Suku Jawa, Suku Makassar, Suku Bali, Suku Minahasa. Suku-suku tersebut tidak jauh berbeda dengan suku-suku di Sulawesi Utara karena berdasarkan asal-usul wilayah Gorontalo merupakan pemekaran dari provinsi Sulawesi Utara sehingga budaya dan bahasa di provinsi ini tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan provinsi Sulawesi Utara. Agama yang dianut oleh penduduk di Sulawesi Utara adalah Protestan, Katolik, Islam. Selain agama-agama resmi tersebut masih ada masyarakat tertentu di Gorontalo yang menganut animisme.
Karakteristik Sampel
Karakteristik sampel yang diamati adalah kondisi demografi, keadaan sosial-ekonomi, gaya hidup, dan kondisi mental emosional. Kondisi demografi meliputi umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, dan wilayah tinggal. Keadaan sosial-ekonomi meliputi pendidikan, pekerjaan, dan pengeluaran rumah tangga. Gaya hidup meliputi perilaku konsumsi kebiasaan akivitas fisik berat. Sementara itu kondisi mental emosional dibedakan menjadi kondisi mental terganggu dan tidak terganggu.
Kondisi Demografi Umur
Klasifikasi umur sampel dalam penelitian ini dirujuk berdasar Riskesdas 2007. Umur sampel berkisar antara 15 hingga 97 tahun dengan rata-rata umur 40.31±16.18 tahun di Sulawesi Utara, 36.73±14.69 tahun di DKI Jakarta, dan 36.40±14.55 tahun di Gorontalo (Tabel 5). Persentase terbesar di Sulawesi Utara (22.9%) adalah sampel berumur 35-44 tahun sedangkan di DKI Jakarta (26.6%) dan Gorontalo (25.8%) adalah sampel berumur 25-34 tahun. Sementara itu persentase terkecil di ketiga provinsi adalah sampel yang berumur 75 tahun ke atas.
Tabel 5 Gambaran sampel berdasarkan kondisi demografi di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Karakteristik Demografi
Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%) Umur 15-24 1 778(18.4) 2 656(23.3) 1 613(23.3) 25-34 2 090(21.7) 3 033(26.6) 1 789(25.8) 35-44 2 213(22.9) 2 450(21.5) 1 624(23.5) 45-54 1 706(17.7) 1 748(15.3) 988(14.3) 55-64 970(10.1) 944(8.3) 599(8.7) 65-74 613(6.4) 431(3.8) 246(3.6) 75+ 276(2.9) 149(1.3) 63(0.9) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Rata-rata±SD 40.31±16.18 36.73±14.69 36.40±14.55 Jenis Kelamin Laki-laki 4 726(49.0) 5 351(46.9) 3 336(48.2) Perempuan 4 920(51.0) 6 060(53.1) 3 586(51.8) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Status Kawin Menikah 7 637(79.2) 8 285(72.6) 5 421(78.3) Belum Menikah 2 009(20.8) 3 126(27.4) 1 501(21.7) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0)
Karakteristik Demografi
Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%) Besar Keluarga 1-2 orang 1 223(12.7) 1 232(10.8) 661(9.5) 3-4 orang 4 922(51.0) 4 871(42.7) 3 427(49.5) 5-6 orang 2 640(27.4) 3 567(31.3) 2 109(30.5) >6 orang 1 223(12.7) 1 232(10.8) 661(9.5) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Wilayah Perkotaan 3 451(35.8) 11 411(100.0) 1 689(24.4) Perdesaan 6 195(64.2) 0(0.0) 5 233(75.6) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Jenis Kelamin
Secara umum persentase sampel yang berjenis kelamin perempuan dan laki-laki hampir sama namun persentase sampel yang berjenis kelamin perempuan lebih besar dibandingkan sampel yang berjenis kelamin laki-laki (Tabel 5). Sampel yang berjenis kelamin perempuan di Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo secara berturut-turut sebesar 51.0, 53.1 %, dan 51.8% sedangkan sampel yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 49.0%, 46.9%, dan 48.2%.
Status Kawin
Status perkawinan sampel dikategorikan menjadi menikah dan belum menikah. Sampel menikah dalam penelitian ini terdiri dari sampel yang sudah menikah dan sampel yang pernah menikah (cerai hidup/mati). Sebagian besar sampel di ketiga provinsi umumnya berstatus menikah (Tabel 5). Persentase sampel yang menikah di Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo adalah 79.2%, 72.6%, dan 78.3%.
Besar Keluarga
Pengategorian besar keluarga berdasarkan jumlah anggota keluarga, terdiri dari 4 golongan yaitu jumlah anggota keluarga 1-2 orang, 3-4 orang, 5-6 orang, dan lebih dari 6 orang (Riskesdas 2007). Kecenderungan besar keluarga sampel di ketiga provinsi tidak berbeda jauh. Secara umum besar keluarga sampel adalah 3-4 anggota keluarga dengan masing-masing persentase per provinsi adalah 51% di Sulawesi Utara, 42.7% di DKI Jakarta, dan 49.5% di Gorontalo (Tabel 5).
Wilayah
Wilayah tempat tinggal sampel digolongkan menjadi wilayah perkotaan dan perdesaan (BPS 2003). Persentase sampel menurut wilayah tempat tinggal cenderung berbeda di tiap-tiap provinsi. Keseluruhan (100%) sampel di DKI Jakarta bertempat tinggal di perkotaan karena provinsi ini merupakan Daerah Khusus Ibukota negara yang menurut tata kota tidak ada pembagian wilayah perdesaan. Berbeda dengan provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Utara dan Gorontalo sebagian besar sampel bertempat tinggal di perdesaan dengan persentase berturut-turut 64.2% dan 75.6% (Tabel 5).
Keadaan Sosial-Ekonomi Pendidikan
Pengklasifikasian jenjang pendidikan sampel meliputi tidak pernah sekolah, tidak tamat Sekolah Dasar (SD), tamat Sekolah Dasar (SD), tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan tamat Perguruan Tinggi (PT). Sebagian besar sampel di Sulawesi Utara berpendidikan SD (26.5%) dan SLTA (26.1%) namun sampel yang berpendidikan rendah (tidak tamat SD dan tidak bersekolah) masih tinggi sebesar 18.3%. Berbeda dengan sampel di Sulawesi Utara, sebesar 37.7% sampel di DKI Jakarta berlatar belakang pendidikan SLTA dan hanya sebagian kecil sampel yang hanya berlatar belakang pendidikan SD (6.9%) dan tidak bersekolah (3.9%). Sementara itu, di Gorontalo sebagian besar sampel yang berpendidikan tinggi (SLTP ke atas) masih sedikit, sebesar 33.3% sampel berpendidikan tidak tamat SD dan tidak pernah bersekolah (Tabel 6).
Tabel 6 Gambaran sampel berdasarkan keadaan sosial-ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Kondisi Sosial-Ekonomi Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%) Wilayah Perkotaan 3 451(35.8) 11 411(100.0) 1 689(24.4) Perdesaan 6 195(64.2) 0(0.0) 5 233(75.6) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Pendidikan
Tidak pernah sekolah 129(1.3) 443(3.9) 229(3.3) Tidak tamat SD 1 641(17.0) 788(6.9) 2 080(30.0) Tamat SD 2 556(26.5) 2 158(18.9) 2 045(29.5) Tamat SLTP 2 281(23.6) 2 585(22.7) 1 125(16.3) Tamat SLTA 2 513(26.1) 4 305(37.7) 1 118(16.2) Tamat Perguruan Tinggi 526(5.5) 1 132(9.9) 325(4.7) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0)
Kondisi Sosial-Ekonomi Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo n(%) n(%) n(%) Pekerjaan Tidak kerja 1 012(10.5) 1 295(11.3) 706(10.2) Sekolah 703(7.3) 861(7.5) 568(8.2) Ibu RT 2 853(29.6) 3 145(27.6) 2 124(30.7) Pegawai 2 771(28.7) 1 013(8.9) 2 059(29.7) Wiraswasta 1 001(10.4) 2 300(20.2) 692(10.0) Petani/Nelayan/Buruh 922(9.6) 2 363(20.7) 488(7.0) Lainnya 1 012(10.5) 1 295(11.3) 706(10.2) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Pengeluaran Kuintil 1 1 918(19.9) 2 215(19.4) 1 382(20.0) Kuintil 2 1 953(20.2) 2 273(19.9) 1 386(20.0) Kuintil 3 1 920(19.9) 2 306(20.2) 1 383(20.0) Kuintil 4 1 927(20.0) 2 275(19.9) 1 379(19.9) Kuintil 5 1 928(20.0) 2 342(20.5) 1 392(20.1) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Pekerjaan
Pekerjaan sampel dibagi menjadi tidak bekerja, sekolah, ibu Rumah Tangga (RT), pegawai, wiraswasta, petani/buruh/nelayan, dan lainnya. Secara umum sebagian besar sampel di ketiga provinsi bekerja sebagai ibu rumah tangga. Persentase terbesar setelah pekerjaan ibu rumah tangga di DKI Jakarta adalah petani, buruh, atau nelayan (20.7%) dan wiraswasta (20.2%). Sementara itu di Sulawesi Utara dan Gorontalo persentase sampel kedua terbesar yang bekerja setelah ibu rumah tangga yaitu pegawai (Tabel 6).
Pengeluaran rumah tangga
Pengeluaran sampel dalam penelitian ini terdiri dari pengeluaran pangan dan non pangan dalam rumah tangga digolongkan menjadi beberapa tingkatan berupa 5 kuintil, kuintil 1 Rp. 160 000,00; kuintil 2 Rp. 219 000, 00; kuintil 3 Rp. 272 000,00; kuintil 3 Rp. 344 000,00; dan kuitil 5 Rp. 555 000,00. Berdasarkan Tabel 6 sebagian besar sampel di provinsi DKI Jakarta berada pada kuintil 5 (20,5%) dan kuintil 3 (20,2%). Sementara itu sebagian besar sampel di provinsi Sulawesi Utara berada pada kuintil 2 (20,2%), kuintil 4 (20%) dan kuintil 5 (20%) sedangkan di provinsi Gorontalo sebagian besar sampel berada pada kuintil 5 (20,1%) dan kuintil 1,2,3 dengan masing-masing proporsi yang sama (20%).
Gaya Hidup Perilaku Konsumsi
Merokok. Tabel 7 menggambarkan kebiasaan merokok sampel. Kebiasaan merokok sampel merupakan kebiasaan merokok dalam 1 tahun terakhir dan dikategorikan menjadi kebiasaan merokok setiap hari, merokok kadang-kadang, pernah merokok namun sudah berhenti (mantan perokok), dan sama sekali tidak pernah merokok (bukan perokok). Secara umum sampel yang merokok tiap hari lebih sedikit dibandingkan sampel yang tidak pernah merokok sama sekali. Persentase sampel yang merupakan perokok setiap hari dan kadang-kadang di Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo secara berturut-turut 34.1%, 30.7%, dan 38.3%.
Tabel 7 Gambaran sampel berdasarkan kebiasaan merokok di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Minum Minuman beralkohol. Persentase sampel yang terbiasa minum minuman beralkohol pada ketiga provinsi jauh lebih sedikit dibandingkan sampel yang tidak minum minuman beralkohol dalam 1 tahun terakhir (Tabel 8). Sampel yang minum minuman beralkohol di DKI Jakarta memiliki persentase terkecil (4.1%) dibandingkan 2 provinsi lainnya. Persentase tertinggi pada sampel yang terbiasa minum minuman beralkohol terdapat di Sulawesi Utara sebesar 21.8 %. Sementara itu di Gorontalo proporsi sampel yang terbiasa minum minuman beralkohol sebesar 14.2%.
Tabel 8 Gambaran sampel berdasarkan kebiasaan minum minuman beralkohol di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Minum Minuman
beralkohol Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%)
Minum 2 107(21.8) 471(4.1) 981(14.2)
Tidak minum 7 539(78.2) 10 940(95.9) 5 941(85.8) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Merokok Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%)
Perokok setiap hari 2 657(27.5) 2 661(23.3) 2 226(32.2) Perokok kadang-kadang 640(6.6) 845(7.4) 419(6.1)
Mantan perokok 516(5.3) 613(5.4) 201(2.9)
Bukan perokok 5 833(60.5) 7 292(63.9) 4 076(58.9) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0)
Konsumsi Sayuran dan Buah. Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar sampel masih kurang mengonsumsi sayuran dan buah. Proporsi sampel yang cukup mengonsumsi sayuran dan buah di Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo adalah 14.4%, 6.0%, dan 17.3%. Angka ini menunjukan kecukupan konsumsi sayuran dan buah pada sampel masih rendah.
Tabel 9 Gambaran sampel berdasarkan kecukupan konsumsi sayuran dan buah di Provinsi , Sulawesi Utara, DKI Jakartadan Gorontalo
Konsumsi
Sayuran dan Buah Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%)
Cukup 1 387(14.4) 690(6.0) 1 199(17.3)
Kurang 8 259(85.6) 10 721(94.0) 5 723(82.7)
Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0) Konsumsi Makanan Berlemak. Kebiasaan konsumsi makanan berlemak dikategorikan berdasarkan frekuensi kebiasaan. Kebiasaan sampel mengonsumsi makanan berlemak dikategorikan menjadi sering dan jarang. Sampel mengonsumsi dengan frekuensi 1 kali atau lebih dalam sehari digolongkan sering mengonsumsi makanan berlemak dan sebaliknya. Tabel 10 menunjukkan bahwa di Sulawesi Utara (93.2%), DKI Jakarta (78.9%), dan Gorontalo (78.1%) sebagian besar sampel jarang mengonsumsi makanan berlemak.
Tabel 10 Gambaran sampel berdasarkan kebiasaan makanan berlemak di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Konsumsi Makanan Manis. Sama halnya dengan kebiasaan konsumsi makanan berlemak, pengategorian kebiasaan konsumsi makanan manis dikategorikan menjadi sering dan jarang. Sebagian besar sampel di provinsi Sulawesi Utara (72.5%), DKI Jakarta (72.3%), dan Gorontalo (64.2%) sering mengonsumsi makanan manis (Tabel 11).
Tabel 11 Gambaran sampel berdasarkan kebiasaan makanan manis di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Konsumsi Makanan
Berlemak Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%)
Jarang 8 992(93.2) 9 005(78.9) 5 406(78.1)
Sering 654(6.8) 2 406(21.1) 1516(21.9)
Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0)
Konsumsi Makanan
Manis Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%)
Jarang 2 648(27.5) 3 157(27.7) 2 479(35.8)
Sering 6 998(72.5) 8 254(72.3) 4 443(64.2)
Konsumsi Jeroan. Jeroan yang dikonsumsi oleh sampel merupakan organ-organ hewan selain otot, daging, dan tulang seperti usus, ampela, otak, paru, dan sebagainya. Kebiasaan konsumsi jeroan juga dikategorikan menjadi sering dan jarang. Secara umum sebagian besar sampel di ketiga provinsi jarang mengonsumsi jeroan dalam 1 bulan terakhir dengan persentase 98.7% di Sulawesi Utara, 96.5% di DKI Jakarta, dan 98.8 di Gorontalo (Tabel 12).
Tabel 12 Gambaran sampel berdasarkan kebiasaan konsumsi jeroan di Provinsi DKI Jakarta, Sulawesi Utara, dan Gorontalo
Aktivitas Fisik Berat
Aktivitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung serta pembuluh darah (Balitbangkes Depkes 2008). Kegiatan aktivitas fisik dalam penelitian ini adalah kebiasaan aktivitas fisik berat yang dilakukan sampel minimal 10 menit secara terus-menerus dalam 1 hari.
Tabel 13 Gambaran sampel menurut kebiasaan aktivitas fisik di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Sampel yang melakukan aktivitas fisik berat minimal 10 menit secara terus-menerus dalam 1 hari di ketiga provinsi cenderung lebih sedikit dibandingkan sampel yang melakukan. Sebagian besar sampel di ketiga provinsi cenderung tidak terbiasa melakukan aktivitas fisik berat (Tabel 13). Proporsi sampel yang paling sedikit melakukan aktivitas fisik terdapat di DKI Jakarta sebesar 15.9% kemudian provinsi Sulawesi Utara (41.4%) dan provinsi Gorontalo (45%).
Konsumsi Jeroan Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo n = 9646 n(%) n = 11 411 n(%) n = 6922 n(%) Jarang 9 525(98.7) 11 011(96.5) 6 839(98.8) Sering 121(1.3) 400(3.5) 83(1.2) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0)
Aktivitas Fisik Berat Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo n = 9646 n(%) n = 11 411 n(%) n = 6922 n(%) Ya 3 979(41.3) 1 816(15.9) 3 118(45.0) Tidak 5 667(58.7) 9 595(84.1) 3 804(55.0) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0)
Kondisi Mental Emosional
Kondisi mental emosional pada sampel diukur dengan memberikan 20 pertanyaan kesehatan mental dengan jawaban ya dan tidak kepada sampel dengan penilaian Self Reporting Questionnaire (SRQ). Seseorang yang menjawab minimal 6 pertanyaan dengan jawaban ya maka dapat digolongkan ke dalam kondisi mental yang terganggu. Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut (Balitbangkes Depkes 2008).
Tabel 14 Gambaran sampel berdasarkan kondisi mental emosional di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo
Tabel 14 menunjukkan bahwa sampel yang mengalami gangguan mental emosional jauh lebih sedikit dibandingkan sampel yang tidak mengalami gangguan mental emosional di ketiga provinsi. Proporsi sampel yang mengalami gangguan mental emosional tertinggi terjadi di provinsi Gorontalo (19%) kemudian diikuti provinsi DKI Jakarta sebesar 14.2% dan yang terendah di provinsi Sulawesi Utara (10.7%).
Kondisi Mental Emosional Sulawesi Utara DKI Jakarta Gorontalo
n(%) n(%) n(%)
Terganggu 1,028(10.7) 1,622(14.2) 1,314(19.0) Tidak terganggu 8,618(89.3) 9,789(85.8) 5,608(81.0) Total 9 646(100.0) 11 411 (100.0) 6 922 (100.0)
Profil Kegemukan
Kegemukan masih menjadi permasalahan gizi di Indonesia. Berdasarkan hasil laporan Riskesdas tahun 2007 prevalensi kegemukan secara nasional adalah 19.1%. Prevalensi kegemukan dalam penelitian ini dikategorikan menjadi gemuk dan tidak gemuk. Profil kegemukan dilihat berdasarkan kondisi demografi, keadaan sosial-ekonomi, gaya hidup, dan kondisi mentasl emosional.
Profil Kegemukan berdasarkan Kondisi Demografi Umur
Prevalensi kegemukan tertinggi terjadi mulai umur 35 tahun pada peneltian ini (Tabel 15). Prevalensi kegemukan di Sulawesi Utara tertinggi terjadi pada sampel umur 35-44 tahun (42.3%). Berbeda de+ngan Sulawesi Utara, prevalensi kegemukan di DKI Jakarta (40.6%) dan Gorontalo (35.2%) tertinggi terjadi pada umur 45-54 tahun. Menurut WHO dalam review penelitian yang dilakukan Low, Chin & Deurenberg-Yap (2009) prevalensi kegemukan tertinggi rata-rata di negara-negara berkembang terjadi pada umur 50-60 tahun.
Jenis Kelamin
Menurut berbagai survei yang dilakukan oleh World Health Organization pada orang dewasa, prevalensi kegemukan tertinggi di negara-negara maju dan berkembang terjadi pada perempuan (Low, Chin & Deurenberg-Yap 2009). Hal yang sama terjadi pada penelitian ini, secara umum perempuan cenderung mengalami kegemukan dibandingkan laki-laki di ketiga provinsi (Tabel 15). Prevalensi kegemukan pada sampel perempuan di Sulawesi Utara sebesar 37.9%, DKI Jakarta sebesar 31.4%, dan Gorontalo sebesar 31.2%.
Status Kawin
Sampel yang menikah cenderung mengalami kegemukan di ketiga provinsi (Tabel 15). Persentase prevalensi kegemukan pada sampel yang menikah di Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo secara berturut-turut adalah 37.1%, 33.5%, dan 29.0%. Menurut Sobal et al. (1992), perkawinan menyebabkan peningkatan berat badan hal itu lebih disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang cenderung sedentary, pengalokasian kegiatan aktivitas fisik serta kelahiran anak. Sebagian besar penduduk di Indonesia yang sudah menikah mengikuti program KB di mana secara hormonal seseorang yang menggunakan KB mudah menjadi gemuk. Selain itu, sampel yang belum menikah merupakan sampel yang berumur muda sehingga aktivitas fisik yang dilakukan masih tinggi.
Besar Keluarga
Sampel yang memiliki jumlah anggota keluarga 3-4 orang cenderung mengalami kegemukan di ketiga provinsi (Tabel 15). Prevalensi kegemukan tertinggi di provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo terjadi pada sampel pada jumlah anggota keluarga 3-4 orang sebesar 34.2%, 28.9%, dan 26.1%. Apabila jumlah anggota keluarga banyak, maka makanan yang tersedia harus dibagi dengan anggota keluarga lainnya sehingga porsi yang diterima akan lebih sedikit.
Wilayah
Prevalensi kegemukan tertinggi di ketiga provinsi cenderung terjadi pada sampel yang tinggal di perkotaan (Tabel 15). Prevalensi kegemukan tertinggi di Sulawesi Utara dan Gorontalo terjadi pada sampel yang tinggal di perkotaan sebesar 40.3% dan 33.0%. Sementara itu, prevalensi kegemukan di DKI Jakarta terjadi pada sampel yang tinggal di perkotaan sebesar 27.2% sedangkan prevalensi pada sampel yang tinggal di perdesaan adalah 0% karena menurut tata pembagian wilayah keseluruhan provinsi ini merupakan wilayah perkotaan.
Tabel 15 Profil kegemukan berdasarkan kondisi demografi di provinsi