Penelitian ini dilaksanakan di sekolah dasar (SD) Negeri Pasanggrahan 2 Kabupaten Purwakarta Kecamatan Tegalwaru.Pemilihan sampel sekolah ini dilakukan berdasarkan rujukan dari BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Nurani Dunia dengan kriteria sekolah yang berhak mendapatkan zakat.Lokasi sekolah yang jauh dari lingkungan tempat tinggal dan keterbatasan akses transportasi juga menjadi salah satu alasan pemilihan sampel.
Sekolah Dasar Negeri Pasanggrahan 2 berdiri dan mulai beroperasi sejak tahun 1974 terletak di Kampung Cilanggohar Desa Pasanggrahan Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat. Sekolah ini mendapatkan jenjang akreditas C. Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Pasanggrahan 2 berlangsung dari hari senin hingga jumat dengan jam belajar berkisar antara 4 hingga 6 jam. Kegiatan belajar mengajar untuk kelas 1 sampai kelas 3 pada hari Senin sampai Kamis dimulai pada pukul 07.15 sampai dengan pukul 11.00 WIB, sedangkan pada hari Jumat dimulai pukul 07.15 hingga pukul 10.00. Kegiatan belajar mengajar untuk kelas 4 sampai kelas 6 pada hari Senin sampai Kamis dimulai pada pukul 07.15 sampai dengan pukul 13.00 WIB. Pada hari Jumat kegiatan belajar mengajar dimulai pada pukul 07.15 sampai dengan pukul 10.30 WIB.
Sumber daya manusia yang dimiliki oleh SDN Pasanggrahan 2 berjumlah sembilan orang, yang terdiri dari dua orang guru tetap dan tujuh orang tenaga pengajar tidak tetap. Fasilitas sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah yaitu tujuh unit ruang kelas, satu unit ruang kantor, lapangan olahraga, satu unit kamar mandi, dan tempat mencuci tangan. Fasilitas yang terdapat di dalam kelas yaitu meja dan kursi yang disesuaikan dengan jumlah contoh tiap kelas, 1 buah meja dan kursi guru, 1 buahwhiteboarddan papan tulis, 1 buah papan absensi contoh, 1 buah jam dinding, dan tempat sampah di depan ruang kelas. Sekolah ini mempunyai kegiatan ekstrakulikuler yaitu pramuka dan voley ball, Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin, Selasa, dan Sabtu seminggu sekali di luar jam pelajaran sekolah.
Karakteristik Contoh
Pada penelitian ini, sampel berjumlah 53 contoh yang terdiri dari contoh kelas 4 sebanyak 27 contoh dan kelas 5 sebanyak 26 contoh. Gambaran umum contoh dalam penelitian ini, dapat dilihat dari sebaran jenis kelamin, umur, dan uang saku.
Jenis Kelamin
Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin, dari keseluruhan contoh proporsi antara laki-laki dan perempuan dari jumlah sampel sebesar 47%contoh berjenis kelamin perempuan dan sebagian besar contoh(53%) berjenis kelamin laki-laki. Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar 2 dibawah ini.
Gambar 2 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin Usia
Usia contoh pada penelitian ini berkisar antara 8-12 tahun. Umur 9 sampai 12 tahun contohmerupakan masa kelas akhir di SD. Pada masa ini contoh memiliki kemampuan konkrit operasional yang mampu untuk berpikir secara sistematik terhadap objek konkrit.Mereka juga sudah dapat mengambil kesimpulan dari suatu pertanyaan (Hurlock1997).Pada umur tersebut contoh memiliki pengetahuan gizi yang cukupsehingga diharapkan dapat memilih makanan yang tepat.Sebaran umur contoh dapat dilihat pada Gambar 3 dibawah ini.
Gambar 3 Sebaran contoh berdasarkan usia 53% 47% Laki-laki Perempuan 2% 32% 34% 11% 21% 8thn 9thn 10thn 11thn 12thn
Secara keseluruhan rata-rata usia contoh adalah 10.2 ± 1.2 tahun dengan kisaran 8 – 12 tahun. Pada penelitian ini contoh yang berusia 10 tahun jumlahnya paling banyak (34%), sedangkan sisanya berusia 9 tahun (32%), 12 tahun (21%), 11 tahun (11%), dan usia 8 tahun (2%). Berikut merupakan Tabel 10 yang menyajikan sebaran contoh menurut jenis kelamin berdasarkan usia.
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin dan usia Jenis
Kelamin
Usia
Total 8 tahun 9 tahun 10 tahun 11
tahun 12 tahun
n % n % n % n % n % n %
Laki-laki 0 0.0 8 15.1 6 11.3 3 5.7 11 20.8 28 52.8 Perempuan 1 1,9 9 17.0 12 22.6 3 5.7 0 0.0 25 47.2 Total 1 1.9 17 32.1 18 33.9 6 11.4 11 20.8 53 100.0
Sebagian besar contoh berusia 10 tahun (22.6%) adalah contoh perempuan sedangkan contoh berusia 12 tahun seluruhnya (20.8%) adalah contoh laki-laki. Contoh berusia 9 tahun paling banyak adalah contoh perempuan (17.0%), sedangkan pada contoh berusia 11 tahun jumlah laki-laki dan perempuannya sama besar (5.7%), dan untuk contoh usia 8 tahun hanya terdapat pada contoh perempuan (1.9%).
Uang Saku
Anak usia sekolah biasanya diberi uang saku oleh orang tuanya baik anak dari keluarga berpendapatan tinggi maupun keluarga berpendapatan rendah. Pada penelitian ini, rata-rata uang saku contoh adalah Rp 1839,62 ± 908.16dengan kisaran Rp 1.000 – 5.000. Secara keseluruhan terdapat 38% contoh yang mendapat uang saku Rp 1.000 dan 4% contoh yang mendapat uang saku Rp 1.500. Persentase uang saku contoh paling banyak adalah Rp 2000 (39%).Pada penelitian ini hampir semua contoh mengalokasikan uang saku mereka untuk keperluan jajan.Sebaran contoh berdasarkan uang saku disajikan dalam Gambar 4 berikut.
Gambar 4 Sebaran contoh berdasarkan uang saku
38% 4% 39% 6% 9% 4% 1000 1500 2000 2500 3000 5000
Status Gizi
Status gizi contoh dihitung menggunakan analisis z-score.WHO (World Health Organization) merekomendasikan penggunaan analisis z-scoreuntuk mengukur status gizi anak pada negara berkembang.Analisis z-score dapat dihitung secara akurat dengan menggunakan batas bawah dari data referensi(Gibson 2005).
Perhitungan z-score dibantu dengan software anthroplus 2007 yang dikeluarkan WHO 2007.Indikator yang digunakan yaitu IMT (Indeks Massa Tubuh) dari hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan berdasarkan umur (IMT/U) untuk penentuan status gizi pada masa kini.Hal tersebut dikarenakan anak berusia diatas 10 tahun tidak hanya mengalami pertambahan berat badan tanpa lemak tetapi juga masa tubuh yang lainnya seperti lemak (WHO 2007).
Gambar 5 Sebaran contoh berdasarkan status gizi
Berdasarkan Gambar 5 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh berstatus gizi normal sebesar 53.0% dengan rata-rata z-score IMT/U -1.83 ± 1.17, nilai minimum z-score -3.86 dan nilai maksimum 1.31. Pada sampel penelitian masih ditemui masalah gizi pada contoh yaitu kurus (36%), dan sangat kurus (11%). Hasil penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi status gizi menurut hasil Laporan Riskesdas 2010 di Jawa Barat, pada anak usia6-12 tahun prevalensi anakdengan status gizi sangat kurus yaitu sebanyak 3.5% dan 6.7% kurus.
Menurut WHO (2007), permasalahan kesehatan masyarakat dapat dilihat berdasarkan prevalensi gizi buruk dan gizi kurang dengan 4 kriteria yaitu rendah (<10%), sedang (10-19.9%), tinggi (20-29.9%) dan sangat tinggi (>30%).Permasalah kesehatan masyarakat berdasarkan status gizi kurus dan