• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Wilayah Penelitian

3 METODE PENELITIAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Wilayah Penelitian

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Bekasi (2014), Kota Bekasi terletak daerah perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta dengan luas sekitar 210,49 kilometer persegi. Wilayah utara berbatasan dengan Kabupaten Bekasi, wilayah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kota Depok, wilayah barat berbatasan dengan DKI Jakarta, dan wilayah timur berbatasan dengan Kabupaten Bekasi. Wilayah Kota Bekasi dialiri tiga sungai utama yaitu Sungai Cakung, Sungai Bekasi dan Sungai Sunter, beserta anak-anak sungainya. Kota Bekasi memiliki iklim kering dengan tingkat kelembaban yang rendah. Kondisi lingkungan sehari-hari sangat panas. Temperatur harian diperkirakan berkisar antara 23,6 sampai dengan 34,2 derajat Celcius.

Seperti terlihat pada skesta peta pada Lampiran 4, Kota Bekasi terdiri dari 12 kecamatan dan 56 kelurahan, dengan anggaran belanja yang bersifat dinamis. Sebagai kota satelit dari Jakarta, penduduk di Kota Bekasi terus bertambah setiap tahunnya. Pada tahun 2013 jumlah penduduk di Kota Bekasi bertambah 1,8 persen, dari 2.498.600 jiwa menjadi 2.570.400 jiwa. Hal ini menyebabkan penduduk di Kota Bekasi semakin padat. Kepadatan penduduk di Kota Bekasi tahun 2013 mencapai 12.211 jiwa/km2 sedangkan tahun sebelumnya hanya 11.870 jiwa/km2.

Karakteristik penduduk di Kota Bekasi didominasi oleh kelompok umur produktif, yaitu 25 sampai dengan 29 tahun. Jumlah penduduk pada kelompok umur ini adalah 10,6 persen dari total penduduk, sedangkan kelompok umur 60 sampai dengan 64 tahun memiliki persentase paling rendah yaitu 1,9 persen. Pada kelompok umur 25 sampai dengan 29 tahun, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menurut jenis kelamin menunjukkan TPAK laki-laki lebih besar dibandingkan TPAK perempuan, ini merupakan indikasi bahwa laki-laki masih dominan dalam pasar kerja di Kota Bekasi. Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja yang mencatat pencari kerja di Kota Bekasi menunjukkan bahwa persentase pencari kerja di Kota Bekasi tahun 2013 didominasi oleh laki-laki yaitu 80,2 persen dari total.

Jumlah pencari kerja di Kota Bekasi yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja tahun 2013 adalah 39.966 orang. Jumlah pencari kerja paling banyak terdapat pada kelompok umur 20 sampai dengan 29 tahun yaitu 60,5 persen dari total pencari kerja, sedangkan pencari kerja paling sedikit terdapat pada kelompok umur 45 sampai dengan 55 tahun.

Sumber penghasilan utama di setiap wilayah Kota Bekasi berdasarkan data Potensi Desa 2013 berada di sektor jasa Dari 56 kelurahan yang ada di Kota Bekasi, 28 kelurahan masyarakatnya memiliki sumber penghasilan utama dari sektor jasa, 15 kelurahan memiliki sumber penghasilan utama dari industri pengolahan, 12 kelurahan memiliki penghasilan utama dari perdagangan, 1 kelurahan dari sektor pertanian.

Karakteristik perekonomian Kota Bekasi adalah perdagangan dan jasa, namun dalam penciptaan nilai tambah, industri di Kota Bekasi dikategorikan menjadi industri besar sedang dan industri kecil mikro. Industri kecil mikro di

Kota Bekasi terbukti lebih tahan terhadap guncangan moneter dibandingkan dengan industri besar sedang. Berdasarkan data potensi desa tahun 2013, terdapat 7 kategori IMK yang tersebar di 12 kecamatan. Perekonomian Kota Bekasi ditunjang dari aktivitas perdagangan dan jasa, perdagangan di Kota Bekasi terbagi atas perdagangan untuk ekspor dan perdagangan antar daerah.

Deskripsi Perkembangan Kerajinan Boneka di Kota Bekasi

Industri kerajinan boneka di Kota Bekasi mulai berkembang setelah krisis ekonomi tahun 1998 di mana beberapa karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja dari sebuah pabrik boneka milik seorang yang berkebangsaan Korea. Kebutuhan hidup membuat mereka kemudian merintis usaha mandiri di bidang kerajinan boneka. Produk boneka yang dihasilkan sangat beragam jenisnya dari segi bentuk maupun ukuran dengan bahan kulit dari kain velboa (kain yang berbulu pendek), kain yelvo (kain yang berbulu pendek tapi lebih halus dari velboa), kain rasfur (kain yang berbulu agak panjang), kain snail (kain yang berbulu agak panjang seperti rasfur tapi berpola keriting) dan kain nylex (kain yang berbulu pendek dan paling kasar di antara bahan yang lain) serta bahan isi dari dakron, yaitu bahan serat tekstil yang memilliki nama asli polietilena tereftalat yang merupakan resin polimer plastik termoplast dari kelompok poliester. Boneka yang diproduksi dengan mesin-mesin yang masih sederhana ini awalnya banyak dipasarkan di Jakarta, hingga selanjutnya berkembang dengan adanya permintaan dari kota lain di Pulau Jawa seperti Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Banten, dan pada akhirnya juga ke luar Pulau Jawa seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Bali.

Produksi boneka ini selain membuka lapangan pekerjaan baru di Kota Bekasi, juga memberi penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar. Para pengrajin yang kadang-kadang mendapatkan pesanan melebihi kapasitas produksinya juga menggandeng penduduk sekitar untuk menjadi mitra yang kebanyakan adalah ibu-ibu rumah tangga. Hal ini sama-sama menguntungkan untuk pengrajin inti yaitu pemilik modal dan pengrajin plasma yaitu mitra produksi pengrajin inti. Bagi pengrajin inti, mereka terbantu untuk memenuhi saat permintaan pasar tiba-tiba naik, tanpa harus menambah pegawai tetap, ruang produksi maupun biaya lain seperti listrik, uang makan maupun kebutuhan sanitasi. Bagi pengrajin plasma, mereka mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan keluarga di rumah.

Industri kerajinan boneka ini berkembang dari kapasitas produksi yang berkisar ribuan per bulannya menjadi puluhan ribu. Dinas Perindag Kota Bekasi juga mendukung dengan melakukan pembinaan dan pemberdayaan pengrajin boneka sehingga pengrajin dapat meningkatkan kemampuannya di bidang manajemen produksi, teknik produksi maupun persyaratan produksi seperti penerapan SNI. Dukungan dalam bentuk modal usaha diberikan melalui BPR dan insentif biaya penerapan SNI.

Pengrajin boneka di Bekasi sebagian merupakan anggota dari Himpunan Industri Kecil Pengrajin Boneka (HIKPB), Himpunan Pengrajin Boneka Indonesia (HIPBI), Himpunan Pengrajin Boneka dan Jasa Bordir (HIBAS), sebagian lagi memilih untuk tidak tergabung dalam Himpunan Pengrajin.

Masing-masing Himpunan Pengrajin yang ada memiliki koperasi untuk mengatasi permodalan, pemasaran maupun penerapan SNI.

Karakteristik Pengrajin

Pada penelitian ini karakteristik pengrajin boneka diidentifikasi tingkat pendidikan formal, lamanya menjalankan usaha, tingkat kemampuan memenuhi permintaan pasar dan tingkat investasi usaha.

Pendidikan Formal

Pendidikan formal yang berkembang di Indonesia adalah pendidikan berjenjang dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, menurut Peraturan Pemerintah RI No.32 Tahun 2013, pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan merupakan hak dan kewajiban dari seorang warga negara, dengan pendidikan seseorang dapat berperan aktif dalam menjaga kelangsungan hidup dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial budaya. Adapun karakteristik pengrajin dari segi pendidikan formal dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran karakteristik pengrajin boneka di Kota Bekasi

No Karakteristik Pengrajin (X1) Kategori Jumlah (n) Persen (%) 1 Pendidikan formal Rendah (6 – 9 tahun) 7 15,2 Sedang (10 – 12 tahun) 34 73,9 Tinggi (13 – 16 tahun) 5 10,9 2 Lama menjalankan usaha Rendah (1,5 – 7,7 tahun) 24 52,2 Sedang (7,8 – 13,8 tahun) 20 43,5 Tinggi (13,9 – 20 tahun) 2 4,3 3 Tingkat kemampuan memenuhi permintaan pasar per bulan

Rendah (17% - 44%) 3 6.5

Sedang (45%-72%) 9 19.6

Tinggi (73%-100%) 34 73.9

Tingkat Investasi Usaha 4 Jumlah tenaga kerja

Rendah (< 5 orang) 5 10.9 Sedang (5 – 19 orang) 13 28.3 Tinggi (20 – 99) orang) 28 60.9 5 Jumlah mesin produksi Rendah (2 – 18 buah) 33 71.7 Sedang (18 –25 buah) 9 19.6 Tinggi (35 – 50 buah) 4 8.7 6 Jumlah investasi modal usaha Rendah (< Rp.50 juta) 10 21.7 Sedang (Rp. 50 – 500 juta) 33 71.7 Tinggi (> Rp. 500 juta) 3 6.5 Karakteristik pengrajin boneka di Kota Bekasi jika dilihat dari latar belakang pendidikan formal termasuk beragam, mulai dari sekolah dasar hingga sarjana, di mana sebagian besar pengrajin menjalani pendidikan formal selama 10 sampai dengan 12 tahun yaitu sebesar 73,9 persen, terdapat 15,2 persen yang

tergolong kategori rendah, sementara 10,9 persen lainnya mampu menjalani pendidikan tinggi.

Kondisi perekonomian yang baik dan lokasi tempat tinggal pengrajin yang sangat dekat`dengan Ibukota Jakarta membuat mereka memiliki akses pendidikan yang mudah dan motivasi yang tinggi untuk menjalani pendidikan formal. Pengrajin di Kota Bekasi menjadi memiliki sikap yang terbuka pada berbagai upaya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang baru.

Lama Menjalankan Usaha

Pengrajin boneka di Kota Bekasi mayoritas menjalankan usaha ini kurang dari 7,7 tahun. Pengrajin yang paling lama menjalankan usaha ini adalah 20 tahun dan ada juga pengrajin yang belum 2 tahun dalam menjalankan usaha ini. Para pengrajin boneka tersebut sebagian di antara mereka bersama-sama mendirikan asosiasi untuk berbagi ilmu dan melindungi anggotanya, di antaranya dari kelangkaan serta tingginya harga bahan baku.

Tingkat Kemampuan Memenuhi Permintaan Pasar

Kapasitas produksi masing-masing pengrajin sangat beragam, dimulai dari yang terkecil sekitar 200 buah boneka, hingga yang mampu memenuhi sekitar 40.000 buah boneka setiap bulannya. Sebagian besar dari permintaan tersebut datang dari Pulau Jawa, sebagian lagi datang dari luar Jawa di berbagai kota besar di Indonesia, sementara hingga saat ini di antara pengrajin yang menjadi responden dalam penelitian ini belum ada yang mengirim produknya ke luar negeri. Secara keseluruhan jika dirata-rata kemampuan para pengrajin boneka di Kota Bekasi dalam memenuhi permintaan pasar cukup tinggi, yaitu antara 73% sampai dengan 100% setiap bulannya.

Tingkat Investasi Usaha

Berdasarkan klasifikasi industri menurut BPS, dilihat dari jumlah tenaga kerja, industri kerajinan boneka di Kota Bekasi didominasi oleh industri sedang atau menengah dengan jumlah tenaga kerja 20 sampai dengan 99 orang, selain itu terdapat juga beberapa industri rumah tangga dan industri kecil. Jika dirata-rata para pengrajin boneka di Kota Bekasi menjalankan mesin produksi yang terdiri dari mesin jahit dan mesin potong sebanyak 2 sampai dengan 18 buah.

Untuk memenuhi semua permintaan pasar, pengrajin di Kota Bekasi rata-rata menanamkan modal usaha sebesar 50 juta rupiah sampai dengan 500 juta rupiah. Sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, jika dilihat dari besarnya investasi modal usaha tersebut, sebagian besar pengrajin di Kota Bekasi termasuk kriteria usaha kecil, yaitu organisasi yang menghasilkan barang/jasa dan memiliki kekayaan bersih lebih dari 50 juta rupiah sampai dengan paling banyak 500 juta rupiah, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Salah satu usaha untuk mengatasi modal usaha dan pemasaran beberapa pengrajin mendirikan koperasi, yang juga digunakan untuk mendapatkan sertifikasi SNI untuk digunakan dalam produksi bersama.

Pengrajin di Kota Bekasi sedang dalam taraf perkembangan yang positif, meskipun kebanyakan dari mereka memiliki pengalaman kurang dari 7,7 tahun dalam produksi boneka dan kapasitas produksi maupun permintaan pasar rata-rata

masih di bawah 20.200 buah, mereka mau meningkatkan daya kreativitasnya, sehingga produk yang dihasilkan tidak monoton, salah satu pengrajin mengungkapkan:

"kami selalu mencoba membuat desain-desain baru dan fungsi baru dari boneka, bukan hanya meniru desain yang sudah ada, jadi saat ini boneka tidak hanya menjadi pajangan atau untuk bermain, tapi juga bisa digunakan sebagai kasur, tempat duduk maupun bantal."

Tahapan Proses Keputusan Inovasi

Penerapan SNI mainan anak melibatkan tidak hanya perkembangan tingkat pengetahuan pengrajin terkait syarat mutu dan keamanan, namun juga kebutuhan perkembangan permodalan untuk mendukung biaya pengujian produk dan biaya proses perbaikan produk sesuai hasil uji. Sebagian besar pengrajin sudah mengetahui mengenai pemberlakuan wajib SNI mainan anak dan prinsip-prinsip penerapannya. Pengrajin memperoleh pengetahuan tersebut melalui pertemuan tatap muka yang diselenggarakan oleh Dinas Perindag Bekasi yang bekerjasama dengan lembaga sertifikasi produk. Pertemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan insentif penerapan SNI yang diberikan kepada pengrajin yang telah siap, maupun pada koperasi yang menjadi wadah bagi pengrajin lainnya. Sesuai dengan teori Rogers (2013) tentang tahapan proses keputusan adopsi inovasi tahap ini merupakan tahap pengetahuan.

Selanjutnya adalah tahap persuasi, dimana pengrajin mulai memahami tujuan diberlakukan SNI mainan anak dan mengerti bagaimana caranya untuk memenuhi persyaratan barang beredar sesuai peraturan pemerintah terkait SNI wajib mainan anak. Sebagian pengrajin yang telah siap mengajukan SPPT SNI melalui dinas kepada lembaga sertifikasi produk, sedangkan pengrajin lainnya mengajukan SPPT SNI melalui koperasi. Hal ini merupakan tahap keputusan yang didorong oleh adanya kewajiban untuk mematuhi peraturan dari Kementerian Perindustrian.

SPPT SNI yang harus diperbaharui setiap enam bulan sekali oleh pengrajin boneka dan tingkat pengawasan penerapan SNI mainan anak oleh pemerintah menjadi tantangan pada tahap implementasi terkait keberlangsungan penerapan SNI oleh pengrajin boneka di Kota Bekasi. Kedua hal tersebut akan menjadi pertimbangan pengrajin pada tahap konfirmasi, apakah akan terus menerapkan atau tidak.

Motivasi Wirausaha Pengrajin

Motivasi wirausaha berdasarkan teori motivasi dari McClelland terdiri dari tiga faktor, yaitu tingkat kebutuhan prestasi, tingkat kebutuhan kekuasaan, dan tingkat kebutuhan afiliasi.

Pengrajin boneka di Kota Bekasi memiliki motivasi wirausaha berdasarkan tingkat kebutuhan prestasi yang tergolong sedang. Motivasi ini dilihat dari keinginan meningkatkan keadaan ekonomi, menghasilkan produk yang bermutu untuk masyarakat dan keinginan meningkatkan status sosial. Kebutuhan pengrajin untuk meningkatkan keadaan ekonomi keinginan ini hadir dari keinginan untuk

bertahan hidup, bekerja sesuai kemampuan dan harapan untuk berhasil. Hal ini, seperti disampaikan oleh salah satu responden:

“awalnya kami bekerja pada sebuah pabrik boneka milik perusahaan Korea yang kemudian bangkrut pada saat krisis moneter 1998. Kami terkena PHK dan karena kami tahunya soal boneka, akhirnya kami memutuskan untuk membuat boneka. Supaya bisa bertahan kami selalu berusaha memenuhi semua

persyaratan yang ada, salah satunya SNI.”

Berdasarkan kebutuhan kekuasaan pengrajin tergolong kategori sedang, motivasi ini dilihat dari keinginan untuk berpengaruh terhadap lingkungannya, dalam hal ini pengrajin boneka sebagai bagian dari masyarakat terus mengembangkan diri secara profesional untuk dapat memiliki kontribusi terhadap keadaan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Kebutuhan akan kekuasaan tercermin dari bagaimana mereka mempertahankan usahanya untuk dapat terus menyediakan lapangan kerja bagi para pekerjanya dan para pengrajin plasma, karena secara tidak langsung hal ini dapat membuatnya memiliki kedudukan khusus di masyarakat sebagai seseorang yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Adapun deskripsi dari masing-masing faktor motivasi wirausaha dijelaskan pada Tabel 10.

Tabel 10 Rentang skor motivasi wirausaha pengrajin boneka di Kota Bekasi dalam penerapan SNI mainan anak

No Motivasi wirausaha pengrajin (X2) Kategori Rentang skor Jumlah Persen (%) 1 Tingkat kebutuhan akan

prestasi rendah 7,0 - 8,7 8 17,4 sedang 8,8 - 10,3 25 54,3 tinggi 10,4 - 12,0 13 28,3 2 Tingkat kebutuhan kekuasaan rendah 6,0 - 7,7 9 19,6 sedang 7,8 - 9,3 31 67,4 tinggi 9,4 - 11,0 6 13,0 3 Tingkat kebutuhan afiliasi rendah 7,0 - 8,7 11 23,9 sedang 8,8 - 10,3 21 45,7 tinggi 10,4 – 12,0 14 30,4 Kondisi ini dalam lingkup kecil membuatnya ingin mempertahankan pengaruh atas orang lain dan mencoba menguasai orang lain, dalam hal ini pekerjanya, dengan mengatur perilakunya, dalam hal ini agar melaksanakan produksi sesuai standar yang telah ditetapkan, sehingga ia dapat membuat orang lain terkesan kepadanya dengan selalu menjaga reputasi dan kedudukannya.

Motivasi wirausaha berdasarkan kebutuhan afiliasi juga tergolong kategori sedang, dilihat dari keinginan berwirausaha karena ingin bekerjasama dengan orang lain, keinginan memperluas pergaulan dan kebutuhan akan sebuah komunitas. Para pengrajin boneka di Kota Bekasi sebagian besar tergabung dalam sebuah komunitas, hal ini merupakan sebuah wujud kebutuhan afiliasi, dimana

dalam komunitas tersebut mereka dapat bekerjasama menghadapi tantangan dan menyelesaikan masalah bersama.

Faktor Eksternal Pengrajin

Faktor eksternal yang dilihat dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang berada di luar diri pengrajin yang dapat diduga berhubungan dengan kinerja pengrajin boneka dalam penerapan SNI mainan anak. Faktor eksternal ini terdiri dari tingkat ketersediaan informasi mengenai penerapan SNI mainan anak, tingkat insentif penerapan SNI mainan anak, tingkat pendampingan penerapan SNI mainan anak dan tingkat pemberdayaan pengrajin boneka melalui pelatihan. Informasi mengenai penerapan SNI mainan anak dilihat dari ketersediaan sumber informasi dari media massa, instansi pemerintah, tenaga penyuluh lapangan, pengrajin lain dan lembaga sertifikasi produk.

Pendampingan terhadap pengrajin boneka di Kota Bekasi bertujuan untuk memberikan bimbingan teknis yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan industri dalam penerapan SNI mainan anak. Pendampingan penerapan SNI mainan anak pada penelitian ini dilihat dari ketersediaan pendampingan yang dilakukan oleh instansi pemerintah, pengrajin lain, lembaga sertifikasi, dan lembaga swadaya masyarakat. Pemberdayaan pada penelitian ini dilihat dari perbaikan aksesibilitas pendidikan berupa ketersediaan pelatihan yang bermanfaat bagi pengrajin boneka yaitu pelatihan keterampilan kerajinan boneka, manajemen organisasi atau produksi, manajemen pemasaran dan manajemen keuangan.Adapun deskripsi dari masing-masing faktor eksternal pengrajin boneka dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 11 Rentang skor faktor eksternal pengrajin boneka di Kota Bekasi dalam penerapan SNI mainan anak

No Faktor eksternal pengrajin (X3) Kategori Rentang skor Jumlah Persen (%) 1 Tingkat ketersediaan informasi mengenai penerapan SNI mainan anak

rendah 9,0 – 12,0 11 23,9 sedang 12,1 – 15,0 18 39,1 tinggi 15,0 – 18,0 17 37,0 2 Tingkat insentif

penerapan SNI mainan anak

rendah 6,0 – 9,7 7 15,2 sedang 9,8 – 13,3 24 52,2 tinggi 13,4 – 17,0 15 32,6 3 Tingkat pendampingan

penerapan SNI mainan anak

rendah 6,0 - 9,7 7 15,2

sedang 9,8 – 13,3 19 41,3 tinggi 13,4 – 17,0 20 43,5 4 Tingkat pemberdayaan

pengrajin boneka melalui pelatihan

rendah 5,0 – 8,7 13 28,3 sedang 8,8 – 12,3 30 65,2 tinggi 12,4 – 16,0 3 6,5 Informasi mengenai penerapan SNI mainan anak memiliki tergolong sedang, informasi ini didapatkan dari media massa, instansi pemerintah, tenaga

penyuluh lapangan dan pengrajin lain, serta lembaga sertifikasi produk. Hal ini disebabkan kurangnya frekuensi pertemuan dengan penyuluh karena terbatasnya jumlah tenaga penyuluh lapangan dan setiap penyuluh menangani berbagai jenis industri. Saat ini di Dinas Perindag Kota Bekasi terdapat 3 tenaga penyuluh lapangan dan 1 tenaga magang penyuluh IKM.

Melalui wawancara mendalam diketahui bahwa informasi yang dirasakan paling bermanfaat adalah prosedur penerapan SNI dan persyaratan untuk memperoleh tanda SNI termasuk informasi mengenai peraturan pemerintah yang terkait penerapan SNI. Pengrajin juga merasa informasi tentang peningkatan kualitas produk, manfaat penerapan SNI dan persaingan pasar bermanfaat bagi mereka.

Tingkat insentif penerapan SNI mainan anak berupa biaya sertifikasi, pelatihan pemahaman dokumen SNI, pendampingan pengujian produk dan publikasi di media massa tergolong kategori sedang. Tingkat pendampingan penerapan SNI mainan anak tergolong tinggi. Pendampingan yang didapatkan berupa konsultasi, pelatihan, penyuluhan, dan bimbingan teknik cara menerapkan SNI dan birokrasi pengajuan SPPT SNI, serta pengujian produk. Insentif yang diberikan kepada pengrajin salah satunya melalu koperasi bersama untuk meringankan biaya sertifikasi dan mengatasi tingginya harga bahan baku, pemberian insentif ini tidak lepas dari proses pendampingan yang diberikan oleh pemerintah sebagai proses edukasi dan perubahan perilaku, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ocktilia (2004) yang menyebutkan bahwa untuk mencapai keberhasilan sebuah program pemberdayaan ekonomi rakyat diperlukan adanya identifikasi terhadap potensi lokal dan optimalisasi peranan koperasi melalui kemitraan dalam bidang permodalan, pengadaan bahan baku, pemasaran dan penyelenggaraan pendidikan dan latihan.

Tingkat pemberdayaan melalui pelatihan tergolong kategori sedang. Pemberdayaan adalah proses di mana pengrajin didukung agar mampu meningkatkan kesejahteraannya. Pemberdayaan seperti disebutkan dalam Mardikanto (2015) bertujuan memperbaiki pendidikan dan aksesibilitas yang mampu menumbuhkan semangat belajar seumur hidup dan diharapkan akan memperbaiki bisnis yang dilakukan dan memperbaiki kehidupan masyarakat yang tercermin dalam perbaikan pendapatan. Pemberdayaan pada pengrajin boneka di Kota Bekasi dilakukan melalui penyelenggaraan pelatihan manajemen usaha, keterampilan pembuatan boneka dan pemahaman dokumen SNI diselenggarakan oleh Dinas Perindag Kota Bekasi, sebagian besar pengrajin merasa pelatihan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan usaha, meningkatkan keterampilan, menambah wawasan dan pengalaman dalam pengetahuan manajemen usaha, meningkatkan mutu produk.

Atribut Inovasi SNI Mainan Anak

Suatu inovasi atau sistem baru, biasanya akan melalui berbagai proses sebelum akhirnya diterima oleh masyarakat. Sebuah inovasi memerlukan waktu untuk kemudian diadopsi oleh individu ataupun sekelompok masyarakat. Menurut Rogers (2003), adopsi adalah keputusan untuk memanfaatkan sepenuhnya dari suatu inovasi sebagai tindakan yang terbaik dan melewati urutan tahapan sebelum penerimaan produk baru, sedangkan penolakan adalah keputusan untuk tidak

mengadopsi suatu inovasi yang tersedia. Terdapat lima atribut dalam teori difusi inovasi yang menentukan tingkat adopsi inovasi, yaitu keuntungan relatif (relative advantage, kompatibilitas (compatibity), kompleksitas (complexity), trialibilitas (trialability) dan observabilitas (observability).

Atribut inovasi yang terdiri dari tingkat keuntungan relatif, tingkat kompatibilitas, tingkat kompleksitas, dan tingkat observabilitas pada SNI mainan anak bagi pengrajin boneka di Kota Bekasi rata-rata tergolong sedang, hal ini menunjukkan bahwa SNI mainan anak dapat diterapkan, namun belum dianggap menguntungkan. Adapun deskripsi dari masing-masing atribut inovasi SNI mainan anak dijelaskan pada Tabel 12.

Tabel 12 Rentang skor atribut inovasi SNI mainan anak No Atribut inovasi SNI

mainan anak (X4) Kategori Rentang skor Jumlah Persen (%) 1 Tingkat keuntungan relatif rendah 10,0 – 12,0 25 54,3 sedang 12,1 – 14,0 13 28,3 tinggi 14,1 – 16,0 8 17,4 2 Tingkat kompatibilitas rendah 11,0 – 14,0 10 21,7 sedang 14,1 – 17,0 34 73,9 tinggi 17,1 – 20,0 2 4,3 3 Tingkat kompleksitas rendah 6,0 – 9,3 5 10,9 sedang 9,4 – 12,7 33 71,7 tinggi 12,8 – 16,0 8 17,4 4 Tingkat observabilitas rendah 10,0 – 12,0 20 43,5 sedang 12,1 – 14,0 22 47,8 tinggi 14,1 – 16,0 4 8,7

Tabel 12 menunjukkan bahwa atribut inovasi SNI mainan anak dilihat dari tingkat keuntungan relatif hingga saat ini belum terlihat jelas dapat menaikan omzet penjualan, karena penerapannya belum lama dan belum seluruh pengrajin menerapkannya. Selain itu juga karena dari segi peningkatan mutu produk, pengrajin merasa mutu produk mereka memang sudah baik sejak sebelum menerapkan SNI mainan anak sehingga dampak penerapan SNI pada produk boneka ini tidak terlalu dirasakan dari segi peningkatan mutu produk, hal ini disampaikan salah satu responden:

“Produksi boneka di Bekasi sudah sejak lama menggunakan

bahan-bahan yang aman dan berkualitas, pada saat filling kami menggunakan bahan yang baru bukan limbah dari industri lain. Beberapa pengrajin boneka ada yang menggunakan limbah untuk

mengisi bonekanya agar harga boneka mereka lebih murah.”

Dokumen terkait