2 TINJAUAN PUSTAKA
X 4.1 Tingkat keuntungan relatif X 4.2 Tingkat kompatibilitas
X4.1 Tingkat keuntungan relatif X4.2 Tingkat kompatibilitas X4.3 Tingkat kompleksitas X4.4 Tingkat observabilitas
Kinerja pengrajin boneka dalam
penerapan SNI mainan anak (Y) Y1 Tingkat pemenuhan persyaratana dministrasi Y2 Tingkat pemenuhan persyaratan Pengujian Y3 Tingkat pemenuhan persyaratan Penandaan Y4 Peningkatan omzet penjualan
Pelaksanaan pemberlakuan SNI wajib memerlukan kondisi industri dalam negeri yang siap untuk menerapkannya. Pada kenyataannya yang siap menerapkan SNI terbatas pada industri-industri besar karena mereka memiliki modal ekonomi dan telah lama berorientasi ekspor yang dituntut untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh konsumennya, terkait keselamatan, keamanan dan jaminan mutu. Sementara IKM seperti pengrajin boneka yang lebih banyak memiliki pasar di dalam negeri belum seluruhnya menerapkan standar mutu tersebut, ditambah keadaan konsumen Indonesia masih banyak yang yang lebih berorientasi pada harga murah dibandingkan mutu.
Kinerja pengrajin boneka dalam memenuhi persyaratan SNI mainan anak diduga berhubungan dengan karakteristik pengrajin, motivasi berwirausaha, faktor eksternal pengrajin, dan atribut inovasi SNI mainan anak. Karakteristik pengrajin yang diduga berhubungan dengan kinerja pengrajin boneka dalam memenuhi persyaratan SNI mainan anak adalah tingkat pendidikan formal, lamanya menjalankan usaha, kemampuan memenuhi permintaan pasar dan investasi modal usaha. Tingkat pendidikan formal merupakan kegiatan yang meningkatkan pengetahuan dan pemahaman setiap pengrajin. Lamanya waktu menjalankan usaha dihitung dari awal pengrajin menjalankan usaha hingga saat ini, hal ini dapat digunakan membedakan pengalaman dan tingkat pengetahuan masing- masing pengrajin yang masih baru. Kemampuan memenuhi permintaan pasar dilihat dari jumlah produksi boneka setiap bulan dibandingkan dengan jumlah permintaan pasar. Tingkat investasi usaha dilihat dari jumlah tenaga kerja dan mesin produksi yang dimiliki oleh perusahaan, serta investasi biaya yang ditanamkan pada bisnis tersebut.
Faktor motivasi wirausaha yang diduga berhubungan dengan kinerja pengrajin boneka dalam memenuhi persyaratan SNI mainan anak adalah kebutuhan prestasi, kebutuhan kekuasaan dan kebutuhan afiliasi. Kebutuhan akan prestasi dilihat dari apakah pengrajin memiliki keinginan untuk meningkatkan keadaan ekonomi dan status sosial serta menghasilkan produk yang bermutu untuk masyarakat. Kebutuhan kekuasaan dilihat dari apakah pengrajin berwirausaha dengan keinginan untuk memperoleh kekuasaan di masyarakat, ingin orang lain yang bekerja kepadanya dan memiliki kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Kebutuhan afiliasi dilihat dari apakah pengrajin berwirausaha agar dapat bekerjasama dengan orang lain, memperluas pergaulan dan memiliki sebuah komunitas.
Selain faktor motivasi, faktor eksternal pengrajin juga diduga berhubungan dengan kinerja pengrajin boneka dalam menerapkan SNI mainan anak. Faktor eksternal yang diduga berhubungan dengan kinerja pengrajin boneka dalam memenuhi persyaratan SNI mainan anak adalah tingkat ketersediaan informasi mengenai penerapan SNI mainan anak, tingkat insentif penerapan SNI mainan anak, pendampingan penerapan SNI mainan anak dan pemberdayaan pengrajin boneka. Tingkat ketersediaan informasi mengenai penerapan SNI mainan anak dilihat dari seberapa banyak informasi yang didapatkan oleh pengrajin dengan sumber informasi dari media massa, instansi pemerintah, tenaga penyuluh lapangan, pengrajin lain dan lembaga sertifikasi produk yang didapatkan.
Tingkat insentif penerapan SNI mainan anak dilihat dari ketersediaan insentif yang dapat mendukung pengrajin menerapkan SNI mainan anak. Insentif tersebut terdiri dari biaya sertifikasi, pelatihan pemahaman dokumen SNI,
pendampingan pengujian produk dan publikasi di media massa. Tingkat pendampingan yang dilakukan agar proses pemenuhan persyaratan dapat berjalan dengan lancar dilihat dari seberapa banyak jumlah sosialisasi, pelatihan dan workshop yang pernah diikuti oleh pengrajin selama dua tahun terakhir. Tingkat pemberdayaan pengrajin boneka dilihat dari ketersediaan jumlah pelatihan terkait keterampilan kerajinan boneka, manajemen organisasi, pemasaran dan keuangan.
Atribut inovasi SNI mainan anak juga diduga berhubungan dengan kinerja pengrajin dalam penerapan SNI mainan anak. Atribut inovasi SNI mainan anak yang diduga berhubungan dengan kinerja pengrajin dalam penerapan SNI mainan anak adalah tingkat keuntungan relatif, tingkat kompatibilitas, tingkat kompleksitas dan tingkat observabilitas. Pada penelitian ini triabilitas tidak diukur karena dokumen SNI adalah satu kesatuan di mana persyaratan-persyaratannya harus dipenuhi secara keseluruhan, tidak dapat hanya sebagian saja. Jika salah satu persyaratan tidak dipenuhi, maka SPPT SNI tidak dapat dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi produk.
Kinerja pengrajin boneka dalam penerapan SNI mainan anak dinilai dari apakah pengrajin mampu memenuhi persyaratan administrasi, persyaratan pengujian, persyaratan penandaan SNI mainan anak dan peningkatan omzet penjualan setelah menerapkan SNI mainan anak. Variabel kinerja pemenuhan persyaratan administrasi dalam penelitian ini diukur dari pemenuhan: (1) Izin Usaha Industri (IUI) atau Tanda Daftar Industri (TDI), (2) Sertifikat Merek atau Tanda Daftar Merek. Variabel kinerja untuk pemenuhan persyaratan pengujian dalam penelitian ini diukur dari pemenuhan: (1) contoh hasil produksi selama enam bulan, (2) Lolos pengujian produk dan mendapatkan SPPT SNI mainan anak. Variabel kinerja untuk pemenuhan persyaratan penandaan daslam penelitian ini diukur dari pemenuhan: (1) memenuhi syarat penandaan SNI di posisi yang mudah dibaca, (2) tidak mudah hilang, (3) berbentuk bujur sangkar dengan ukuran minimal 7x7 mm, (4) mencantumkan nomor dan gambar tanda SNI dengan bentuk sesuai dengan aturan (Gambar 2), (5) Memiliki Nomor Registrasi Produk (NRP), dan (6) Melaporkan realisasi penandaan produk mainan.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang ditetapkan diperoleh dengan menggunakan alur berpikir secara deduktif melalui kajian berbagai literatur, sehingga diperoleh pemahaman tentang berbagai teori dan konsep pendukung penelitian. Pada proses penelitian secara empiris, akan diperoleh temuan atau kesimpulan sebagai suatu bentuk pemikiran induktif. Pada akhirnya melalui temuan proses empiris ini dapat dijadikan suatu masukan bagi kebijakan program penerapan SNI untuk melaksanakan edukasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran IKM akan manfaat SNI.
Setelah mencermati kondisi yang ada pada pengrajin boneka di Kota Bekasi, hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik pengrajin di Kota Bekasi berhubungan secara signifikan dengan kinerja pengrajin boneka di Kota Bekasi dalam penerapan SNI mainan anak. 2. Motivasi wirausaha (kebutuhan akan prestasi, kebutuhan kekuasaan dan
kebutuhan afiliasi) berhubungan secara signifikan dengan kinerja pengrajin boneka di Kota Bekasi dalam penerapan SNI mainan anak.
3. Faktor eksternal pengrajian boneka di Kota Bekasi (tingkat ketersediaan informasi mengenai penerapan SNI mainan anak, tingkat insentif penerapan SNI mainan anak, pendampingan penerapan SNI mainan anak dan pemberdayaan pengrajin boneka) berhubungan secara signifikan dengan kinerja pengrajin boneka di Kota Bekasi dalam penerapan SNI mainan anak 4. Atribut inovasi SNI mainan anak (tingkat keuntungan relatif, tingkat
kompatibilitas, tingkat kompleksitas dan tingkat observabilitas) berhubungan secara signifikan dengan kinerja pengrajin boneka di Kota Bekasi dalam penerapan SNI mainan anak.