Hasil
Gambaran Umum Daerah Penelitian
Kecamatan Sidoarjo
Kecamatan Sidoarjo secara administratif berada di bawah Pemerintahan Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasi wilayah kecamatan Sidoarjo berbatasan dengan kecamatan Waru di sebelah utara, kecamatan Porong di sebelah selatan, selat Madura di sebelah timur, dan kecamatan Krian di sebelah barat. Ketinggian wilayah dari permukaan laut adalah 23-32 meter.
Kecamatan Sidoarjo terdiri atas 24 desa/kelurahan, di antaranya adalah desa Jati dan kelurahan Gebang. Desa Jati berbatasan dengan Somput-Ental Sewu (utara), Banjarbendo (selatan), Cemeng Kalang (barat), dan Lemah Putro-Magersari–Pagerwojo (timur), kelurahan Gebang berbatasan dengan desa Rangka Kidul (utara), desa Wedoro Klurek (selatan), kelurahan Sekardangan (barat), dan desa Kupang kecamatan Jabon (timur). Ketinggian wilayah desa Jati adalah 4 mdpl, sedangkan kelurahan Gebang berada pada ketinggian 6,2 mdpl. Jarak dari pusat pemerintahan desa/kelurahan menuju pusat pemerintahan kecamatan maupun ibu kota kabupaten dengan desa Jati adalah 3 km, sedangkan kelurahan Gebang berjarak 4 km.
Luas wilayah kecamatan Sidoarjo seluruhnya mencapai 6.256,00 ha. Wilayah kecamatan Sidoarjo terbagi ke dalam sepuluh desa dan empat belas kelurahan, dua diantaranya desa Jati dengan luas wilayah 141,57 ha dan kelurahan Gebang 1.222,41 ha. Luas wilayah desa/kelurahan di kecamatan Sidoarjo dijelaskan pada Tabel 4.
Tabel 4. Luas wilayah tiap desa di kecamataan Sidoarjo
Desa/kelurahan Luas wilayah
Hektar % 01. Lebo 217,62 3,65 02. Suko 204,66 3,43 03. Banjarbendo 141,96 2,38 04. Sidokare 114,41 1,92 05. Celep 52,81 0,89 06. Sekardangan 824,02 13,81 07. Gebang 1.222,41 20,49 08. Rangkahkidul 258,03 4,33 09. Bulusidokare 970,00 16,26
Desa/kelurahan Luas wilayah Hektar % 10. Pucanganom 403,81 6,77 11. Pekauman 8,77 0,15 12. Lemahputro 88,54 1,48 13. Sidokempul 66,04 1,11 14. Sidoklumpuk 46,70 0,78 15. Blurukidul 294,99 4,94 16. Kemiri 32,93 0,55 17. Pucang 86,27 1,45 18. Magersari 114,00 1,91 19. Jati 141,57 2,37 20. Cemengkalang 94,15 1,58 21. Cemengbakalan 109,93 1,84 22. Urangagung Jedong 194,34 3,26 23. Sarirogo 153,08 2,57 24. Sumput 124,96 2,09 Jumlah 5.966,00 100,00
Sumber: Kantor Kecamatan Sidoarjo (BPS 2009)
Berdasarkan luas wilayah tersebut, maka perincian penggunaan tanah di kecamatan Sidoarjo adalah sebagai berikut:
Tabel 5.Penggunaan tanah di kecamatan Sidoarjo
Penggunaan tanah Luasan
Hektar %
Kampung 1.698,47 27,15
Industri 46,15 0,74
Pertambangan -
-Sawah 683,93 10,93
Pertanaian tanaman kering -
-Hutan 65,10 1,04 Perikanan/perairan 3.088,22 49,36 Tanah kosong 131,90 2,11 Jalan 119,99 1,92 Sungai/saluran air 283,16 4,53 Lain-lain 139,08 2,22 Luas wilayah 6.256,00 100,00
Sumber: Kantor Kecamatan Sidoarjo (BPS 2009)
Tabel 5 memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah di kecamatan Sidoarjo digunakan untuk kegiatan perikanan/perairan dan kampung, sedangkan penggunaan terkecil wilayah digunakan untuk industri. Berdasarkan luas wilayah, khususnya desa Jati dan kelurahan Gebang digunakan sama untuk pertokoan dan atau perdagangan dan perkantoran, namun penggunaan berbeda untuk industri (1 ha) di desa Jati dan di kelurahan Gebang untuk sawah (3,5 ha)(BPS Sidoarjo 2009).
Kecamatan Sidoarjo memiliki jumlah penduduk 132.736 jiwa dan menempati urutan ke tiga jumlah penduduk terbesar di kabupaten Sidoarjo. Jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan lebih besar dibandingkan dengan penduduk berjenis kelamin laki-laki. Data mengenai kepadatan penduduk (banyaknya penduduk per km per segi) tiap desa di kecamatan Sidoarjo belum tercatat berdasarkan sumber BPS kabupaten Sidoarjo Tahun 2009.
Tabel 6.Perincian jumlah penduduk di kecamatan Sidoarjo
Desa/Kelurahan Jumlah penduduk (dewasa dan anak-anak)
Laki-laki Perempuan Jumlah
01. Lebo 2.060 2.100 4.160 02. Suko 3.512 3.437 6.949 03. Banjarbendo 2.277 2.395 4.672 04. Sidokare 6.189 6.540 12.729 05. Celep 2.306 2.757 5.063 06. Sekardangan 2.617 2.500 5.117 07. Gebang 1.896 1.840 3.736 08. Rangkahkidul 1.342 1.368 2.710 09. Bulusidokare 3.322 3.227 6.549 10. Pucanganom 2.287 2.546 4.833 11. Pekauman 1.319 1.456 2.775 12. Lemahputro 5.780 5.900 11.680 13. Sidokumpul 2.852 3.166 6.018 14. Sidoklumpuk 2.963 3.187 6.150 15. Blurukidul 3.874 4.421 8.295 16. Kemiri 1.958 1.897 3.855 17. Pucang 3.007 2.699 5.706 18. Magersari 4.341 4.537 8.878 19. Jati 3.655 4.028 7.683 20. Cemengkalang 942 994 1.936 21. Cemengbakalan 1.438 1.447 2.885 22.Urangagung Jedong 2.127 2.048 4.175 23. Sarirogo 1.464 1.455 2.919 24. Sumput 1.666 1.597 3.263 Jumlah 65.194 67.542 132.736
Sumber: Kantor Kecamatan Sidoarjo (BPS 2009)
Secara keseluruhan jumlah penduduk perempuan di desa Jati lebih banyak daripada penduduk laki-laki. Berbeda dengan desa Jati, kelurahan Gebang memiliki jumlah penduduk laki-laki lebih besar daripada penduduk perempuan.
Kecamatan Krembung
Kecamatan Krembung secara administratif berada di bawah Pemerintahan Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Krembung berbatasan dengan kecamatan Tulangan di sebelah utara, kecamatan Porong di sebelah
selatan, kecamatan Krian di sebelah barat, dan kecamatan Mojoayu di sebelah timur. Kecamatan Krembung berada pada ketinggian wilayah 7-10 mdpl.
Kecamatan Krembung terdiri atas 19 desa dan diantaranya adalah desa Kandangan dan desa Balonggarut. Desa Kandangan berbatasan dengan desa Balonggarut di sebelah utara, desa Mojoruntut di sebelah selatan, desa Krembung di sebelah barat, dan desa Rejeni sebelah timur. Desa Balonggarut berbatasan dengan desa Gelang kecamatan Tulangan di sebelah utara, desa Wonomleti kecamatan Krembung di sebelah Barat, dan desa Rejeni kecamatan Krembung di sebelah selatan dan timur.
Ketinggian wilayah di desa Kandangan dan desa Balonggarut sama, yakni 7 mdpl. Jarak dari pusat Pemerintahan desa menuju pusat pemerintahan kecamatan untuk desa Kandangan adalah 1 km dan Balonggarut 3 km dengan jarak ke ibu kota kabupaten adalah 10 km (desa Kandangan) dan 20 km (desa Balonggarut). Luas wilayah kecamatan Krembung seluruhnya mencapai 2.955,01 ha. Perincian menurut tiap desa diperlihatkan pada Tabel 7. Wilayah kecamatan Krembung terdiri atas 19 desa dan diantaranya terdapat desa Kandangan dengan luas 1,06 ha dan desa Balonggarut seluas 0,80 ha.
Tabel 7.Luas wilayah tiap desa di kecamatan Krembung
Desa/Kelurahan Luas wilayah (Km
2 ) Hektar % 01. Krembung 140 4,74 02. Mojoruntut 246 8,32 03. Lemujut 140 4,74 04. Cangkring 149 5,04 05. Keret 194 6,57 06. Wonomelati 243 8,22 07. Balonggarut 080 2,71 08. Kandangan 106 3,59 09. Tanjekwagir 173 5,85 10. Kedungrawan 143 4,84 11. Gading 138 4,67 12. Rejeni 164 5,55 13. Ploso 135 4,57 14. Waung 126 4,26 15. Jenggot 97 3,28 16. Kedungsumur 111 3,76 17. Keper 160 5,41 18. Wangkal 155 5,25 19. Tambakrejo 255 8,63 Jumlah 2.955,01 100,00
Berdasarkan luas wilayah tersebut, maka perincian penggunaan tanah di kecamatan Krembung adalah sebagai berikut:
Tabel 8.Penggunaan tanah di kecamatan Krembung
Penggunaan tanah Luasan
Hektar %
Kampung 712.81 24,12
Industri 14.21 0,04
Sawah 1847.52 62,52
Pertanaian tanaman kering 7.71 0,02
Hutan - - Perikanan/perairan - - Tanah kosong - - Jalan 26,92 0,09 Sungai/saluran air 140,14 4,74 Lain-lain 202,21 6,84 Luas wilayah 2.955,01 100,00
Sumber: Kantor Kecamatan Krembung (BPS 2009)
Tabel 8 memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah digunakan untuk kegiatan pertanian, sedang penggunaan terkecil untuk pertambangan dan pertanian tanaman kering. Berdasarkan pemanfaatan wilayah, 0.01 ha desa Kandangan dan 1.30 ha desa Balonggarut digunakan untuk perkantoran, 67.28 ha, desa Kandangan dan 69.20 ha desa Balonggarut digunakan untuk sawah, dan 25.479 ha desa Kandangan dan 25.50 ha desa Balonggarut digunakan untuk tanah kering (BPS, 2009). Tabel 9 menunjukan bahwa penduduk di kecamatan Krembung berjumlah 51.763 jiwa dan kepadatan penduduk 33.429 (jiwa/km2). Jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.
Tabel 9.Perincian jumlah dan kepadatan penduduk kecamatan Krembung
Desa/Kelurahan
Jumlah penduduk (dewasa dan anak-anak) Kepadatan penduduk (jiwa/km2) Laki-laki Perempuan Jumlah
01. Krembung 1.963 2.078 4.041 2.911 02. Mojoruntut 2.294 2.318 4.612 1.881 03. Lemujut 892 908 1.800 1.286 04. Cangkring 1.181 1.217 2.398 1.609 05. Keret 1.822 1.884 3.706 1.908 06. Wonomelati 1.860 1.888 3.748 1.545 07. Balonggarut 496 538 1.034 1.294 08. Kandangan 1.008 1.017 2.025 1.910 09. Tanjekwagir 1.500 1.471 2.971 1.717 10. Kedungrawan 1.115 1.155 2.270 1.587 11. Gading 1.051 1.049 2.100 1.522 12. Rejeni 1.602 1.661 3.263 1.988
Desa/Kelurahan
Jumlah penduduk (dewasa dan anak-anak) Kepadatan penduduk (jiwa/km2) Laki-laki Perempuan Jumlah
13. Ploso 1.136 1.126 2.262 1.685 14. Waung 691 741 1.432 1.137 15. Jenggot 956 981 1.937 2.004 16. Kedungsumur 1.409 1.096 2.505 2.271 17. Keper 1.264 1.238 1.502 1.566 18. Wangkal 1.442 1.657 3.099 2.003 19. Tambakrejo 2.024 2.034 4.058 1.605 Jumlah 25.706 26.057 51.763 33.429
Sumber: Kantor Kecamatan Krembung (BPS 2009)
Karakteristik Keluarga
Keluarga merupakan sistem jaringan hubungan interpersonal antara individu bapak, ibu, dan anak (Deacon & Firebough 1988). Individu yang ada di dalamnya terikat hubungan darah atau perkawinan atau adopsi yang menjalin ikatan kasih sayang maupun kerjasama ekonomi (Zanden 1986). Contoh dalam penelitian ini adalah keluarga inti lengkap (utuh) yang terdiri atas suami, istri dan anaknya. Keluarga contoh direpresentasikan oleh istri, karena istri dianggap paling mengetahui dan memahami tentang anggota keluarganya.
Karakteristik keluarga berhubungan dengan ciri sosial demografi ekonomi keluarga. Karakteristik sosial demografi keluarga adalah usia istri-suami, pendidikan istri-suami, kehadiran anak, besar keluarga, sedangkan karakteristik sosial ekonomi keluarga menyangkut status pekerjaan istri, pekerjaan istri-suami dan pendapatan (per kapita) keluarga.
Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga
Usia Istri dan Suami. Tabel 10 menyajikan usia istri dan suami. Hurlock (1978) mengkategorikan umur orang dewasa menjadi tiga golongan, yaitu dewasa muda (18-40 tahun), dewasa madya (41-65 tahun), dan dewasa lanjut (≥66 tahun). Usia istri dan suami dapat menentukan partisipasi mereka dalam pekerjaan rumahtangga. Apabila satu dari pasangan menjadi lebih tua maka kemungkinan partisipasinya dalam pekerjaan rumahtangga meningkat terus, dan kemudian mencapai maksimum dan menurun (Gronau 1977).
Hasil penelitian menunjukan bahwa istri secara keseluruhan berusia muda. Rataan usia istri di perkotaan dan di perdesaan berada pada kelompok dewasa muda, dengan proporsi lebih banyak di perkotaan. Menurut Buhler dalam Baradja
(2005), orang yang berusia pada selang 25-50 tahun berada pada puncak masa hidup. Hal ini berarti, sebagian besar istri berada pada puncak masa hidup atau berada pada fase produktif dan semangat yang tinggi.
Berbeda dengan usia istri, suami secara keseluruhan berusia dewasa madya. Rataan usia suami di perdesaan lebih tinggi dibandingkan usia suami di perkotaan, dengan proporsi lebih banyak di perdesaan. Hasil analisis uji beda menunjukan bahwa terdapat perbedaan usia istri dan usia suami di perkotaan dan di perdesaan. Hal ini terlihat dari kategori usia istri di perkotaan yang lebih banyak berusia dewasa muda, sedangkan istri di perdesaan lebih banyak yang berusia dewasa madya. Usia yang sama untuk suami, suami di perkotaan lebih banyak yang memiliki usia dewasa muda dibandingkan suami di perdesaan, sedangkan suami di perdesaan dengan usia dewasa madya yang lebih besar.
Tabel 10. Sebaran contoh berdasarkan kategori usia istri dan usia suami di perkotaan dan di perdesaan
Anggota
keluarga Kategori usia
Perkotaan Perdesaan Total
n % n % n %
Istri Dewasa muda 246 67.21 113 51.60 359 61.37
Dewasa madya 117 31.97 104 47.49 221 37.78
Dewasa lanjut 3 0.82 2 0.91 5 0.85
Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00
Rataan + Std 37.78 ± 8.45 41.66 ± 10.60 39.22 ± 9.48
Suami Dewasa muda 170 46.45 73 33.33 243 41.54
Dewasa madya 187 51.09 137 62.56 324 55.38
Dewasa lanjut 9 2.46 9 4.11 18 3.08
Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00
Rataan + Std 42.02 ± 9.35 46.43 ± 10.62 43.67 ± 10.07
Keterangan:
1. Terdapat perbedaan yang nyata (α 95%) pada usia istri di perkotaan dan di perdesaan (p=0.00) 2. Terdapat perbedaan yang nyata (α 95%) pada usia suami di perkotaan dan di perdesaan (p=0.00)
Kehadiran Anak. Kehadiran anak dalam keluarga dapat mempengaruhi alokasi waktu istri dalam pekerjaan rumahtangga. Pada keluarga multi-person, dengan bertambahnya jumlah anak maka waktu diharapkan dapat ditransfer untuk aktivitas yang berhubungan dengan anak (Gronau 1977, Green 2003). Kehadiran anak dalam penelitian ini dilihat dari keluarga yang mempunyai anak balita dan di atas usia balita (Tabel 11).
Hasil penelitian menunjukan bahwa secara keseluruhan kebanyakan keluarga tidak mempunyai anak balita. Ini berarti, keluarga mempunyai anak yang berusia lima tahun ke atas, dengan proporsi lebih sedikit pada keluarga perkotaan dibandingkan dengan keluarga di perdesaan. Hasil analisis uji beda menunjukan bahwa terdapat perbedaan kehadiran anak di perkotaan dan di perdesaan. Proporsi keluarga di perkotaan dengan anak berusia lima tahun ke atas lebih kecil dibandingkan keluarga di perdesaan.
Tabel 11. Sebaran contoh berdasarkan kehadiran anak di perkotaan dan di perdesaan
Kehadiran anak
Perkotaan Perdesaan Total
n % n % n %
Tidak punya Balita 256 69.95 161 73.52 417 71.28
Punya Balita 110 30.05 58 26.48 168 28.72
Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00
Keterangan: terdapat perbedaan (α 95%) pada kehadiran anak di perkotaan dan di perdesaan (p=0.01)
Pendidikan Istri dan Suami. Karakteristik keluarga dapat dilihat dari pendidikan anggotanya. Jenjang pendidikan seseorang dapat mempengaruhi nilai yang dianut, cara berpikir dan bersikap serta pandangannya dalam melihat suatu pemasalahan (Sumarwan 2003).
Kemampuan, keahlian dan pengetahuan dari seseorang merupakan mutu modal manusia (Romer 1996). Menurut Borjas (1996), mutu modal manusia seperti pendidikan dan kemampuan dapat mempengaruhi perbedaan upah. Semakin tinggi pendidikan dan kemampuan seseorang maka upah yang diterima semakin tinggi pula. Upah bekerja di pasar, upah bekerja di rumah dan pilihan terhadap pekerjaan di luar rumah dan kendala sumberdaya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi tenaga kerja (Greenstein 1989). Seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan pendidikan. Setiap tambahan satu tahun pendidikan berarti bahwa di satu pihak meningkatkan kemampuan kerja dan tingkat penghasilan seseorang, di pihak lain menunda penerimaan penghasilan selama satu tahun dalam mengikuti pendidikan tersebut.
Tingkat pendidikan formal yang telah diselesaikan istri maupun suami diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap pelaksanaan peran dan fungsinya dalam keluarga. Berdasarkan fungsinya dalam struktur keluarga inti, seorang istri
mempunyai tugas untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarganya melalui aktivitas yang menghasilkan barang dan jasa, sebagai upaya untuk memaksimumkan kepuasan (Deacon & Firebough 1988; Hersch & Strattton, 2000). Menurut Alvares dan Miles (2003), perempuan yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi menggunakan waktu untuk pekerjaan rumahtangga lebih sedikit, dibandingkan dengan perempuan yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
Tabel 12 menyajikan pendidikan istri dan suami. Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan istri dan suami. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebanyakan pendidikan istri adalah SMA. Total rataan lama pendidikan istri yang tinggal di perkotaan lebih tinggi dua tahun, dibandingkan lama pendidikan istri yang tinggal di perdesaan. Sebagian besar suami berpendidikan SMA. Rataan lama pendidikan formal yang telah diselesaikan suami di perkotaan dan di perdesaan dalam rentang waktu yang sama, dengan proporsi lebih besar di perkotaan.
Hasil analisis uji beda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan lama pendidikan istri dan suami di perkotaan dan di perdesaan. Hal ini dapat dilihat dari tingkat pendidikan istri maupun suami, selain kebanyakan SMA juga perguruan tinggi yang proporsinya lebih besar di perkotaan daripada di perdesaan. Pendidikan SMA istri dengan proporsi lebih sedikit di perdesaan, hal sama berlaku untuk pendidikan SMA maupun PT suami. Hal ini diduga dari nilai keluarga terhadap pendidikan dan pendapatan keluarga, rendah.
Tabel 12. Sebaran contoh berdasarkan pendidikan istri dan pendidikan suami di perkotaan dan di perdesaan
Anggota keluarga
Tingkat pendidikan
Perkotaan Perdesaan Total
n % n % n %
Istri Tidak Tamat SD 1 0.27 0 0.00 1 0.17
Tamat SD 32 8.74 56 25.57 88 15.04 SMP 35 9.56 65 29.68 100 17.09 SMA 194 53.01 85 38.81 279 47.69 PT 104 28.42 13 5.94 117 20.00 Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00 Rataan + Std 11.68 ± 3.01 9.72 ± 2.87 10.94 ± 3.10 Suami Tamat SD 29 7.92 49 22.37 78 13.33 SMP 39 10.66 59 26.94 98 16.75 SMA 168 45.90 93 42.47 261 44.62
Anggota keluarga
Tingkat pendidikan
Perkotaan Perdesaan Total
n % n % n %
PT 130 35.52 18 8.22 148 25.30
Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00
Rataan + Std 10.35 ± 4.01 9.84 ± 2.95 10.16 ± 3.66
Keterangan:
1. Terdapat perbedaan yang signifikan (α 95%) pada lama pendidikan istri di perdesaan dan di perkotaan (p=0.00). 2. Terdapat perbedaan yang signifikan (α 95%) pada lama pendidikan suami di perdesaan dan di perkotaan (p=0.00)
Besar Keluarga. Besar keluarga ditentukan oleh jumlah anggota dalam keluarga, yang dapat menentukan tipe keluarga. Keluarga dengan jumlah anggota lebih banyak akan mengalokasikan waktunya lebih sedikit untuk pekerjaan rumahtangga, dibandingkan dengan keluarga dengan jumlah anggota lebih sedikit (Gronau 1977). Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar contoh adalah keluarga kecil. Keluarga di perkotaan dan di perdesaan mempunyai jumlah anggota yang sama, yakni rata-rata 4 orang. Hasil analisis uji beda menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan jumlah anggota keluarga di perkotaan dan di perdesaan. Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga di perkotaan dan di
perdesaan
Besar keluarga Perkotaan Perdesaan Total
n % n % n %
Keluarga kecil 284 77.60 157 71.69 441 75.38
Keluarga sedang 82 22.40 62 28.31 144 24.62
Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00
Rataan±std 3.86 ± 0.81 3.78 ± 0.98 3.83 ± 0.88
Keterangan: tidak terdapat perbedaan (α 95%) pada besar keluarga perkotaan dan di perdesaan (p=0.97)
Pekerjaan Istri dan Suami. Pekerjaan istri dan suami merupakan aspek yang memberikan pengaruh langsung terhadap pendapatan keluarga. Keluarga dengan model a male breadwinner yang berasal dari lapisan bawah seringkali dihadapkan pada kenyataan bahwa seorang suami sebagai kepala keluarga harus bekerja lebih keras untuk dapat memenuhi kebutuhan anggota keluarganya.
Kondisi demikian tidak jarang pula berdampak pada peran istri dalam keluarga. Seorang istri yang seharusnya mempunyai tanggungjawab utama dalam urusan rumahtangga, turut pula mencari nafkah tambahan untuk membantu
perekonomian keluarga yang artinya menjalankan peran ganda, dan faktanya perempuan (Jawa) mempunyai peranan penting dalam pengelolaan ekonomi rumahtangga (Williams 1990). Tabel 14 menyajikan sebaran responden berdasarkan pekerjaan istri dan suami.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar istri tidak bekerja. Hal ini berarti, kebanyakan istri adalah ibu rumahtangga. Proporsi istri sebagai ibu rumahtangga penuh lebih besar di perdesaan dibandingkan dengan istri di perkotaan. Hal ini diduga dari nilai budaya yang masih dipertahankan dalam konteks keluarga tradisional. Namun demikian, terdapat dua puluh persen istri yang mempunyai pekerjaan sebagai pegawai swasta.
Sebagian besar pekerjaan suami adalah pegawai swasta. Proporsi suami yang bekerja sebagai pegawai swasta lebih banyak ditemukan di perkotaan. Hal menarik ditemukan bahwa kurang dari satu persen suami yang mempunyai pekerjaan sebagai nelayan di wilayah perkotaan. Apabila dibandingkan dengan istri, proporsi istri yang menjadi nelayan relatif lebih banyak dibandingkan dengan suami dan nelayan istri yang berasal dari perdesaan saja.
Tabel 14. Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan istri dan pekerjaan suami di perkotaan dan di perdesaan
Anggota
keluarga Jenis pekerjaan
Perkotaan Perdesaan Total
n % n % n %
Istri Pegawai swasta 80 21,86 26 11,87 106 18,12
PNS/ABRI/POLRI 56 15,30 13 5,94 69 11,79 Wiraswasta 19 5,19 18 8,22 37 6,32 Buruh 10 2,73 32 14,61 42 7,18 Petani/nelayan 0 0,00 9 4,11 9 1,54 Tidak Bekerja 201 54,92 121 55,25 322 55,04 Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00
Suami Pegawai swasta 196 53,55 100 45,66 296 50,60
PNS/ABRI/POLRI 96 26,23 31 14,16 127 21,71
Wiraswasta 29 7,92 32 14,61 61 10,43
Buruh 42 11,48 51 23,29 93 15,90
Petani/nelayan 3 0,82 5 2,28 8 1,37
Pendapatan Keluarga. Pendapatan keluarga memperlihatkan kemampuan ekonomi dan daya beli keluarga dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Pendapatan merupakan kendala, selain waktu dan aset individu bagi anggota keluarga dalam memutuskan pilihan aktivitas yang akan dilaksanakannya (Becker 1965). Pendapatan keluarga contoh dalam penelitian ini didekati dengan pendapatan per kapita per bulan. Pendapatan per kapita dihitung berdasarkan jumlah keseluruhan pendapatan anggota keluarga yang bekerja mencari nafkah dibagi dengan total jumlah anggota keluarga. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan per kapita keluarga disajikan pada Tabel 15.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan contoh mempunyai rataan pendapatan di atas Rp1.298.337,34. Proporsi rataan pendapatan contoh di perdesaan lebih sedikit dibandingkan di perkotaan. Proporsi pendapatan contoh yang berada pada batas garis kemiskinan BPS kurang dari dua persen. Hasil analisis uji beda menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan pendapatan keluarga di perkotaan maupun di perdesaan. Hal ini diduga karena wilayah perdesaan termasuk wilayah semi perkotaan, istri yang bekerja sebagai buruh lebih banyak di perdesaan yang berdampak pada pendapatan keluarga.
Tabel 15. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan (per kapita) keluarga di perkotaan dan di perdesaan
Kategori pendapatan per kapita Perkotaan Perdesaan Total
N % n % n % ≤Rp200.368 5 1.37 2 0.91 7 1.20 Rp200.368,1 - Rp1.298.337 66 18.03 56 25.57 122 20.85 >Rp 1.298.337,1 295 80.60 161 73.52 456 77.95 Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00 Rataan±std 5270123.46 ± 12798220.92 2377833.94 ± 2035902.75 4187368.92 ± 10289869.48
Keterangan: tidak terdapat perbedaan (α 95%) pada pendapatan per kapita antara keluarga perkotaan dan perdesaan (p= 0.07).
Status Pekerjaan Istri. Status pekerjaan istri merujuk pada status istri yang bekerja dan tidak bekerja. Istri yang tidak bekerja dalam mengalokasikan waktunya untuk pekerjaan rumahtangga lebih besar dibandingkan istri yang bekerja (Hersch & Stanton 2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian istri tidak bekerja dengan proporsi lebih banyak di perkotaan. Istri yang bekerja secara persentase lebih besar di perdesaan. Hasil analisis uji beda menunjukan
bahwa terdapat perbedaan status pekerjaan istri di perkotaan dan di perdesaan. Hal ini dapat dilihat dari sebagian istri di perdesaan dengan status bekerja, tetapi secara total istri di dua wilayah penelitian separuhnya tidak bekerja
Tabel 16. Sebaran contoh berdasarkan status pekerjaan istri di perkotaan dan di perdesaan
Status pekerjaan istri Perkotaan Perdesaan Total
n % n % n %
Bekerja 157 42.90 133 60.73 290 49.57
Tidak bekerja 209 57.10 86 39.27 295 50.43
Total 366 100.00 219 100.00 585 100.00
Keterangan terdapat perbedaan (α 95%) pada status pekerjaan istri di perkotaan dan di perdesaan (p=0.04).
Karakteristik Lingkungan
Karakteristik lingkungan sosial berkaitan dengan pandangan peran gender dukungan sosial, stratifikasi keluarga dan tipologi wilayah. Pandangan peran gender adalah sikap terhadap peran dan tingkah laku laki-laki dan perempuan akibat konstruksi sosial-budaya. Dukungan sosial adalah bentuk tingkah laku yang menumbuhkan perasaan nyaman dan membuat individu percaya bahwa individu dihormati, dihargai, dicintai, dan bahwa orang lain bersedia memberikan perhatian dan keamanan (Orford 1992) diacu dalam Octavia & Basri (2002). Stratifikasi keluarga adalah lapisan keluarga berdasarkan pendapatan per kapita per bulan. Tipologi wilayah berhubungan dengan tempat tinggal keluarga di perkotaan dan di perdesaan, yang dirujuk dari nara sumber di kantor Badan Perencana Daerah Kabupaten Sidoarjo.
Pandangan Peran Gender
Pandangan peran gender yang dimaksud disini adalah sikap istri terhadap tempat, status, posisi, atau peran setiap laki-laki dan perempuan. Pandangan peran gender diukur dengan menggunakan sembilan indikator skala likert 1-5 yang ditanyakan kepada istri (Tabel 17), kemudian dikategorikan menjadi dua yaitu tradisional dan modern.
Tabel 17. Sebaran contoh berdasarkan pandangan peran gender di perkotaan dan di perdesaan
Pernyataan peran gender
Sikap istri
STS TS R S SS Total
n % n % n % n % n % n %
1.Suami adalah makhluk yang
kuat secara fisik dan mental 3 0.5 37 6.3 15 2.6 419 71.6 111 19.0 585 100 2. Istri sering kali bertindak
secara emosional dibandingkan rasionalnya
22 3.8 261 44.6 48 8.2 236 40.3 18 3.1 585 100.
3.Suami adalah kepala
keluarga, istri bukan 6 1.0 30 5.1 8 1.4 406 69.4 135 23.1 585 100 4. Istri adalah kepala
keluarga, suami bukan 82 14.0 317 54.2 13 2.2 160 27.4 13 2.2 585 100 5.Istri mendidik anak dan
membantu suami mencari nafkah
3 0.5 103 17.6 26 4.4 405 69.2 48 8.2 585 100
6.Suami mencari nafkah dan membantu istri mendidik anak
0 0.0 58 9.9 8 1.4 388 66.3 131 22.4 585 100
7.Suami istri mencari nafkah
dan mendidik anak bersama 3 0.5 83 14.2 7 1.2 375 64.1 117 20.0 585 100 8.Suami dan istri punya
kewajiban dan hak yang sama dalam keluarga
0 0.0 40 6.8 17 2.9 406 69.4 122 20.9 585 100
9.Suami memiliki tugaa dan tanggung jawab lebih besar terhadap keluarga dibanding istri
0 0.0 54 9.2 5 0.9 379 64.8 147 25.1 585 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar istri menyatakan sikap setuju dengan pernyataan suami adalah makhluk yang kuat secara fisik dan mental, namun sebagian istri tidak setuju bahwa istri sering kali bertindak secara emosional dibandingkan rasionalnya. Kebanyakan istri setuju bahwa suami adalah kepala keluarga, tetapi sebagian istri tidak setuju bahwa istri adalah kepala keluarga. Sebagian istri setuju dengan pernyataan bahwa istri bertugas untuk mendidik anak dan membantu suami mencari nafkah, suami mencari nafkah dan membantu istri mendidik anak, suami istri mencari nafkah dan mendidik anak bersama, suami dan istri punya kewajiban dan hak yang sama dalam keluarga, serta suami memiliki tugas dan tanggungjawab lebih besar terhadap keluarga dibanding istri. Sikap istri terhadap peran dan tingkah laku laki-laki dan perempuan yang sesuai atau yang berbeda karena didukung sistem kepercayaan gender.
Menurut Ridjal dan Husein (1993), gender dapat berkembang di masyarakat dalam jangka waktu lama karena didukung oleh gender belief system, yaitu serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang kualitas laki-laki dan perempuan seperti streotipi, sikap terhadap peran dan tingkah laku yang sesuai dan yang berbeda, atau bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya. Pada umumnya
laki-laki dipandang sebagai orang yang lebih kuat dan lebih aktif, yang ditandai oleh kebutuhan besar akan pencapaian, dominasi, otonomi dan agresi. Perempuan sebaliknya, sebagai orang yang lemah dan kurang aktif, lebih menaruh perhatian pada afiliasi dan keinginan untuk mengasuh dan mengalah. Semua citra ini terbentuk melalui media paling efektif yaitu keluarga, yang membentuk gambaran ideal laki-laki dan perempuan melalui proses sosialisasi yang berlangsung seumur hidup (William & Best 1990).
Berdasarkan nilai skor (Tabel 17), maka pada Tabel 18 menjelaskan bahwa keseluruhan istri berpandangan tradisional dalam menyikapi peran dan tingkah laku yang cocok bagi laki-laki dan perempuan. Pandangan istri terhadap peran gender di perkotaan dan di perdesaan tidak terbukti berbeda. Fakta ini membuktikan bahwa istri memiliki pemikiran yang sama dalam menyikapi peran antara laki-laki dan perempuan, yakni perempuan bertanggungjawab terutama