• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Grand Mean

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Sosiodemografi

perempuan (57,1%), dan laki-laki (42,2 %). Lebih dari separuh orang tua laki-laki (54,5%) berpendidikan SMA, sisanya orang tua laki-laki SD (14,9%); SMP (14,9%); perguruan tinggi (12,3%); dan tidak sekolah (2,3%)Sedangkan hanya sekitar sepertiga dari siswa yang orang tua perempuannya berpendidikan SMA (29,2%), SMP (28,6%); SD (26,6%); perguruan tinggi (9,7%) dan yang tidak sekolah (5,8%).Pekerjaan orang tua laki-laki meliputi PNS (18,8%); swasta (22,1%); wiraswasta (20,1%); pekerjaan lainya (38,3%) dan 1 orang tidak mengisi pekerjaan. Pekerjaan ibu terdiri atas PNS (6,5%); swasta (7,8%); wiraswasta (21,4%); pekerjaan lainnya (61,7%); (1,9%) tidak mengisi jenis pekerjaannya.

Kesenian yang dipilih oleh peserta didik yaitu seni tari (20,8%); tabuh (9,7%); menyanyi (29,9%); kesenian lainya (29,9%) bahkan ada peserta didik yang tidak mengisi pilihan kesenian yang digemari. Untuk kegemaran dibidang olah raga adalah lari (1,9%); bulu tangkis (27,9%); sepak bola (16,2%); olah raga lainnya (27,9%) serta peserta didik yang tidak memilih sebanyak (20,8%).

Hubungan antarvariabel

Dari analisis yang telah dilakukan hanya dua aspek yang menunjukkan hubungan yang bermakna, yaitu hubungan kelas dengan nilai UTS (p=0,010) dan kegemaran dalam bidang olah raga dengan nilai UTS (p=0,018), sedangkan jenis kelamin, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan kegemaran terhadap kesenian berhubungan tetapi tidak nyata.

Tabel 1. Hubungan antara kelas dengan nilai UTS siswa Nilai UTS (%) Kelas (%) ≤ 30 31 – 52 53 – 74 ≥ 75 VIIA VII B VII C VII D VII E 14 16 18 28 0 38 9 45 34 3 31 50 24 21 74 17 25 12 17 23 Hubungan yang bermakna antara

kelas dan nilai UTS siswa (Tabel 1) kemungkinan disebabkan persentase siswa kelas VIIE yang cenderung memperoleh nilai UTS berbeda dibanding siswa kelas yang lain. Pada katagori nilai UTS lebih kecil dari 30, tidak terdapat siswa kelas E yang mendapat nilai demikian, sebaliknya hampir sepertiga siswa kelas D mendapatkan nilai UTS lebih rendah dari 30. Demikian pula persentase siswa kelas E yang memperoleh nilai UTS dalam katagori 31-52 hanya 3 persen, jauh lebih kecil dibanding 45 persen siswa kelas B yang mendapatkan nilai UTS

dalam katagori tersebut. Sebaliknya hampir tiga dari empat siswa kelas E (74%) memperoleh nilai UTS dalam katagori 53-74, yang berarti sekitar empat kali lebih banyak dibanding siswa kelas D (21%).

Hubungan yang bermaknaantara olah raga yang digemari siswa dengan nilai UTS (Tabel 2) kemungkinan disebabkan pada katagori nilai UTS lebih kecil dari 30, persentase siswa yang memilih sepakbola sebagai olahraga kegemaran sekitar lima kali lebih banyak dibanding siswa lain yang tidak memiliki olahraga kegemaran.

Tabel 2. Hubungan antara olah raga yang digemari dengan nilai UTS Olah Raga (%) ≤ 30 31 – 52 Nilai UTS (%) 53 – 74 ≥ 75 1. Bulutangkis

2. Sepak bola

3. Lainnya(mis pencak silat) 4. Tidak memilih 14 24 21 5 23 24 26 30 44 32 40 42 19 20 14 23

Pembahasan

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu terdapat hubungan nyata (p = 0,000) antara kelas dengan hasil UTS peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Bangli. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perolehan prestasi belajar peserta didik pada masing-masing kelas. Presentase perolehan hasil UTS mata pelajaran IPA paling tinggi diperoleh kelas VII E dengan presentase nilai kategori sangat tinggi (23%), tinggi (74%), sedang (3%) dan rendah (0%). Sedangkan presentase paling rendah diperoleh kelas VII D dengan presentasi nilai pada kategori sangat tinggi (17%), tinggi (21%), sedang (34%), dan rendah (28%). Berdasarkan observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran pada semester ganjil, diamati bahwa kelas VII E memiliki rata-rata prestasi belajar yang lebih baik daripada kelas lainnya dikarenakan kelas ini disiplin dalam proses pembelajaran. Siswa di kelas VII E menyimak dengan baik setiap penjelasan maupun demonstrasi yang diberikan oleh guru, selain itu mereka memiliki kreatifitas yang lebih dalam mengerjakan tugas, dan kemampuan berinteraksi yang baik seperti bertanya dan menjawab pertanyaan dalam kegiatan diskusi. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian Widiastuti (2008) yang mengungkapkan bahwa terdapat hubungan positif antara kedisiplinan dengan prestasi belajar peserta didik dengan nilai korelasi sebesar 0,237. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa aspek kedisiplinan yang mempengaruhi adalah ketertiban terhadap aturan, mengikuti pelajaran dengan tertib, bersikap jujur, serta bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.

Prestasi belajar IPA siswa kelas VII SMP Negeri 3 Bangli juga dipengaruhi oleh

kegemaran olahraga peserta didik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis data menggunakan chi square dengan taraf signifikansi (0,018), yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan nyata antara kegemaran olahraga peserta didik dengan prestasi belajar IPA. Presentase perolehan nilai UTS IPA paling tinggi justru diperoleh siswa yang tidak memilih kegemaran olahraga, dengan presentase pada kategori sangat tinggi (23%), tinggi (42%), sedang (30%), dan rendah (5%). Sedangkan presentase perolehan nilai UTS IPA paling rendah pada siswa yang memilih olahraga sepak bola, dengan presentase kategori sangat tinggi (20%), tinggi (32%), sedang (24%), dan rendah (24%). Tingginya prestasi belajar IPA pada peserta didik yang tidak memiliki kegemaran olahraga dipengaruhi oleh faktor psikologis dari internal peserta didik tersebut. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seseorang yang akan mempengaruhi prestasi belajar peserta didik tersebut. Faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik antara lain minat, bakat, motivasi, dan intelegensi. Masing-masing siswa memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda, peserta didik yang memiliki minat terhadap kegiatan fisik seperti olahraga cenderung akan memiliki prestasi lebih baik dalam bidang tersebut. Karena secara tidak langsung minat seorang peserta didik mempengaruhi motivasi dan intensitasnya dalam belajar sesuai dengan minat yang dimiliki. Demikian juga pada hasil penelitian ini yang menunjukkan terdapat hubungan yang tidak nyata antara kegemaran seni dengan nilai UTS IPA peserta didik, hal ini juga dikarenakan faktor psikologis yaitu minat dan bakat siswa yang

cenderung mengarah ke seni bukan minat akademik. Sedangkan peserta didik yang memang memiliki minat dalam bidang profesional (keilmuan) cenderung akan menunjukkan prestasi dalam bidangnya, salah satunya terhadap mata pelajaran IPA.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa jenis kelamin, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua berhubungan tetapi tidak nyata terhadap prestasi belajar IPA peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Bangli. Hasil penelitian Firmanto (2013) mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar antara laki-laki dan perempuan atau dengan kata lain bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan prestasi belajar, dengan taraf signifikasi (p=0,10). Aspek kecerdasan merupakan karakteristik yang utama pada peserta didik laki-laki sebagai faktor internal dalam pencapaian prestasi belajar, sedangkan pada peserta didik perempuan selain kecerdasan, aspek task commitment (komitmen terhadap tugas) merupakan aspek yang juga berperan penting dalam perolehan prestasi belajarnya.

Selain faktor-faktor internal prestasi belajar peserta didik juga sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa lingkungan keluarga, sekolah, dan sosial. Lingkungan keluarga merupakan faktor eksternal yang paling berpengaruh dalam perkembangan peserta didik karena keluarga merupakan orang terdekat peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang tidak nyata antara pendidikan dan pekerjaan orangtua terhadap prestasi belajar peserta didik , pendidikan terakhir orangtua peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Bangli sebagian besar (29,2%) merupakan lulusan SMA. Sedangkan pekerjaan ayah sebanyak (38,3%) dan ibu (61,7%) merupakan pilihan pekerjaan lainnya yang sebagian besar

berprofesi sebagai petani maupun buruh. Namun tidak terdapatnya hubungan antara pekerjaan dan pendidikan orangtua terhadap prestasi belajar peserta didik memberikan implikasi positif bahwa siswa tetap memiliki motivasi belajar yang tinggi di luar pengaruh eksternal orangtua. Hasil penelitianini bertolak belakang dengan hasil penelitian oleh Saifi dan Mehmod (2008), yang menyimpulkan bahwa pendidikan orang tua berpengaruh penting dalam pencapaian pendidikan anak-anak mereka. Teknologi Informasi dan fasilitas meningkatkan kinerja peserta didik, dengan status sosial ekonomi yang stabil membawa kenyamanan, sikap positif dari lingkungan yang sehat yang mengarah ke prestasi akademik yang tinggi dibandingkan siswa lainnya. Namun, pada dasarnya dukungan dan pengaruh keluarga terutama orangtua bukan semata-mata hanya berupa kestabilan ekonomi yang mampu memberikan fasilitas pendukung belajar anaknya, namun dampak yang lebih besar kepada prestasi belajar seorang peserta didik adalah dengan adanya dukungan secara moril berupa perhatian dan motivasi dari orangtua. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Iftiqah (2013), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang singnifikan antara perhatian orang tua terhadap motivasi belajar, dimana perhatian orang tua merupakan kunci dari keberhasilan anak baik prestasi belajar di sekolah dan di luar sekolah.

Hasil penelitian ini sesuai dengan beberapa hasil penelitian sosiodemografi sebelumnya, seperti hasil penelitian Rita dan Kusumawati (t.t.) yang menemukan beberapa variabel demografi tidak mempengaruhi sikap dan perilaku dalam menggunakan kartu kredit. Penelitian lain juga mendapatkan beberapa faktor sosiodemografi (umur dan Jurnal Santiaji Pendidikan, Volume 5, Nomor 1, Januari 2015 ISSN 2087-9016

pendidikan formal) tidak berhubungan intensi wajib pajak untuk melakukan penghindaran pajak, sebaliknya jenis kelamin berhubungan nyata, wajib pajak perempuan cenderung melakukan penghindaran wajib pajak lebih rendah dibanding laki-laki (Lasmana dan Tjaraka, 2011). Demikian pula Umar (2013) menemukan hubungan yang bermakna antara usia dan jenis kelamin bermakna terhadap resiko otitis media akut (yaitu penyakit telinga yang paling sering terjadi di Indonesia), tetapi lingkungan dan pendapatan memiliki tidak bermakna dengan penyakit tersebut.

KESIMPULAN

Dari analisis yang telah dilakukan hanya dua aspek yang menunjukkan hubungan bermakna yaitu hubungan kelas dengan nilai UTS dan olah raga yang digemari dengan nilai UTS. Sedangkan jenis kelamin, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan kegemaran terhadap kesenian berhubungan tetapi tidak nyata. Hal ini mengindikasikan terdapat faktor lain yang nampaknya lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Untuk itu disarankan mengkaji faktor tersebut seperti sikap dan motivasi belajar siswa.