• Tidak ada hasil yang ditemukan

Grand Mean

HASIL PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan oleh peneliti dalam 3 siklus, di mana untuk mengetahui kemampuan dasar siswa, peneliti melakukan tes awal sebelum siklus 1 dilaksanakan. Hasil tes awal yang dilaksanakan pada hari Senin, 17 Maret 2014, menunjukkan adanya peningkatan hasil rata-rata nilai maupun hasil belajar siswa. Ini dapat dilihat dari hasil yang diperoleh siswa dalam setiap siklus mulai

dari tes awal, siklus I, siklus II, dan siklus III.

Hasil tes awal dari 36 siswa mencapai nilai rata-rata 50 dengan rincian siswa yang memperoleh nilai 60 dengan kategori cukup sebanyak 6 siswa (16,67%), nilai 50 dengan kategori hampir cukup sebanyak 26 siswa (72,22%), dan nilai 40 dengan kategori kurang sebanyak 4 siswa (11,11%), sehingga kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen pada tes awal dikelompokkan dalam kategori hampir cukup.

Pada siklus I dilakukan dua kali pertemuan di mana pertemuan pertama Rabu, 19 Maret 2014 untuk pelaksanaan pembelajaran dan pertemuan kedua Rabu, 02 April 2014 untuk pelaksanaan tes akhir siklus. Dari 36 siswa mencapai nilai rata- rata 60 dengan rincian siswa yang memperoleh nilai 70 dengan kategori lebih dari cukup sebanyak 4 siswa (11,11%), nilai 60 dengan kategori cukup sebanyak 30 siswa (83,33%), dan nilai 50 dengan kategori hampir cukup sebanyak 4 siswa (5,56%), sehingga kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen pada tes awal dikelompokkan dalam kategori cukup. Berdasarkan rincian data pada tes siklus I ini belum mencapai ketuntasan. Oleh karena itu, kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD perlu dilanjutkan ke tahap siklus II.

Pelaksanaan siklus II dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan, yaitu pertemuan pertama pada Senin, 07 April 2014 dengan memberikan pembelajaran menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD, pertemuan kedua pada Senin, 14 April 2014 Jurnal Santiaji Pendidikan, Volume 5, Nomor 1, Januari 2015 ISSN 2087-9016

untuk mengevaluasi kemampuan siswa menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD. Dari 36 siswa mencapai nilai rata-rata 70 dengan rincian siswa yang memperoleh nilai 80 dengan kategori baik sebanyak 3 siswa (8,33%), nilai 70 dengan kategori lebih dari cukup sebanyak 26 siswa (72,22%), dan nilai 60 dengan kategori cukup sebanyak 7 siswa (19,44%), sehingga kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen pada tes siklus II dikelompokkan dalam kategori lebih dari cukup. Berdasarkan rincian data pada tes siklus II ini belum mencapai ketuntasan. Oleh karena itu, kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD perlu dilanjutkan ke tahap siklus III.

Pelaksanaan siklus III dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan, yaitu pertemuan pertama pada Rabu, 16 April 2014 dengan memberikan pembelajaran menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD, pertemuan kedua pada Senin, 21 April 2014 untuk mengevaluasi kemampuan siswa menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD. Dari 36 siswa mencapai nilai rata-rata 80 dengan rincian siswa yang memperoleh nilai 100 dengan kategori istimewa sebanyak 4 siswa (11,11%), nilai 90 dengan kategori baik sekali sebanyak 21 siswa (58,33%), dan nilai 80 dengan kategori baik sebanyak 11 siswa (30,56%), sehingga kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen pada tes siklus III dikelompokkan dalam kategori baik sekali. Berdasarkan rincian data pada tes siklus III ini telah mencapai ketuntasan. Oleh karena itu, kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD sudah

dapat dikatakan meningkat dan penelitian dihentikan sampai pada siklus III.

Kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan metode Cooperative Learning tipe STAD siswa kelas VIII A SMP PGRI 7 Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014 terjadi peningkatan pada setiap siklus mulai dari tes prasiklus atau tes awal, siklus I, siklus II, dan siklus III dengan rincian sebagai berikut:

1. Hasil tes awal peningkatan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dari 36 siswa memperoleh nilai rata-rata mencapai 50 dengan kategori hampir cukup.

2. Hasil siklus I peningkatan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dari 36 siswa memperoleh nilai rata-rata mencapai 60 dengan kategori cukup. 3. Hasil siklus II peningkatan kemampuan

menganalisis unsur intrinsik cerpen dari 36 siswa memperoleh nilai rata-rata mencapai 70 dengan kategori lebih dari cukup.

4. Hasil siklus III peningkatan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen dari 36 siswa memperoleh nilai rata-rata mencapai 90 dengan kategori baik sekali.

Langkah - langkah metode Cooperative Learning tipe STAD yang diterapkan telah dapat meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen pada siswa kelas VIII A SMP PGRI 7 Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014. Langkah-langkah tesebut sebagai berikut: (1) penyampaian tujuan dan motivasi, (2) pembagian kelompok, (3) presentasi dari guru, (4) kegiatan belajar dalam tim, (5) kuis (evaluasi), dan (6) penghargaan prestasi tim. Dengan demikian, penelitian ini dapat dikatakan berhasil dan sesuai target yang diinginkan penulis dengan menerapkan

langkah-langkah metode Cooperative Learning tipe STAD yang dapat dilihat pula dari nilai tes awal, siklus I, siklus II, dan siklus III yang mengalami peningkatan pada setiap siklus.

PENUTUP

Dari hasil temuan-temuan yang telah dipaparkan penulis pada bagian-bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, metode Cooperative Learning tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen siswa, hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil tes awal sebesar 50, siklus I sebesar 60, siklus II sebesar 70, dan siklus III sebesar 90. Kedua, Langkah-langkah metode Cooperative Learning tipe STAD sebagai berikut: penyampaian tujuan dan motivasi,pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis (evaluasi), dan penghargaan prestasi tim.

Pelaksanaan penelitian yang dilaksanakan pada siswa kelas VIII A SMP PGRI 7 Denpasar tahun pelajaran 2013/2014 ini ada beberapa saran yang dapat dipergunakan untuk mengefektifkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada umumnya dan pembelajaran menganalisis unsur intrinsik cerpen pada khususnya, yaitu:

1. Bagi guru, untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam menganalisis unsur intrinsik cerpen, sebagai guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan benar agar siswa mampu menganalisis unsur intrinsik cerpen dengan baik, serta dapat meningkatkan mutu pengajaran bahasa Indonesia khususnya dalam menganalisis unsur intrinsik cerpen sehingga guru mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. 2. Perpustakaan sekolah adalah tempat ilmu

pengetahuan yang hendaknya lebih dilengkapi dengan sarana buku yang memadai, karena akan dapat merangsang minat baca siswa di perpustakaan.

3. Bagi siswa, sebaiknya lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

4. Bagi penulis lain yang berminat melakukan penelitian mengenai Cooperative Learning tipe STAD diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan subyek penelitian dan pokok bahasan yang berbeda serta mengadakan improvisasi-improvisasi dalam pelaksanaannya di lapangan sehingga mampu meningkatkan kemampuan belajar siswa dan memajukan praktik pendidikan di Indonesia.

Daftar Pustaka

Nurkancana, W. & Sunartana, P.P.N. (1992). Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Riyanto, Y. (2010). Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Suandhi, I W. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. (diktat tidak diterbitkan). Universitas Mahasaraswati Denpasar,

Denpasar.

Trianto. (2011). Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka Publiser.

Ni Wayan Kari

Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Bangli

ABSTRAK

Survey ini dilakukan untuk mengukur korelasi antara sosio-demografis dan hasil belajar dalam mata pelajaran IPA siswa sekolah menegah pertama. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 7 SMPN 3 Bangli Bali dimana lima dari sepuluh kelas (pada tahun aaran 2014/2015) dipilih sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui observasi data yang tertera pada raport siswa sebelumnya. Variabel sosio-demografis termasuk pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, kelas siswa, jenis kelamin, hobi dalam hal seni maupun olahraga. Sementara itu, nilai ujian tengah dan akhir semester digunakan sebagai indikator hasil belajar siswa. Data dianalisis secara deskriptif (dalam bentuk tabel frekuensi dan tabulasi silang) dan inferensial (menggunakan chi-square test). Hasil analisis menunjukkan bahwa kelas siswa dan hobi dibidang olahraga memiliki hubungan yang signifikan (p=0.000) terhadap hasil belajar mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas faktor sosio-demografis tidak berpengaruh terhadap hasil bejar IPA.

Kata kunci: pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, kelas, seni, olahraga, ujian tengah dan akhir semester.

ABSTRACT

The survey was conducted to measure the correlation between socio-demographic and learning performance in natural science lesson of middle school students. The population was students from 7th grade of SMPN3 Bangli Bali, in which five of ten classes (2014/2015 school

year period) were chosen as sample. Data were collected through observation of student data- form that has utilized to their rapport, previously. Socio-demographic variables included parent education, parent occupation, and student class, gender, hobby in art and sport. Meanwhile the values of midterm and final exams were used as indicators of student learning performance. The researcher analyzed data descriptively (in the form of frequencies table and cross tabulation) and inferentially (chi-square test). The result showed that only student class and hobby in sport have significantly (p=0,000) correlation with their learning performance. These may indicate that majority of socio-demographic factors are not influencing student learning performance in natural science lesson.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi (Haryanto, 2012). Pembelajaran merupakan bantuan dan bimbingan yang diberikan pendidik agar terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, keterampilan, serta pembentukan sikap dan kepercayaan diri pada peserta didik. Pembelajaran dilakukan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yaitu hal-hal yang ingin dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran dapat berupa aspek kognitif (pengetahuan), afektif (keterampilan), maupun psikomotor (sikap). Namun secara umum tujuan utama dari pembelajaran yang berlangsung selama ini adalah tujuan kognitif yaitu prestasi belajar peserta didik.

Prestasi belajar merupakan keberhasilan perubahan tingkah laku peserta didik terhadap penguasaan terhadap pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan dalam suatu mata pelajaran (Rahmah, 2013). Prestasi belajar pada umumnya ditunjukkan dengan nilai tes atau ulangan berupa angka yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembelajaran, karena pembelajaran merupakan proses, sedangkan prestasi belajar merupakan hasil dari proses pembelajaran tersebut. Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya. Prestasi belajar siswa sangat ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari individu

siswa itu sendiri antara lain faktor fisiologis (bersifat fisik), intelegensi, bakat, minat, dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu peserta didik. Faktor eksternal yang berpengaruh antara lain lingkungan keluarga (perhatian dan ekonomi keluarga), dan lingkungan sekitar siswa (lingkungan sekolah dan sosial) (Simanjuntak, 2013).

Faktor internal maupun eksternal saling terkait dalam mempengaruhi prestasi belajar seseorang. Banyak penelitian yang telah mengungkapkan pengaruh faktor internal dan eksternal tersebut terhadap prestasi belajar siswa. Namun terdapat faktor internal dan eksternal lainnya dari siswa yang menarik untuk dikaji lebih jauh. Berbagai faktor internal dan eskternal tersebut dikenal sebagai sosiodemografi, yaitu faktor-faktor sosial yang berhubungan dengan faktor kependudukan. Beberapa faktor sosial adalah tingkat pendidikan, pendapatan dan tingkat kesehatan. Sedangkan usia, jenis kelamin, hobi merupakan faktor demografi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat hubungan antara faktor sosiodemografi (faktor ekternal dan faktor internal) terhadap prestasi belajar IPApeserta didik kelas VII SMPN 3 Bangli Tahun Pelajaran 2014/2015.

Adapun hipotesis penelitian adalah terdapat hubungan yang bermakna antara faktor sosiodemografi dan prestasi belajar IPA siswa SMP Negeri 3 Bangli.

METODE PENELITIAN