• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa konsentrasi EM4 tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan C organik kompos kulit buha kakao. Masa inkubasi berpengaruh nyata terhadap C organik dan tidak terdapat interaksi antara konsentrasi EM4 dan masa inkubasi terhadap C organik.

Hasil analisis C organik kompos menggunakan konsentrasi EM4 dan masa inkubasi berbeda dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan C organik dan N total kompos limbah kulit buah kakao menggunakan konsentrasi EM4 dan masa inkubasi berbeda

Tabel 1. diketahui bahwa perlakuan konsentrasi EM4 yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap kadar C organik kompos limbah kulit buah kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar C organik pada minggu ke 6 mengalami kenaikan. Hal ini diduga disebabkan karena mikroorganisme yang meningkat dan mikroorganisme tersebut belum sepenuhnya memanfaatkan unsur karbon sebagai sumber energi dan membebaskan dalam bentuk CO2. Sedangkan pada perlakuan masa inkubasi memberikan pengaruh tunggal dimana masa inkubasi selama 8 minggu berbeda nyata (17,6 %) dengan masa inkubasi 4 minggu namum pada masa inkubasi selama 8 minggu ini kadar C organik mengalami penurunan. Hal ini diduga karena mikroorganisme yang ada di dalam pengomposan menggunakan karbon sebagai sumber energinya.

Walaupun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap perlakuan konsentrasi EM4, dengan kandungan nilai C organik yang sangat tinggi ini memungkinkan untuk direkomendasi supaya setiap limbah kulit kakao yang dihasilkan tidak dibuang bagitu saja. Akan tetapi digunakan oleh petani dengan cara diolah menjadi kompos dan diberikan ke media tumbuh tanaman kakao dengan harapan mampu meminimalisir penggunaan pupuk anorganik yang sifatnya kurang baik untuk kesuburan tanah, sehingga efisiensi dalam hal input pemupukan bisa lebih ditingkatkan. Hal ini disebabkan karena pada prinsipnya semua perlakuan yang ada menunjukkan nilai C organik tinggi (>

5 %). Tingginya C organik pada limbah kulit kakao sangat sesuai dengan pendapat Didiek dan Yufnal (2004) yang menyebutkan bahwa kompos yang terbuat dari limbah kulit kakao mempunyai C organik dengan kriteria sangat tinggi. Selain itu Isroi (2007) juga menyatakan bahwa kandungan C organik kompos yang dibuat dari kulit buah kakao adalah termasuk dalam kriteria sangat tinggi.

Widyotomo et al. (2007) cit. Sulaeman (2008) menambahkan bahwa penggunaan limbah kulit kakao yang terbuang begitu saja, memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan kembali dengan cara diolah menjadi pupuk kompos yang selanjutnya diaplikasikan kembali ke lahan pertanian oleh petani.

Limbah kakao tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap C organik pada perlakuan konsentrasi EM4 namun memberikan pengaruh yang nyata pada perlakuan masa inkubasi, akan tetapi C organik kompos semua perlakuan sudah memenuhi standar SNI kompos. Tidak ada interaksi antara konsentrasi dan masa inkubasi terhadap kadar C organik mungkin disebabkan karna bahan yang belum terdekomposisi sempurna karena kulit buah kakao memiliki tekstur bahan yang cukup keras. Hal ini sesuai dengan pendapat Murbandono (2000) yang menyatakan bahwa agar pembuatan pupuk organik dapat berhasil maka perlu diperhatikan susunan bahan mentah, dimana semakin kecil ukuran potongan bahan mentah maka akan semakin cepat pula pembusukannya. Karena semakin banyak permukaan yang tersedia untuk bakteri pembusuk untuk menghancurkan material tersebut maka bahan organik akan mudah terurai.

Kandungan N Total

Hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa konsentrasi EM4 dan masa inkubasi berpengaruh nyata terhadap N total. N total kompos limbah kulit buah kakao menggunakan konsentrasi

EM4 dan masa inkubasi berbeda dapat dilihat pada Tabel 1. Pada Tabel tersebut tersebut terlihat bahwa konsentarsi EM4 dan masa inkubasi yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kadar N total pada kompos limbah kulit buah kakao.. Diketahui pada konsentrasi EM4 5 ml dan 10 ml tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar N total. Sedangkan konsentrasi EM4 0 ml tidak berbeda nyata terhadap konsentrasi 15 ml. Kandungan N total yang paling tinggi terdapat pada konsentrasi EM4 10 ml dan berbeda nyata dengan pemberian EM4 dengan konsentrasi 0 dan 15 ml.

Pemberian aktivator EM4 menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap N total kompos. N total kompos tertinggi terdapat pada perlakuan masa inkubasi selama 8 minggu. N total meningkat selama proses pengomposan. Peningkatan N total merupakan akibat penguraian protein menjadi asam amino oleh mikroorganisme yang kemudian asam amino mengalami amonifikasi menjadi ammonium yang selanjutnya dioksidasi menjadi nitrat. Menurut Sumardi (1999) jumlah mikroorganisme di dalam EM4 sangat banyak sekitar 80 jenis. Mikroorganisme tersebut dapat bekerja efektif dalam menguraikan bahan organik. Hasil analisis kandungan N total pada semua perlakuan menunjukkan hal yang sangat positif, dimana ketersediaan N total pada semua perlakuan berkisar tinggi. Kondisi ini sangat menguntungkan apabila limbah kulit kakao diberdayakan kembali tanpa harus terbuang bagitu saja, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pemupukan bisa dikurangi oleh petani pada umumnya.

Hanafiah (2010) menyebutkan bahwa dalam proses mineralisasi bahan organik, akan terjadi pelepasan mineral-mineral hara untuk tanaman, salah satunya adalah Nitrogen. Isroi (2007) menyatakan bahwa kandungan hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao memiliki kandungan Nitrogen dengan kriteria sangat tinggi.

Tidak terdapat interkasi antara konsentrasi EM4 dan masa inkubasi terhadap kadar N Total. Hal ini mungkin disebabkan oleh bahan utama kompos yaitu kulit buah kakao belum mampu sepenuhnya terdekomposisi dengan sempurna karena memiliki tekstur yang cukup keras. Sutanto (2002) menyatakan bahwa aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat.

Kandungan rasio C/N

Hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa konsentrasi EM4 berpengaruh nyata terhadap Rasio C/N. Masa inkubasi berpengaruh nyata terhadap Rasio C/N dan tidak terdapat interaksi antara konsentrasi EM4 dan masa inkubasi terhadap ratio C/N. Rasio C/N kompos menggunakan konsentrasi EM4 dan masa inkubasi berbeda dapat dilihat pada Tabel 1.

Pada Tabel 1. terlihat pemberian konsentrasi EM4 yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap nilai C/N kompos. Rasio C/N terendah terdapat pada pelakuan konsentrasi EM4 10 ml yaitu 9,83 sedangkan tertinggi terdapat pada perlakuan konsentrasi 0 ml yaitu 12,23. Masa inkubasi 8 minggu menghasilkan rasio C/N terendah yaitu sebesar 10,41 dan tertinggi pada masa inkubasi 6 minggu yaitu 12,19. Terjadinya penurunan rasio C/N sejalan dengan bertambahnya waktu inkubasi disebabkan karena terjadinya penurunan C organik kompos dan meningkatnya kandungan N total kompos. Menurut Suwastika (2005), bahwa bahan organik akan dioksidasi oleh jasad mikro selama masa ikubasi untuk menurunkan rasio C/N. Walaupun tidak berpengaruh nyata, akan tetapi perbandingan C/N semua perlakuan mendekati C/N tanah. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kompos untuk semua kombinasi perlakuan yang ada sangat baik dan ideal digunakan, dengan kata lain tidak ada proses mineralisasi ataupun imobilisasi. Jika diberikan ke tanah, maka hara yang terkandung didalamnya seperti N dan C serta hara mikro lainnya bisa langsung digunakan oleh tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Ma’shum et al. (2003) yang menyebutkan bahwa keseimbangan proses mineralisasi dan immobilisasi di dalam tanah berlangsung pada nisbah C/N 10 – 15. Dengan kata lain apabila C/N lebih besar dari nisbah C/N tanah yang ada maka akan mengubah konsentrasi hara di dalam kompos, biasanya digunakan untuk makanan miroorganisme di dalam proses penguraian bahan organik apabila belum terdekomposisi secara sempurna. Rahayu (2003) menyebutkan ada tiga unsur lain penyusun jaringan tubuhmikroorganisme yaitu C, H, dan O yang membentuk molekul kompleks yang disebut dengan protein. AlFanshuri (2003) menambahkan bahwa bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah dapat meningkatkan aktivitas dan populasi mikroorganisme tanah. Sedangkan Hanafiah (2010) lebih kurang juga menyebutkan bahwa kematangan kompos memiliki indikator C/N ratio yang mendekati C/N tanah 10 - 12.

Untuk hasil sidik ragam ratio C/N, tidak terdapat interaksi antara konsentrasi EM4 dan masa inkubas. Dalam proses pembuatan kompos dari limbah organik dengan cara fermentasi menggunakan

EM4 akan terjadi penurunan rasio C/N yang tinggi kemudian dengan proses fermentasi terjadi penurunan C dalam bahan dan C/N menjadi semakin kecil. Hal ini dikarenakan dalam proses fermentasi terjadi rekasi C menjadi C02 dan CH4 yang berupa gas. Kecepatan reaksi fermentasi akan menyebabkan penurunan ratio C/N. Adapun kecepatan reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain konsentrasi EM4, suhu, dan ukuran bahan.Proses pengomposan ini sangat tergantung pada ukuran partikel dan komposisi bahan serta peran aktif mikroorganisme pendekomposer. Selain itu efektivitas kerja mikroorganisme ini juga sangat tergantung dari ketersediaan makanan untuk mereka beraktivitas. Bahan tersebut sudah menjadi kompos apabila rasio C/N sudah mencapai lebih kecil dari 20 (Yuwono, 2005).

Derajat Keasaman (pH)

Hasil analisis pH kompos pada akhir pengomposan menunjukkan bahwa pH akhir pengomposan berkisar anatara 8-9 berada dalam suasana basa.Nilai pH tertinggi terdapat pada konsentrasi 15 ml yang diinkubasi selama 8 minggu yaitu 8,76. Sedangkan nilai pH terendah pada konsentrasi 0 ml yang diinkubasi selama 4 minggu yaitu 8,11.pH hasil kompos dapat dilihat pada grafik berikut ini :

Gambar 4.4. pH hasil kompos

Kenaikan pH yang terjadi menurut Jacob (1992), diduga adanya reaksi dari kation-kation basa, terutama kalium dan natrium yang merupakan logam alkali pembentuk basa kuat disamping kalsium dan magnesium yang dibebaskan selama proses dekomposisi. Nilai pH hasil pengomposan cenderung mengalami peningkatan, hal ini disebabkan oleh sumbangan kation-kation basa hasil mineralisasi bahan kompos seperti K2+ , Ca2+ dan Mg2+ juga akibat dari penghancuran protein, penguapan amoniak dan aktivitas mikroorganisme dalam pemecahan nitrogen organik dan reduksi sulfat ( Permana, 2011). kompos yang baik dengan ditunjukkan nilai pH normal 6-8 dapat meningkatkan kualitas tanah.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Konsentrasi EM4 tidak mempengaruhi nilai C organik dan rasio C/N secara nyata.

2. Masa Inkubasi 6 minggu meningkatkan nilai C organik dan N total kompos namun tidak pada rasio C/N.

3. Tidak terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan konsentrasi EM4 dan masa inkubasi terhadap C Organik, N total dan Ratio C/N.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan Perlu dilakukan penelitian lanjutan uji kompos yang dihasilkan dengan tanaman indikator.

DAFTAR PUSTAKA

Antara Riau. 2013. Riau Dorong Petani Diversifikasi Coklat. http/berita/27293riaudorong petanidiversifikasi-coklat. Diakses 27 November 2014.

Anif, S., T. Rahayu dan M. Faatih. 2007. Pemanfaatan Limbah Tomat Sebagai Pengganti EM4 Pada Proses Pengomposan Sampah Organik. Jurnal Penelitian Sain dan Teknologi, 8(2) : 119-143.

Al-Fanshuri, B. 2003. Teknologi pengelolaan sampah kota sebagai pupuk organik alternatif dengan penambahan bakteri penambat N-bebas, pelarut fosfat dan EM-4.Prosiding LKTI FOKUSHIMITI.

Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Badan Standarisasi Nasional. 2004. Spesifikasi Kompos Dari Sampah Organik Domestik. SNI 19-7030-2004. LPMB. Bandung.

Darmono dan T. Panji. 1999. Penyediaan Kompos Kulit Buah Kakao bebas Phytophthora palmivora.

Warta Penelitian Perkebunan, 1 : 33-38.

Didiek, H.G. dan A. Yufnal. 2004. Orgadek, Aktivator Pengomposan Pengembangan Hasil Penelitian.

Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan. Bogor.

Ditjen POM, Depkes RI .2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Djuarnani, N. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Gaur,D.C.1980. Improving Soil Fertility Through Recycling, Compost Technology. Project FieldDocument. FAO Of United Nation. New Delhi.

Hasanudin, M., B. Gonggo, dan Y. Indriyani. 2006. Peran Pupuk N dan P Terhadap Serapan N, Efisiensi N dan Hasil Tanaman Jahe Di Bawah Tegakan Tanaman Karet. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia, 8(1): 61-68.

Hanafiah, K.A, 2010. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Indriani, Y. H. 1999. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Isroi. 2004. Bioteknologi Mikroba Untuk Pertanian Organik. Harian Kompas. Jember.

Isroi. 2007. Pengomposan Limbah Kakao. Materi Pelatihan TOT Budidaya Kopi dan Kakao Staf BPTP di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember.

Jacob, A. 1992. Pengaruh Aktivator terhadap Laju Dekomposisi dan Kualitas Kompos dari Limbah Organik Taman Safari Indonesia. Tesis. Institut Pertanian Bogor.

Mannuputty, M.C, A. Jacop dan J.P Baumahu. 2012. Pengaruh Effective Innoculant PROMI dan EM4 terhadap Laju dekomposisis dan Kualitas Kompos dari Sampah Kota Ambon. Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman, 1 (2) :143-151

Ma’shum, M., Soedarsono J, dan E.L. Susilowati. 2003. Biologi Tanah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depertemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Murbandono, H.S. 2000. Membuat Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta

Nugroho, S.E. 2005. Pengaruh Mikrobia Dekomposer dan Dosis Kompos Serbuk Gergaji terhadap Serapan N pada Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L) di Alfisol Jumantono. Skripsi.

Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Rahayu, N. 2003. Pemanfaatan Mikoriza dan Bahan Organik dalam Rangka Reklamasi Lahan Pasca Penambangan. Dalam Prosiding LKTI- FOKUSHIMITI. Fakultas Pertanian. Universitas Tanjungpura. Pontianak.

Ragimun. 2012. Analisis Daya Saing Komoditas Kakao Indonesia. Jurnal Pembangunan Manusia, 2(1) : 169-188

Redaksi Agromedia. 2008. Panduan Lengkap Budidaya dan Bisnis Cabai. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Soedarsono, S. Abdoellah, dan E. Aulistyowati. 1997. Penebaran Kulit Buah Kakao Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah dan Pengaruhnya terhadap Produksi Kakao. Jurnal Pelita Perkebunan, 13(2): 90-99.

Sumardi. 1999. Pengaruh Penambahan Bahan Percepat pada Proses Pengomposan Sampah terhadap Hasil Kompos. Jurnal Duta Farming, 17 (1) :49-54

Supartha, I. W. 2008. Pengendalian Hama Penggerek dan Penyakit Busuk Buah Kakao Secara Integrasi. Dinas Perkebunan Provinsi Bali. Denpasar.Susanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta.

Suhartati, 2008. Aplikasi Inokulum EM4 dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Bibit Sengon. Balai Penelitian Hutang Penghasil Serat Kuok. Riau.

Sulaeman, D. 2008. Prinsip Menciptakan Agroindustri Ramah Lingkungan. Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian. Ditjen PPHP-Deptan RI. Jakarta Selatan.

Surtinah, 2013. Pengujian Kandungan Unsur Hara Dalam Kompos Yang Berasal Dari Serasah Tanaman Jagung Manis (Zea mays Saccharata). Jurnal Ilmiah Pertanian, 11(1): 16-25.

Suwastika. 2004. Pengaruh Masa Inkubasi Terhadap Pelapukan Beberapa Jenis Pupuk Kandang.

Laporan Penelitian. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Bali.

Suwastika & Sutari, S. 2009. Perlakuan Aktivator dan Masa Inkubasi Terhadap Pelapukan Limbah Jerami Padi. Jurnal Bumi Lestari, 9 (2): 211-216

Verawaty, P.T. 2004. Perbedaan Penggunaan Berbagai Dosis EM4 terhadap Waktu Terbentuknya Kompos Pada Sampah Kebun. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Yuniwati, M., F. Iskarima, dan A. Padulemba. 2012. Optimasi Kondisi Proses Pembuatan Kompos dari Sampah Organik dengan Cara Fermentasi Menggunakan EM4. Jurnal Teknologi, 5(2) : 172-181.

Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yuwono, T. 2006., Kecepatan Dekomposisi dan Kualitas Kompos Sampah Organik. Jurnal Inovasi Pertanian, 4(2) : 116-123.

Wahyono, S., F. Sahwan dan F. Suryanto. 2003. Mengolah Sampah Menjadi Kompos. Edisi Pertama. Jakarta.

Wahyuni, S. 2011. Menghasilkan Biogas dari Aneka Limbah. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Warta Ekonomi. 2005. Produksi Kakao. http://www.wartaekonomi.com/. diakses 27 November 2014.

Wawo, B. 2008. Mengolah Limbah Kulit Kakao Menjadi Bahan Pakan Ternak. Http:

//disnaksulsel.info index.php option com docman task doc details & gid3. Diakses 27 November 2014.

DISKUSI

Pertanyaan :

1. Mengapa memilih kulit kakao sebagai bahan kompos?

Jawaban :

1. Kulit kakao dijadikan sebagai pupuk kompos karena mempunyai kandungan unsur hara makro dan mikro yang berguna untuk pertumbuhan tanaman.

PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS TANAMAN MENTIMUN