Tinggi tanaman pada beberapa varietas bawang merah umur 28 HST berbeda nyata. varietas Bima Brebes memiliki tinggi tanaman tertinggi sebesar 32,33 cm sedangkan varietas Super Philip memiliki tinggi tanaman terendah (21,44 cm). Menurut Gunadi dan Suwandi (1989), tinggi tanaman merupakan salah satu indikator pertumbuhan, meskipun tidak ada korelasi dengan hasil. Hal ini menunjukkan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berkembang pada suatu lingkungan tumbuh.
Agar diperoleh tingkat pertumbuhan yang optimum harus ada kesesuaian antara tanaman dengan lingkungan tumbuhnya.
Secara umum varietas Bima Brebes memiliki daya tumbuh dan pertumbuhan yang tinggi dibandingkan varietas yang lain. Hal ini disebabkan karena pengaruh faktor genetik yang berasal dari varietas itu sendiri dan faktor lingkungan tumbuh yang sesuai. Menurut Gardner et al. (1985), daya tumbuh dan pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor luar dan dalam. Faktor dalam salah satunya adalah sifat genetik dari varietas itu sendiri sedangkan faktor luar adalah iklim, suhu, kelembaban, curah hujan, ketersediaan hara dan intensitas sinar matahari.
Tabel 1. Tinggi Tanaman Bawang Merah
Varietas Bawang Merah Tinggi Tanaman (cm)
Bima Brebes 32,33a
Varietas Bima Brebes memiliki jumlah anakan terbanyak yaitu 7,17 siung dan berbeda nyata dengan varietas yang diuji lainnya. Jumlah anakan pada varietas Lokal Alahan Panjang adalah 5,78 umbi dan tidak berbeda nyata dengan Super Philip (5,59 siung) dan Medan (5,14 siung) (Tabel 2).
Tabel 2. Jumlah Anakan per Rumpun Tanaman Bawang Merah
Varietas Bawang Merah Jumlah Anakan (Siung)
Bima Brebes 7,17a
Varietas Bima Brebes dapat dikatakan memiliki kemampuan adaptasi yang baik karena dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada lahan gambut. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Meliala (2011) bahwa suatu varietas dapat dikatakan adaptif apabila dapat tumbuh baik pada wilayah penyebarannya, dengan produksi yang tinggi dan stabil dan memungkinkan tumbuhan tersebut dapat hidup berdampingan dengan lingkungannya.
Jumlah Daun
Hasil sidik ragam (Tabel 3) menunjukkan bahwa jumlah daun pada beberapa varietas bawang merah umur 28 HST berbeda nyata. Jumlah daun terbanyak terdapat pada Varietas Bima Brebes sebesar 28,78 helai sedangkan jumlah daun paling sedikit terdapat pada Varietas Super Philip (21,31 helai) dan berbeda tidak nyata dengan Medan (21,70 helai).
Tabel 3. Jumlah Daun Tanaman Bawang Merah
Varietas Bawang Merah Jumlah Daun (helai)
Bima Brebes 28,78a
Setiap varietas yang ditanam memperlihatkan respon pertumbuhan yang beragam.
Perbedaan ini disebabkan oleh masing sifat varietas yang berasal dari warisan induk masing-masing. Hal ini sesuai dengan pendapat Yamaguci (1983), bahwa keragaman terjadi karena adanya faktor keturunan. Selain itu, ditambah dengan adaptasi lingkungan akan menghasilkan fenotip yang berbeda (Suryadi dan Permadi, 1998: Putrasamedja dan Permadi, 2000). Variasi jumlah daun yang cukup lebar antar kultivar bawang merah menandakan bahwa jumlah daun sangat sensitif terhadap pengaruh kondisi lingkungan tumbuh (Sofiari et al., 2009)
Jumlah Umbi per Rumpun
Jumlah umbi per rumpun pada beberapa varietas bawang merah terdapat perbedaan nyata.
Jumlah umbi per rumpun terbanyak terdapat pada varietas Bima Brebes sebesar 7,39 umbi per rumpun. Jumlah umbi per rumpun terendah terdapat pada varietas Medan (5,42 umbi per rumpun).
Banyaknya jumlah umbi per rumpun pada varietas Bima Brebes diduga karena varietas ini dapat beradaptasi dengan baik pada lahan gambut. Menurut Poespodarsono (1988), ada dua kemungkinan penyebab suatu varietas beradaptasi dengan baik, yaitu varietas terdiri dari satu macam genotip yang mempunyai susunan genetik sedemikian rupa sehingga mampu mengendalikan sifat morfologi dan fisiologi yang dapat menyesuaikan diri pada lingkungan dan varietas terdiri dari sejumlah genotipe yang berbeda, masing-masing mempunyai kemampuan menyesuaikan diri terhadap perbedaan kisaran lingkungannya.
Tabel 4. Jumlah Umbi per Rumpun
Varietas Bawang Merah Jumlah Umbi per Rumpun (umbi)
Bima Brebes 7,39a Tabel 5. Bobot Basah Umbi per Rumpun
Varietas Bawang Merah Bobot Basah Umbi per Rumpun (gr)
Bima Brebes 37,23a
Bobot basah umbi per rumpun pada beberapa varietas bawang merah terdapat perbedaan yang nyata. Bobot basah umbi per rumpun tertinggi terdapat pada varietas Bima Brebes sebesar 37,23 gr. Bobot basah umbi per rumpun terendah terdapat pada Varietas Super Philip (29,92 gr).
Menurut Firmansyah et al. (2014), produksi bawang merah antar varietas menunjukkan perbedaan, hal ini mengindikasikan bahwa setiap varietas memiliki pertumbuhan dan daya adaptasi yang berbeda-beda di lahan gambut. Pada adaptasi tanaman, selain faktor luar juga faktor dalam, yaitu gen, yang akan menentukan pembentukan daun maupun pembesaran umbi.
Bobot Kering umbi per Rumpun
Bobot kering umbi per rumpun pada beberapa varietas bawang merah terdapat perbedaan yang nyata. Bobot kering umbi per rumpun tertinggi terdapat pada Varietas Bima Brebes sebesar 32,11 gr. Bobot kering umbi per rumpun terendah terdapat pada Varietas Super Philip (24,78 gr).
Tabel 6. Bobot Kering Umbi per Rumpun
Varietas Bawang Merah Bobot Kering Umbi per Rumpun (gr)
Bima Brebes 32,11a
Bobot kering per rumpun antar varietas bawang merah yang diujicobakan menunjukkan perbedaan. Di dalam hal perbedaan bobot kering pada masing-masing klon bawang merah yang diujicobakan dipengaruhi oleh faktor genetika (Putrasamedja, Suryadi dan Maskar, 2005). Sartono (2010) menambahkan bahwa faktor yang mempengaruhi perbedaan pertumbuhan hingga produksi bawang merah selain faktor eksternal juga faktor internal yaitu genetik. Besar kecilnya bobot kering dari masing- masing asal umbi akan menentukan kemampu an produksi dari masing-masing klon yang dicoba (Sumarni dan Soetiarso, 1998).
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Varietas Bima Brebes memiliki kemampuan adaptasi yang paling baik di lahan gambut dibandingkan dengan varietas lainnya pada pengamatan tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah daun, jumlah umbi per rumpun, bobot basah umbi per rumpun dan bobot kering umbi per rumpun.
Saran
Varietas Bima Brebes merupakan varietas yang dapat dikembangkan lebih lanjut di lahan gambut Provinsi Riau
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F. dan I. G. M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan.
Bogor.Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF).
Ameriana, M. dan T.A. Sutiarso. 1995. Persebaran, Produksi dan Konsumsi Bawang Merah. Jakarta.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
BPS. 2012. Data Produksi Bawang Merah. http://www.bps.go.id. Diakses 13 Maret 2015.
Daryono, H. 2009. Potensi, Permasalahan dan Kebijakan Yang Diperlukan Dalam Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Gambut Secara Lestari. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 6 (2): 71-101.
Departemen Pertanian.201. Volume Ekspor dan Impor Sayuran Tahun 2012. http://deptan.go.id.
Diakses 13 Maret 2015.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes. 2012. Info Produk Andalan.
http://disperindag.brebeskab.go.id/info.php. Diakses tanggal 24 September 2014.
Firmansyah dkk. 2014.Uji Adaptasi Bawang Merah di Lahan Gambut Pada Saat Musim Hujan. Jurnal Hortikultura, 24 (2) : 114-123.
Gardner P.G., R.B Pearce and T.L. Mitchell. 1985. Physiology of Crop Plants. The Iowa State University Press. U.S.A 428 p.
Gunadi, N dan Suwandi 1989, Pengaruh Dosis dan Aplikasi Pemupukan Fosfat pada Tanaman Bawang Merah Kultivar Sumenep terhadap Pertumbuhan dan Hasil. Buletin Penelitian Hortikultura, 18 (2) : 98-106.
Lansida. 2009. Bawang Merah (Allium cepa L.). http://lansida.blogspot.com/2009/09/ bawang-merah-allium-cepa-l.html. Diakses 24 September 2014.
Meliala, B. A. 2011. Uji adaptasi beberapa varietas bawang merah (Allium ascalonicum) pada musim hujan. Skripsi. Program Studi Pemuliaan Tanaman. Departemen Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. USU Medan.
Noor, M. 2000. Pertanian di Lahan Gambut. Yogyakarta. Kanisius.
Purbiati dkk. 2010. Pengkajian Adaptasi Varietas-varietas Bawang Merah pada Lahan Gambut.
Kalimantan Barat.. BPTP Kalimantan Barat.
Purbiati, T. 2012. Potensi Pengembangan Bawang Merah di Lahan Gambut. Jurnal Litbang Pertanian, 31(3):113-118.
Putrasamedja, S. dan A.H. Permadi. 2000. “Usulan Pelepasan Klon 86, Klon 88, Kuning Berdaya Hasil Tinggi pada Bawang Merah untuk Dataran Rendah dan Dataran Medium.” Disampaikan kepada Komisi Pelepasan Varietas Pusat Penelitian, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hortikutura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Poespodarsono, S. 1988. Dasar- Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. Lembaga Sumberdaya Informasi.
IPB. Bogor.
Ritung, S. dan Wahyunto.2003. Kandungan Karbon Tanah Gambut di Pulau Sumatera. Bogor. Balai Penelitian Tanah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 16 hal.
Ritung, S, Wahyunto dan K. Nugroho. 2012. Karakteristik dan sebaran lahan gambut di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan, Badan Litbang Pertanian, hlm. 47-61.
Singgih, W. 1994. Budidaya Bawang: Bawang Putih, Bawang Merah, Bawang Bombay. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumarni, N dan A. Hidayat, 2005. Budidaya Bawang Merah. Panduan Teknis PTT Bawang Merah No.
3. Bandung. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA).
Sumarni, N. dan R. Rosliani. 1995. Ekologi Bawang Merah. Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Suryadi dan A.H. Permadi. 1998. Evaluasi Pertumbuhan dan Daya Hasil Delapan Kultivar Kubis Bunga di Dataran Medium. J. Hort. 8(2):1068–1071.
Yamaguchi. M. 1983. World Vegetables Crops. Department of Vegetable, Effert University of California, Berkeley. 219 p.
DISKUSI