• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan baku yang dianalisis adalah Sargassum sp dan limbah cair surimi dari ikan lele (Clarias sp). Analisis kimia yang dilakukan terhadap bahan baku adalah analisis konsentrasi C-organik, N-total, P2O5, dan K2O. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui kandungan makromineral awal sebelum dilakukan pengomposan. Konsentrasi makromineral Sargassum sp dan limbah cair surimi disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Konsentrasi makromineral pada Sargassum sp dan limbah cair surimi (Clarias sp) Sampel C-organik (ppm) N-total (ppm) P2O5 (ppm) K2O (ppm) Sargassum sp 117200 30 100 730 Limbah cair surimi 4800 380 200 1700

Proses pengomposan merupakan proses dekomposisi senyawa organik oleh mikroorganisme menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat dimanfaatkan untuk kesuburan tanah dan tanaman. Bahan organik tidak dapat digunakan secara langsung oleh tanaman karena perbandingan rasio C/N dalam bahan tersebut tidak sesuai dengan rasio C/N pada tanah. Rasio C/N tanah berkisar antara 10-20. Apabila bahan organik mempunyai rasio C/N mendekati atau sama dengan rasio C/N tanah, maka bahan tersebut dapat digunakan tanaman. Namun pada umumnya bahan organik segar mempunyai rasio C/N tinggi. Hamastuti et al. (2012) melaporkan bahwa pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.

Konsentrasi C-organik

C-organik merupakan komponen utama dari bahan organik. Bahan organik sangat dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Pemberian bahan organik terhadap tanah dan tanaman akan memberikan respon yang positif karena bahan organik menyediakan zat pengatur tumbuh bagi tanaman serta memperbaiki sifat fisika, kimia, biologi pada tanah. Penyerapan C-organik pada tanaman adalah sekitar 25.000 ppm. Apabila tanah kekurangan bahan organik maka yang akan terjadi adalah tanah tidak subur sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan optimal. Konsentrasi C-organik cenderung mengalami penurunan pada semua perlakuan selama proses pengomposan berlangsung (Gambar 2). Penurunan konsentrasi C-organik dikarenakan adanya penggunaan karbon oleh mikroorganisme sebagai sumber energi untuk mendekomposisi bahan organik. Hasil konsentrasi C-organik disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Konsentrasi C-organik pada perlakuan yang berbeda selama pengomposan 9 hari

Hasil konsentrasi C-organik pada perlakuan kontrol dan perlakuan LCS mengalami penurunan hingga hari ke-9, sedangkan pada perlakuan RL+BL mengalami penurunan dari hari ke-0 hingga hari ke-6 kemudian naik setelah hari ke-6 hingga hari ke-9 (Gambar 2). Hal tersebut diduga karena pada perlakuan kontrol dan LCS proses dekomposisi bahan organik masih berjalan hingga hari ke-6, sedangkan pada perlakuan RL+BL sudah selesai pada hari tersebut. Lebih cepatnya waktu pengomposan pada perlakuan RL+BL disebabkan karena pengaruh penambahan bioaktivator laut yang mengandung isolat bakteri serasah mangrove. Menurut Paturau (1982), proses penguraian C-organik oleh mikroorganisme mengubah senyawa glukosa menjadi etanol dan karbon dioksida dengan enzim invertase dengan persamaan reaksinya adalah:

bakteri

C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2

enzim invertase

Konsentrasi C-organik pada perlakuan RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% mengalami penurunan dari hari ke-0 hingga hari ke-6 kemudian meningkat pada hari ke-9 (Gambar 2). Hal tersebut diduga karena proses dekomposisi telah mencapai waktu optimum pengomposan yaitu pada hari ke-6. Selain itu, hasil konsentrasi C-organik pada RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% menunjukkan bahwa ketiga perlakuan tersebut memiliki konsentrasi C-organik yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan perlakuan kontrol, RL+BL, dan LCS. Tingginya konsentrasi C-organik pada perlakuan RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% disebabkan karena limbah cair perikanan mengandung bahan organik yang cukup tinggi. Seperti yang dilaporkan Ibrahim (2005), limbah cair industri perikanan memiliki bahan organik yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi limbah cair surimi yang ditambahkan maka semakin tinggi pula konsentrasi C-organik yang dihasilkan oleh pupuk organik cair. Standar konsentrasi C-organik pada pupuk organik cair menurut SNI

1970-30-2004 yaitu 9800 - 32000 ppm. Hasil analisis konsentrasi C-organik menunjukkan bahwa perlakuan yang telah memenuhi standar SNI 1970-30-2004 adalah perlakuan RL+BL+LCS100% yaitu dengan konsentrasi C-organik 11800 ppm, sehingga perlakuan RL+BL+LCS100% merupakan perlakuan terpilih berdasarkan dari konsentrasi C-organik.

Konsentrasi N-total

Nitrogen (N) merupakan unsur hara esensial bagi tanaman, sehingga bila kekurangan unsur tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal. Nitrogen merupakan faktor pembatas utama produksi. Nitrogen sangat penting karena merupakan penyusun utama protein dan beberapa molekul biologi lainnya pada tanaman serta berperan penting dalam proses sintesis protein pada tanaman (Patti et al., 2013). Penyerapan unsur hara nitrogen pada tanaman yaitu sekitar 10.000-50.000 ppm. Tanaman yang kekurangan nitrogen akan mengalami klorosis, pertumbuhan kerdil, perkembangan buah yang tidak sempurna, serta daun mudah mengering. Hasil konsentrasi N-total yang didapat pada semua perlakuan cenderung mengalami peningkatan selama proses pengomposan (Gambar 3). Adiyana (2004) melaporkan bahwa kenaikan kadar nitrogen disebabkan adanya N sebagai produk penguraian protein dari proses dekomposisi. Peningkatan kadar N di akhir proses juga disebabkan adanya proses amonifikasi, yaitu proses pembentukan amonium dari bentuk teroksidasinya yaitu nitrit. Berikut adalah reaksi pembentukan amonium oleh bakteri perombak nitrogen :

Sargassum sp. NH3

NH3 + H2O NH4OH

NH4OH + 3O2 NO2- + 2H2O + 4H- + Energi

2NO2- + O2 2NO3- + Energi

Hasil konsentrasi N-total pada perlakuan kontrol dan LCS mengalami peningkatan selama proses pengomposan hingga hari ke-9, sedangkan pada RL+BL mengalami peningkatan hingga hari ke-6 kemudian menurun setelahnya. Hasil yang diperoleh pada perlakuan kontrol dan LCS diduga belum mencapai waktu optimum dekomposisi, sedangkan pada RL+BL telah mencapai waktu optimum yaitu pada hari ke-6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi N-total pada kontrol lebih rendah apabila dibandingkan dengan hasil pada RL+BL. Hasil penelitian Pringgenies et al. (2015) menunjukkan bahwa kandungan bakteri yang terdapat pada bioaktivator laut adalah Bacillus,

Pseudomonas, Acinetobacter dan Flavobacterium. Bakteri tersebut memiliki sifat spesifik dalam meningkatkan unsur hara nitrogen. Konsentrasi N-total pada perlakuan LCS lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan RL+BL. Hal tersebut terjadi karena jumlah nitrogen pada limbah cair surimi lebih besar dari pada

Sargassum sp. Hasil uji karakteristik bahan baku menunjukkan bahwa konsentrasi Bakteri Pembusukan Nitrosococus Amonifikasi Nitrosomonas Nitrifikasi Nitrobacter Nitratasi

N-total pada Sargassum sp yaitu sebesar 30 ppm sedangkan pada limbah cair surimi mencapai 380 ppm.

Gambar 3. Konsentrasi N-total pada perlakuan yang berbeda selama pengomposan 9 hari

Konsentrasi N-total pada RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% cenderung mengalami peningkatan hingga hari ke-6 kemudian menurun setelahnya (Gambar 3). Konsentrasi N-total tertinggi yaitu pada RL+BL+LCS 90%, sedangkan konsentrasi N-total pada RL+BL+LCS 80% dan RL+BL+LCS 100% lebih kecil. Hal tersebut diduga karena konsentrasi penambahan limbah cair surimi yang paling optimum adalah 90%. Konsentrasi N-total pada RL+BL+LCS80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan RL+BL. Limbah cair surimi memiliki konsentrasi nitrogen yang tinggi sehingga berpengaruh terhadap proses penguraian nitrogen pada pengomposan pupuk organik cair. Nurhayati et al. (2015) melaporkan bahwa hasil analisis kimia air cucian surimi menunjukkan adanya protein pada air cucian surimi, yaitu sebesar 0.88%. Standar konsentrasi N-total pada pupuk organik cair menurut SNI 1970-30-2004 yaitu 4000 ppm. Hasil analisis konsentrasi N-total menunjukkan bahwa perlakuan yang mendekati standar SNI 1970-30-2004 adalah perlakuan RL+BL+LCS90% yaitu dengan konsentrasi N-total sebesar 740 ppm, sehingga perlakuan RL+BL+LCS90% merupakan perlakuan terpilih berdasarkan dari konsentrasi N-total.

Rasio C/N

Bahan organik tidak dapat digunakan secara langsung oleh tanaman karena perbandingan kandungan C/N dalam bahan tersebut tidak sesuai dengan C/N tanah. Tujuan dari proses pengomposan adalah menurunkan rasio C/N pada kompos hingga mendekati rasio C/N tanah (10-20) sehingga dapat diserap oleh tanaman. Hasil rasio C/N disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Rasio C/N pada perlakuan yang berbeda selama pengomposan 9 hari Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rasio C/N pada perlakuan kontrol dan perlakuan LCS mengalami penurunan terus menerus hingga hari ke-9, sedangkan rasio C/N pada perlakuan RL+BL hanya mengalami penurunan hingga hari ke-6 kemudian meningkat setelahnya (Gambar 4). Nilai rasio C/N pada perlakuan kontrol awalnya sangat tinggi dan masih tetap tinggi hingga hari ke-9, hal tersebut membuktikan bahwa proses pengomposan belum matang sempurna karena tingginya rasio C/N pada bahan baku. Semakin tingginya C/N rasio bahan, maka proses pengomposan akan semakin lama karena C/N harus diturunkan. Sedangkan hasil rata-rata rasio C/N pada RL+BL lebih rendah dibandingkan dengan rasio C/N pada perlakuan kontrol. Hal tersebut disebabkan tingginya konsentrasi nitrogen pada bakteri yang terkandung dalam bioaktivator laut. Stanbury et al. (2003) melaporkan bahwa nitrogen merupakan komponen utama dalam asam amino yang digunakan bagi makhluk hidup sebagai dasar pembentuk asam nukleat, seperti DNA dan RNA yang nantinya membawa sifat keturunan. Selain itu Azmi (2015) menyebutkan bahwa rata-rata kandungan nitrogen pada produk bioaktivator laut adalah 8000 ppm. Sedangkan nilai rasio C/N pada perlakuan LCS lebih rendah apabila dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan perlakuan RL+BL. Hal tersebut dikarenakan limbah cair surimi memiliki kandungan N-total yang cukup tinggi sehingga rasio C/N pada perlakuan LCS rendah.

Hasil analisis rasio C/N pada RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% mengalami penurunan hingga hari ke-6 kemudian meningkat kembali setelahnya. Nilai rasio C/N pada RL+BL+LCS 80% dan RL+BL+LCS 90% pada hari ke-6 sudah mencapai standar rasio C/N pupuk organik, sedangkan pada RL+BL+LCS 100% belum memenuhi standar karena masih terlalu tinggi. Nilai C/N yang masih tinggi diduga disebabkan karena terlalu banyaknya konsentrasi limbah cair surimi yang ditambahkan sehingga kelebihan nitrogen tidak dipakai oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi dan akan dilepaskan dan menyebabkan konsentrasi N-total pada pupuk menjadi rendah. Selanjutnya rasio C/N pada RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% lebih rendah dibandingkan perlakuan kontrol dan RL+BL

(Gambar 4). Penambahan limbah cair surimi diduga dapat menurunkan rasio C/N karena limbah cair surimi memiliki kandungan nitrogen yang cukup tinggi. Standar rasio C/N pada pupuk organik cair menurut SNI 1970-30-2004 yaitu 10-20. Hasil analisis rasio C/N menunjukkan bahwa perlakuan yang telah memenuhi standar SNI 1970-30-2004 adalah perlakuan RL+BL+LCS80% dan RL+BL+LCS90% yaitu dengan rasio C/N sebesar 12 dan 11, sehingga perlakuan RL+BL+LCS80% dan RL+BL+LCS90% merupakan perlakuan terpilih berdasarkan dari parameter rasio C/N.

Konsentrasi P2O5

Bahan organik membantu menyediakan unsur fosfor atau P. Unsur P merupakan zat yang penting, akan tetapi selalu berada dalam keadaan kurang di dalam tanah. Unsur P sangat penting sebagai sumber energi. Oleh karena itu, kekurangan P dapat menghambat pertumbuhan dan reaksi-reaksi metabolisme tanaman. Kandungan fosfor pada tanaman membantu dalam pertumbuahan bunga, buah, dan biji, serta mempercepat pematangan buah. Jika tanaman kekurangan unsur ini dapat menyebabkan daun dan batang kecil, daun berwarna hijau keabu-abuan, mengilap, dan terlihat pigmen merah pada daun bagian bawah dan selanjutnya mati. Selain itu, pembentukan bunga terhambat dan produksi buah atau bijinya kecil (Iswandi, 2014). Penyerapan unsur hara fosfor pada tanaman yaitu sekitar 1000-5000 ppm. Hasil konsentrasi P2O5 pada semua perlakuan mengalami kenaikan selama proses pengomposan (Gambar 5).

Gambar 5. Konsentrasi P2O5 pada perlakuan yang berbeda selama pengomposan 9 hari

Hasil analisis konsentrasi P2O5 pada kontrol, RL+BL, dan LCS mengalami peningkatan selama proses pengomposan. Hasil P2O5 pada kontrol dan perlakuan LCS mengalami peningkatan dari hari ke-0 hingga hari ke-9 (Gambar 5). Sedangkan pada RL+BL hasil P2O5 meningkat dari hari ke-0 hingga hari ke-6 kemudian mengalami penurunan setelahnya. Hal tersebut diduga karena pada

RL+BL hari ke-6 kompos telah mengalami kematangan, sedangkan pada kontrol belum. Menurut Azmi et al. (2015) bahwa bioaktivator dari laut terdapat bakteri

Flavobacterium, Psudomonas, dan Bacillus yang berperan dalam melarutkan Fosfor. Akan tetapi hasil konsentrasi P2O5 pada perlakuan LCS lebih tinggi apabila dibandingkan dengan perlakuan RL+BL. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan kandungan P2O5 pada bahan baku, dimana konsentrasi P2O5Sargassum

sp lebih rendah dibandingkan pada limbah cair surimi, yaitu 100 ppm dan 200 ppm.

Konsentrasi P2O5 pada perlakuan RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% mengalami peningkatan dari hari ke-0 hingga hari ke-6 kemudian mengalami penurunan setelahnya (Gambar 5). Konsentrasi P2O5 tertinggi yaitu pada RL+BL+LCS90% dimana 90% merupakan konsentrasi penambahan limbah cair surimi yang paling optimum. Hal tersebut diduga karena proses penguraian oleh mikroorganisme kurang berjalan optimal.

Konsentrasi P2O5 pada perlakuan kontrol dan RL+BL lebih rendah dibandingkan dengan RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% (gambar 5. Hal tersebut membuktikan bahwa penambahan limbah cair surimi memberikan pengaruh pada konsentrasi P2O5. Hidayati et al. (2010) melaporkan bahwa semakin besar nitrogen yang dikandung maka multiplikasi mikroorganisme yang merombak fosfor akan meningkat, sehingga kandungan fosfor dalam bahan organik juga meningkat, demikian juga kandungan fosfor dalam pupuk seiring dengan kandungan fosfor dalam bahan. Standar konsentrasi P2O5 pada pupuk organik cair menurut SNI 1970-30-2004 yaitu 1000 ppm. Hasil analisis P2O5 menunjukkan bahwa perlakuan yang telah mendekati standar SNI 1970-30-2004 adalah perlakuan RL+BL+LCS90% yaitu dengan konsentrasi P2O5 sebesar 425 ppm, sehingga perlakuan RL+BL+LCS90% merupakan perlakuan terpilih berdasarkan dari konsentrasi P2O5.

Konsentrasi K2O

Kalium merupakan unsur makromineral yang memiliki peran penting bagi pertumbuhan tanaman. Kalium berfungsi dalam pembentukan protein dan karbohidrat. Selain itu, unsur ini juga berperan penring dalam pembetukan antibodi tanaman untuk melawan penyakit. Kekurangan kalium dapat mengakibatkan klorosis, tanaman kerdil, daun mengering, serta perkembangan buah yang tidak sempurna (Iswandi, 2014). Kalium diserap pada tanaman yaitu pada konsentrasi 5000 - 60000 ppm. Hasil konsentrasi K2O pada semua perlakuan mengalami peningkatan selama proses pengomposan (Gambar 6). Selama proses pengomposan terjadi penguraian kalium kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat diserap optimal oleh tanaman. Hasil konsentrasi K2O disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Konsentrasi K2O pada perlakuan yang berbeda selama pengomposan 9 hari

Hasil analisis konsentrasi K2O pada perlakuan kontrol, RL+BL, dan LCS mengalami peningkatan. Akan tetapi konsentrasi K2O pada perlakuan kontrol dan LCS terus meningkat dari hari ke-0 hingga hari ke-9, sedangkan pada perlakuan RL+BL terjadi peningkatan hingga hari ke-6 kemudian mengalami penurunan setelahnya (Gambar 6). Selain itu peningkatan konsentrasi K2O pada perlakuan bioaktivator laut lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol. Peningkatan konsentrasi K2O pada RL+BL karena adanya aktivitas mikroorganisme yang menggunakan kalium sebagai katalisator dalam proses fermentasi. Hal ini diperkuat oleh Hidayati et al. (2010) yang menyatakan bahwa kalium (K2O) digunakan oleh mikroorganisme dalam bahan substrat sebagai katalisator, dengan kehadiran bakteri dan segala aktivitasnya akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kandungan kalium. Kalium diikat dan disimpan dalam sel oleh bakteri dan jamur, jika didegradasi kembali maka kalium akan menjadi tersedia kembali.

Konsentrasi K2O pada RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% mengalami peningkatan hingga hari ke-6 kemudian menurun setelahnya (Gambar 6). Hal tersebut diduga terjadi karena mikroba telah mencapai kesetimbangan pada hari ke-6 yakni jumlah mikroba yang dihasilkan sama dengan jumlah mikroba yang mati. Pada saat ini aktivitas mikroba akan mulai menurun dan ditunjukkan oleh menurunnya konsentrasi K2O. Konsentrasi K2O yang paling tinggi yaitu pada RL+BL+LCS 90% dan diduga merupakan konsentrasi penambahan limbah cair surimi yang paling optimal. Menurut Nainggolan (2008) jumlah populasi mikroba yang meningkat dapat menimbulkan kompetisi antar mikroorganisme. Bentuk kompetisi tersebut dapat berupa kompetisi dalam pemanfaatan ruang, air, dan unsur-unsur hara. Konsentrasi K2O pada perlakuan kontrol dan RL+BL lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil pada RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100%. Hal tersebut membuktikan bahwa penambahan limbah cair surimi dapat meningkatkan konsentrasi K2O. Menurut Mosquera et al. (2011) kandungan K2O pada limbah

produksi perikanan dapat meningkatkan kandungan unsur hara kalium pada pupuk organik. Standar konsentrasi K2O pada pupuk organik cair menurut SNI 1970-30-2004 yaitu 2000 ppm. Hasil analisis K2O menunjukkan bahwa perlakuan yang telah memenuhi standar SNI 1970-30-2004 adalah semua perlakuan kecuali kontrol, akan tetapi konsentrasi K2O tertinggi yaitu pada perlakuan RL+BL+LCS90% sebesar 2738 ppm, sehingga perlakuan RL+BL+LCS90% merupakan perlakuan terpilih berdasarkan dari konsentrasi K2O.

Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter penting bagi pupuk organik cair selain unsur hara. Pengukuran pH pada pupuk organik cair merupakan hal yang penting dilakukan karena untuk mengetahui pH pada pupuk tersebut sehingga bisa diaplikasikan ke tanah yang sesuai. Apabila nilai pH rendah (asam) maka untuk aplikasi ditambahkan kapur agar nilai pH meningkat, demikian sebaliknya. Hasil nilai pH disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Nilai pH pada perlakuan yang berbeda selama pengomposan 9 hari Hasil nilai pH pada perlakuan kontrol mengalami penurunan dari hari ke-0 sampai hari ke-3 kemudian meningkat hingga hari ke-9. Sedangkan pada perlakuan RL+BL terjadi peningkatan nilai pH dari hari ke-0 hingga hari ke-3 kemudian menurun hingga hari ke-6 dan selanjutnya stabil (Gambar 7). Selain itu nilai pH pada perlakuan LCS mengalami kenaikan pada hari 0 hingga hari ke-3, kemudian menurun tajam hingga mencapai pH 5,02 pada hari ke-6, dan meningkat lagi hingga 7,1 pada hari ke-9. Peningkatan dan penurunan nilai pH ini merupakan pengaruh dari aktivitas mikroorganisme. Prahesti & Dwipayanti (2011) melaporkan bahwa tingginya pH disebabkan oleh aktivitas kelompok bakteri lainnya, misalkan bakteri metanogen yang mengonversikan asam-asam organik menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti metana, amoniak dan karbondioksida.

Hasil analisis nilai pH pada perlakuan RL+BL+LCS 80%, RL+BL+LCS 90%, dan RL+BL+LCS 100% meningkat dari hari ke-0 sampai hari ke-3

kemudian menurun hingga hari ke-6 dan selanjutnya stabil (Gambar 7). Jacob (1992) melaporkan bahwa terdapat adanya reaksi dari kation-kation basa, terutama kalium dan natrium yang merupakan logam alkali pembentuk basa kuat; disamping kalsium dan magnesium yang dibebaskan selama proses dekomposisi. Kation-kation basa ini dapat menetralizir asam-asam organik yang dihasilkan selama dekomposisi bahan organik berlangsung. Meskipun kosentrasi asam-asam organik yang dibebaskan tinggi, tetapi asam asam organik merupakan asam lemah dengan derajat ionisasi yang kecil (alphanya mendekati nol), sehingga ion hidrogen yang dibebaskan oleh asam-asam organik tersebut tak mampu menigkatkan pH kompos. Reaksi yang alkalis dari kompos ini memungkinkan penggunaannya untuk menaikkan pH tanah mineral masam. Nilai pH setelah hari ke-6 dalam kondisi netral yang stabil, karena bahan organik telah selesai terdekomposisi serta adanya penurunan aktivitas mikroorganisme. Menurut Darwati (2013), pH menunjukkan kondisi yang netral dan stabil berarti bahwa dekomposisi bahan organik dalam suatu pengomposan bahan organik sudah optimum. Rata-rata nilai pH pada hari ke-6 adalah 5,8 sampai 7,6 telah memenuhi standar SNI 1970-30-2004 yaitu 4-8.

Unsur Hara Mikromineral

Unsur hara mikro merupakan unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit. Apabila unsur hara mikro terlalu banyak, dapat berakibat toksik bagi tanaman tersebut. Unsur hara mikro merupakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit. Meskipun dalam jumlah sedikit, namun tumbuhan tetap memerlukan unsur hara mikro dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Bennett (1993), unsur hara Fe dan Mn berperan penting dalam sintesis klorofil, transfer energi, dan merupakan bagian dari enzim serta terlibat dalam proses fiksasi nitrogen dan respirasi. Sedangkan unsur hara Zn memiliki peran dalam metabolisme pada tanaman. Hasil konsentrasi unsur hara mikromineral disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Konsentrasi mikromineral (Fe, Mn, dan Zn) pada berbagai perlakuan pupuk organik cair setelah pengomposan 6 hari

Sampel Parameter Uji

Fe (ppm) Mn (ppm) Zn (ppm) Kontrol 0,2600±0,0100 0,0000±0,0000 0,0333±0,0058 RL+BL 0,4800±0,0265 0,0733±0,0058 0,0867±0,0058 LCS 0,3433±0,0208 0,0333±0,0208 0,1233±0,0153 RL+BL+LCS 90% 0,9800±0,0173 0,1833±0,0153 0,2067±0,0115 Konsentrasi Fe

Unsur Fe termasuk unsur hara mikro yang diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit tetapi apabila berlebihan akan berpotensi meracuni tanaman. Sudarmi (2013) melaporkan bahwa manfaat unsur hara Fe adalah berperan dalam sintesis klorofil, sebagai penyusun enzim,berperan dalam sistem redoks dan metabolisme. Apabila tanaman kekurangan unsur hara Fe makan dapat terjadi

klorosis hingga menyebabkan kematian. Hasil analisis konsentrasi unsur hara Fe pada perlakuan kontrol dan LCS lebih rendah dibandingkan pada perlakuan RL+BL dan RL+BL+LCS 90% (Tabel 3). Hal tersebut terjadi karena di dalam biaktivator laut terkandung bakteri penambat N yang berperan penting dalam proses dekomposisi dan penguraian N pada kompos. Selama proses penambatan N terdapat peran enzim nitrogenase pada reaksi tersebut. Enzim nitrogenase membutuhkan unsur hara Fe untuk dapat berfungsi dengan baik. Shilov (1992) melaporkan bahwa nitrogenase yang diisolasi dari berbagai bakteri penambat nitrogen terdiri dari dua protein yaitu protein Fe dan protein MoFe.

Hasil konsentrasi unsur hara Fe pada perlakuan RL+BL+LCS 90% lebih tinggi apabila dibandingkan dengan konsentrasi Fe pada perlakuan RL+BL (Tabel 3). Hal tersebut diduga karena pada saat proses pencucian surimi, kandungan Fe yang terdapat pada daging ikan lele (Clarias sp) larut pada air cucian tersebut. Menurut Apriyana (2014), kandungan zat besi pada daging ikan lele sebesar 0,3 mg. Berdasarkan hasil pengukuran Fe diperoleh semua perlakuan telah memenuhi

Dokumen terkait