Probiotik merupakan organisme hidup yang diberikan dalam jumlah yang cukup sehingga dapat memberikan efek yang baik bagi kesehatan inang (Tremaroli dan Bäckhed 2012). Penggunaannya yang ditambahkan melalui pakan memberikan dampak yang menguntungkan seperti meningkatkan kecernaan, meningkatkan produktivitas, meningkatkan sistem kekebalan atau imunitas dalam mencegah penyakit dan dapat memperbaiki peforma ternak (Hau et al. 2005)
Probiotik cair yang digunakan pada penelitian ini adalah probiotik dengan merek dagang Probiss. Probiss merupakan probiotik yang diproduksi oleh PT. Petrokimia Kayaku yang mengandung 1 jenis mikroba Lactobacillus sp. dan 2 jenis mikroba Bacillus sp. Pengujian pada probiotik cair yang digunakan saat penelitian dilakukan untuk mengetahui jenis mikroba, ciri atau bentuk mikroba, dan total populasi mikroba. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa mikroba yang terdapat pada probiotik tersebut memiliki bentuk basil, hasil yang didapatkan sesuai dengan Nasih (2012) yang melaporkan bahwa jenis bakteri yang terdapat pada probiotik Probiss adalah Lactobacillus plantarum, Bacillus subtilis dan Bacillus megaterium yang termasuk ke dalam bakteri positif Gram dan kategori bakteri asam laktat (BAL) homofermentatif. Arief et al. (2008) menjelaskan bahwa Lactobacillus sp. dapat menghasilkan senyawa anti mikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti E. coli dan Salmonella karena bakteri ini dapat bersaing dengan bakteri E. coli pada penempelan di mukosa usus sehingga dapat mencegah terjadinya diare dan membuat kondisi penyerapan nutrien lebih optimum. Bacillus sp. diketahui memiliki sifat fisiologis yang menarik karena pada setiap jenisnya memiliki kemampuan yang berbeda, diantaranya: (1) mampu mendegradasi senyawa organik seperti protein, pati, selulosa, hidrokarbon dan agar, (2) berperan dalam nitrifikasi dan dentrifikasi, (3) pengikat nitrogen, dan (4) mampu menghasilkan antibiotik atau bakteriosin (Claus dan Berkeley 1986). Salah satu syarat agar probiotik dapat memberikan efek positif bagi kesehatan inangnya dapat dilihat dari jumlah sel hidup dalam probiotik tersebut. Jumlah sel hidup bakteri yang terdapat dalam probiotik cair yang digunakan sekitar 107 cfu ml-1, sehingga produk probiotik tersebut sudah memenuhi syarat sebagai probiotik seperti yang dinyatakan oleh Tamime et al. (2005) dimana bakteri probiotik harus terdapat dalam makanan pada konsentrasi minimum 106 cfu g-1 atau konsumsi harian sekitar 109 cfu g-1. Surono (2004) juga menjelaskan bahwa produk probiotik diharapkan memiliki jumlah sel hidup sekitar 107 sampai 109 cfu ml-1.
Penggunaan probiotik sebagai imbuhan pakan ransum sapi potong sudah dilakukan oleh Siregar (2013), Purwanti (2013), Muchayani (2013); Kristina (2013); Septiani (2013); Almai (2013); Rafi (2013) dan Muzakki (2014). Jenis bakteri probiotik yang digunakan seperti yang dilaporkan oleh Suryahadi dan Tjakradidjada (2012) yaitu terdiri dari Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium sp., Streptococcus thermophilus dan Bacillus sp. (Tabel 1). Jenis dan jumlah mikroba yang terdapat pada probiotik tersebut diketahui lebih bervariasi bila dibandingkan dengan mikroba yang terdapat pada probiotik yang digunakan pada
penelitian ini, sehingga efektifitas yang dihasilkan antara kedua probiotik terhadap perlakuan juga berbeda. Nayak (2010) menjelaskan bahwa manfaat probiotik antara lain mampu meningkatkan efisiensi pakan, pertambahan bobot badan, memberikan perlindungan dengan cara kompetisi pada tempat penempelan usus terhadap patogen, membantu produksi asam organik (asam format, asam asetat dan asam laktat), hidrogen peroksida dan beberapa senyawa lain dalam tubuh, namun dengan syarat probiotik harus berada dalam keadaan hidup dan dikonsumsi dalam jumlah yang cukup oleh ternak. Selain itu, Verschuere et al. (2000) mengemukakan bahwa bakteri yang dapat digunakan sebagai probiotik harus memiliki beberapa sifat antara lain: bakteri tersebut tidak boleh merugikan inang, dapat diterima inang, memiliki sifat antimikrobia terhadap patogen, dapat mencapai lokasi target penempelan usus halus atau masih aktif dalam kondisi asam lambung dan konsentrasi garam (asam) empedu yang tinggi, dapat tumbuh dan melakukan metabolisme secara cepat dan tepat dalam jumlah yang banyak, tidak mengandung gen yang resisten dan mempunyai efek yang sama dalam uji in vitro ataupun in vivo.
Tabel 1 Jenis dan jumlah mikroba probiotik Jenis Hasil Pengujian Probiotik
Padat (cfu g-1) Cair (cfu ml-1)
Total plate count 3.9 x 108 1.5 x 1010
Lactobacillus acidophilus 7.2 x 109 1.1 x 1010 Bifidobacterium sp. 4.9 x 109 7.0 x 105 Streptococcus thermophilus 5.6 x 107 1.0 x 1010 Bacillus sp. 4.0 x 105 -
Sumber: Suryahadi dan Tjakradidjaja (2012)
Komposisi Ransum
Ransum yang digunakan pada penelitian ini adalah campuran jerami padi dan konsentrat dengan rasio penggunaan 60%:40%. Ransum terdiri dari 4 jenis yang dikelompokkan berdasarkan kandungan nutriennya. Dari percobaan ransum yang diterapkan diharapkan akan didapat ransum optimal dari efek penggunaan probiotik pada ransum tersebut. Tabel 2 menunjukkan presentase penggunaan bahan pakan berdasarkan kadar PK dan TDN. Perlakuan yang diberikan adalah ransum dengan A1 (PK 11% TDN 60%), A2 (PK 11% TDN 65%), A3 (PK 14% TDN 60%) dan A4 (PK 14% TDN 65%). Pengelompokan ransum tersebut mengacu kepada kebutuhan ternak sapi potong berdasarkan NRC (2000), yang menyatakan bahwa kebutuhan PK sapi potong dalam fase growing dan finishing dengan bobot 300 hingga 400 kg sebesar 7.4 hingga 14.4% dan kebutuhan TDN sebesar 50-80%.
10
Tabel 2 Persentase penggunaan jerami padi dan konsentrat (%) Bahan Pakan Perlakuan Ransum A1 A2 A3 A4 ---%BK--- Jerami padi Dedak Halus Jagung Pollard Onggok Bungkil Kedelai Daun Lamtoro Daun Singkong Bungkil Kelapa Urea Molases CPO 60 6.75 3.90 6.30 6.10 2.40 2.70 5.10 4.20 0.05 1.60 0.90 60 0.03 19.90 0.10 3.30 9.18 0.08 0.02 2.28 0.01 0.10 5.00 60 8.5 4.7 1.8 5.10 4.65 3.40 2.90 5.00 1.00 1.85 1.10 60 0.03 17.29 0.05 0.18 16.30 0.04 0.02 0.84 0.01 0.24 5.00 A1 = ransum PK 11% TDN 60%, A2 = ransum PK 11% TDN 65%, A3 = ransum PK 14% TDN 60%, A4 = ransum PK 14% TDN 65%.
Tabel 3 Hasil analisis proksimat ransum yang digunakan Kandungan Nutrien1 Perlakuan Ransum
A1 A2 A3 A4 ---% BK--- Bahan Kering Abu Protein Kasar Serat Kasar Lemak Kasar Beta-N TDN2 91.56 17.99 10.48 14.91 5.49 51.13 54.79 91.59 16.24 10.84 14.17 5.19 53.56 56.89 91.43 18.18 13.31 13.70 3.12 51.69 54.67 91.89 15.98 12.74 13.02 3.84 54.42 58.06
1Hasil analisis Laboratorium Pusat Studi Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor (2015); 2Perhitungan nilai TDN (SK<18% dan PK<20%): TDN=2.79+1.17PK+ 1.74LK-0.295SK+0.810BETN (Irawan 2002); A1 = ransum PK 11% TDN 60%, A2 = ransum PK 11% TDN 65%, A3 = ransum PK 14% TDN 60%, A4 = ransum PK 14% TDN 65%.
Tabel 3 menunjukkan bahwa PK ransum hasil analisa proksimat pada penelitian ini berkisar 10.48% hingga 13.31%, sedangkan nilai TDN yang dihasilkan berdasarkan perhitungan berkisar 54.67% hingga 58.06%. Hasil yang diperoleh berdasarkan hasil analisis laboratorium memiliki nilai PK dan TDN yang lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil formulasi ransum menggunakan data sekunder. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan kualitas ransum yang digunakan saat penelitian, pengolahan varietas tanaman, umur panen dan sumber hijauan karena perbedaan nutrien tanah pada saat penanaman. Siregar et al. (1980) juga menyatakan bahwa semakin pendek interval waktu pemanenan atau pemotongan hijauan pakan akan meningkatkan kualitas hijauan, sebaliknya apabila interval pemotongan hijauan pakan semakin panjang akan meningkatkan kadar BK. Selain itu perubahan nilai nutrisi ransum pada saat penelitian dapat terjadi karena proses penyimpanan setelah ransum dibuat. McDonald et al. (2002) menegaskan bahwa pakan yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dengan
teknik penyimpanan yang buruk, akan menyebabkan kualitas ransum tersebut menurun. Hal tersebut terjadi karena pakan mengalami beberapa perubahan, seperti halnya perubahan fisik, biologi, dan kimia. Selain itu, penggunaan data sekunder pada formulasi ransum memiliki kondisi yang berbeda dengan bahan pakan yang digunakan pada saat penelitian.
Konsentrasi NH3
Amonia merupakan sumber nitrogen utama dan penting untuk sintesis protein mikroba. Konsentrasi amonia merupakan cerminan dari tingkat fermentabilitas protein di dalam rumen, dimana produksi NH3 berasal dari protein yang didegradasi oleh enzim proteolitik. Tingkat hidrolisis protein bergantung kepada daya larutnya yang akan mempengaruhi kenaikan kadar NH3 (Arora 1989). Tabel 4 memperlihatkan data konsentrasi NH3.
Tabel 4 Pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi NH3
Ransum Probiotik Rataan ± SD
B1 B2 ---mM--- A1 8.15 ± 0.47 8.30 ± 0.52 8.22 ± 0.11c A2 8.12 ± 0.78 8.40 ± 0.36 8.26 ± 0.20c A3 11.19 ± 0.99 11.51 ± 0.86 11.35 ± 0.23b A4 11.68 ± 0.55 11.96 ± 0.51 11.82 ± 0.20a Rataan ± SD 9.78 ± 1.92 10.04 ± 1.97 9.91 ± 1.81 Nilai rataan dengan huruf yang berbeda di dalam kolom yang sama berbeda nyata pada (P<0.01), A1 = ransum PK 11% TDN 60%, A2 = ransum PK 11% TDN 65%, A3 = ransum PK 14% TDN 60%, A4 = ransum PK 14% TDN 65%, B1 = tanpa probiotik; B2 = probiotik cair (0.50% v.b-1).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa Faktor A (perlakuan ransum) (P<0.01) dan kelompok (P<0.01) mempengaruhi konsentrasi amonia secara nyata, namun Faktor B (perlakuan probiotik) dan interaksi antara kedua faktor tidak berpengaruh terhadap konsentrasi NH3. Berdasarkan Tabel 4 konsentrasi amonia yang dihasilkan pada penelitian berkisar antara 8.11 hingga 11.96 mM. Hasil yang didapatkan masih dalam kondisi optimum untuk pembentukan protein mikroba karena menurut Sutardi (1979) konsentrasi NH3 untuk pembentukan protein mikroba berkisar antara 4 hingga 12 mM, sedangkan menurut McDonald et al. (2002), berkisar 6 hingga 21 mM.
Konsentrasi amonia pada penelitian ini dipengaruhi oleh faktor A (perlakuan ransum) (P<0.01). Uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa ransum dengan kadar protein 11% (A1 dan A2) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan NH3 di dalam rumen walaupun diberikan penambahan kadar TDN hingga mencapai 65%. Hal tersebut diduga karena pada ransum A1 dan A2 kandungan nutrien yang berasal dari bahan pakan penyusun konsentrat khususnya protein kasar pada kedua ransum memiliki tingkat degradasi yang sama, sehingga protein yang dimanfaatkan untuk pembentukan amonia tidak jauh berbeda. Perlakuan ransum dengan kadar protein 14% (A3 dan A4) (P<0.01) mampu memberikan efek yang nyata terhadap pembentukan NH3. Hasil penelitian
12
menunjukkan bahwa pakan yang diberikan sesuai dengan acuan NRC (2000) yang menggambarkan adanya perbedaan konsentrasi amonia yang nyata di dalam rumen, dimana setiap peningkatan taraf protein (termasuk NPN) di dalam pengelompokan ransum akan meningkatkan ketersediaan protein untuk didegradasi oleh mikroba rumen. Ransum A3 menghasilkan konsentrasi amonia sebesar 11.35 mM, dan penambahan kadar TDN ransum hingga 65% pada taraf PK 14% (A4), konsentrasi amonia meningkat hingga mencapai 11.82 mM. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa peningkatan kadar TDN ransum pada PK 14% mempengaruhi konsentrasi amonia pada ransum berbasis jerami padi. Total digestible nutrient (TDN) merupakan total nutrien tercerna di dalam tubuh yang di dalamnya meliputi protein dan energi. Semakin tinggi kandungan TDN di dalam pakan maka ketersediaan protein yang mudah didegradasi juga meningkat. Penyediaan protein dan energi yang seimbang pada perlakuan ransum A4 diduga dapat membantu memelihara rumen untuk mendegradasi protein pakan menjadi amonia dan untuk mensintesis protein mikroba. Hubber dan Kung (1981) juga menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi degradasi protein dalam rumen adalah sumber protein, jumlah konsumsi energi, bentuk fisik dan kimia makanan, gerak laju makanan dalam rumen, pertumbuhan mikroba dan ukuran partikel makanan.
Peningkatan konsentrasi amonia pada taraf PK 14% juga diduga karena pengaruh ketersediaan nutrien pada bahan pakan penyusun ransum A4 lebih mudah didegradasi menjadi amonia bila dibandingkan dengan bahan pakan penyusun A3. Sumbangan bahan pakan penyusun ransum berbasis jerami padi terbesar pada ransum A4 diberikan oleh bungkil kedelai dan jagung. Persentase penggunaan bungkil kedelai yaitu sebesar 16.30%. Sedangkan pada ransum A3 penggunaan bungkil kedelai hanya sebesar 4.65%. Perbedaan jumlah penggunaan tersebut diduga sebagai salah satu faktor tingginya konsentrasi NH3 pada ransum A4. Wahyu (1992) menyatakan bahwa bungkil kedelai merupakan sumber protein yang baik karena memiliki keseimbangan asam amino yang cukup lengkap dan tinggi dengan kandungan protein berkisar 48%. Kadar protein kasar yang tinggi pada bungkil kedelai menyebabkan bahan pakan ini sangat mudah mengalami degradasi di dalam rumen (Prasetiyono 2008). Devant et al. (2000) juga melaporkan bahwa potensial degradasi bungkil kedelai mencapai 92 ± 2.7%. Penggunaan bahan pakan jagung pada ransum A4 (17.29%) lebih tinggi dibandingkan dengan ransum A3 (4.7%). Hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingginya konsentrasi NH3 pada ransum A4. Sutardi (1980) melaporkan bahwa jagung memiliki nilai TDN sebesar 80.8% sehingga ketersediaan protein untuk didegradasi menjadi NH3 lebih tinggi. Semakin tinggi degradasi PK dalam rumen akan meningkatkan konsentrasi NH3, demikian pula sebaliknya dengan semakin rendahnya degradabilitas PK dalam rumen, maka konsentrasi amonia akan semakin menurun. Sumber amonia selain dari protein pakan juga dapat berasal dari NPN dan garam-garam amonium untuk sintesis protein mikroba (Arora 1995). Pemberian urea pada setiap perlakuan ransum digunakan sebagai sumber NPN untuk membantu penyediaan sumber protein pakan. Leng (1991) menjelaskan bahwa urea merupakan sumber nitrogen non protein yang dapat diberikan kepada ternak ruminansia sebagai sumber protein karena dapat langsung dimanfaatkan oleh mikroba rumen.
Perlakuan penambahan probiotik pada penelitian ini belum berpengaruh terhadap konsentrasi amonia. Penelitian Saputra (2012) melaporkan bahwa pemberian probiotik Probiss dalam ransum pakan diketahui dapat meningkatkan populasi dan aktivitas mikroba rumen khususnya bakteri proteolisis. Bakteri tersebut dapat menyebabkan peningkatan perombakan protein pakan sehingga produk NH3 hasil degradasi protein semakin tinggi. Perbedaan efek pemberian probiotik cair Probiss diduga karena pengaruh perbedaan hijauan dan konsentrat yang digunakan. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, perlakuan ransum berbasis jerami padi dengan penambahan taraf probiotik sebesar 0.50% v.b-1 belum mampu memberikan pengaruh yang nyata. Hal tersebut diduga karena kualitas hijauan dan konsentrat pada ransum perlakuan masih rendah sehingga dibutuhkan taraf penambahan probiotik lebih tinggi. Selain itu faktor lain dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah sel hidup bakteri yang diberikan pada perlakuan probiotik. Pemberian taraf 0.50% v.b-1 dari probiotik cair hanya mengandung bakteri asam laktat sekitar 107 cfu.ml-1 cairan rumen, sedangkan menurut Lee dan Salminen (2009) untuk mendapatkan hasil yang optimal, standar pemberian probiotik yang ditambahkan sebesar 1011 cfu.ml-1.
Konsentrasi VFA Total
Volatile fatty Acid (VFA) merupakan produk fermentasi zat makanan yang dihasilkan oleh aktivitas mikroba rumen, produk tersebut kemudian digunakan sebagai sumber energi dan kerangka karbon dalam sintesis protein mikroba, serta digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi ternak ruminansia (Preston dan Leng 1987). Konsentrasi VFA dalam cairan rumen dapat digunakan sebagai tolak ukur fermentabilitas pakan terutama karbohidrat yang menjadi prekursor VFA total dan sangat erat kaitannya dengan aktivitas dan populasi mikroba rumen (Hartati 1998). Konsentrasi VFA ditampilkan di dalam Tabel 5.
Tabel 5 Pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi VFA total Ransum Probiotik Rataan ± SD
B1 B2 ---mM--- A1 101.09 ± 17.67 109.69 ± 32.20 105.39 ± 6.08c A2 106.34 ± 11.58 100.48 ± 23.44 103.41 ± 4.14c A3 112.97 ± 14.93 119.18 ± 22.33 116.07 ± 4.39b A4 138.11 ± 39.26 140.65 ± 33.61 139.38 ± 1.80a Rataan ± SD 114.63 ± 16.39 117.50 ± 17.22 116.06 ± 27.31 Nilai rataan dengan huruf yang berbeda di dalam kolom yang sama berbeda nyata pada (P<0.01), A1 = ransum PK 11% TDN 60%, A2 = ransum PK 11% TDN 65%, A3 = ransum PK 14% TDN 60%, A4 = ransum PK 14% TDN 65%, B1 = tanpa probiotik; B2 = probiotik cair (0.50% v.b-1).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa Faktor A (perlakuan ransum) (P<0.01) dan kelompok (P<0.01) yaitu cairan rumen yang digunakan mempengaruhi konsentrasi VFA total, namun Faktor B (perlakuan probiotik) dan interaksinya dengan Faktor A tidak mempengaruhi konsentrasi VFA total. Tabel 5 menunjukkan bahwa konsentrasi VFA total yang dihasilkan pada penelitian
14
berkisar antara 100.48 sampai 140.65 mM. Hasil yang didapat menggambarkan bahwa konsentrasi VFA perlakuan masih dalam kondisi optimum untuk mikroba rumen karena menurut McDonald et al. (2002), normalnya konsentrasi VFA berkisar 70 sampai 150 mM.
Konsentrasi VFA total pada penelitian ini dipengaruhi oleh faktor A (perlakuan ransum) (P<0.01). Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa perlakuan ransum dengan taraf PK 11% (A1 dan A2) tidak menghasilkan pengaruh yang nyata terhadap konsentrasi VFA di dalam cairan rumen walaupun kadar TDN ransum ditingkatkan mencapai 65%. Namun pada taraf PK 14% (A3 dan A4) (P<0.01) peningkatan kadar TDN ransum sejalan dengan peningkatan nilai konsentrasi VFA total yang dihasilkan. Konsentrasi VFA total tertinggi terdapat pada perlakuan ransum dengan taraf PK 14% dan TDN 65% (A4) (P<0.01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa variasi konsentrasi VFA total dari keempat perlakuan ransum dipengaruhi oleh perbedaan kandungan energi dan protein pakan. Ransum dengan pemberian taraf TDN paling tinggi, paling optimal dalam meningkatkan konsentrasi VFA tertinggi, dimana setiap peningkatan taraf TDN di dalam ransum akan meningkatkan ketersediaan karbohidrat mudah tercerna untuk difermentasi oleh mikroba rumen. Kurniawati (2007) juga mendukung bahwa penambahan karbohidrat mudah terdegradasi dan protein secara bersamaan mampu meningkatkan degradasi bahan organik pakan dan meningkatkan pertumbuhan mikroba rumen yang berimplikasi terhadap peningkatan produktivitas ternak. Ransum A4 menggunakan bahan pakan jagung dalam jumlah yang cukup besar, jagung diketahui mengandung pati sebagai sumber karbohidrat yang mudah tercerna. Chalupa dan Sniffen (2000) menyatakan pati dan pektin difermentasi lebih cepat dibandingkan dengan serat kasar. Pati dan gula sederhana kemudian difermentasi sehingga menghasilkan propionat. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab tingginya produksi VFA pada pakan tinggi karbohidrat mudah tercerna. Bahan lain seperti dedak, pollard, onggok, daun lamtoro, daun singkong dan bungkil kelapa digunakan dalam jumlah yang lebih sedikit daripada jagung dan tingkat fermentasi bahan tersebut lebih rendah, demikian juga dengan kadar energinya. France dan Dijkstra (2005) juga melaporkan bahwa faktor yang mempengaruhi proses fermentasi dan konsentrasi VFA antara lain tipe makanan (pakan basal, karbohidrat pakan), pengolahan pakan (bentuk fisik pakan), penggunaan bahan aditif kimia, tingkat konsumsi dan frekuensi pemberian makan.
Perlakuan penambahan probiotik pada ransum berbasis jerami padi dan konsentrat pada penelitian ini belum berpengaruh terhadap konsentrasi VFA total. Lee dan Salminen (2009) melaporkan bahwa pemberian probiotik sebagai imbuhan pakan dapat memberikan beberapa keuntungan akibat mekanisme kerja bakteri asam laktat pada probiotik. Bakteri asam laktat dapat menghasilkan asam laktat di dalam rumen sehingga pH menjadi menurun dan menyebabkan bakteri patogen tidak berkembang bahkan mati. Menurut McDonald et al. (2002), asam laktat merupakan prekursor dari pembentukan asam propionat yang merupakan salah satu produk VFA. Perbedaan efek perlakuan probiotik diduga karena pemberian probiotik cair Probiss dengan taraf 0.50% v.b-1 belum mampu meningkatkan fermentasi di dalam rumen karena pengaruh kualitas hijauan dan konsentrat yang digunakan, sehingga diperlukan taraf penambahan probiotik yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang le bih nyata.
Populasi Bakteri Total
Bakteri merupakan biomassa terbesar di dalam rumen, keberadaannya sekitar 50% dari total bakteri hidup bebas dalam cairan rumen dan sekitar 30-40% yang menempel pada partikel pakan, dengan fungsi dan produk yang bermacam-macam. Tabel 6 menunjukkan data rataan populasi bakteri total. Theodorou dan France (2005) menyatakan bahwa populasi bakteri dalam cairan rumen normal berkisar 109 sampai 1010 ml-1.
Tabel 6 Pengaruh perlakuan terhadap populasi bakteri total Ransum Probiotik Rataan ± SD
B1 B2
---log sel bakteri ml-1 cairan rumen --- A1 7.83 ± 0.06 7.84 ± 0.09 7.83 ± 0.01c A2 7.81 ± 0.03 7.82 ± 0.02 7.82 ± 0.01c A3 7.83 ± 0.03 7.91 ± 0.09 7.87 ± 0.05b A4 7.87 ± 0.07 7.93 ± 0.07 7.90 ± 0.04a Rataan ± SD 7.84 ± 0.03b 7.88 ± 0.05a 7.86 ± 0.07 Nilai rataan dengan huruf yang berbeda di dalam kolom yang sama berbeda nyata pada (P<0.05), A1 = ransum PK 11% TDN 60%, A2 = ransum PK 11% TDN 65%, A3 = ransum PK 14% TDN 60%, A4 = ransum PK 14% TDN 65%, B1 = tanpa probiotik; B2 = probiotik cair (0.50% v.b-1).
Berdasarkan hasil sidik ragam diketahui bahwa populasi bakteri total dipengaruhi oleh Faktor A (perlakuan ransum) (P<0.05), Faktor B (perlakuan pakan) (P<0.05) dan kelompok (P<0.01) yaitu cairan rumen yang digunakan. Uji ortogonal kontras memperlihatkan bahwa populasi bakteri total tertinggi terdapat pada perlakuan ransum A4 dengan taraf PK 14% dan TDN 65% (P<0.05), diikuti dengan perlakuan A3, A1 dan A2. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pakan berbasis jerami padi lebih optimal diberikan konsentrat dengan penyediaan taraf TDN dan PK paling tinggi (A4) dibandingkan dengan kelompok ransum lainnya dalam meningkatkan populasi bakteri total. Peningkatan populasi bakteri total pada penelitian ini diduga karena pengaruh ketersediaan substrat pakan yang terkandung di dalam perlakuan ransum. Perlakuan ransum dengan taraf PK 14% dan TDN 65% (A4) diketahui menyediakan substrat yang paling baik untuk pertumbuhan bakteri di dalam rumen dari segi imbangan protein dan energi sehingga bakteri rumen dapat tumbuh dan berkembang lebih optimal. Hasil tersebut sejalan dengan pernyataan Leng (1991) efisiensi pertumbuhan mikroba dapat dipengaruhi oleh ketersediaan dan keseimbangan jumlah protein dan energi (karbohidrat) yang mengalami proses fermentasi di dalam rumen. Tingginya populasi bakteri pada perlakuan ransum A4 sejalan dengan tingginya rataan konsentrasi NH3 (Tabel 4), dan konsentrasi VFA total (Tabel 5) pada penelitian ini. Apabila kandungan nutrien karbohidrat dalam pakan tinggi, maka populasi mikroba akan menjadi lebih efesien dalam hal produksi ATP dan sintesis protein mikroba (Russell dan Stobel 1993). Purwantari (2008) juga menjelaskan peningkatan biomassa mikroba dapat terjadi ketika konsentrasi NH3 dan VFA meningkat. Hal tersebut dikarenakan kecukupan NH3 dan VFA dalam sistem in
16
vitro dapat digunakan kembali oleh mikroba dalam cairan rumen untuk sintesis protein tubuhnya. Wanapat dan Pimpa (1999) menambahkan bahwa meningkatnya konsentrasi N-NH3 dalam cairan rumen berpengaruh secara linier atau kuadratik terhadap peningkatan populasi bakteri rumen.
Perlakuan probiotik pada ransum berbasis jerami padi dan konsentrat pada penelitian ini berpengaruh terhadap populasi bakteri total (P<0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa penambahan probiotik cair Probiss dengan taraf 0.50% v.b-1 diduga mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan jumlah BAL sehingga lebih optimal dalam menstimulasi bakteri total untuk meningkatkan efektivitas dalam mendegradasi dan mencerna zat makanan dari pakan serta dapat meningkatkan jumlah konsentrasi NH3 dan VFA total yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba yang ada di dalam cairan rumen ternak. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah akibat bakteri asam laktat (BAL) yang terdapat dalam probiotik Probiss bekerja dengan baik dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Bakteri yang digunakan pada penelitian ini salah satunya adalah Lactobacillus plantarum yang mampu membentuk asam laktat yang menyebabkan pH menjadi sedikit menurun sehingga bakteri yang bersifat menguntungkan dapat beraktivitas secara optimal dalam mendegradasi bahan pakan. L. plantarum juga merupakan penghasil hidrogen peroksida tertinggi dibandingkan dengan BAL lainnya (James et al. 1991). Selain itu bakteri ini mampu memproduksi bakteriosin yang memunyai efek bakterisidal bagi sel sensitif dan dapat menyebabkan kematian sel dengan cepat walaupun dalam konsentrasi rendah. Bakteriosin yang berasal dari Lactobacillus plantarum dapat menghambat Staphylococcus aureus dan bakteri negatif gram yang merugikan (Braneen dan Davidson 1993). Bacillus subtilis merupakan salah satu jenis bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada suhu tinggi diatas suhu tumbuh rata-rata bakteri mesofil yaitu 45 oC - 70 oC. Keuntungan dari bakteri ini adalah mampu memiliki protein yang dapat bekerja pada kondisi lingkungan dengan suhu tinggi dimana protein atau enzim lain dapat mengalami denaturasi (Kosim 2010). Bacillus megaterium merupakan bakteri probiotik yang memiliki daya hambat tertinggi, mampu merombak karbohidrat dan bahan organik dengan mudah karena memiliki enzim ekstraseluler yang lengkap (protease, amilase dan lipase) (Triyanto 2005).
Populasi Protozoa Total
Protozoa rumen merupakan mikroorganisme yang dapat membantu pencernaan karbohidrat seperti pati dan sebagian serat, keberadaannya lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah bakteri di dalam rumen yaitu sekitar 1 juta.ml-1 (McDonald et al. 2002). Data populasi protozoa total ditampilkan di dalam Tabel 7.
Tabel 7 Pengaruh perlakuan terhadap populasi protozoa total Ransum Probiotik Rataan ± SD
B1 B2 ---log sel ml-1--- A1 5.47 ± 0.09 4.86 ± 0.28 5.16 ± 0.43 A2 4.93 ± 0.25 4.88 ± 0.35 4.91 ± 0.04 A3 4.63 ± 0.57 4.85 ± 0.43 4.74 ± 0.15 A4 4.89 ± 0.26 4.71 ± 0.24 4.80 ± 0.13 Rataan ± SD 4.98 ± 0.35 4.82 ± 0.08 4.90 ± 0.35