• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Dalam dokumen JURNAL KESEHATAN NASIONAL (Halaman 40-44)

KABUPATEN BONE

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 1.

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden berdasarkan Usia, Jenis Kelamin

dan Pendidikan

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa responden dengan lanjut usia 60-74 tahun ada 54 responden (83,1%) Sedangkan untuk usia 75-90 tahun sebanyak 11 responden (16,9%).

Responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 15 responden (23,1%) sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 50 responden (76,9%). Responden yang tidak pernah sekolah sebanyak 38 reponden (58,5%). Responden berlatar belakang pendidikan SD sebanyak 12 responden (18,5%), pendidikan SMP 8 (12,3%), sedangkan pendidikan SMA sebanyak 7 responden dengan presentase (10,8%). Responden yang memiliki tekanan darah ≥140/90 sebanyak 65 responden dengan presentase 100%.

Pengetahuan Lansia terhadap Diet Hipertensi

Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Lansia terhadap Diet Hipertensi Variabel Kategori Jumlah % bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik 20 orang (30,7%), cukup 42 orang (64,6%) sedangkan yang memiliki pengetahuan yang kurang 3 orang (4,7%).

Sikap Lansia terhadap Diet Hipertensi Tabel 3 Sikap Lansia terhadap Diet Hipertensi

Variabel Kategori Jumlah % bahwa responden yang memiliki sikap baik 16 orang (24,6%), cukup 46 orang (70,8%) sedangkan yang memiliki sikap kurang 3 orang (4,6%).

Dalam penelitian ini mayoritas lansia berumur 60-74 tahun, dengan mayoritas tingkat pendidikan tidak pernah sekolah.

Salah satu permasalahan saat ini adalah kurangnya pengetahuan yang dimiliki tentang diet hipertensi karena tingkat pengetahuan yang rendah sehingga lansia cenderung memiliki sikap diet hipetensi rendah pula.

Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebanyak 3 lansia (4,7%) mempunyai pengetahuan dalam kategori kurang, dan 42 lansia (64,6%) mempunyai pengetahaun cukup dan 20 orang (30,7%) yang memiliki pengetahuan baik.

Tingkat pengetahuan kurang dan cukup dalam hal ini yaitu kurang dalam memahami pengaplikasian tentang diet hipertensi di kehidupan sehari-hari. Menurut asumsi peneliti pengetahuan responden yang cukup dan kurang tentang diet hipertensi diakibatkan karena kurangnya informasi yang diterima oleh lansia. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amira Iceu DA, yang dikutif dalam jurnal Hendrawati (2018) mengatakan bahwa pengetahuan responden yang baik kemungkinan dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya pengalaman, sarana

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

informasi. Pengetahuan tidak hanya di dapat secara formal melainkan melalui pengalaman. Selain itu pengetahuan di pengaruhi oleh sarana informasi yang tersedia di rumah seperti televise dan radio.

Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga, sehingga penggunaan panca indera terhadap suatu informasi sangat penting.

Pendapat lain adalah informasi merupakan salah satu sumber pengetahuan yang dapat di dapatkan dari berbagai sumber, seperti dari tenaga kesehatan, media cetak dan elektronik, maupun informasi dari tetangga dan saudara. Pernyataan ini didukung dengan Susanti yang menyatakan berbagai macam informasi yang di dapat oleh masyarakat terutama masalah penyakit hipertensi akan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat, salah satunya adalah pemberian pendidikan kesehatan. Informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan ( Hapsari, 2016).

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan merupakan domain penting untuk menentukan tindakan seseorang, karena dari pengalaman dan penelitian membuktikan bahwa perilaku didasari oleh pengetahuan (Mapagerang, Alimin, & Anita, 2018).

Pengalaman yang dimiliki responden selama menderita hipertensi juga dapat mempengaruhi perilaku responden dalam memanajemen hipertensi, semakin lama mereka menderita hipertensi, mereka akan semakin sering mendapatkan informasi yang berulang yang membuat responden menjadi terbiasa untuk melakukan manajemen hipertensi. Seperti yang dijelaskan oleh Eriawan, et al, (2013) yang menyatakan bahwa pengalaman yang semakin banyak maka akan memberikan lebih banyak keahlian dan keterampilan. Pengetahuan dan keterampilan yang terus diasah dengan variasi kasus dapat meningkatkan perilaku (Dea Prastika Hapsari, 2016)

Menurut Notoatmodjo bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi oleh

pengalaman. Pengalaman responden dalam mengkonsumsi makanan masakan seperti santan, konsumsi garam dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Penelitian Agriana menyebutkan bahwa pengetahuan dapat mempengaruhi kepatuhan lansia hipetensi dalam pemenuhan diet hipertensi.

Meskipun dengan pengetahuan yang baik, namun perilaku gaya hidup yang kurang baik menjadikan diet rendah garam menjadi sulit dilakukan.(Putri, Rosyid, & Muhlisin, 2014)

Hasil penelitian yang didapat sejalan dengan pendapat peneliti sebelumnya, dimana pengetahuan responden sebagian besar cukup walaupun tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Tetapi didapatkan dari sumber lain seperti media elektronik atau karena pengalaman yang dimiliki responden selama menderita hipertensi, terlebih wilayah tempat tinggal responden telah tersedia poswindu setiap bulan sehingga responden lebih terpapar informasi mengenai cara untuk mengontrol hipertensinya, hal ini sejalan dengan penelitian Mapagerang.

Menurut penelitian (Mapagerang et al., 2018), yang berjudul “ pengaruh pendidikan tentang hipertensi terhadap perubahan pengetahaun dan sikap di Desa Wironanggan Kecamatan Gatak Sukoharjo“ menyatakan bahwa terdapat pengaruh pendidikan tentang hipertensi terhadap perubahan pengetahuan dan sikap di Desa Wironanggan Kecamatan Gatak Sukoharjo. Dalam penelitian tersebut ada perubahan sikap setelah diberikan pendidikan tentang hipertensi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pemberian informasi dari petugas kesehatan yang bisa meningkatkan pengetahuan lansia itu sendiri sehingga lansia tersebut bisa merubah sikapnya dalam menjalankan diet hipertensi.

Responden yang memiliki pengetahuan kurang merupakan salah satu responden yang tergolong lanjut usia tua hal ini di akibatkan oleh kemampuan mengingat yang menurun (pikun), hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dea Prastika Hapsari bahwa berkurangnya pengetahuan pada responden yang mulai berusia lanjut dapat disebabkan karena kemampuan untuk mengingat pengetahuan tentang hipertensi yang sebenarnya sudah

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

pernah diperoleh sebelumnya. Mayoritas responden yang sudah mulai berusia lanjut mengakibatkan daya ingat yang semakin menurun, mengakibatkan besarnya niai kesalahan yang ada pada hasil jawaban kuesioner (Dea Prastika Hapsari, 2016).

Pada penelitian ini, tingkat pengetahuan lansia cenderung mempengaruhi sikap lansia terhadap diet hipertensi. dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa 46 (70,8%) lansia yang memiliki pengetahuan cukup, dan 3 (4,6%) lansia yang memiliki pengetahuan kurang. Hal ini peneliti berasumsi bahwa semakin baik pengetahuan responden akan semakin baik pula sikap terhadap diet hipertensi. hal ini dapat dilihat pada salahsatu penelitian bahwa lansia yang mengalami kekambuhan hipertensi, adalah lansia yang kurang memahami tentang diet hipertensi pengetahuan akan berdampak semakin sering kekambuhan hipertensi, dengan demikian pengetahuan dapat mempengaruhi responden dalam pencegahan kekambuhan hipertensi (Cahyono, 2017).

Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Lansia terhadap Diet Hipertensi

Tabel 4 Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Lansia terhadap Diet Hipertensi Pengeta

Sikap terhadap Diet Hipertensi

Baik Cukup Kurang Total P Berdasarakan tabel 4 diatas dapat dilihat hubungan pengetahuan dengan sikap lansia terhadap diet hipertensi pada penderita hipertendi di Wilayah Puskesmas Biru Kabupaten Bone (n=65) didapatkan bahwa yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 40 orang (61,5%), 35 orang (53,8%) yang mempunyai sikap pengetahuan cukup, 4 orang (6,15%) yang mempunyai sikap pengetahuan

kurang. Responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (26,2%), 1 orang (5,53%) yang memiliki sikap baik, 3 orang (4,61%) yang memiliki sikap cukup dan 13 orang (20,0%) yang memiliki sikap kurang. Jumlah responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 8 orang (12,3%)dan jumlah reseponden yang memiliki sikap baik 4 orang (6,15%), yang memiliki sikap cukup 2 orang (3,07%) dan yang memiliki sikap kurang 2 orang (3,07%).

Setelah dilakukan uji Chi Square diperoleh P value sebesar 0,001 < α 0,05 dengan demikian dalam penelitian ini Ho diterima dan dapat dinyatakan ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap diet hipertensi di wilayah Puskesmas Biru Kabupaten Bone.

Hasil analisis bivariat Chi-Square menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan sikap diet hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Biru Kabupaten Bone. Berdasarkan hasil uji didapatkan bahwa lansia yang memiliki pengetahuan cukup juga memiliki peluang untuk memiliki sikap yang cukup terhadap diet hipertensi dibandingkan dengan lansia yang memiliki pengetahuan yang kurang.

Menurut, Notoatmodjo 2003, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya adalah pendidikan. Notoatmodjo mendefinisikan bahwa pendidikan sebagai suatu usaha dasar untuk menjadi kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Salah satu penelitian yang melihat hubungan pengetahuan dengan kepatuhan diet hipertensi pada lansia yang mengalami hipertensi dipanti wredha dharma bakti kasih Surakarta, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan kepatuhan diet hipertensi pada lansia yang mengalami hipertensi.

Penelitian ini sejalan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo Akbar D & Zen Nurabiti D, 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap keluarga tentang perawatan arthritis rheumatoid pada lansia dengan p-value= 0,000. Penelitian lain

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

yang dilakukan oleh Rajaratenam Ganesh S &

Martini Dinda R 2014, tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan osteoporosis pada wanita usila di Kelurahan Jati. Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan pencegahan osteoporosis pada wanita usila.

Dalam dokumen JURNAL KESEHATAN NASIONAL (Halaman 40-44)

Dokumen terkait