• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KESEHATAN NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL KESEHATAN NASIONAL"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

ISSN 2599-350X

JURNAL KESEHATAN NASIONAL

Diterbitkan oleh Akper Yaspen Jakarta

Pelindung

Yayasan Pendidikan Nasional Jakarta

Ketua Dewan Redaksi

Sulastri, S. Kp., M. Kep.

Pimpinan Redaksi

Harjati, SST., M. Kes.

Sekretaris

Dra. Yuntinawati

Bendahara

Debby Ratih, S. E.

Anggota Redaksi

Resmiati, S. Kp., M. Kes.

Zompi, S. Kep., MM.

Tety Mulyati Arofi, S. Kep., Ns., M. Kep.

Emmelia Astika Fitri Damayanti, S.Kep., Ns., M.Kep.

Promosi dan Distribusi

Febriana, S. Kep., Ns., M. Kep.

Jadual Penerbitan

Terbit dua kali dalam setahun

Penyerahan Naskah

Naskah merupakan hasil penelitian, pengabdian masyarakat dan kajian pustaka ilmu kesehatan yang belum pernah dipublikasikan/diterbitkan dalam lima tahuan terakhir. Naskah

sudah ditulis dalam bentuk format microsoft office word sesuai dengan template. Naskah dapat dikirim melalui email atau diserahkan langsung ke redaksi dalam bentuk rekaman

Compact Disk (CD) dan print-out 2 eksemplar.

Penerbitan Naskah

Naskah yang layak terbit ditentukan oleh dewan redaksi setelah mendapat rekomendasi Mitra Bestari atau reviewer. Perbaikan naskah menjadi tanggung jawab penulis dan naskah yang

tidak layak akan dikembalikan kepada penulis

Alamat Redaksi

Akper Yaspen Jakarta

Jl. Batas II No. 54 Kel. Baru Kec. Pasar Rebo Jakarta Timur Telp. (021) 87703785 Fax. (021) 8717353

Website: akperyaspen.ac.id email: [email protected]

(3)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

ISSN 2599-350X

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penerbitan Jurnal Kesehatan Nasional volume kedua ini.

Sesuai dengan tugas pokok Tri Dharma Perguruan Tinggi, tujuan penerbitan Jurnal Kesehatan Nasional ini dalam rangka memfasilitasi dosen untuk melaksanakan publikasi ilmiah hasil penulisan artikel ilmiah dari studi literatur, penelitian maupun pengadian masyarakat serta dalam rangka menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas.

Penerbitan Jurnal Kesehatan Nasional ini merupakan hasil kerjasama dari berbagai pihak yang telah membantu, baik dalam proses persiapan hingga terlaksananya penerbitan volume kedua ini. Peran dosen yang telah mengirimkan artikel ilmiah juga sangat penting untuk mendapatkan artikel-artikel yang berkualitas. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih, semoga amal baik kita diterima sebagai catatan kebaikan untuk hari akherat kita.

Akhir kata kami berharap Jurnal Kesehatan Nasional ini dapat memberikan kontribusi dan bermanfaat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat serta sebagai salah satu media dalam mencerdaskan generasi bangsa.

Jakarta, 20 Desember 2018 Penanggung Jawab Tim Redaksi

Sulastri, SKp., M.Kep.

(4)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

ISSN 2599-350X Daftar Isi

Jurnal Kesehatan Indonesia ... i Kata Pengantar ... ii Daftar Isi ... iii 1. Pengalaman Kader Kesehatan Tentang Penanganan Serangan Jantung Di Masyarakat

RW 09 Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur

118-123 Harjati, Zompi, Milda Septiyani, Nathasya Kirana Maharani

2. Efektivitas Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Cuci Tangan Yang Benar Pada Ibu Yang Memiliki Balita di Kelurahan Kalisari Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur

124-129 Resmiati, Tety Mulyati Arofi, Alfia Safitri, Indriyani

3. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Terhadap Pengolahan Sampah Di Desa Sukaluyu Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang

130-136 Tety Mulyati Arofi, Harjati, Intana Ivanka, Lidiana Sulfi, Yulia Apriani

4. Analisis Masalah Keperawatan Nyeri dan Penanganannya Pada Pasien Infark Miokard Di RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur

137-148 Sulastri, Neneng Rohwiati, Afi Rahma Desi, Khoirunnisa Rismawati

5 . Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Lansia Terhadap Diet Hipertensi Di Wilayah Puskesmas Biru Kabupaten Bone

149-154 Mardiana

6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba Pada Remaja Di Lapas Anak Pria Tangerang

155-163 Febriana, Syarifah N, Suci Surya Safpira, Rossa Fitriana, Fadilla Putri

Prasetyawati

Tata Cara penulisan Artikel Jurnal 164

(5)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

(6)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

PENGALAMAN KADER KESEHATAN TENTANG PENANGANAN SERANGAN JANTUNG DI MASYARAKAT RW 09 KALISARI ,

PASAR REBO, JAKARTA TIMUR

Harjati1, Zompi 2, Milda Septiyani 3, Nathasya Kirana Maharani 4

1,2,3,4,

Akademi Keperawatan Yaspen Jakarta

1email: harjati [email protected]

2email: zompial123 @gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk Memperoleh informasi secara mendalam tentang pengalamanan kader kesehatan tentang penanganan serangan jantung di masyarakat. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kader kesehatan mengetahui penyebab serangan jantung yang dapat terjadi pada seseorang, mengetahui tanda dan gejala serangan jantung secara umum dan ada usaha untuk menolong pasien yang mengalami serangan jantung dengan pengetahuan dan kemampuan yang di miliki kader kesehatan. Kader kesehatan untuk menambah pengetahuan tentang penanganan serangan jantung di masyarakat . Selain itu perlumenhikuti pelatihan bantuan hidp dasarsebagi langkah awal dalam melakukan pertolongan di masyarakat jika ada warga yang mengalami serangan jantung di rumah.

Kata Kunci: pengalamankader kesehatan , penanganan serangan jantung, di masyarakat

Abstract

This study aims to obtain in-depth information about the experience of health cadres about managing heart attacks in the community. This study uses a qualitative design. The results showed that health cadres know the causes of heart attacks that can occur to someone, know the signs and symptoms of heart attacks in general and there are efforts to help patients who have heart attacks with the knowledge and abilities that health cadres have. Health cadres to increase knowledge about handling heart attacks in the community. In addition, it is necessary to follow basic life support training as an initial step in providing assistance to the community if there are residents who have heart attacks at home.

Keywords: experience of health cadres, handling heart attacks, in the community

(7)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

1. PENDAHULUAN

Serangan jantung merupakan peristiwa terhambatnya aliran darah arteri koroner yang menyebabkan otot jantung kekurangan oksigen sampai terjadi infark (Price & Wilson, 2013; Setyohadi, Arsana, Suryanto, et al., 2012). Menurut World Health Organization (2008), sindrom koroner akut merupakan penyebab kematian utama di dunia. Terhitung sebanyak 7.200.000 (12,2%) kematian terjadi akibat sindrom koroner akut. Di Indonesia pada tahun 2008 penyakit infark miokard akut merupakan penyebab kematian pertama dengan angka mortalitas (14%). Data WHO 2015 menunjukkan 70% kematian di dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular, 45%

nya disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah, yaitu 17.7 juta dari 39,5 juta kematian.

Menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013 penyakit jantung berada pada posisi ke tujuh tertinggi penyakit tidak menular di Indonesia. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter Indonesia sebesar 0,5% dan tanpa diagnosis dokter 1,5%. Hal tersebut cukup besar sebagai penyakit dengan angka kematian nomor satu di dunia.

Data-data tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Trotter, Gallagher, dan Donoghue (2011) yang mengungkapkan bahwa penyumbang terbesar angka kematian dan kesakitan akibat penyakit jantung adalah penyakit jantung koroner.

Bahaya serangan jantung yang mengancam nyawa sangat dirasakan oleh pasien yang baru pertama kali mengalaminya.

Serangan jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan paling mendesak yang membutuhkan diagnosis dan penanganan tepat dan cepat untuk menyelamatkan jantung dari kerusakan yang lebih parah (Douglas, 2005;

Grech & Ramsdale, 2003). Prioritas utama dalam penatalaksanaan medis dan keperawatan adalah aspek fisik dengan menyelamatkan kehidupan pasien (Morton,

Fontaine, Hudak, & Gallo, 2012;Anderson, Adams, Antman, et al., 2007).

Penyebab terbesar kematian akibat serangan jantung mendadak yaitu tidak adanya pertolongan pertama, oleh sebab itu pengetahuan masyarakat terhadap penanganan pertolongan pertama penyakit jantung IMA secara dini menjadi sangat penting. Tidak hanya para tenaga medis saja yang dapat melakukan penanganan pertolongan pertama pada penyakit jantung IMA, namun masyarakat atau orang awam pun bisa dan harus melakukan penanganan pertolongan pertama pada penyakit jantung IMA karena penting dilakukan untuk menunggu datangnya paramedis dan dibawa ke RS (Mukhlisun, 2013) Berdasarkan dr. Nikolas Wanahita medical director Gramercy Heart and Vascular Centre Mount Elisabeth Novena Singapura, salah satu cara masyarakat untuk menangani serangan jantung mendadak yaitu dengan mengikuti training cardiopulmonary resuscitation (CPR). Training CPR dilakukan selama 2 sampai 3 jam, dengan secara manual memompa jantung agar tidak mengalami kematian otak atau brain dead. Jika tidak dilakukan tindakan CPR 2-3 menit saja otak akan mati karena tidak ada asupan oksigen yang masuk dari darah yang dipompa melalui jantung (Sukmasari, 2017).

Kondisi kegawatdaruratan fisik yang telah teratasi harus dilanjutkan dengan pelayanan keperawatan yang bersifat holistik karena pasien dengan serangan jantung pertama kali mengalami kondisi kritis yang penuh stres dan gangguan emosional sehingga membutuhkan dukungan keluarga dan profesional kesehatan (Laberge, 2012; Jeff, Christopher, & James, 2010; Thomas &

Alexander, 2010).

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh pemahaman dan penafsiran yang mendalam mengenai makna, kenyataan dan

(8)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

fakta yang relevan. Tempat dan waktu penelitian sangat berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh dalam penelitian. Pemilihan tempat penelitian harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sehingga tempat yang benar-benar menggambarkan kondisi informan sesungguhnya. Lokasi penelitian di RW 09 Kelurahan baru, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling. Metode purposif sampling adalah tehnik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.

Pertimbangan tertentu ini misalnya orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek / situasi sosial yang akan diteliti ( Sugiono,2011).

Upaya untuk mendapatkan data penelitian yang objektif dilapangan, maka diperlukan pengumpulan data yaitu pengumpulan data primer dilakukan dengan cara membuat jadwal, melakukan observasi dilokasi penelitian, pengambilan informan, kemudian melakukan wawancara mendalam untuk memperoleh jawaban-jawaban yang kompleks dari Partisipan.

Proses analisa data pada penelitian ini adalah dengan mengumpulkan seluruh data dari hasil wawancara, catatan observasi, dan catatan lapangan terhadap informan dan kemudian dibandingkan dengan teori, kepustakaan, maupun asumsi yang ada.Analisis data yang digunakan adalah analisa kualitatif dan dalam penyajiannya bertitik tolak dari data yang terkumpul kemudian disimpulkan. Data kualitatif diolah sesuai variabel yang tercakup dalam penelitian dengan metode induksi, yaitu metode penarikan kesimpulan dari hal-hal yang khusus ke hal-hal yang umum. Selanjutnya pelaporan disajikan gambaran secara deskriptif.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis data dalam penelitian ini di susun berdasarkan hasil pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan catatan observasi serta mengacu pada tujuan khsusus penelitian yang telah ditetapkan yaitu :

Pengalaman kader kesehatan terhadap penanganan serangan jantung di masyarakat mencakup 3 tema yaitu pertama penyebab, kedua tanda gejala penyakit jantung dan ketiga penangan saat terjadi serangan jantung

Penyebab serangan jantung

Tema yang ditemukan pada tahap ini adalah situasi yang menyebabkan serangan jantung. Serangan jantung terjadi ketika sedang beraktifitas,

Menurut partisipan bahwa penyebab seseorang yang mengalami seragan jantung adalah sebagai berikut :

“...biasanya mah orang yang kebanyakan kerja, kecapean (P 1)

Berbeda hal nya dengan partisipan pertama, partisipan dua dan empat mengungkapkan karena mereka sedang banyak pikiran atau stres yang disebabkan masalah pekerjaan maupun masalah dalam keluarga.

“…mungkin karena banyak pikiran, trus . ” (Partisipan 2).

“… Ada maslah dalam keluarga tapi di pendem aja dan engga di ceritain ke orang lain. ”(P 4)

Sedangkan menurut partisipan tiga dan lima penyebab serangan jantung yaitu karena perilaku yang tidak sehat yaitu mempunyai kebiasaan merokok, minum kopi dan selalu makan makanan enak yang tidak sehat. Seperti yang diungkapkan oleh partisipan berikut:

“... yang saya tahu biasanya orang kena serangan jantung itu orang yang punya

(9)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

kebiasaan merokok dan sering minum kopi. ” (3)

“… biasa sering makan makanan enak seperti makanan yang di banyak ngabdung kolesterol, kayak rendang daging, gulai, opor” (P 5)

Dickens, Cherrington, dan McGowan (2012) mengungkap bahwa masalah stres pada pasien miokard infark biasanya berkaitan dengan tekanan sosial dan perilaku kesehatan negatif seperti merokok. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung atau memperburuk prognosisnya.

Asap rokok banyak mengandung nikotin yang memacu pengeluaran zat adrenalin sehingga meningkatkan tekanan darah. Asap rokok juga mengandung karbon monoksida yang lebih kuat dalam mengikat oksigen dari pada hemoglobin sehingga menurunkan kapasitas penyerapan oksigen yang akan didistrubusikan keseluruh jaringan tubung termasuk jantung.

Oleh karena itu perokok aktif yang mengkonsumsi lebih dari 20 batang perhari memiliki risiko enam kali lipat serangan jantung atau infark miokard dibandingkan perokok pasif (Rodriguez, 2009; Avanzas, Espliguero, Sales, et al., 2004).

Menurut World Heart Federation tembakau yang dikandung dalam rokok dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen yang dialirkan oleh darah dan menyebabkan darah cenderung mudah menggumpal. Gumpalan darah yang terbentuk di arteri ini dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan juga stroke serta kematian mendadak. Literatur lain dari Heart Foundation menyatakan bahwa tembakau memiliki efek patofisiologi terhadap jantung, sistem pembekuan darah, dan metabolisme lipoprotein. Merokok meningkatkan pembentukan plak koroner dan mendorong terjadinya thrombosis koroner.

Merokok juga dapat meningkatkan kebutuhan oksigen oleh otot jantung dan menurunkan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen.

Menurut Supriyono, (2008) bahwa Hasil analisa multivariate pada penelitian ini

menunjukkan bahwa dengan adanya dislipidemia atau perubahan pada fraksi lipid (kolesterol, trigliserid, LDL dan HDL) mempunyai risiko 2,8 kali lebih besar untuk terjadinya PJK dibandingkan dengan yang tidak mengalami dislipidemia (OR=2,8 ; 95%

CI=1,1-7,1). Dislipidemia juga memiliki hubungan yang bermakna secara statistik untuk terjadinya PJK pada usia < 45 tahun (p=0,029).

Tanda gejala penyakit jantung

Tema yang ditemukan pada tahap ini bahwa sesorang yang mengalai serangan jantung mengeluh dada sakit.

Menurut partisipan pertama bahwa tanda dan gejala seseorang yang mengalami seragan jantung adalah sebagai berikut :

“...yang saya lihat orang yang kena serangan jantung biasa mengeluh dada kirinya sakit, terus tangan kanan kananya biasanya pegang dada kirinya udah gitu tangan mukannya nahan sakit. ” (P 1)

Selain itu nyeri dada juga dirasakan oleh penderita menjalar sampai bahu kiri disertai keringat dingin, seperti yang dinyatakan partisipan berikut ini:

“...kata orang yang kena serngan sakit nya sampe ke bahu terus keringat dingin. ” (P 3).

Gejala utama serangan jantung berupa nyeri terus menerus pada dada, lengan dan rahang, yang berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam. Nyeri timbul secara mendadak dan sangat sakit sehingga kerja jantung menjadi tidak efisien, akibatnya pasokan darah ke otot jantung berkurang.

Kondisi ini sangat berbahaya karena jantung hanya dapat berfungsi tanpa pasokan ini dalam waktu pendek, hanya sekitar 20 menit.

(Sudoyo,2007)

Nyeri dada seperti dihimpit benda berat Nyeri yang dirasakan memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda dengan nyeri pada

(10)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

umumnya yaitu nyeri dada luar biasa seperti ditimpa atau dihimpit benda berat, seperti kulit yang disayat-sayat pisau, nyeri menjalar sampai ke leher, bahu kiri dan punggung yang berlangsung selama lebih dari 30 menit.

Keluhan nyeri dada tersebut sesuai dengan penelitian lain dan beberapa konsep yang dikemukakan oleh Price dan Wilson (2013).

Morton, Fontaine, Hudak, dan Gallo (2012) dan Danielson (2005) meneliti tentang pengalaman hidup dengan nyeri dada menggunakan metode kualitatif dengan wawancara terbuka dan analisis isi. Hasilnya mengungkap bahwa nyeri yangdialami partisipan benar - benar menyakitkan seperti tekanan, meremukkan seperti kram dan para partisipan tidak memiliki penjelasan rasional untuk rasa sakit mereka.

Penanganan saat serangan jantung

Tema yang ditemukan pada tahap ini adalah pentingnya kehadiran keluarga dan tetangga saat serangan jantung, hal tersebut diungkapakan partisipan seperti terungkap pada pernyataan berikut:

“...untungnya ada anaknya di rumah waktu bapak nya kena serangan jantung, kalo gak ada bisa bahaya.” (P 1)

“...pas lagi duduk dukduk di teras, saya lihat tetangga jatoh, saya langsung tolong, dia bilang dadanya kirinya sakit.” (P 4)

Tema yang ditemukan pada tahap ini adalah tindakan yang dilakukan penolong saat terjadi serangan jantung, Hal tersebut diungkapkan partisipan seperti terungkap pada pernyataan berikut:

“.. saya bantu bawa ke dalam rumah, terus di duduk setengah baring, baru kancing bajunya di buka. ” (P5)

“… di bawa ketempat tidur, terus minum obat

jantung nya yang dari rumah sakit. ” (P5)

“…langsung kita bawa ke puskesmas bu. Takut semakin parah sakit nya kalo di diamkan aja. ” (P 3)

Menurut Kurniawan (2015) bahwa peristiwa serangan jantung merupakan suatu kejadian yang tiba-tiba dan sangat dirasakan penderita sebagai suatu ancaman kehidupan, sehingga pada saat serangan jantung sangat dibutuhkan adanya keluarga dan warga yang mendampingi dan memberikan pertolongan dengan cepat. Dukungan keluarga merupakan suatu hal yang sangat penting bagi partisipan dalam menghadapi situasi kritis.

Menurut Laberge (2012) fasilitas kesehatan yang sulit dijangkau warga pedesaan sangat memengaruhi tingkat keberhasilan dari proses rehabilitasi yang dijalani oleh pasien pasca serangan jantung.

Undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit pasal tiga juga menyebutkan bahwa rumah sakit harus mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan kesejahteraan terutama kesehatan bagi warga masyarakatnya.

4. KESIMPULAN

Serangan jantung dapat terjadi akibat aktifitas fisik yang berlebihan dan prilaku yang tidak sehat . tanda gejala yang ditimbulkan diantaranya nyeri pada dada kiri yang menjalar ke leher dan bahu kiri dan dapat disertai banyak berkeringat. Penangan dini sangat penting pada penderita serangan jantung, yang bertujuan untuk mengurangi komplikasi yang dapat ditimbulkan.

5. REFERENSI

Douglas, M., (2005). The pathophysiology of acute coronary syndromes. Washington University School of Medicine. p1-p6.

(11)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

Kurniawan,dkk(2015). Pengalaman Pasien Mengalami Serangan Jantung Pertama Kali yang dirawat di Ruang CICU..https ://jkp fikep Unpad.ac,id.

Diakses pada tanggal 12 januari 2018 Laberge, C.G. (2012). The lived experience of

heart attack: individual accounts of primary percutaneous coronary intervention survivors. ProQuest Information and Learning Company.

Umi number: 3503952.

Mukhlisun. (2013). PMI : Pengetahuan Masyarakat Tentang Pertolongan Pertama Minim. http://www.

antarasumbar.com, diakses tanggal 6 April 2017

Morton, P.G., Fontaine, D.K., Hudak, M.C., &

Gallo, B.M., (2012). Keperawatan kritis pendekatan asuhan holistik. Edisi 8 Volume Alih bahasa: Subekti BD, et al., Editor: Ariani, et al. Jakarta: EGC.

Sudoyo, A. A., 2007. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta : Departemen ilmu penyakit dalam FKUI.

Sugiono,2011. Metode penelitian Kombinasi ( Mixed methods), Alpabetha,Bandung.

Sukmasari, R. N. (2017). Orang Awam Pun Bisa Turunkan Risiko Kematian Akibat

Sakit Jantung

https://health.detik.com/read/2017/01/

20/085350/3400852/763. Diakses tanggal 6 April 2017

Trotter, R., Gallagher, R., &

Donoghue,J. (2011). Anxiety in patients undergoing percutaneous coronary interventions. Heart & Lung.

40(3), 185–192.

(12)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN YANG BENAR PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA DI

KELURAHAN KALISARI KECAMATAN PASAR REBO JAKARTA TIMUR

Resmiati1, Tety Mulyati Arofi2, Alfia Safitri 3, Indriyani 4

1,2,3,4,

Akademi Keperawatan Yaspen Jakarta

1email: [email protected]

2email: [email protected]

ABSTRAK

Cuci tangan perilaku sederhana untuk diterapkan mejadi kebiasaan dalam kehidupan sehari- hari. Tangan agen utama masuknya kuman penyebab penyakit, ke mulut, hidung dan anggota tubuh lainnya. Masalah kesehatan dapat ditimbulkan dari kebiasaan cuci tangan adalah penyakit Diare. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun merupakan salah satu indikator PHBS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan terhadap perilaku cuci tangan yang benar pada Ibu yang memiliki Balita di Kelurahan Kalisari Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur. Penelitian menggunakan bentuk desain kuasi eksperimen (Quasi ekspriment) dengan pretest postest control group desain.

Berdasarkan hasil penelitian, hasil uji statistic didapat nilai p sebesar 0.033 sehingga disimpulkan terdapat perbedaan signifikan antara tindakan sebelum dengan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang cuci tangan. Hal ini menunjukkan ada korelasi positif antara pendidikan kesehatan dengan perilaku cuci tangan yang benar. Faktor pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu untuk melakukan cuci tangan yang benar.

Dengan meningkatnya pengetahuan diharapkan dapat meningkatkan perilaku baik dalam melakukan cuci tangan yang benar.

Kata Kunci: Pendidikan kesehatan, Perilaku Cuci Tangan, Abstract

Hand washing is a simple behavior to apply to habits in daily life. The main agent hands the entry of germs that cause disease, into the mouth, nose and other body parts. Health problems that can be caused by hand washing are diarrheal diseases (MOH, 2014). Washing hands with running water and using soap is one indicator of PHBS. The purpose of this study was to determine the effectiveness of health education on proper hand washing behavior among mothers who have children under five in Kalisari Village, Pasar Rebo District, East Jakarta.

The study uses a quasi-experimental design (Quasi experiment) with a pretest posttest control group design. Based on the results of the study, the statistical test results obtained a p value of 0.033 so that it was concluded that there were significant differences between the actions before and after being given health education about hand washing. This shows that there is a positive correlation between health education and correct hand washing behavior. The education factor is an important factor in increasing the mother's knowledge to do proper hand washing. With increasing knowledge, it is expected to improve good behavior in doing proper hand washing.

Keywords: Health education, Handwashing Behavio

(13)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

1. PENDAHULUAN

Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun yang lebih dikenal dengan Cuci Tangan Pakai Sabun merupakan salah satu indikator PHBS. Perilaku cuci tangan yang benar merupakan salah satu aspek yang menjadi indikator dalam PHBS yang saat ini menjadi perhatian dunia. Hal ini disebabkan tidak hanya di Negara berkembang, namun juga di Negara maju, masih banyak masyarakat yang lupa melakukan perilaku cuci tangan yang benar. Hal ini menunjukkan masih kurangnya praktek atau tindakan mencuci tangan di masyarakat (Anggraini, 2010).

Cuci tangan merupakan salah satu perilaku sederhana yang penting untuk diterapkan mejadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Tangan merupakan salah satu agen utama masuknya kuman/mikroba penyebab penyakit, ke mulut, hidung dan anggota tubuh lainnya.

Penyebarannya bisa melalui makanan dan minuman atau benda-benda yang menempel ditangan baik secara sengaja atau tidak sengaja. Selain untuk diri sendiri tangan juga sebagai sumber penyaluran kuman dari satu orang ke orang lainnya. Banyak masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan cuci tangan salah satunya adalah penyakit Diare (Depkes, 2014)

Menurut target cakupan pelayanan penderita diare yang datang ke sarana kesehatan dan kader kesehatan adalah 10%

dari perkiraan jumlah penderita diare.

Insidensi diare nasional hasil Survei Morbiditas Diare tahun 2014 yaitu sebesar 270/1.000 penduduk, maka diperkirakan jumlah penderita diare di fasilitas jumlah penderita diare di fasilitas kesehatan pada tahun 2016 sebanyak 6.897.463 orang, sedangkan jumlah penderita diare yang dilaporkan ditangani di fasilitas kesehatan adalah sebanyak 3.198.411 orang atau 46,4% dari target, (Kemenkes, 2017).

Upaya promosi kesehatan pada anak salah satunya adalah melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dirumah tangga dan di sekolah. Perilaku

hidup bersih sehat merupakan sebuah upaya ntuk menularkan pengalaman mengenai pola hidup sehat melalui pemberdayaan individu, kelompok ataupun masyarakat luas dengan jalur komunikasi sebagai media berbagi informasi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan terhadap perilaku cuci tangan yang benar pada Ibu yang memiliki Balita di Kelurahan Kalisari Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian ekperimen dengan menggunakan bentuk desain kuasi eksperimen (Quasi ekspriment) dengan pretest postest control group desain.

“Dalam penelitian eksperimen ada perlakuan (treatment), dengan demikian metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan”.

Populasi pada penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak dengan usia 1-5 Tahun. Sampel atau responden yang dipilih tersebut menggunakan metode acak sederhana, yaitu cara pengambilan sampel, dimana semua anggota populasi memilik kesempatan sama untuk dipilih sebagai sampel.

Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 37 orang. Alat utama yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah kuesioner yang terdiri dari 3 bagian.

Bagian pertama berisikan data demografi responden. Bagian kedua pengetahuan ibu tentang cuci tangan yang benar dengan menggunakan multiple choise. Bagian ketiga berisi observasi perilaku cuci tangan dengan menggunakan daftar cheklist yaitu ”Ya”

atau ”Tidak”.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengetahuan Ibu tentang Cuci Tangan Sebelum dan Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan

(14)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

Pengetahuan ibu tentang cuci tangan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dapat dilihat pada tabel 1.Tabel 1 menjelaskan bahwa sebelum pendidikan kesehatan diadakan sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 26 responden (71.0%) dan setelah pendidikan kesehatan diadakan responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 31 responden (83.9 %). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan responden setelah diberikan pendidikan kesehatan.

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Yang Memiliki Balita Sebelum dan Sesudah Pendidikan Kesehatan Tentang

Cuci Tangan Variabel Sebelum

Frekuensi (%)

Setelah Frekuensi

(%) Pengetahuan

Kurang Baik

11 (29%)

6 (16,1%) Pengetahuan Baik 26

(71%)

31 (83,9%)

Jumlah 37

(100%)

37 (100%) Perilaku Cuci Tangan Ibu Sebelum dan Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan

Pengetahuan ibu tentang cuci tangan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Perilaku Cuci Tangan Ibu Yang Memiliki Balita Sebelum dan Sesudah Pendidikan Kesehatan Tentang

Cuci Tangan Variabel Sebelum

Frekuensi (%)

Sesudah Frekuensi

(%) Perilaku Kurang

Baik

14 (38,7%)

8 (21%) Perilaku Baik 23

(61,3%)

29 (79%)

Jumlah 37 100

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa sebelum pendidikan kesehatan diadakan responden yang memiliki perilaku baik sebanyak 23 responden (61.3%) dan setelah pendidikan kesehatan diadakan responden yang memiliki perilaku baik sebanyak 29 responden (79 %). Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku cuci tangan menjadi baik.

Pengaruh Pemberian Penyuluhan Kesehatan Terhadap Perilaku Cuci Tangan Ibu

Pengaruh pemberian penyuluhan kesehatan terhadap perilaku cuci tangan ibu yang memiliki balita dapat dilihat pada table 3. Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa rata – rata tindakan sebelum diberikan pendidikan kesehatan sebesar 0.61 dengan standar deviasi sebesar 0.491 dan pada tindakan sesudah diberikan pendidikan kesehatan adalah 0.84 dengan standar deviasi sebesar 0.410, terlihat adanya perbedaan antara tindakan sebelum dan sesudah sebesar 0.23 dengan standar deviasi sebesar 0.081. Hasil uji statistic didapat nilai p sebesar 0.033 sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara tindakan sebelum dengan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang cuci tangan.

Tabel 3 Pengaruh Pemberian Penyuluhan Kesehatan Terhadap Perilaku Cuci Tangan

Ibu Yang Memiliki Balita Di Kelurahan Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur Sebelum dan Setelah diberikan Pendidikan Kesehatan

Variabel Me an

SD Min- Max

N P

Valu e Tindakan

Sebelum Penyuluh an

0.61 0.491 0-1 37

0.03 3 Tindakan

Sesudah Penyuluh an

0.84 0.410 0-1 37

(15)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

Menurut Setiawati dan Dermawan, 2008, pengetahuan merupakan hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecapan. Pengetahuan akan memberikan penguatan terhadap individu dalam mengambil keputusan dalam berperilaku. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode seminar dengan media LCD dengan materi mengenai demam berdarah serta dijelaskan oleh pemberi materi, metode tersebut melibatkan indra penglihatan dan pendengaran.

Pengetahuan masyarakat meliputi pengetahuan mengenai pengertian, tujuan, manfaat, waktu yang tepat untuk cuci tangan, langkah-langkah dalam melakukan cuci tangan dan alat yang diperlukan.

Setelah dilaksanakan pendidikan kesehatan responden diberikan kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan yang paling banyak adalah mengenai waktu yang tepat untuk cuci tangan, langkah-langkah dalam melakukan cuci tangan. Umpan balik dari responden yang dicerminkan rasa ingin tahu responden yang sangat tinggi menjadi salah satu alasan peningkatan pengetahuan responden setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

Domain perilaku yang terakhir adalah tindakan. Tindakan atau praktik adalah semua aktivitas manusia dalam memelihara kesehatan, setelah responden sadar, tahu, dan mengerti tahap selanjutnya adalah responden tersebut mau melakukan anjuran yang berhubungan dengan kesehatan seperti melakukan perubahan untuk tindakan yang berhubungan dengan langkah mencuci tangan yang benar yang tercermin dalam hasil penelitian pada variabel tindakan (Taufik, 2007)

Perilaku responden terkalit 6 langkah cuci tangan yang benar meliputi Ratakan sabun dengan kedua telapak tangan, Gosok punggung tangan dengan sela-sela jari, Gosok kedua telapak tangan dengan sela- sela jari kedua tangan, Gosok punggung jari dengan kedua tangan saling mengunci, Gosok ibu jari kiri dengan diputar dalam genggaman tangan kanan, Pergelangan

tangan, kemudian bilas. Menurut keterangan dari sebagian responden, mereka mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan sabun saat cuci tangan.

Mereka berpendapat bahwa cukup dengan membasahi tangan dengan air sudah membersihkan tangan dari kotoran, Hasil pengamatan setelah diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar responden sudah dapat melakukan cuci tangan dengan langkah-langkah yang benar.

Sasaran pendidikan kesehatan juga sangat menentukan efektivitas suatu pendidikan kesehatan, menurut Nasrul Effendi (2006) faktor – faktor yang harus diperhatikan dalam sasaran adalah pendidikan, sosial ekonomi, adat istiadat, kepercayaan masyarakat dan ketersediaan waktu di masyarakat.

Pendidikan terakhir responden yang terbanyak adalah SMA. Pendidikan juga mendukung adanya perubahan pengetahuan yang mengalami peningkatan karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin mempermudah seseorang untuk menyerap informasi dan secara tidak langsung pengetahuan akan meningkat.

Pengaruh pendidikan kesehatan dapat bersifat efektif terhadap pengetahuan didukung juga oleh pendidikan responden.

Dengan pendidikan responden yang sebagian besar adalah baik, membuat responden memberikan umpan balik yang positif seperti yang ditunjukkan oleh responden dari mulai menerima stimulus berupa ajakan mengikuti penyuluhan kesehatan, menanggapi dengan memenuhi undangan untuk menghadiri pendidikan kesehatan tentang cuci tangan, menghargai yang ditunjukkan dengan mendengarkan penjelasan dengan baik dan ada hasil perubahan pengetahuan dari yang tidak baik menjadi baik yang tercermin dari peningkatan jumlah hasil pengetahuan yang baik setelah dilaksanakannya pendidikan kesehatan.

Dengan pendidikan yang baik dapat membuat responden memiliki pengetahuan yang baik, sikap yang baik kemudian akan dicerminkan dengan tindakan yang baik.

(16)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

Selain dari faktor pendidikan, faktor pekerjaan juga memengaruhi terjadinya perubahan tindakan.

4. KESIMPULAN

Kesimpulan bahwa hasil uji statistic didapat nilai p sebesar 0.033 sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara tindakan sebelum dengan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang cuci tangan. Hal ini menunjukkan ada korelasi positif antara pendidikan kesehatan dengan perilaku cuci tangan yang benar. Faktor pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu untuk melakukan cuci tangan yang benar. Sehingga dengan meningkatnya pengetahuan diharapkan dapat meningktakan perilaku baik dalam melakukan cuci tangan yang benar.

5. SARAN

Adanya kerjasama dengan kader dan petugas kesehatan dalam mensosialisasikan cuci tangan yang benar dengan menggunakan media yang menarik dan mudah dilihat dimanapun oleh masyarakat dan dengan menggunakan metode yang tepat, agar masyarakat mudah memahami dan menerapkan cuci tangan sesuai dengan langkah-langkah yang benar.

6. REFERENSI

Aditya, S.D. (2008). Metodelogi research Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. Tersedia di:

https://adityasetyawan.files.wordpress.

com/2009/01/variable-penelitian-dan definisi-operasional-variable2.pdf [25November 2017].

Anggrainy R. (2010). Cuci Tangan Pakai Sabun Untuk Menurunkan Angka Diare Di Daerah Istimewa Yogyakarta DalamProgram Mendukung Perilaku Hidup Bersih.

Tersedia di: http://

www.perilakuhidupbersih(PHBS).com [20 November 2017].

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

(2013). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Jakarta:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Burton, M., Cobb, E., Donachie, P., Judah, G., Curtis, V & Schmidit, W.

(2011).The effect of handwashing with water or soap on bacterial contaminationof hands. Int. J.

Environ. Res. Public Health, 8 , pp.97- 104.

Depkes (2014). Infodatin CTPS.

http://www.depkes.go.id/

download.php?file=download/-

pusdatin/infodatin/infodation. tps.pdf.

Direktorat Promosi Kesehatan &

Pemberdayaan Masyarakat (2016).

PHBS.

http://promkes.kemkes.go.id/phbs.

Glanz, K., Rimer, B. K., & Viswanath, K.

(Eds.). (2008). Health behavior and health education: theory, research, and practice. John Wiley & Sons.

Kep, N. R. H. M. (2017). Hubungan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (Ctps) Di Sd 005 Dan Sd 006 Dengan Kejadian Diare Wilayahkerja Puskesmas Bangkinang Kotatahun 2014. Jurnal Ners, 5(2), 47-61.

Purwandari, R., & Ardiana, A. (2015).

Hubungan antara perilaku mencuci tangan dengan insiden diare pada anak usia sekolah di Kabupaten Jember.

Jurnal Keperawatan, 4(2).

Depkes RI.. (2014). Profil Kesehatan Indonesia 2014. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia

__________. (2016). Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

__________ . (2008). Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat.Departemen Kesehatan RI:

Jakarta.

Destya. (2009). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Keluarga Untuk Melakukan PHBS.

(17)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

Tersedia di

http://ctd.eprints.ums.ac.id/6436/I/J21 0050091.pdf. [06 Desember 2017].

Dinkes Provinsi Jawa Timur. 2015.Profil Kesehatan Jawa Timur. Surabaya:

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Kementerian Kesehatan RI. 2017.Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI.

Maulana, H. D. J., 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta: KGC.

Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta ________. 2010. Metodologi Penelitian

Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.Paramita Sopacua E, Widjiartini. 2011.

________.Hubungan Akses Air Bersih Dengan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun PadaRumah Tangga Yang Mempunyai Balita Di Indonesia.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. e-journal] 14(01): pp.28-

35. Tersedia di;

https://journal.ugm.ac.id/jmpk/article/

view/2584/2316 [diakses tanggal 2 januari 2018].

Sitorus, Nikson dan Luci F. 2014. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Cuci Tangan pakai Sabun pada Siswa SD Negeri 157 Kota Palembang Tahun 2014.

Jurnal Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Keperawatan.

Tersedia di:

<jurnal.poltekkespalembang.ac.id/wp..

./04/14-jurnal

(18)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT MASYARAKAT TERHADAP PENGOLAHAN SAMPAH DI DESA SUKALUYU KECAMATAN TELUKJAMBE

TIMUR KABUPATEN KARAWANG

Tety Mulyati Arofi1, Harjati2, Intana Ivanka3, Lidiana Sulfi4, Yulia Apriani5

1,2,3,4,5Akademi Keperawatan Yaspen Jakarta

1email: [email protected] Abstrak

Tempat pembuangan sampah merupakan salah satu indikator PHBS di rumah tangga. Kondisi lingkungan hidup di Desa Sukaluyu cenderung semakin memprihatinkan akibat kurang sadarnya masyarakat dalam pelestarian lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, saluran pembuanagan air limbah kurang mendapat perhatian serius dan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Tujuan penelitian untuk mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat terhadap pengolahan sampah di Desa Sukaluyu. Penelitian ini dilakukan tanggal 21-25 November 2018. Pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner pada 369 responden secara random sampling. Analisis data univariat secara deskriptif. Hasil pengumpulan data diperoleh kelompok umur usia produktif (15-64 tahun) 94%, perempuan 55%, pendidikan SMA 54%, bekerja sebagai petani 47%, pengetahuan baik 84%, Tidak setuju pembuangan sampak ke TPA 68%, setuju pemanfaatan ulang sampah 75% dan sikap masyarakat di Desa Sukaluyu Kecamatan Telukjambe Kabupaten Karawang terhadap pengolahan sampah oleh pemerintah setuju (93%). Upaya yang dilakukan yaitu melakukan edukasi pada ibu rumah tangga tentang pengelolaan sampah, melibatkan kader sebagai pendamping sehingga keluarga mampu melakukannya secara mandiri. Kegiatan tersebut diharapkan terjadi perubahan sikap masyarakat sebagian besar setuju pengolahan sampah dilakukan oleh masyarakat.

Kata kunci:PHBS, sampah, Karawang

Abstract

Landfills are one indicator of PHBS in households. Environmental conditions in Sukaluyu Village tend to be increasingly alarming due to the lack of awareness of the community in environmental preservation, such as littering, waste water disposal channels received less serious attention and still low public awareness in waste management. The purpose of this study was to determine the clean and healthy behavior of the community towards waste management in Sukaluyu Village. This research was conducted on November 21-25, 2018.

Data collection using a questionnaire on 369 respondents by random sampling. Univariate data analysis descriptively. The results of data collection obtained the productive age age group (15-64 years) 94%, 55% women, 54% high school education, working as farmers 47%, good knowledge 84%, Disagreeing the disposal of garbage to the TPA 68%, agreeing to reuse waste 75% and the attitude of the community in Sukaluyu Village, Telukjambe Subdistrict, Karawang Regency, towards the waste management by the government agreed (93%). Efforts are being made to educate housewives about waste management, involving cadres as a companion so that families are able to do it independently. The activity is expected to change the attitude of the community, most of them agree that waste management is carried out by the community.

Keyword: PHBS, garbage, Karawang

(19)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

1. PENDAHULUAN

Gerakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan ujung tombak untuk pembangunan kesehatan dalam rangka meningkatkan perilaku hidup sehat masyarakat. Program PHBS di Rumah Tangga merupakan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga berperilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat seseorang sangat berkaitan dengan peningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat dan lingkungannya. Menurut teori HL BLUM diketahui bahwa status kesehatan individu erat kaitanya dengan perilakunya, semakin baik perilaku yang berhubungan dengan kesehatan maka maka status kesehatanya akan semakin baik.

PHBS di rumah tangga yaitu sasaran rumah tangga yang seluruh anggotanya berperilaku hidup bersih dan sehat. PHBS rumah tangga meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, kunjungan K4, bayi diberi ASI eksklusif, balita ditimbang setiap bulan, gizi seimbang, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, melakukan aktivitas fisik atau berolahraga setiap hari, tempat pembuangan sampah, gosok gigi, lantai rumah, tidak mengkonsusmsi miras dan narkoba, memiliki jaminan kesehatan nasional dan tidak merokok di dalam rumah.

Tempat pembuangan sampah merupakan salah satu indikator PHBS di rumah tangga Dengan mempehatikan masalah dan potensi desa, maka isu strategis terkait dengan pelaksanaan pembangunan di Desa Sukaluyu.

Kondisi lingkungan hidup cenderung semakin memprihatinkan sebagai akibat dari kurang sadarnya masyarakat dalam pelestarian lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, saluran pembuanagan air limbah kurang mendapat perhatian serius

dan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Pengelolaan sampah melalui pendekatan sumber memungkinkan pengelolaan sampah secara terpadu mulai dari hulu sampai ke hilir. Partisipasi masyarakat merupakan aspek terpenting dalam kegiatan pengelolaan sampah terpadu ini. Partisipasi merupakan suatu keterlibatan masyarakat untuk berperan secara aktif dalam suatu program yang diusulkan. Partisipasi masyarakat tidak dapat dipaksakan, dan memerlukan waktu dan usaha yang berkelanjutan. Partisipasi masyarakat akan meningkat apabila masyarakat mengetahui nilai lebih dan keuntungan-keuntungan yang diperolah bagi individu mau pun lingkungan mereka sendiri jika melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Suatu program pengelolaan kebersihan lingkungan, khususnya sampah tidak akan berhasil dengan baik bila hanya mengandalkan peran pemerintah.

Pengenalan dan penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) atau pengurangan, penggunaan kembali dan mendaur ulang sampah, merupakan salah satu cara pendekatan sumber dalam pengelolaan sampah. Dengan konsep ini masyarakat tidak hanya membuang sampah tapi sekaligus memanfaatkannya dan dapat mempunyai nilai tambah secara ekonomi. Sudah saatnya masyarakat mengubah paradigma sampah dari barang yang tidak berguna menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan. Pengelolaan sampah yang paling sederhana seperti memisahkan sampah organik dan anorganik di masyarakat merupakan kunci awal penerapan konsep 3R.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat terhadap pengolahan sampah di Desa Sukaluyu Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang.

2. METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini mengunakan analisis deskriptif dengan tehnik secara ramdon sampling. Penelitian ini dilakukan di Desa Sukaluyu Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang, Jawa Barat

(20)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

pada bulan 21-25 November tahun 2018.

Sampel yaitu masyarakat Desa Sukaluyu Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang tinggal di sekitar pinggir Sungai Citarum yang telah memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Kuisioner terdiri dari enam bagian meliputi identitas responden, pengetahuan masyarakat, sikap masyarakat, pengelolaan sampah, kegiatan sosial dan pemanfaatan ulang sampah. Data yang terkumpul dianalisis univariat secara deskriptif dengan menggunakan software komputer.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia dapat dilihat pada gambar 1.

1. Usia produktif (15-64 thn) 2. Usia tidak produktif (<15/>64)

Gambar 1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia di Desa Sukaluyu Kec

Telukjambe Kab. Karawang (n=369) Berdasarkan kelompok umur Responden yang berada pada usia produktif sebanyak 94% dan responden yang berada pada usia non produktif sebanyak 6%. Menurut Eviyani dalam Khairunisa (2011) tidak selamanya umur seseorang menentukan apa yang dia kerjakandan bagaimana hasil pekerjaannya. Umur hanya menunjukan seberapa lama dan seberapa kuat melakukan pekerjaan tersebut.

Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Distribusi frekuensi responden: Jenis kelamin di Desa

Sukaluyu Kec. Telukjambe Kab Karawang (n=369)

Responden yang paling banyak adalah perempuan sebesar 55% dan laki-laki 45 %.

Menurut Artiningsih (2008) perempuan lebih konsumtif di bandingkan laki-laki, sehingga banyak meghasilkan tumpukan sampah.

Tumpukan sampah tersebut dapat dikurangi dengan melibatkan perempuan yang mempunyai kebiasaan dalam mengelola lingkungan, terutama dalam hal pemeliharaan. Contoh kebiasaan perempuan dalam mengelola lingkungan seperti menyapu dua kali sehari, membuang sampah rumah tangga di tempatnya, dan melakukan pengelolaan sampah. Perempuan dapat dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan sampah rumah tangga dengan cara memisahkan sampah rumah tangga berdasarkan jenisnya, yaitu organik dan anorganik. Dalam penggunaan produk ramah lingkungan, perempuan memiliki peran dengan menentukan produk rumah tangga yang ramah lingkungan. Dalam pendididikan lingkungan, perempuan merupakan media edukasi pertama bagi anak-anaknya (Dana, 2009 dalam Chaesfa&Panjaitan, 2013).

Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada gambar 3.

94%

6%

1 2

0%

45%

55%

Laki-laki Perempuan

(21)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018 1. Tidak sekolah/tidak lulus SD 2. Lulus SD

3. Lulus SLTP/SMP 4. Lulus SLTA/SMA 5.Diploma I/II/III 6.Sarjana

Gambar 3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan Pendidikan di Desa Sukaluyu Kec. Telukjambe Kab

Karawang (n=369)

Berdasarkan tingkat pendidikan responden yang tertertinggi adalah responden lulusan SMA sebesar 54%.

Menurut Notoatmojo (2011) jika sumber daya manusia memiliki pendidikan yang baik dalam arti memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi maka akan semakin mengerti dan semakin mudah memahami sesuatu hal.

1.PNS 2. TNI/Polri 3. Swasta 4. Wirausaha 5. Tani 6. Buruh 7. Pensiunan 8. Lainnya Gambar 4.Distribusi frekuensi responden

berdasarkan Pekerjaan di Desa Sukaluyu Kec. Telukjambe Kab. Karawang

(n=369)

Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa sebagian besar responden bekerja sebagai petani yaitu sebesar 47%.

1.Pengetahuan kurang 2. Pengetahuan Baik Gambar 5. Distribusi frekuensi responden: Pengetahuan Masyarakat tentang Pengolahan Sampah di Desa Sukaluyu Kec. Telukjambe Kab.

Karawang (n=369)

Hasil penelitian menunjukkan 84%

responden memiliki pengetahuan baik, pengetahuan yang baik diperoleh dari berbagai sumber seperti pengalaman responden serta yang diperoleh melalui media cetak, radio dan televisi yang berpengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan. Informasi baru tentang sesuatu memberikan landasan kognitif bagi peningkatan pengetahuan.

Gambar 6. Distribusi frekuensi responden: Sikap Masyarakat tentang Pembuangan Sampah ke TPA di Desa

Sukaluyu Kec Telukjambe Kab.

Karawang (n=369)

5% 8%

9%

54%

12%

12%

1 2 3 4 5 6

1% 0%

22%

23%

4% 0%

3%

47%

1 2 3 4 5 6 7 8

16%

84%

1 2

68%

Tidak Setuju 32%

Setuju

(22)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

Perilaku pembuangan sampah ke TPA setuju 32% dan tidak setuju 68% karena dalam masyarakat telah terbentuk oleh keyakinan warga yang mengganggap bahwa sampah yang dibuang ke sungai akan hanyut ke laut. Faktor lain yang membentuk perilaku warga untuk membuang sampah secara ke sungai adalah sebagian besar masyarkat di sekitar Sungai Citarum sudah terbiasa secara turun temurun. Kondisi ini memberikan motivasi kepada individu untuk membuang sampah karena secara psikologis dengan adanya orang lain yang juga membuang sampah ke sungai akan memperkecil halangan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai, karena secara afektif akan akan muncul pendapat bahwa sampah di sungai telah kotor oleh sampah yang bukan saja di hasilkan oleh dirinya.

Gambar 7. Distribusi frekuensi responden: Pemanfaatan Ulang Sampah di Desa Sukaluyu Kec Telukjambe Kab

Karawang (n=369)

Pada gambar diatas menunjukkan 75%

mau memanfaatkan kembali sampah unutk didaur ulang. Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah atau limbah berubah menjadi sesuatu yang berguna dengan tujuan mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca. Daur ulang merupakan salah satu cara atau metode dalam pengelolaan limbah padat menjadi barang berdaya guna baru sehingga pada zaman modern yang segalanya serba

instan serta penggunaan sumberdaya alam yang tidak atau tanpa perhitungan lagi begitu dibutuhkan sebagai suatu solusi.

Komponen utama dalam manajemen sampah modern yaitu 6R (Reuse, Reduce, Recycle, Replace, Refill, and Repair) namun yang sering dilakukan Reuse (Pemanfaatan) dan Recycle (Daur Ulang). Limbah dapat dikurangi dengan cara pemanfaatan ulang dan mendaur ulang limbah. Daur ulang adalah penggunaan kembali material atau barang yang sudah tidak digunakan, menjadi produk lain.

Gambar 8.

Distribusi frekuensi responden: Sikap Masyarakat tentang Pengolahan Sampah

oleh Pemerintah di Desa Sukaluyu Kec Telukjambe Kab Karawang (n=369) Berdasarkan hasil pendataan yang telah dilakukan berkaitan dengan sikap masyarakat terhadap program pengelolaan sampah oleh pemerintah sebagai berikut mayoritas responden setuju jika pengelolaan sampah di lakukan oleh pemerintah yaitu 93 % dan responden yang tidak setuju sebesar 7%.

Menurut Newcomb dalam Notoatmodjo (2017), Sikap kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu akan tetapi tetai merupakan pres di[posisi tindakan atau perilaku. Menurut Banga (2011), masyarakat sadar dan memiliki sikap positif terhadap pengelolaan sampah.

Sikap masyarakat desa Sukaluyu menyetujui jika pengelolaan sampah dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi seharusnya masyarakat tersebut dapat memberdayakan dirinya dalam pengelolaan

75,%

Setuju 25%

Tidak Setuju

93 7

(23)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

sampah dengan tidak bergantung pada pemerintah. Perlu adanya upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah baik dari pemerintah maupun pihak swasta sehingga masyarakat dapat melakukan secara mandiri dalam pengelolaan sampah.

Adapun upaya yang dapat dilakukan antara lain melakukan edukasi pada ibu rumah tangga tentang pengelolaan sampah, melibatkan kader yang berfungsi sebagai pendamping sehingga keluarga mampu melakukannya secara mandiri, melakukan pendampigan menajemen kewirausahaan dalam pemanfaatan hasil pengolahan sampah.

Dengan melakukan upaya upaya tersebut tentunya akan berdampak terhadap kesehatan individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungan . Disamping itu masyarakat akan lebih lebih sejahtera karena terjadi meningkatan pendapatan terhadap hasil pengolahan sampah.

4. KESIMPULAN

Hasil pengumpulan data diperoleh kelompok umur usia produktif (15-64 tahun) 94%, perempuan 55%, pendidikan SMA 54%, bekerja sebagai petani 47%, pengetahuan baik 84%, Tidak setuju pembuangan sampak ke TPA 68%, setuju pemanfaatan ulang sampah 75% dan sikap masyarakat di Desa Sukaluyu Kecamatan Telukjambe Kabupaten Karawang terhadap pengolahan sampah oleh pemerintah setuju (93%). Upaya yang dapat dilakukan antara lain melakukan edukasi pada ibu rumah tangga tentang pengelolaan sampah, melibatkan kader yang berfungsi sebagai pendamping sehingga keluarga mampu melakukannya secara mandiri, melakukan pendampigan menajemen kewirausahaan dalam pemanfaatan hasil pengolahan sampah.

Dengan melakukan upaya upaya tersebut tentunya akan berdampak terhadap kesehatan individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungan. Disamping itu masyarakat akan lebih lebih sejahtera karena terjadi meningkatan pendapatan terhadap hasil pengolahan sampah. Dengan kegiatan tersebut diharapkan terjadi perubahan sikap

masyarakat sebagian besar setuju pengolahan sampah dilakukan oleh masyarakat.

5. SARAN

Upaya yang dapat dilakukan antara lain melakukan edukasi pada ibu rumah tangga tentang pengelolaan sampah, melibatkan kader yang berfungsi sebagai pendamping sehingga keluarga mampu melakukannya secara mandiri, melakukan pendampigan menajemen kewirausahaan dalam pemanfaatan hasil pengolahan sampah.

Dengan melakukan upaya upaya tersebut tentunya akan berdampak terhadap kesehatan individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungan. Disamping itu masyarakat akan lebih lebih sejahtera karena terjadi meningkatan pendapatan terhadap hasil pengolahan sampah. Dengan kegiatan tersebut diharapkan terjadi perubahan sikap masyarakat sebagian besar setuju pengolahan sampah dilakukan oleh masyarakat.

6. REFERENSI

Artaningsih, N.K.A. (2008). Peran serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (Studi Kasus di Sampangan, Kota Semarang).

Thesis S2. Undip. (diakses tanggal 27 November 2018)

Banga, M. (2011). Household Knowledge Attitudes and Practices in Solid Waste Segregation ang Recycling The Case of Urban Kompala. Zambia Social Science Journal Volume 2 Number 1 May 2011 (Outline) (diakses tanggal 27 November 2018) Chaesfa, Y., Pandjaitan, N., (2013).

Persepsi Perempuan Terhadap

Lingkungan Hidup Dan

Partisipasinya Dalam Pengelolaan Sampah Rumahtangga (Kasus sebuah Kampung di Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat). Jurnal Sosiologi Pedesaan Agustus 2013, ISSN : 2302 - 7517, Vol. 01, No. 02.

Bogor.

Dana DW. (2009). Perempuan dan lingkungan: e-Wanita Ed. 24, Vo.

(24)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

2009.

Kementrian Lingkungan Hidup. (2012).

Profil Bank Sampah. Rapat Kerja Nasional Bank Sampah. Malang.

Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan Masyarakat Ilmu& Seni. Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 187-191

Notoatmodjo, S. (2011). Ilmu Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta Pemkab Karawang, (2015). Semarak

Sukaluyu. Karawang

Riswan, S HR, Hadiyarto A. Pengelolaan sampah rumah tangga di Kecamatan Daha Selatan. Jurnal Ilmu Lingkungan. 2011; 9(1): 31-39.

Sampurna, M.T.B. (2011). Pemberdayaan Masyarakat sebagai Mitra Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Kebersihan Lingkungan Berkelanjutan (Studi kasus Bandar Lampung). Thesis. Pascasarjana.

IPB. (diakses tanggal 27 November 2018)

Soemirat, J. (2011). Kesehatan Lingkungan.

Gajah Mada University Press.

Yogyakarta. Hal. 180-184

Widodo T. Studi tentang peranan unit pasar dalam pengelolaan sampah di Pasar Merdeka Kota Samarinda. Journal Administrasi Negara. 2013; 1(1): 1- 11. 7.

(25)

Jurnal Kesehatan Nasional Akper Yaspen Jakarta Vol. 2 No.2 Desember 2018

ANALISIS MASALAH KEPERAWATAN NYERI DAN PENANGANANNYA PADA PASIEN INFARK MIOKARD DI RSUD PASAR REBO JAKARTA TIMUR

Sulastri¹, Neneng Rohwiati², Afi Rahma Desi 3, Khoirunnisa Rismawati4

¹,2,3,4Akademi Keperawatan Yaspen Jakarta

1email: [email protected]

2email: [email protected]

Abstrak

Infark miokard adalah nekrosis miokard yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat sumbatan akut pada arteri koroner. Gejala yang dapat terjadi pada infark miokard klasik adalah nyeri dada yang dapat berlangsung lama dan hebat, keringat dingin, mual dan muntah, dan perasaan seakan-akan akan menghadapi kematian. Penanganan yang cepat dan tepat dalam mengatasi nyeri harus dilakukan. Penanganan meliputi intervensi keperawatan mandiri dan kolaboratif. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi dan menganalisis masalah nyeri pada pasien infark miokard dan bagaimana penanganannya di RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan menggunakan metode studi kasus pada pasien dengan infark miokard yang dirawat diruang CVCU. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis berdasarkan teori-teori yang menjelaskan tentang terjadinya masalah nyeri pada pasien miokard infark dan kesesuaian penanganannya. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian masalah keperawatan nyeri akut, faktor resiko dan penyebab nyeri. Manajemen keperawatan mengurangi nyeri sesuai yaitu memantau keluhan nyeri dada secara intensif, memfasilitasi pasien berdrest, mengurangi kecemasan, menghindari valsava maneuver, memaksimalkan pemberian obat dan pemantauannya efeknya terhadap keluhan nyeri pasien. Penanganan kolaboratif juga sesuai yaitu obat golongan narkotik dan nitrogliserin intravena.

Kata Kunci : Nyeri, Penanganan, Infark Miokard.

Abstract

Myocardial infarction is myocardial necrosis caused by inadequate blood supply due to acute blockages in the coronary arteries. Symptoms that can occur in classic myocardial infarction are chest pain that can last long and severe, cold sweat, nausea and vomiting, and feelings as if they are about to face death. Quick and appropriate handling of pain relief must be done. Handling includes independent and collaborative nursing interventions. The purpose of this study is to explore and analyze the pain problem in myocardial infarction patients and how to treat it in RSUD Pasar Rebo, East Jakarta. This study uses the case study method in patients with myocardial infarction treated in the CVCU room. The data obtained were processed and analyzed based on theories that explain the occurrence of pain problems in myocardial infarction patients and the appropriateness of treatment.

The results showed the suitability of acute pain nursing problems, risk factors and causes of pain.

Collaborative management of acute chest pain is appropriate, namely narcotic drugs and intravenous nitroglycerin. Nursing management to reduce pain is also appropriate, namely to monitor complaints of chest pain intensively, facilitate patientrest, reduce anxiety, avoid valsalva maneuver, maximize drug administration and monitor its effects on patient pain complaints.

Keywords: Pain, Treatment, Myocardial Infarction.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi enzim selulase yang menghasilkan kadar gula reduksi tertinggi dari hidrolisis serat kasar onggok dan mendapatkan

Perusahaan non regulated, dengan alasan pada umumnya perusahaan milik pemerintah ( regulated ) cenderung membagikan deviden yang konstan, berapapun besarnya keuntungan

Profil gaya hidup sehat yang diteliti adalah mengenai gaya hidup yang sesuai dengan pendapat Pender (1996) yaitu mengenai pola kebiasaan perilaku promosi

Pengolahan data dilakukan setelah sebelumnya dipastikan bahwa tidak ada faktor lain yang mempengaruhi prestasi akademik responden, seperti sedang sakit, stress dan

Setelah dilakukan bioatografi DPPH, fraksi yang positif mengandung antioksidan dilakukan pemisahan senyawa target dengan senyawa yang lain dengan menggunakan

Garis atau benang itulah arah kiblat untuk tempat yang bersangkutan Berbagai metode-metode di atas adalah menunjukan dalam penentuan arah kiblat dengan langkah yang berbeda-beda

Jika Anda berada di sebuah peran yang membuat Anda memiliki pengaruh atas hubungan Walmart dengan si pemasok, bicaralah dengan manajer Anda, Pemimpin Personel Anda, atau