Keterangan :
Yi : Motivasi berprestasi a : konstanta
b1 : Koefisien regresi x1 : perilaku cyberloafing ei : error
Pengujian hipotesis yang kedua untuk penelitian ini mengunakan uji Moderated Regression Analysis (MRA), persamaan untuk pengujian hipotesis kedua adalah :
Keterangan:
Yi : Motivasi berprestasi a : Konstanta
b1,b2,b3 : Koefisien regresi
x1,x2 : Interaksi antara perilaku cyberloafing dengan self control.
Ei : error
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden
Kuesioner penelitian ini di sebarkan sebanyak 270 kuesioner kepada mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. Periode penyebaran kuesioner dimulai pada 4 Maret 2019 hingga 20
38 Maret 2019 kepada mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana dapat dilihat ditabel
Tabel 2. Karakteristik Responden
Angkatan Laki-laki Perempuan Total
2015 39 44 83
2016 27 53 80
2017 29 78 107
95 175 270
Sumber: Data Primer (2019)
Data Deskriptif Cyberloafing, Motivasi Berprestasi dan Self control
Langkah pertama untuk menunjukan rentang skala likert yang dibuat dari rata-rata jawaban responden dari ketiga variabel dalam penelitian ini, maka dapat dibuat dengan rumus interval sebagai berikut:
Tabel 3. Tingkatan Kategori Variabel
Range Keterangan
4.20 – 5.00 Sangat Tinggi
3.40 – 4.19 Tinggi
2.60 – 3.39 Sedang
1.80 – 2.59 Rendah
1.00 – 1.79 Sangat Rendah
Sumber: Data Primer (2019)
Dalam mengetahui kategori dari setiap pernyataan, maka perlu untuk mengetahui mean statistic dari tiap variabel, berikut tabel hasil tingakatan dari ketiga variabel :
39 Cyberloafing
Tabel 4 Data Deskriptif Cyberloafing
No Pernyataan Mean statistic Kategori
1. Mengirim pesan atau email dengan
orang lain 3,44 Tinggi
2. Mengikuti diskusi online diluar
pekerjaan 2,88 Sedang
3. Mengunjungi situs web favorit seperti situs olahraga, entertaiment, lifestyle, berita dll
3,62 Tinggi
4. Menonton video di youtube
3,58 Tinggi
5. Memperbarui status jejaring sosial atau
sosial media 3,07 Sedang
6. Mengunjungi situs jejaring sosial 3,98 Tinggi
7. Mengunjungi situs online shop 3,23 Sedang
8. Bertransaksi disitus online shop
2,75 Sedang
9. Membuka dan melakukan judi online
1,17 Sangat rendah 10. Mengelola web atau blog pribadi
1,61 Sangat rendah 11. Mengunjungi situs khusus dewasa
1,49 Sangat rendah Rata-rata Cyberloafing
2,80 Sedang
Sumber: Data Primer (2019)
Pada tabel 4 menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari variabel cyberloafing sebesar 2.80 termasuk dalam kategori sedang. Nilai rata-rata yang paling tinggi terdapat pada pernyataan “mengunjungi situs jejaring sosial.”, dengan nilai rata-rata 3,98. Sedangkan, nilai rata-rata-rata-rata pernyataan paling rendah pada pernyataan yaitu “Membuka dan melakukan judi online”, dengan nilai rata-rata 1.17.
40 Motivasi Berprestasi
Tabel 5 Data Deskriptif Motivasi Berprestasi
No Pernyataan Mean Statistic Kategori
1. Saya mengerjakan tugas kuliah sebaik
mungkin 4,29 Sangat tinggi
2. Ketika mengalami kesulitan saat mengerjakan tugas, saya mencari cara lain untuk menyelesaikan tugas (cari buku, tanya teman, dll)
4,42 Sangat tinggi 3. Saya merasa tidak terbebani jika
mendapat tugas yang sulit 3,07 Sedang
4. Saya senang jika hasil tugas saya
diberikan penilaian baik atau buruk 3,75 Tinggi 5. Saya selalu menginstrospeksi diri jika
mendapatkan nilai yang jelek 4,02 Tinggi
6. Saya suka kritik dan saran terhadap
tugas yang saya kerjakan 3,90 Tinggi
7. Saya merasa tertantang jika mendapat
tugas yang sulit 3,35 Sedang
8. Saya merasa bangga jika berhasil
menyelesaikan tugas yang sulit 4,49 Sangat tinggi 9. Saya berusaha menyelesaikan tugas
tepat waktu 4,24 Sangat tinggi
10. Saya menghindari menunda tugas
3,44 Tinggi
11. Saya merasa kecewa jika tidak bisa
mengerjakan semua tugas 4,03 Tinggi
Rata-rata motivasi berprestasi 3,90 Tinggi
Sumber: Data Primer (2019)
Pada tabel 5 menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari variabel motivasi berprestasi sebesar 3,90 termasuk dalam kategori tinggi. Nilai rata-rata yang paling tinggi terdapat pada pernyataan “Saya merasa bangga jika berhasil menyelesaikan tugas yang sulit”, dengan nilai rata-rata 4,49. Sedangkan, nilai rata-rata pernyataan paling rendah pada pernyataan yaitu “Saya merasa tidak terbebani jika mendapat tugas yang sulit”, dengan nilai rata-rata 3,07.
41 Self control
Tabel 6 Data Deskriptif Self Control
No Pernyataan Mean statistic Kategori
1. Saya melakukan sesuatu tanpa berpikir
panjang 3,51 Tinggi
2. Saya mudah tergoda terhadap sesuatu
yang menyenangkan 2,54 Sedang
3. Saya lebih suka aktivitas fisik dari pada
aktivitas yang menggunakan pemikiran 2,70 Sedang 4. Saya tidak menyukai aktivitas yang
memerlukan keahlian khusus 3,08 Sedang
5. Saya lebih suka melakukan cara yang
mudah meskipun itu salah 3,37 Rendah
6. Saya lebih suka mengurusi diri sendiri dari pada ikut campur masalah orang lain
2,07 Rendah
7. Saya lebih memikirkan keuntungan pribadi dari pada keuntungan bersama orang lain
3,33 Sedang
8. Saya lebih suka tugas yang sederhana
2,37 Rendah
9. Saya gampang menyerah ketika
mendapatkan kesulitan 3,47 Tinggi
10. Saya mudah terpancing emosi
3,01 Sedang
11. Saya susah menyelesaikan masalah secara verbal (lisan/tulisan) dengan sebesar 2,97 termasuk dalam kategori tinggi. Nilai rata-rata yang paling tinggi terdapat pada pernyataan “Saya melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang”, dengan nilai rata-rata 3,51. Sedangkan, nilai rata-rata pernyataan paling rendah pada pernyataan yaitu “Saya lebih suka mengurusi diri sendiri dari pada ikut campur masalah orang lain”, dengan nilai rata-rata 2,07.
42 Uji Validitas dan Reliabilitas
Berikut hasil dari uji validitas dan reliabilitas terhadap butir-butir pertanyaan dari variabel Cyberloafing, motivasi berprestasi dan Self control. Nilai acuan untuk uji validitas adalah jika Corrected Item-Total Correlation (r-hitung) yang mendapat nilai lebih besar dari r tabel yaitu 0,119. Nilai r tabel di lihat berdasarkan jumlah sampel yang digunakan yaitu 270.
Tabel 7. Hasil Pengujian Validitas
No
Sumber: Data Primer (2019). Lampiran 1
43 Berdasarkan Tabel 7. dapat diketahui bahwa nilai Corrected Item-Total Correlation (r-hitung) yang diperoleh seluruh pernyataan untuk ketiga variabel adalah >0,361 yang menunjukkan bahwa seluruh pernyataan yang di uji dengan menggunakan analisis faktor dinyatakan valid.
Tabel 8. Hasil Pengujian Reliabilitas
Variabel Cronbach’s Alpha Nilai acuan Kesimpulan
Cyberloafing 0.817 0.600 Reliabel
Motivasi Berprestasi 0.736 0.600 Reliabel
Self Control 0.736 0.600 Reliabel
Sumber: Data Primer (2019). Lampiran 1
Berdasarkan Tabel 8. di atas, dapat dilihat bahwa nilai Cronbach’s Alpha yang dari ketiga variabel (cyberloafing, motivasi berprestasi, self control) > 0,6 yang menunjukan bahwa instrument dalam penelitian dinyatakan Reliabel.
Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas menggunakan uji statistik yaitu dengan One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Model Regresi bisa dikatakan baik jika data dalam penelitian tersebut terdistribusi normal. Dalam Kolmogorov Smirnov suatu data dikatakan terberdistribusi secara normal jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yang lebih besar dari 0.05.
44
Normal Parametersa,b Mean 0E-7
Std. Deviation 4,58701267
Asymp. Sig. (2-tailed) ,986
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Berdasarkan hasil pengujian one sample Kolmogorov-smirnov Test seperti terlihat pada tabel 9. menunjukan bahwa Asym. Sig. (2-tailed) atau nilai probabilitas (p-value) memiliki nilai lebih besar dari 0,05 yaitu 0,986. Yang artinya data terdistribusi secara normal.
2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dilakukan dengan membandingkan nilai variences inflation factor (VIF) dan tolerance. Model regresi dinyatakan bebas dari multikolinieritas jika nilai VIF kurang dari 10 dan tolerance lebih besar dari 0,10.
Tabel 10. Uji Multikolinieritas
a. Dependent Variable: Motivasi Berprestasi
Seperti terlihat pada Tabel 10. pada masing masing nilai VIF lebih kecil dari 10 yaitu sebesar 1,010 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,1 yaitu sebesar
45 0,990. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas dalam model penelitian ini.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glejser dengan cara meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen. Model regresi dikatakan tidak terdapat heteroskedastisitas jika nilai signifikansi lebih dari 0,05.
Tabel 11. Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Cyberloafing sebesar 0,147 dan Self control sebesar 0,167, nilai keduanya lebih dari 0,05 sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.
4. Uji Linearitas
Tabel 12 Uji Linearitas Variabel Cyberloafing
ANOVA Table
46 Berdasarkan uji linearitas variabel cyberloafing pada tabel 12 terlihat bahwa nilai sig. Deviation from Linearity adalah 0,338 > 0,05 maka nilai sig lebih besar dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel Cyberloafing adalah linier.
Tabel 13 Uji Linearitas Variabel Self Control
ANOVA Table
Berdasarkan uji linearitas variabel self control pada tabel 13 terlihat bahwa nilai sig. Deviation from Linearity adalah 0,864 > 0,05 maka nilai sig lebih besar dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel self control adalah linier.
Uji Hipotesis
1.
Hipotesis pertamaBerikut hasil pengujian regresi yang pertama dengan Cyberloafing sebagai variabel dependen dan motivasi Berprestasi sebagai variabel independent.
Tabel 14. Hasil Nilai T Model Regresi 1
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
a. Dependent Variable: Motivasi Berprestasi
Persamaan Regresi yang diperoleh adalah
Sehingga dari persamaan tersebut dapat diterjemahkan:
47 1. Jika Konstanta sebesar 42,363 menyatakan bahwa jika tidak ada nilai
Cyberloafing maka nilai motivasi berprestasi sebesar 42,363.
2. Koefisien regresi x sebesar 0,022 maka disetiap penambahan 1 nilai Cyberloafing, maka nilai motivasi berprestasi sebesar 0,022
Hasil Regresi menunjukan t-hitung Cyberloafing sebesar 0,561 dengan signifikansi t sebesar 0,575 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak sehingga perilaku Cyberloafing tidak memiliki hubungan signifikan terhadap motivasi berprestasi.
Tabel 15. Hasil Nilai R Model Regresi 1
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,034a ,001 -,003 4,74399
a. Predictors: (Constant), Cyberloafing
Angka R Square menunjukan koefisien determinan sebesar 0,001, yang mengandung pengertian bahwa 0,001 menunjukan hanya 0,1 % variabel motivasi Berprestasi yang bisa dijelaskan oleh variabel Cyberloafing, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain
Tabel 16. Hasil Nilai F Model Regresi 1
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1
Regression 7,084 1 7,084 ,315 ,575b
Residual 6031,468 268 22,505
Total 6038,552 269
Dari tabel 16. nilai F hitung adalah sebesar 0,315dengan tingkat signifikansi 0,575 lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukan Cyberloafing tidak berpengaruh terhadap motivasi Berprestasi.
48 2. Hipotesis kedua
Berikut hasil pengujian regresi yang kedua dengan Cyberloafing sebagai variabel dependen dan motivasi Berprestasi sebagai variabel independent, serta Self Control sebagai pemoderasi.
Tabel 17. Hasil Nilai T Model Regresi 1
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 40,874 5,935 6,886 ,000
Cyberloafing -,138 ,177 -,215 -,778 ,437
Selfcontrol ,026 ,181 ,032 ,143 ,887
CyberloafingxSelfcontrol ,006 ,005 ,338 1,016 ,311
a. Dependent Variable: Motivasi Berprestasi
Persamaan regresi yang diperoleh
Hasil Regresi menunjukan t hitung Cyberloafing sebesar -0,778 dengan signifikansi t sebesar 0,437 > 0,05 (tidak signifikan). Variabel Self control mempunyai t-hitung sebesar 0,143 dengan signifikansi 0,887 (tidak signifikan).
Variabel Cyberloafing x Self control (interaksi antara variabel cyberloafing dan motivasi berprestasi) mempunyai t hitung sebesar 1,016 dengan signifikansi 0,311 (tidak signifikan) hal ini berarti bahwa variabel Self Control bukan merupakan pemoderasi dalam hubungan antara cyberloafing dengan motivasi berprestasi.
Tabel 18. Hasil Nilai R Model Regresi 2
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,260a ,067 ,057 4,60129
a. Predictors: (Constant), Cyberloafing x Selfcontrol, Self Control, Cyberloafing
Angka R Square menunjukan koefisien determinan atau peranan variance, dapat dilihat dari tabel 12. bahwa terdapat peningkatan R Square dari model regresi 1 yaitu sebesar 0,001 menjadi 0,067 pada model regresi 2. Angka R
49 Square sebesar 0,067 yang menunjukan bahwa hanya 6,7% variabel motivasi berprestasi yang bisa dijelaskan oleh variabel Cyberloafing dengan variabel moderasi Self Control, sisanya dijelaskan oleh variabel yang lain.
Tabel 19. Hasil Nilai F Model Regresi 1
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1
Regression 406,843 3 135,614 6,405 ,000b
Residual 5631,709 266 21,172
Total 6038,552 269
Dari tabel 13. diatas, nilai F hitung adalah sebesar 6,405 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukan Cyberloafing, Self control, serta interaksi antara Cyberloafing dan Self Control berpengaruh secara bersama-sama terhadap motivasi berprestasi.
Pembahasan
Pengaruh perilaku Cyberloafing terhadap Motivasi Berprestasi Mahasiswa Hasil penelitian ini, nilai t hitung yang diperoleh cyberloafing sebesar 0,561 < 1,968 t tabel dan dengan signifikansi t sebesar 0,575 > 0,05. Hal ini menujukan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak sehingga perilaku cyberloafing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Gustrispa (2015) yang dilakukannya pada karyawan PT. Pos Indonesia, dengan hasil serious cyberloafing berpengaruh negatif terhadap motivasi berprestasi.
Penggunaan smartphone oleh mahasiswa saat dikelas akan berdampak negatif, seperti membuat mahasiswa tidak fokus pada proses pembelajaran (Prasad, Lim, & Chen, 2010) dan penurunan motivasi (Arabacı, 2017). Namun berbeda dengan hasil penelitian ini, penggunaan smartphone mahasiswa kaitannya dengan cyberloafing dalam kelas tidak memberikan dampak negatif. Meskipun mahasiswa melakukan cyberloafing didalam kelas tapi motivasi mereka untuk memperoleh prestasi tidaklah berubah.
50 Seher dan Sahin (2017) memberi sejumlah alasan mengapa mahasiswa melakukan cyberloafing, beberapa penyebab cyberloafing mahasiswa antara lain, pelajaran yang membosankan, alasan psikologis, gangguan, dan juga mahasiswa berpikir bahwa bisa melakukan beberapa kegiatan pada saat yang sama (multi-tasking). Prensky (2001) mencatat bahwa generasi baru peserta didik (1982 dan kemudian) termasuk generasi millenial telah mengembangkan bahasa yang berbeda untuk diri mereka sendiri, yang gagasan multi-tasking menjadi semakin penting dan ini dianggap sebagai perilaku normal. Hal ini dapat menjelaskan kurangnya pengaruh cyberloafing terhadap motivasi beprestasi.
Penelitan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Seher dan Sahin (2017) yang menunjukan bahwa tidak ada pengaruh cyberloafing dengan motivasi akademik mahasiswa.
Pengaruh Self Control Terhadap hubungan antara perilaku cyebrloafing dan motivasi berprestasi
Menurut hasil dari penelitian ini, ditemukan bahwa self control bukan pemoderasi dalam hubungannya terhadap Perilaku cyberloafing dengan motivasi berprestasi. Nilai R Square dari model regresi 1 yaitu sebesar 0,001 mengalami peningkatan menjadi 0,067 pada model regresi 2. Angka R Square sebesar 0,067 yang menunjukan bahwa hanya 6,7% variabel motivasi berprestasi yang bisa dijelaskan oleh variabel cyberloafing dengan variabel moderasi self Control. Nilai F hitung adalah sebesar 6,405 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukan cyberloafing, self control, serta interaksi antara cyberloafing dan self Control berpengaruh secara bersama-sama terhadap motivasi berprestasi. Pada tabel coefficient Variabel cyberloafing x self control (interaksi antara variabel cyberloafing dan motivasi berprestasi) mempunyai t hitung sebesar -0,915 dengan signifikansi 0,361 (tidak signifikan) hal ini berarti bahwa variabelself Control bukan merupakan pemoderasi dalam hubungan antara cyberloafing dengan motivasi berprestasi.
Hasil penilitian ini, self control bukan merupakan variabel pemoderasi dalam hubungannya antara cyberloafing dan motivasi berprestasi. Dengan demikian self control bukan variabel moderating tetapi sebagai variabel bebas.
51 Penelitian ini mendukung penelitian Noratika dan Ari (2017) dalam penelitiannya menyimpulkan self control yang rendah mampu meningkatkan perilaku cyberloafing.
Alasan self control berhubungan dengan cyberloafing. Pertama, ketika suatu lembaga tidak memiliki pembatasan dalam penggunaan internet, maka faktor yang memiliki pengaruh terhadap terjadinya perilaku cyberloafing yaitu faktor dalam diri individu yaitu self control (Ozler dan Polat, 2012). Tinggi rendahnya self control pada seorang individu bisa menunjukkan kesanggupannya dalam mengarahkan perilakunya kearah yang lebih positif. Sedangkan beberapa mahasiswa yang memiliki tingkat self control tinggi cenderung tidak melakukan perilaku cyberloafing. Hal ini mungkin menjelaskan tidak berpengaruhnya self control terhadap hubungan antara cyberloafing dengan motivasi berprestasi.
PENUTUP