14 PENDAHULUAN
Pada era millenial saat ini telah banyak muncul berbagai macam teknologi canggih. Perkembangan teknologi sudah diperhitungkan kegunaannya yang bermanfaat dan tanpa merugikan para penggunanya. Komputer dan handphone sudah tidak termasuk barang mewah lagi, banyak orang sudah mempunyainya, hal ini karena setiap individu saat ini mulai membutuhkan teknologi tersebut untuk mempermudah kehidupan sehari-hari, misal digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh, mengerjakan kewajiban dan aktifitas lainnya. Begitu juga terhadap perkembangan pada dunia Information and Communication Technologies yang disingkat ICT, yang memiliki manfaat sangat jelas untuk penggunanya. Salah satu perkembangan dan juga penemuan teknologi sekarang ini yang sangat dibutuhkan oleh dunia yaitu internet. Penggunaan teknologi internet mampu membantu dalam berbagai hal dan membuatnya lebih efektif dan efisien, seperti penyebaran informasi lebih cepat dan berita yang lebih up to date.
Data dari Badan Pusat Statistik populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta jiwa dan menurut hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada kompas (2018), lebih dari 50 persen yaitu sekitar 143 juta jiwa sudah terhubung dengan jaringan internet pada tahun 2017. Jika dari wilayah geografis indonesia, pada masyarakat yang tinggal di Jawa paling banyak menggunakan internet yakni 57,70 persen. Kemudian diikuti Sumatera sebesar 19,09 persen, posisi ketiga Kalimantan 7,97 persen, posisi keempat Sulawesi 6,73 persen, posisi kelima Bali-Nusa 5,63 persen, dan terakhir Maluku-Papua 2,49 persen. Sebanyak 49,52 persen pemakai internet di indonesia yaitu mereka yang memiliki usia 19 sampai 34 tahun. Posisi kedua, sebesar 29,55 persen adalah pemakai internet dengan rentang usia 35 sampai 54 tahun. Kelompok pemakai internet tersebut berada diusia produktif dan tidak sulit beradaptasi untuk mengahadapi perubahan yang terjadi. Umur remaja dengan rentang umur 13 sampai 18 tahun diposisi ketiga dengan 16,68 persen. Terakhir, umur di atas 54 tahun hanya 4,24 persen yang telah menggunakan internet. Selain faktor usia, faktor pendidikan juga dapat memengaruhi jumlah pengguna internet di Indonesia. Sebanyak 88,24 persen dari pengguna internet memiliki gelar S3 dan S2. Kemudian mayoritas lulusan Diploma dan sarjana juga memakai internet,
15 dengan persentase 79,23 persen. Di beberapa akademi kejuruan dan universitas, internet sudah menjadi sebuah bagian dalam kegiatan belajar-mengajar. Seperti, pengumpulan tugas melalui e-mail, tidak lagi menggunakan kertas. Mencari bahan bacaan dari e-Book, bukan lagi buku-buku fisik. Dalam administrasi seperti pengambilan mata kuliah mahasiswa, mengevaluasi dosen, sampai survei di kampus juga sudah terhubung dengan sistem online.
Internet memberikan akses informasi tak terhingga untuk mahasiswa dan perkembangan dunia pendidikan. Namun penambahan fasilitas pendukung belum tentu meningkatkan kualitas belajar pada mahasiswa. Penambahan fasilitas pendukung belum tentu meningkatkan kualitas, hal ini sama dengan pendapat (Astri, 2014) dalam konteks perusahaan, asumsi jika dengan menambah kualitas dan kuantitas fasilitas pendukung dapat dimanfaatkan oleh karyawan seefisien mungkin untuk meningkatkan kualitas tapi malah disalahgunakan oleh karyawan, Fakta sesungguhnya sebenarnya adalah fasilitas pendukung tidak digunakan semestinya, Beberapa contoh seperti mobil dinas digunakan kepentingan pribadi karyawan, telepon kantor digunakan pribadi, serta fasilitas internet digunakan kepentingan pribadi karyawan.
Menurut Robbins & Judge, (2008) cyberloafing adalah penggunaan fasilitas internet lembaganya pada saat jam produktif yang tidak memiliki hubungan dengan pekerjaan. Dalam surveinya menunjukkan bahwa perilaku cyberloafing dapat menurunkan produktifitas dari 30% sampai 40%. Perilaku Cyberloafing ini sebenarnya tidak begitu memberi dampak negatif perusahaan apabila waktu penggunaannya dapat dibatasi (Blanchard & Henle, 2008). Namun pada mahasiswa sendiri penggunaan internet tidak dibatasi sehingga dapat mempengaruhi produktivitas mahasiswa. Selain itu perilaku cyberloafing membuat mahasiswa tidak bisa fokus pada proses pembelajaran dikelas (Prasad, Lim, & Chen, 2010),
Begitu pula dengan mahasiswa perguruan tinggi yang mempunyai akses internet tanpa batas yang bisa disalahgunakan. yang salah satu fenomena perilaku penyalahgunaan internet yang mulai hangat diperbincangkan adalah perilaku cyberloafing.
16 Alasan Pemilihan Obyek
Perilaku cyberloafing pada mahasiswa juga pernah ditemukan oleh Prasad, Lim, dan Chen (2010) yang menemukan sebuah fenomena mahasiswa pada perguruan tinggi yang memakai fasilitas akses internet kampus digunakan untuk keperluan pribadi selama jam kuliah. Meskipun perilaku penggunaan Internet pada produktif karyawan dan jam kuliah mahasiswa berbeda, namun kedua aktivitas itu dapat disamakan sebagai perilaku yang tidak produktif untuk penggunaan waktu ketika sedang bekerja (Prasad, Lim, & Chen, 2010).
Prensky (2001) mencatat bahwa generasi baru peserta didik (1982 dan kemudian) termasuk generasi millenial telah mengembangkan bahasa yang berbeda untuk diri mereka sendiri, dengan gagasan multi-tasking menjadi semakin penting dan ini dianggap sebagai perilaku normal. Obyek mahasiswa dalam penilitian ini adalah generasi millenial sehingga mahasiswa kini memiliki kemampuan melakukan banyak hal dalam satu waktu termasuk dalam penggunaan internet.
Penelitian ini akan dilakukan pada pada Universitas Kristen Satya Wacana, yang terletak di Salatiga, Jawa Tengah. Universitas Kristen Satya Wacana memiliki 14 fakultas salah satu diantaranya adalah Fakultas Ekonomika dan Bisnis. dan yang menjadi obyek penelitian ini nanti adalah mahasiswa program studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis sebagai pelaku cyberloafing.
Ozler & Polat, (2012) menyatakan beberapa faktor penyebab terjadinya perilaku cyberloafing, yaitu faktor organisasi, faktor individual, dan faktor situasional. Faktor organisasi yaitu sebuah faktor yang bermula dari internal perusahaan karyawan. Faktor tersebut meliputi beberapa hal yaitu terdapatnya sebuah peraturan perusahaan tentang penggunaan internet, kemudian ada atau tidaknya sanksi serta tindakan perushaan jika ada perilaku cyberloafing, norma sosial perushaan, dukungan manajerial (penyuluhan karyawan tentang penggunaan internet didalam pekerjaan), dan jenis karakteristik dari pekerjaan yang dilakukan. Kemudian faktor situasional bisa juga dapat mempengaruhi terjadinya perilaku cyberloafing. Perilaku cyberloafing biasanya muncul jika
17 individu memiliki akses internet di sekitarnya, hal tersebutlah yang menjadi penghubung terjadinya perilaku cyberloafing. Faktor lainnya yang bisa memberikan pengaruh perilaku cyberloafing yaitu faktor individual. Faktor individu ini memiliki banyak hal yaitu sikap dan persepsi karyawan terhadap internet, trait (sifat) personal pegawai, habbits (kebiasaan), dan faktor demografis, (Ozler & Polat, 2012). Dari faktor tersebut dengan demikian dapat menyebabkan terjadinya perilaku cyberloafing, dan membuat mahasiswa tidak fokus pada proses pembelajaran (Prasad, Lim, & Chen, 2010). Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi perilaku cyberloafing adalah motivasi berprestasi dan self control.
Mahasiswa membutuhkan motivasi berprestasi untuk menempuh pendidikanya pada masa perkuliahan khususnya meraih prestasi yang diinginkan.
Namun hanya sedikit mahasiswa memiliki motivasi berprestasi tinggi. Misalnya, penelitian Sugito (2012) menunjukkan 38,6% mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Surabaya mempunyai motivasi berprestasi yang rendah.
Menurut McClelland (Diaz & Zulkaida, 2008) motivasi berprestasi yaitu motif yang mengarahkan perilaku seseorang pada tujuan yang diinginkan. Ciri-ciri motivasi berprestasi antara lain ada keinginan dalam menghadapi tugas-tugas yang menantang, bisa menetapkan tujuan jangka panjang, mampu fokus pada pekerjaannya, tidak takut menghadapi kegagalan, dan bertanggung jawab atas tindakannya, (Luthan, 2005).
Faktor yang juga tidak kalah penting dalam memperkuat pengaruh perilaku cyberloafing yaitu faktor self control. pengertian Self control adalah suatu fungsi pusat yang terletak dalam diri seorang individu. Self control dapat digunakan individu untuk meraih kesuksesan dalam proses kehidupan. Pengaruh self control pada munculnya tingkah laku yang terjadi dianggap memiliki peran yang cukup besar, dikarena salah satu hasil dari tahap pengontrolan diri individu adalah tingkah laku yang terlihat (Zulkarnain, 2002). Pengguna internet dengan self control yang tinggi dapat mengarahkan perilaku online dan tidak tenggelam dalam internet, mampu memanfaatkan internet sesuai kebutuhan, dapat mensinkronkan antara aktivitas online dengan aktivitas lain. (Siwi, 2000).
18 Penelitian yang dilakukan ini hampir mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh Gustripa (2015) pengaruh motivasi berprestasi terhadap serious cyberloafing karyawan pada PT Pos Indonesia, Dimana penelitian tersebut belum pernah diteliti untuk dunia pendidikan. Selanjutnya penelitian ini akan diteliti ulang pada bidang yang punya kepentingan umum seperti pendidikan perguruan tinggi. Untuk membedakan penelitian ini dengan penelitian cyberloafing Gustripa (2015) adalah Perilaku cyberloafing penelitian ini menggunakan 2 jenis perilaku yaitu minor cyberloafing dan serious cyberloafing dan menambahkan variabel self control sebagai variabel moderasi. Kemudian penelitian cyberloafing ini menggunakan obyek mahasiswa yang belum banyak diteliti.
Bergerak dari fenomena yang terjadi tentang penyalahgunaan internet pada mahasiswa, maka akan diteliti lebih lanjut lagi mengenai Pengaruh perilaku cyberloafing terhadap motivasi berprestasi dengan self control sebagai variabel moderating pada mahasiswa program studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka rumusan masalah penelitian adalah: 1) Apakah perilaku cyberloafing berpengaruh terhadap motivasi berprestasi? 2) Apakah self control berpengaruh terhadap hubungan antara perilaku cyberloafing dan motivasi berprestasi?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk menguji pengaruh perilaku cyberloafing terhadap motivasi berprestasi pada mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. 2) untuk menguji efek moderasi self control pada pengaruh perilaku cyberloafing terhadap motivasi berprestasi mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah: 1) Manfaat penelitian ini bisa diharapkan dapat memperkaya dan menambah temuan pada bidang ilmu sumber daya
19 manusia tentang cyberloafing dan kaitannya dengan motivasi berprestasi dan self control. 2) untuk manfaat praktis, penelitian ini diharapkan bisa dapat memberikan gambaran untuk mengetahui tingkat self control yang dimiliki mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, dan seberapa besar tingkat motivasi berprestasi yang dipunyai oleh mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana serta mengetahui cyberloafing yang kerap dilakukan oleh mahasiswa pada saat belajar. Kemudian diharapkan penelitian dengan subyek mahasiswa ini bisa memberikan kontribusi untuk kepentingan pendidikan tidak hanya di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana namun juga bermanfaat untuk institusi pendidikan lainya.
TINJAUAN PUSTAKA CYBERLOAFING
Menurut Blanchard & Henle (2008) cyberloafing adalah perilaku karyawan yang memanfaatkan fasilitas internet berjenis komputer (seperti tablet deskop, cell-phon) saat bekerja digunakan untuk kegiatan yang bersifat non- destruktif dimana atasan karyawan menganggap perilaku tersebut tidak mempunyai hubungan dengan tugas pekerjaannya seperti internet messaging, hiburan, memposting ke newsgroups, mengunduh lagu serta film, dan belanja online.
Menurut Robbins dan Judge (2008), cyberloafing yaitu sebuah tindakan seorang individu yang memanfaatkan akses internet lembaganya pada jam produktif digunakan untuk kepentingan yang bersifat pribadi dan aktivitas- aktivitas internet lainya yang tidak memiliki hubungan dengan pekerjaan.
Dari beberapa pendapat diatas, maka peneliti bisa menyimpulkan definisi perilaku cyberloafing adalah penggunaan internet lembaga oleh individu pada waktu jam produktif untuk keperluan yang tidak ada hubunganya dengan pekerjaan.
20 Faktor-Faktor Penyebab Cyberloafing
Menurut Ozler & Polat (2012) Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya Perilaku cyberloafing, yaitu :
a. Faktor individual
Faktor individu ini terdiri dari beberapa bagian yaitu faktor demografi, personal trait individu, kecanduan internet dan kebiasaan, dan persepsi dan sikap.
a.1 Persepsi dan sikap
Individu yang memiliki sikap komputer yang aktif lebih mungkin sering mempergunakan komputer untuk keperluan pribadi. pegawai yang melakukan cyberloafing minor tidak merasa bahwa mereka sendiri terlibat dalam sebuah perilaku tidak baik dan menyalahi aturan mengingat karyawan lain yang menjadi pelaku cyberloafing seriuslah yang sudah sangat menyalahi aturan dan tidak bisa dimaafkan.
a.2 Personal trait
Personal trait seperti penyendiri, pemalu, locus of control, self esteem, dan self control dapat mempengaruhi dalam bentuk penggunaan internet. Individu dengan self-esteem rendah bisa menurunkan self control dalam perilaku penggunaan internet. Individu yang memiliki orientasi eksternal kurang bisa mengendalikan diri mereka dalam penggunaan internet.
a.3 Kecanduan internet dan kebiasaan
Kebiasaan perilaku individu yang telah menjadi otomatis berjalan dengan sendirinya dan terjadi tanpa adanya self-instruction, musyawarah dan kognisi dalam merespon isyarat tertentu pada lingkungan (Woon, Irene, & Loo Geok, 2004). Tingkat kecanduan internet yang tinggi membuat seorang individu lebih mungkin untuk menyalahgunakan internet.
21 a.4 Demografis
Tingkat pendidikan, gender, dan pendapatan adalah prediktor cyberloafing. Individu yang memilik tingkat pendidikan tinggi memanfaatkan internet untuk menemukan informasi, sebaliknya individu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung lebih memanfaatkan internet untuk bersenang- senang dengan bermain game online. Laki-laki lebih sering menjadi pelaku cyberloafing dan dalam jangka waktu lebih lama apabila dibandingkan dengan wanita. Pria lebih sering memanfaatkan internet untuk bermain game online sedangkan perempuan sendiri lebih banyak tertarik untuk komunikasi online.
b. Faktor situasi
Perilaku cyberloafing sendiri mudah muncul ketika adanya fasilitas akses internet pada tempat individu tersebut bekerja dan hal tersebutlah yang menjadi situasi yang pemicu, atau efek konteks yang dapat menengahi perilaku dan akibat.
Situasi yang dimaksud yaitu adanya fasilitas akses internet, kebijakan formal, kehadiran atasan secara fisik, dan sanksi atau hukuman organisasi untuk individu yang terlibat dengan perilaku cyberloafing.
c. Faktor organisasi
Faktor organisasi juga bisa membuat karyawan memiliki kecenderungan perilaku cyberloafing yaitu ada atau tidaknya pembatasan tentang penggunaan internet lembaga, hasil yang diharapkan karyawan, dukungan dari manajerial, pandangan sesama rekan kerja berkaitan norma dalam cyberloafing, sikap kerja seorang karyawan dan karakteristik pekerjaan karyawan. Beberapa faktor organisasi yang memunculkan perilaku cyberloafing adalah:
1 Larangan Penggunaan Internet
Peraturan perusahaan tentang penggunaan internet diruang kerja atau mekanisme pengawasan untuk mengurangi karyawan melakukan perilaku cyberloafing contohnya seperti membatasi akses internet yang bisa mempengaruhi aktifitas cyberloafing. (Garrett & Danziger, 2008)
22 2 Hasil yang Diharapkan
Pegawai yang terlibat cyberloafing akan selalu membandingkan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan seorang individu dengan konsekuensi yang akan diterima. Sebuah penelitian juga memaparkan jika pegawai cenderung lebih jarang terlibat perilaku cyberloafing karena mempersepsikan kepentingan pribadi pegawai dan konsekuensi yang negatif bagi organisasi (Blanchard & Henle 2008).
3 Dukungan Manajerial
Rasa keyakinan pegawai terhadap penggunaan teknologi internet dapat dipengaruhi oleh dukungan dari manajer (Liberman, Benjamín , Gwendolyn Seidman,, Katelyn , McKenna, & Laura, 2011). Tanpa adanya ketentuan pengarahan penggunaan internet dapat menjadikan karyawan salah mengerti dengan dukungan manajerial sehingga pegawai menganggap bahwa menggunakan internet untuk keperluan bisnis dan pribadi bukan termasuk cyberloafing (Garrett & Danziger, 2008).
4 Persepsi Rekan Kerja Mengenai Norma Cyberloafing
Pegawai yang melakukan cyberloafing karena meniru rekan kerja dan membuat hal itu sebagai bentuk keadilan dalam organisasi (Lim & Teo, 2005).
5 Sikap Kerja karyawan
Pegawai cenderung melakukan perilaku cyberloafing atau perilaku menyimpang bila mempunyai sikap kerja yang kurang baik (Garrett &
Danziger, 2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap kerja karyawan meliputi:
i Ketidakadilan
Lim (2002) menemukan bahwa ketika seorang pegawai merasakan adanya ketidakadilan dalam pekerjaanya, beberapa cara yang digunakan untuk membuat keseimbangan keadilan yaitu dengan cara cyberloafing.
23 ii Komitmen Kerja
Penelitian Garrett dan Danziger (2008) menemukan tentang pegawai yang memiliki ikatan secara emosional terhadap organisasi atau tempat dimana mereka bekerja akan merasa kalau penyalahgunaan internet adalah suatu hal yang masih kurang baik dalam pekerjaan mereka, dan karena itulah individu yang memiliki komitmen dengan pekerjaan mereka cenderung tidak terlibat dalam aktivitas cyberloafing selama bekerja.
iii Kepuasan Kerja
Vitak, et al. (2011) menemukan bahwa kepuasan kerja memilki korelasi negatif terhadap perilaku cyberloafing. Individu yang memiliki kepuasan dengan pekerjaannya mernganggap bahwa penggunaan internet untuk suatu hal pribadi adalah sebagai sesuatu yang bisa meredakan stres.
6) Karakteristik Pekerjaan
Menghabiskan waktu pada tugas-tugas yang tidak memiliki hubungan dengan pekerjaan bisa membuat pegawai tidak bosan, stres atau kelelahan, dan dapat menghasilkan kepuasan kerja atau meningkatkan kreativitas yang tinggi, menjadi rekreasi dan pemulihan, meningkatkan kesejahteraan, dan bisa membuat pegawai lebih bahagia. Karakteristik pekerjaan tertentu dapat mempengaruhi terjadinya perilaku cyberloafing yang digunakan demi mengurangi kebosanan atau meningkatkan kreativitas, untuk pekerjaan yang membutuhkan kreativitas mempunyai banyak tuntutan untuk tidak merasa bosan sehingga pegawai tidak memiliki motivasi dalam melakukan cyberloafing (Vitak et al., 2011).
Berdasarkan faktor-faktor cyberloafing tersebut, peneliti berfokus pada faktor individu dari Personal Trait yaitu self control sebagai variabel moderating.
Tipe-tipe Perilaku Cyberloafing
Blanchard dan Henle (2008) memecah perilaku cyberloafing ini menjadi beberapa tingkatan berdasarkan intensitas perilakunya sebagai berikut:
24 a. Minor Cyberloafing
Perilaku minor cyberloafing adalah tipe pegawai yang terlibat dalam berbagai perilaku penggunaan akses internet secara umum dan tidak ada kaitannya terhadap pekerjaan. Contohnya adalah mengunjungi situs olahraga, menerima dan mengirim email pribadi, mengupdate status sosial media, serta membuka toko online.
b. Serious Cyberloafing
Perilaku serious cyberloafing adalah tipe pegawai yang termasuk dalam semua perilaku penggunaan akses internet yang memiliki sifat berbahaya hal ini karenakan bersifat melanggar hukum dan norma instansi. Beberapa contohnya adalah mengelola situs milik pribadi, melakukan judi online, serta mengunjungi situs porno.
Dalam penelitian ini nanti, peneliti akan menggunakan dua jenis perilaku cyberloafing yang dikemukakan Blanchard dan Henle (2008), yaitu minor cyberloafing dan serious cyberloafing.
Dampak Perilaku Cyberloafing
Menurut Blanchard & Henle (2008) perilaku cyberloafing memiliki beberapa dampak bagi pelakunya, yaitu:
1) Dapat meningkatkan kreativitas dan mengurangi stress kerja.
2) Menurunkan tingkat produktivitas dan memaksa pegawai menggunakan cara lainnya untuk melalaikan tugas dan tanggung jawab tanpa perlu keluar masuk ruang kerja, dan terlihat lebih aktif di jam kerjanya di depan komputer.
3) Kemunduran sistem kinerja komputer dan penuhnya jaringan internet lembaga yang bisa membuat kelebihan sumberdaya komputer dan berefek pada menurunnya kecepatan akses internet.
4) Cyberloafer bisa memunculkan beberapa masalah hukum seperti pelanggaran hak cipta (misalnya menyebarkan berita HOAX di medsos dan grup chat), pelecehan (misalnya, seorang pegawai yang mengirim
25 email yang mengandung unsur pelecehan atau rasis), dan melalaikan pekerjaan (Blanchard & Henle, 2008)
Dari teori dampak perilaku cyberloafing di atas, menunjukan bahwa perilaku cyberloafing tidak selalu memberikan dampak negatif tapi juga memiliki dampak positif bagi pelakunya.
MOTIVASI BERPRESTASI
Menurut McClelland (1987) motivasi berprestasi yaitu suatu kebutuhan agar bisa bersaing atau melebihi standar pribadi individu. Pekerja yang memiliki motivasi berprestasi cukup tinggi akan lebih menetapkan tujuan yang menantang, selalu bekerja keras dalam memperoleh tujuannya, serta menggunakan keahliannya untuk mencapai target.
Greenbergs (1996) memaparkan definisi motivasi berprestasi itu adalah kekuatan keinginan seseorang untuk bisa menguasai tugas, sukses dalam mengerjakan tugas yang sulit, serta dapat menyelesaikan semuanya dengan baik.
seorang yang mempunyai tingkat motivasi berprestasi cukup tinggi lebih berfokus dengan penyelesaian suatu tugas dari pada hubungan dengan rekan kerja.
Dari kedua teori diatas bisa dikatakan definisi motivasi berprestasi yaitu keinginan di dalam diri seseorang yang bisa mendorongnya agar bisa menyelesaikan semua pekerjaannya sebaik mungkin dengan kemampuannya, mencapai prestasi yang diinginkan, serta melampaui standar tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Karakteristik Motivasi Berprestasi
McClelland (1987) mengemukakan tipe karakteristik dari individu yang mempunyai motivasi berprestasi kategori tinggi, yakni:
a. Mengerjakan tugas dengan tingkat kesukaran yang moderat.
Walaupun sepertinya seorang individu yang mempunyai motivasi berprestasi yang cukup tinggi akan lebih memilih tugas dan tanggung jawab tinggi juga, tetapi kenyataannya adalah mereka cenderung lebih memilih tugas dan tanggung jawab dengan resiko menengah (Gage &
26 Berliner, 1991). Seorang individu dengan motivasi berprestasi yang cukup tinggi akan memperhitungkan berbagai kesulitan dalam suatu tugas dan menyesuaikannya dengan tingkat kemampuan yang dimiliki, sehingga tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan sempurna.
b. Menginginkan umpan balik terhadap performanya.
Individu yang mempunyai motivasi berprestasi yang cukup tinggi lebih suka jika pekerjaan yang dikerjakan diberikan umpan balik, tentang performa kerja mereka, serta kemajuan-kemajuan yang telah diperlihatkan dalam usahanya untuk memperoleh tujuan (Osland, Kolb, & Rubin, 2011) Seorang individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi sangat menyukai penilaian yang rutin dengan kriteria performa tertentu. Selain itu, fungsi umpan balik juga bisa sebagai kontrol individu agar keluar dari situasi eksplorasi dalam melakukan pekerjaannya (Gage & Berliner, 1991). Feed back memberikan informasi tentang baik atau buruk kinerja mereka pada waktu tertentu demi memperoleh tujuan.
c. Kepuasan dalam pencapaian.
Individu yang mempunyai motivasi berprestasi cukup tinggi mempunyai kepuasan diri terhadap pencapaian suatu tugas dan tanggung jawab.
Mereka pada umumnya tidak menginginkan reward materi atas pencapaiannya (Garg & Parimoo, 2014). Mereka lebih memilih tugas yang rumit dengan reward yang tidak begitu besar, dari pada tugas mudah yang memiliki imbalan besar. Hal ini disebabkan karena, tugas yang sulit dan rumit, jika dapat dikendalikan dan diselesaikan dengan sempurna dapat membawa kepuasan diri yang besar. (Luthans, 2005).
d. Bertanggung jawab dengan tugas.
Sekalinya seorang individu yang mempunyai motivasi berprestasi yang cukup tinggi selalu memutuskan sebuah target, individu tersebut memiliki perilaku secara total untuk lebih berfokus terhadap tugas tersebut sehingga tugas dapat terselesaikan dengan baik. Ciri ini membuat mereka sulit melalaikan tugas yang setengah selesai, sulit bagi mereka untuk menunda suatu tugas, dan juga tidak puas jika tidak memberikan usaha yang terbaik untuk menyelesaikan tugas. (Hermans, 1970)
27 SELF CONTROL
Self control adalah suatu fungsi pusat di dalam diri individu. Self control bisa dimanfaatkan untuk individu menperoleh keberhasilan dalam kehidupan.
Pengaruh self control terhadap munculnya sebuah perilaku dianggap lumayan besar, dikarenakan proses hasil pengontrolan dari diri individu adalah perilaku yang tampak (Zulkarnain, 2012).
Penelitian Herlina (2000) tentang hubungan self control terhadap kecenderungan penggunaan internet di Jogjakarta menemukan adanya hubungan negatif signifikan antara self control dengan kecanduan menggunakan internet.
Jadi semakin rendah self control maka kecenderungan penggunaan internet makin tinggi.
Elemen-elemen Self Control
Gottfredson dan Hirschi (1990) memaparkan beberapa aspek elemen low self control yang menjadi ciri seorang individu yang mempunyai self control rendah, sebagai berikut:
1) Impulsiveness
Impulsiveness yaitu seorang individu mempunyai orientasi “here and now”. Individu tersebut tidak memperdulikan konsekuensi negatif dari kelakuan yang mereka perbuatan. Individu tersebut mudah tergoda terhadap sesuatu yang membuat mereka senang.
2) Preference for Physical Activity
Preference for Physical Activity menjelaskan tentang individu yang mempunyai self control cukup rendah cenderung menyukai aktivitas yang tidak memerlukan keahlian khusus dibandingkan dengan mencari kegiatan yang memerlukan pemikiran kognitif. Individu tersebut suka dengan aktivitas fisik dibandingkan aktivitas yang memerlukan pemikiran.
28 3). Risk-Seeking Orientation
Risk-Seeking Orientation menjelaskan tentang seorang individu yang mempunyai self control cukup rendah menyukai aktivitas fisik yang memiliki resiko, menegangkan dan menyenangkan. Mereka melakukan sesuatu dengan cara sembunyi-sembunyi, manipulatif, atau berbahaya. Karena itu, seorang individu yang mempunyai self control yang rendah sangat pemberani dan lebih aktif.
4) Self-Centeredness
Self-Centeredness yaitu seorang individu yang memiliki self control cukup rendah cenderung lebih mementingkan dirinya sendiri. Individu ini juga tidak peka pada kebutuhan dan kesusahan orang lain. Individu ini cenderung tidak ramah, atau tidak peduli dengan hubungan dirinya dan orang lain. Perilaku mereka adalah gambaran dari minat pribadi atau keuntungan diri sendiri.
5) Preference for Simple Tasks
Preference for Simple Tasks adalah seorang individu yang mempunyai self control cukup rendah akan lebih menjauhi tugas dan tanggung jawab yang susah dan memerlukan banyak pemikiran. Individu tersebut lebih suka tugas yang simpel dan bisa dikerjakan dengan cara mudah juga. Bisa dibilang seorang individu dengan self control yang rendah lebih memiliki sifat tidak rajin dan tidak tekun dalam mengerjakan tanggung jawabnya.
6) Short-Tempered
Short-Tempered menggambarkan seorang individu yang memiliki self control rendah lebih gampang frustasi atau menyerah, temperament, dan emosi yang meledak-ledak. Saat memiliki masalah dengan orang sekitar atau orang lain, individu yang mempunyai self control rendah sangat kesulitan untuk menyelesaikan masalah secara verbal.
Pengaruh Perilaku Cyberloafing Terhadap Motivasi Berprestasi
Dalam teori motivasi berprestasi McClelland (1987) mengatakan bahwa individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi memilih untuk
29 menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas, lebih memiliki rasa bertanggung jawab secara personal dengan performanya, dan selalu teringat dengan tugas yang belum terselesaikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menganggap bahwa penyelesaian tugas adalah prioritas utama buat mereka. Selain itu, terkait dengan penelitian Hart, et al. (2004) yang menunjukkan individu dengan motivasi berprestasi tinggi merupakan individu pekerja keras dan menghindari faktor pengganggu untuk tetap produktif yang salah satunya yaitu perilaku cyberloafing.
Hal ini diperkuat dengan penelitian Gustrispa (2015). Melalui penelitian yang sudah dilakukan pada karyawan PT. Pos Indonesia, peneliti menyatakan bahwa ada pengaruh negatif motivasi berprestasi dengan cyberloafing. dalam artian semakin tinggi motivasi berprestasi karyawan akan semakin rendah tingkat cyberloafing karyawan.
Berdasarkan penelitian terdahulu dan argumentasi yang disusun maka dapat diusulkan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Perilaku cyberloafing memiliki pengaruh terhadap motivasi berprestasi.
Hubungan Antara Perilaku Cyberloafing Terhadap Motivasi Berprestasi yang di Moderasi Self Control
Dalam teori low self control dikembangkan oleh Gottfredson dan Hirschi (1990), mengatakan bahwa seorang individu yang mempunyai self control rendah cenderung implusif tanpa memikirkan dampak negatif, suka dengan kegiatan fisik tanpa memerlukan kemampuan tertentu, hanya memperdulikan kebutuhan diri sendiri, mudah frustasi atau menyerah dan mudah terpancing emosi, serta menjauhi tugas dan tanggung jawab yang sulit dan menggunakan pemikiran.
Dengan hal tersebut seorang yang mempunyai self control yang cukup rendah lebih mungkin menjadi pelaku cyberloafing. Sedangkan seorang individu yang mempunyai self control tinggi lebih berhati-hati dalam bekerja, mempertimbangkan konsekuensi perbuatan yang dilakukan, peka dengan kebutuhan orang sekitar atau orang lain, dapat mengatur emosi, serta tekun dalam bekerja. Dengan begitu, seorang yang mempunyai self control tinggi lebih jarang berbuat menyimpang, seperti cyberloafing.
30
Self Control (X2)
Dalam penelitian Noratika dan Ari (2017) berjudul Hubungan self control dan cyberloafing pada pegawai negeri sipil. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan negatif antara self control terhadap cyberloafing. Jika semakin tinggi self control pegawai maka akan makin rendah juga cyberloafing yang diperbuat, begitu pula sebaliknya makin rendah self control pegawai maka makin tinggi juga cyberloafing yang diperbuat. Kemudian menurut Gustrispa (2015) cyberloafing memiliki berpengaruh terhadap motivasi berprestasi.
Berdasarkan penelitian terdahulu dan argumentasi yang dibuat, jadi hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu :
H2 : Self control mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara cyberloafing dan motivasi berprestasi.
Kerangka Pemikiran
Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji pengaruh perilaku cyberloafing terhadap motivasi berprestasi mahasiswa dengan self control sebagai variabel moderating pada mahasiswa program studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. Untuk mempermudah memahami analisis didalam penelitian ini maka dibuatlah kerangka teoritis seperti gambar berikut :
Gambar 1 Kerangka Pemikiran
Variabel yang dipakai dalam penelitian ini adalah perilaku cyberloafing sebagai variabel independen (x1), motivasi berprestasi sebagai variabel dependen (y) dan self control sebagai variabel pemoderasi (x2).
Cyberloafing (X1)
Motivasi
Berprestasi (Y)
31 METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian survei causal study, causal study adalah sebuah studi dimana peneliti ingin mengetahui penyebab dari satu atau lebih masalah. Dalam casual study, diperlukan juga upaya untuk bisa menentukan sebuah hubungan sebab dan akibat dengan jenis analisis regresi tertentu atau korelasional. (Sugiyono, 2010)
Penelitian ini menguji pengaruh perilaku cyberloafing terhadap motivasi berprestasi dengan self control sebagai variabel moderasi. Peneliti mengambil responden dari mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
Populasi, Sampel, dan Teknik sampling
Populasi adalah sekelompok orang, kejadian, atau segala sesuatu yang memiliki karakteristik tertentu dan relevan dengan tujuan penelitian atau masalah penelitian (Sugiyono, 2014). Populasi penelitian ini meliputi seluruh mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana angkatan 2015, 2016 dan 2017. Sampel adalah sekelompok atau beberapa bagian dari suatu populasi (Sugiyono, 2014). Jumlah populasi dalam penelitian ini berjumlah 820, kemudian penulis mempersempit populasi dengan menghitung sampel dengan menggunakan teknik Slovin agar jumlahnya representative dari keseluruhan populasi. Rumus Slovin untuk menentukan sampel adalah sebagai berikut :
Keterangan :
n : Ukuran sampel N : Jumlah populasi e : Error (5%)
32
Sampel yang harus diambil berjumlah 268,85 kemudian disesuaikan oleh peneliti menjadi 270 sampel untuk mempermudah mengolah data dan untuk hasil pengujian yang lebih baik. Teknik sampling yang dipakai adalah convenience sampling, yaitu teknik pengambilan sampel didasarkan pada kemudahan untuk mendapatkanya. (Sugiyono, 2014)
Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer dengan kuesioner. Metode kuesioner adalah sebuah teknik yang dibuat dengan beberapa pernyataan didalamnya yang kemudian diberikan kepada responden guna mengumpulkan data yang diperlukan. (Sugiyono 2010). Kuesioner ini menggunakan skala pengukuran Likert, skala Likert merupakan skala sikap yang menggunakan 5 pilihan jawaban berupa sangat setuju dengan nilai 5, setuju dengan nilai 4, ragu- ragu dengan nilai 3, tidak setuju dengan nilai 2, sangat tidak setuju dengan nilai 1.
Data kuantitatif yang digunakan yaitu jumlah mahasiswa dan jumlah skor jawaban kuesioner yang telah diisi oleh responden yang tersusun dari data mengenai perilaku Cyberloafing, motivasi berprestasi, dan self control
33 Variabel dan Pengukuran Variabel
No Variabel Definisi Dimensi Indikator
1. Perilaku
cyberloafing(X)
Cyberloafing adalah perilaku karyawan yang menggunakan fasilitas internet berjenis
komputer (seperti tablet deskop, cell-phone) pada saat bekerja digunakan untuk kegiatan yang bersifat non-destruktif dimana perilaku tersebut tidak mempunyai hubungan dengan pekerjaan seperti internet messaging, hiburan, memposting ke newsgroups,
mengunduh lagu serta film, dan belanja online (Blanchard & Henle, 2008)
1. minor cyberloafing :
a. Mengirim dan menerima email pribadi.
b. Mengunjungi situs olahraga, entertaiment, lifestyle, berita.
c. Memperbarui status jejaring sosial.
d. Mengunjungi toko online.
2. Serious Cyberloafing
a. Judi online b. Mengelola situs pribadi
c. Situs yang mengandung pornografi.
2. Motivasi Berprestasi (Y)
Motivasi berprestasi yaitu suatu kebutuhan untuk bisa bersaing atau melebihi standar pribadi individu. Pekerja yang memiliki motivasi berprestasi cukup tinggi akan lebih menetapkan tujuan yang menantang, selalu bekerja keras dalam memperoleh tujuannya, serta menggunakan keahliannya untuk mencapai target.
a.Tugas kesukaran yang moderat.
1. menyelesaikan tugas sebaik mungkin
2. mencari jalan keluar kesulitan
b. Menyukai feedback.
1. Penilaian 2. Evaluasi diri c. Kepuasan
pencapaian.
1. Suka tantangan 2. Puas jika berhasil menyelesaikan tugas sulit.
Tabel 1 Pengukuran Variabel Penelitian
34 Sumber: diolah (2018)
Teknik analisis data
a. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Uji Validitas : uji ini digunakan untuk mengetahui seberapa jauh instrumen yang akan digunakan sudah dapat memadai atau valid. Data dikatakan
McClelland (1987) d. Bertanggung jawab dengan tugas.
1. Tidak menunda nunda
2. Tepat waktu 3. Kecewa jika gagal 3. Self control (x2) Self control Adalah
suatu fungsi pusat yang berada didalam diri individu. Self control bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk individu menperoleh kesuksesan didalam proses kehidupan.
(Zulkarnain, 2012).
a. Impulsiveness 1. Tidak berfikir panjang
2. Mudah Tergoda kesenangan b. Preference for
Physical Activity
1. Suka aktivitas fisik 2. Tidak suka keahlian khusus yang bersifat kognitif
c. Risk-Seeking Orientation
1. Manipulatif 2. Berani melakukan berbagai hal meskipun salah.
d. Self
Centeredness
1. Mementingkan diri sendiri
2. Tidak Peduli orang lain
e. Preference for Simple Tasks
1. Suka tugas mudah 2. Mudah menyerah
f. Short-Tempered 1. Emosional
2. Susah menyelesaikan masalah.
35 sudah valid jika data tersebut memiliki Corrected item-total correlation (r hitung) lebih besar dari 0.3 (Sugiyono, 2012). Uji reliabilitas : uji reliabilitas diperlukan untuk menunjukkan apakah data sudah reliabel. Instrumen dikatakan reliable jika memiliki Alpha Cronbach lebih besar dari 0,6.
b. Uji asumsi klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk menguji bahwa tidak terdapat bias pada nilai estimator dari model yang akan digunakan untuk penelitian.
1) Uji Normalitas
Uji Normalitas dilakukan dengan menggunakan alat uji kolmogrov smirnov dengan cara membandingkan nilai probabilitas (p-value) yang diperoleh dengan taraf signifikan yang sudah ditemukan yaitu 0,05. Jika (p-value) lebih besar dari pada signikansi 0,05 maka data terdistribusi normal.
2) Uji multikolinearitas
Uji multikolinieritas memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel independen yang akan digunakan pada penelitian. Uji multikolinieritas pada penelitian ini dapat dilihat pada angka variance inflation factor (VIF) dan tolerance. Model regresi bisa dikatakan tidak terjadi multikolinieritas jika memiliki nilai VIF kurang dari 10 dan memiliki angka tolerance lebih dari 0,10 (Sugiyono, 2012).
3) Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas dipergunakan untuk menguji apakah suatu analisis regresi berganda memiliki ketidaksamaan varians dari sebuah residual pengamatan ke pengamatan lainnya. Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisits bisa diketahui dari hasil uji Glejser yaitu dengan meregresikan nilai absolute residual terhadap variable independen. Jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka tidak ada heteroskedatisitas (sugiyono, 2012).
36 4) Uji Linearitas
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linier. Dua variabel tersebut dikatakan linier apabila signifikansi lebih dari 0,05 sehingga pengambilan keputusan berupa terdapat hubungan yang linier sedangkan jika signifikan dibawah 0,05 maka pengambilan keputusan berupa tidak terdapat hubungan yang linier dari kedua variabel tersebut (sugiyono, 2012).
Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian mengunakan analisis regresi sederhana. Analisis tersebut dilakukan dengan melihat goodness of fit model regresi untuk mengetahui ketepatan fungsi regresi sebuah sampel untuk memperkirakan nilai aktual. Goodness of fit bisa diukur melalui nilai adjusted R2, signifikansi nilai F, dan signifikansi nilai t (Sugiyono, 2012). Ketiga pengukuran itu dipergunakan pada penelitian ini.
Signifikansi nilai F menunjukan pengaruh variabel independen adalah cyberloafing secara simultan terhadap variabel dependen adalah motivasi berprestasi. Sigifikansi nilai t menunjukan pengaruh variabel independen yaitu cyberloafing secara parsial terhadap variabel dependen. Nilai adjusted R2 menunjukan besarnya kemampuan yang dimiliki variabel independen yaitu perilaku cyberloafing dalam menjelaskan variasi variabel dependen yaitu motivasi berprestasi. Secara statistik, nilai adjusted R2 bisa dirumuskan seperti berikut (Sugiyono, 2012) :
Keterangan :
R2 : Koefisien determinasi N : Jumlah observasi
K : Jumlah variabel independen termasuk titik potongnya/konstanta
37 Pengujian hipotesis yang pertama dilakukan dengan menggunkan analisis regresi linier dengan menggunakan program spss. Persamaan untuk menguji hipotesis yang pertama adalah :
Keterangan :
Yi : Motivasi berprestasi a : konstanta
b1 : Koefisien regresi x1 : perilaku cyberloafing ei : error
Pengujian hipotesis yang kedua untuk penelitian ini mengunakan uji Moderated Regression Analysis (MRA), persamaan untuk pengujian hipotesis kedua adalah :
Keterangan:
Yi : Motivasi berprestasi a : Konstanta
b1,b2,b3 : Koefisien regresi
x1,x2 : Interaksi antara perilaku cyberloafing dengan self control.
Ei : error
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden
Kuesioner penelitian ini di sebarkan sebanyak 270 kuesioner kepada mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. Periode penyebaran kuesioner dimulai pada 4 Maret 2019 hingga 20
38 Maret 2019 kepada mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana dapat dilihat ditabel
Tabel 2. Karakteristik Responden
Angkatan Laki-laki Perempuan Total
2015 39 44 83
2016 27 53 80
2017 29 78 107
95 175 270
Sumber: Data Primer (2019)
Data Deskriptif Cyberloafing, Motivasi Berprestasi dan Self control
Langkah pertama untuk menunjukan rentang skala likert yang dibuat dari rata-rata jawaban responden dari ketiga variabel dalam penelitian ini, maka dapat dibuat dengan rumus interval sebagai berikut:
Tabel 3. Tingkatan Kategori Variabel
Range Keterangan
4.20 – 5.00 Sangat Tinggi
3.40 – 4.19 Tinggi
2.60 – 3.39 Sedang
1.80 – 2.59 Rendah
1.00 – 1.79 Sangat Rendah
Sumber: Data Primer (2019)
Dalam mengetahui kategori dari setiap pernyataan, maka perlu untuk mengetahui mean statistic dari tiap variabel, berikut tabel hasil tingakatan dari ketiga variabel :
39 Cyberloafing
Tabel 4 Data Deskriptif Cyberloafing
No Pernyataan Mean statistic Kategori
1. Mengirim pesan atau email dengan
orang lain 3,44 Tinggi
2. Mengikuti diskusi online diluar
pekerjaan 2,88 Sedang
3. Mengunjungi situs web favorit seperti situs olahraga, entertaiment, lifestyle, berita dll
3,62 Tinggi
4. Menonton video di youtube
3,58 Tinggi
5. Memperbarui status jejaring sosial atau
sosial media 3,07 Sedang
6. Mengunjungi situs jejaring sosial 3,98 Tinggi
7. Mengunjungi situs online shop 3,23 Sedang
8. Bertransaksi disitus online shop
2,75 Sedang
9. Membuka dan melakukan judi online
1,17 Sangat rendah 10. Mengelola web atau blog pribadi
1,61 Sangat rendah 11. Mengunjungi situs khusus dewasa
1,49 Sangat rendah Rata-rata Cyberloafing
2,80 Sedang
Sumber: Data Primer (2019)
Pada tabel 4 menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari variabel cyberloafing sebesar 2.80 termasuk dalam kategori sedang. Nilai rata-rata yang paling tinggi terdapat pada pernyataan “mengunjungi situs jejaring sosial.”, dengan nilai rata- rata 3,98. Sedangkan, nilai rata-rata pernyataan paling rendah pada pernyataan yaitu “Membuka dan melakukan judi online”, dengan nilai rata-rata 1.17.
40 Motivasi Berprestasi
Tabel 5 Data Deskriptif Motivasi Berprestasi
No Pernyataan Mean Statistic Kategori
1. Saya mengerjakan tugas kuliah sebaik
mungkin 4,29 Sangat tinggi
2. Ketika mengalami kesulitan saat mengerjakan tugas, saya mencari cara lain untuk menyelesaikan tugas (cari buku, tanya teman, dll)
4,42 Sangat tinggi 3. Saya merasa tidak terbebani jika
mendapat tugas yang sulit 3,07 Sedang
4. Saya senang jika hasil tugas saya
diberikan penilaian baik atau buruk 3,75 Tinggi 5. Saya selalu menginstrospeksi diri jika
mendapatkan nilai yang jelek 4,02 Tinggi
6. Saya suka kritik dan saran terhadap
tugas yang saya kerjakan 3,90 Tinggi
7. Saya merasa tertantang jika mendapat
tugas yang sulit 3,35 Sedang
8. Saya merasa bangga jika berhasil
menyelesaikan tugas yang sulit 4,49 Sangat tinggi 9. Saya berusaha menyelesaikan tugas
tepat waktu 4,24 Sangat tinggi
10. Saya menghindari menunda tugas
3,44 Tinggi
11. Saya merasa kecewa jika tidak bisa
mengerjakan semua tugas 4,03 Tinggi
Rata-rata motivasi berprestasi 3,90 Tinggi
Sumber: Data Primer (2019)
Pada tabel 5 menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari variabel motivasi berprestasi sebesar 3,90 termasuk dalam kategori tinggi. Nilai rata-rata yang paling tinggi terdapat pada pernyataan “Saya merasa bangga jika berhasil menyelesaikan tugas yang sulit”, dengan nilai rata-rata 4,49. Sedangkan, nilai rata-rata pernyataan paling rendah pada pernyataan yaitu “Saya merasa tidak terbebani jika mendapat tugas yang sulit”, dengan nilai rata-rata 3,07.
41 Self control
Tabel 6 Data Deskriptif Self Control
No Pernyataan Mean statistic Kategori
1. Saya melakukan sesuatu tanpa berpikir
panjang 3,51 Tinggi
2. Saya mudah tergoda terhadap sesuatu
yang menyenangkan 2,54 Sedang
3. Saya lebih suka aktivitas fisik dari pada
aktivitas yang menggunakan pemikiran 2,70 Sedang 4. Saya tidak menyukai aktivitas yang
memerlukan keahlian khusus 3,08 Sedang
5. Saya lebih suka melakukan cara yang
mudah meskipun itu salah 3,37 Rendah
6. Saya lebih suka mengurusi diri sendiri dari pada ikut campur masalah orang lain
2,07 Rendah
7. Saya lebih memikirkan keuntungan pribadi dari pada keuntungan bersama orang lain
3,33 Sedang
8. Saya lebih suka tugas yang sederhana
2,37 Rendah
9. Saya gampang menyerah ketika
mendapatkan kesulitan 3,47 Tinggi
10. Saya mudah terpancing emosi
3,01 Sedang
11. Saya susah menyelesaikan masalah secara verbal (lisan/tulisan) dengan orang lain
3,24 Sedang
Rata-rata 2,97 Sedang
Sumber: Data Primer (2019)
Pada tabel 6 menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari variabel self control sebesar 2,97 termasuk dalam kategori tinggi. Nilai rata-rata yang paling tinggi terdapat pada pernyataan “Saya melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang”, dengan nilai rata-rata 3,51. Sedangkan, nilai rata-rata pernyataan paling rendah pada pernyataan yaitu “Saya lebih suka mengurusi diri sendiri dari pada ikut campur masalah orang lain”, dengan nilai rata-rata 2,07.
42 Uji Validitas dan Reliabilitas
Berikut hasil dari uji validitas dan reliabilitas terhadap butir-butir pertanyaan dari variabel Cyberloafing, motivasi berprestasi dan Self control. Nilai acuan untuk uji validitas adalah jika Corrected Item-Total Correlation (r-hitung) yang mendapat nilai lebih besar dari r tabel yaitu 0,119. Nilai r tabel di lihat berdasarkan jumlah sampel yang digunakan yaitu 270.
Tabel 7. Hasil Pengujian Validitas
No Item
Corrected Item-Total Correlation (r-hitung)
nilai
acuan (r-tabel)
Kesimpulan No Item
Corrected Item-Total Correlation (r-hitung)
nilai
acuan (r-tabel)
Kesimpulan
X1.1 0.586 0.119 VALID Y1.7 0.588 0.119 VALID
X1.2 0.488 0.119 VALID Y1.8 0.578 0.119 VALID
X1.3 0.706 0.119 VALID Y1.9 0.517 0.119 VALID
X1.4 0.736 0.119 VALID Y1.10 0.442 0.119 VALID
X1.5 0.654 0.119 VALID Y1.11 0.487 0.119 VALID
X1.6 0.690 0.119 VALID X2.1 0.530 0.119 VALID
X1.7 0.702 0.119 VALID X2.2 0.544 0.119 VALID
X1.8 0.734 0.119 VALID X2.3 0.406 0.119 VALID
X1.9 0.264 0.119 VALID X2.4 0.437 0.119 VALID
X1.10 0.461 0.119 VALID X2.5 0.617 0.119 VALID
X1.11 0.349 0.119 VALID X2.6 0.411 0.119 VALID
Y1.1 0.561 0.119 VALID X2.7 0.552 0.119 VALID
Y1.2 0.465 0.119 VALID X2.8 0.585 0.119 VALID
Y1.3 0.406 0.119 VALID X2.9 0.645 0.119 VALID
Y1.4 0.569 0.119 VALID X2.10 0.527 0.119 VALID
Y1.5 0.625 0.119 VALID X2.11 0.506 0.119 VALID
Y1.6 0.606 0.119 VALID
Sumber: Data Primer (2019). Lampiran 1
43 Berdasarkan Tabel 7. dapat diketahui bahwa nilai Corrected Item-Total Correlation (r-hitung) yang diperoleh seluruh pernyataan untuk ketiga variabel adalah >0,361 yang menunjukkan bahwa seluruh pernyataan yang di uji dengan menggunakan analisis faktor dinyatakan valid.
Tabel 8. Hasil Pengujian Reliabilitas
Variabel Cronbach’s Alpha Nilai acuan Kesimpulan
Cyberloafing 0.817 0.600 Reliabel
Motivasi Berprestasi 0.736 0.600 Reliabel
Self Control 0.736 0.600 Reliabel
Sumber: Data Primer (2019). Lampiran 1
Berdasarkan Tabel 8. di atas, dapat dilihat bahwa nilai Cronbach’s Alpha yang dari ketiga variabel (cyberloafing, motivasi berprestasi, self control) > 0,6 yang menunjukan bahwa instrument dalam penelitian dinyatakan Reliabel.
Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas menggunakan uji statistik yaitu dengan One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Model Regresi bisa dikatakan baik jika data dalam penelitian tersebut terdistribusi normal. Dalam Kolmogorov Smirnov suatu data dikatakan terberdistribusi secara normal jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yang lebih besar dari 0.05.
44 Tabel 9. Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 270
Normal Parametersa,b Mean 0E-7
Std. Deviation 4,58701267
Most Extreme Differences
Absolute ,028
Positive ,027
Negative -,028
Kolmogorov-Smirnov Z ,454
Asymp. Sig. (2-tailed) ,986
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Berdasarkan hasil pengujian one sample Kolmogorov-smirnov Test seperti terlihat pada tabel 9. menunjukan bahwa Asym. Sig. (2-tailed) atau nilai probabilitas (p-value) memiliki nilai lebih besar dari 0,05 yaitu 0,986. Yang artinya data terdistribusi secara normal.
2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas dilakukan dengan membandingkan nilai variences inflation factor (VIF) dan tolerance. Model regresi dinyatakan bebas dari multikolinieritas jika nilai VIF kurang dari 10 dan tolerance lebih besar dari 0,10.
Tabel 10. Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics B
Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 35,231 2,087 16,879 ,000
Cyberloafing ,038 ,038 ,059 ,992 ,322 ,990 1,010
Self Control ,203 ,048 ,249 4,186 ,000 ,990 1,010
a. Dependent Variable: Motivasi Berprestasi
Seperti terlihat pada Tabel 10. pada masing masing nilai VIF lebih kecil dari 10 yaitu sebesar 1,010 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,1 yaitu sebesar
45 0,990. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas dalam model penelitian ini.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glejser dengan cara meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen. Model regresi dikatakan tidak terdapat heteroskedastisitas jika nilai signifikansi lebih dari 0,05.
Tabel 11. Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 1,369 1,233 1,110 ,268
Cyberloafing ,033 ,023 ,089 1,453 ,147
Selfcontrol ,040 ,029 ,085 1,387 ,167
a. Dependent Variable: RES2
Dari tabel 11. diatas dapat diketahui bahwa nilai signikansi dari variabel Cyberloafing sebesar 0,147 dan Self control sebesar 0,167, nilai keduanya lebih dari 0,05 sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.
4. Uji Linearitas
Tabel 12 Uji Linearitas Variabel Cyberloafing
ANOVA Table
Sum of Squares df
Mean
Square F Sig.
Motivasi Berprestasi * Cyberloafing
Between Groups
(Combined) 882,133 37 23,841 1,073 ,366
Linearity 7,084 1 7,084 ,319 ,573
Deviation from Linearity
875,049 36 24,307 1,094 ,338
Within Groups 5156,419 232 22,226
Total 6038,552 269
46 Berdasarkan uji linearitas variabel cyberloafing pada tabel 12 terlihat bahwa nilai sig. Deviation from Linearity adalah 0,338 > 0,05 maka nilai sig lebih besar dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel Cyberloafing adalah linier.
Tabel 13 Uji Linearitas Variabel Self Control
ANOVA Table
Sum of Squares df
Mean
Square F Sig.
Motivasi Berprestasi
*
Selfcontrol
Between Groups
(Combined) 846,238 32 26,445 1,207 ,215 Linearity 357,733 1 357,733 16,328 ,000 Deviation
from Linearity
488,506 31 15,758 ,719 ,864
Within Groups 5192,313 237 21,908
Total 6038,552 269
Berdasarkan uji linearitas variabel self control pada tabel 13 terlihat bahwa nilai sig. Deviation from Linearity adalah 0,864 > 0,05 maka nilai sig lebih besar dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel self control adalah linier.
Uji Hipotesis
1.
Hipotesis pertamaBerikut hasil pengujian regresi yang pertama dengan Cyberloafing sebagai variabel dependen dan motivasi Berprestasi sebagai variabel independent.
Tabel 14. Hasil Nilai T Model Regresi 1
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 42,363 1,243 34,092 ,000
Cyberloafing ,022 ,039 ,034 ,561 ,575
a. Dependent Variable: Motivasi Berprestasi
Persamaan Regresi yang diperoleh adalah
Sehingga dari persamaan tersebut dapat diterjemahkan:
47 1. Jika Konstanta sebesar 42,363 menyatakan bahwa jika tidak ada nilai
Cyberloafing maka nilai motivasi berprestasi sebesar 42,363.
2. Koefisien regresi x sebesar 0,022 maka disetiap penambahan 1 nilai Cyberloafing, maka nilai motivasi berprestasi sebesar 0,022
Hasil Regresi menunjukan t-hitung Cyberloafing sebesar 0,561 dengan signifikansi t sebesar 0,575 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak sehingga perilaku Cyberloafing tidak memiliki hubungan signifikan terhadap motivasi berprestasi.
Tabel 15. Hasil Nilai R Model Regresi 1
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,034a ,001 -,003 4,74399
a. Predictors: (Constant), Cyberloafing
Angka R Square menunjukan koefisien determinan sebesar 0,001, yang mengandung pengertian bahwa 0,001 menunjukan hanya 0,1 % variabel motivasi Berprestasi yang bisa dijelaskan oleh variabel Cyberloafing, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain
Tabel 16. Hasil Nilai F Model Regresi 1
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1
Regression 7,084 1 7,084 ,315 ,575b
Residual 6031,468 268 22,505
Total 6038,552 269
Dari tabel 16. nilai F hitung adalah sebesar 0,315dengan tingkat signifikansi 0,575 lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukan Cyberloafing tidak berpengaruh terhadap motivasi Berprestasi.
48 2. Hipotesis kedua
Berikut hasil pengujian regresi yang kedua dengan Cyberloafing sebagai variabel dependen dan motivasi Berprestasi sebagai variabel independent, serta Self Control sebagai pemoderasi.
Tabel 17. Hasil Nilai T Model Regresi 1
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 40,874 5,935 6,886 ,000
Cyberloafing -,138 ,177 -,215 -,778 ,437
Selfcontrol ,026 ,181 ,032 ,143 ,887
CyberloafingxSelfcontrol ,006 ,005 ,338 1,016 ,311
a. Dependent Variable: Motivasi Berprestasi
Persamaan regresi yang diperoleh
Hasil Regresi menunjukan t hitung Cyberloafing sebesar -0,778 dengan signifikansi t sebesar 0,437 > 0,05 (tidak signifikan). Variabel Self control mempunyai t-hitung sebesar 0,143 dengan signifikansi 0,887 (tidak signifikan).
Variabel Cyberloafing x Self control (interaksi antara variabel cyberloafing dan motivasi berprestasi) mempunyai t hitung sebesar 1,016 dengan signifikansi 0,311 (tidak signifikan) hal ini berarti bahwa variabel Self Control bukan merupakan pemoderasi dalam hubungan antara cyberloafing dengan motivasi berprestasi.
Tabel 18. Hasil Nilai R Model Regresi 2
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,260a ,067 ,057 4,60129
a. Predictors: (Constant), Cyberloafing x Selfcontrol, Self Control, Cyberloafing
Angka R Square menunjukan koefisien determinan atau peranan variance, dapat dilihat dari tabel 12. bahwa terdapat peningkatan R Square dari model regresi 1 yaitu sebesar 0,001 menjadi 0,067 pada model regresi 2. Angka R