• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Tambelo (Bactronophorus sp.)

Tambelo merupakan dekomposer kayu yang penting, khususnya di perairan mangrove produktivitasnya semakin meningkat. Tambelo termasuk ke dalam golongan moluska dimana dibagian kepala terdapat cangkang. Cangkang ini memiliki fungsi untuk mengebor kayu hingga menjadi serbuk sehingga kayu dapat dicerna lebih mudah. Terdapat palet pada ujung tubuhnya yang berfungsi untuk membuat lubang selama kondisi berbahaya atau ketika pengeboran bermasalah. Palet merupakan bagian yang penting dalam proses indentifikasi tambelo. Menurut Syaputra (2003), palet yang berbentuk jangkungan merupakan genus Bactronophorus.

Gambar 3 Tambelo (A); palet dan cangkang tambelo (B)

Secara lengkap tambelo dikelompokkan ke dalam filum Moluska, kelas Bivalva, ordo Myoida, famili Teredinidae, genus Bactronophorus (Turner 1971). Habitat biota ini adalah tumbuhan mangrove yang sudah mati. Tumbuhan mangrove dengan spesies Rhizopora apiculata sangat disukai dibandingkan dengan jenis mangrove lainnya.

Tambelo pada penelitian ini memiliki rendemen daging dan jeroan yang tinggi sebesar 93.98% ± 2.08 dan rendemen cangkang dan palet sebesar 6.02% ± 2.08. Pengukuran rendemen dilakukan dengan menimbang berat cangkang dan palet dengan berat tambelo utuh. Menurut Syaputra et al. (2007), tambelo yang diperoleh dari Kabupaten bangka memiliki rendemen daging sebesar 94.87%, hasil ini tidak berbeda jauh dengan tambelo pada penelitian ini. Karakteristik tambelo dapat dilihat pada Lampiran 1.

Tingginya rendemen disebabkan tambelo memiliki usus yang panjang, dimana usus tersebut dapat menampung lebih banyak serbuk kayu yang merupakan sumber makanannya seperti yang terlihat pada Gambar 3. Sumber makanan dan habitat merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap komposisi kimia suatu makhluk hidup. Komposisi kimia daging tambelo disajikan pada Tabel 1.

14

Tabel 1 Komposisi kimia daging tambelo

Proksimat Tambelo segar (%)

Kadar air 73.93 ± 3.83

Kadar abu 1.24 ± 0.19

Kadar lemak 0.47 ± 0.18

Kadar protein 6.22 ± 0.13

Ket : Data dinyatakan sebagai rata-rata ± SD dari 3 ulangan

Daging tambelo pada penelitian memiliki komposisi kimia (Tabel 1) dengan kadar air 73.9%, kadar abu 1.24%, kadar lemak 0.47%, dan kadar protein 6.22%, sedangkan pada penelitian Syaputra et al. (2007), melaporkan bahwa kandungan proksimat tambelo untuk kadar air 73.60%, kadar abu 1.04%, kadar lemak 4.05%, dan kadar protein 4.29%. Tambelo pada penelitian ini memiliki kadar air, kadar abu, dan kadar protein lebih tinggi, sedangkan untuk kadar lemak lebih rendah. Hal ini dikarenakan tambelo diambil dari tempat yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap komposisi tambelo. Menurut Periyasamy et al. (2011), menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap komposisi kimia moluska, yaitu kondisi lingkungan, jenis sampel, ukuran sampel, jenis makanan, musim, kematangan seksual, dan suhu.

Komposisi kimia yang dihasilkan berhubungan dengan senyawa bioaktif pada tambelo, dimana senyawa bioaktif yang terbentuk merupakan derivat dari komponen kimia tersebut dan berpotensi sebagai antioksidan, antikanker, dan sebagainya. Menurut Grienke et al. (2014), pada moluska ditemukan senyawa bioaktif seperti peptida, dipeptida, squalene, seskuiterpen, terpen, alkaloid, polipropionat, komponen nitrogen, derivat asam lemak, makrolide, dan komponen lainnya yang mempunyai bioaktivitas spesifik. Penelitian Hasan et al. (2015) juga diperoleh pada ekstrak protein dari kerang kepah (Atactodea striata) memiliki asam amino yang lengkap dan mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Aktivitas antioksidan tertinggi pada fraksi ekstrak protein (kejenuhan ammonium sulfat 30-50%) dengan nilai IC50 sebesar 183.75 µg/mL.

Tambelo sendiri memiliki protein lebih rendah dibandingkan dengan moluska lainnya seperti keong taman (Helix aspersa) sebesar 9.87% (Cagiltay et al. 2011), oyster (Crassostrea rivularis) sebesar 8.06%, kerang (Meretrix meretrix) sebesar 10.67%, papia (Paphia papilionacea) sebesar 10.19% (Chen et al. 2012). Golongan moluska termasuk tambelo, memiliki kadar protein lebih rendah dengan biota laut lainnya. Kadar protein pada ikan sebesar 20% (Fuentes et al. 2010) dan krustasea sebesar 15-19% (Marques et al. 2010). Tambelo memiliki kadar lemak yang rendah sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Chen et al. (2012), dimana kandungan lemak pada semua sampel moluska dibawah 3%. Hal ini menunjukkan bahwa moluska merupakan sumber energi yang baik karena memiliki daging yang rendah lemak. Nilai Kadar abu moluska sekitar 1.57-1.72%, tidak berbeda jauh dengan tambelo.

Ekstrak Tambelo

Ekstraksi tambelo dilakukan menggunakan tiga macam pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda yaitu metanol (polar), etil asetat (semi-polar), dan heksana (non polar). Penggunaan ketiga pelarut dipilih untuk mendapatkan senyawa target yang tepat, sehingga mampu memiliki aktivitas biologis. Ekstraksi

15 yang dilakukan diharapkan dapat mengekstrak senyawa yang sesuai dengan kepolaran pelarut. Sarastani (2002) menyatakan bahwa pelarut dapat melarutkan ekstrak yang memiliki sifat kepolaran yang sama.

Filtrat dari hasil ekstraksi dievaporasi, sehingga diperoleh ekstrak dalam bentuk pasta. Rendemen ekstrak (Lampiran 2) metanol tambelo sebesar 3.12% ± 0.62, ekstrak etil asetat 0.68% ± 0.07, dan ekstrak heksana 0.41% ± 0.13. Ekstrak metanol memiliki rendemen lebih banyak dibandingkan dengan dua ekstrak yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa yang terdapat pada tambelo lebih banyak yang bersifat polar, sedangkan senyawa yang bersifat semi-polar dan non-polar lebih sedikit. Menurut Setyawan dan Yudha (2013) menyatakan bahwa pelarut polar dapat melarutkan senyawa polar maupun non-polar karena mempunyai momen dipole yang besar. Menurut Hart et al. (2003), metanol yang bersifat polar juga memiliki berat molekul yang rendah sehingga mudah membentuk ikatan hidrogen pada jaringan sampel yang dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder.

Ketiga ekstrak yang dihasilkan, masing-masing di uji aktivitas biologis, seperti aktivitas antioksidan, inhibisi α-glukosidase, dan antibakteri. Ekstrak terpilih ditentukan berdasarkan hasil dari aktivitas biologis, yang kemudian diperoleh komponen bioaktif dan toksisitas dari ekstrak tersebut.

Aktivitas Antioksidan

Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan melihat efektivitas ekstrak tambelo dalam mereduksi radikal bebas DPPH menggunakan elisa reader dengan panjang gelombang 517 nm. Vitamin C digunakan sebagai pembanding (kontrol positif).

Aktivitas ekstrak menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar persentase penghambatan radikal bebas DPPH (Gambar 4). Persen penghambatan dari variasi konsentrasi digunakan untuk mendapatkan nilai IC50 masing-masing ekstrak. Nilai IC50 menunjukkan konsentrasi sampel yang diperlukan untuk menghambat aktivitas radikal bebas DPPH sebanyak 50%. Nilai IC50 ekstrak metanol, etil asetat, dan heksana masing-masing sebesar 4072.59 µg/mL, 1072.19 µg/mL, dan 3081.03 µg/mL, sedangkan kontrol positif (vit. C) memiliki nilai lebih tinggi sebesar 2.21 µg/mL. Ketiga ekstrak tambelo memiliki nilai IC50 > 150 µg/mL, sehingga termasuk ke dalam aktivitas antioksidan yang lemah. Vitamin C tergolong dalam aktivitas antioksidan yang sangat kuat, karena memiliki nilai IC50 < 50 µg/mL (Blois 1958). Mekanisme kerja vitamin C sebagai antioksidan, yaitu peredam singlet oksigen dan menangkap radikal peroksil (Suranto 2011).

Aktivitas ekstrak dalam menghambat radikal bebas dapat dipengaruhi oleh adanya senyawa aktif yang terdapat di setiap ekstrak, dimana perbedaan pelarut yang digunakan akan berpengaruh terhadap komposisi zat terlarut. Ketiga pelarut pada penelitian ini memiliki sifat kepolaran yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan aktivitas antioksidan yang berbeda pula. Ekstrak dengan pelarut etil asetat tambelo memiliki nilai IC50 lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak metanol dan heksana. Etil asetat sendiri merupakan pelarut semi polar, dimana senyawa potensial yang dihasilkan juga bersifat semi polar. Pelarut ini lebih baik dalam mereduksi senyawa potensial dari tambelo sebagai antioksidan, dibandingkan dengan pelarut lainnya dengan tingkat kepolaran yang berbeda.

16

Berdasarkan hasil tersebut maka ekstrak etil asestat merupakan ekstrak terpilih yang digunakan pada tahap selanjutnya. Aktivitas antioksidan ekstrak tambelo disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Aktivitas antioksidan ekstrak metanol (A), ekstrak etil asetat (B), ekstrak heksana tambelo (C), dan vitamin C (D).

Selain jenis pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda, menurut Shalaby dan Sanaa (2012) hasil aktivitas antioksidan suatu bahan juga dipengaruhi oleh metode ekstraksi, metode pengujian yang digunakan, jenis sampel, usia sampel, dan habitat dimana sampel tersebut diperoleh. Selain itu, rendemen dari ekstrak berpengaruh terhadap banyaknya komponen aktif yang terkandung. Menurut Nurhayati et al. (2009), menyatakan bahwa nilai rendemen yang tinggi menunjukkan komponen bioaktif yang terkandung di dalamnya.

Berbagai macam faktor tersebut berpengaruh terhadap kandungan bioaktif ekstrak tambelo yang berpotensi dalam menghambat radikal bebas. Menurut Nurjanah et al. (2011), senyawa aktif golongan moluska seperti kerang kepah yang berfungsi sebagai antioksidan adalah alkaloid, steroid/triterpenoid, dan flavonoid.

Dokumen terkait