Faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan usahatani adalah faktor internal usahatani yaitu petani dan ketersedian input usahatani. Faktor internal usahatani tersebut meliputi usia petani, tingkat pendidikan petani, pengalaman berusahatani kelapa sawit dan luas lahan.
Usia Petani
Dari data yang diperoleh secara umum usahatani kelapa sawit pada anggota KUD Citra Makarti di usahakan oleh petani dengan rata-rata usia 50 tahun dengan kisaran usia 45 sampai 55 tahun. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan jumlah petani responden kelapa sawit luas lahan 4 hektar yang berusia kurang dari 45 tahun 1 orang atau 6.25 persen, sedangkan petani yang berusia diantara 45 sampai 50 sebanyak 8 orang atau sebanyak 50 persen dan petani yang berusia diatas 50 tahun sebanyak 7 orang atau sebanyak 43.75 persen. Sebaran jumlah dan persentase petani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Sebaran jumlah dan persentase responden berdasarkan usia pada petani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar di KUD Citra Makarti Tahun 2013 Usia (tahun) 4 hektar 2 hektar Jumlah responden (orang) Persentase (%) Jumlah responden (orang) Persentase (%) >45 1 6.25 0 45-50 8 50 7 50.00 >50 7 43.75 7 50.00 Jumlah 16 100.00 14 100.00
Pada petani responden kelapa sawit luas lahan 2 hektar yang berusia kurang dari 45 tahun tidak ada, sedangkan petani yang berusia diantara 45 sampai 50 sebanyak 7 orang atau sebanyak 50 persen dan petani yang berusia diatas 50 tahun sebanyak 7 orang atau sebanyak 50 persen. Umur dapat mempengaruhi pada produktivitas usahatani kelapa sawit, karena umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang dalam bekerja. Usia petani juga akan mempengaruhi lamanya pengalaman petani dalam menjalankan usahatani kelapa sawit. Seluruh petani berjenis kelamin laki-laki.
Tingkat Pendidikan Petani
Dilihat dari tingkat pendidikan petani responden luas lahan 4 hektar berpendidikan SMP yaitu sebanyak 8 orang atau sebanyak 50.00 persen, SMA sebanyak 7 orang atau sebanyak 43.75 persen dan perguruan tinggi sebanyak 1 orang atau sebanyak 6.25 persen. Sebaran jumlah dan persentase petani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 8.
25 Tabel 8 Sebaran jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan pada petani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar di KUD Citra Makarti pada tahun 2013 Tingkat pendidikan 4 hektar 2 hektar Jumlah responden (orang) Persentase (%) Jumlah responden (orang) Persentase (%) SMA 8 50.00 8 57.14 SMP 7 43.75 3 21.43 Perguruan tinggi 1 6.25 3 21.43 Jumlah 16 100.00 14 100.00
Tingkat pendidikan petani responden luas lahan 4 hektar berpendidikan SLTP yaitu sebanyak 8 orang atau sebanyak 50.00 persen, SLTA sebanyak 7 orang atau sebanyak 43.75 persen dan perguruan tinggi sebanyak 1 orang atau sebanyak 6.25 persen.
Pengalaman Berusahatani Kelapa Sawit
Petani kelapa sawit pada KUD Citra Makarti memiliki pengalaman usahatani yang sama yaitu selama 12 tahun pada saat PT Sari Aditya Loka menyerahkan lahan kelapa sawit kepada petani pada saat umur tanam 3 tahun setelah tanaman menghasilkan. Pada umumnya semakin lama pengalaman petani dalam suatu usahatani maka semakin baik petani tersebut mengelola usahataninya. Dari hasil wawancara pada petani responden didapat data bahwa pengalaman berusahatani kelapa sawit 12 tahun.
Luas Lahan dan Status Lahan
Petani yang tergabung dalam KUD Citra Makarti memiliki luas lahan paling sedikit 2 hektar dan paling luas 4 hektar. Luas lahan dapat mempengaruhi penerimaan dan biaya produksi sehingga dapat mempengaruhi pendapatan petani. Dari hasil wawancara dengan petani responden di KUD Citra Makarti lahan yang dimiliki oleh petani adalah milik sendiri. Nama petani dan dengan luasan lahan milik petani dapat dilihat pada Lampiran 1.
Karakteristik petani responden di KUD citra makarti pada luas lahan 4 hektar, petani yang banyak mengusahakan kelapa sawit adalah petani yang memiliki umur berkisar 45 sampai 50 tahun dengan jumlah petani sebanyak 8 orang sedangkan petani luas lahan 2 hektar petani yang banyak mengusahakan kelapa sawit berumur berkisar 45 sampai 50 tahun sebanyak 7 orang dengan memiliki jumlah yang sama pada petani dengan umur diatas 50 tahun yaitu sebanyak 7 orang. Sedangkan pada pendidikan petani, petani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar banyak diusahakan oleh petani dengan tingkat pendidikan SLTP dan untuk tingkat pendidikan perguruan tinggi pada petani luas lahan 2 hektar sebanyak 3 oranag sedang petani luas lahan 4 hektar sebanyak 2 orang. Untuk pengalaman berusahatani kelapa sawit dan kepemilikan lahan petani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar sama-sama memiliki pengalaman yang sama yaitu 12 tahun dan lahan merupakan milik sendiri.
26
Keragaan Usahatani Kelapa Sawit
Usaha perkebunan kelapa sawit yang dilakukan berasal dari program pemerintah dengan pemberian kredit lahan dengan kerjasama bersama perusahaan PT. Sari Aditya Loka dan di koordinir oleh KUD. Awal mulanya pembukaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Pelepat Ilir ini dimulai dari kegiatan transmigrasi penduduk dari jawa ke Kecamatan Pelepat Ilir. Pada saat itu pemerintah memberikan lahan untuk melakukan usaha perkebunan kelapa sawit kepada masyarakat transmigrasi. Pembukaan lahan, penanaman dan perawatan dikelola oleh PT Sari Aditya Loka yang merupakan perusahaan pengelohan kelapa sawit. Pada saat itu pola perkebunan di sebut pola PIR- Trans tahun 1989. Pada tahun 1998 pemerintah daerah Kabupaten Bungo memberikan bantuan berupa kredit lahan kepada petani kelapa sawit untuk melakukan pembukaan usaha perkebunan kelapa sawit. Setiap petani diberikan kredit lahan sebesar 2 hektar. Lahan kredit dari pemerintah dikelola oleh PT. Sari Aditya Loka baik dari pembukaan lahan, penanaman sampai tanaman tersebut menghasilkan, setelah menghasilkan tanaman kelapa sawit tersebut dikembalikan kepada setiap petani dan petani mulai melakukan pembayaran kredit lahan. Pembayaran kredit lahan dikelola oleh KUD Induk (Karya Mukti) selanjutnya uang angsuran kredit lahan petani diserahkan kepada Bank Permata dalam setiap bulannya sampai kredit kepada bank permata lunas setelah lunas petani yang kredit lahan mendapatkan sertifikat lahan. Setelah kredit lahan lunas, diantara petani tersebut ada yang menjual lahannya kepada petani lain sehingga petani yang membeli lahan tersebut dapat memiliki lahan seluas 4 hektar.
Tujuan pembangunan perkebunan melalui pola KKPA adalah untuk membentuk masyarakat perkebunan yang secara kelompok memiliki usahatani terpadu dan secara unit merupakan kegiatan Agrobisnis yang utuh meliputi aspek- aspek produksi, pengolahan dan pemasaran. Kemampuan petani dalam melakukan usaha perkebunan akan dapat meningkatkan pendapatan Petani KKPA. Peningkatan produksi seiring dengan meningkatkan volume produksi CPO dan meningkatkan nilai ekspor. Mendukung program transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah dan meningkatkan kesempatan kerja.
Proses pemanenan kelapa sawit dilakukan 2 kali dalam satu bulan, pupuk yang digunakan petani pada umumnya adalah pupuk Urea, SP 36 dan KCl. Penggunaan pupuk untuk setiap batang kelapa sawit dibutuhkan 1 kg pupuk Urea, 1 kg pupuk SP 36 dan 1.5 kg KCl. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam satu tahun. Harga pupuk Urea Rp 2 300/kg, SP 36 Rp 2 500/kg dan KCL Rp 5 800/kg. Untuk pengendalian hama dan penyakit petani kelapa sawit menggunakan pestisida kimia. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan penyemprotan. Obat-obatan yang digunakan adalah round-up dan gramaxon. Pada luas lahan 4 hektar diperlukan 8 liter round-up dan 8 liter gramaxon, sedangkan untuk luas lahan 2 hektar diperlukan 4 liter round-up dan 4 liter gramaxon dengan harga rondap Rp 75 000/liter dan gramxon Rp 50 000/liter. Dalam standar penggunaan pupuk untuk kelapa sawit dalam setiap tahun tanam berbeda dosis penggunaannya maupun jenis pupuk yang digunakan. Menurut Payung (2008) kisaran dosis dan jumlah aplikasi pupuk kelapa sawit untuk tanaman menghasilkan pada umur 6 tahun sampai >15 tahun dapat dilihat pada Tabel 9.
27 Tabel 9 Kisaran dosis dan jumlah aplikasi pupuk kelapa sawit TM pada umur 6
tahun-umur > 15 tahun(kg/pokok/tahun) Unsur
hara
Jenis pupuk
Umur tanam kelapa sawit
6-15 tahun >15 tahun
Juml.apl. Min. Maks. Juml.apl Min. Maks.
N Urea 2 1.00 3.00 2 1.50 2.50 ZA - - - - RP 1 1.25 3.50 1 1.25 3.00 P TSP 1 1.00 3.00 1 1.00 2.00 K MOP 1-2 1.50 3.50 1 1.50 2.25 Kieserite 1 1.00 2.00 1 0.50 3.00 mg Abu janjang 1 2.00 4.00 1 2.00 3.00 B HGFB - - - - Total 5-6 4.50 12.00 5 4.75 10.75 Sumber: Payung (2008)
Pemupukan kelapa sawit. Pada usahatani luasan lahan 4 hektar rata-rata TBS yang dihasilkan sebesar 12 887 kg/ha pertahun, rata-rata penggunaan pupuk Urea 1 000 Kg, SP 36 sebesar 1 000 kg dan KCL sebesar 1 500 kg, penggunaan rata-rata untuk pengendalian hama dan penyakit rondap yang diperlukan adalah sebesar 16 liter dan gramaxon 16 liter. Rata-rata output dan input yang digunakan dalam usahatani kelapa sawit luasan lahan 4 hektar dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Rata-rata hasil output dan input yang digunakan dalam usahatani kelapa
sawit luas lahan 4 hektar dalam setahun
No Komponen Jumlah Per hektar Satuan
A Output :
Tandan Buah Segar 51 549 12 887 kg
B Input : Pupuk a. Pupuk Urea 1 000 250 kg b. Pupuk SP 36 1 000 250 kg c. Pupuk KCL 1 500 375 kg Jumlah 3 500 875 kg
Hama dan penyakit
a. Round-up 16 4 liter
b. Gramaxon 16 4 liter
Jumlah 32 8 liter
Pada usahatani luasan lahan 2 hektar diperoleh rata-rata TBS yang dihasilkan sebesar 10 081 kg/ha pertahun, rata-rata penggunaan pupuk Urea 500 kg atau 250 kg/ha, SP36 sebesar 500 kg atau 250 kg/ha dan KCL sebesar 750 kg atau 375 kg/ha, penggunaan rata-rata untuk pengendalian hama dan penyakit rondap yang diperlukan adalah sebesar 8 liter dan gramaxon 8 liter. Rata-rata hasil output dan input yang digunakan dalam usahatani kelapa sawit luasan lahan 4 hektar dapat dilihat pada Tabel 11.
28
Tabel 11 Rata-rata hasil output dan input yang digunakan dalam usahatani kelapa sawit luas lahan 2 hektar dalam setahun
No Komponen Jumlah Per hektar Satuan
A Output :
Tandan Buah Segar 20 036 10 018 Kg B Input : Pupuk a.Pupuk Urea 500 250 Kg b.Pupuk SP 36 500 250 Kg c.Pupuk KCL 750 375 Kg Jumlah 1 750 875
Hama dan penyakit
a.Round-up 8 4 Liter
b.Gramaxon 8 4 Liter
Jumlah 16 8
Tenaga kerja. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani kelapa sawit terdiri dari tenaga kerja panen, pemupukan, penyemprotan hama dan penyakit tanaman dan meruning. Setiap petani luas lahan 4 hektar menggunakan tenaga kerja panen sebanyak 2 orang dan luas lahan 2 hektar menggunakan tenaga kerja sebanyak 1 orang, untuk tenaga kerja pemupukan luas lahan 4 hektar membutuhkan 6 orang sedangkan luas lahan 2 hektar membutuhkan sebanyak 3 orang, untuk penyemprotan masing-masing luas lahan 4 hektar dan 2 hektar membutuhkan 2 orang dan 1 orang dan untuk meruning masing-masing luasan lahan 4 hektar dan 2 hektar membutuhkan tenaga kerja sebanyak 2 orang dan 1 orang.
Peralatan. Peralatan yang digunakan oleh petani responden pada KUD Citra Makarti pada umumnya milik sendiri. Adapun macam-macam peralatan yang digunakan untuk budidaya kelapa sawit adalah mesin rumput, dodos, egrek, tangkai, angkong, cangkul dan parang. Harga mesin rumput adalah Rp 1 500 000, dodos sebesar Rp 90 000, egrek sebesar Rp 45 000, tangkai sebesar Rp 45 000, angkong Rp 350 000, cangkul sebesar Rp 37 000 dan parang Rp 20 000.
Pada petani luas lahan 4 hektar memiliki mesin rumput dengan jumlah 32 unit setiap petani memiliki 2 unit dengan harga beli Rp 1 500 000 per unit umur ekonomis 5 tahun dan rata-rata nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 600 000, dodos 32 unit dengan harga beli Rp 90 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan sebesar Rp 90 000, egrek 32 unit dengan harga Rp 45 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan sebesar Rp 45 000, tangkai 32 unit dengan harga Rp 45 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan sebesar Rp 45 000, angkong 32 unit dengan harga Rp 350 000 per unit umur ekonomis 5 tahun dengan nilai penyusutan sebesar Rp 140 000, cangkul 64 unit dengan harga Rp 37 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan Rp 74 000 dan parang 64 unit dengan harga Rp 20 000 umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan Rp 40 000. Perhitungan Penyusutan alat pertanian pada petani luas lahan 4 hektar dari 06 September 2012 sampai 20 September tahun 2013 pada Tabel 12.
29 Tabel 12 Penyusutan rata-rata alat pertanian usahatani kelapa sawit luas lahan 4
hektar tahun 2012-2013 Peralatan Jumlah (unit) Harga beli (Rp) Total (Rp) Umur (tahun)
Rata-rata Per hektar
Mesin rumput 32 1 500 000 48 000 000 5 600 000 150 000 Dodos 32 90 000 2 880 000 2 90 000 22 500 Egrek 32 45 000 1 440 000 2 45 000 11 250 Tangkai 32 45 000 1 440 000 2 45 000 11 250 Angkong 32 350 000 11 200 000 5 140 000 35 000 Cangkul 64 37 000 2 368 000 2 74 000 18 500 Parang 64 20 000 1 280 000 2 40 000 10 000 Jumlah 1 034 000 258 500
Pada petani luas lahan 2 hektar memiliki mesin rumput dengan jumlah 14 unit setiap petani memiliki 1 unit dengan harga beli Rp 1 500 000 per unit umur ekonomis 5 tahun dan nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 300 000, dodos 14 unit dengan harga beli Rp 90 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 45 000, egrek 14 unit dengan harga Rp 45 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 22 500, tangkai 14 unit dengan harga Rp 45 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 22 500, angkong 14 unit dengan harga Rp 350 000 per unit umur ekonomis 5 tahun dengan nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 70 000, cangkul 28 unit dengan harga Rp 37 000 per unit umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 37 000 dan parang 28 unit dengan harga Rp 20 000 umur ekonomis 2 tahun dengan nilai penyusutan setiap petani sebesar Rp 20 000.
Tabel 13 Penyusutan alat pertanian usahatani kelapa sawit luas lahan 2 hektar dari 06 September 2012 – 20 September 2013 Peralatan Jumlah (unit) Harga beli (Rp) Total (Rp) Umur (tahun)
Rata-rata Per hektar
Mesinr umput 14 15 00 000 21 000 000 5 300 000 150 000 Dodos 14 90 000 1 260 000 2 45 000 22 500 Egrek 14 45 000 630 000 2 22 500 11 250 Tangkai 14 45 000 630 000 2 22 500 11 250 Angkong 14 350 000 4 900 000 5 70 000 35 000 Cangkul 28 37 000 1 036 000 2 37 000 18 500 Parang 28 20 000 560 000 2 20 000 10 000 Jumlah 517 000 258 500
Analisis Pendapatan Usahatani Kelapa Sawit
Perhitungan Kegiatan usahatani kelapa sawit dikaji dalam tiga indikator yaitu pendapatan usahatani, R/C dan ukuran kinerja petani berdasarkan imbalan kepada modal petani. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya-biaya usahatani yang dikeluarkan. Perhitungan pendapatan usahatani dibagi menjadi dua yaitu pendapatan usahatani dengan luas lahan 4 hektar dan luas lahan 2 hektar. Biaya total terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai.
30
Penerimaan Usahatani Kelapa Sawit
Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Produksi standar TBS untuk umur tanam 15 tahun adalah sebesar 28 000 kg/ha6 Hasil penjualan kelapa sawit yang merupakan output dalam usahatani merupakan pendapatan kotor sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang digunakan dalam usahatani. Pada analisis penerimaan ini TBS yang dihasilkan seluruhnya dijual. Perhitungan penerimaan usahatani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar. lampiran 2 dan lampiran 3.
Lampiran 2 dan lampiran 3 menginformasikan hasil produksi perhektar usahatani luas lahan 4 hektar dalam satu setahun sebesar 16 754 kilogram dan usahatani luasan lahan 2 hektar sebesar 19 806 kilogram. Dari hasil produksi dapat dijelaskan bahwa produksi perhektar lebih tinggi adalah usahatani dengan luas lahan 2 hektar. Tingginya hasil usahatani luasan lahan 2 hektar dapat dipengaruhi dari keintensifan pemeliharfaan tanaman kelapa sawit dibandingkan 4 hektar, meskipun begitu hasil produksi usahatani luas lahan 2 hektar masih berada dibawah standar produksi TBS yang ditetapkan oleh PPKS Medan. Rendahnya produksi tanaman kelapa sawit ini dapat dilihat dari kelas lahan dan faktor penghambatnya. Tidak sedikit kebun yang tidak dapat disamakan karena topografi, drainase, jenis tanah dan curah hujan efek dari rendahnya produksi juga dapat terjadi pada saat pemanenan yang sering terkendala karena topografi dan kondisi jalan. ( terutama pada saat musim hujan), hal tersebut menyebabkan panen tertunda dan buah tidak terangkut pada hari panen dan membusuk dikebun (Pardamean, 2011). Hal lain yang juga berpengaruh penurunan produksi adalah potong buah mentah, buah masak tinggak di batang, brondolan tidak diambil (Pahan, 2008).
Produksi akan mempengaruhi penerimaan usahatani kelapa sawit. Harga yang diterima oleh petani responden sebesar Rp 1 274 perkilogram yang diperoleh dari harga rata-rata selama satu tahun. Diperoleh penerimaan untuk usahatani luas lahan 4 hektar sebesar Rp 21 334 045/ha pertahun dan untuk usahatani luasan lahan 2 hektar sebesar Rp 25 232 685/ha per tahun. Dari penerimaan terlihat bahwa usahatani luas lahan 2 hektar memiliki nilai lebih besar dibandingkan 4 hektar disebabkan oleh hasil produksi perhektar usahatani 2 hektar lebih tinggi dibandingkan 4 hektar.
Biaya Usahatani kelapa sawit
Biaya usahatani luas lahan 4 hektar. Biaya yang dikeluarkan dalam usahatani kelapa sawit terdiri dari biaya tunai dan tidak tunai. Jumlah biaya tunai yang dikeluarkan oleh usahatani 4 hektar adalah sebesar 60.10 persen dari biaya total untuk biaya pupuk yang terdiri dari tiga jenis pupuk yaitu urea, sp 36 dan kcl, 24.95 persen dari total biaya untuk biaya obat-obatan yang terdiri dari gramaxon dan round-up, 3.70persen dari biaya total untuk upah tenaga kerja yang terdiri dari tenaga kerja panen, pemupukan, meruning dan penyemprotan, 15.28 persen dari biaya total untuk biaya potongan-potongan dari KUD pada saat melakukan melakukan pemasaran ke pabrik kelapa sawit dan koontribusi untuk desa yang terdiri dari (mobil, muat/jasa timbang, retribusi asuransi, fee desa dan KUD, SPSI
6
PPKS.2013.membangun kelapa sawit [Internet]. [Diunduh 2014 Februari 16]. Tersedia pada : http://www.membangun kebun kelapasawit
31 jasa kelompok, uang jalan dan uang pangkas), 15.92 persen dari biaya total untuk pajak lahan. Biaya tidak tunai terdiri dari penyusutan penyusutan 1.91 persen dari biaya total, 1.02 persen dari biaya total untuk tanaman kelapa sawit dan 36.97 persen dari biaya total untuk sewa lahan. Total biaya tidak tunai adalah sebesar 39.90 persen dari biaya total. Biaya usahatani luas lahan 2 hektar. Jumlah biaya tunai yang dikeluarkan oleh usahatani 2 hektar adalah sebesar 64.57 persen dari biaya total untuk biaya pupuk yang terdiri dari tiga jenis pupuk yaitu urea, sp 36 dan kcl, 22.63 persen dari total biaya untuk biaya obat-obatan yang terdiri dari gramaxon dan rondap, 17.81 persen dari biaya total untuk upah tenaga kerja yang terdiri dari tenaga kerja panen, pemupukan, meruning dan penyemprotan, 20.55 persen dari biaya total untuk biaya potongan-potongan dari KUD pada saat melakukan melakukan pemasaran ke pabrik kelapa sawit dan koontribusi untuk desa yang terdiri dari (mobil, muat/jasa timbang, retribusi asuransi, fee desa dan KUD, SPSI jasa kelompok,. Uang jalan dan uang pangkas), 0.22 persen dari biaya total untuk pajak lahan. Biaya tidak tunai terdiri dari penyusutan 1.73 persen dari biaya total, 0.17 persen dari biaya total untuk tanaman kelapa sawit dan 33.53 persen dari biaya total untuk sewa lahan dan total biaya tidak tunai adalah sebesar 35.43 persen dari biaya total. Biaya yang terbesar pada usahatani luasan lahan 2 hektar adalah biaya tidak tunai, biaya yang terbesar pada biaya tidak tunai adalah sewa lahan, nilai lahan yang digunakan adalah nilai sewa lahan pada saat ini Biaya terbesar usahatani kelapa sawit luas lahan 4 hektar dan 2 hektar adalah biaya tidak tunai. Lampiran 4 dan 5.
Pendapatan Usahatani Kelapa Sawit
Pendapatan diperoleh dari penerimaan usahatani dikurangi biaya yang dikeluarkan. Rata-rata penerimaan usahatani kelapa sawit per hektar luas lahan 4 hektar adalah sebesar Rp 21 344 045 per tahun dan penerimaan usahatani perhektar usahatani luas lahan 2 hektar adalah sebesar Rp 25 232 685 per tahun. Pendapatan usahatani kelapa sawit berdasarkan luas lahan 4 hektar dan 2 hektar dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Rata-rata pendapatan usahatani kelapa sawit per hektar pada Petani KUD Citra Makarti dari 06 September 2013-20 September 2013
No Uraian 4 hektar 2 hektar
A Penerimaan Produksi TBS 16 754 19 806 Harga TBS (Rp)/Kg 1 274 1 274 Penerimaan TBS 21 344 045 25 232 685 B Biaya 1 Biaya Tunai 8 128 035 9 627 813
2 Biaya Tidak Tunai 5 397 100 5 283 700
Total Biaya 13 525 135 14 911 513
C Pendapatan Atas Biaya total 7 818 910 10 321 172 D Pendapatan Atas Biaya tunai 13 216 010 15 604 872
Pendapatan atas biaya total untuk usahatani luas lahan 4 hektar adalah sebesar Rp 7 818 910 dan untuk luas lahan 2 hektar adalah sebesar Rp 10 321 172. Sedangkan untuk pendapatan atas biaya tunai untuk usahatani luas lahan 4 hektar adalah sebesar Rp 13 216 010 dan untuk luas lahan 2 hektar Rp 15 604 872.
32
Rasio Penerimaan dan Biaya
Rasio penerimaan dan biaya adalah penerimaan untuk setiap rupiah yang dikeluarkan. Dengan analisis ini akan dapat diketahui apakah usaha perkebunan kelapa sawit yang dilakukan efisien atau tidak. Usaha dikatakan efisien jika nilai R/C yang didapat lebih dari satu dan tidak efisien jika nilai R/C yang didapat adalah kurang dari satu. Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai. R/C yang dihitung adalah R/C atas biaya total dan R/C atas biaya tunai. Berdasarkan Tabel 15, diperoleh R/C atas biaya total untuk luas lahan 4 hektar adalah 1.58, artinya untuk setiap rupiah biaya total yang dikeluarkan akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 1.58 sedangkan untuk luas lahan 2 hektar adalah sebesar 1.69, yang berarti untuk setiap rupiah biaya tunai akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 1.69.
Tabel 15 Nilai R/C petani luas lahan 4 hektar dan 2 hektar dalam setahun
Uraian 4 hektar 2 hektar
R/C Atas biaya total 1.58 1.69
R/C Atas biaya tunai 2.63 2.62
R/C atas biaya tunai pada luas lahan 4 hektar adalah 2.63 hampir sama dengan nilai R/C atas biaya tunai yang dihasilkan oleh petani luas lahan 2 hektar yaitu 2.62. Hal ini berarti usaha kebun plasma kelapa sawit dengan luas lahan 4 hektar lebih menguntungkan dan lebih efisien.
Imbalan Kepada Modal Petani (return to farm equity capital)
Ukuran keuntungan lainnya yang dapat dihitung adalah imbalan modal petani. Perhitungan imbalan modal petani ini diperoleh dengan mengurangkan nilai kerja keluarga dari penghasilan bersih usahatani. Ukuran ini umumnya dinyatakan dalam persen terhadap nilai modal petani. Imbalan terhadap modal petani dianalis dalam dua bagian yaitu petani luas lahan 4 hektar dan luas lahan 2 hektar. Masing-masing imbalan kepada modal petani 4 hektar dan 2 hektar dibagi menjadi dua yaitu imbalan kepada modal petani tunai dan tidak tunai. Imbalan kepada modal petani atas penggunaan modal total petani luasan lahan 4 hektar adalah sebesar 0.58 yang artinya setiap Rp 1 000 000 modal total petani yang dikeluarkan, petani mendapatkan pendapatan sebesar Rp 580 000. Sedangkan untuk imbalan kepada modal petani atas modal tunai adalah sebesar 1.63 yang artinya setiap Rp 1 000 000