Sekolah SMA Budi Mulia terletak di Jalan Kapten Muslihat nomor 22 Bogor. Sekolah ini terletak di pusat keramaian dan letaknya sangat strategis sehingga banyak kendaraan umum yang melaluinya. SMA Budi Mulia Bogor
memiliki bangunan sekolah seluas 1835m2 dan luas ruang kelas 72m2. Fasilitas
fisik yang dimiliki meliputi ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, perpustakaan, laboratorium (komputer, fisika, kimia dan biologi), ruang hotspot, ruang seni, ruang kegiatan, ruang konseling, kantin, gudang, toilet dan UKS (Unit Kesehatan Siswa). Fasilitas lahan yang ada terdiri atas lapangan olahraga dan lapangan parkir.
SMA Budi Mulia Bogor merupakan salah satu sekolah swasta favorit yang unggul di Kota Bogor. Visi dari sekolah ini adalah “SMA Budi Mulia unggul dalam pembentukan kedewasaan pribadi berdasarkan semangat kebersamaan, kekeluargaan guna meningkatkan profesionalisme yang diwujudkan melalui keteladanan dan cinta kasih”. Saat ini SMA Budi Mulia Bogor dikepalai oleh Dra. Cecilia Hendrawati. Guru dan pegawai SMA Budi Mulia Bogor berjumlah 43 orang. Jumlah siswa/siswi SMA Budi Mulia Bogor adalah 719 orang dengan rincian 260 orang kelas X, 259 orang kelas XI, dan 200 orang kelas XII. Waktu belajarnya dimulai dari pukul 07.15 s.d. pukul 13.30 untuk semua kelas. Selain kegiatan intrakurikuler, SMA Budi Mulia Bogor juga mendukung kegiatan ekstrakurikuler akademik dan nonakademik.
Karakteristik Remaja Putri
Contoh dalam penelitian ini adalah siswa remaja putri SMA Budi Mulia Bogor kelas XI. Tabel 3 menjelaskan karakteristik remaja putri berdasarkan karakteristik individu dan status gizi remaja putri. Karakteristik individu yang diamati meliputi usia dan asal daerah. Contoh dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan dengan jumlah contoh sebanyak 60 orang yang terdiri dari 35 orang berstatus gizi normal dan 25 orang berstatus gizi gemuk/obes.
Usia Remaja Putri
Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa contoh dalam penelitian ini berusia 15-17 tahun. Pada kelompok usia 16 tahun remaja putri berstatus gizi normal berjumlah 82.9% dan remaja putri berstatus gizi gemuk/obes berjumlah 72%.
Rentang usia remaja putri dalam penelitian ini termasuk dalam masa remaja
pertengahan (15-18 tahun). Hasil uji t menunjukkan tidak terdapat perbedaan
yang nyata antara usia remaja putri yang berstatus gizi normal dan gemuk/obes (p>0.05).
Asal Daerah Remaja Putri
Persentase remaja putri yang berasal dari Bogor pada kelompok normal
sebesar 88.6% dan pada kelompok gemuk/obes sebesar 96%. Hasil uji Chi-
square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara asal daerah kedua kelompok remaja putri (p>0.05).
Tabel 3 Sebaran remaja putri berdasarkan karakteristik individu dan status gizi Status Gizi
Karakteristik Individu Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n % Usia 15 tahun 0 0 1 4 1 1.7 16 tahun 29 82.9 18 72 47 78.3 17 tahun 6 17.1 6 24 12 20 Total 35 100 25 100 60 100 Asal daerah Bogor 31 88.6 24 96 55 92 Luar Bogor 4 11.4 1 4 5 8 Total 35 100 25 100 60 100
Karakteristik Keluarga Remaja Putri
Tabel 4 menjelaskan tentang kondisi sosial ekonomi keluarga remaja putri yang dilihat berdasarkan jumlah anggota keluarga, pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua dan pendapatan orangtua.
Besar Keluarga
Besar keluarga menurut BKKBN (2009) dibagi menjadi keluarga kecil jika
jumlah anggota keluarga 5 4 orang, sedang jika 5-6 orang dan besar jika z 7
orang. Tabel 4 menunjukkan bahwa besar keluarga kedua kelompok remaja putri merupakan keluarga kecil (58.3%) dan sedang (41.7%). Menurut Suhardjo (1996), semakin banyak anggota keluarga, maka makanan untuk setiap orang akan berkurang, akan tetapi dalam penelitian ini besar keluarga tidak menjadi faktor utama yang berpengaruh besar terhadap konsumsi pangan remaja putri. Hal ini diduga karena remaja putri yang menjadi contoh dalam penelitian ini
28
berasal dari keluarga yang tingkat pendapatan orangtuanya tergolong menengah
ke atas. Hasil uji t menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata antara
besar keluarga remaja putri berstatus gizi normal dan gemuk/obes (p>0.05). Tabel 4 Sebaran remaja putri berdasarkan kondisi sosial
ekonomi keluarga dan status gizi
Status Gizi Karakteristik Keluarga
Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n % Besar Keluarga Kecil Sedang Besar Total 21 14 0 35 60 40 0 100 14 11 0 25 56 44 0 100 35 25 0 60 58.3 41.7 0 100 Pendidikan Orang tua
SD/Sederajat 0 0 1 4 1 1.7
SMP/Sederajat 4 11.4 0 0 4 6.7
SMA/Sederajat 15 42.9 11 44 26 43.3
Perguruan Tinggi/Sederajat 16 45.7 13 52 29 48.3
Total 35 100 25 100 60 100
Pekerjaan Orang tua
PNS 6 17.1 2 8 8 13.3 Pegawai Swasta 18 51.4 12 48 30 50 Wiraswasta 9 25.7 9 36 18 30 Polisi/ABRI 0 0 0 0 0 0 Lainnya 2 5.7 2 8 4 6.7 Total 35 100 25 100 60 100
Pendapatan Orang tua
< Rp 2.000.000 2 5.7 3 12 5 8.3 Rp 2.000.000-<Rp 3.000.000 12 34.3 10 40 22 36.7 Rp 3.000.000 - Rp 5.000.000 14 40 5 20 19 31.7 > Rp 5.000.000 7 20 7 28 14 23.3 Total 35 100 25 100 60 100 Pekerjaan Orangtua
Pekerjaan orangtua (ayah) remaja putri terdiri dari PNS, pegawai swasta, wiraswasta dan lainnya (pensiunan). Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa sebagian besar orangtua remaja putri (50%) bekerja sebagai pegawai swasta. Hanya 13.3% orangtua dari remaja putri berstatus gizi normal dan gemuk/obes bekerja sebagai PNS. Tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) antara pekerjaan orangtua remaja putri berstatus gizi normal dan remaja putri berstatus gizi gemuk/obes.
Pendidikan Orangtua
Tingkat pendidikan orangtua yang baik akan memungkinkan orangtua dapat memantau dan menerima informasi tentang kesehatan anaknya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka diasumsikan bahwa kemampuannya akan semakin baik dalam mengakses dan menyerap informasi serta menerima suatu inovasi (Isnani 2011). Pendidikan orangtua (ayah) dikategorikan menjadi empat, yaitu SD/sederajat, SMP/sederajat, SMA/sederajat dan perguruan tinggi/sederajat. Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri berstatus gizi normal dan gemuk/obesitas memiliki orangtua dengan tingkat pendidikan terakhir SMA (43.3%) dan perguruan tinggi (48.3%). Terdapat orangtua yang memiliki tingkat pendidikan terakhir hanya sampai SD (1.7%).
Menurut Suhardjo et al. (1988) tingkat pendidikan yang semakin tinggi akan
mempengaruhi tingkat pendapatan yang diperoleh seseorang. Hasil uji Chi-
square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pendidikan ayah kedua kelompok remaja putri (p>0.05).
Pendapatan Orangtua
Pendapatan orangtua pada penelitian ini diukur dari pendapatan ayah selama 1 bulan. Pendapatan orangtua diklasifikasikan menurut kisaran pendapatan sebagai berikut: <Rp 2.000.000, Rp 2.000.000 – <Rp 3.000.000, Rp 3.000.000 – Rp 5.000.000 dan >Rp 5.000.000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 23.3% orangtua remaja putri memiliki pendapatan perbulan >Rp 5.000 000. Terdapat 8.3% remaja putri yang memiliki orangtua dengan pendapatan perbulan <Rp 2.000.000 (Tabel 4). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa besar pendapatan orangtua remaja putri yang berstatus gizi normal dan
gemuk/obesitas berada pada rentang ekonomi menengah ke atas. Hasil uji Chi-
square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan orangtua kedua kelompok remaja putri (p>0.05).
Pengetahuan Gizi
Pengetahuan gizi adalah kemampuan kognitif serta pemahaman contoh tentang gizi. Pengetahuan gizi diukur dari kemampuan contoh dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan gizi secara umum yang disiapkan dalam kuesioner. Terdapat 20 buah pertanyaan pilihan berganda dengan memilih
Normal (n=35) Gemuk/Obes t-test (n=25) No Pengetahuan Gizi n % n % p
1 Zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.
2 Konsumsi energi berlebihan disimpan dalam bentuk lemak.
3 Makanan berguna bagi tubuh untuk sumber tenaga, pembangun dan pengatur.
4 Contoh pangan sumber protein nabati adalah tahu dan tempe.
5 Fungsi air bagi tubuh adalah untuk mengatur suhu tubuh.
6 Kata yang berarti kegemukan adalah obesitas.
7 Kegemukan dihadapi remaja karena kelebihan karbohidrat dan lemak. 8 Makanan yang sehat adalah makan
beraneka ragam makanan dalam jumlah seimbang.
9 Kebutuhan gizi dapat dipenuhi dengan cara mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.
10 Contoh menu yang sehat (rendah lemak, garam, gula dan tinggi serat) di restoran fastfood adalah nasi putih, ayam goreng, sop sayuran dan air mineral.
11 Minuman yang sehat adalah air putih. 12 Pengertian fastfood adalah makanan
tinggi kalori, rendah zat gizi.
13 Akibat mengkonsumsi fastfood setiap hari adalah timbulnya penyakit jantung dan diabetes.
14 Usaha untuk mendapatkan berat badan ideal adalah konsumsi gizi seimbang dan aktivitas fisik.
15 Keberhasilan menurunkan berat badan pada penderita overweight dipengaruhi oleh motivasi untuk hidup lebih sehat 20 57.1 16 64 0.600 28 80 23 92 0.179 9 25.7 5 20 0.613 25 71.4 20 80 0.458 17 48.6 9 36 0.341 33 94.3 23 92 0.732 26 74.3 23 92 0.062 33 94.3 24 96 0.812 19 54.3 20 80 0.034 34 97.1 24 96 0.812 35 100 25 100 - 29 82.9 21 84 0.909 33 94.3 23 92 0.732 34 97.1 21 84 0.111 32 91.4 24 96 0.492 0
menjelaskan mengenai persentase jawaban dari setiap pertanyaan yang dapat dijawab benar oleh remaja putri yang menjadi contoh dalam penelitian ini.
Tabel 5 Sebaran remaja putri berdasarkan jawaban yang benar dari pertanyaan tentang pengetahuan gizi
16 Salah satu gangguan makan yang terjadi pada remaja adalah bulimia nervosa
17 Aktivitas fisik yang sehat adalah mengepel, mencuci baju dan jalan kaki.
18 Kegiatan fisik dan olahraga bermanfaat untuk mengontrol kelebihan berat badan.
19 Waktu olahraga yang baik adalah dua kali seminggu selama 30 menit. 20 Tekanan darah manusia yang normal
adalah 120/80 mmHg. 26 74.3 16 64 0.400 33 94.3 25 100 0.160 34 97.1 24 96 0.812 22 62.9 18 72 0.467 23 65.7 16 64 0.893
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui perbedaan pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi normal dengan remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes. Hasil uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara jawaban remaja putri yang berstatus gizi normal dan remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes pada pertanyaan nomor 9 (p<0.05).
Khomsan (2000) mengkategorikan tingkat pengetahuan gizi menjadi 3 bagian, yaitu tingkat pengetahuan rendah (<60%), sedang (60-80%) dan tinggi (80%). Tabel 6 menunjukkan hasil sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi dan status gizi.
Tabel 6 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pengetahuan gizi dan status gizi
Pengetahuan Gizi Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n %
Kurang (<_ 60%) 1 2.9 0 0 1 1.7
Sedang (60-80%) 19 54.3 15 60 34 56.7
Baik (> 80%) 15 42.9 10 40 25 41.7
Total 35 100 25 100 60 100
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan gizi remaja putri pada contoh penelitian ini tergolong sudah baik. Sebagian besar (56.7%) remaja putri memiliki tingkat pengetahuan sedang dan 41.7% remaja putri memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Namun, masih terdapat 1.7% remaja putri yang memiliki tingkat pengetahuan gizi yang kurang pada remaja putri yang berstatus gizi normal.
2
Hasil uji t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan
(p>0.05) antara tingkat pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi normal dan gemuk/obes. Hal ini dikarenakan 54.3% remaja putri berstatus gizi normal memiliki pengetahuan gizi sedang dan 42.9% memiliki pengetahuan gizi yang baik sedangkan 60% remaja putri berstatus gizi gemuk/obes memiliki pengetahuan gizi sedang dan 40% memiliki pengetahuan gizi baik. Berdasarkan Tabel 6 tersebut dapat juga diketahui bahwa pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes lebih tinggi daripada remaja putri yang berstatus gizi normal. Hal ini dikarenakan seseorang yang berstatus gizi gemuk/obes cenderung takut dengan penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh kegemukan, sehingga mereka lebi mencari informasi-informasi mengenai hal tersebut sehingga pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes lebih tinggi (Wirakusumah 1994).
Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan merupakan tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan makan yang meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan. Persepsi seseorang terhadap bentuk tubuhnya dan terhadap kegemukan akan berpengaruh terhadap perilaku makannya. Dalam penelitian ini dilakukan skoring kebiasaan makan, semakin besar skor kebiasaan makan maka semakin baik kebiasaan makan orang tersebut. Adapun kebiasaan makan yang diberi skor dalam penelitian ini adalah frekuensi makan, kebiasaan makan berlebihan saat sedang stress, kebiasaan
sarapan, kebiasaan jajan di sekolah, kebiasaan mengonsumsi fast food dan soft
drink, kebiasaan mengonsumsi camilan, kebiasaan mengonsumsi sayur dan kebiasaan mengonsumsi buah. Berikut adalah Tabel 7 yang menunjukkan sebaran remaja putri berdasarkan skor kebiasaan makan.
Tabel 7 Sebaran remaja putri berdasarkan skor kebiasaan makan dan status gizi Skor Kebiasaan Makan Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n % Rendah (<_ 60%) 28 80 14 56 42 70 Sedang (60-80%) 6 17.1 11 44 17 28.3 Tinggi (> 80%) 1 2.9 0 0 1 1.7 Total 35 100 25 100 60 100 Rata-rata ± SD 51.7 ± 12.2
sebagian besar (70%) remaja putri memiliki skor kebiasaan makan yang termasuk dalam kategori rendah dengan rata-rata skor keseluruhan sebesar 51.7 dengan standar deviasi 12.2. Hal ini dikarenakan sebagian besar remaja putri sering melewatkan sarapan sehingga memiliki frekuensi makan makanan utama sebanyak 1-2 kali/hari. Selain itu remaja putri juga menyukai camilan gurih dan
gorengan serta memiliki kebiasaan mengonsumsi soft drink. Hasil uji t
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kebiasaan makan kedua kelompok remaja putri (p>0.05). Berikut adalah Tabel yang menunjukkan sebaran remaja putri berdasarkan frekuensi makan dalam sehari dan kebiasaan sarapan remaja putri.
Tabel 8 Sebaran remaja putri berdasarkan frekuensi makan dan kebiasaan sarapan
Kebiasaan Makan Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n %
Frekuensi makan sehari
1-2 kali/hari 18 51.4 10 40 28 46.7 3-4 kali/hari 17 48.6 15 60 32 53.3 > 4 kali/hari 0 0 0 0 0 0 Total 35 100 25 100 60 100 Kebiasaan sarapan Ya 19 54.3 14 56 33 55 Tidak 16 45.7 11 44 27 45 Total 35 100 25 100 60 100
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar (53.3%) remaja putri terbiasa makan dengan frekuensi 3-4 kali/hari dan sisanya sebesar 46.7% terbiasa makan dengan frekuensi 1-2 kali/hari. Khomsan (2003) menyatakan bahwa frekuensi makan yang baik adalah 3 kali dalam sehari untuk menghindarkan kekosongan lambung. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Priyanto (2007) terbukti bahwa kelebihan frekuensi makan makanan utama dan kelebihan asupan energi merupakan faktor risiko kejadian kegemukan. Akan tetapi dalam penelitian ini frekuensi makan remaja putri gemuk/obes sebagian besar (60%) berada pada frekuensi 3-4 kali/hari. Hal ini menunjukkan bahwa remaja putri memiliki frekuensi makan yang baik, tetapi pada saat dilakukan
4
khususnya makan malam dengan alasan sedang membatasi kalori yang dikonsumsi.
Sebagian besar (55%) remaja putri terbiasa melakukan sarapan sebelum berangkat sekolah. Selain itu, sebesar 45% remaja putri yang tersebar pada kelompok normal dan gemuk/obes mengaku tidak pernah melakukan sarapan.
Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Story et al. (2002)
ditemukan bahwa sarapan merupakan waktu makan yang paling sering dilewatkan oleh remaja khususnya remaja perempuan. Adapun alasan remaja melewatkan waktu sarapannya bermacam-macam mulai dari sibuk, untuk mencegah rasa kantuk saat sekolah, serta menurunkan berat badan dengan membatasi asupan kalori. Pada penelitian ini sebagian besar alasan remaja putri melewatkan sarapan adalah karena tidak sempat sarapan (terlambat bangun untuk berangkat ke sekolah) dan terbiasa tidak sarapan pagi.
Selain kebiasaan makan di atas, kebiasaan mengonsumsi sayur dan buah-buahan juga diteliti dalam penelitian ini. Berikut adalah tabel yang menunjukkan kebiasaan remaja putri mengonsumsi sayur dan buah serta frekuensinya.
Tabel 9 Sebaran remaja putri berdasarkan kebiasaan mengonsumsi sayuran dan buah-buahan
Kebiasaan Makan Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n %
Kesukaan terhadap sayur
Ya 26 74.3 23 92 49 81.7
Tidak 9 25.7 2 8 11 18.3
Total 35 100 25 100 60 100
Kebiasaan makan sayur
1-2 kali/hari 25 71.4 16 64 41 68.3
3-4 kali/hari 7 20 7 28 14 23.3
>4 kali/hari 3 8.6 2 8 5 8.3
Total 35 100 25 100 60 100
Kesukaan terhadap buah
Ya 34 97.1 25 100 59 98.3
Tidak 1 2.9 0 0 1 1.7
Total 35 100 25 100 60 100
Kebiasaan makan buah
1-2 kali/hari 31 88.6 23 92 54 90
3-4 kali/hari 4 11.4 1 4 5 8.3
>4 kali/hari 0 0 1 4 1 1.7
mereka rasa sayur tidak enak, tidak biasa dan terkadang pahit. Frekuensi makan sayur remaja putri dalam sehari adalah 1-2 kali/hari (68.3%), yaitu 71.4% remaja putri berstatus gizi normal dan 64% remaja putri berstatus gizi gemuk/obes.
Menurut (Drapeau et al. 2004), konsumsi buah dan sayuran dapat mencegah
kejadian kegemukan karena dapat mengurangi rasa lapar dan tidak menimbulkan kelebihan lemak dan sebagainya.
Sebagian besar (98.3%) remaja putri menyukai buah, sisanya 1.7% tidak menyukai buah. Semua remaja putri gemuk/obesitas dalam penelitian ini mengaku menyukai buah. Sebagian besar (90%) remaja putri memiliki frekuensi makan buah 1-2 kali/hari, yaitu 88.6% remaja putri berstatus gizi normal dan 92% remaja putri berstatus gizi gemuk/obes. Hasil penelitian menujukkan bahwa remaja putri yang paling banyak mengonsumsi buah (>3 kali/hari) adalah remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes, hal ini dikarenakan remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes mengganti makan malam dengan mengonsumsi buah (apel, jeruk, dan pepaya).
Selain kebiasaan mengonsumsi sayur dan buah-buahan, kebiasaan mengonsumsi camilan juga diteliti dalam penelitian ini. Camilan atau makanan
ringan atau snack adalah istilah bagi makanan yang bukan merupakan menu
utama (makan pagi, makan siang atau makan malam). Tabel 10 menguraikan sebaran remaja putri berdasarkan kebiasaan mengonsumsi camilan, kesukaan terhadap camilan gurih, kebisaan mengonsumsi camilan saat stres serta kebiasaan jajan di sekolah.
Sebagian besar (43.3%) remaja putri mengonsumsi camilan dengan frekuensi sebanyak 3-5 kali/minggu. Adapun persentase tertinggi remaja putri yang mengonsumsi camilan setiap hari adalah pada remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes yaitu sebesar 20% kemudian diikuti dengan remaja putri yang berstatus gizi normal dengan persentase sebesar 17.1%. Sebagian besar (88.3%) remaja putri menyukai camilan yang rasanya gurih. Hal ini disebabkan remaja putri dalam penelitian ini suka mengonsumsi camilan gurih pada saat istirahat di sekolah.
Sebagian besar remaja putri (66.7%) tidak mengonsumsi camilan berlebihan saat sedang stres, tetapi terdapat 33.3% remaja putri menyatakan
6
mengonsumsi camilan berlebihan saat sedang mengalami stres. Adapun kondisi- kondisi yang membuat remaja putri stres antara lain saat sedang banyak tugas, saat ujian ataupun sedang mengalami masalah baik dengan teman maupun keluarga. Adapun sebagian besar (66.7%) remaja putri menyatakan setiap hari membeli dan mengonsumsi jajanan di sekolah. Sebagian besar dari mereka mengaku bahwa makanan yang sering dibeli saat jajan di sekolah adalah mi instant, gorengan dan makanan ringan untuk mengisi perut sementara waktu di antara waktu belajar.
Tabel 10 Sebaran remaja putri berdasarkan kebiasaan mengonsumsi camilan, jenis camilan yang dikonsumsi dan kebiasaan jajan di sekolah
Kebiasaan Makan Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n % Kebiasaan mengonsumsi camilan Setiap hari 6 17.1 5 20 11 18.3 3-5 kali/minggu 16 45.7 10 40 26 43.3 1-2 kali/minggu 12 34.3 9 36 21 35 Tidak pernah 1 2.9 1 4 2 3.3 Total 35 100 25 100 60 100
Kesukaan terhadap camilan (snack) yang rasanya gurih
Ya 32 91.4 21 84 53 88.3
Tidak 3 8.6 4 16 7 11.7
Total 35 100 25 100 60 100
Kebiasaan camilan berlebihan ketika stress
Ya 10 28.6 10 40 20 33.3
Tidak 25 71.4 15 60 40 66.7
Total 35 100 25 100 60 100
Kebiasaan jajan di sekolah
Setiap hari 23 65.7 17 68 40 66.7
3-5 kali/minggu 7 20 2 8 9 15
1-2 kali/minggu 5 14.3 6 24 11 18.3
Tidak pernah 0 0 0 0 0 0
Total 35 100 25 100 60 100
Kebiasaan makan yang juga diteliti dalam penelitian ini adalah kebiasaan remaja putri dalam mengonsumsi fast food dan soft drink. Dalam penelitian ini,
sebagian besar (81.7%) remaja putri mengonsumsi fast food 1-2 kali/minggu.
Fast food yang paling sering dikonsumsi oleh sebagian besarremaja putri adalah
KFC (Kentucky Fried Chicken) karena lokasi sekolah yang dekat dengan tempat
mengonsumsi fast food dan soft drink
Kebiasaan Makan Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n %
Kebiasaan konsumsi fast food
Setiap hari 0 0 1 4 1 1.7
3-5 kali/minggu 2 5.7 3 12 5 8.3
1-2 kali/minggu 30 85.7 19 76 49 81.7
Tidak pernah 3 8.6 2 8 5 8.3
Total 35 100 25 100 60 100
Kebiasaan konsumsi Soft Drink
Setiap hari 0 0 3 12 3 5 3-5 kali/minggu 6 17.1 2 8 8 13.3 1-2 kali/minggu 25 71.4 15 60 40 66.7 Tidak pernah 4 11.4 5 20 9 15 Total 35 100 25 100 60 100 Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik merupakan salah satu bentuk penggunaan energi di dalam tubuh. Keseimbangan energi antara energi yang dikonsumsi dengan energi yang dikeluarkan pada akhirnya akan menentukan status gizi seseorang. Nilai PAL rata-rata untuk seluruh remaja putri adalah 1.3 ± 0.1. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri (88.3%) memiliki tingkat aktivitas fisik yang sangat ringan. Angka ini tidak berbeda jauh dengan data Riskesdas (2007) yang menyebutkan bahwa prevalensi nasional kurang aktivitas fisik pada penduduk yang berumur lebih dari 10 tahun adalah 48.2%.
Tabel 12 Sebaran remaja putri berdasarkan aktivitas fisik Jenis Aktivitas Rata-rata+SD (jam/hari)
Tidur 8.2 ± 1.2
Kebersihan diri 1.0 ± 0.1
Makan 1.0 ± 0.0
Naik mobil/bus 1.1 ± 0.5
Mengendarai motor 0.1 ± 0.3
Berjalan tanpa beban 0.1 ± 0.2
Mengetik 0.1 ± 0.4
Ngobrol/diskusi 0.8 ± 0.5
Nonton tv 2.1 ± 0.9
Aerobik intensitas rendah 0.2 ± 0.7
Berdiri/bw beban 0.1 ± 0.3
Duduk 6.6 ± 0.3
8
Aktivitas remaja putri yang diamati adalah aktivitas pada waktu hari sekolah. Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa sebagian besar waktu yang dimiliki oleh remaja putri dihabiskan untuk sekolah dan tidur. Rata-rata lama tidur remaja putri adalah sebesar 8.2 ± 1.2 jam/hari dan rata-rata lama di sekolah adalah 6.6 ± 0.3 jam/hari. Hal inilah yang mengakibatkan sebagian besar (88.3%) aktivitas remaja putri tergolong ke dalam aktivitas sangat ringan (Tabel 13).
Tabel 13 Sebaran remaja putri berdasarkan aktivitas fisik dan status gizi Kategori
Keg iatan PAL
Normal Gemuk/Obes Total
n % n % n % Sangat ringan < 1,40 29 82.9 24 96 53 88.3 Ringan 1,40-1,69 5 14.3 1 4 6 10.0 Sedang 1,70-1,99 1 2.9 0 0 1 1.7 Berat 2,00-2,39 0 0 0 0 0 0 Total 35 100 25 100 60 100
Tidak ada remaja putri yang melakukan aktivitas memasak,
membersihkan rumah dan perlengkapan rumah karena memiliki pembantu. Untuk berangkat sekolah pun seluruh remaja putri menggunakan fasilitas transportasi umum (angkutan umum dan kereta) dan kendaraan pribadi. Hal inilah yang diduga menyebabkan aktivitas fisik remaja putri tergolong sangat ringan. Hasil uji t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) antara tingkat aktivitas fisik remaja putri yang berstatus gizi normal dan gemuk/obes.
Intik Konsumsi clan Tingkat Kecukupan Gizi
Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat hidup sehat dan mempertahankan hidupnya dengan mengonsumsi pangan. Tujuan mengonsumsi pangan dalam aspek gizi adalah untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Konsumsi pangan meliputi informasi mengenai jenis pangan dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau kelompok orang (sekeluarga atau rumah tangga) pada waktu tertentu (Hardinsyah dan Martianto 1992). Konsumsi pangan keluarga, individu maupun golongan tertentu dapat diketahui dengan melakukan survai konsumsi pangan secara kualitatif dan kuantitatif (Suhardjo 1989). Secara kuantitatif yang paling sering digunakan
diantaranya adalah metode recall (mengingat) (Riyadi 1996). Konsumsi pangan
seseorang dapat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan pangan, tingkat pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan dan
Tabel 14 Rata-rata konsumsi, kecukupan dan tingkat kecukupan energi dan protein remaja putri
Zat Gizi Jumlah
Energi Konsumsi (kkal) 2259 AKE (kkal) 2255 TKE (%) 99.8 Protein Konsumsi (gram) 56 AKP (gram) 55 TKP (%) 98.2
Rata-rata asupan energi remaja putri adalah 2259 Kalori dan rata-rata asupan protein sebesar 56 gram. Jika dibandingkan dengan angka kecukupan energi dan protein masing-masing individu yang dihitung menggunakan rumus acuan dari WNPG (2004) untuk energi dan protein, maka diperoleh rata-rata Tingkat Kecukupan Gizi energi sebesar 99.8% dan protein sebesar 98.2%. Mengacu kepada Departemen Kesehatan (1996) yang mengklasifikasikan tingkat kecukupan energi dan protein dalam lima tingkatan yaitu : (1) defisit tingkat berat (<70% AKG), (2) defisit tingkat sedang (70-79%), (3) defisit tingkat ringan (80-
89% AKG), (4) Normal (90-119% AKG) dan (5) Kelebihan (z 120% AKG), maka
rata-rata tingkat kecukupan energi dan protein remaja putri tergolong normal. Frekuensi konsumsi remaja putri ditampilkan untuk melihat pola
kebiasaan makan dan dilakukan dengan metode recall 2x24 jam. Apabila
pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1x24 jam), maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasan makan individu. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut,