• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain penelitian ini adalah Cross Sectional Study yaitu seluruh variabel diamati pada saat yang bersamaan ketika penelitian berlangsung. Penelitian dilaksanakan di SMA Budi Mulia Bogor. Tempat penelitian ditentukan secara

purposive, dengan pertimbangan sekolah tersebut berada di Kota Bogor dan siswanya dari keluarga golongan menengah ke atas. Waktu penelitian berlangsung selama 2 bulan yaitu bulan September sampai November 2011.

Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas XI Sekolah Menegah Atas (SMA) Budi Mulia Bogor. Hal ini dengan pertimbangan bahwa siswi kelas X merupakan siswi-siswi yang baru masuk dan masih beradaptasi dengan sekolah dan teman-temannya, sedangkan siswi kelas XII tidak diambil sebagai subjek penelitian dengan pertimbangan bahwa mereka harus mempersiapkan ujian sebagai syarat lulus. Metode yang digunakan dalam

penarikan contoh adalah secara purposive sampling dengan kriteria: (a) remaja

putri, (b) berusia 15-18 tahun, (c) tidak dalam keadaan sakit, (d) memiliki status

gizi normal (-2 SD 5 Z 5 +1 SD) dan gemuk/obes (+1 SD = Z z +2 SD)

berdasarkan hasil pengukuran Indeks Massa Tubuh terhadap umur (IMT/U), (e) bersedia untuk dijadikan sampel dalam penelitian.

Penelitian ini diawali dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan remaja untuk mengetahui jumlah remaja putri SMA yang memiliki status gizi normal dan gemuk yang selanjutnya diberi kuesioner penelitian. Jumlah contoh untuk remaja status gizi normal sebanyak 35 orang dan jumlah contoh untuk remaja yang berstatus gizi gemuk/obes sebanyak 25 orang karena remaja yang memiliki status gizi gemuk/obes ada sebanyak 25 orang, oleh karena itu seluruh contoh digunakan dalam penelitian ini.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Jenis data primer yang dikumpulkan adalah:

a. Data karakteristik individu dan keluarga (nama, tempat dan tanggal lahir, usia, pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, pendapatan orang tua

dan besar keluarga) diperoleh dengan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner.

b. Data antropometri remaja meliputi berat badan dan tinggi badan yang diperoleh melalui pengukuran secara langsung. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur berat badan yaitu timbangan injak dan alat ukur tinggi badan yaitu microtoise.

c. Data kebiasaan makan diperoleh melalui wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner dan data konsumsi pangan dikumpulkan dengan cara recall 2x24 jam.

d. Data pengetahuan gizi dan body image diperoleh dengan wawancara

langsung dengan alat bantu kuesioner.

e. Data aktivitas fisik contoh diperoleh melalui metode recall 1x24 jam pada hari sekolah.

Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh dari buku profil sekolah, meliputi:

1. Data jumlah guru dan pegawai

2. Data siswa (jumlah siswa kelas 1, 2, dan 3)

3. Lokasi sekolah (lokasi dekat dengan fasilitas umum dan sekolah dilalui oleh alat transportasi apa saja)

4. Fasilitas sekolah (bangunan dan lahan).

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang dikumpulkan diolah dan dianalisis secara deskriptif dan

inferensial menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan Statistical Program

for Social Science (SPSS for Windows versi 16.0). Karakteristik individu dan keluarga contoh (umur, pekerjaan, tingkat pendidikan, pendapatan, dan besar keluarga) diberi kode, selanjutnya diberi kriteria untuk kategori dan disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif. Data kebiasaan makan diukur dengan 20 pertanyaan tentang kebiasaan sarapan pagi, kebiasaan

konsumsi buah dan sayur, kebiasaan mengonsumsi fast food dan soft drink,

kebiasaan mengonsumsi camilan dan frekuensi makan/hari. Penilaian kebiasaan makan dilakukan dengan memberi skor. Skoring kebiasaan makan dilakukan pada pertanyaan yang bisa di skor saja, bila tidak bisa di skoring maka pertanyaan kebiasaan makan tersebut dideskripsikan. Pertanyaan yang bisa dilakukan skoring seperti frekuensi makan, kebiasaan sarapan, kebiasaan

2

buah. Selain itu dilakukan recall2x24 jam terhadap konsumsi pangan responden.

Data konsumsi pangan (recall 2x24 jam) dikonversi dalam bentuk energi (kkal)

dan protein (g) dengan menggunakan Daftar Konversi Bahan Makanan (DKBM 2004). Konversi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Kgij = (Bj/100) x Gij x (BDDj/100)

Keterangan: Kgij = kandungan zat gizi i dari bahan makanan j dengan berat B gram Bj = berat bahan makanan j yang dikonsumsi (gram)

Gij = kandungan zat gizi I dalam 100 gram BDD bahan makanan j BDDj = Persen bahan makanan j dapat dimakan (% BDD)

Data intake energi dan protein dibandingkan dengan AKG (Angka Kecukupan Gizi) remaja putri yang dihitung menggunakan rumus menurut WNPG (2004). Proses Estimasi AKE (Angka Kecukupan Energi) Anak dan Remaja dalam WNPG (2004) untuk remaja putri:

AKE remaja putri (16-18 tahun) = (88.5 – 61.9U)+26.7B(AkF)+903TB+25 Keterangan: TB: Tinggi Badan (cm)

U: Umur (tahun)

AkF: 1.31 (Torun et al. 1966 dalam WNPG 2004)

Sedangkan Proses Estimasi AKP (Angka Kecukupan Protein) Anak dan Remaja dalam WNPG (2004) untuk remaja putri:

Wanita (16-18 tahun) AKP = 0.85g/kgBB/hr dengan faktor koreksi mutu protein secara umum 1.2.

Tingkat kecukupannya dihitung dengan rumus:

Tingkat kecukupan zat gizi = Intake zat gizix 100%

Kecukupan gizi menurut AKG

Penilaian untuk tingkat kecukupan energi dan protein menurut Depkes (1996) dibagi dalam lima kategori yaitu:

1. Defisit tingkat berat : < 70%

2. Defisit tingkat sedang : 70% - 79% 3. Defisit tingkat ringan : 80% - 89% 4. Normal: 90% - 119%

5. Kelebihan : z 120%

Pengetahuan gizi diukur dengan 20 pertanyaan tentang contoh pangan sumber zat gizi tertentu, fungsi zat gizi, dampak mengonsumsi makanan tertentu dan manfaat melakukan aktivitas fisik. Penilaian pengetahuan gizi dilakukan dengan memberi skor. Bila menjawab salah diberi skor 0, sedangkan untuk jawaban benar diberi skor 1, sehingga skor total minimum 0 dan maksimum adalah 20. Kategori pengetahuan gizi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kategori pengetahuan gizi tingkat rendah bila skor <60.0%, kategori pengetahuan gizi

pertanyaan mengenai penilaian aktual remaja putri terhadap tubuhnya dan harapan remaja putri terhadap bentuk tubuhnya. Penilaian aktual dan bentuk tubuh harapan remaja putri dibagi dalam tiga kategori yaitu kurus, ideal dan gemuk. Penilaian aktual remaja putri terhadap bentuk tubuhnya kemudian dibandingkan dengan status gizi remaja putri melalui pengkategorian IMT. Apabila penilaian aktual remaja putri terhadap bentuk tubuhnya sesuai dengan status gizi remaja putri maka diberi nilai 1 dan bila tidak sesuai diberi nilai 0. Adanya perbedaan antara penilaian bentuk tubuh aktual yang dipilih dengan status gizi aktual disebut persepsi body image negatif. Tidak adanya perbedaan antara penilaian bentuk tubuh aktual yang dipilih dengan status gizi aktual disebut persepsi body image positif. Responden juga ditanyakan bentuk tubuh

yang diharapkan dan dibandingkan dengan kedua konsep body image.

Aktivitas fisik selama 24 jam digunakan untuk menaksir pengeluaran energi. Menurut Hardinsyah dan Martianto (1989), pengeluaran energi ini dihitung berdasarkan jenis kegiatan dengan menggunakan faktor kelipatan (Fk) dan EMB (Energi Metabolisme Basal) untuk tiap jenis kegiatan.

Nilai Physical Activity Ratio (PAR) untuk setiap kegiatan ditunjukkan dalam Tabel 1. Nilai PAR diperlukan untuk menentukan tingkat aktivitas fisik. Tingkat aktivitas fisik (Physical Activity Level) diperoleh dengan mengalikan PAR (Physical Activity Ratio) dengan lama melakukan sebuah aktivitas (FAO/WHO/UNU 2001). Secara sederhana, rumus untuk menghitung nilai PAL: Physical Activity Level (PAL) = ∑ (Lama melakukan aktivitas x PAR)

24 Jam

Secara sederhana, rumus untuk menghitung total pengeluaran energi adalah: Total pengeluaran = AMB X PAL

Kategori tingkat aktivitas Physical Activity Level (PAL) dibedakan menjadi tiga, yaitu aktivitas ringan, sedang dan berat. Aktivitas fisik ringan memiliki nilai PAL antara 1.40-1.69. Seseorang yang mempunyai aktivitas fisik yang ringan menggunakan kendaraan untuk transportasi, tidak berolahraga, dan cenderung meluangkan waktu hanya untuk kegiatan yang dilakukan dengan duduk dan berdiri, dengan sedikit gerakan tubuh. Aktivitas fisik sedang memiliki nilai PAL 1.70-1.99. Seseorang yang mempunyai tingkat aktivitas fisik sedang tidak

2

memerlukan energi yang besar, namun kebutuhan energi pada kegiatan ini lebih tinggi daripada kegiatan aktifiats ringan. Aktivitas fisik berat memiliki nilai PAL 2.00-2.39. Aktivitas berat dilakukan oleh seseorang yang melakukan kerja berat dalam waktu yang lama (FAO/WHO/UNU 2001).

Tabel 1 Nilai Physical Activity Ratio (PAR) setiap kegiatan

Kegiatan PAR

Aktivitas Ringan (Sedentary/Light Activity Lifestyle)

Tidur 1.0

Perawatan diri (mandi dan berpakaian) 2.3

Makan 1.5

Memasak 2.1

Kegiatan yang dilakukan dengan duduk 1.5

Pekerjaan rumahtangga 2.8

Mengenderai kendaraan 2.0

Berjalan 3.2

Kegiatan ringan (menonton TV) 1.4

Aktivitas Sedang (Active or Moderately Active Lifestyle)

Tidur 1.0

Perawatan diri (mandi dan berpakaian) 2.3

Makan 1.5

Kegiatan yang dilakukan dengan berdiri 2.2

Transportasi kerja dengan bus 1.2

Berjalan 3.2

Olahraga ringan 4.2

Kegiatan ringan (menonton TV) 1.4

Aktivitas berat (Viogorous or Vigorously Active Lifestyle)

Tidur 1.0

Perawatan diri (mandi dan berpakaian) 2.3

Makan 1.4

Masak 2.1

Kegiatan pertanian tanpa menggunakan alat 4.1

Mengambil air 4.4

Pekerjaan rumahtangga yang berat 2.3

Berjalan 3.2

Kegiatan ringan 1.4

Sumber: FAO/WHO/UNU 2001

Keterangan: PAR= Physical Activity Ratio (faktor aktivitas)

Status gizi contoh diukur berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) yang dihitung berdasarkan data antropometri berat badan dan tinggi badan siswi dengan kategori sebagai berikut:

Tabel 2 Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Kategori Status Gizi Nilai IMT/U

Sangat kurusz score <_ -3 SD

Kurus -3 SD < z score <_ -2 SD Normal -2 SD < z score < +1 SD Kelebihan berat badan +1 SD <_ z score < +2 SD Gemuk +2 SD <_ z score < +3 SD Sangat gemukz score >_ +3 SD

Pengolahan data yang dilakukan berupa editing, coding, scoring, entry

dan analisis data. Perbedaan antar variabel diperoleh dengan menggunakan uji

beda t (Independent Sampel t-Test). Hubungan antar variabel dianalisis

menggunakan uji korelasi Spearman dan uji korelasi Pearson. Definisi operasional

Remaja putri adalah siswi kelas XI SMA Budi Mulia yang memiliki status gizi normal dan gemuk yang dipilih secara purposive dan bersedia mengisi kuesioner.

Body image adalah gambaran seseorang mengenai bentuk dan ukuran tubuhnya sendiri; gambaran ini dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran tubuh aktualnya, perasaannya tentang bentuk tubuhnya serta harapan terhadap bentuk dan ukuran tubuh yang diinginkannya.

Status gizi adalah keadaan gizi seorang remaja yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diukur secara antropometri berdasarkan indikator IMT/U.

Pendidikan orang tua adalah jenjang pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh ayah remaja putri yang dikategorikan menjadi tidak tamat SD, SD, SMP,SMA dan PT.

Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dilakukan ayah remaja putri untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang meliputi petani, buruh, pedagang, PNS dan lain-lain.

Pendapatan orang tua adalah jumlah pendapatan yang diperoleh ayah remaja putri per bulan yang dihasilkan dari pekerjaan utama.

Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu rumah, hidup dari satu sumber penghasilan dan makan dari satu dapur yang dikelompokkan menjadi keluarga besar (> 4 orang) dan keluarga kecil (5 4 orang).

Pengetahuan gizi adalah kemampuan kognitif serta pemahaman remaja putri tentang gizi. Pengetahuan gizi diukur dari kemampuan remaja putri dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan gizi yang disiapkan dalam kuesioner. Pengetahuan gizi dikategorikan rendah jika kurang dari 60% jawaban benar, sedang jika antara 60-80% jawaban benar dan tinggi jika lebih dari 80% jawaban benar (Khomsan 200).

2

Harapan bentuk tubuh adalah jenis bentuk tubuh yang diinginkan oleh remaja putri dan dikategorikan menjadi ingin kurus, ideal maupun lebih gemuk.

Instrumen yang digunakan adalah kuesioner body image.

Penilaian tubuh aktual adalah mengenai bagaimana remaja putri menilai bentuk tubuhnya saat ini dan dikategorikan menjadi kurus, ideal dan

gemuk. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner body image.

Persepsi body image positif adalah suatu persepsi dimana penilaian terhadap bentuk tubuh aktualnya sesuai dengan status gizinya.

Persepsi body image negatif adalah suatu persepsi dimana penilaian terhadap bentuk tubuh aktualnya tidak sesuai dengan status gizinya.

Aktivitas fisik adalah alokasi waktu (24 jam) yang dihabiskan oleh remaja putri

dalam kehidupan sehari-hari yang diukur menggunakan Physical

Sekolah SMA Budi Mulia terletak di Jalan Kapten Muslihat nomor 22 Bogor. Sekolah ini terletak di pusat keramaian dan letaknya sangat strategis sehingga banyak kendaraan umum yang melaluinya. SMA Budi Mulia Bogor

memiliki bangunan sekolah seluas 1835m2 dan luas ruang kelas 72m2. Fasilitas

fisik yang dimiliki meliputi ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, perpustakaan, laboratorium (komputer, fisika, kimia dan biologi), ruang hotspot, ruang seni, ruang kegiatan, ruang konseling, kantin, gudang, toilet dan UKS (Unit Kesehatan Siswa). Fasilitas lahan yang ada terdiri atas lapangan olahraga dan lapangan parkir.

SMA Budi Mulia Bogor merupakan salah satu sekolah swasta favorit yang unggul di Kota Bogor. Visi dari sekolah ini adalah “SMA Budi Mulia unggul dalam pembentukan kedewasaan pribadi berdasarkan semangat kebersamaan, kekeluargaan guna meningkatkan profesionalisme yang diwujudkan melalui keteladanan dan cinta kasih”. Saat ini SMA Budi Mulia Bogor dikepalai oleh Dra. Cecilia Hendrawati. Guru dan pegawai SMA Budi Mulia Bogor berjumlah 43 orang. Jumlah siswa/siswi SMA Budi Mulia Bogor adalah 719 orang dengan rincian 260 orang kelas X, 259 orang kelas XI, dan 200 orang kelas XII. Waktu belajarnya dimulai dari pukul 07.15 s.d. pukul 13.30 untuk semua kelas. Selain kegiatan intrakurikuler, SMA Budi Mulia Bogor juga mendukung kegiatan ekstrakurikuler akademik dan nonakademik.

Karakteristik Remaja Putri

Contoh dalam penelitian ini adalah siswa remaja putri SMA Budi Mulia Bogor kelas XI. Tabel 3 menjelaskan karakteristik remaja putri berdasarkan karakteristik individu dan status gizi remaja putri. Karakteristik individu yang diamati meliputi usia dan asal daerah. Contoh dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan dengan jumlah contoh sebanyak 60 orang yang terdiri dari 35 orang berstatus gizi normal dan 25 orang berstatus gizi gemuk/obes.

Usia Remaja Putri

Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa contoh dalam penelitian ini berusia 15-17 tahun. Pada kelompok usia 16 tahun remaja putri berstatus gizi normal berjumlah 82.9% dan remaja putri berstatus gizi gemuk/obes berjumlah 72%.

2

Rentang usia remaja putri dalam penelitian ini termasuk dalam masa remaja

pertengahan (15-18 tahun). Hasil uji t menunjukkan tidak terdapat perbedaan

yang nyata antara usia remaja putri yang berstatus gizi normal dan gemuk/obes (p>0.05).

Asal Daerah Remaja Putri

Persentase remaja putri yang berasal dari Bogor pada kelompok normal

sebesar 88.6% dan pada kelompok gemuk/obes sebesar 96%. Hasil uji Chi-

square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara asal daerah kedua kelompok remaja putri (p>0.05).

Tabel 3 Sebaran remaja putri berdasarkan karakteristik individu dan status gizi Status Gizi

Karakteristik Individu Normal Gemuk/Obes Total

n % n % n % Usia 15 tahun 0 0 1 4 1 1.7 16 tahun 29 82.9 18 72 47 78.3 17 tahun 6 17.1 6 24 12 20 Total 35 100 25 100 60 100 Asal daerah Bogor 31 88.6 24 96 55 92 Luar Bogor 4 11.4 1 4 5 8 Total 35 100 25 100 60 100

Karakteristik Keluarga Remaja Putri

Tabel 4 menjelaskan tentang kondisi sosial ekonomi keluarga remaja putri yang dilihat berdasarkan jumlah anggota keluarga, pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua dan pendapatan orangtua.

Besar Keluarga

Besar keluarga menurut BKKBN (2009) dibagi menjadi keluarga kecil jika

jumlah anggota keluarga 5 4 orang, sedang jika 5-6 orang dan besar jika z 7

orang. Tabel 4 menunjukkan bahwa besar keluarga kedua kelompok remaja putri merupakan keluarga kecil (58.3%) dan sedang (41.7%). Menurut Suhardjo (1996), semakin banyak anggota keluarga, maka makanan untuk setiap orang akan berkurang, akan tetapi dalam penelitian ini besar keluarga tidak menjadi faktor utama yang berpengaruh besar terhadap konsumsi pangan remaja putri. Hal ini diduga karena remaja putri yang menjadi contoh dalam penelitian ini

berasal dari keluarga yang tingkat pendapatan orangtuanya tergolong menengah

ke atas. Hasil uji t menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata antara

besar keluarga remaja putri berstatus gizi normal dan gemuk/obes (p>0.05). Tabel 4 Sebaran remaja putri berdasarkan kondisi sosial

ekonomi keluarga dan status gizi

Status Gizi Karakteristik Keluarga

Normal Gemuk/Obes Total

n % n % n % Besar Keluarga Kecil Sedang Besar Total 21 14 0 35 60 40 0 100 14 11 0 25 56 44 0 100 35 25 0 60 58.3 41.7 0 100 Pendidikan Orang tua

SD/Sederajat 0 0 1 4 1 1.7

SMP/Sederajat 4 11.4 0 0 4 6.7

SMA/Sederajat 15 42.9 11 44 26 43.3

Perguruan Tinggi/Sederajat 16 45.7 13 52 29 48.3

Total 35 100 25 100 60 100

Pekerjaan Orang tua

PNS 6 17.1 2 8 8 13.3 Pegawai Swasta 18 51.4 12 48 30 50 Wiraswasta 9 25.7 9 36 18 30 Polisi/ABRI 0 0 0 0 0 0 Lainnya 2 5.7 2 8 4 6.7 Total 35 100 25 100 60 100

Pendapatan Orang tua

< Rp 2.000.000 2 5.7 3 12 5 8.3 Rp 2.000.000-<Rp 3.000.000 12 34.3 10 40 22 36.7 Rp 3.000.000 - Rp 5.000.000 14 40 5 20 19 31.7 > Rp 5.000.000 7 20 7 28 14 23.3 Total 35 100 25 100 60 100 Pekerjaan Orangtua

Pekerjaan orangtua (ayah) remaja putri terdiri dari PNS, pegawai swasta, wiraswasta dan lainnya (pensiunan). Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa sebagian besar orangtua remaja putri (50%) bekerja sebagai pegawai swasta. Hanya 13.3% orangtua dari remaja putri berstatus gizi normal dan gemuk/obes bekerja sebagai PNS. Tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) antara pekerjaan orangtua remaja putri berstatus gizi normal dan remaja putri berstatus gizi gemuk/obes.

2

Pendidikan Orangtua

Tingkat pendidikan orangtua yang baik akan memungkinkan orangtua dapat memantau dan menerima informasi tentang kesehatan anaknya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka diasumsikan bahwa kemampuannya akan semakin baik dalam mengakses dan menyerap informasi serta menerima suatu inovasi (Isnani 2011). Pendidikan orangtua (ayah) dikategorikan menjadi empat, yaitu SD/sederajat, SMP/sederajat, SMA/sederajat dan perguruan tinggi/sederajat. Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri berstatus gizi normal dan gemuk/obesitas memiliki orangtua dengan tingkat pendidikan terakhir SMA (43.3%) dan perguruan tinggi (48.3%). Terdapat orangtua yang memiliki tingkat pendidikan terakhir hanya sampai SD (1.7%).

Menurut Suhardjo et al. (1988) tingkat pendidikan yang semakin tinggi akan

mempengaruhi tingkat pendapatan yang diperoleh seseorang. Hasil uji Chi-

square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pendidikan ayah kedua kelompok remaja putri (p>0.05).

Pendapatan Orangtua

Pendapatan orangtua pada penelitian ini diukur dari pendapatan ayah selama 1 bulan. Pendapatan orangtua diklasifikasikan menurut kisaran pendapatan sebagai berikut: <Rp 2.000.000, Rp 2.000.000 – <Rp 3.000.000, Rp 3.000.000 – Rp 5.000.000 dan >Rp 5.000.000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 23.3% orangtua remaja putri memiliki pendapatan perbulan >Rp 5.000 000. Terdapat 8.3% remaja putri yang memiliki orangtua dengan pendapatan perbulan <Rp 2.000.000 (Tabel 4). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa besar pendapatan orangtua remaja putri yang berstatus gizi normal dan

gemuk/obesitas berada pada rentang ekonomi menengah ke atas. Hasil uji Chi-

square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan orangtua kedua kelompok remaja putri (p>0.05).

Pengetahuan Gizi

Pengetahuan gizi adalah kemampuan kognitif serta pemahaman contoh tentang gizi. Pengetahuan gizi diukur dari kemampuan contoh dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan gizi secara umum yang disiapkan dalam kuesioner. Terdapat 20 buah pertanyaan pilihan berganda dengan memilih

Normal (n=35) Gemuk/Obes t-test (n=25) No Pengetahuan Gizi n % n % p

1 Zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.

2 Konsumsi energi berlebihan disimpan dalam bentuk lemak.

3 Makanan berguna bagi tubuh untuk sumber tenaga, pembangun dan pengatur.

4 Contoh pangan sumber protein nabati adalah tahu dan tempe.

5 Fungsi air bagi tubuh adalah untuk mengatur suhu tubuh.

6 Kata yang berarti kegemukan adalah obesitas.

7 Kegemukan dihadapi remaja karena kelebihan karbohidrat dan lemak. 8 Makanan yang sehat adalah makan

beraneka ragam makanan dalam jumlah seimbang.

9 Kebutuhan gizi dapat dipenuhi dengan cara mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.

10 Contoh menu yang sehat (rendah lemak, garam, gula dan tinggi serat) di restoran fastfood adalah nasi putih, ayam goreng, sop sayuran dan air mineral.

11 Minuman yang sehat adalah air putih. 12 Pengertian fastfood adalah makanan

tinggi kalori, rendah zat gizi.

13 Akibat mengkonsumsi fastfood setiap hari adalah timbulnya penyakit jantung dan diabetes.

14 Usaha untuk mendapatkan berat badan ideal adalah konsumsi gizi seimbang dan aktivitas fisik.

15 Keberhasilan menurunkan berat badan pada penderita overweight dipengaruhi oleh motivasi untuk hidup lebih sehat 20 57.1 16 64 0.600 28 80 23 92 0.179 9 25.7 5 20 0.613 25 71.4 20 80 0.458 17 48.6 9 36 0.341 33 94.3 23 92 0.732 26 74.3 23 92 0.062 33 94.3 24 96 0.812 19 54.3 20 80 0.034 34 97.1 24 96 0.812 35 100 25 100 - 29 82.9 21 84 0.909 33 94.3 23 92 0.732 34 97.1 21 84 0.111 32 91.4 24 96 0.492 menjelaskan mengenai persentase jawaban dari setiap pertanyaan yang dapat dijawab benar oleh remaja putri yang menjadi contoh dalam penelitian ini.

Tabel 5 Sebaran remaja putri berdasarkan jawaban yang benar dari pertanyaan tentang pengetahuan gizi

Tabel 5 (Lanjutan) No Pengetahuan Gizi

16 Salah satu gangguan makan yang terjadi pada remaja adalah bulimia nervosa

17 Aktivitas fisik yang sehat adalah mengepel, mencuci baju dan jalan kaki.

18 Kegiatan fisik dan olahraga bermanfaat untuk mengontrol kelebihan berat badan.

19 Waktu olahraga yang baik adalah dua kali seminggu selama 30 menit. 20 Tekanan darah manusia yang normal

adalah 120/80 mmHg. Normal (n=35) Gemuk/Obes (n=25) t-test n % n % p 26 74.3 16 64 0.400 33 94.3 25 100 0.160 34 97.1 24 96 0.812 22 62.9 18 72 0.467 23 65.7 16 64 0.893

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui perbedaan pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi normal dengan remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes. Hasil uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara jawaban remaja putri yang berstatus gizi normal dan remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes pada pertanyaan nomor 9 (p<0.05).

Khomsan (2000) mengkategorikan tingkat pengetahuan gizi menjadi 3 bagian, yaitu tingkat pengetahuan rendah (<60%), sedang (60-80%) dan tinggi (80%). Tabel 6 menunjukkan hasil sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi dan status gizi.

Tabel 6 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pengetahuan gizi dan status gizi

Pengetahuan Gizi Normal Gemuk/Obes Total

n % n % n %

Kurang (<_ 60%) 1 2.9 0 0 1 1.7

Sedang (60-80%) 19 54.3 15 60 34 56.7

Baik (> 80%) 15 42.9 10 40 25 41.7

Total 35 100 25 100 60 100

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan gizi remaja putri pada contoh penelitian ini tergolong sudah baik. Sebagian besar (56.7%) remaja putri memiliki tingkat pengetahuan sedang dan 41.7% remaja putri memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Namun, masih terdapat 1.7% remaja putri yang memiliki tingkat pengetahuan gizi yang kurang pada remaja putri yang berstatus gizi normal.

Hasil uji t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) antara tingkat pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi normal dan gemuk/obes. Hal ini dikarenakan 54.3% remaja putri berstatus gizi normal memiliki pengetahuan gizi sedang dan 42.9% memiliki pengetahuan gizi yang baik sedangkan 60% remaja putri berstatus gizi gemuk/obes memiliki pengetahuan gizi sedang dan 40% memiliki pengetahuan gizi baik. Berdasarkan Tabel 6 tersebut dapat juga diketahui bahwa pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes lebih tinggi daripada remaja putri yang berstatus gizi normal. Hal ini dikarenakan seseorang yang berstatus gizi gemuk/obes cenderung takut dengan penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh kegemukan, sehingga mereka lebi mencari informasi-informasi mengenai hal tersebut sehingga pengetahuan gizi remaja putri yang berstatus gizi gemuk/obes lebih

Dokumen terkait