• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA PEMIKIRAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada awal penelitian jumlah sampel untuk masing-masing perlakuan sebanyak 50 orang. Selama penelitian terjadi drop out yang berbeda-beda untuk tiap perlakuan yakni plasebo sebanyak 9 orang, plasebo + TT sebanyak 9 orang,

Status Gizi -pendidikan -Jumlah Anggota keluarga Konsumsi Makanan Fungsi Imun

Hormonal Stress Alkohol Olah Raga

Riwayat Vaksin Usia

perlakuan vitamin C sebanyak 7 orang, perlakuan vitamin C + TT sebanyak 7 orang, perlakuan multi vitamin-mineral (MVM) sebanyak 4 orang dan perlakuan multi vitamin-mineral + TT (MVM+TT) sebanyak 8 orang, sehingga sisa sampel untuk perlakuan plasebo sebanyak 41 orang, plasebo + TT sebanyak 41 orang, vitamin C 43 orang, vitamin C + TT sebanyak 43 orang, multi vitamin-mineral (MVM) + TT 42 orang, dan multi vitamin-mineral (MVM) 46 orang. Hal yang menjadi alasan drop out antara lain karena suami tidak mengizinkan sampel mengikuti penelitian akibat pengambilan darah berulang-ulang, keluar dari pekerjaan, hamil, sakit, cuti sehingga tidak mengonsumsi suplemen lagi, tidak mau diambil darah dan merasa kesehatannya menurun setelah mengkonsumsi suplemen.

Karakteristik Sampel

Sampel penelitian ini adalah wanita dan telah menikah, berusia 20-45 tahun yang bekerja di pabrik garmen PT Ricky Putra Globalindo, Tbk, terletak di Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Pabrik beroperasi selama 24 jam sehari dengan pembagian kerja 3 shift, sehingga setiap harinya masing-masing pekerja mendapat giliran 8 jam kerja. Karyawati yang mengikuti penelitian ini sebagian besar bekerja dengan posisi berdiri. Karakteristik sampel yang diamati dalam penelitian ini meliputi usia, pendidikan, ukuran keluarga, Indeks Massa Tubuh (IMT), penggunaan alat kontrasepsi dan kadar Ig G awal.

Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang turut berpengaruh terhadap respon imunitas secara tak langsung. Sebaran sampel berdasarkan pengkategorian pendidikan bervariasi mulai dari tidak tamat sekolah dasar (SD) sampai dengan tamat Akademi/ Perguruan Tinggi. Persentase sampel tidak tamat SD dan tamat akademi tergolong sangat sedikit, yaitu masing-masing 5.1 persen dan 0.7 persen. Persentase terbesar pendidikan sampel pada penelitian ini berurutan adalah tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) (39.1 persen), tamat Sekolah Dasar sebesar (30.5 persen) dan tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) (24.6 persen) (Tabel 7).

Pendidikan N Persen Tidak tamat SD 13 5.1 Tamat SD 78 30.5 Tamat SLTP 100 39.1 Tamat SLTA 63 24.6 Tamat PT/akademi 2 0.7 Total 256 100.0

Berdasarkan data table 7, dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan sampel penelitian ini tergolong cukup baik dan sudah memenuhi wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah. Pendidikan berpengaruh terhadap imunitas secara tidak langsung yaitu melalui status gizi.

Usia

Mengacu pada pengatagorian Saidin et al. (2003), usia responden dibedakan antara usia 20-29 tahun, 30-39 tahun, dan > 40 tahun. Sebaran sampel berdasarkan kategori usia, yakni sampel berusia antara 30-39 tahun sebanyak 46.9 persen dan berikutnya sebanyak 46.1 persen berusia antara 20-29 tahun, sisanya hanya 7.0 persen berusia 40-45 tahun. Menurut Atmarita dan Fallah (2004) usia sampel dalam penelitian ini termasuk ke dalam kategori kisaran usia produktif yakni antara usia 20-45 tahun (Table 8).

Tabel 8 Sebaran sampel menurut kategori usia

Usia n Persen 20-29 tahun 118 46.1 30-39 tahun 120 46.9 > 40 tahun 18 7.0 Total 256 100.0

Usia terkait erat dengan sistem imunitas melalui perubahan semua aspek respon imun. Secara umum aktifitas sistem imunitas menurun sejalan dengan bertambahnya usia, terutama mengganggu cell mediated immunity (CMI) khususnya fungsi sel T limfosit (Fuente 2002; Chandra 2002).

Jumlah Anggota Keluarga Sampel

Jumlah anggota keluarga dapat mempengaruhi jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi anggota keluarga yang kemudian akan berpengaruh terhadap status gizi dan kesehatan seseorang. Berdasarkan kriteria BKKBN (1998), jumlah

anggota keluarga dapat dikelompokkan menjadi keluarga kecil dengan jumlah anggota keluarga kurang dari atau sama dengan 4 orang, keluarga sedang dengan jumlah anggota keluarga 5-7 orang, dan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga lebih dari 7 orang. Ukuran keluarga pada penelitian ini disajikan pada Tabel 9. Sebagian besar sampel penelitian ini termasuk dalam kategori keluarga kecil dengan jumlah anggota keluarga kurang dari atau sama dengan 4 orang (90.6 persen) yang berarti keluarga tersebut mempunyai anak antara 1-2 orang, sisanya 9.0 persen termasuk dalam kategori keluarga sedang dan hanya 0.4 persen termasuk dalam kategori keluarga besar dengan jumlah anak lebih dari 5 anak. Tabel 9 Sebaran sampel menurut kategori ukuran keluarga

Ukuran Keluarga n persen

Kecil (< 4 orang) 232 90.6

Sedang (5-7 orang) 23 9.0

Besar (>7 orang) 1 0.4

Total 256 100.0

Status Gizi

Status gizi sampel penelitian ini diukur menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) (Depkes 1996). Indeks massa tubuh merupakan salah satu ukuran antropometri yang digunakan untuk mengukur status gizi, yakni dengan membagi berat badan (kg) dengan tinggi badan (m2), kemudian dikategorikan menjadi beberapa kriteria.

Pada Tabel 10 menunjukkan bahwa 66.4 persen sampel termasuk dalam kategori gizi baik (normal), tetapi terdapat 6.3 persen sampel termasuk dalam kategori kurus dan sangat kurus, sebaliknya 27.4 persen sampel termasuk dalam kategori gizi lebih (overweight) dan obesitas.

Tabel 10 Sebaran sampel menurut kategori status gizi

Status gizi n persen

Sangat kurus 4 1.6

Normal 170 66.4

Gizi lebih 36 14.1

Obesitas 34 13.3

Total 256 100.0

Adanya gizi kurang dan lebih menunjukkan bahwa pada populasi ini terdapat masalah gizi ganda. Adanya kejadian gizi lebih pada sampel penelitian yang cukup besar persentasenya menunjukkan bahwa masalah gizi lebih tidak hanya terjadi pada kelompok masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi tinggi tetapi juga sudah banyak dijumpai pada kelompok masyarakat tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah seperti pada kelompok sampel penelitian ini. Keadaan ini diduga karena mereka yang mempunyai status gizi lebih tersebut ketika di usia dini mempunyai status gizi kurang atau buruk, karena menurut Barker(1998) salah satu penyebab terjadinya status gizi lebih atau obesitas pada masa dewasa adalah status gizi kurang/ BBLR ketika usia dini.

Tabel 11 menunjukkan bahwa keseluruhan karakteristik sampel yang meliputi usia, pendidikan, keikutsertaan keluarga berencana, jumlah anggota keluarga, status gizi dan titer IgG pada saat baseline antar keenam perlakuan tidak signifikan (p>0.05).

Tabel 11 Sebaran karakteristik sampel menurut perlakuan

Plasebo Plasebo + TT Vit. C Vit. C +

TT MVM MVM + TT P Usia1 31.0+4.5 32.2+4.8 31.6+5.9 29.7+5.4 31.3+4.8 31.6+5.1 0.323a Pendidikan1 9.34+2.47 7.95+2.58 8.21+2.77 8.56+2.34 8.52+2.70 9.14+2.09 0.098a Penggunaan Alat Kontrasepsi1 0.66+0.48 0.63+0.49 0.77+0.43 0.74+0.44 0.70+0.47 0.71+0.46 0.772 a Jumlah Anggota Keluarga1 3.3+0.7 3.7+0.9 3.5+0.7 3.5+0.8 3.7+0.7 3.7+1.2 0.210 a Indeks Massa Tubuh1 23.7+3.4 23.4+3.0 22.2+3.2 22.6+3.5 23.5+3.1 24.0+4.2 0.130 a IgG Baseline1 2579.6± 1559.2 2445.9± 1326.7 2532.5± 1496 2712.4± 1481.8 2632.8± 1505.2 2814.1 ± 1537 0.889 a

Keterangan :1 x±SD; a nilai p dari analisis ragam (uji ANOVA) pada baris yang sama Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15.7 persen sampel mengalami kekurangan vitamin A, 78.4 persen kekurangan vitamin E, 62.3 persen kekurangan viatmin C, 16.3 persen kekurangan zinc, dan 76.7 persen kekurangan selenium (Tabel 12). Zat gizi antioksidan melindungi tubuh dari kerusakan oksidatif pada organ maupun sel termasuk sel-sel imunitas. Pengaruh kekurangan

zat gizi mikro terhadap respon imun telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Hasil penelitian Semba et al. (1992) menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A mempengaruhi produksi antibodi spesifik tetanus. Kekurangan zinc mengganggu fungsi imun non spesifik dan spefisik (Shankar and Prasad 1998). Kekurangan selenium mempengaruhi fungsi natural killer (Kiremidjan-schumacher et al. 1996). Kemudian hasil review oleh Wintergrest et al 2007 menyebutkan bahwa kekurangan beberapa zat gizi mikro mempengaruhi optimalisasi respon imunitas.

Tabel 12 Status zat gizi antioksidan sampel pada awal penelitian

Zat gizi defisiensi Normal

n % n % Vitamin A (µmol/l) 28 15.7 150 84.3 Vitamin E (µmol/l) 149 78.4 41 21.6 Vitamin C (µmol/l) 86 62.3 52 37.7 Zinc (µg/dl) 29 16.3 149 83.7 Selenium (µmol/l) 145 76.7 44 23.3

Pengaruh Suplementasi Terhadap Imunitas Non-Spesifik Sel Darah Putih (Leukosit)

Sel darah putih atau leukosit merupakan sel pada sistem imunitas yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi dan patogen lain. Banyaknya jumlah leukosit dalam darah sering menjadi indikator adanya suatu infeksi. Sebelum suplementasi jumlah leukosit pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo yakni 8.58±1.79 ribu sel/µl, plasebo +TT 8.19±1.76 ribu sel/µl, vitamin C 7.85±1.39 ribu sel/µl, vitamin C +TT 8.09±1.59 ribu sel/µl, MVM 7.79±1.9 ribu sel/µl, MVM+TT 8.26±1.73 ribu sel/µl. Semua sampel mempunyai jumlah leukosit dalam kisaran normal (4-11 sel/µl).

Sesudah suplementasi selama 6 minggu, persentase jumlah leukosit mengalami perubahan yakni terjadi penurunan pada hampir semua perlakuan. Pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo terjadi penurunan sebesar 0.54 persen, plasebo + TT sebesar 0.22 persen, vitamin C sebesar 0.63 persen, vitamin C + TT sebesar 0.02 persen, MVM sebesar 0.17 persen, dan MVM + TT sebesar 0.48 persen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan perubahan antara keenam perlakuan tidak signifikan (p>0.05) (Tabel 13).

Perubahan jumlah leukosit dari minggu ke-6 (intermediate) dan sesudah suplementasi (selisih c) pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo menurun sebesar 0.06 persen, plasebo + TT meningkat sebesar 0.11 persen, vitamin C menurun sebesar 0.05 persen, vitamin C + TT menurun sebesar 0.24 persen, MVM meningkat sebesar 0.25 persen, dan pada perlakuan MVM+TT meningkat sebesar 0.24 persen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata selisih pada keenam perlakuan tidak signifikan (p>0.05) (Tabel 13).

Tabel 13 Rata-rata jumlah leukosit selama penelitian menurut perlakuan

LEUKOSIT (sel/µl)

Suplementasi Plaseboa Plasebo + TTa Vit. Ca Vit. C + TTa MVMa MVM + TTa

P Sebelum 8.58±1.79e 8.19±1.76e 7.85±1.39e 8.09±1.59e 7.79±1.9e 8.26±1.73e 0.3061 Intermediate 8±1.86e 7.93±1.49e 7.26±1.39e 8.07±1.92e 7.59±1.48e 7.76±1.76e 0.2411 Selisih b -0.54±1.66e -0.22±1.35e -0.63±1.51e -0.02±1.71e -0.17±1.41e -0.48±1.63e 0.3791 Sesudah 7.98±1.74e 8.12±1.94e 7.26±1.58e 7.78±1.69e 7.95±1.99e 8.05±1.59e 0.2791 Selisih c -0.06±1.57e 0.11±1.54e -0.05±1.17e -0.24±1.68e 0.25±1.63e 0.24±1.39e 0.6171 Selisih d -0.61±1.81e -0.71±1.94e -0.59±1.70e -0.31±1.66e 0.16±1.61e -0.21±1.66e 0.2971 Keterangan: a Perlakuan.

b Selisih Intermediate(minggu ke- 6 sesudah suplementasi) dengan sebelum suplementasi c Selisih sesudah suplementasi dengan intermediate

d Selisih sesudah suplementasi dengan sebelum suplementasi ex±SD; (-) = menurun dari data sebelumnya; (+) meningkat.

1 nilai-p dari analisis ragam (uji ANOVA) pada baris yang sama.

Pada minggu ke-10 sesudah suplementasi, perubahan leukosit secara statistik tidak signifikan (p>0.05). Tidak ditemukannya pengaruh suplementasi terhadap jumlah leukosit diduga karena sejak sebelum suplementasi jumlah leukosit semua sampel dalam kisaran normal. Kemungkinan lain sampel tidak terpapar oleh mikroba sehingga tubuh tidak melakukan serangan terhadap mikroba yang ditandai dengan tidak adanya peningkatan leukosit diatas kisaran normal.

Monosit

Monosit merupakan bagian dari sel darah putih yang berkembang menjadi makrofag di dalam jaringan tubuh. Sel ini akan menghancurkan antigen yang masuk dalam tubuh. Monosit tidak hanya menyerang mikroba dan sel kanker, disamping itu juga berperan sebagai Antigen Presenting Cell (APC), dan

menginduksi produksi sitokin serta mengerahkan pertahanan sebagai respon terhadap infeksi (Baratawidjaja, 2006).

Hasil penelitian menunjukkan, sebelum suplementasi rata rata jumlah monosit dari sampel yang mendapat perlakuan plasebo yakni 6.37±1.09 persen, plasebo + TT 7.10±1.67 persen, vitamin C 6.88±1.58 persen, vitamin C +TT 6.63±1.48 persen, MVM 6.48±1.64 persen, MVM+TT 7.1±1.72 persen. Jumlah monosit semua sampel dalam penelitian ini sebelum suplementasi dalam kisaran normal (2-8 persen).

Perubahan jumlah monosit sesudah suplementasi selama 6 minggu (selisih b) pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo meningkat sebesar 0.15 persen, plasebo + TT menurun sebesar 0.68 persen, vitamin C menurun sebesar 0.88 persen, vitamin C + TT menurun sebesar 0.23 persen, MVM meningkat sebesar 0.3 persen, MVM + TT menurun sebesar 0.67 persen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata perubahan jumlah monosit selama enam minggu suplementasi tidak ada perbedaan yang signifikan antara keenam perlakuan (p>0.05).

Perubahan jumlah monosit dari minggu ke-6 hingga minggu ke-10 suplementasi (selisih c), sampel yang mendapat perlakuan plasebo meningkat sebesar 0.24 persen, plasebo + TT meningkat sebesar 0.56 persen, vitamin C meningkat sebesar 0.86 persen, vitamin C + TT meningkat sebesar 0.12 persen, MVM menurun sebesar 0.13 persen, dan MVM + TT menurun sebesar 0.14 persen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata perubahan jumlah leukosit tersebut tidak signifikan pada keenam perlakuan (p>0.05) (Tabel 14).

Tabel 14 Rata-rata jumlah monosit selama penelitian menurut perlakuan

Monosit (persen)

Suplementasi Plaseboa Plasebo + TTa Vit. Ca Vit. C + TTa MVMa MVM + TTa

P

Sebelum 6.37±1.09 e 7.10±1.67 e 6.88±1.58 e 6.63±1.48 e 6.48±1.64 e 7.1±1.72 e 0.126 1 Intermediate 6.51±1.94 e 6.41±2.12 e 6±1.76 e 6.40±1.72 e 6.78±2.4 e 6.43±2.19 e 0.644 1

Sesudah 6.76±2.63 e 6.98±2.35 e 6.86±2.46 e 6.51±2.31 e 6.65±2.58 e 6.29±2.83 e 0.8421 Selisih c 0.24±3.04 e 0.56±3.02 e 0.86±2.93 e 0.12±2.78 e -0.13±3.72 e -0.14±3.09 e 0.6271 Selisih d 0.39±2.82 e -0.12±2.53 e -0.02±2.97 e -0.12±2.9 e 0.17±2.73 e -0.81±2.81 e 0.491 1 Keterangan: a Perlakuan.

b Selisih Intermediate(minggu ke- 6 sesudah suplementasi) dengan sebelum suplementasi c Selisih sesudah suplementasi dengan intermediate

d Selisih sesudah suplementasi dengan sebelum suplementasi ex±SD; (-) = menurun dari data sebelumnya; (+) meningkat.

1 nilai-p dari analisis ragam (uji ANOVA) pada baris yang sama.

Tidak ditemukannya perubahan monosit yang signifikan dari sebelum hingga sesudah suplementasi, diduga selama penelitian tidak ada sampel yang terinfeksi, sehingga tidak terjadi peningkatan monosit yang berarti untuk melawan antigen yang masuk. Dugaan lain adalah karena jumlah monosit sampel penelitian ini selama suplementasi berlangsung berada dalam kisaran normal (2-8 persen), menandakan bahwa pertahanan tubuh sampel cukup baik, sehingga tidak mudah terinfeksi.

Neutrofil

Neutrofil merupakan salah satu fagosit polimorfonuklear/fagosit granulosit, dibentuk dalam sum-sum tulang dengan kecepatan 8 juta/menit dan hidup selama 2-3 hari. Fungsi utama neutrofil adalah fagositosis. Penurunan jumlah sel tersebut sering disertai dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi. Pada infeksi akut, neutrofil dalam sirkulasi dapat meningkat dengan segera. Peningkatan tersebut disebabkan oleh migrasi neutrofil ke sirkulasi yang berasal dari sumsum tulang dan persediaan marginal intravaskular (Baratawidjaja 2006). Sel-sel imun non-spesifik seperti neutrofil, makrofag jaringan berperan dalam inflamasi. Pada proses inflamasi terjadi vasodilatasi meningkatkan persediaan darah untuk mengalirkan lebih banyak molekul dan sel yang diperlukan dalam memerangi antigen yang mencetuskan inflamasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum suplementasi, rata rata jumlah neutrofil pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo 51.56±9.81 persen, plasebo + TT 53.21±5.30 persen, vitamin C 53.88±6.86 persen, vitamin C +TT 51.04±6.32 persen, MVM 54.33±6.13 persen , MVM +TT 54.77±5.73 persen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata jumlah neutrofil tidak berbeda

signifikan pada keenam perlakuan (p>0.05). Jumlah neutrofil sampel penelitian ini pada sebelum suplementasi dalam kisaran normal ( 50-70 persen).

Perubahan jumlah neutrofil sesudah suplementasi selama 6 minggu (selisih b), pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo meningkat sebesar 3.6 persen, plasebo + TT meningkat sebesar 0.70 persen, vitamin C meningkat sebesar 1.0 persen, vitamin C + TT meningkat sebesar 0.80 persen, MVM menurun sebesar 0.2 persen, MVM + TT meningkat sebesar 0.36 persen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata perubahan jumlah neutrofil selama enam minggu suplementasi tidak berbeda signifikan pada keenam perlakuan (p>0.05).

Tabel 15 Rata-rata jumlah neutrofil selama penelitian menurut perlakuan

Neutrofil (persen)

Suplementasi Plaseboa Plasebo + TTa Vit. Ca Vit. C +

TTa MVM a MVM + TTa P Sebelum 51.56±9.81 53.21±5.30 53.88±6.86 51.04±6.32 54.33±6.13 54.77±5.73 0.126 1 Intermediate 55.17±7.21 53.91±6.41 54.88±7.16 51.84±9.77 54.13±6.53 55.14±6.14 0.644 1 Selisih b 3.61±9.70 0.70±6.75 1.00±6.89 0.80±9.52 -0.20±6.96 0.36±7.00 0.135 1 Sesudah 54.78±6.71 55.16±6.98 55.84±7.01 54.82±8.54 55.43±5.72 54.55±5.90 0.8421 Selisih c -0.39±9.53 1.26±6.78 0.95±9.59 2.98±12.04 1.30±7.99 -0.59±6.59 0.6271 Selisih d 3.22±9.40 1.95±5.21 1.95±9.56 3.78±7.66 1.11±6.34 -0.23±7.42 0.491 1 Keterangan: a Perlakuan.

b Selisih Intermediate(minggu ke- 6 sesudah suplementasi) dengan sebelum suplementasi c Selisih sesudah suplementasi dengan intermediate

d Selisih sesudah suplementasi dengan sebelum suplementasi ex±SD; (-) = menurun dari data sebelumnya; (+) meningkat.

1 nilai-p dari analisis ragam (uji ANOVA) pada baris yang sama.

Sementara itu perubahan jumlah neutrofil dari minggu ke-6 sampai minggu ke-10 suplementasi (selisih c), pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo terjadi penurunan sebesar 0.39 persen, plasebo + TT meningkat sebesar 1.26 persen, vitamin C meningkat sebesar 0.95 persen, vitamin C + TT meningkat sebesar 2.98 persen, MVM meningkat sebesar 1.3 persen, dan MVM + TT menurun sebesar 0.59 persen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata perubahan jumlah neutrofil tersebut tidak berbeda signifikan pada keenam perlakuan (p>0.05) (Tabel 15). Tidak ditemukannya peningkatan neutrofil salah satu pertanda tidak adanya fagositosis oleh sel tersebut terhadap mikroba yang masuk dalam tubuh.

Natural Killer Cell (sel NK)

Sel NK adalah golongan limfosit ketiga sesudah sel T dan sel B. Jumlahnya sekitar 5-15 persen dari limfosit dalam sirkulasi dan 45 persen dari limfosit dalam jaringan. Secara morfologis, sel NK merupakan limfosit dengan granula besar (Baratawidjaja 2006). Sel ini berfungsi dalam imunitas non-spesifik terhadap virus dan sel tumor.

Dalam fungsinya, sel NK menjalankan peran pembunuhan intraseluler. Virus tidak memiliki peralatan untuk memperbaharui diri dengan demikian virus harus menembus sel-sel host yang terinfeksi agar dapat mengambil fungsi replikasi sel, agar tidak berkembang, maka sel NK akan membunuh sel-sel terinfeksi virus tersebut sebelum virus mempunyai kesempatan membelah diri kembali (Roitt 2003). Sel NK berperan penting di dalam kesehatan manusia. Hasil review oleh Whiteside dan Herberman 1994) menunjukkan bahwa penurunan jumlah sel NK atau aktifitas sel NK seringkali berhubungan dengan berkembangnya kanker, atau infeksi virus baik yang bersifat akut maupun kronis. Sel NK berpartisipasi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pengaturan dan jaringan komunikasi sistem imunitas. Sel NK meningkat dengan cepat sebagai petunjuk adanya sel yang akan membunuh tetapi juga mampu memberi respon dengan cepat terhadap sitokin dan faktor faktor yang terlibat dalam interaksi antara sel imun dan non imun.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum suplementasi, rata-rata jumlah sel NK pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo yakni 753.8±302 sel/µl, plasebo+TT 631.5±238 sel/µl, vitamin C 629.7±255 sel/µl, vitamin C+TT 601.6±219 sel/µl, MVM 606.7±248 sel/µl dan MVM+TT 651.4±291 sel/µl. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata jumlah sel NK antara keenam perlakuan tidak berbeda signifikan (p>0.05) (Tabel 16). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah sel NK ketiga perlakuan pada saat sebelum suplementasi berada diluar nilai normal (90-590 sel/µl) dan menurut whiteside dan Herberman (1994) jumlah sel NK diluar nilai normal baik dibawah atau diatas ambang nilai normal terdapat dua kategori. Jumlah sel NK abnormal yang bersifat permanen dan sementara, dimana yang bersifat sementara dapat ditemukan pada orang-orang yang mengalami ketidak teraturan siklus tidur, exercise, situasi stress, sedang

menderita influenza, atau terserang infeksi virus yang lebih berat lagi. Hasil review tersebut mendukung temuan penelitian ini karena sampel penelitian ini mempunyai siklus tidur yang tidak teratur karena setiap 2 minggu sekali harus bekerja malam hari (lembur). Dikatakan pula dalam review tersebut bahwa seringkali tetapi tidak selalu bahwa jumlah sel NK mencerminkan aktifitas sel NK.

Tabel 16 Rata-rata jumlah sel Natural Kiler (NK) selama penelitian menurut perlakuan

Sel NK (sel/µl)

Suplementasi Plaseboa Plasebo + TTa Vit. Ca Vit. C + TTa MVMa MVM + TTa P Sebelum 753.8± 302.2 e 631.5± 238.7 e 629.7± 255.7 e 601.6± 219.8 e 606.7± 248.6 e 651.4± 291.9 e 0.123 1 Intermediate 619.6± 270.8 e 612.5± 260.6 e 537.7± 239.0 e 602.0± 208.9 e 514.6± 246.4 e 561.8± 305.7 e 0.334 1 Selisih b -134.2± 269.2 e -19 ± 251.3 e -92.28± 206.3 e -8.5± 241.8 e -92.1± 242.8 e -89.5± 254.4 e 0.163 1 Sesudah 695 ± 237.3 e 625.9± 221.9 e 561.5± 241.3 e 620.5± 239.9 e 524.1± 208.5 e 604.5± 285.2 e 0.037 1 Selisih c 75.4± 275.2 e 13.4± 206.3 e 23.7± 214.4 e 18.1± 261.3 e 9.5± 219.8 e 42. 7± 236.2 e 0.818 1 Selisih d -58.8± 265.4 e -5.6± 212.2 e -68.2± 208.8 e 9.6± 2293 e -82.6± 246.1 e -46.9± 262.4 e 0.449 1 Keterangan: a Perlakuan.

b Selisih Intermediate(minggu ke- 6 sesudah suplementasi) dengan sebelum suplementasi c Selisih sesudah suplementasi dengan intermediate

d Selisih sesudah suplementasi dengan sebelum suplementasi ex±SD; (-) = menurun dari data sebelumnya; (+) meningkat.

1 nilai-p dari analisis ragam (uji ANOVA) pada baris yang sama.

Sesudah 6 minggu suplementasi, jumlah sel NK mengalami perubahan yakni jumlah sel NK pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo sebesar 619.6 ± 270 sel/µl, plasebo + TT 612.5 ± 260 sel/µl, vitamin C 537.7 ± 239 sel/µl, vitamin C+TT 602.0 ± 208 sel/µl, MVM 514.6 ± 246 sel/µl,

MVM+TT 561.8 ±305 sel/µl. Hasil uji statistik, menunjukkan bahwa rata rata jumlah sel NK pada keenam perlakuan tidak berbeda signifikan (p>0.05) (Tabel 16).

Berdasarkan Tabel 16, sesudah suplementasi 10 minggu, terjadi perubahan jumlah sel NK, yakni jumlah sel NK pada sampel yang mendapat perlakuan plasebo 695 ± 237 sel/µl, plasebo + TT 625.9 ± 221 sel/µl, vitamin C 561.5 ± 241

sel/µl, vitamin C + TT 620.5± 239 sel/µl, MVM 524.1 ± 208 sel/µl, MVM + TT 604.5 ± 285 sel/µl. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa rata-rata jumlah sel NK keenam perlakuan berbeda signifikan (p<0.05). Hasil uji Anova dan uji lanjut BNT menunjukkan bahwa suplementasi MVM menurunkan jumlah sel NK secara signifikan (p<0.05), dengan kata lain pada kasus sampel penelitian ini MVM berperan sebagai imunosupressor (Lampiran 4).

Besarnya penurunan jumlah sel NK sesudah suplementasi pada sampel yang mendapat perlakuan MVM menunjukkan adanya perbaikan pertahanan tubuh non-spesifik yang ditunjukkan dengan jumlah sel NK berada dalam kisaran normal (90-590 sel/µl), dimana jumlah sel NK sebelum suplementasi di atas kisaran normal yakni > 590 sel/µl. Penurunan jumlah sel NK juga terjadi pada sampel yang mendapat perlakuan vitamin C tetapi penurunannya lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan MVM. Temuan ini menunjukkan bahwa suplementasi MVM dapat memperbaiki pertahanan non-spesifik melalui perbaikan jumlah sel NK, diduga terkait dengan peranan beberapa vitamin dan mineral seperti vitamin A berperan di dalam perbaikan sel-sel mukosa, vitamin C berperan di dalam sintesis kolagen yang diperlukan untuk menjaga kulit agar tetap sehat/utuh, zinc juga berperan di dalam sintesis kolagen, dengan demikian MVM tersebut membantu pertahanan lini pertama menjadi semakin kuat, akibatnya sel NK tidak perlu memperbanyak diri untuk memperkuat pertahanan non-spesifik. Disamping itu vitamin A juga mempunyai peranan anti inflamasi terutama di dalam gangguan kulit juga diperlukan untuk integritas epithel (Rifen 2008), sehingga memperkuat pertahanan non-spesifik. Temuan ini juga sejalan dengan hasil penelitian Chandra et al. (2002), Bunout et al. (2004) dan Ravaglia et al. (2000) dimana jumlah dan aktivitas sel NK meningkat pada sampel yang mendapat suplemen multi zat gizi mikro. Meskipun pada penelitian ini suplemen MVM menurunkan jumlah sel NK dan hasil penelitian ketiga peneliti sebelumnya meningkatkan jumlah sel NK, namun keempat temuan tersebut bertujuan sama yaitu mempengaruhi sel NK dari abnormal baik diatas maupun dibawah nilai normal menuju dalam kisran normal. Hal ini terkait peranan vitamin dan mineral sebagai immunomodulator (Wintergrest et al. 2007) yang dapat berfungsi sebagai immunosuppressor atau immunostimulator. Akan tetapi temuan ini bertentangan dengan temuan Payette et

al. (1990) dimana hasil penelitian Payette tidak menemukan hubungan antara sel NK dengan suplementasi zat gizi mikro. Perbedaan ini kemungkinan karena pada sampel penelitian Payette et al. (1990) menyertakan sampel yang menderita penyakit kronis seperti arthritis, sedangkan sampel ketiga peneliti tersebut diatas pada subyek sehat seperti halnya sampel penelitian ini.

Pengaruh Suplementasi terhadap Humoral Mediated Immunity (HMI) Immunoglobulin G (IgG)

Antibodi adalah suatu protein yang diproduksi oleh limfosit B dibantu oleh sel T helper (Th) sebagai respon adanya stimulasi antigen. Ketika tubuh terinfeksi antigen, makrofag akan mengenali antigen kemudian menangkapnya, selanjutnya diproses dan dipresentasikan pada membran bersama molekul Major Histokompability Complex II (MHC II) membentuk komplek antigen-MHC II. Sel Th yang teraktivasi, terstimulir untuk mensekresikan sejumlah sitokin seperti interlukin (IL)-2, IL-4, IL-6 dan interferon (IFN-ỵ) yang dapat mengaktivasi berbagai tahap proliferasi dan diferensiasi sel B menjadi sel-sel plasma dan kemudian mensekresikan antibodi dan sel-sel memori (Roit 2003).

Di dalam tubuh terdapat 5 jenis antibodi yaitu lgA, lgD, lgE LgG dan lgM, akan tetapi yang paling sering terdapat dalam sirkulasi dan banyak di jaringan adalah lgG (Baratawidjaja, 2006). Pada penelitian ini, untuk mengetahui respon antibodi, sebagian sampel penelitian mendapat imunisasi dengan vaksin TT (Tetanus Toxoid) setelah mengonsumsi suplemen selama 6 minggu (sebagai

booster) kemudian dilanjutkan mengonsumsi suplemen sampai minggu ke-10. Pemilihan vaksin TT, dengan pertimbangan mudah didapat, aman, dan berguna bagi wanita usia subur (Baratawidjaja 2006). Adanya peluang terkena Tetanus

terutama kelompok usia subur saat persalinan sehingga vaksinasi ini menjadi paket program imunisasi oleh pemerintah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum suplementasi, rata-rata titer IgG sampel yang mendapat perlakuan plasebo 2579.6 ± 1559 IU/L, plasebo + TT 2445.9 ± 1326 IU/L, vitamin C 2532.5± 1496 IU/L, vitamin C+TT 2712 ± 1481 IU/L, MVM 2632.8 ± 1505 IU/L dan MVM + TT 2814.1 ± 1537 IU/L. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan rata-rata IgG yang signifikan pada keenam perlakuan (p>0.05) (Tabel 17). Ditemukannya antibodi yang cukup pada

Dokumen terkait