Kondisi Ekonomi Wilayah
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Fisik Kawasan Sungai Code
Sungai Code yang melintas ditengah kota Yogyakarta melewati 12 kelurahan dari 6 kecamatan (Gambar 9). Sungai ini berhulu di kaki Gunung Merapi, yang merupakan tumpuan kehidupan bagi banyak penduduk kota. Sungai Code yang melintasi kota Yogyakarta sepanjang 8,7 Km dan sebagian besar bantaran sungainya sudah digunakan sebagai permukiman penduduk. Gambar 8 menunjukkan kondisi sungai Code.
a b
c d
Gambar 8 Kondisi bantaran sungai Code (a) Bantaran sungai Code
bagian utara; (b, c) Bantaran sungai Code bagian tengah; (d) Bantaran sungai Code bagian selatan
54
55
Topografi
Wilayah sungai Code mempunyai jenis tanah Regosol dengan kelandaian lereng / tebing sungai yang bervariasi mulai sangat tinggi di bagian utara dan menuju ke selatan semakin landai. Ketinggian kawasan sungai Code antara 100 – 199 m dengan beberapa lokasi yang mempunyai kemiringan cukup terjal. Kondisi kemiringan lahan dari wilayah sungai Code dapat dilihat dalam Tabel 17. Gambar 10 menunjukkan posisi kota Yogyakarta terhadap gunung Merapi. Tabel 17 Kondisi kemiringan kawasan studi
Luas (Ha) No. Wilayah Studi
0 – 2 % 2 – 15 % 15 – 40 % >40 % 1. Kec. Jetis 111 55 7 1 2. Kec. Gondokusuman 340 66 4 - 3. Kec. Danurejan 96 13 2 - 4. Kec. Pakualaman 62 3 - - 5. Kec. Gondomanan 50 65 - - 6. Kec. Mergangsan 206 28 - - Jumlah 865 230 13 1
Sumber: Kota Yogyakarta dalam angka, BPS (2002)
Gambar 10 Posisi kota Yogyakarta terhadap gunung Merapi
Tabel 17 menunjukkan bahwa wilayah Sungai Code yang mempunyai kelerengan paling tajam di daerah kecamatan Jetis dengan kelerengan lebih dari 40 % sebesar 1 hektar yang tersebar ke beberapa tempat, umumnya di daerah pinggir sungai. Daerah tersebut saat ini umumnya digunakan sebagai tempat permukiman penduduk. Sedangkan kelerengan yang cukup tajam, yaitu antara 15 – 40 % terdapat di 3 kecamatan, yaitu kecamatan Jetis , Gondokusuman dan Danurejan yang rata-rata juga tersebar ke beberapa bagian di daerah bantaran
Wilayah kota Yogyakarta Gunung
56
sungai. Sama halnya dengan kondisi kelerengan lebih dari 40 %, pada daerah yang mempunyai kelerengan 15 – 40 % ini juga sebagian besar telah digunakan sebagai tempat tinggal bagi sebagian penduduk di bantaran sungai Code. Rumah-rumah tersebut dibangun di atas talud yang sudah dibuat oleh pemerintah setempat. Pentaludan tersebut telah mengakibatkan perubahan pola aliran air sehingga mengikis dasar talud dan dapat mengancam keberadaan talud itu sendiri (Setiawan dan Utiyati 2003).
Penggunaan kawasan lindung sebagai permukiman penduduk membahayakan keberadaan sungai dan permukiman tersebut. Pada wilayah yang mempunyai kemiringan tinggi diusulkan dilakukan pembuatan terasering sehingga laju pergerakan air di permukaan tanah dapat dikurangi. Selain itu, penggunaan tanaman juga dapat dilakukan untuk mengurangi besarnya air yang jatuh ke bumi sehingga erosi permukaan dapat dikurangi juga. Penggunaan tanaman ini juga dapat memperbesar infiltrasi karena tanah tidak tertutup perkerasan sehingga aliran permukaan juga dapat dikurangi. Pada daerah permukiman penduduk, untuk mempertahankan kondisi tanah dan air yang ada maka perlu dilakukan penanaman tanaman tahunan di sela-sela permukiman sehingga dapat mengikat air dan mengurangi erosi permukaan yang terjadi.
Berdasarkan klasifikasi Sugandy (1984), maka penggunaan lahan di daerah bantaran sungai Code pada beberapa tempat sangat berbahaya. Pada daerah dengan kelerengan lebih dari 25 % seharusn ya sudah dijadikan kawasan penyangga. Pada kelerengan > 45 % maka wilayah tersebut sudah menjadi kawasan lindung. Gambar 11 menunjukkan peta topografi kawasan sungai Code.
Pembangunan di daerah lindung ini lebih disebabkan karena terbatasnya lahan permukiman dengan nilai ekonomi yang terjangkau di kota Yogyakarta terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Keterbatasan peluang ekonomi menyebabkan pemukiman di daerah marjinal pinggiran sungai semakin tinggi. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan aturan yang ketat tentang pembangunan fisik terutama di bantaran sungai selain juga dilakukan perbaikan terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Disamping itu, untuk mencegah kerusakan DAS yang lebih besar perlu dilakukan penetapan zona-zona kawasan yang da pat dikembangkan untuk pembangunan dan pelestarian. Pada daerah- daerah yang masih bisa ditanami tanaman, maka dapat dilakukan penanaman tanaman asli kawasan seperti beringin dan bambu. Selain untuk menjaga kelangsungan air dan mencegah erosi yang terjadi, tanaman tersebut juga
57
mempunyai nilai budaya tinggi bagi masyarakat Jawa. Gambar 12 menunjukkan ilustrasi penanaman vegetasi di permukiman penduduk.
58
Gambar 12 Ilustrasi penanaman vegetasi di permukiman penduduk (Samekto, 2002)
Semakin ke selatan, kelerengan di daerah bantaran Sungai Code semakin rendah, yaitu antara 0 – 15 %. Dari wilayah studi yang digunakan, kelerengan yang agak tinggi sebagian besar berada tepat di pinggir sungai. Di daerah aliran Sungai Code di bagian selatan, muka air semakin dekat dengan permukiman penduduk, namun lebar sungai semakin besar. Besarnya lebar sungai yang ada di bagian selatan ini tidak diimbangi dengan banyaknya air yang ada di sungai. Hal ini disebabkan karena adanya pendangkalan sungai.
Kota Yogyakarta mempunyai curah hujan yang cukup tinggi, yaitu 2101 mm/tahun atau lebih kurang 175 mm/bulan. Curah hujan tinggi terjadi antara bulan Oktober sampai dengan Mei, yaitu lebih dari 100 mm/bulan. Sedangkan pada bulan Juni sampai Agustus, curah hujan yang terjadi rendah (< 60 mm/bulan). Besarnya curah hujan yang terjadi di Yogyakarta dan letak kota Yogyakarta yang berada di kaki gunung Merapi menyebabkan wilayah ini mempunyai ketersediaan air cukup banyak. Sedangkan suhu rata-rata di wilayah studi sebesar 26,7oC dengan kelembaban sebesar 78%.
59
Hidrologi
Kedalaman air tanah di wilayah sungai Code berkisar antara 7 – 15 m di bagian utara dan kurang dari 7 m di bagian selatan. Kelulusan air di wilayah sungai Code sedang sampai besar yang menyebabkan cukup tersedianya air tanah (Tabel 18).
Tabel 18 Kedalaman dan kelulusan air di kawasan studi
No. Wilayah Studi Kedalaman Air Tanah (m) Kelulusan Air
1. Kecamatan Jetis: a. Cokrodiningratan b. Gowongan 7 – 15 7 – 15 tinggi tinggi 2. Kecamatan Gondokusuman: a. Terban b. Kotabaru 7 – 15 7 – 15 tinggi tinggi 3. Kecamatan Danurejan: a. Tegalpanggung b. Suryatmajan 7 – 15 7 – 15 tinggi tinggi 4. Kecamatan Pakualaman: a. Purwokinanti 7 – 15 tinggi 5. Kecamatan Gondomanan: a. Ngupasan b. Prawirodirjan 7 – 15 7 – 15 tinggi tinggi 6. Kecamatan Mergangsan: a. Wirogunan b. Keparakan c. Brontokusuman 7 – 15 7 – 15 7 – 15 tinggi tinggi tinggi Sumber: Kota Yogyakarta dalam angka, 2002
Besarnya kelulusan air yang terjadi di wilayah sungai Code juga diakibatkan oleh jenis tanah yang dipunyai, yaitu Regosol. Tanah ini mempunyai sifat sedikit mengikat air dan sangat porus. Hal ini menyebabkan besarnya infiltrasi yang terjadi di wilayah ini dan memberikan ketersediaan air tanah yang cukup besar. Untuk menjaga keberadaan air ini perlu dilakukan penanaman pohon sehingga air yang masuk ke dalam tanah dapat diikat oleh akar-akar pohon. Untuk itu pemilihan pohon yang mempunyai akar yang banyak akan lebih baik. Apabila menggunakan beringin dan bambu yang merupakan tanaman asli wilayah akan lebih baik. Selain kedua tanaman tersebut mempunyai perakaran yang kuat dan lebat, juga mempunyai arti budaya yang tinggi bagi masyarakat setempat. Gambar 13 menunjukkan ilustrasi penanaman vegetasi untuk mempertahankan keberadaan air tanah.
60
Gambar 13 Ilustrasi penanaman vegetasi untuk mempertahankan keberadaan air tanah (Samekto, 2002)
Bila dilihat dari volume airnya, sungai Code mempunyai volume air yang relatif kecil. Hal ini disebabkan oleh pembangunan talud di sepanjang sungai Code yang menyebabkan matinya mata air di sekitarnya. Selain itu digunakannya wilayah bantaran sungai Code sebagai daerah pemukiman menyebabkan kualitas air di sungai tersebut rendah dengan kandungan bakteri E. coli cukup tinggi. Debit air sungai Code pun juga tidak begitu besar, yaitu sebesar 300 l/dt (Dinas Pengairan 2004).
Kondisi hidrologi saat ini yang tidak mendukung perencanaan kawasan ini sebagai kawasan wisata budaya ditambah dengan jenis tanah yang mempercepat kelulusan air, kemungkinan terjadinya banjir relatif rendah. Namun karena semakin kecilnya daerah resapan air hujan dan tergantikan oleh bangunan dan perkerasan menyebabkan terjadinya aliran permukaan yang cukup besar dan mengakibatkan luapan air sungai ke daerah permukiman penduduk. Disamping itu juga terbatasnya vegetasi yang dapat menahan jatuhnya air hujan dan lajunya aliran permukaan juga menjadi salah satu penyebab meluapnya air dan juga sebagai penyebab longsornya talud di bantaran sungai Code (Gambar 14).
61
Gambar 14 Longsornya talud sungai Code
Penataan kawasan yang baikakan mengurangi terjadinya longsor dan kemungkinan banjir yang akan terjadi. Daerah dengan kelerengan tinggi dijadikan daerah lindung dengan pembangunan talud yang dibuat teras-teras untuk mengurangi laju permukaan. Selain itu, penggunaan vegetasi juga dapat dilakukan sehingga dapat mengurangi infiltrasi dan dapat menyimpan air tanah lebih banyak sehingga mata air yang ada dapat terjaga dan dapat menaikkan permukaan air. Gambar 15 menggambarkan ilustrasi penanaman vegetasi di pada teras-teras sungai.
62
Kondisi kemiringan lahan yang ada di Daerah Aliran Sungai (DAS) akan membentuk suatu zona perlindungan kawasan yang dibedakan ke dalam zona kawasan lindung, zona kawasan penyangga dan zona kawasan budidaya.