Zona Perlindungan Kawasan
3. Kawasan Budidaya
Kawasan Budidaya merupakan kawasan yang dapat diubah dan dimanfaatkan oleh manusia. Kawasan ini umumnya berada pada daerah yang mempunyai kelerengan antara 0 – 15 % (Sugandy 1984).
Pada kawasan budidaya ini semua aktifitas masyarakat baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan dapat dilakukan. Pada kawasan ini, daerah terbangun dan budidaya yang lain dapat dilakukan. Daerah perkotaan yang mempunyai wilayah terbangun lebih banyak menempati wilayah dengan kelerengan antara 0 – 8 %, sedangkan daerah pedesaan yang masih banyak vegetasinya menempati areal dengan kelerengan 8 – 15 %.
Kondisi di wilayah sungai Code, semua areal dengan kelerengan antara 0 – 15 % tersebar di seluruh kecamatan dan kelurahan yang dilalui sungai Code. Peruntukkan wilayah ini umumnya menjadi areal terbangun seperti pemukiman, perdagangan dan perkerasan yang lain. Sedangkan di bagian selatan wilayah sungai Code (kelurahan Wirogunan, Keparakan dan Brontokusuman) masih terdapat areal persawahan. Pembangunan kota telah mengakibatkan kawasan budidaya perkotaan dan pedesaan menjadi satu menjadi kawasan terbangun.
Di bantaran sungai Code, daerah terbangun lebih banyak dibanding yang lain karena terbatasnya lahan yang dapat digunakan. Pembangunan yang ada telah mengubah peruntukan kawasan menjadi daerah pemukiman padat
64
penduduk. Selain itu, ketersediaan ruang terbuka dan ruang terbuka hijau di bantaran sungai Code juga sangat minim, tergantikan oleh perumahan yang semakin banyak. Sepanjang bantaran sungai Code yang ada di wilayah kota Yogyakarta sebagian besar sudah merupakan man-made areas, kalaupun ada ruang publik, rata-rata berada di sepanjang talud yang dibangun di sepanjang sungai Code.
Pentaludan sungai di wilayah sungai Code dibutuhkan oleh masyarakat setempat untuk menjaga kestabilan tempat tinggal mereka karena telah berubahnya fungsi kawasan yang ada, terutama kawasan lindung dan penyangga. Namun demikian, karena pembuatan talud yang kurang bijaksana telah membuat berubahnya aliran sungai dan terjadi penggerogotan talud oleh air yang dapat mengancam keberadaan perumahan di bantaran sungai Code. Akibat perubahan fungsi lahan yang terjadi di daerah bantaran sungai Code telah menyebabkan ancaman bagi masyarakat yang tinggal disekitarnya.
Kondisi yang demikian dapat diperbaiki dengan membuat talud yang ramah lingkungan sangat dibutuhkan untuk mengurangi resiko banjir dan runtuhnya talud akibat aliran air (Setiawan dan Utiyati 2003) dengan memanfaatkan tanama n sebagai bahan talud. Selain itu, pada daerah-daerah yang mempunyai kelerengan tinggi dapat dibuat teras-teras untuk mengurangi beban talud dan aliran permukaan, serta dikombinasikan dengan pemanfaatan tanaman. Selain itu, harus ada perencanaan yang terintegrasi dari semua wilayah yang dilalui Sungai Code baik di daerah hulu yang merupakan wilayah Kabupaten Sleman sampai di daerah hilir yang merupakan wilayah Kabupaten Bantul. Daerah lindung dapat dilakukan di daerah hulu dan daerah-daerah yang mempunyai kelerengan tinggi untuk menjaga keberadaan aliran sungai serta pembatasan penggunaannya melalui aturan daerah yang jelas. Gambar 16 menggambarkan peta perlindungan kawasan di sungai Code.
65
66
Kondisi Kehidupan Masyarakat sebagai Aset Wisata Budaya
Keragaman Sosial Budaya sebagai sumber obyek dan atraksi wisata
Masyarakat di kawasan sungai Code, seperti kondisi kota Yogyakarta pada umumnya masih menganut dan menjalankan adat jawa. Kehidupan masyarakat yang ada di wilayah ini sebagian masih melakukan ritual-ritual adat guna kelangsungan hidupnya. Pada beberapa bagian di bantaran sungai Code, sebagian masyarakatnya masih melakukan upacara adat untuk meminta keselamatan dan kelangsungan hidupnya di daerah bantaran. Selain itu, pada acara-acara seperti pernikahan, khitanan dan menjelang bulan puasa masih dilakukan ritual-ritual demi keselamatan dan kelancaran acara yang akan dilakukan.
Kehidupan masyarakatnya juga sangat berorientasi kepada keberadaan sungai. Kegiatan sehari-hari masyarakat setempat juga sangat tergantung pada sungai, walaupun ketergantungannya sudah berkurang. Ketergantungan akan air bersih terutama di kawasan Code bagian utara masih memanfaatkan sumber- sumber air yang tersisa di pinggiran sungai. Namun demikian, pemanfaatannya sudah lebih modern dengan menampung air tersebut kedalam bak air, bukan lagi menggunakan air sungai. Demikian juga dengan kehidupan bermasyarakatnya. Sungai yang sebelumnya dijadikan bagian belakang dengan menjadikannya daerah buanga n, di beberapa bagian sudah dijadikan halaman depan dengan kehidupan yang berorientasi ke sungai. Tempat-tempat publik yang sangat terbatas lebih banyak berada di pinggiran sungai dan interaksi masyarakat terjadi di tempat tersebut. Kondisi yang demikian telah mengubah budaya sebagian masyarakat dengan pola hidup yang lebih sehat. Pinggiran sungai yang sebelumnya digunakan sebagai kegiatan mandi, cuci dan kakus (MCK) berubah menjadi area publik yang lebih nyaman.
Masyarakat bantaran sungai Code memulai kembali kegiatan budaya yang dulu dilakukan oleh nenek moyangnya. Hal ini tercermin dari kegiatan bersih sungai yang disebut sebagai Merti Code yang dilakukan di wilayah Code Utara. Merti Code ini mulai dikembangkan kembali pada tahun 2000 dengan melakukan upacara disekitar sungai Code sebagai acara puncak bersih sungai. Kegiatan sehari-hari masyarakat di bantaran sungai Code, seperti halnya kampung-kampung di Yogyakarta banyak kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan. Orientasi kegiatan yang sebelumnya membelakangi sungai, sejak
67
dibuatnya talud dan jalan akses dipinggir talud, orientasi kegiatan sebagian masyarakatnya sudah menghadap ke sungai. Kondisi yang demikian sedikit banyak telah membuat kawasan Code menjadi lebih tertata.
Kondisi bantaran sungai Code yang lebih tertata tersebut dapat tetap dilestarikan dengan menjadikannya sebagai kawasan wisata. Kehidupan dan adat-istiadat masyarakat bantaran sungai dapat dikembangkan sebagai potensi wisata. Hal ini dapat menjadi obyek wisata karena adat kebiasaan masyarakat yang khas untuk kawasan pinggiran sungai. Dengan demikian, keasrian dan pola hidup bersih yang sudah mulai diterapkan dapat lestari. Gambar 17 menunjukkan orientasi masyarakat bantaran sungai Code terhadap sungainya.
a b c
d e
Gambar 17 Orientasi masyarakat bantaran sungai Code terhadap sungai Code (a,c) Sungai Code sebagai tempat mandi, cuci; (b,d) Sungai Code sebagai tempat memelihara ternak; (e) Sungai Code untuk menggantungkan hidup
68
Kondisi Sosial Ekonomi sebagai Faktor Pendukung Kegiatan Wisata Budaya
Kawasan Sungai Code yang berada di tengah-tengah kota merupakan tempat terkonsentrasinya banyak kegiatan kota, mempunyai kepadatan penduduk yang cukup tinggi dengan kondisi masyarakat yang sangat beragam. Kepadatan penduduk pada masing-masing kelurahan rata-rata diatas 100 jiwa/ha (kepadatan tinggi), kecuali di wilayah kelurahan Kotabaru sebesar 79,798 jiwa/ha (kepadatan sedang). Tabel 19 dan Gambar 18 menunjukkan kepadatan penduduk di wilayah studi.
Tabel 19 Kepadatan penduduk di wilayah studi
No. Wilayah Studi Penduduk Jumlah Wilayah (Ha) Luas Kpdtn Pnddk (jiwa/ha) Ranking 1. Kec. Jetis: a. Cokrodiningratan b. Gowongan 13.554 10.540 65,9002 45,9075 205,675 229,592 8 5 2. Kec.Gondokusuman: a. Terban b. Kotabaru 15.222 5.690 79,7244 71,3050 190,933 79,798 9 12 3. Kec. Danurejan: a. Tegalpanggung b. Suryatmajan 11.485 6.691 35,0575 27,8675 327,605 240,100 1 4 4. Kec. Pakualaman: a. Purwokinanti 8.963 33,2200 269,807 2 5. Kec. Gondomanan: a. Ngupasan b. Prawirodirjan 7.352 10.324 67,0450 45,2625 109,658 228,092 11 6 6. Kec. Mergangsan: a. Wirogunan b. Keparakan c. Brontokusuman 18.039 11.222 12.675 74,9943 52,7475 80,7150 240,538 212,749 157,034 3 7 10 Sumber: Monografi kelurahan yang diolah (2004)
Tabel 19 menunjukkan tingginya populasi di bantaran sungai Code. Kepadatan terendah ada di wilayah kelurahan Kotabaru, yaitu 79,798 jiwa/ha dan kepadatan tertinggi di wilayah kelurahan Tegalpanggung yang mencapai 327,605 jiwa/ha. Kotabaru mempunyai kepadatan penduduk yang paling rendah karena di wilayah ini banyak terdapat gedung sekolah, perkantoran, dan stadion olahraga disamping merupakan kawasan pemukiman penduduk yang berpenghasilan tinggi (kawasan elit) dengan rumah yang cukup luas. Bantaran sungai Code yang
69
melalui wilayah Kotabaru ini sebagian besar tidak digunakan sebagai tempat tinggal, melainkan diperuntukkan taman kota. Disamping itu, kondisi fisik bantaran sungai Code di wilayah ini mempunyai kelerengan yang cukup tinggi pula. Sedangkan wilayah Tegalpanggung, sebagian besar besar masyarakatnya hidup di bantaran sungai Code dengan pemukiman penduduk yang saling berimpit dan bersama kelurahan Suryatmajan, paling banyak mempunyai perumahan temporar dari seluruh wilayah kota Yogyakarta yaitu sebesar 2.350 rumah temporar. Kondisi fisik wilayah yang sebagian besar daerah bantaran sungainya landai membuat masyarakat dapat mendirikan bangunan lebih leluasa. Selain itu, akses ke pusat perdagangan dan kegiatan juga relatif dekat. Kondisi ini menunjukkan bahwa di wilayah kecamatan Danurejan yang 2 wilayah kelurahannya dilalui sungai Code mempunyai masalah kependudukan yang cukup besar. Disamping itu banyaknya keluarga miskin yang menempati wilayah bantaran sungai Code (Tabel 20). Kondisi yang demikian juga disebabkan oleh kondisi ekonomi masyarakatnya rendah sehingga akan memilih tempat tinggal yang murah dan dekat dengan pusat kegiatannya.
Tabel 20 Karakteristik kemiskinan di wilayah studi
KK Miskin (KK)
No. Wilayah Studi
Jumlah Persentase (%) 1. Kec. Gondokusuman 11.543 11,37 2. Kec. Mergangsan 7.642 7,53 3. Kec. Jetis 7.231 7,12 4. Kec. Danurejan 6.642 6,54 5. Kec. Gondomanan 4.531 4,46 6. Kec. Pakualaman 2.861 2,82
Sumber: Kota Yogyakarta dalam angka, 2002
Masalah kemiskinan kota dirasakan oleh 39,84 % kepala keluarga miskin di bantaran sungai Code. Jumlah kepala keluarga miskin ini terbanyak berada di kecamatan Gondokusuman sebesar 11,37 % dan terendah di kecamatan Pakualaman 2,82 % dari keseluruhan jumlah keluarga miskin yang ada di kota Yogyakarta. Masalah kemiskinan ini cukup dirasakan oleh masyarakat sehingga tempat tinggal yang digunakan pun terkesan seadanya. Banyaknya keluarga miskin yang bertempat tinggal di bantaran sungai Code membuat permukiman di bantaran sungai Code ini menjadi kurang tertata.
70
71
Menurut Evers (1982), dalam kasus tumbuhnya permukiman di tepi sungai, pertumbuhan penduduk melalui urbanisasi merupakan salah satu sebab pertumbuhan yang besar. Hal ini terkait dengan tidak adanya kemampuan para migran untuk memiliki lahan di kota sehingga cenderung untuk mencari lahan seadanya sebagai tempat tinggal. Daerah bantaran sungai merupakan daerah pilihan karena sewanya relatif masih murah dibandingkan daerah lain. Adanya permintaan tempat tinggal yang cukup tinggi dan dekat dengan pusat kegiatan mengakibatkan perubahan penggunaan ruang kawasan tepi sungai (Zaim 2004). Akibatnya, daerah pinggiran sungai menjadi tempat pemukiman yang padat penduduk (Gambar 19).
Padatnya perumahan di bantaran sungai Code membuat pemerintah kota Yogyakarta memberi alternatif rumah tinggal lain berupa rumah susun sewa (Gambar 20). Rumah susun sewa ini dibangun sejak tahun 2000 dan mulai difungsikan pada tahun 2005. Rumah susun ini dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan perumahan yang ada di bantaran sungai Code disamping juga memberikan kemudahan bagi warga setempat maupun pendatang yang tidak mempunyai rumah tinggal. Akan tetapi, keberadaan rumah susun tersebut sangat tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup sungai, terutama secara ekologis. Daerah bantaran sungai yang seharusnya menjadi kawasan penyangga dan kawasan lindung seolah-olah justru dilegalkan menjadi kawasan permukiman. Selain itu, hal ini justru memperberat beban sungai untuk menopang kehidupan diatasnya.
Dari hal diatas, maka perlu penataan yang jelas bagi daerah bantaran sungai. Peraturan pembangunan dan pengembangan kota harus dipertegas untuk mengurangi degradasi lingkungan yang semakin tinggi. Penggunaan vegetasi untuk mengurangi dampak negatif dari degradasi lingkungan tersebut perlu dilakukan.
Kondisi kepadatan perumahan di bantaran sungai Code juga memberikan inspirasi bagi sebagian orang untuk menata kawasannya menjadi lebih indah dan memberikan daya tarik tersendiri. Hal ini diawali di bantaran sungai Code wilayah utara, tepatnya di bawah jembatan Gondolayu yang terdapat banyak rumah tinggal dengan arsitektur menarik. Penataan kawasan ini diawali oleh Romo JB. Mangunwijaya di awal tahun 90-an yang membuat sungai Code menjadi nilai lebih dan mempunyai potensi wisata yang menarik (Gambar 21).
72
Gambar 19 Kepadatan perumahan di bantaran sungai Code
Gambar 20 Rumah susun sewa di bantaran sungai Code
73
Masalah kependudukan ini didukung pula oleh penghasilan masyarakat Code yang rata-rata kurang dari 500.000 rupiah/bulan (Tabel 21). Kondisi ini didukung pula dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang sebagian besar lulusa n sekolah menengah.
Tabel 21 Kondisi sosial masyarakat bantaran sungai Code
Responden (Jiwa) Kondisi Sosial Jumlah Persentase (%) SD 3 4,76 SLTP 12 19,05 SMU 30 47,62 Diploma 3 4,76 Sarjana 15 23,81 PENDIDIKAN Jumlah 63 100 PNS 6 9,52 Wiraswasta 30 47,62 Pedagang 6 9,52 Srabutan 3 4,76 Karyawan Swasta 12 19,05 LSM 3 4,76 Pensiunan 3 4,76 PEKERJAAN Jumlah 63 100 > Rp. 1 juta 9 14,29 Rp. 500.000 – Rp. 1 juta 9 14,29 Rp. 300.000 – Rp. 500.000 18 28,57 < Rp. 300.000 27 42,86 PENGHASILAN PER BULAN Jumlah 63 100
Sumber: Data primer yang diolah, 2004 (n =63)
Tabel 21 menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di bantaran sungai Code mempunyai pendidikan setingkat sekolah menengah (66,67 %), dengan jumlah terbesar setingkat SMU (47,62 %). Namun demikian, kesadaran masyarakat akan pendidikan juga sudah mulai tampak dengan tingginya jumlah sarjana yang ada, baik diploma maupun sarjana, yaitu sekitar 28,57 %. Apabila dilihat dari segi pekerjaan, sebagian besar masyarakat di bantaran sungai Code mempunyai pekerjaan sebagai wiraswasta (47,62 %) dengan penghasilan rata- rata kurang dari 300.000 rupiah. Tingginya jumlah penduduk yang berprofesi sebagai wiraswasta ini diakibatkan karena minimnya jumlah lapangan pekerjaan disamping juga keinginan sebagian masyarakat yang tidak mau terikat dengan suatu instansi. Wiraswasta yang dilakukan oleh sebagian masyarakat sungai
74
Code adalah pedagang kaki lima di daerah perdagangan yang ada di kota Yogyakarta.
Selain itu, industri rumah tangga di beberapa ruas bantaran sungai Code juga tumbuh baik. Di wilayah kecamatan Jetis yang meliputi kelurahan Cokrodiningratan dan Gowongan terdapat industri pembuatan bunga hias (corsage) yang sudah ada sejak tahun 1990-an. Produksi corsage ini sudah mempunyai pasar yang cukup bagus untuk lingkungan kota Yogyakarta. Di daerah kampung Ratmakan Gondomanan, pada tahun 1990-an masih terdapat industri batik. Namun seiring menurunnya kunjungan wisatawan yang datang ke Yogyakarta, industri tersebut secara perlahan mulai hilang. Sampai saat ini masih ada pengrajin tas yang masih bertahan dan dipasarkan di Malioboro dan bahkan di ekspor bila ada pesanan. Selain itu, di kelurahan Suryatmajan terdapat kerajinan perak dan souvenir berupa miniatur icon kota seperti tugu, candi dan sebagainya.. Akan tetapi, penghasilan masyarakat di bantaran sungai Code ini masih dibawah rata-rata Upah Minimum Regional (UMR) kota Yogyakarta (sekitar Rp. 400.000/bln). Hal ini juga yang memicu mengapa banyak masyarakat yang tinggal di bantaran sungai Code dengan kondisi yang seadanya karena wilayahnya yang berada di pusat kota sehingga akses ke mana pun juga mudah. Selain itu, banyaknya masyarakat bantaran sungai Code yang menjadi pedagang kaki lima di sekitar pusat pertokoan dan perkantoran yang letaknya dekat dengan sungai Code, membuat bantaran sungai Code sebagai pilihan tempat tinggal.
Kegiatan perekonomian di wilayah sungai Code tidak terlepas dari dekatnya jarak dengan pusat perekonomian di kota Yogyakarta. Di kecamatan Jetis, banyak terdapat hotel dan perkantoran yang ikut mendukung perekonomian rakyat, Selain itu, juga terdapat pasar Kranggan sebagai pasar rakyat yang juga banyak menjual kerajinan masyarakat termasuk batik. Di wilayah Terban yang dekat dekat kampus UGM banyak pedagang kakilima makanan dengan warung tenda dan lesehan, terutama di malam hari. Di wilayah Kotabaru, terdapat lesehan yang disebut angkringan yang cukup terkenal dan banyak dicari orang. Di wilayah Suryatmajan, terdapat jalan Mataram sebagai pusat kerajinan dan daerah pendukung Malioboro. Di daerah Prawirodirjan terdapat tempat hiburan rakyat yang seringkali menampilkan kesenian rakyat yang sudah jarang ditemui lagi.
Kondisi sosial budaya kawasan sungai yang spesifik beserta adat-istiadat yang dipertahankan oleh masyarakat setempat merupakan potensi wisata yang
75
potensial. Disamping itu, adanya pusat-pusat kerajinan dan perdagangan khas kota Yogyakarta merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestariannya, kawasan tersebut dapat dijadikan daerah wisata alternatif di kota Yogyakarta.
Zona Wisata Budaya
Kota Yogyakarta, bersama beberapa daerah lain di Indonesia telah ditetapkan sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia. Kebijakan ini merupakan peluang yang sangat besar yang harus dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan pariwisata daerah terutama untuk pengembangan ekonomi masyarakat dan peningkatan penerimaan daerah (Bappeda Kota Yogyakarta 2004). Pendapatan dari sektor pariwisata di kota Yogyakarta cukup besar, terutama dari wisatawan mancanegara yang memberikan pemasukan 3 – 5 kali lebih tinggi dibanding dengan wisatawan nusantara dengan jumlah wisatawan yang lebih sedikit.
Pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata menjadi sangat penting karena sektor ini telah memberikan peran nyata terhadap kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan kesempatan kerja di kota Yogyakarta. Pengembangan pariwisata merupakan upaya mengoptimalkan potensi wisata yang ada. Kepariwisataan yang ada, diarahkan untuk mencapai sasaran pokok sebagai berikut:
1. Meningkatkan pariwisata sebagai sektor andalan 2. Mengembangkan kepariwisataan nusantara 3. Meningkatkan sumberdaya manusia
4. Meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta.
Jumlah kunjungan wisata ke kota Yogyakarta semakin meningkat dari tahun ke tahun yang kemudian mengalami penurunan sejak terjadinya krisis moneter yang berkepanjangan di Indonesia (Tabel 22).
76
Tabel 22 Jumlah kunjungan wisata ke Kota Yogyakarta
Jumlah Wisatawan Tahun Kunjungan
Wisata Nusantara Mancanegara
Jumlah Kunjungan Wisata 1997 1.016.742 204.938 1.221.680 1998 743.739 75.254 818.993 1999 803.910 84.386 888.296 2000 790.716 64.599 855.315 2001 529.828 46.997 576.825 2002 816.769 84.490 901.250 2003 1.306.253 64.624 1.370.877
Sumber: Kota Yogyakarta dalam angka, Diparda (1997-2003)
Untuk mempertahankan predikat daerah kunjungan wisata, maka harus terus dilakukan pencarian obyek wisata alternatif untuk menggantikan ataupun mendukung keberadaan obyek wisata yang sudah ada. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi kejenuhan wisatawan terhadap obyek wisata yang sudah ada. Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah menjadikan kawasan sungai Code menjadi obyek wisata baru.