Letak Geografi atau Letak Wilayah Administratif
PT. Kusuma Agrowisata (PT. KA) terletak di Desa Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Administratif Batu, Jawa Timur. Lokasi ini terletak sekitar 19 km dari kota Malang dan berada pada ketinggian antara 680 - 1 700 m di atas permukaan laut. Lokasi PT. KA berbatasan dengan Desa Ngaglik di sebelah utara, gunung Panderman di sebelah selatan, Desa Pesanggrahan di sebelah timur, dan Desa Sisir di sebelah barat.
Keadaan Tanah dan Iklim
Jenis tanah pada tempat ini adalah tanah andosol. Tipe iklim di daerah ini termasuk tipe D (sedang) berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson dengan rata-rata tinggi curah hujan 1539.8 mm/tahun (Lampiran 6). Suhu rata-rata berkisar antara 16 - 30 °C. Kondisi klimatologi kota Batu selama bulan Januari sampai April 2009 terdapat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Data Klimatologi Kota Batu Bulan Januari - April 2009
No Unsur Klimatologi Satuan Januari Februari Maret April
1 Curah Hujan mm 336 358 191 74
2 Hari Hujan hari 27 26 15 11
3 Lembab Nisbi Rata-Rata % 85 84 78 76
Sumber : Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, 2009
Luas Areal dan Tata Guna Lahan
Total luas areal perusahaan adalah 62 ha dengan pemanfaatan utama untuk areal budidaya dan sisanya untuk bangunan kantor dan fasilitas pendukung lainnya. Areal budidaya terdiri atas tanaman tahunan dan tanaman semusim. Tanaman tahunan meliputi apel, jeruk, jambu biji merah, kopi, dan buah naga sedangkan tanaman semusim meliputi stroberi, rosella, paprika, tomat ceri, dan tanaman hidroponik. Luas areal budidaya tanaman tahunan dan tanaman semusim dapat dilihat pada Tabel 2 sedangkan pembagian areal kebun PT. KA dapat dilihat melalui peta kebun yang terdapat pada Lampiran 7.
Tabel 2. Luas Areal Budidaya Tanaman di PT. Kusuma Agrowisata
Areal Luas (m2) Areal Luas (m2)
Apel 71 891 Stroberi 20 000
Jeruk 66 000 Paprika 3 893
Jambu Biji Merah 34 000 Tomat Ceri 350
Buah Naga 16 000 Hidroponik 1 134
Kopi 90 000 Rosella 8 500
Sumber : Arsip Departemen Budidaya Tanaman PT. Kusuma Agrowisata, 2009, diolah.
Keadaan Tanaman dan Produksi
Apel sebagai komoditas andalan untuk tujuan agrowisata menempati areal seluas ±7.2 ha, terdiri atas 32 blok dan terbagi dalam 7 blok besar yakni blok A, B, C, D, E, F, dan G (Lampiran 8). Tanaman terdiri dari tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) karena ditanam pada tahun tanam yang bervariasi dari tahun 1991 sampai tahun 2009. Secara umum jarak tanam yang digunakan adalah 3 m x 3 m, tetapi pada beberapa areal pertanaman terdapat juga jarak tanam 3 m x 3.25 m dan 2.5 m x 2.5 m sehingga rata-rata populasi tanaman antara 1 111 - 1 500 tanaman/ha.
Produksi apel tahun 2007 mencapai 58.85 ton kemudian di tahun 2008 menurun menjadi 50.70 ton. Penurunan produksi masih terjadi pada tahun 2009, selama Januari - Maret 2009 diketahui jumlah produksi apel sebesar 14.676 ton lebih sedikit dari produksi pada bulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 20.515 ton (Lampiran 9). Hal ini terjadi disebabkan banyak tanaman yang sudah mengalami penurunan produksi karena umur tanaman sudah tua atau terserang penyakit yang sudah tidak dapat dikendalikan lagi.
Varietas yang ditanam antara lain Manalagi, Rome Beauty, Anna, dan Wanglin tetapi pertanaman yang ada didominasi oleh varietas Manalagi. Apel Manalagi memiliki rasa manis, daun lebar dan berwarna hijau tua, bunga berwarna putih, kulit buah berwarna hijau kekuningan jika dibungkus sedangkan jika dibiarkan terbuka maka akan muncul warna semburat merah. Apel Rome Beauty memiliki rasa segar dan sedikit asam, daun panjang menyempit dan berwarna hijau tua, bunga berwarna putih, dan kulit buah berwarna hijau kemerahan. Anna memiliki rasa asam, daun meruncing dan berwarna hijau kelabu, bunga berwarna putih kemerahan, dan kulit buah berwarna kuning kemerahan. Apel Wanglin memiliki rasa manis, daun oval dengan ujung
meruncing, bunga berwarna putih, dan kulit buah mulus berwarna hijau berbintik. Gambar 1 menunjukkan jenis varietas apel yang ditanam di PT. Kusuma Agrowisata.
Gambar 1. Varietas Apel di PT. Kusuma Agrowisata : a) Anna, b) Manalagi, c) Rome Beauty, d) Wanglin
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan
Perusahaan merupakan badan usaha milik perseorangan yang dipimpin oleh seorang direktur utama. Perusahaan terdiri atas lima divisi yakni divisi agrowisata, hotel, estat, agro industri, serta divisi klinik agribisnis dan agrowisata (KAA). Masing-masing divisi terbagi dalam beberapa departemen (Lampiran 10).
Divisi agrowisata terdiri dari enam departemen yakni departemen Budidaya Tanaman Tahunan (BTT), Budidaya Tanaman Semusim (BTS), Trading, Pemasaran Wisata, Keuangan Umum dan Administrasi (KUA) dan Food and Beverage dan
Entertainment. Setiap departemen dipimpin seorang kepala departemen.
Jumlah karyawan di setiap departemen divisi agrowisata berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Tabel 3 menunjukkan jumlah karyawan pada setiap
a
d c
departemen di divisi agrowisata. Departemen BTT memiliki jumlah karyawan terbanyak karena banyaknya kegiatan yang dilakukan terutama kegiatan di lapangan.
Tabel 3. Jumlah Karyawan Divisi Agrowisata PT. Kusuma Agrowisata
Departemen Jumlah (orang)
Keuangan Umum dan Administrasi (KUA) 35
Trading 15
Pemasaran Agrowisata 16
Food and Baverage dan Entertainment 25
Budidaya Tanaman Semusim (BTS) 20
Budidaya Tanaman Tahunan (BTT) 53
Total 164
Sumber : Arsip Departemen Keuangan Umum dan Administrasi PT. Kusuma Agrowista, 2009, diolah
Departemen BTT menangani budidaya tanaman apel, jeruk, buah naga, jambu biji merah, dan kopi. Departemen ini yang mengatur jenis buah dan area pertanaman yang akan dijadikan kawasan petikan. Departemen BTT dipimpin oleh seorang kepala departemen yang membawahi 3 pengawas kebun dan 1 staf administrasi, serta memiliki 44 karyawan harian lepas (KHL) (Tabel 4 dan Lampiran 11).
Tabel 4. Jumlah Karyawan Departemen Budidaya Tanaman Tahunan
Jabatan Jumlah
Laki-Laki Perempuan Total
Kepala Departemen 1 0 1
Pengawas Kebun 3 0 3
Staff Administrasi 1 0 1
KHL 44 4 48
49 4 53
Sumber : Departemen Budidaya Tanaman Tahunan PT. Kusuma Agrowisata, 2009, diolah
Pengelolaan Tenaga Kerja Tingkat Staf
Pengelolaan manajemen departemen BTT dipimpin oleh kepala departemen yang dibantu oleh pengawas kebun dan staf administrasi. Kepala departemen memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membuat dan melaksanakan anggaran pendapatan dan belanja yang telah disetujui, membuat rencana kerja tahunan, bulanan, dan harian, bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan produksi di kebun, serta mampu mengarahkan pengawas dan staf administrasi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Pengawas kebun bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengelolaan kebun pada seluruh komoditas tanaman tahunan yang ada. Tugas pengawas kebun
antara lain mengecek kelengkapan alat dan bahan, memberikan pengarahan kepada karyawan harian, mengawasi, mengontrol dan menilai pekerjaan karyawan, mengamati dan memperhatikan pengaruh hasil kerja yang dilakukan terhadap kondisi pertanaman, menganalisis dan mengevaluasi dengan tepat, melaporkan, dan mendiskusikan dengan kepala departemen.
Staf administrasi bertanggung jawab terhadap pengelolaan kegiatan administrasi kebun. Tugas staf administrasi antara lain menyiapkan buku absensi karyawan, menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan, menerima, memeriksa dan mencatat pengiriman atau pengeluaran dan penerimaan barang, memeriksa buku laporan pengawas dan membuat laporan gaji harian, mingguan, dan bulanan. Staf administrasi juga diberi tanggung jawab dalam pengawasan kegiatan pengendalian hama dan penyakit tanaman (PHPT). Staf administrasi menyiapkan kebutuhan bahan-bahan untuk kegiatan PHPT, mengawasi pelaksanaan kegiatan, mengontrol hasil kegiatan, dan melihat pengaruhnya terhadap kondisi pertanaman.
Pengelolaan Tenaga Kerja di Lapangan
Pengawas memberikan pengarahan setiap pagi sebelum ke lapangan kepada KHL mengenai kegiatan yang akan dilakukan dan membagi mereka ke dalam beberapa kegiatan tersebut. Jam kerja berlangsung selama enam jam dari pukul 06.00 - 12.30 dengan waktu istirahat pada pukul 09.00 - 09.30.
Kegiatan yang dilakukan terbagi atas sistem harian dan sistem borongan. Sistem ini menentukan upah yang diberikan. Pada sistem harian upah didasarkan pada banyaknya jumlah hari kerja, Rp 21 000 untuk karyawan pria dan Rp 18 500 untuk karyawan wanita. Jika dilakukan lembur maka diberikan upah tambahan sebesar Rp 3 500 per jam, baik karyawan pria maupun wanita. Sistem borongan dilakukan dengan pertimbangan efisiensi waktu dan biaya. Upah pada sistem borongan didasarkan pada prestasi yang telah dicapai karyawan berupa luasan lahan atau jumlah pohon yang telah dikerjakan.
Kegiatan pengelolaan yang dilakukan oleh KHL antara lain pemupukan, pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta panen. Kegiatan yang dilakukan dengan sistem borongan antara lain pengolahan tanah, perompesan, dan persiapan pemupukan. Kegiatan pengolahan tanah dilakukan
oleh KHL tetapi upah diberikan dengan sistem borongan sesuai dengan luasan lahan yang dikerjakan. Kegiatan perompesan biasanya dilakukan oleh tenaga kerja dari luar dengan sistem upah didasarkan pada luasan lahan yang dikerjakan.Upah kegiatan persiapan pemupukan didasarkan pada jumlah dan jenis pohon untuk TBM Rp 300 per pohon sedangkan TM Rp 400 per pohon.
Berdasarkan pengamatan di lapangan diketahui bahwa produktivitas karyawan belum mencapai standar yang ditetapkan perusahaan pada beberapa kegiatan budidaya yang dilakukan. Tabel 5 menunjukkan prestasi kerja karyawan untuk kegiatan pemupukan, pewiwilan, penyemprotan, pelengkungan, dan panen masih jauh dari standar prestasi kerja perusahaan, tetapi prestasi kerja pada kegiatan
perompesan yang telah mencapai standar prestasi kerja perusahaan yakni 10 pohon per HOK. Kegiatan pemangkasan dengan prestasi kerja antara 8 - 10 pohon
per HOK karyawan hampir mencapai standar prestasi kerja perusahaan yakni 12 pohon per HOK .
Tabel 5. Produktivitas Karyawan dalam Budidaya Apel di Kusuma Agrowisata
Keterangan ; HOK : Hari Orang Kerja (1 HOK = 6 jam/hari)
Kegiatan
Prestasi Kerja
Standar Karyawan Mahasiswa
--- ( Pohon/HOK) --- Pemupukan 1600 1320 525 Perompesan 10 8 - 10 5 - 6 Pemangkasan 12 8 - 10 5 Pewiwilan 30 20 12 Penyemprotan 0.37 Ha 0.1 Ha - Pelengkungan 50 TBM 30 TBM 30 TBM Panen 300 kg 160 kg 160 kg
Budidaya Tanaman Apel di PT. Kusuma Agrowisata
Budidaya tanaman apel yang dilakukan PT. Kusuma Agrowisata (PT. KA) berhubungan dengan fungsi pertanaman untuk petikan wisata yang membutuhkan produksi secara kontinyu. Kegiatan budidaya dilakukan secara rutin dan bergilir antara blok yang satu dengan yang lain sejak bibit ditanam sampai tanaman berproduksi. Kegiatan budidaya yang dilakukan antara lain pengolahan tanah, pemupukan, perompesan, pemangkasan, pelengkungan cabang, pengendalian hama dan penyakit tanaman, panen, dan pasca panen.
Pengolahan tanah
Kegiatan pengolahan tanah yang dilakukan yakni sengkreng dan silep. Sengkreng dan silep dilakukan sebelum pemupukan untuk membersihkan lahan dari gulma di bawah tajuk pohon agar pupuk yang diberikan lebih efektif. Pada kegiatan sengkreng gulma yang telah dibersihkan dijadikan mulsa (Gambar 2a) sedangkan pada kegiatan silep gulma dimasukkan kembali ke dalam tanah (Gambar 2b).
Kegiatan pengolahan tanah selain memperbaiki struktur dan tekstur tanah juga sebagai bentuk sanitasi lahan. Sanitasi lahan dapat mengurangi kompetisi tanaman dengan gulma dalam memperoleh makanan sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Gambar 2. Jenis Pengolahan Tanah di PT. Kusuma Agrowisata: a) Sengkreng, gulma yang telah dibersihkan dijadikan mulsa b) Silep, gulma yang telah dibersihkan dimasukkan kembali ke dalam tanah.
b a
Pemupukan
Pemupukan yang dilakukan oleh PT. KA menggunakan pupuk organik dan pupuk anorganik. Sebelum dilakukan pemupukan dilakukan persiapan pemupukan yakni pembuatan alur pupuk. Menurut Soelarso (1996) pupuk di berikan mengelilingi tanaman dengan membuat alur sedalam 20 cm dan pada jarak selebar tajuk daun. Jarak untuk TM sekitar 1 m dan untuk TBM sekitar 0.5 m (Gambar 3).
Gambar 3. Alur Pupuk pada Tanaman Apel: a) TBM, b) TM
Pupuk organik diberikan melalui tanah. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dengan dosis 40 kg per tanaman dan pupuk hijau dari sisa tanaman di sekitar pertanaman apel. Pupuk kandang diberikan satu kali dalam setahun. Pupuk anorganik yang diaplikasikan dapat berupa pupuk padat atau pupuk cair. Pupuk padat seperti NPK dan ZA diaplikasikan melalui tanah sedangkan pupuk cair seperti gandasil D, gandasil B, dan mono kalium fosfat (MKP) diaplikasikan melalui daun.
Gandasil D diaplikasikan bersamaan dengan penyemprotan pestisida untuk sedangkan gandasil B diaplikasikan bersamaan dengan penyemprotan ZPT. Gandasil B diberikan setelah perompesan sampai menjelang berbunga sebanyak 4 sampai 5 kali sedangkan gandasil D diberikan 2.5 bulan setelah rompes sampai menjelang panen sebanyak 2 sampai 4 kali. Aplikasi pupuk anorganik cair dilakukan bersamaan dengan aplikasi penyemprotan pestisida dan zat pengatur tumbuh. MKP diberikan dengan konsentrasi 10 g/l untuk merangasang pertumbuhan akar dan pembungaan.
a
Tabel 6 menunjukkan jenis dan dosis pupuk padat yang diberikan pada tanaman. Kusumo (1986) menyatakan bahwa jenis dan dosis pupuk pada tanaman apel dibedakan untuk tanaman belum berbuah (TBM) dan telah berbuah (TM). TBM membutuhkan lebih banyak unsur N untuk mendorong pertumbuhan vegetatifnya sedangkan TM membutuhkan pupuk dengan kandungan unsur lebih komplek yakni N, P, K untuk mendukung produksi buah yang dihasilkan.
Tabel 6. Pemupukan Anorganik di PT. Kusuma Agrowisata
Umur Jenis Dosis (g/pohon)
TBM1 ZA 100
TBM II ZA 200
TBM III ZA 300
TBM IV ZA 300
TM I NPK 500
Sumber : Pengamatan di lapang
Perompesan dan Pelengkungan
Perompesan merupakan kegiatan menggugurkan daun secara buatan untuk mematahkan dormansi mata tunas yang disebabkan oleh perbedaan iklim yang terjadi. Di daerah asalnya yakni daerah temperate tanaman apel mampu mematahkan dormansi secara alami karena adanya musim gugur.aMenurut Soelarso (1997) perompesan dapat menstimulasi terbukanya kuncup lateral dan terminal. Perompesan di PT. KA dilakukan secara manual dengan tangan (Gambar 4a). Pelaksanaan perompesan di PT. KA biasanya satu bulan setelah panen dan dilakukan secara rutin dan bergilir mengikuti jadwal pemetikan yang ada.
Menurut Kusumo dan Verheij (1997) gabungan antara pelengkungan, perompesan, dan pemangkasan pucuk akan memicu pertumbuhan pucuk lateral secara maksimum untuk mengisi kerangka pohon. Pelengkungan dilakukan untuk mengatur arah percabangan, membentuk kerangka pohon, dan memicu pertumbuhan tunas lateral sehingga dapat tumbuh merata di sepanjang cabang. Pelengkungan dilakukan setelah tanaman dirompes dan dipangkas. Pelengkungan di PT. KA membentuk pohon tetap pendek sehingga memudahkan pemetikan.. Pelengkungan mulai dilakukan pada tahun ke-2 sampai tahun ke-4 dengan mengikatkan tali rafia pada cabang utama (Gambar 4b).
Gambar 4. Kegiatan perompesan (a) dan Pelengkungan (b) di PT. Kusuma Agrowisata
Pemangkasan
Secara umum pemangkasan dilakukan untuk memperbaiki bentuk tanaman dan meningkatkan produksi dan kualitas buah. Pemangkasan pada tanaman apel dibedakan atas pangkas bentuk dan pangkas pemeliharaan. Aspek teknis ini selanjutnya akan dibahas tersendiri pada bab berikutnya.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (PHPT)
Pengendalian hama dan penyakit tanaman (PHPT) merupakan kegiatan penting dalam budidaya tanaman apel di PT. KA karena hama dan penyakit yang menyerang pertanaman mempengaruhi pertumbuhan dan produksi buah yang dihasilkan. Kegiatan PHPT yang dilakukan meliputi monitoring, sanitasi dan penggunaan pestisida.
Kegiatan PHPT intensif dilakukan karena hama dan penyakit dapat menyerang kapan saja bahkan di setiap fase pertumbuhan tanaman. Kegiatan monitoring setiap blok dilakukan 2 atau 3 hari sekali. Jika dalam monitoring ditemukan gejala serangan hama atau penyakit maka dilakukan tindakan sanitasi sebagai bentuk pengendalian tahap awal. Sanitasi dilakukan dengan memangkas bagian yang terserang, membuangnya dari kebun atau dibakar. Penyemprotan dengan bahan kimia dilakukan jika pengendalian tahap awal tidak dapat mencegah serangan hama dan penyakit.
Dosis dan jenis pestisida yang digunakan untuk penyemprotan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman karena jenis hama dan penyakit yang
menyerang hampir tidak pernah sama di setiap fase pertumbuhan. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan power sprayer (Gambar 5a).
Bentuk pengendalian hama dan penyakit yang lain adalah pengolesan fungisida pada batang tanaman (Gambar 5b). Fungisida yang diberikan adalah fungisida berbahan aktif tembaga oksida 56 % dengan dosis 2 g/liter air dan sulfur 15 % berdosis 3 – 6 ml/liter air. Pengolesan dilakukan untuk mencegah penyakit terutama jamur yang disebabkan oleh kelembaban yang tinggi pada saaat musim hujan atau yang disebabkan oleh perlakuan pemangkasan.
Gambar 5. Kegiatan PHPT di PT. Kusuma Agrowisata: a) Penyemprotan Pestisida, b) Pengolesan Fungsida
Penyemprotan pada setiap blok dilakukan dengan intensitas yang cukup tinggi yakni setiap satu minggu sekali. Meskipun demikian kegiatan ini kurang berfungsi optimal karena siklus serangan hama dan penyakit tidak dapat terputus. Perbedaan fase tumbuh tanaman antara blok yang satu dengan yang lain yang menyebabkan perbedaan siklus kegiatan budidaya yang dilakukan, seperti perompesan dan pemangkasan. Perbedaan tersebut menyebabkan penyebaran hama dan penyakit sangat mudah terjadi.
Gambar 6 menunjukkan beberapa jenis hama dan penyakit yang menyerang pertanaman apel di PT. KA. Jenis hama utama yang menyerang yakni kutu daun (Aphis pomi) dan ulat daun (Spodoptera litura (Rhagoletis pomonella). Penyakit utama yang menyerang yakni bercak daun (Marssonina coronaria) dan jamur upas (Corticium salmonicolor).
Gambar 6. Hama dan Penyakit Pertanaman Apel di PT. Kusuma Agrowisata: a) Kutu Daun (Aphis pomi), b) Ulat Daun (Spodoptera litura) c) Bercak Daun (Marssonina coronaria), e). Jamur Upas (Corticium salmonicolor).
Panen
Panen yang baik dilakukan pada umur panen yang tepat karena hal ini akan berpengaruh terhadap kondisi dan kualitas buah yang dihasilkan. Menurut Childers (1973) apel yang dipanen sebelum matang biasanya berukuran lebih kecil, warna kurang cerah, asam, keras, hambar, dan mudah terserang penyakit. Sebaliknya, apel yang dipanen terlalu matang maka buah tersebut tidak tahan simpan, dan cepat busuk. Sunarjono (2006) menyatakan bahwa tanda-tanda buah yang sudah tua antara lain kulit mengkilap licin, pangkal buah padat rata, tangkai buah retak, dan daun kelopak pada ujung regang.
Beberapa varietas apel memiliki perbedaan waktu panen. Menurut Yuniarti et al. (1990) apel Manalagi mulai matang pada umur 114 hari setelah bunga mekar sedangkan apel Rome Beauty siap petik ketika berumur 120 - 135 hari setelah bunga mekar, saat diameter buah mencapai ± 7 cm dan warna merah hampir mencapai 45 %. Tabel 7 menunjukkan waktu panen beberapa varietas apel di PT. KA.
a b
Tabel 7. Waktu Panen beberapa Varietas Apel di PT. Kusuma Agrowisata
Varietas Waktu Panen (BSR*)
Manalagi 4.5 - 5
Anna 4 - 4.5
Rome Beaty 5 - 5.5
Wanglin 5 - 5.5
Sumber : Hasil diskusi dengan pengawas departemen Budidaya Tanaman Tahunan (BTT), 2009 * Bulan setelah rompes
Kegiatan panen di PT. KA terdiri atas panen untuk petikan wisata oleh pengunjung dan panen sisa petikan oleh karyawan. Pengunjung diberikan kebebasan memilih buah yang ingin dipetik. Panen sisa petikan dilakukan setelah blok tersebut selesai dijadikan kawasan petik. Buah sisa petikan biasanya langsung disortir di kebun. Buah kemudian dibawa ke departemen trading untuk dijual ke konsumen atau ke divisi industri untuk dijadikan bahan baku olahan.
Pasca Panen
Kegiatan pasca panen dilakukan hanya untuk buah sisa petikan wisata. Kegiatan pasca panen yang dilakukan antara lain penyortiran, pengkelasan, pengemasan, dan pengepakan. Penyortiran dapat langsung dilakukan di kebun. Sortasi dilakukan dengan memisahkan buah yang layak dikonsumsi dan buah yang akan dijadikan bahan baku produk olahan.
Kriteria buah untuk konsumsi yakni berbentuk normal, ukuran sesuai standar, tidak busuk, atau cacat sedangkan kriteria buah untuk produk olahan yakni berukuran kecil, bentuk abnormal dan tidak busuk. Buah yang layak konsumsi dapat langsung dijual kepada konsumen tanpa dikelaskan terlebih dahulu seperti pada pedagang apel pada umumnya. Buah dihargai berdasarkan jumlah kilogram buah yang dibeli. Pedagang apel pada umumnya mengkelaskan berdasarkan varietas dan jumlah buah per kilogram, yakni kelas A, B, dan C. (Tabel 8).
Table 8. Kelas Apel berdasarkan Varietas dan Jumlah Buah per Kilogram
Varietas A (Buah/kg) B (Buah/kg) C (Buah/kg)
Rome Beauty 4 5 - 6 7 - 8
Manalagi 6 - 7 8 - 10 11 - 13
Anna 6 - 7 8 - 10 11 - 13
Proses pasca panen buah apel di PT. KA tidak ditangani secara khusus. Buah apel yang akan dijual di departemen trading pada umumnya hanya diletakkan pada keranjang plastik yang diletakkan pada tempat terbuka tanpa dilakukan pengemasan khusus. Namun terkadang dilakukan pengemasan terhadap buah yang akan dijual ke pasar swalayan. Buah apel dikemas dalam plastik khusus (wrapping). Bentuk kemasan ini dapat meningkatkan nilai jual buah karena tampilan menjadi lebih menarik dan mengurangi kerusakan mekanis seperti memar atau goresan pada kulit buah yang disebabkan oleh tekanan, benturan, atau gesekan.
Pengolahan Buah
Pengolahan buah apel menjadi beberapa produk olahan dilakukan untuk memanfaatkan buah-buah apel yang tidak dijual karena kurang layak dikonsumsi dalam bentuk segar dan merupakan buah apel sisa petikan wisata. Buah apel diolah menjadi beberapa produk olahan antara lain jus apel, jenang, sari buah, cider, dan cuka.
Pemasaran
Pemasaran di PT. KA dibedakan atas pemasaran produk barang dan pemasaran produk jasa. Pemasaran produk barang berupa sayur dan buah segar ditangani oleh departemen trading sedangkan pemasaran produk jasa berupa pemasaran wisata ditangani oleh departemen pemasaran wisata.
Pemasaran sayur dan buah dilakukan dengan penawaran langsung ke konsumen melalui penjualan di kawasan wisata atau melalui pemesanan (taking order). Teknik pemasaran melalui pemesanan biasanya dilakukan oleh supermarket atau restauran yang memesan dalam jumlah banyak dan produk bermacam-macam.
Pemasaran produk wisata bertujuan untuk menarik pengunjung dan menjadikan PT. KA sebagai salah satu tujuan wisata yang akan dikunjungi. Produk ditawarkan dalam bentuk paket-paket wisata dan dalam berbagai tingkat harga sesuai dengan sasaran dan keinginan pengunjung. Daerah pemasarannya meliputi beberapa kota besar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali.
Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Apel Pemangkasan pada Tanaman Apel
Pemangkasan merupakan salah satu aspek penting dalam budidaya tanaman apel. Pengelolaan pemangkasan yang tepat akan mampu mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta produksi buah lebih optimal. Ferree dan Schupp (2003) menyatakan bahwa pemangkasan dilakukan untuk memperbaiki bentuk pohon, mendorong pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan, meningkatkan kualitas buah, serta meningkatkan penyebaran dan penetrasi cahaya. Pemangkasan pada tanaman apel terdiri dari pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan.
Combs et al. (1994) menyatakan pemangkasan dapat membentuk tajuk yang memungkinkan intersepsi cahaya secara efisien untuk fotosintesis dan membuat cabang lebih kuat untuk menopang buah. Pemangkasan bentuk dilakukan pada tanaman belum menghasilkan untuk menata tajuk, membentuk kerangka pohon, dan mengarahkan pertumbuhan tanaman. Menurut Elliot dan Widodo (1996) pengarahan pertumbuhan penting untuk mengatur tata letak ketinggian tajuk yang cocok.