• Tidak ada hasil yang ditemukan

Apel (Mallus sylvestris Mill.) merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat Daya. Negara penghasil apel utama adalah Eropa Barat, Rusia, Cina, Amerika Serikat, Turki, Iran, Jepang, dan Argentina (Kusumo dan Verheij, 1997). Tanaman apel memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dycotyledoneae Ordo : Rosales Famili : Rosaceae Genus : Mallus

Spesies : Mallus sylvestris Mill.

Pohon apel memiliki akar tunggang, berkayu cukup keras dan kuat, warna kulit batang muda cokelat muda sampai cokelat kekuning-kuningan, dan setelah tua berwarna hijau kekuning-kuningan sampai kuning keabu-abuan (Soelarso, 1996). Apel berdaun tunggal, berbentuk lonjong dengan ujung meruncing, berbulu kasar dan tersebar di sepanjang cabang (Sunarjono, 2006).

Menurut Kusumo (1986) tanaman apel memilikik tiga macam tunas yakni tunas campuran yang membentuk daun dan bunga yang kemudian disusul tunas vegetatif di sampingnya, tunas taji yang beruas-ruas rapat dan pendek, dan ranting yang tumbuh ke atas. Elliot dan Widodo (1996) menyatakan bahwa tanaman apel pada umumnya membentuk bunga pada tunas campuran yakni tunas yang mengandung mata tunas bunga sekaligus tunas daun, tunas bunga umumnya lebih bulat dan berbulu dibandingkan dengan tunas yang menghasilkan daun saja.

Bunga apel termasuk bunga sempurna. Bunga ini memiliki bagian-bagian yang lengkap yakni putik, benang sari, mahkota, dan kelopak (Untung, 1994). Bunga berbentuk tunggal atau berkelompok dengan penyerbukan silang (Sunarjono, 2005). Bunga apel bertangkai pendek, menghadap ke atas, bertandan, dan pada tiap tandan terdapat 7 sampai 9 bunga (Soelarso, 1996). Mahkota bunga berjumlah lima helai berwarna putih sampai merah jambu (Kusumo dan Verheij, 1997).

Buah apel mempunyai bentuk bulat sampai lonjong dengan pucuk buah berlekuk dangkal. Biji berbentuk bulat dengan ujung meruncing, bulat berujung tumpul, atau berbentuk antara keduanya. Warna buah merah tua, hijau kemerah-merahan, hijau kekuning-kuningan, hijau berbintik-bintik, dan sebagainya sesuai dengan varietas. (Untung, 1994).

Syarat Tumbuh Apel

Tanaman apel di daerah tropik dapat tumbuh dan berbuah pada ketinggian antara 700 - 1 200 m di atas permukaan laut. Suhu optimum yang dibutuhkan berkisar antara 16 - 27 ºC dengan kelembaban udara antara 75 - 85 %. Selain itu juga diperlukan curah hujan yang sesuai yakni antara 1 600 - 2 600 mm per tahun dengan intensitas cahaya lebih dari 50 % (Kusumo, 1986).

Kusumo dan Verheij (1997) menyatakan bahwa di daerah asalnya yakni daerah temperate pohon apel mengeluarkan daun secara serempak dan berbunga pada musim semi yang diakhiri dengan terbentuknya kuncup sehingga dibutuhkan suhu musim dingin yang rendah untuk pemecahan dormansi kuncup. Berbeda halnya dengan kondisi di daerah tropik, pucuk tumbuh vertikal, dan daun bertahan lebih lama sehingga tanaman apel menjadi hijau terus.

Menurut Palmer et al. (2003) di daerah temperate tunas menjadi dorman pada akhir musim panas atau awal musim gugur dan tidak akan memulai tumbuh sampai periode musim dingin yang diikuti kondisi lebih hangat pada musim semi. Menurut Salisbury dan Ross (1995) dormansi kuncup dapat diakhiri dengan memberi suhu rendah. Pematahan dormansi pada pohon buah-buahan pada suhu 5 - 7 ºC lebih efektif daripada 0 ºC, apel misalnya memerlukan waktu 1 000 - 1 400 jam pada suhu sekitar 7 ºC. Menurut Richardson et al. (1974) suhu efektif untuk pematahan dormansi pada tanaman peach varietas Redhoven dan Elberta antara 0 - 15 ºC dan respon maksimum diperoleh pada suhu antara 6 - 7 ºC.

Tanaman apel tumbuh baik pada tanah bersolum dalam, mempunyai bahan organik tinggi, struktur tanah remah, dan gembur. Tanah tersebut harus mempunyai aerasi, penyerapan air dan porositas yang baik. Jenis tanah latosol dan andosol diniliai cocok untuk pertumbuhan tanaman apel sedangkan pH yang dikehendaki adalah sekitar 6.5 (Soelarso, 1996).

Pemangkasan

Pemangkasan merupakan upaya untuk menghilangkan dominansi pucuk berupa penghambatan oleh titik tumbuh pada pertumbuhan tunas di bawahnya dan merupakan fungsi dari distribusi auksin (Harjadi, 1989). Dominansi pucuk atau dominansi apikal adalah peristiwa di mana pertumbuhan batang utama dan organ bagian atas (terminal) pada suatu tanaman mendominasi sehingga menghambat pertumbuhan organ tanaman lainnya terutama organ bagian bawah (lateral) (Fisher, 1992). Pertumbuhan vegetatif biasanya meningkat cepat setelah pemangkasan pucuk secara intensif. Pertumbuhan yang terjadi disebabkan pengalihan air, zat hara, dan cadangan pangan dari sistem perakaran tanaman yang terganggu ke arah tunas yang lebih kecil (Harjadi, 1989).

Pemangkasan juga dilakukan untuk memperbaiki bentuk pohon, mendorong pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan, meningkatkan kualitas buah, memperbaiki luka, mengisi tanaman, serta meningkatkan penyebaran dan penetrasi cahaya (Ferree dan Schupp, 2003). Pemangkasan juga dapat mengendalikan kondisi percabangan yang tumbuh tanpa terkendali. Kusumo (1986) menyatakan bahwa tunas yang tumbuh di bawah batang utama bila subur merupakan tunas air yang memanjang ke atas dan dapat menekan pertumbuhan tajuk sedangkan bila tidak subur merupakan cabang yang tidak menguntungkan.

Menurut Soria (1992) pengelolaan budidaya apel secara terpadu dengan pemangkasan sebagai salah satu aspek didalamnya memberikan keuntungan lebih besar karena berkurangnya perlakuan fitosanitari, peningkatan kualitas buah, penurunan kontaminasi oleh pestisida, dan pencapaian hasil antara 20 - 30 ton/ha. Menurut Childers (1973) jenis dan jumlah pemangkasan yang dilakukan tergantung umur, kerangka tanaman, kondisi kayu dan kulit kayu, ciri tumbuh, dan kebiasaan varietas berbuah.

Menurut Ferree dan Schupp (2003) pemangkasan dibedakan menjadi dua yakni penipisan (thinning out) dan pemancungan (heading back). Penipisan dilakukan dengan memangkas seluruh tunas, cabang buah (spur), cabang atau dahan sedangkan pemancungan dilakukan dengan memangkas sebagian dari tunas atau dahan dan meninggalkan bagian yang lain yang akan menjadi tempat pertumbuhan dan perkembangan tunas baru.

Menurut Elliot dan Widodo (1996) tanaman apel Indonesia memiliki kebiasaan cenderung berbuah di sepanjang cabang lateral. Oleh karena itu tindakan pemangkasan yang dilakukan diharapkan mampu mendukung pertumbuhan cabang lateral sehingga tanaman dapat berproduksi secara optimal.

Hasil penelitian Mika (1992) menunjukkan bahwa pemangkasan pada tanaman apel muda mengurangi jumlah tunas buah, buah yang terbentuk, dan hasil panen. Mata tunas yang tersisa dari pemangkasan mendapat suplai makanan lebih banyak karena jarak antara mata tunas dan dasar tanaman diperpendek sehingga mata tunas yang tersisa menghasilkan tunas-tunas lateral yang tidak mampu membentuk kuncup bunga. Menurut Askew et al. (2005) tanaman muda memerlukan pemangkasan ringan kecuali untuk memilih cabang yang tepat dan setelah memasuki usia berbuah pemangkasan rutin dapat menjaga kesehatan tanaman, memperbaiki struktur pohon, dan mendorong terjadinya pembuahan.

Menurut Combs et al. (1994) respon tanaman yang dipangkas berupa perubahan rasio akar dan tunas. Jika cabang dipangkas, hormon dan metabolit kompleks yang dihasilkan daun dan pucuk menjadi berkurang dan hal ini akan mengurangi pertumbuhan akar. Di sisi lain jika akar dipangkas, aliran hara dari tanah, suplai hormon, dan cadangan makanan dari akar akan berkurang.

Menurut Kusumo (1986) bagian pada tanaman apel yang harus dipangkas antara lain cabang yang sakit dan kering, cabang yang saling bergeser, dan cabang yang membentuk sudut lancip.aElliot dan Widodo (1996) mengemukakan bahwa Pemangkasan dilakukan pada cabang-cabang yang berpenampilan jelek dan cabang yang terlalu cepat tumbuh sehingga tajuk tanaman dapat dipertahankan kekompakannya. Menurut Polomskia(2000) bagian tanaman yang sebaiknya dipangkas antara lain carang (sucker), cabang yang patah, cabang yang tumbuh ke bawah, cabang yang bersilangan, cabang yang ternaungi, cabang yang menyaingi cabang utama, cabang kecil, dan cabang dengan arah tumbuh melingkar.

METODE MAGANG

Dokumen terkait