Untuk mengetahui asosiasi ules dengan tanaman lain dilakukan dengan Indeks Asosisasi (Oichiai, Dice dan Jaccard) yang dihitung dengan formula (Ludwig dan Reynold, 1988): Indeks Oichiai √ √ Indeks Dice 2a 2a b c Indeks Jaccard a a b c
Dimana: a = Jumlah plot ditemukannya jenis A dan Jenis B; b = Jumlah plot ditemukannya jenis A tapi tidak jenis B; c = Jumlah plot ditemukannya jenis B tapi tidak jenis A
Study pustaka (literatur review) yang dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan penelitian mengenai ules (H.isora) dilaksanakan dengan mengumpulkan publikasi yang terbit secara online menggunakan situs agregator pengindeks jurnal Google scholar dan Ebscohost. Metode yang digunakan adalah analisis isi kemudian ditabulasikan (Raharjo, 2013). HASIL DAN PEMBAHASAN Pemanfaatan Ules
Ules (H. Isora) sebagai obat tradisional sudah lazim digunakan oleh masyarakat disekitar hutan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kearifan masyarakat dalam mengolah bahan alami menjadi inspirasi bagi dunia farmasi untuk menguji bahan aktif yang dikandung oleh tumbuh‐tumbuhan tersebut. Kayu ules (H. isora) secara empirik mempunyai manfaat yang sangat banyak, seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pemanfaatan Ules (H. isora L.) sebagai Bahan Obat
Bagian yang
dimanfaatkan Manfaat Keterangan
Buah
(spesifik pada polong)
Cytoprotection dan Anti tumor1)
Anti Radikal Bebas, Okisdasi Protein Antioksidan dan Kerusakan DNA3) 4) Anti HIV activity6)
Methanolic ekstrak dari buah ules menunjukan efektifitas sebagai anti tumor pada konsentrasi 300 µg/ml.
Ules banyak mengandung phenol flavanoid dan asam ascrobid, yang berperan sebagai anti oksidan untuk menghabat pertumbuhan radikal bebas yang banyak menyebabkan penyakit degeneratif.
Menunjukkan aktifitas secara minor.
Batang Pengobatan diabetes secara
empirik5)
Pada dosis 200 mg kg‐1 b.w/p.o memberikan efek yang setara dengan obat Diabet Tolbutarit pada dosis yang lebih tinggi. Kulit Batang Pengobatan Diabetes secara tradisional2)
Anti diare, Astrigen dan antibilious4)
Hasil uji toksisitas menunjukkan tidak menyebabkan efek samping yang negatif sampai pada dosis 2.000 mg kg‐1 b.w/p.o.
Kandungannya antara lain diosgenin, cucurbitacin B dan isocucurbitanin B
Akar Hypolipidemik dan
Antihyperglikemik7)
Bermanfaat untuk menghindari penebalan pembuluh darah dan Anti diabetes
1) Pradhan et.al., 2008; 2) Kumar et al.,2007; 3) Kumar et al.,2013; Vikrant dan Arya, 2011; 3) Basniwal et. al.,2009; 4) Gayatri et al, 2010 5) Kumar et al, 2008 6) Satake et al, 1995, 7) Chakrabarti et al, 2002.
Pada Tabel 1 dapat dilihat kegunaan ules yang merata pada akar, batang dan kulit batangnya. Secara umum ules kaya sumber polyphenol, flavonoid dan asam ascorbit yang sangat bermanfaat dalam menangkal radikal bebas dan penghambat oksidasi dari asam lemak jenuh (Kumar et.al, 2013). Kegunaan ules yang paling banyak diteliti adalah sebagai obat anti diabetes. Temuan yang menarik adalah efikasi ekstrak batangnya terhadap penyakit diabetes, dimana pada dosis yang lebih kecil memberikan efek yang setara dengan tolbutamide pada dosis yang lebih tinggi. Tolbutamide adalah obat sintetik yang standar digunakan pada penderita penyakit diabetes, bekerja dengan membantu pankreas dalam memproduksi insulin (Kumar et.al, 2013).
Uji toksisitas pada tanaman ules secara umum menunjukkan keamanannya untuk dikonsumsi sebagai obat herbal. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Kumar et.al (2007) pada dosis 2.000 mg kg‐1 b.w/p.o pemberian ekstrak batang ules tidak menunjukkan efek yang negatif. Clark dan Clark (1977) menambahkan bahwa obat herbal yang dapat dikonsumsi pada dosis yang lebih tinggi dari 1.000 mg kg‐1 b.w/p.o dapat dikategorikan sebagai obat herbal yang aman atau tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya.
Analisis Vegetasi dan Asosiasi
Analisis vegetasi dilaksanakan untuk mengetahui peran parameter lingkungan dalam membentuk suatu komunitas. Komunitas tumbuhan merupakan fungsi dari struktur biologis (komposisi jenis) dan struktur fisik meliputi parameter biotik dan abiotik (Partosa dan Reyes, 2013). Kegiatan analisis vegetasi dilaksanakan untuk mengidentifikasi sebaran, tingkat pertumbuhan dan pola asosiasi kayu ules dengan komunitas tumbuhan disekitarnya, seperti ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Tabel Indeks Nilai Penting (INP)
Nama Lokal Nama Ilmiah Family DR (%) KR (%) FR (%) INP
INP pada tingkatan pohon
Timo Timonius sericeus Rubiaceae 12,87 20,17 16,67 49,70 Johar Cassia siamea Fabaceae 9,13 23,53 12,50 45,16 Kabesak Acacia leucophloea Fabacea 8,07 7,56 12,50 28,13 Nanum Ficus variegata Bl. Moraceae 3,87 7,56 5,56 16,99 Fokko Gyrocarpus americanus Hernandiaceae 1,47 4,20 5,56 11,22 INP pada tingkatan Tiang
Johar Cassia siamea Fabaceae 23,24 21,02 13,51 57,78 Timo Timonius sericeus Rubiaceae 20,93 22,73 13,51 57,17 Bafkeno Macaranga tanarius L. Euphorbiaceae 11,01 7,95 6,76 25,72 Nenis Canarium oleosum Burseraceae 9,69 9,09 6,76 25,54 Kamel Melia dubia Meliaceae 3,79 2,84 6,76 13,39 Lamtoro Leucaena leococephala Fabaceae 3,61 6,82 4,05 14,48 Kabena Albizzia saponaris Fabaceae 3,15 2,84 5,41 11,39
INP pada tingkatan Pancang
Johar Cassia siamea Fabaceae 19,36 18,71 11,29 49,36 Usakneo Helicteres isora Malvaceae 14,08 27,10 8,06 49,24 Jambu Psidium guajava Myrtaceae 11,78 7,74 4,84 24,36 Lamtoro Leucaena leococephala Fabacea 5,96 3,23 4,84 14,03 Silu Woodfordia fruticosa Lythraceae 5,34 1,94 3,23 10,50
Atsape ‐ ‐ 3,55 3,87 6,45 13,87
Nenis Canarium oleosum Burseraceae 2,94 3,23 4,84 11,00
Biufluke ‐ ‐ 2,52 4,52 6,45 13,49
INP pada tingkatan semai
Nama jenis Nama Ilmiah KR (%) FR (%) INP
Lamtoro Leucaena leococephala Fabacea 30,37 7,41 37,78 Nismoko Maesa latifolia Primulaceae 26,68 17,28 43,97
Hautobe ‐ ‐ 4,77 3,70 8,48 Usakneo Helicteres isora Malvaceae 4,77 4,94 9,71 Litsusu Wrightia sp Apocynaceae 3,69 4,94 8,63 Jambu Psidium guajava Myrtacea 3,47 8,64 12,11
Sufmolo ‐ ‐ 3,47 3,70 7,17
Johar Cassia siamea Fabaceae 2,82 1,23 4,05 Keterangan: tabulasi data ditampilkan pada nilai INP >10, kecuali pada tingkatan
semai.
Pada Tabel 2 diketahui bahwa komunitas ules (H. isora) berada pada kelompok semai dan pancang, bahkan cukup mendominasi pada kelompok pancang. Hal ini berkaitan dengan kategori ules sebagai jenis tanaman perdu sampai pohon kecil (pancang), pada lokasi penelitian hanya ditemukan pada tingkatan semai dan pancang dengan INP berturut‐turut adalah 9,71 dan 49,24. Ules merupakan jenis semi‐toleran terhadap cekaman cahaya, namun apabila terbuka gap kanopinya ules dapat tumbuh dengan lebih baik (pengamatan dan komparasi obyektif pada lokasi yang berbeda).
Komposisi tumbuhan pada Tabel 2, diketahui bahwa pada tingkatan pohon ditemukan jenis timo (T. sericeus) johar (C. siamea) dan kabesak (A.
leucophloea) yang signifikan dengan INP berturut‐turut adalah 49,70; 45,16 dan
28,13. Timo merupakan jenis yang sebarannya merata pada beberapa level ketinggian di Timor, sedangkan kabesak merupakan salah satu jenis penanda ekosistem savana di Pulau Timor (Monk et. al, 1997). Jenis johar yang terdapat di lokasi penelitian merupakan jenis yang di‐introdusir bersama program pemerintah yang mempunyai sebaran yang relatif merata pada semua tingkatan pertumbuhan. Kayu ules pada tingkatan semai menunjukkan kerapatan yang relatif rendah dan sebarannya mengelompok, dengan nilai KR 4,77 % dan FR 4,9 %. Sedangkan pada tingkatan pancang mempunyai kerapatan dan dominasi yang relatif tinggi namun sebarannya tidak merata di semua plot (mengelompok) dengan nilai INP 49. Hal ini dimungkinkan karena tingkat survabilitas semai yang rendah akibat faktor iklim dan tekanan dari rumpun kayu ules yang sudah settle. Pola mengelompok dapat terjadi karena preferensi habitat yang berada di kelerengan dan dianggap gulma bagi petani pada saat membuka kebun, sehingga pada banyak lokasi kayu ules ditebas habis.
Analisis faktor asosiasi tumbuhan dilaksanakan untuk mengetahui interaksi antara kayu ules dengan penyusun komunitas tumbuhan disekitarnya. Asosasi merupakan interaksi tumbuhan yang khas, ditemukan berulang pada lokasi lainya, asosiasi bersifat positif dan negatif. Positif apabila kedua tumbuhan ditemukan secara bersamaan dan tidak ditemukan keberadaanya apabila keduanya tidak ditemukan secara bersamaan, demikian sebaliknya untuk asosiasi negatif yang sifatnya saling meniadakan (Kurniawan et.al, 2008). Perhitungan
asosiasi kayu ules dengan tumbuhan lain dapat dilihat pada Tabel 3, dimana pada nilai asosiasi mendekati 1 menunjukkan asosiasi yang kuat.
Tabel 3. Indek asosiasi tumbuhan menurut oichiai, dice dan jaccard
Nama jenis Nama Ilmiah OI DICE JCCARD
Kesambi Schleichera oleosa 0,67 0,67 0,50 Timo Timonius sericeus 0,46 0,40 0,25 Jambu Psidium guajava 0,40 0,38 0,23 Nismoko Maesa latifolia 0,34 0,33 0,20 Kabesak Acacia leucophloea 0,27 0,25 0,14 Johar Cassia siamea 0,26 0,24 0,13 Nenis ‐ 0,18 0,18 0,10 Keterangan: OI: index oichiai; DICE: index dice; Jccard: index jaccard.
Pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa secara umum nilai indeks oi, dice, jcard tidak menunjukkan nilai asosiasi yang sangat kuat (mendekati 1) dengan nilai tertinggi pada kesambi (S. oleosa) dengan kisaran nilai 0,5‐0,67 pada semua indeks, namun tidak mempunyai INP yang tinggi pada semua tingkatan sebagaimana Tabel 2. Kesambi merupakan tumbuhan yang berhabitat asli di India terutama di kaki pegunungan Himalaya dan Asia Selatan. Di Indonesia spesies ini kemungkinan diintroduksi dimasa lampau dan berkembang pada daerah kering, mulai dari Jawa bagian timur, NTT, Sulawesi dan Maluku. Spesies ini di daerah asalnya dinamakan “kusum” dan di Indonesia dikenal dengan, kesambi, kusambi, usapi (Timor). Jenis ini mempunyai manfaat sebagai tanaman obat yang berpotensi sebagai anti kanker, anti oksidan, dan antibiotik (Bhatia,
et.al, 2012).
Asosiasi kayu ules dengan spesies lain tidak tampak jelas dimungkinkan karena sebaran ules yang relatif mengelompok atau tidak merata. Apabila dilihat pada keberadaan (presence) dan ketiadaan (absence) kayu ules dengan spesies lainnya, pada 20 plot yang di sampling, hanya 4 plot dari dua spesies yang diperkirakan berasososiasi ditemukan secara bersamaan yakni untuk spesies timo (T. sericeus). Pola mengelompok yang terjadi dalam komunitas tumbuhan dapat terjadi berkaitan dengan pola penyebaran biji atau buah yang jatuh didekat induknya atau yang penyebarannya tidak dibantu oleh hewan dan kondisi tanah atau iklim mikro yang sesuai untuk spesies tertentu (Barbour,
et.al, 1980)
Komponen Lingkungan Fisik
Pada lokasi penelitian kayu ules hidup secara liar pada lahan bekas pekarangan/pertanian lahan kering yang sudah lama tidak diolah. Lokasi ditemukannya tumbuhan ules berada pada ketinggian tempat ± 691 mdpl, pada
kelerengan kisaran 30‐40 derajat. Habitat kayu ules di India menurut penelitian Atluri, et.al, (2000) dan Basniwal, et.al, (2009) melaporkan bahwa lokasi ditemukannya berada pada lereng perbukitan. Hal ini sejalan dengan lokasi di Desa Bosen dimana kayu ules ditemukannya yang mempunyai kelerengan signifikan dan merupakan hutan pegunungan dengan spesies penyusun komunitas yang khas savana.
Suhu udara di lokasi penelitian adalah suhu ± 270 C, Kelembaban 70% yang diambil pada saat siang hari pukul 11.00 WITA pada bulan Juni yang pada saat itu masih terjadi hujan. Suhu ini merupakan ciri suhu hutan tropis yang mempunyai disparitas suhu pada musim hujan dan musim panasnya yang disebakan oleh tingkatan percabangan pada kanopi pohon (Undharta, et.al, 2012). Sedangkan kelembaban yang relatif tinggi dikarenakan musim hujan yang sedang terjadi dan adanya seresah yang terdekomposisi pada lantai hutan. Hutan tropika basah ditandai dengan tingginya nilai kelembaban di permukaan hutan baik pada musim hujan dan musim kemarau. Sedangkan pada lokasi penelitian dimana berada pada hutan tropika namun cenderung kering (savana) angka kelembaban yang tinggi ditunjang oleh ketinggian lokasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Ewusie (1980) bahwa peningkatan kelembaban berbanding lurus dengan pertambahan ketinggian tempat, hal ini dapat dilihat pada tipe hutan pegunungan di daerah tropik.
Kondisi tanah dapat menjadi salah satu penyebab pola pengelompokan suatu tumbuhan (Barbour, 1980), sehingga karakteristik fisik dan kimiawi tanah layak untuk dibahas sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap ekologi kayu ules. Unsur hara esensial makro merupakan unsur yang diperlukan dalam kuantitas yang besar untuk proses metabolisme tumbuhan. Unsur tersebut antara lain, Nitrogen, Phosphor, Kalium, Kalisum dan Magnesium. Hasil analisis kesuburan tanah untuk melihat kondisi obyektif habitat alami kayu ules dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil analisis ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam kegiatan perbanyakan dan konservasi eksitu.
Tabel 4. Analisis kesuburan tanah
Kandungan Nilai Kategori
N total (%) 0,19 Rendah P (ppm) 113,16 Sangat Tinggi K (me/100g) 0,77 Tinggi Ca (me/100g) 25,18 Sangat Tinggi Mg (me/100g) 5,42 Tinggi pH 6,95 Netral Tekstur Tanah Pasir Berlempung Keterangan: kategori menurut Hardjowigeno, 1987.
Analisis tanah dilaksanakan di laboratorium ilmu tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa secara umum kandungan unsur hara makro berada pada taraf yang cukup untuk mendukung pertumbuhan, kecuali pada unsur hara N. Unsur Nitrogen berperan penting dalam sintesis klorofil bagi tanaman sehingga kekurangan unsur hara N akan menimbulkan profil daun yang pucat dan tidak sehat. Kandungan unsur N yang kecil didalam tanah dapat terjadi antara lain karena kurangnya organisme penambat N bebas di alam dan adanya proses dekomposisi/pengomposan yang sedang aktif berlangsung yang biasanya tercermin dari rasio C/N yang tinggi (Subali dan Ellinawati, 2010). Unsur Phosphor merupakan unsur hara makro yang paling penting setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman. Kandungan Phosphor yang sangat tinggi dapat terjadi karena pengaruh batuan induk dan pada tanah muda yang belum terjadi proses pelapukan lanjut (Noor, 2003). Pengaruh unsur P terutama pada proses pembentuk enzim yang sangat diperlukan pada kegiatan fotosintesis yang merubah unsur hara menjadi energi. Unsur kalisum (Ca) berperan dalam proses pembentukan dinding sel dan perakaran. Kandungan unsur Ca yang besar dilokasi penelitian dapat disebabkan karena pengaruh batuan induk yang berupa kars.
KESIMPULAN
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa habitat ules banyak ditemukan di kaki gunung Mutis pada ketinggian ± 600‐700 mdpl pada topografi agak curam. Disekitar tanaman ules (H. isora L.) pada tingkatan pohon banyak ditemukan timo (Timonius sericeus), johar (Cassia siamea), kabesak (Acacia leucophloea) dan nanum (Ficus variegata) dengan INP berturut‐turut adalah 49,7; 45,16; 28,13 dan 16,99. Asosiasi antara ules dengan jenis lainnya tidak terlihat dominan hal ini terlihat dari indeks Oichiai, Indeks Dice dan Indeks Jaccard yang paling tinggi berkisar 0,5 – 0,67 untuk kesambi (Schleichera oleosa). Kondisi Lingkungan fisik pada ules adalah suhu ± 270 C, Kelembaban 70% dengan pH 6,9. Secara umum kandungan unsur hara makro berada pada taraf yang cukup untuk mendukung pertumbuhan, kecuali pada unsur hara N.