Sumardi Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jl. Palagan Tentara Pelajar Km.15, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta Email : [email protected]
ABSTRAK
Injuwatu (Pleiogynium timoriense (DC.) Leenh.) merupakan salah satu jenis tanaman dari famili Anacardiaceae dengan sebaran alami salah satunya di hutan savana Pulau Sumba bagian Timur. Jenis ini dimanfaatkan untuk pembangunan rumah adat oleh masyarakat setempat. Keberadaan jenis ini secara visual sudah sangat jarang terlihat meski belum pernah dilakukan inventarisasi. Untuk menjaga kelestarian jenis ini dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perlu dilakukan upaya budidaya tanaman jenis tersebut. Budidaya Injuwatu mulai dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Kupang di KHDTK Hambala Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2012. Untuk mengetahui keragaman materi genetik dan pertumbuhan bibit dilakukan penelitian variasi materi genetik dan pertumbuhan bibit di persemaian. Persemaian injuwatu di KHDTK Hambala disusun berdasarkan randomized complete block design (RCBD) yang terdiri dari 40 famili, 5 sampel dan 2 blok sebagai ulangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik materi genetik dan variasi pertumbuhan Injuwatu di persemaian. Materi genetik yang digunakan untuk budidaya Injuwatu di KHDTK Hambala berasal dari 2 provenan yakni provenan Tarimbang dan Pambotanjara. Hasil penelitian menyebutkan bahwa materi genetik berupa biji memiliki ukuran yang berbeda nyata antara famili satu dengan lainnya yang bervariasi antara 10,06 mm hingga 18,87 mm. Pertumbuhan tinggi semai sampai dengan umur 3 bulan di persemaian bervariasi antara 10 cm hingga 46 cm dengan nilai rerata sebesar 25,21 cm, dan diameter bervariasi antara 1,26 mm 4,22 mm dengan nilai rerata sebesar 2,46 mm, yang menunjukkan perbedaan nyata antar famili yang diuji.
Kata kunci : injuwatu, rumah adat, Sumba, savana.
I. PENDAHULUAN
Injuwatu (Pleiogynium timoriense (DC.) Leenh.) merupakan salah satu jenis tanaman yang termasuk dalam famili Anacardiaceae yang memiliki sebaran
alami salah satunya di Pulau Sumba bagian Timur, Kabupaten Sumba Timur. Kabupaten Sumba Timur sebagian besar wilayah hutannya merupakan tipe hutan savana yang didominasi oleh padang rumput luas dan diselingi oleh pohon perdu. Beberapa tanaman hutan tumbuh di daerah lembah yang curam, meskipun di wilayah tersebut juga terdapat kawasan Tanaman Nasional Laiwangi‐Wanggameti yang memiliki vegetasi pohon beragam dan cukup rapat. Wilayah di Kabupaten Sumba Timur memiliki musim kemarau relatif panjang dan curah hujan sedikit.
Sebaran alam Injuwatu selain wilayah Sumba Timur menurut data pada tahun 1999 yang diperoleh United States Department of Agriculture (USDA),
Agriculture Research Service (ARS), dan Germplasm Resources Information Network (GRIN) tersebar di Asia (Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, dan
Filipina), Australia (Queensland) dan Pasifik (Fiji, Pulau Solomon dan Tonga). Di Indonesia jenis ini tersebar di Sulawesi, Irian Jaya, Nusa Tenggara, dan Maluku. Tumbuhan Injuwatu telah dikenal oleh masyarakat Sumba Timur sebagai bahan bangunan berkualitas tinggi dan dijadikan sebagai salah satu bahan utama dalam pembangunan rumah adat di Sumba Timur. Kondisi tersebut berdampak pada keharusan untuk melakukan pemanenan kayu Injuwatu untuk kepentingan pembangunan rumah adat. Namun demikian keberadaan Injuwatu di Kabupaten Sumba Timur terlihat sudah sangat jarang di lapangan meski belum ada inventarisasi yang dilakukan untuk jenis ini. Hal tersebut memaksa untuk dilakukan upaya budidaya jenis tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pembangunan rumah adat dan menghindari terjadinya kelangkaan jenis tersebut di Sumba Timur.
Uji coba budidaya Injuwatu telah dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Kupang di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Hambala Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2012. Uji coba budidaya tersebut menggunakan materi genetik yang berasal dari 2 provenan yakni Pambotanjara dan Tarimbang. Materi genetik yang digunakan adalah berupa biji Injuwatu. Biji injuwatu memiliki ukuran yang berbeda antara satu dengan lainnya, seperti disampaikan oleh Pratama, et al. (2014) bahwa ukuran biji akan mempengaruhi daya perkecambahan karena di dalam biji terdapat cadangan makanan (endosperm) yang berfungsi untuk menyuplai makanan pada proses perkecambahan. Ukuran benih juga berpengaruh terhadap daya simpan benih karena ukuran biji biasa dikaitkan dengan kandungan cadangan makanan dan ukuran embrio (Arief, et al., 2004).
Untuk mengetahui keragaman materi genetik dan pertumbuhan tanaman maka perlu dilakukan penelitian terhadap variasi materi genetik dan pertumbuhan tanaman di persemaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik materi genetik dan variasi pertumbuhan Injuwatu di persemaian.
II. METODE
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian karakteristik materi genetik dan variasi pertumbuhan semai Injuwatu ini dilakukan pada bulan November 2011 di persemaian Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hambala Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. KHDTK Hambala ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menhut No.136/Menhut‐II/2004 tanggal 4 Mei 2004 seluas 509,42 ha di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari luasan kawasan KHDTK Hambala tersebut, 400 ha diantaranya berupa savana. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 150 mdpl, topografi bergelombang dengan dominasi savana di bagian puncak dan tegakan alami di bagian cekungan. Curah hujan rata‐rata di lokasi penelitian sebesar 866,26 mm/tahun dengan jumlah hari hujan sebanyak 90 hari/tahun. Lokasi tersebut memiliki suhu udara rata‐rata harian berkisar antara 22,73ºC ‐ 28,44ºC dengan kelembaban nisbi rata‐rata 77,17%. B. Bahan Penelitian
Obyek penelitian yang digunakan adalah berupa biji dan semai Injuwatu umur 3 bulan di persemaian yang berasal dari provenan Pambotanjara dan Tarimbang masing‐masing sebanyak 20 famili. Penelitian dilakukan dengan mengukur diameter biji Injuwatu dengan menggunakan kaliper, tinggi semai dengan menggunakan mistar 100 cm dan diameter semai dengan menggunakan kaliper digital. Data tinggi dan diameter semai ditabulasi ke dalam tally sheet dan diubah menjadi data elektronik mengunakan komputer. Analisis statistik data diameter biji, tinggi dan diameter semai dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer.
C. Metode
Penelitian di desain dengan rancangan rancangan Randomized Complete
Block Design (RCBD) yang terdiri atas 40 famili, 5 sampel dan 2 blok sebagai
ulangan. Istilah famili yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pohon induk yang digunakan sebagai sumber materi genetik. Famili yang diuji berasal dari provenan Tarimbang dan Pambotanjara masing‐masing sebanyak 20 famili. Informasi dari setiap famili yang digunakan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Informasi famili atau pohon induk Injuwatu yang digunakan sebagai sumber materi genetik
Famili Provenan Letak Geografis
ketinggian tempat (mdpl) Diameter (cm) Tinggi (m) 1 Pambotanjara 090 40’ 538” LS ‐ 1200 11’ 374” BT 434 29.27 13 2 Pambotanjara 090 40’ 433” LS ‐ 1200 11’ 405” BT 422 28.00 12 3 Pambotanjara 090 40’ 762” LS ‐ 1200 11’ 331” BT 385 30.55 13 4 Pambotanjara 090 40’ 774” LS ‐ 1200 11’ 382” BT 367 27.68 8 5 Pambotanjara 090 40’ 795” LS ‐ 1200 11’ 438” BT 341 38.18 15 6 Pambotanjara 090 40’ 716” LS ‐ 1200 11’ 476” BT 360 26.41 12 7 Pambotanjara 090 40’ 722” LS ‐ 1200 11’ 644” BT 338 34.36 18 8 Pambotanjara 090 40’ 746” LS ‐ 1200 11’ 750” BT 319 36.27 25 9 Pambotanjara 090 39’ 963” LS ‐ 1200 09’ 802” BT 538 21.64 6 10 Pambotanjara 090 39’ 970” LS ‐ 1200 09’ 719” BT 558 20.05 12 11 Pambotanjara 090 39’ 995” LS ‐ 1200 09’ 603” BT 549 26.09 12 12 Pambotanjara 090 40’ 033” LS ‐ 1200 09’ 459” BT 552 25.45 12 13 Pambotanjara 090 40’ 113” LS ‐ 1200 09’ 414” BT 552 28.95 13 14 Pambotanjara 090 40’ 160” LS ‐ 1200 09’ 353” BT 558 17.50 10 15 Pambotanjara 090 40’ 908” LS ‐ 1200 11’ 805” BT 208 19.09 12 16 Pambotanjara 090 40’ 920” LS ‐ 1200 11’ 795” BT 224 34.05 13 17 Pambotanjara 090 41’ 010” LS ‐ 1200 11’ 730” BT 297 19.73 14 18 Pambotanjara 090 41’ 006” LS ‐ 1200 11’ 734” BT 287 28.32 16 19 Pambotanjara 090 41’ 011” LS ‐ 1200 11’ 722” BT 294 39.77 12 20 Pambotanjara 090 41’ 094” LS ‐ 1200 11’ 461” BT 381 54.09 12 21 Tarimbang 090 58’ 286” LS ‐ 1190 56’ 442” BT 135 39.77 20 22 Tarimbang 090 58’ 283” LS ‐ 1190 56’ 446” BT 142 37.55 30 23 Tarimbang 090 58’ 277” LS ‐ 1190 56’ 449” BT 134 36.59 27 24 Tarimbang 090 58’ 276” LS ‐ 1190 56’ 451” BT 131 38.18 32 25 Tarimbang 090 58’ 260” LS ‐ 1190 56’ 445” BT 132 36.59 31 26 Tarimbang 090 58’ 252” LS ‐ 1190 56’ 441” BT 136 35.00 30 27 Tarimbang 090 58’ 249” LS ‐ 1190 56’ 429” BT 138 27.05 24 28 Tarimbang 090 57’ 976” LS ‐ 1190 56’ 211” BT 264 34.36 22 29 Tarimbang 090 57’ 975” LS ‐ 1190 56’ 211” BT 269 19.09 22 30 Tarimbang 090 57’ 975” LS ‐ 1190 56’ 197” BT 277 31.18 18 31 Tarimbang 090 57’ 974” LS ‐ 1190 56’ 196” BT 281 38.18 31 32 Tarimbang 090 57’ 967” LS ‐ 1190 56’ 190” BT 280 24.82 16
33 Tarimbang 090 57’ 966” LS ‐ 1190 56’ 188” BT 280 25.45 16 34 Tarimbang 090 57’ 989” LS ‐ 1190 56’ 177” BT 244 19.09 18 35 Tarimbang 090 57’ 990” LS ‐ 1190 56’ 163” BT 249 39.77 27 36 Tarimbang 090 57’ 990” LS ‐ 1190 56’ 164” BT 251 22.27 16 37 Tarimbang 090 57’ 987” LS ‐ 1190 56’ 164” BT 253 25.45 20 38 Tarimbang 090 57’ 980” LS ‐ 1190 56’ 153” BT 258 40.41 31 39 Tarimbang 090 57’ 998” LS ‐ 1190 56’ 151” BT 263 39.77 30 40 Tarimbang 090 57’ 976” LS ‐ 1190 56’ 158” BT 274 33.41 17 Keterangan : mdpl : meter di atas permukaan laut; cm : centimeter; m : meter. Variabel yang diukur pada penelitian ini meliputi diameter biji sebagai materi genetik dan keragaman sifat pertumbuhan di persemaian. Sifat pertumbuhan tanaman meliputi sifat tinggi dan diameter semai. Tinggi semai diukur mulai dari permukaan media semai hingga ujung semai, sedangkan iameter diukur pada ketinggian 0 cm di atas permukaan tanah.
D. Analisis Data
Analisis varian terhadap data untuk data diameter biji Injuwatu dilakukan dengan menggunakan model linier sebagai berikut :
Yijk = μ + Pi + F(P)ji + Eijk ...1
dimana:
Yijk : pengamatan pada individu biji ke‐k dari famili ke‐j dan provenan ke‐i;
μ : rerata umum hasil pengukuran; Pi : pengaruh provenan ke‐i;
F(P)ji : pengaruh famili ke‐j yang bersarang pada provenan ke‐i;
Eijk : galat
Analisa varian terhadap data untuk sifat pertumbuhan tanaman (tinggi dan diameter) dilakukan dengan menggunakan data individual tanaman dan dihitung menggunakan model rancangan Randomized Complete Block Design. Analisis data secara simbolis disajikan dengan model linier sebagai berikut :
Yijkl = μ + Bi + Pj + F(P)kj + B*Fik + Eijkl ...2
dimana:
Yijkl : pengamatan pada individu pohon ke‐l dari famili ke‐k dan provenan ke‐j, dalam blok ke‐i;
μ : rerata umum hasil pengukuran;
Bi : pengaruh blok ke‐i;
Pj : pengaruh provenan ke‐j;
B*Fik : pengaruh interaksi blok ke‐i dan famili ke‐k ;
Eijkl : galat
III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Variasi Ukuran Materi Genetik
Materi genetik merupakan bahan dasar individu yang digunakan untuk perkembangbiakan dalam proses regenerasinya. Materi genetik yang digunakan dalam penelitian tanaman Injuwatu ini berupa biji. Musim biji atau berbuah Injuwatu terjadi pada bulan Mei – Juli dan jenis ini berbuah setiap tahun. Buah yang akan diambil bijinya sebagai materi pertanaman merupakan buah yang telah masak yang ditandai dengan kulit buah yang berwarna merah kecoklatan. Kondisi biji hasil ekstraksi buah memiliki ukuran diameter biji yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Ukuran biji jenis tanaman Injuwatu penting diketahui untuk digunakan sebagai dasar dalam proses sortasi biji untuk kepentingan produksi tanaman yang menggunakan materi genetik berupa biji. Analisis data ukuran diameter biji sebagai materi genetik pertanaman injuwatu disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Analisis varians diameter biji injuwatu sebagai materi genetik pertanaman
Sumber variasi Derajat bebas Kuadrat tengah diameter biji F hitung
Provenan 1 124,376** 141,10
Famili(provenan) 38 11,835** 13,43
Galat 315 0,882
Keterangan : ** : berbeda nyata pada taraf uji 1%
Ukuran diameter biji Injuwatu bervariasi antara 10,06 mm sampai dengan 18,87 mm dengan nilai rerata sebesar 14,07 mm. Berdasarkan analisis varian terhadap diameter biji Injuwatu, terlihat adanya perbedaan nyata antar provenan dan antar famili. Dimana provenan Tarimbang memiliki ukuran diamater biji lebih besar (14,52 mm) dibanding dengan ukuran biji asal provenan Pambotanjara (13,61 mm).
B. Variasi Pertumbuhan Bibit di Persemaian
Parameter pertumbuhan semai yang diukur di persemaian adalah tinggi dan diameter semai. Tinggi semai injuwatu sampai dengan umur 3 bulan di persemaian berkisar antara 10,00 cm – 46,00 dengan nilai rerata sebesar 25,21 cm. Famili No.30 asal provenan Tarimbang memiliki tinggi semai tertinggi dan famili No.18 asal provenan Pambotanjara memiliki tinggi semai terendah. Sementara untuk diameter semai berkisar antara 1,26 mm – 4,22 mm dengan nilai rerata sebesar 2,46 mm. Famili No. 6 asal provenan Pambotanjara memiliki
nilai diameter terbesar dan famili No. 18 asal provenan Pambotanjara memiliki nilai diameter terendah. Analisis varians untuk sifat tinggi dan diameter semai injuwatu sampai dengan umur 3 bulan di persemaian disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Analisis varians tinggi dan diameter semai injuwatu umur 3 bulan di
persemaian
Sumber variasi Derajat bebas Kuadrat tengah tinggi Kuadrat tengah diameter
Blok 1 799,877** 0,159ns
Provenan 1 6453,996** 0,918*
Famili (provenan) 38 151,881** 0,709**
Blok*famili 39 24,409* 0,197ns
Galat 315 16,318 0,166
Keterangan : ** : berbeda nyata pada uji 1%, * : berbeda nyata pada uji 5%, ns : tidak berbeda nyata
Rerata tinggi dan diameter semai injuwatu sampai umur 3 bulan di persemaian asal provenan Tarimbang (29,26 cm dan 2,51 mm) secara nyata lebih besar dibanding dengan tinggi dan diameter semai asal provenan Pambotanjara (21,18 cm dan 2,41 mm). Hal ini jika digabungkan dengan informasi hasil analisis varian terhadap diameter biji, maka terlihat bahwa ukuran diameter biji lebih besar akan menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter semai yang lebih besar juga sampai dengan tanaman berumur 3 bulan di persemaian. Hasil analisis varian ukuran diameter biji Injuwatu yang sebelumnya menunjukkan bahwa ukuran biji asal provenan Tarimbang (14,52 mm) lebih besar dibanding dengan ukuran biji asal provenan Pambotanjara (13,61 mm). Hasil serupa juga ditunjukkan pada penelitian jenis tanaman pertanian seperti jagung, dimana laju pertumbuhan kecambah meningkat dengan semakin besarnya ukuran biji (Gusta, et al., 2003). Hal tersebut dapat dipahami bahwa benih dengan ukuran besar dan ukuran kecil memiliki perbedaan dalam proses pertumbuhan tanaman. Benih yang berukuran kecil memiliki cadangan makanan dengan ukuran embrio yang lebih sedikit sehingga menyebabkan pertumbuhan kurang optimal berbeda dengan benih yang berukuran besar mengandung cadangan makanan yang lebih banyak sehingga pertumbuhan tanaman lebih optimal. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran benih berkorelasi positif terhadap kandungan protein, semakin besar atau semakin berat ukuran benih maka kandungan protein makin meningkat (Sutopo, 2002).
IV. KESIMPULAN
Ukuran diameter biji Injuwatu bervariasi antara 10,06 mm sampai dengan 18,87 mm dengan nilai rerata sebesar 14,07 mm. Provenan Tarimbang
memiliki ukuran diamater biji lebih besar (14,52 mm) dibanding provenan Pambotanjara (13,61 mm). Tinggi semai injuwatu sampai dengan umur 3 bulan di persemaian berkisar antara 10,00 cm – 46,00 dengan nilai rerata sebesar 25,21 cm. Rerata tinggi dan diameter semai injuwatu sampai umur 3 bulan di persemaian asal provenan Tarimbang secara nyata lebih besar dibanding dengan tinggi dan diameter semai asal provenan Pambotanjara. Ukuran diameter biji Injuwatu lebih besar akan menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter semai yang lebih besar sampai dengan tanaman berumur 3 bulan di persemaian.