SIFAT FISIS MEKANIS KAYU POTENSIAL NUSA TENGGARA TIMUR: KABESAK (Acacia leucoplhoea (Roxb.) Willd)
D. Konservasi dan Prospek Budidaya Kayu Kabesak dan Timo
Kayu kabesak dan kayu timo memiliki arti yang penting bagi kehidupan masyarakat di NTT. Kedua jenis kayu ini terbukti mampu hidup di lahan semi arid yang netabene memiliki kondisi iklim yang relatif ekstrim bagi jenis‐jenis tumbuhan lain. Program konservasi dan pengawetan jenis yang telah dilakukan oleh instansi terkait belum terlihat adanya program prioritas yang masukkan kedua jenis kayu tersebut. Pemanfatan kedua jenis kayu ini yang tinggi, ternyata juga belum diimbangi dengan praktik budidaya di masyarakat. Tim penulis memandang perlu dilakukan tindakan konservasi dan budidaya kayu kabesak dan timo, karena dengan adanya konservasi dan budidaya disamping akan berdampak pada ekologis juga akan memiliki prospek ekonomis.
IV. KESIMPULAN
1. Kayu kabesak dan timo termasuk kelas kuat II‐III. Nilai rataan berat jenis kayu kabesak 0,73; nilai MOR 815,38 kg/cm2 dan rataan nilai keteguhan tekan sejajar serat (C//) 368,75 kg/cm2. Nilai rataan berat jenis kayu timo 0,68; rataan MOR 727,26 kg/cm2 dan nilai rataan tekan sejajar serat 383,06 kg/cm2. 2. Pada pengujian sifat fisis, posisi batang kayu kabesak perpengaruh nyata
terhadap kadar air basah, berat jenis dan penyusutan baik arah radial maupun tangensial. Akan tetapi tidak berberpengaruh terhadap kadar air
kering udara. Sedangkan posisi batang kayu timo tidak berpengaruh terhadap kadar air basah ataupun kering udara, berat jenis, penyusutan arah radial. Akan tetapi berpengaruh terhadap penyusutan arah tangensial. 3. Pada pengujian sifat mekanis, posisi batang kayu kabesak dan timo tidak
berpengaruh terhadap rerata nilai MOR, MOE dan keteguhan sejajar serat. 4. Kayu kabesak dan timo termasuk kayu kurang stabil karena memiliki rerata
nilai T/R rasio lebih dari 2.
DAFTAR PUSTAKA
ASTM. 2002. ASTM. D.143‐94. Standardisasi Test Methods for Small Clear Speciment of Timber. Annual Book of ASTM Standard. Philadelphia. Basri, Efrida dan Sri Rulliaty. 2008. Pengaruh Sifat Fisis dan Anatomi terhadap
Sifat Pengeringan Enam Jenis Kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Volume 26 (3):253‐263. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor. Indonesia.
Brown, H.P., A.J. Panshin dan C.C. Forsaith. 1952. Text Book of Technology. Vol II. Mc. Grown hill Book Company. New York. Toronto. London.
Den Berger, L.G. 1923. De grondslagen voor de classificatie van Ned. Indische Timmerhout soorten. Tectona vol.16.
DIN. 1975. DIN Taschenbuch 60 Beuth Verlag Gm BH, Koln. Frankfurt (Main). Berlin.
Dumanau, J. 1982. Mengenal kayu. Gramedia. Jakarta.
Hadjib, Nurwati. 2009. Daur Teknis Pinus Tanaman untuk Kayu Pertukangan Berdasarkan Sifat Fisis dan Mekanis. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Volume 27 (1):76‐87. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor. Indonesia.
Haygreen, J.G. dan Bowyer J.L. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Heyne, K., 1987. Tunbuhan Berguna Indonesia jilid II. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta
Martawijaya, Abdurahim, dkk. 1992. Indonesian Wood Atlas. Volume II. Badan Litbang Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor. Indonesia
Panshin, A.J. and C. de Zeeuw. 1980. Textbook of Wood Technology. Mc Graw Hill. John Wiley and Sons. New York.
Priyanto, Dwi. 2009. Mandiri Belajar SPSS (Statistical Product and Service Solution) untuk Analisis Data & Uji Statistik. Mediakom. Yogyakarta Rianawati, H., Siswadi dan Retno S. 2012. Laporan Hasil Penelitian Sifat Dasar dan
Kegunaan Kayu Bali dan Nusa Tenggara (Jenis Potensial NTT). Balai Penelitian Kehutanan Kupang. (Tidak diterbitkat)
Salosa, Susan Trida dan Endra Gunawan. 2011. Sifat Fisik Kayu Andalan Papua (Elmerilia papuana DANDY.). Buletin Hasil Hutan 17 (2):94‐110.
Puslitbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor.
Siswadi, Dani Sulistiyo Hadi, Heny Rianawati dan Grace S. Saragih. 2011. Laporan Hasil Penelitian Teknik Konservasi dan Domestikasi Faloak (Sterculia
quadrifida) Sebagai Tumbuhan Obat Potensial di NTT. Balai
Penelitian Kehutanan Kupang. (Tidak diterbitkat)
Supraptono, B. 1995. Sifat‐Sifat Fisis dan Mekanis dari Sebelas Kayu Non‐ Dipterocarps di Pulau Buru. Frontir : Jurnal Ilmiah Ilmu‐Ilmu pertanian Universitas Mulawarman No.17: 75‐88. Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman. Samarinda.
Soenardi. 1976. Sifat Mekanika Kayu. Bagian Penerbitan Yayasan Pembinaan Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.
Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood. Structure, Properties, Utilization. Van Nostrand Reinhold. New York.
Lampiran1a. Rekapitulasi sidik ragam sifat fisis kayu kabesak Sumber keragaman Db F‐tabel (0,05) F‐table (0,05) Sifat fisis Kadar air basah Kadar air kering udara Berat jenis Penyusutan radial Penyusutan tangensial Basah ke kering udara Basah ke kering tanur Basah ke kering udara Basah ke kering tanur F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung Posisi batang 2 3,403 8,761 * 0,249 tn 6,043 * 4,262 * 4,383 * 4,318 * 3,973 * Galat 24 Total 26 Keterangan * = Nyata pada taraf 5%; tn = tak nyata Lampiran 1b. Rekapitulasi sidik ragam sifat mekanis kayu kabesak Sumber keragaman Db F‐tabel (0,05) Sifat mekanis MOR MOE C// Posisi batang 2 5,143 0,025 tn 1,743 tn 0,659 tn Galat 6 Total 8 Keterangan : * = Nyata pada taraf 5%; tn = tak nyata. Lampiran 2a. Rekapitulasi sidik ragam sifat fisis kayu timo Sumber keragaman Db F‐tabel (0,05) Sifat fisis (Physical properties) Kadar air basah Kadar air kering udara Berat jenis Penyusutan radial Penyusutan tangensial Basah ke kering udara Basah ke kering tanur Basah ke kering udara Basah ke kering tanur F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung F‐Hitung Posisi batang 2 3,354 0,131 tn 3,133 tn 0,470 tn 0.2717 tn 0,2952 tn 9,603 * 6,211 * Galat 27 Total 29 Keterangan : * = Nyata pada taraf 5%; tn = tak nyata Lampiran 2b. Rekapitulasi sidik ragam sifat mekanis kayu timo Sumber keragaman Db F‐tabel (0,05) Sifat mekanis MOR (Modulus of rapture) MOE (Modulus of elasticity) C// (Compression parallel to grain) Posisi batang 2 5,143 0,558 tn 1,047 tn 0,335 tn Galat 6 Total 8 Keterangan : * = Nyata pada taraf 5%; tn = tak nyata
ASPEK EKOLOGI KAYU ULES (Helicteres isora L.) SEBAGAI TANAMAN OBAT DI DESA BOSEN: PENYANGGA CAGAR ALAM MUTIS
KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
Oleh:
Aziz Umroni1, Dani Pamungkas1, Oktofianus Tanopo1, Gerhard E. S. Manurung2
1 Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang,
2International Centre Research for Agroforestry E‐mail: [email protected]
ABSTRAK
Kayu Ules atau Usakneo (Helicteres isora L.) banyak ditemukan di pegunungan Pulau Timor sebagai tanaman bawah pada tingkatan pancang, berumpun dan mengelompok. Ules secara tradisional digunakan untuk mengobati sakit perut, cacing pita, diare dan pemulihan kondisi pasca melahirkan. Bahan aktif dari ules menunjukan aktifitas sebagai: antioksidan, antimikroba, antitumor, antiinflamasi dan antidiabetes. Penelitian ules sebagai tanaman obat sudah sangat maju, namun belum banyak penelitian yang mengkaji aspek ekologi dan habitat alaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi, sebaran, ekologi dan studi perkembangan pemanfaatan kayu ules secara medis. Pengumpulan data menggunakan metode quadrat plot dengan transek memotong lereng secara diagonal, analisis vegetasi, pengamatan parameter ekologi dan studi pustaka (literature review). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa habitat ules banyak ditemukan di kaki Gunung Mutis pada ketinggian ± 600‐700 mdpl pada topografi agak curam. Disekitar tanaman ules (H. isora L.) pada tingkatan pohon banyak ditemukan Timo (Timonius sericeus), Johar (Cassia siamea), Kabesak (Acacia leucophloea) dan Nanum (Ficus variegata) dengan INP berturut‐turut adalah 49,7; 45,16; 28,13 dan 16,99. Asosiasi antara ules dengan jenis lainnya tidak terlihat dominan hal ini terlihat dari indeks Oichiai, Indeks Dice dan Indeks Jaccard yang paling tinggi berkisar 0,5 – 0,67 untuk kesambi (Schleichera oleosa). Kondisi Lingkungan fisik pada ules adalah suhu ± 270 C, Kelembaban 70% dengan pH 6,9.
Kata kunci: Ekologi, Helicteres isora, Mutis, Tanaman obat. PENDAHULUAN
Kebutuhan masyarakat akan obat‐obatan terus mengalami peningkatan. Menurut catatan WHO setidaknya 80 % masyarakat dunia mengandalkan obat tradisional untuk pertolongan pertama pada keluhan sakit yang dideritanya (Pradan et al, 2008). Sementara itu, produk obat‐obatan yang beredar saat ini