• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan 1. Penciptaan perubahan

Dian Sari

D. Hasil dan Pembahasan 1. Penciptaan perubahan

a. Universitas melakukan segala sesuatu cara yang fleksibel dan mudah.

Universitas A merupakan universitas yang belum memiliki pengalaman dalam melakukan sistem belajar onine atau disebut e-learning sehingga ketika pandemi ini terjadi dan mengharuskan belajar dari rumah, maka pemimpin universitas yang diwakilkan oleh kepala prodi menginstruksikan untuk memberikan kuliah online sesuai dengan media yang disepakati anatara mahasiswa dengan dosen. Minggu pertama mahasiswa diberikan materi perkuliahan online melalui media whatssapp dengan membuat whatsaapp group. Whatsapp group juga digunakan sebagai sarana untuk diskusi dan untuk meriksa daftar kehadiran setiap mahasiswa/i.

Universitas B merupakan univeritas yang melakukan sistem belajar campuran atau yang disebut mix study, pertemuan pertama dan keempat dilakukan dengan tatap muka, kemudian pertemuan lima hingga pertemuan ketujuh dilanjutkan dengan sistem online menggunakan e-learning namun dikarenakan adanya pandemi,Universitas B meneruskan sistem belajar online hingga pertemuan keempat belas, ujian tengah semester (UTS) dan UAS (Ujian Akhir Semester) juga dilakukan secara online.

Universitas C merupakan universitas yang juga melakukan sistem belajar campuran atau mix study, dengan 50 persen tatap muka dan 50 persen belajar online menggunakan e-learning. Sistem belajar online dilakukan hingga delapan kali pertemuan, kemudian dilanjutkan sistem tatap muka yang saat ini diganti dengan sistem online namun menggunakan media yang berbeda.

b. Memberikan tanggapan terhadap perubahan-perubahan lain dalam lingkungan

Universitas A selam dua bulan menghimbau untuk belajar dari rumah tidak memberikan tanggapan terhadap peningkatan fasilitas belajar online yang pastinya akan mengahabiskan banyak dana ditengah pandemi ini anggaran setiap universitas harus dikelola dengan baik.

Universitas B selama sebulan melakukan perkuliahan online menggunaan e-learning, kemudian dikarenakan kurangnya interaksi dengan mahasiswa, pada bulan kedua diadakan pelatihan bagi dosen dan mahasiswa secara online untuk mengguna Microsoft Teams sebagai sarana perkuliahan online. Jadi, perkuliahan online di Universitas B dilaksanakan dengan menggunakan dua media yaitu e-learning dan Misrosoft Team.

Universitas C juga memberikan tanggapan perubahan dengan mengganti pertemuan tatap muka dengan menggunakan media zoom, youtube, dan email. Hal ini dikarenakan sistem belajar online hanya memiliki fitur hingga delapan pertemuan, dan juga untuk tetap terciptanya interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa walaupun hanya via video.

Ketiga universitas sebagai organisasi telah berperan adaptif dalam melaksanakan proses belajar dengan mengganti perkuliahan tatap muka menjadi perkuliahan dari rumah secara online. Media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa sehingga mempermudah dosen dan mahasiswa dan proses belajar jarak jauh dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Perubahan yang terjadi ditanggapi beragam oleh tiga universitas. Universitas A tidak memberikan tanggapan dalam hal penyediaan media belajar online maupun pelatihan bagi mahasiswa dan dosen. Tanggapan yang positif dilakukan oleh Universitas B dan C . Hal ini terjadi terkait dengan ketersediaaan anggaran dan fasilitas. Universitas A dengan mahasiswa dari golongan menengah ke bawah belum mampu menyediakan fasilitas media belajar online.

Fokus Konsumen (Fokus pada Mahasiswa)

1.Komentar-komentar dan saran-saran Mahasiswa sering menyebabkan perubahan

Media yang digunakan oleh Universitas A merupakan hasil kesepakatan anatra dosen dengan mahasiswa. Saat minggu pertama banyak dosen yang melakukan sistem belajar online menggunakan zoom, namun banyak mahasiswa yang keberatan dikarenakan jumlah kouta yang besar saat menggunakan zoom dan waktu yagng terbatas yaitu 45 menit jika digunakan secara gratis. Akhirnya dosen memutuskan untuk kembali memberikan materi, diskusi, dan daftar hadir melalui whatsapp group.

Komentar dari mahasiswa dalam pelaksanaan perkuliahan online di Universitas B berkaitan dengan banyaknya pengguna e-learning sehingga sering terjadi error, oleh karena itu pusat komunikasi Universitas B melakukan perawatan untuk meningkatkan jumlah pengguna e-learning Universitas B.

Di Universitas C juga mengalami hal yang sama dengan universitas B, karena meningkatnya jumlah pengguna e-learning maka sering terjadi error dan mengakibatkan kendala dalam proses kuliah online.

2. Semua anggota memiliki pemahaman yang dalam terhadap keinginan dan kebutuhan pelanggan Universitas A memiliki pemahaman terhadap keinginan dan kebutuhan mahasiswa untuk tetap mengikuti kuliah online namun dengan harga yang masih bisa dijangkau. Dosen di Universitas B menyediakan perkuliahan online guna memudahkan mahasiswa yaitu dengan menggunakan whatsapp group dan google classroom.

Universitas B memiliki pemahaman terhadap keinginan dan kebutuhan mahasiswa untuk tetap dapat mengikuti proses belajar dengan sistem online, hal tersebut ditunjukkan dengan perbaikansistem dan pemberian pelatian Microsoft Team kepada dosen dan mahasiswa, sehingga materi, diskusi, tugas, UTS, dan UAS dapat dilaksanakan dan berjalan dengan efektif dan efisien.

Universitas C juga memiliki pemahaman terhadap keinginan dan kebutuhan mahasiswa yang ditunjukkan dengan mengganti pertemuan tatap muka dengan interaksi melalui video sehingga tidak membosankan bagi mahasiswa untuk menerima materi karena divariasikan dengan kontak melalui video.

Jadi, organisasi yang adaptif adalah organisasi yang mampu menanggapi keluhan pelanggan karena adanya perubahan sehingga berusaha untuk menciptakan rasa nyaman pelanggan. Universitas teah bersikap adapatif dalam menangapi setiap keluhan mahasiswa sehingga berusaha memberikan media pembelajaran yang dibutuhkan oleh mahasiswa dan dosen. Interaksi yang berkurang selama kuliah online diantisipasi dengan diberikanya media pembelajaran via video. Jadi peran adaptif universitas disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, sehingga perubahan pola belajar tetap membuat mahasiswa dapat menerima materi ajar dari dosen.

Pembelajaran Organisasi (Kapasitas pembelajaran organisasi)

1. Melakukan inovasi dan mngambil risiko didorong dan dihargai

Universitas A tidak melakukan inovasi dalam proses belajar online selama pandemic covid-19 ini terjadi. Dosen dengan kewajiban memimpin perkuliahan online diberikan kewenagan sepenuhnya untuk memilih media yang dapat digunakan namun dengan pertimbangan media yang digunakan tidak

merugikan mahasiswa karena mahasiswa di kampus B tergolong mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah yang kemungkinan banyak terdampak pandemic dalam segi ekonomi.

Universitas B melakukan inovasi dengan diadakannya pelatihan secara online untuk memperlancar proses belajar online dan menciptakan interaksi antara dosen dengan mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat bertanya langsung kepada Dosen mealui video.

Universitas C melakukan inovasi dengan membedakan media pembelajaran. Pertemuan pertama hingga pertemuan kedelapan menggunakan e learning. Dalam e-learning, tutor online menyediaakan materi, bahan diskusi, dan tugas. Diskusi dan tugas mempunyai batas waktu pengumpulan. Pertemuan kesembilan hingga pertemuan keempat belas dilakukan dengan media langsung di zoom dan mengunggah video di youtube dan mengumpulkan tugas via email.

2. Belajar merupakan tujuan penting dalam pekerjaan sehari-hari kami

Universitas A dalam pengembangan organisasi selalu berusaha memberikan yang terbaik dan itu merpakan proses belajar yang lama. Proses belajar di Universitas A selalu ditingkatkan dengan menyediakan fasilitas dan juga Sumber Daya Dosen yang berkualitas. Namun dalam penyediaan sistem belajar online seperti E-learning, Universitas A belum bisa melaksanakannya dikarenakan jumlah anggaran yang terbatas.

Universitas B dalam pengembangan organisasi menyediakan sarana dan prasarana yang cukup baik sehingga tidak menyulitkan mengubah mix study (tujuh pertemuan tatap muka dan tujuh pertemuan online) dengan full online study. Universitas B berusaha memberikan proses belajar mengajar yang nyaman, interaktif, dan mudah diakses oleh mahasiswa. Jadi, ketika pandemic terjadi Universitas B tidak hanya mengandalkan e-learning saja sebagai emdia belajar online namun dikombinasikan dengan Microsoft Team.

Universitas C merupakan universitas pionir dalam menyediakan sistem belajar online, banyak universitas telah belajar bagaimana membuat sistem belajar online untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga sarana dan prasarana Universitas C dalam mengaadapi pandemic ini sudah sangat baik dan tidak mengalami kendala dengan perubahan proses belajar selama pandemic ini.

Inovasi merupakan hal yang penting dalam mengahadapi perubahan dalam organisasi. Inovasi yang dilakukan oleh universitas terkait dengan memberikan kemudahan akses bagi mahasiswa sehingga tidak ada terjadi keterlambatan proses belajar mengajar walaupun pandemi terjadi. Selain itu, inovasi penting dalam adaptasi terhadap perubahan guna menghindari pola yang monoton yang akan menyebabkan kebosanan bagi mahasiswa.

E.Penutup

Tiga universitas dalam penelitian ini merupakan universitas yang bisa beradapasi dengan perubahan terkhusunya perubahan akibat pandemic covid 19. Tiga universitas bisa menyediakan proes belajar mengajar dengan PBJJ. Media yang digunakan mulai dari whatssapp group, google classroom, e-leraning, Microsoft teams, zoom, dan youtube. Tiga universitas tersebut juga menanggapi komentar mmahasiswa terkait proses PBJJ dengan menyediakan mediayang mudah dan murah dijangkau mahasiswa, media yang memudahkan interaksi dengan dosen, dan cepat menanggapi kendala dalam proses PBJJ. Hal yang membedakan adaah inovasi dalam PBJJ. Universitas A tidak memiliki inovasi dalam menyediakan media PBJJ, universitas kedua menyediakan media dan pelatihan bagi dosen dan mahasiswa mengenai Microsoft Teams. Universitas C merupakan universitas yang menjadi pionir PBJJ berlangsung di Indonesia sehingga tidak ada kendala yang berarti dalam meaksanakan PBJJ selama masa pandemi Covid 19 ini.

Perubahan tidak bisa dihidari oleh organisasi, sehingga setiap organisasi harus selalu bersiap mengahadapinya, oleh karena itu diperlukan peran adaptif setiap organisasi dalam menghadapinya,

peran adaptif diperlukan agar tujuan organisasi dapat tercapai dengan efektif dan efesien selama masa perubahan, organisasi tetap fokus pada kebutuhan mahasiswa dan dosen, dan sebagai sarana pemebelajaran organisasi sehingga organisasi selalu perkembang dalam memberikan pelayanan ditengah perubahan yang sedang terjadi.

Daftar Pustaka

Denison, Daniel R. (1995). Toward a theory of organizational culture and effectiveness.

Kotter, John P., James L. Heskett. (1992). Corporate Culture and Performance, The Free Press, New York.

Mondy, R. Wayne, Robert M. Noe, (1993). Human Resources Management. Allyn and Bacon Inc, USA.

McShane, S.L. & Von Glinow, M.A. (2010). Organizational Behaviour (5th edition). New York: McGraw-Hill.

Marchand, Allison Nadine. (2013).What is an adaptive organisational culture? Miller, Rick. (2013). 10 ways to build an adaptive culture in your organization.

Membangun Leadership yang Kokoh