• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fibriyanti Karim 1 ,Nur Mohamad Kasim 2 ,Duke Arie Widagdo 3

A. Latar Belakang

Hubungan antara hukum dan masyarakat selalu menjadi perbincangan dalam ilmu hukum.1 Hal ini juga tidak luput dari dua insan tuhan yakni laki – laki dan perempuan yang saling mencintai dan ingin melaksanakan syariat agama yakni Perkawinan. Perkawinan adalah sebuah ikatan yang membentuk sebuah keluarga sebagai salah satu unsur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dimana ikatan tersebut diatur oleh hukum, baik hukum islam maupun hukum positif (negara). Sebelumnya tata cara bagi perkawinan bagi orang Indonesia secara umum diatur berdasarkan hukum agama dan hukum adat masing – masing.2

Perkawinan dalam perspektif agama, seperti Islam, perkawinan merupakan salah satu anjuran bagi siapapun yang sudah dewasa dan punya kemampuan untuk berkeluarga supaya menikah untuk menenangkan hati, jiwa, dan raga, serta untuk melanjutkan keturunan dalam membentuk keluarga yang bahagia. Ajaran Islam mendorong umatnya, khususnya kaum mudanya, untuk segera melakukan pernikahan.3

Berbeda dengan sekarang, perkawinan tidak hanya dilakukan atau pun dilaksanakan oleh kedua pasangan laki – laki dan wanita yang telah cakap dan memiliki kemampuan baik dari segi materiil dan formiil, tetapi sekarang ini perkawinan dilaksanakan oleh anak yang sudah tentu belum cukup umur

1 Dominikus Rato.HUKUM PERKAWINAN DAN WARIS ADAT DI INDONESIA (Sistem Kekerabatan, Perkawinan, dan

Pewarisan menurut Hukum Adat) (Yogyakarta:LaksBang PRESSindo (2015) Hlm 6

2 Zulfiani.“Kajian Hukum Terhadap Perkawinan Anak di Bawah Umur menurut Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974”, Jurnal Hukum Samudera Keadilan XII,No.2, Juli-Desember (2017): Hlm 212

3 Hasanain Haikal, “Analisis Yuridis Normatif dan Hukum Islam terhadap Putusan Mahkamah KOnstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014 tentang Batas Usia Perkawinan Anaka (Perempuan)”, Jurnal Pembaharuan Hukum, Vol II, No 1, Januari-April (2015): Hlm 112

134

bahkan dapat dikatakan belum cakap dalam membina rumah tangga. Anak yang menikah cenderung memiliki efek yang merugikan kedepannya dan tidak bisa dijamin dapat melalui dan menjalani rumah tangganya dengan baik.

Undang – Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 ayat (1) menjelaskan: Batas usia anak yang diperbolehkan menikah yakni Laki – Laki berumur 19 (Sembilan belas) tahun dan wanita berumur 16 (Enam belas) tahun. Ditinjau dari perspektif perempuan itu sendiri, hal ini sangat merugikan bagi kaum perempuan, karena tidak adanya persamaan dalam segi umur.

Undang – Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 ayat (1) ini, Adanya permohonan Judicial Review yang masing masing diajukan oleh Pemohon yang bernama Endang Wasrinah sebagai Pemohon I, Maryanti sebagai Pemohon II, dan Rasminah sebagai Pemohon ketiga mengajukan judicial review terhadap ketentuan pasal 7 ayat (1) Undang – Undang Perkawinan tersebut. Pemohon mengajukan gugatan tanggal 20 April 2017 di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi (Selanjutnya disebut kepaniteraan Mahkamah) berdasarkan akta penerimaan Berkas Permohonan Nomor 36/PAN.MK/2017 dan dicatat dalam buku registrasi perkara konstitusi dengan Nomor 22/PUU-XV/2017 pada tanggal 18 Mei 2017, yang telah diperbaiki dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 6 Juni 2017.4

Tujuan Mahkamah Konstitusi ini yaitu untuk memastikan adanya kepastian hukum serta menghapuskan diskriminasi yang diakibatkan oleh ketentuan tersebut. Sidang Paripurna tanggal 16 September 2019 telah disahkan bahwa batas usia perkawinan yakni 19 tahun bagi laki – laki dan perempuan. Undang – Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang perkawinan Pasal 7 ayat 1 menjelaskan :

“Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.5

Batas usia perkawinan sangatlah penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu perkawianan. Karena dengan usia yang terlalu muda ketika seseorang melakukan suatu perkawinan dapat mempengaruhi dalam menjalanakan rumah tangganya.6Perbedaan dalam penentuan batas usia kedewasaan disebabkan oleh ketiadaan standar baku yang bisa digunakan secara presisi untuk mengukur batas kedewasaan manusia. Usia serta tindakan perkawinan bisa menjadi salah satu alat penentu kedewasaan. 7

Tidak ada ketentuan khusus tentang definisi anak dan standar kedewasaan dalam hukum islam. Akan tetapi, standar kedewasaan seseorang pada umumnya ditentukan dengan masa baligh, yakni menstruasi untuk wanita serta mimpi basah (keluarnya sperma) oleh pria. Masa baligh untuk pria dan wanita memiliki perbedaan dimana pria cenderung lebih lambat sekitar 3-5 tahun. Ketika wanita sudah dalam masa menstruasi, para pria remaja masih asyik dengan layangannya dan hobi bermain lainnya.8

Paham uniformisme bagian dari respons terhadap kemerdekaan dan tuntutan modernitas, mengingat negara Indonesia menganut sistem hukum civil law, bukan negara agama. Dengan demikian, hukum perkawinan khususnya pengaturan usia minimal kawin menjadi unsur penting untuk pembangunan sistem hukum dan pembangunan generasi ke depannya, terlebih lagi untuk memuluskan

4 Salinan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017

5 Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan Pasal 7 ayat 1

6 Dhorifah Hafidhotul Hikmah, Agung Basuki Prasetyo, Triyono, “Pengaruh Batas Usia Kawin Dalam Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1974 Terhadap Jumlah Perkawinan Dibawah Umur Di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah”,

Diponegoro Law Journal Vol.VI.No. 2, 2017, Hlm 2

7 Boga Kharisma, “Implementasi batas usia minimal dalam perkawinan berdasarkan UU Nomor 1 tahun 1974”, Skripsi, Fakultas Hukum, 2017, Lampung, Hlm 2

8 Mardi Candra,Aspek Perlindungan Anak Indonesia-Analisis tentang Perkawinan di bawah umur (Jakarta:Prenadamedia Group,2018), Hlm 47

135

proyek negara untuk membawa masyarakat menuju bangsa modern, berbudaya, sesuai dengan semangat Pancasila sebagai ideologi negara.9

Konstruksi hukum perkawinan Indonesia yang berlaku hingga saat ini dianggap tidak relevan. Hal ini menurut penulis, menghendaki rekonstruksi terhadap formulasi hukum karena dianggap tidak sesuai lagi dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi yang ada. Perundang-undangan yang mengatur batas minimal usia perkawinan tidak dapat menjelaskan dan menyelesaikan kompleksitas permasalahan hukum yang muncul, terutamanya tingginya angka perkawinan usia anak yang banyak memberi dampak negatif, baik bagi individu maupun masyarakat, dan negara dalam arti luas. Hukum semestinya dipatuhi oleh masyarakat dan mampu menghadapi realitas kehidupan modern, karena masyarakat membutuhkan hukum yang secara aplikatif dapat memberikan manfaat dan mengatur kehidupan sosial masyarakat demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik.10

Putusan yang wajib dilakukan oleh Pengadilan yang berwenang dalam hal ini tempat penulis melakukan penelitian yakni Hakim Pengadilan Agama Limboto memiliki alasan yang kuat untuk mengeluarkan dispensasi Nikah, misalnya Anak yang telah hamil duluan atau Married Because an Accident, anak yang takut tidur sendirian, atau orang tua yang awan dalam mengurus anaknya atau kurang paham tentang dampak buruk nikah dibawah umur. Seharusnya Hakim Pengadilan Agama Limboto lebih ketat dalam mengeluarkan surat dispensasi nikah.

B. Pembahasan

Menurut Undang – Undang Perkawinan Pasal 1 No.1 Tahun 1974 perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri. Ikatan lahir adalah hubungan formal yang dapat dilihat karena dibentuk menurut undang – undang, hubungan mana mengikat kedua kedua pihak dan pihak lain dalam masyarakat. Ikatan lahir bathin adalah hubungan yang tidak formal yang dibentuk dengan kemauan bersama yang sungguh – sungguh, yang mengikat kedua pihak saja.11

Undang-undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan adalah manifestasi dari hukum Islam yang dikodifikasi dan dilegalkan menjadi aturan negara. Pada pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan dijelaskan bahwa umur minimal boleh menikah adalah 16 bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki12

Keberagaman pengaturan mengenai batas usia dewasa seseorang masih diterapkan berbeda-beda sesuai dengan kasus yang terjadi di masyarakat. Pada beberapa peraturan perundang-undangan juga menentukan secara berbeda-beda mengenai batas usia dewasa seseorang. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan kebingungan diantara masyarakat mengenai aturan yang mana yang harus dipatuhi.13

Fenomena perkawinan di bawah umur masih sangat tinggi. Hal tersebut terlihat dari maraknya pernikahan usia muda pada kalangan remaja, yang kini tidak hanya terjadi di pedesaan tetapi juga kota-kota besar di Indonesia. Fenomena pernikahan usia muda ini tampaknya merupakan “mode” yang terulang. Dahulu, pernikahan usia muda dianggap lumrah. Tahun berganti, makin banyak yang menentang pernikahan usia muda namun fenomena ini kembali lagi. Jika dahulu orang tua ingin agar

9 Ahmad Masfuful Fuad, “Ketentuan Batas Minimal Usia Kawin: Sejarah,Implikasi Penetapan Undang – Undang Perkawinan”, Jurnal Petita, Vol 1, No. 1, April (2016): Hlm 39

10 Nur Fadhilah, Khairiyati Rahmah, “Rekonstruksi Batas Usia Perkawinan Anak dalam Hukum Nasional Indonesia” Jurnal Syariah dan Hukum,Vol.4, No.1, Juli (2012) Hlm 57

11 Dewi Iriani, “Analisa Terhadap Batasan Minimal Usia Pernikahan dalam UU.No.1 Tahun 1974”, Jurnal Justicia Islamica, Vol 12,No 1, Jan-Juni (2015): Hlm 131

12 Holilur Rohman, “Batas Usia Ideal Pernikahan Perspektif Maqasid Shariah”, Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol 1, No.1 (2016): Hlm 76

13 Agustinus Danan Suka Dharma, “Keberagaman Pengaturan Batas Usia Dewasa seseorang untuk melakukan Perbuatan Hukum dalam Peraturan perundang – undangan di Indonesia”, Jurnal Repertorium, Vol II, No.2 Juli – Desember (2015): Hlm 174

136

anaknya menikah muda dengan berbagai alasan, maka kini tidak sedikit remaja sendiri, bukan hanya remaja pedesaan tetapi juga remaja di kota besar, yang ingin menikah muda.14

Konflik dalam suatu perkawinan tidak selalu harus diartikan sebagai hilangnya cinta antara pasangan suami istri, namun dapat berarti sebaliknya, konflik justru menunjukkan adanya saling kepedulian antara pasangan yang selanjutnya menandakan keterikatan antara suami istri. Keharmonisan dalam rumah tangga tentu dibina dengan rasa kasih saying antara suami istri. Kenyamanan hidup dan anak keturunan dari hasil perkawinan yang sah menghiasi kehidupan keluarga, dan hal inilah yang menjadi harapan bagi setiap pasangan suami istri yang seia sekata mengurangi bahtera rumah tangga.15

Dari segi keaktualan, kawin usia muda ini perlu dikaji, dicerna, dan dianalisis. Hal ini mengingat perkawinan usia muda ini memberi pengaruh kepada ketidakstabilan rumah tangga dan kerentanan ekonomi hingga dapat menjadi salah satu sebab timbulnya perceraian.16

Pernikahan anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak anak yang dapat menimbulkan kemudaratan. Hak ini sejatinya dijamin oleh UUD 1945 sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 28B ayat 2. Selanjutnya ditegaskan pula dalam Undang – Undang Perlindungan anak bahwa anak adalah bagian dari Hak Asasi Manusia, negara,pemerintah,dan pemerintah daerah. Anak yang wajib dijamin,dilindungi,dan dipenuhi haknya adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.

17

Gugatan judicial review sebagaimana yang diajukan oleh ketiga ibu rumah tangga ini yang merasa keberatan dan dirugikan oleh bunyi Pasal 7 ayat (1) Undang – Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan batas usia minimal kawin yakni umur 19 (sembilan belas) tahun dan wanita berumur 16(enam belas) tahun.. Hal ini mengakibatkan adanya pandangan diskriminatif antara kaum perempuan dan laki – laki, seperti yang dijelaskan pada Undang – Undang Dasar 1945 Bab X Pasal 28B tentang Hak Asasi Manusia yakni :

(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah

(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi..18

Pernikahan usia anak sangat merugikan bagi kaum perempuan karena jika perempuan melakukan pernikahan di bawah umur maka hak – haknya akan terenggut dengan sendirinya terutama hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan kesehatan. Anak perempuan yang menikah dibawah umur pasti tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena tugasnya hanya dirumah untuk melayani suaminya. Tidak hanya sulit untuk melanjutkan sekolahnya, perempuan yang menikah di bawah umur ini sulit untuk berkumpul dengan teman – temannya untuk bersanda gurau.

Segi kesehatan pernikahan dibawah umur sangat merugikan kaum perempuan, bukan hanya dari hubungan seksual suami istri melainkan juga pada saat mengadung dan melahirkan. Kesehatan reproduksi wanita ini sangat rentan dirugikan saat perkawinan di bawah umur. Perkawinan di bawah umur yang sangat merugikan kaum perempuan ini bisa berawal dari hubungan seksual yang tidak lain dapat menghasilkan anak biologis dari hubungan keduanya. Sementara terkadang usia anak ini sangat memerlukan gizi yang baik.

14 Ilham Laman, “Perkawinan Di Bawah Umur Di Kelurahan Purangi Kota Palopo”,Tesis, Universitas Negeri Makassar (2017): Hlm 3

15 Moh.Habib Al Khutbi, “Dampak Perkawinan di bawah umur terhadap Hubungan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus di Desa Purwodadi Kecamatan Tepus Kabupaten Gunung Kidul tahun 2010-2013)”, Tesis Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2016): Hlm 4

16 Moh.Ali Wafa, “Telaah Kritis Terhadap Perkawinan Usia Muda menurut Hukum Islam”, Jurnal AHKAM, Vol.17, No.2 (2017): Hlm 392

17 Salinan Putusan Mahkamah Konstitusi NO.22/PUU-XV/2017, Op.Cit Hlm 55

137

Sementara janin yang dikandung dari perempuan ini sendiri juga memerlukan gizi yang cukup untuk pertumbuhan dirinya dalam perut ibunya. Terkadang hal seperti ini yang berdampak buruk terhadap janin karena adanya perebutan gizi ataupun nutrisi antara janin dan sang ibu. Kematian ibu dan resiko anak lahir prematur dan cacat bahkan kematian anak menjadi resiko buruk yang akan terjadi. Resiko buruk dari kematian ini yang ditakutkan akan menimbulkan tingkat depresi dari seorang ibu. Pernikahan di bawah umur ini sangat merugikan dari segi apapun karena bisa merusak masa depan anak, sehingga para penggugat terutama ibu ruumah tangga ini mengajukan gugatan judicial review ke Mahkamah Konstitusi tentang batas usia kawin.

Gugatan penggugat ini berbuah manis yang menghasilkan perubahan batas usia kawin antara laki – laki dan perempuan. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi memerintahkan pembuat Undang – Undang untuk melakukan perubahan bunyi Pasal 7 ayat (1) yang membahas tentang batas usia kawin. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 ini tentulah memberikan kelegaan terhadap penggugat dalam hal batas usia kawin ini yang berdampak ke peraturan kedepannya. Pasca putusan Mahkamah Konstitusi dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun dalam sidang paripurn tanggal 16 September 2019 telah disahkan bahwa batas usia perkawinan yakni 19 tahun bagi laki – laki dan perempuan. Undang – Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang perkawinan Pasal 7 ayat 1 berbunyi :

“Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.19

Perubahan batas usia kawin anak ini yang ditandai dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 dan setelah 3 (tiga) tahun diumukan putusan Mahkamah Konstitusi ini telah disahkannya Undang – Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang Perkawinanm tidak semerta – merta mengurangi atau menekan tingkat perkawinan anak. Malahan angka perkawinan anak ini masih dalam angka yang fluktuatif dan tergolong cukup tinggi.

Penentuan batasan minimal usia untuk menikah yang tercantum dalam UUP menyebutkan secara otentik alasan dan tujuan diaturnya pembatasan ini yaitu dalam penjelasan UU No.1 tahun 1974 tentang perkawinan, dimana dalam penjelasan umum angka empat huruf d dan dalam penjelasan pasal 7 ayat 1 bahwa, alasan tersebut berkenaan dengan kepentingan yang bersangkutan dan kepentingan nasional yaitu pentingnya kedewasaan yang disebut dengan masak jiwa dan raga dalam perkawinan dan kecenderungan tingginya angka kelahiran nasional yang diakibatkan oleh perkawinan di bawah umur.20

Pernikahan usia anak banyak terjadi antaranyaditandai dengan adanya peningkatan angka penerbitan dispensasi nikah di bawah umur yang cukup tinggi dan fluktuatif khususnya di Pengadilan Agama Limboto. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pengadilan Agama Limboto, Sebelum putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 jumlah pernikahan dibawah umur pada tahun 2016 mencapai 96 anak, sedangkan setelah putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, permintaan dispensasi nikah meningkat mencapai 114 pada tahun 2017 dan pada tahun 2018 mencapai 93 permintaan, dan pada tahun 2019 ini permintaan dispensasi nikah mencapai 89.21

Hal ini dapat membuktikan masih adanya perkawinan anak yang terjadi di wilayah Pengadilan Agama Limboto pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 tentang batas usia kawin dan Undang – Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang Perkawinan. Permintaan dispensasi nikah oleh keluarga yang meningkat menyebabkan penerbitan dispensasi nikah oleh Pengadilan Agama Limboto turut meningkat juga. Permintaan dispensasi yang di ajukan pun dengan alasan – alasan yang berbeda.

19 Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan Pasal 7 ayat 1

20 Salmah Fa’atin. “Tinjauan terhadap batas minimal usia nikah dalam UU No.1/1974 dengan multiperspektif”. Jurnal YUDISIA. Vol 6.No.2 Desember (2015): Hlm 437

138

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 dan undang – undang perkawinan terbaru belumlah memberikan pengaruh yang baik dalam hal perkawinan anak ini ditinjau dengan meningkatnya penerbitan dispensasi nikah karena tujuan dari putusan Mahkamah Konstitusi maupun undang – undang perkawinan terbaru dan perubahan Pasal 7 (1) tentang batas usia kawin ini untuk menekan angka pernikahan di bawah umur dan kepastian hukum tentang batas usia kawin sehingga tidak adanya anggapan diskriminasi umur antara laki – laki dan perempuan.

Selain itu penerbitan dispensasi nikah melihat adanya alasan – alasan yang krusial, yakni alasan dari keluarga apabila diterbitkan surat dispensasi dapat menimbulkan kemaslahatan atau kemudharatan setelah pernikahan guna menghindari dari perceraian di kemudian hari,

SIMPULAN

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 tentang batas usia kawin yang dalam hal ini sudah menghasilkan perubahan atas batas minimal usia kawin yang sebagaimana telah disebutkan pada Undang – Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang Perkawinan Pasal 7 ayat (1) yakni batas usia kawin anak menjadi 19 (Sembilan belas) tahun baik laki – laki dan perempuan, belum mampu memberikan pengaruh yang signifikan dalam mengurangi atau menekan tingkat perkawinan di bawah umur di wilayah Pengadilan Agama Limboto. Hal ini ditandai dengan masih adanya angka yang cukup tinggi dalam permintaan maupun penerbitan dispensasi nikah.

DAFTAR PUSTAKA

Agustinus Danan Suka Dharma.2015.Keberagaman Pengaturan Batas Usia Dewasa seseorang untuk melakukan Perbuatan Hukum dalam Peraturan perundang – undangan di Indonesia.Jurnal Repertorium.Vol II.No.2 Juli – Desember

Ahmad Masfuful Fuad. 2016. Ketentuan Batas Minimal Usia Kawin :Sejarah,Implikasi Penetapan Undang – Undang Perkawinan.Jurnal Petita.Vol 1.No. 1 April

Boga Kharisma.2017.Implementasi batas usia minimal dalam perkawinan berdasarkan UU Nomor 1 tahun 1974.Skripsi.Fakultas Hukum Lampung

Dewi Iriani.2015.Analisa Terhadap Batasan Minimal Usia Pernikahan dalam UU.No.1 Tahun 1974.Jurnal Justicia Islamica.Vol 12.No 1, Jan-Juni

Dominikus Rato.2015.HUKUM PERKAWINAN DAN WARIS ADAT DI INDONESIA (Sistem Kekerabatan, Perkawinan, dan Pewarisan menurut Hukum Adat).Yogyakarta:LaksBang PRESSindo

Dhorifah Hafidhotul Hikmah, Agung Basuki Prasetyo, Triyono.2017.Pengaruh Batas Usia Kawin Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Terhadap Jumlah Perkawinan Dibawah Umur Di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah.Diponegoro Law Journal. Vol.VI.No. 2

Hasanain Haikal.2015.Analisis Yuridis Normatif dan Hukum Islam terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30-74/PUU-XII/2014 tentang Batas Usia Perkawinan Anaka (Perempuan).Jurnal Pembaharuan Hukum.Vol II.No 1.Januari-April

Holilur Rohman.2016.Batas Usia Ideal Pernikahan Perspektif Maqasid Shariah. Journal of Islamic Studies and Humanities.Vol 1. No.1

139

Ilham Laman.2017.Perkawinan Di Bawah Umur Di Kelurahan Purangi Kota Palopo.Tesis.Universitas Negeri Makassar

Mardi Candra,2018.Aspek Perlindungan Anak Indonesia-Analisis tentang Perkawinan di bawah umur.Jakarta:Prenadamedia Group

Moh.Ali Wafa.2017.Telaah Kritis Terhadap Perkawinan Usia Muda menurut Hukum Islam.Jurnal AHKAM.Vol.17.No.2

Moh.Habib Al Khutbi.2016.Dampak Perkawinan di bawah umur terhadap Hubungan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus di Desa Purwodadi Kecamatan Tepus Kabupaten Gunung Kidul tahun 2010-2013).Tesis Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Nur Fadhilah, Khairiyati Rahmah.2012.Rekonstruksi Batas Usia Perkawinan Anak dalam Hukum Nasional Indonesia.Jurnal Syariah dan Hukum.Vol.4, No.1 Juli

Salmah Fa’atin.2015.Tinjauan terhadap batas minimal usia nikah dalam UU No.1/1974 dengan multiperspektif.Jurnal YUDISIA. Vol 6.No.2 Desember .

Zulfiani.2017.Kajian Hukum Terhadap Perkawinan Anak di Bawah Umur menurut Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974.Jurnal Hukum Samudera Keadilan XII,No.2, Juli-Desember

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017

Undang – Undang Republik Indonesia tahun 1945