• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan RH 70, 80, dan 90% pada suhu 20, 30, dan 40 ºC dengan menggunakan beberapa jenis garam

Kelembaban relatif (RH) yang diinginkan diperoleh dengan menggunakan beberapa jenis garam. Garam yang digunakan terdiri dari garam kualitas teknis dan pro

analysis. Tingginya jumlah garam yang dibutuhkan untuk menciptakan kejenuhan

larutan garam hingga mencapai RH yang diinginkan menjadi alasan pemilihan garam kualitas teknis karena jika semuanya menggunakan garam jenuh kualitas pro analysis

maka akan membutuhkan biaya yang tinggi. Penggunaan garam kualitas teknis dapat membentuk beberapa RH yang diinginkan, namun tidak untuk RH 90%. Nilai RH 90% pada ketiga suhu terbentuk dengan menggunakan garam jenuh kualitas pro analysis

(kalium sulfat dan kalium nitrat).

Jumlah garam hingga jenuh dan jumlah air yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 8. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai RH yang diinginkan membutuhkan jumlah garam jenuh yang lebih tinggi dari jumlah garam yang terdapat pada referensi, kecuali untuk garam barium klorida.

Validasi pengukuran nilai RH dilakukan dengan menggunakan alat higrometer. Nilai RH yang terbentuk akan terbaca pada higrometer yang berada dalam mini desikator. Pengukuran RH hingga konstan dilakukan dalam kurun waktu 2 hingga 7 hari karena kestabilan masing-masing RH pada setiap suhu berbeda-beda. Pembentukan RH 90% memerlukan waktu yang lebih lama (7 hari) dibandingkan dengan pembentukan RH lainnya. Larutan garam jenuh yang membentuk RH tertentu disterilisasikan (121 oC, 15 menit) terlebih dahulu sebelum digunakan. Kestabilan RH akibat sterilisasi dimonitor kembali dengan menggunakan alat higrometer.

Tabel 8 Jenis dan jumlah garam dalam 100 mL air yang digunakan untuk mengatur kelembaban relatif (RH).

Suhu (oC)

RH ( % )

Jenis garam Referensi1 Hasil riset Jumlah garam (g) Jumlah garam (g) 20 70±3.0 Amonium klorida(NH4Cl) 37 a 286 b - 75 a 38 c 31 c 32 b 79 c - 120 140 100 93 110 200 70 80 60 80±3.0 Barium klorida (BaCl2)

90±3.0 Kalium sulfat (K2SO4) 30 70±3.0 Amonium sulfat (NH4)2SO4

80±3.0 Kalium nitrat (KNO3) 90±3.0 Kalium nitrat (KNO3) 40 70±3.0 Natrium nitrat (NaNO3)

80±3.0 Kalium nitrat (KNO3) 90±3.0 Kalium sulfat (K2SO4) 1

Sumber :a) Greenspan 1977; b) Spiess dan Wolf 1987; c) Wexler dan Hasegawa 1954.

Pengaturan RH dengan metode garam jenuh dalam ruang lingkup penelitian telah banyak dilakukan terutama dalam bidang ilmu ekologi dan fisiologi makhluk hidup (Winston dan Bates 1960). Keberlangsungan hidup suatu makhluk hidup salah satunya bergantung pada nilai RH yang ada disekitarnya, oleh karena itu tumbuh

tidaknya suatu makhluk hidup yang diinginkan dapat ditentukan dengan cara mengatur nilai RH lingkungan pertumbuhannya.

Wexler dan Hasegawa (1954) menyebutkan bahwa beberapa jenis garam dapat digunakan untuk mengatur kelembaban relatif. Pengaturan kelembaban relatif dengan penggunaan garam hingga jenuh dianggap lebih efektif karena lebih mudah stabil (Winston dan Bates 1960). Sementara Greenspan (1977) juga menyebutkan pengaturan RH dengan menggunakan beberapa jenis garam pada saat itu dianggap lebih mudah dan murah dibandingkan dengan metode lainnya. Jenis garam yang berbeda akan menghasilkan nilai RH yang berbeda pula, hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kekuatan interaksi ionik antara air dengan larutan garam. Namun Greenspan (1977) menjelaskan, RH yang berbeda juga dapat diperoleh dengan menggunakan jenis garam yang serupa, tentu saja dengan jumlah garam yang berbeda. Pada penelitian ini garam kalium nitrat (KNO3) tidak hanya membentuk satu RH saja, tetapi dengan jumlah garam yang berbeda dapat membentuk beberapa RH yaitu RH 70 dan 80% pada suhu 30 ºC dan RH 80% pada suhu 40 ºC.

Pada prinsipnya larutan garam jenuh merupakan campuran antara air steril dan sejumlah garam hingga tidak mampu larut lagi. Butiran-butiran garam akan berikatan dengan uap air yang ada di udara pada kelembaban tertentu dan akan mencair hingga terbentuk larutan garam jenuh. Jika kelembaban relatif rendah maka butiran garam tidak akan berubah (mencair) dan larutan garam lebih cepat jenuh dan setimbang, sebaliknya jika kelembaban relatif tinggi maka butiran garam akan sangat cepat larut atau mencair sehingga membutuhkan jumlah garam yang tinggi dan waktu yang lebih lama untuk jenuh dan memperoleh RH yang setimbang (Winston dan Bates 1960). Hasil yang sama juga diperoleh pada penelitian ini yaitu pembentukan RH 90% pada suhu 20 dan 30 ºC memerlukan jumlah garam yang tinggi (pro analysis) dan waktu yang relatif lama untuk memperoleh kesetimbangan antara larutan garam dengan tekanan uap air murninya, sementara RH 90% pada suhu 40 ºC kesetimbangan lebih mudah tercapai dengan jumlah garam yang lebih sedikit. Hal ini juga memperlihatkan bahwa nilai RH yang terbentuk oleh suatu jenis larutan garam jenuh akan bergantung pada suhu lingkungan. Suhu lingkungan yang tinggi akan mempermudah pembentukan RH (Greenspan 1977).

Keuntungan lain penggunaan larutan garam untuk membentuk RH adalah kejenuhan larutan garam dapat teramati secara visual dari butiran garam yang tidak mampu larut lagi di dalam air. Namun kendala yang dihadapi adalah jumlah garam yang digunakan untuk memperoleh RH yang diinginkan pada suhu yang ditentukan harus terukur secara tepat dan RH yang terbentuk harus diukur setiap 24 jam (Greenspan 1977).

Nilai RH yang terbentuk dalam desikator dapat dilihat dengan bantuan higrometer. Menurut Winston dan Bates (1960), higrometer merupakan alat yang tepat karena memiliki keakuratan yang baik dan cukup sensitif ketika mengukur RH yang terbentuk selama pengujian. Pada higrometer terdapat dua skala, skala pertama menunjukkan kelembaban relatif dan yang kedua menunjukkan suhu. Cara penggunaan higrometer cukup mudah, hanya dengan meletakkannya pada tempat yang akan diukur kelembabannya, setelah itu tunggu beberapa saat dan hasil pengukuran dapat dilihat secara langsung pada alat.

Selain dengan higrometer, cara konvensional juga dapat digunakan untuk menentukan RH yaitu metode suhu bola basah dan bola kering dengan bantuan kurva psikrometrik. Suhu bola kering adalah suhu yang ditunjukkan dengan termometer biasa di dalam larutan garam, sedangkan metode bola basah adalah suhu yang diukur dengan

menggunakan termometer yang bagian bawahnya dilapisi dengan kapas basah kemudian dimasukkan larutan garam. Suhu bola basah akan selalu lebih rendah dari suhu bola kering. Posisi suhu bola kering dan bola basah dilihat pada kurva psikrometrik. Perpotongan antara kedua garis suhu bola kering dan bola basah berada pada suatu titik yang terletak pada garis RH sehingga dapat diketahui nilai kelembaban relatif yang terbentuk.

Pengaruh suhu dan kelembaban relatif terhadap pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada media Czapex Dox Agar (CDA)

Pengujian pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 dengan menggunakan media sintetik (CDA) diharapkan dapat memberikan informasi awal mengenai pola pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada suhu dan kelembaban relatif (RH) yang ditentukan. Kapang A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 yang ditumbuhkan pada media CDA akan membentuk spora berwarna kuning hingga kehijauan yang dapat memberi petunjuk terbentuknya aflatoksin (Das et al. 2012). Pengaruh suhu dan RH terhadap A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 menunjukkan diameter pertumbuhan koloni yang tidak jauh berbeda antar kedua strain A. flavus ini selama masa inkubasi. Secara visual, A. flavus BIO 2237 lebih banyak membentuk sklerotia dibandingkan spora, sementara itu BCC F0213 cenderung membentuk spora (Gambar 5) pada waktu inkubasi yang sama.

A B

Gambar 5 Pertumbuhan A. flavus BIO 2237 (A) dan BCC F0213 (B) pada media CDA selama 10 hari inkubasi pada suhu 30 oC dan RH 90%.

Beberapa kapang golongan Aspergillus diketahui dapat menghasilkan sklerotia. Sklerotia dapat dibentuk oleh kapang A. oryzae danA. flavus, namun yang lebih sering membentuk sklerotia adalah A. flavus (Ruiqianet al. 2013). Menurut Dehghan et al. (2008), isolat A. flavus yang diamati di Iran sebanyak 33.3% menghasilkan sklerotia pada media sintetik. Pembentukan sklerotia lebih maksimal terjadi pada suhu 37 ºC dibandingkan pada suhu 28 ºC.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu yang relatif rendah (20 oC) dan suhu yang relatif tinggi (40 oC) dari suhu ruang (30 oC) tetap mendukung pertumbuhan

A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 yang ditunjukkan dari penambahan diameter koloni

pertumbuhan selama masa inkubasi seperti yang terlihat pada Gambar 6-8. Pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 meningkat tajam mulai dari hari pertamahingga hari ke 7 masa inkubasi, setelah itu pertumbuhannya melambat. Masa pertumbuhan A. flavus umumnya berkisar antara 1-7 hari (Al-Shikli et al. 2010), dalam waktu 6 hingga 7 hari diameter koloni dapat mencapai 60-70 mm pada media sintetik,

setelah melewati 7 hari A. flavus secara aktif akan menghasilkan aflatoksin sehingga media sintetik akan terlihat berwarna kuning hingga oranye (Das et al. 2012). Aflatoksin terbentuk setelah A. flavus melewati fase logaritmik pertumbuhannya atau memasuki fase stasioner (statis). Pada fase statis jumlah nutrisi menjadi berkurang karena telah dimanfaatkan secara maksimal oleh A. flavus pada fase log, sehingga pada fase statis jumlah A. flavus yang hidup sebanding dengan jumlah yang mati. Pada kondisi seperti ini, A. flavus tidak mampu berkembangbiak lagi dan hanya mempertahankan diri dengan terus menghasilkan aflatoksin (Milani 2013).

A B

Gambar 6 Pertumbuhan A. flavus BIO 2237 (A) dan BCC F0213 (B) pada media CDA pada suhu 20 oC dengan RH 70, 80, dan 90%. Kontrol adalah suhu dan RH ruang (30 ºC dan 75%).

A B

Gambar 7 Pertumbuhan A. flavus BIO 2237 (A) dan BCC F0213 (B) pada media CDA pada suhu 30 oC dengan RH 70, 80, 90%. Kontrol adalah suhu dan RH ruang (30 ºC dan 75%).

 

A B

Gambar 8 Pertumbuhan A. flavus BIO 2237 (A) dan BCC F0213 (B) pada media CDA pada suhu 40 oC dengan RH 70, 80, 90%. Kontrol adalah suhu dan RH ruang (30 ºC dan 75%). 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Di amet er k o lo n i (m m )

Waktu pertumbuhan (hari)

0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Di am et er kol oni (m m )

Waktu pertumbuhan (hari)

kontrol RH 70% RH 80% RH 90% 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Diam eter kol oni (m m )

Waktu pertumbuhan (hari)

0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 D iamet er k o lo n i (mm)

Waktu pertumbuhan (hari)

kontrol RH 70% RH 80% RH 90% 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Di am et er kol oni (m m )

Waktu pertumbuhan (hari)

0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Di am et er kol oni (m m )

Waktu pertumbuhan (hari)

kontrol RH 70% RH 80% RH 90%

Pertumbuhan maksimal A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 terjadi pada suhu 30 oC dengan RH 90%, sedangkan pertumbuhan minimal terjadi pada suhu 40 oC dengan RH 70% pada hari ke 7 seperti yang terlihat pada Tabel 9. Pertumbuhan

A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 maksimal tumbuh pada RH 90% pada semua suhu.

Hal ini memperlihatkan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 lebih menyukai kondisi lingkungan lembab dibandingkan kondisi lingkungan kering untuk tumbuh dan berkembang.

Tabel 9 Pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada CDA pada suhu 20, 30, dan 40 ºC dengan RH 70, 80, dan 90% selama 7 hari masa inkubasi.

Suhu (oC) dan RH (%) Diameter koloni (mm)1

A.flavus BIO 2237 A.flavus BCC F0213

Kontrol (suhu 30 °C, RH 75%) 63.0±3.5b 56.0±0.7b Suhu 20 °C, RH 70% 59.0±2.1ab 47.0±4.9a Suhu 20 °C, RH 80% 65.0±2.1b 57.0±3.5bc Suhu 20 °C, RH 90% 69.0±1.4b 64.0±4.2cd Suhu 30 °C, RH 70% 55.0±11.3a 63.0±5.6c Suhu 30 °C, RH 80% 69.0±4.2bc 70.0±2.1d Suhu 30 °C, RH 90% 71.0±1.4c 72.0±2.8d Suhu 40 °C, RH 70% 50.0±4.2a 45.0±13.4a Suhu 40 °C, RH 80% Suhu 40 °C, RH 90% 58.0±0.8a 66.0±1.4b 50.0±3.5a 52.0±5.6ab 1

Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada satu kolom tidak menunjukkan perbedaan nyata (taraf uji 5%).

Hasil analisis statistik (α= 0.05) memperlihatkan bahwa taraf suhu atau RH yang diuji mempengaruhi secara nyata pertumbuhan A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213. Pada dasarnya suhu rendah dengan RH tinggi merupakan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan A. flavus. Pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada kondisi ruang (suhu 30 oC dengan RH 75%) lebih kecil dibandingkan dengan suhu 30 oC dengan RH 90% meskipun suhunya sama. Hal ini memperlihatkan bahwa RH lebih berperan dibandingkan suhu. Pada kondisi ruang, suhu yang terukur sama dengan suhu maksimal pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213, namun RH ruang yang terukur lebih kecil (75%) dari RH maksimal (90%) pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213. Penurunan RH dapat menurunkan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213. Nilai RH dibawah 85% seperti RH pada kondisi ruang (75%) dapat mengganggu pertumbuhan kapang A. flavus BIO 2237 dan BCC F0231.

Menurut Das et al. (2012) suhu 30 oC merupakan suhu maksimal bagi pertumbuhan kapang A. flavus MTCC 2798, sedangkan RH diatas 85% merupakan RH maksimal bagi pertumbuhan A. flavus (Al-Shikli et al. 2010). Nilai RH rendah (70%) dan suhu tinggi (40 oC) mengakibatkan perkembangbiakan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 melambat. Hal ini menggambarkan kondisi yang panas dan kering dapat menurunkan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213. Menurut Al-Shikli et al. (2010), pada dasarnya kapang A. flavus mulai berkembangbiak dengan baik pada RH 80% dan Hussaini et al. (2009) juga telah mengamati pola pertumbuhan beberapa jenis kapang diantaranya adalah A. flavus, hasil pengamatannya menyebutkan bahwa

A. flavus akan mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat di

faktor lingkungan yang memiliki peran penting bagi pertumbuhan kapang A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213.

Pengaruh suhu dan kelembaban relatif terhadap pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada jagung dan kedelai

Penanganan pascapanen jagung dan kedelai menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh para pelaku usaha pertanian. Selama ini para petani memanen komoditi pangan seperti jagung dan kedelai dengan kadar air tinggi sehingga mudah ditumbuhi oleh kapang seperti A. flavus. Proses pascapanen terdiri dari serangkaian kegiatan yang dimulai dari pemanenan dan diakhiri dengan penyimpanan. Tahap penyimpanan merupakan tahap yang paling kritis karena pertumbuhan A. flavus dapat terjadi hampir dua kali lebih banyak dibandingkan tahap sebelumnya jika kondisi lingkungannya mendukung. Lingkungan yang lembab merupakan kondisi yang sesuai bagi pertumbuhan kapang seperti A. flavus (Miskiyah dan Widaningrum 2008).

Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan semakin tinggi RH maka massa sel yang terbentuk semakin tinggi pula selama 10 hari masa inkubasi seperti yang terlihat pada Tabel 10. Massa sel yang terbentuk hanya terlihat pada RH 80 dan 90% di suhu 20, 30, dan 40 oC, untuk RH 70% massa sel hanya terbentuk di suhu 20 dan 30 oC, sedangkan pada suhu 40 oC pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 tidak terdeteksi baik pada jagung maupun kedelai. Selama masa inkubasi 10 hari, secara visual hampir seluruh permukaan biji jagung dan kedelai ditumbuhi oleh spora A. flavus

BIO 2237 dan A. flavus BCC F0213. Jumlah massa sel A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 yang paling tinggi atau maksimal pada jagung sebanyak 6209 dan 4911 mg, keduanya terbentuk pada kondisi suhu 20 oC dengan RH 90%. Sementara itu, pada kedelai jumlah massa sel A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 tertinggi yaitu sebesar 2635 dan 4636 mg, keduanya terbentuk pada kondisi suhu 30 oC dengan RH 90% dan pada suhu 20 oC dangan RH 90%.

Tabel 10 Pembentukan massa sel A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada jagung dan kedelai pada suhu 20, 30, dan 40 ºC dengan RH 70, 80, dan 90% selama 10 hari masa inkubasi.

Perlakuan

Massa sel (mg)1

A. flavus BIO 2237 A. flavus BCC F0213

Jagung Kedelai Jagung Kedelai Kontrol (20 ºC, 75%) 960.0±1.3de 1155.0±1.6bc 830.0±1.2b 285.0±0.4a 20 ºC, 70% 1001.6±0.2e 361.1±0.1a 970.0±0.1bc 1810.0±0.3cd 20 ºC, 80% 607.1±0.2bc 439.6±0.0a 1330.0±0.2d 4060.0±1.3f 20 ºC, 90% 6209.8±2.3g 1115.7±1.3c 4911.2±0.3f 4636.5±0.5h 30 ºC, 70% 235.0±0.1a 335.0±0.1a 485.0±0.1a 420.0±0.0a 30 ºC, 80% 925.0±0.8d 2350.0±0.2e 1130.0±0.2cd 2855.0±0.3e 30 ºC, 90% 1703.0±1.7f 2634.9±0.3f 4290.0±0.6e 4495.0±0.7gh 40 ºC, 70% 0 0 0 0 40 ºC, 80% 780.0±0.1c 2255.0±0.4de 720.0±0.0ab 1105.0±0.2b 40 ºC, 90% 790.0±0.1cd 2471.0±0.0ef 780.0±0.1b 1944.3±0.5d 1 Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada satu kolom tidak menunjukkan perbedaan nyata (taraf uji 5%).

Analisis ragam nilai dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0.05) menunjukkan bahwa secara statistik suhu dan RH berpengaruh nyata terhadap pembentukan massa sel

A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) juga

menunjukkan secara statistik setiap taraf perlakuan suhu dan RH memberikan respon yang berbeda terhadap pembentukan massa sel A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada jagung dan kedelai seperti yang terlihat pada Tabel 10. Umumnya pada setiap suhu terlihat semakin tinggi RH maka massa sel yang terbentuk semakin tinggi. Pertumbuhan A. flavus akan semakin meningkat jika jagung dan kedelai disimpan pada RH lebih dari 85% (Hell dan Mutegi 2011; Kusumaningrum et al. 2010), selain jagung dan kedelai, sorgum yang disimpan di lingkungan lembab jauh lebih tinggi cemaran

A. flavus dibandingkan dengan sorgum yang disimpan pada kondisi lingkungan kering

(Hussaini et al. 2009).

Perubahan suhu sebesar 5 oC atau terjadi peningkatan kadar air sebesar 0.5% atau lebih selama penyimpanan, menyebabkan peningkatan pertumbuhan A. flavus

(Vincelli et al. 2013). Nilai RH yang tinggi menandakan komposisi air di udara yang tinggi pula.Tingginya kandungan air di udara menyebabkan terjadinya migrasi air ke bahan pangan kering seperti jagung dan kedelai. Proses migrasi akan terus berlangsung hingga tercapai kesetimbangan antara bahan pangan (jagung dan kedelai) dengan lingkungan penyimpanannya. Proses migrasi air di udara ke dalam jagung dan kedelai mengakibatkan peningkatan kadar air dan aktivitas air (aw). Kadar air yang tinggi dapat dimanfaatkan oleh A. flavus untuk tumbuh dan menbentuk aflatoksin (Kabak et al.

2006; Cotty dan Garcia 2007). Vincelli et al. (2013) serta Hell dan Mutegi (2011) menyebutkan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko kontaminasi A. flavus pada komoditi pangan adalah dengan menjaga kadar air di bawah 15%. Pengendalian kadar air jagung dan kedelai sebelum dan selama penyimpanan dianggap cara yang efektif untuk menghindari pertumbuhan A. flavus.

Pada penelitian ini sampel jagung dan kedelai yang digunakan sebelum diinkubasi memiliki kadar air sebesar 13% (bk) serta aw sebesar 0.82 (jagung) dan 0.72 (kedelai). Kadar air awal jagung dan kedelai sebelum diinkubasi terukur rendah sehingga akan menyulitkan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213. Namun jagung dan kedelai yang diinkubasi di RH tinggi kemungkinan meningkat kadar air dan aw nya seiring terjadinya migrasi uap air, sehingga pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 relatif baik pada RH tinggi. Germinasi spora A. flavus berlangsung cepat pada aw tinggi yaitu hanya memerlukan waktu sekitar 2-7 jam, sebaliknya jika aw rendah maka germinasi spora berjalan lambat. Nilai aw terendah yang diukur oleh Nesci et al. (2003) yaitu sekitar 0.7 menunjukkan tidak terjadinya germinasi spora A. flavus, tetapi pada aw 0.98 germinasi spora A. flavus terjadi hampir 100%.

Jagung dan kedelai sebelum digunakan umumnya akan disimpan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi, dan biasanya pertumbuhan A. flavus meningkat selama penyimpanan jika kondisi lingkungan mendukung (Saini dan Kaur 2012). Idealnya, kadar air awal jagung dan kedelai sebelum disimpan pada lingkungan tropis seperti Indonesia berkisar antara 7-9%. Kondisi tropis dengan suhu dan RH tinggi dapat meningkatkan kadar air jagung dan kedelai selama penyimpanan karena terjadinya penyerapan uap air di udara ke dalam jagung dan kedelai. Kenaikan kadar air dan aw mengindikasikan kemungkinan infeksi A. flavus yang lebih tinggi karena A. flavus

merupakan jenis kapang yang tumbuh baik pada komoditi pangan dengan kadar air tinggi. Prabowo (2007) menyarankan, serealia yang akan disimpan dalam jangka waktu tertentu sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu hingga diperoleh kadar air yang sesuai

dengan ruang penyimpanan agar pertumbuhan A. flavus dapat diminimalkan. Suhu dan RH di Indonesia yang berkisar antara 22-37 oC dan 43-98% (BMKG 2013) masuk dalam rentang suhu (12-48 oC) dan RH (70-90%) pertumbuhan A. flavus (Kulshrestha et al. 2008; Das et al. 2012). Tingginya rentang suhu dan RH pertumbuhan A. flavus

menyebabkan sulitnya mencegah cemaran A. flavus pada jagung dan kedelai. Hussaini

et al. (2009) berpendapat, kondisi kering maupun lembab tidak menghalangi A. flavus

untuk mengontaminasi jagung dan kedelai. Keberadaan A. flavus tidak hanya menurunkan kualitas bahan pangan melalui perubahan warna dan nutrisinya, tetapi juga dapat menghasilkan metabolit sekunder turunan polipeptida yaitu aflatoksin yang dikenal sebagai senyawa berbahaya bagi manusia dan hewan (Murenoa et al. 2009).

Penyimpanan jagung dan kedelai dapat berlangsung lama. Permasalahan yang sering dihadapi selama penyimpanan jagung dan kedelai adalah tumbuhnya kapang seperti A. flavus yang cukup tinggi, sehingga mengakibatkan jagung dan kedelai memiliki kualitas yang rendah dan berisiko terhadap keamanan pangan karena aflatoksin yang dihasilkan A. flavus tersebut bersifat karsinogenik. Kontaminasi

A. flavus pada jagung dan kedelai dapat dihindari apabila terjadi kesetimbangan kondisi

antara kelembaban relatif ruang simpan dengan kandungan air jagung dan kedelai pada suhu tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tinggi (40 ºC) dengan RH rendah (70%) pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada jagung dan kedelai tidak terdeteksi. Hasil yang diperoleh ini dapat menjadi suatu rekomendasi bagi para pelaku usaha tani agar menyimpan komoditi pangan seperti jagung dan kedelai pada kondisi suhu 40 ºC dengan RH 70% untuk menghindari cemaran A. flavus

penghasil aflatoksin. Meskipun Indonesia negara tropis yang cocok bagi pertumbuhan

A. flavus hingga membentuk aflatoksin, namun beberapa wilayah di Indonesia seperti

Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo (Indonesia bagian timur) memiliki suhu lingkungan yang cukup tinggi (40-43 ºC) dengan RH yang rendah (68-71%). Sehingga hasil yang diperoleh pada penelitian ini (suhu 40 ºC dengan RH 70%) dapat diterapkan secara alamiah dan efisien untuk menghindari pertumbuhan A. flavus dan pembentukan aflatoksin selama penyimpanan komoditi pangan seperti jagung dan kedelai.

Pengaruh suhu dan kelembaban relatif terhadap pembentukan aflatoksin B1, B2,

Dokumen terkait