Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh 3 jenis kapang golongan Aspergillus yaitu Aspergillus flavus, Aspergillus paraciticus, serta Aspergillus
nomius ketika tumbuh pada komoditi pangan (Ahsan et al. 2010). Pada penelitian ini
kapang yang dipilih untuk ditumbuhkan pada jagung dan kedelai adalah kapang
A. flavus. Ada dua strain kapang A. flavus yang ditumbuhkan pada jagung dan kedelai
yaitu A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213, namun yang digunakan untuk analisis aflatoksin adalah jagung dan kedelai yang diinokulasi dengan A. flavus BIO 2237 karena A. flavus BIO 2237 dapat membentuk sklerotia. Menurut Dehghan et al. (2008), sklerotia pada A. flavus mengandung aflatoksin yang tinggi.
Analisis aflatoksin dilakukan dengan metode HPLC yang dilengkapi dengan detektor fluoresen dan post column photochemical reactor yang dapat meningkatkan sinyal deteksi aflatoksin B1 dan G1. Kondisi HPLC yang digunakan untuk mengukur kandungan aflatoksin pada jagung dan kedelai mampu memberikan limit deteksi (LoD) AFB1, AFB2, AFG1, dan AFG2 masing-masing adalah 0.45, 0.26, 0.05, dan 0.13 ng/mL, sedangkan limit kuantifikasi (LoQ) adalah 1.52, 0.88, 0.18, dan 0.43 ng/mL. Linearitas
analisis keempat aflatoksin tersebut menunjukkan nilai R2 > 0.999 serta akurasi analisis dengan uji rekoveri pada konsentrasi spiking AFB1 2 ng/g sampel memperlihatkan nilai rekoveri berkisar antara 90-109% dengan presisi 1.74%. Hasil pengukuran jumlah aflatoksin pada jagung dan kedelai yang diinokulasi A. flavus BIO 2237 selama 10 hari pada suhu 20, 30, dan 40 oC dengan RH 70, 80, dan 90% dapat dilihat pada Tabel 11. Analisis aflatoksin dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti TLC, ELISA, dan HPLC. Saat ini HPLC lebih banyak digunakan karena dapat mendeteksi aflatoksin pada konsentrasi rendah (ppb atau ng/g). Iqbal et al. (2011) telah mengukur kandungan aflatoksin pada cabai utuh dan cabai giling dengan menggunakan RP-HPLC yang dilengkapi detektor fluoresen. Limit deteksi (LoD) dan limit kuantifikasi (LoQ) untuk AFB1 dan AFG1 yang diperoleh dari sampel yang dianalisis adalah 0.05 dan 0.53 ng/g, sedangkan untuk AFB2 dan AFG2 sebesar 0.10 dan 0.60 ng/g. Arzandeh et al. (2010) juga menguji kandungan aflatoksin pada kacang tanah dengan menggunakan RP-HPLC yang dilengkapi detektor fluoresen dan post column photochemical reactor, dan LoD yang diperoleh untuk AFB1, AFB2, AFG1 dan AFG2 adalah 0.03, 0.01, 0.09, dan 0.06 ng/mL, sementara LoQ nya adalah 0.10, 0.04, 0.30, dan 0.20 ng/mL.
Tabel 11 Kandungan aflatoksin pada jagung dan kedelai yang diinokulasi A. flavus BIO 2237 sebanyak 100 µL dengan konsentrasi 106 CFU/mL dan diinkubasi pada suhu 20, 30, dan 40 oC dengan RH 70, 80, dan 90% selama 10 hari.
Suhu (oC), RH (%) AFB1 (ng/g) AFB2 (ng/g) AFG1 (ng/g) AFG2 (ng/g) Total (ng/g) Jagung Kontrol (30 oC, 75 %) 641.1±37.3 9.7±0.3 ttd1 0.7±0.7 651.5±36.2 20 oC, 70% 91.6±1.3 14.2±0.1 ttd ttd 105.8±1.4 20 oC, 80% 70.0±4.8 14.4±1.2 13.5±0.5 0.5±0.1 98.4±6.9 20 oC, 90% 17.3±0.5 0.9±0.0 ttd ttd 18.2±0.6 30 oC, 70% 6.9±0.4 0.6±0.0 ttd ttd 7.5±0.3 30 oC, 80% 90.2±0.2 10.6±0.1 ttd ttd 100.8±0.4 30 oC, 90% 599.5±4.4 11.6±0.3 ttd 3.1±0.3 614.2±4.3 40 oC, 70% ttd ttd ttd ttd ttd 40 oC, 80% 1.5±0.0 0.6±0.4 1.5±0.7 1.7±1.1 5.3±2.2 40 oC, 90% 76.9±1.9 5.1±0.5 19.2±0.4 ttd 101.2±1.1 Kedelai Kontrol (30 oC, 75 %) 47.9±2.5 2.3±1.7 20.2±1.7 0.2±0.0 70.6±4.0 20 oC, 70% 12.4±0.0 2.7±0.0 0.5±0.0 0.5±0.0 16.1±0.4 20 oC, 80% 73.2±0.1 19.3±0.3 4.6±0.3 3.8±0.2 100.9±0.3 20 oC, 90% 381.4±11.1 64.7±0.2 10.4±0.2 0.3±0.0 456.8±9.6 30 oC, 70% 0.6±0.1 0.1±0.4 0.6±0.4 0.1±0.0 1.4±0.5 30 oC, 80% 31.5±0.3 32.5±0.1 1.1±0.1 0.1±0.0 65.3±0.6 30 oC, 90% 935.5±3.8 6.1±2.7 57.0±2.7 0.4±0.0 999.0±0.7 40 oC, 70% ttd ttd ttd ttd ttd 40 oC, 80% 3.7±0.8 0.4±0.0 1.4±0.0 ttd 5.5±0.8 40 oC, 90% 60.1±0.0 7.1±1.1 11.2±0.2 1.3±0.0 79.7±0.3 1 ttd (tidak terdeteksi)
Kandungan aflatoksin maksimal pada jagung dan kedelai terbentuk pada suhu dan RH yang sama (30 ºC, 90%). Aflatoksin yang terukur pada kedelai (999 ng/g) lebih tinggi dibandingkan pada jagung (614ng/g), hal ini menunjukkan bahwa kedelai termasuk bahan panganyang rentan terhadap cemaran aflatoksin, padahal sebelumnya disebutkan bahwa kedelai mengandung senyawa fitat yang dapat menghalau A. flavus
untuk tumbuh dan membentuk aflatoksin. Hal ini diduga berkaitan dengan perbedaan struktur fisik antara jagung dan kedelai. Kulit sebagai pelindung memiliki peranan penting dalam menghadang serangan kapang A. flavus dan menjaga kadar air jagung dan kedelai. Kulit yang membungkus kedelai lebih halus dan lunak dibandingkan jagung yang cenderung lebih keras. Kulit pada biji kedelai lebih mudah ditembus oleh uap air lingkungan (suhu 30 ºC, RH 90%) penyimpanannya dibandingkan jagung selama masa inkubasi. Selain itu, protein yang bersifat higroskopis lebih banyak terkandung pada kedelai dibandingkan jagung sehingga proses pengikatan uap air pada kedelai lebih cepat dan lebih tinggi. Kadar air yang lebih tinggi dari jagung menjadikan kedelai sebagai media yang paling sesuai bagi produksi aflatoksin karena kadar air tinggi efektif terhadap sintesis aflatoksin. Cemaran aflatoksin pada kedelai juga ditemukan oleh Al-Seeni (2011) yaitu dari 51 sampel kedelai yang digunakan sebagian besar (63%) telah terkontaminasi aflatoksin.
Aflatoksin merupakan salah satu mikotoksin yang paling berbahaya bagi manusia dan hewan, terutama jenis aflatoksin B1 (IARC 2002). Umumnya cemaran aflatoksin B1 tergolong tinggi terutama pada komoditi pangan yang berasal dari kawasan tropis. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini terlihat bahwa hampir setiap sampel terdeteksi aflatoksin B1 yang dihasilkan oleh A. flavus BIO 2237 dengan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis aflatoksin lainnya (AFB2, AFG1, dan AFG2) yaitu berkisar antara 0.57-935.5 ng/g.
Produksi aflatoksin pada komoditi pangan seperti jagung dan kedelai dapat terjadi karena adanya kapang, substrat, dan kondisi lingkungan yang mendukung. Cuaca Indonesia dengan curah hujan tinggi tidak hanya cocok bagi pertumbuhan tanaman jagung, kedelai, kacang tanah, namun juga cocok bagi pertumbuhan kapang penghasil aflatoksin seperti A. flavus (Sudhakar et al. 2009). Suhu dan RH termasuk dalam faktor fisik yang berperan terhadap pembentuk aflatoksin. Menurut Ruiqian et al. (2013), aflatoksin hanya akan terbentuk pada kisaran suhu 12-42 ºC, sementara suhu maksimal pembentukan aflatoksin berkisar antara 25-30 ºC. Produksi aflatoksin dapat berjalan lancar apabila kondisi lingkungan lembab, RH minimal untuk pembentukan aflatoksin berkisar antara 83-88%. Mudahnya aflatoksin mencemari komoditi pangan menimbulkan kekhawatiran tersendiri, dan saat ini hampir 25% serealia di dunia terkontaminasi mikotoksin setiap tahunnya, dan aflatoksin memiliki bagian yang cukup besar (Reddy et al. 2010).
Total aflatoksin dan aflatoksin B1 tertinggi pada jagung dan kedelai ditemukan pada suhu 30 oC dan RH 90%. Das et al. (2012) menyebutkan bahwa pembentukan aflatoksin pada bahan pangan maksimal terjadi pada suhu 30 oC karena pada suhu tersebut proses sintesis aflatoksin cukup tinggi. Pada pengujian sebelumnya, pembentukan massa sel A. flavus BIO 2237 di jagung dan kedelai maksimal terjadi pada RH yang sama yaitu 90%, sementara suhu maksimalnya berbeda. Kapang A. flavus BIO 2237 yang tumbuh maksimal pada suhu 20 ºC dengan RH 90% di jagung berbeda kondisi maksimal dengan pembentukan aflatoksin yaitu pada suhu 30 oC dan RH 90%, sementara kedelai memiliki kesesuaian antara kondisi maksimal pembentukan massa sel dengan produksi aflatoksinnya. Pada jagung, kapang A. flavus BIO 2237 yang tumbuh
maksimal di suhu 20 ºC dengan RH 90% justru memiliki kandungan aflatoksin lebih rendah dibandingkan dengan yang diinkubasi pada RH 70 dan 80% di suhu yang sama, menurut Ruiqian et al. (2013) kondisi yang cocok bagi pertumbuhan A. flavus belum tentu cocok bagi sintesis aflatoksin. Hal serupa juga pernah ditemukan oleh Das et al.
(2012) yaitu kandungan aflatoksin tertinggi diperoleh pada konsentrasi A. flavus
sebanyak 5%, sementara pada konsentrasi A. flavus 10% justru terjadi penurunan kandungan aflatoksin. Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah A. flavus
yang lebih tinggi tidak selalu diikuti dengan jumlah aflatoksin yang lebih tinggi pula karena pada dasarnya aflatoksin akan terbentuk jika kapang A. flavus berada pada kondisi lingkungan yang membuat A. flavus stress atau tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga cenderung mengeluarkan metabolit sekunder yaitu aflatoksin untuk tetap bertahan hidup.
Pembentukan aflatoksin paling rendah terjadi pada kondisi panas dan kering. Konsentrasi aflatoksin total dan aflatoksin B1 terendah pada jagung masing-masing (5.3 dan 1.5 ng/g) terbentuk pada suhu 40 oC dan RH 80%, sedangkan pada kedelai konsentrasi terendah (1.4 dan 0.6 ng/g) ditemukan pada suhu 30 oC dan RH 70%. Pada penelitian ini suhu yang lebih panas dan kondisi kering menyebabkan pembentukan aflatoksin yang rendah. Hussaini et al. (2009) juga mengamati bahwa sorgum yang disimpan pada saat musim penghujan dengan kelembaban tinggi mengandung aflatoksin lebih tinggi (259.5 ng/g) dibandingkan dengan sorgum yang disimpan pada musim panas dan kering (197.9 ng/g). Begitu juga yang ditemukan di Uganda dan Kenya, komoditi jagung dan kacang yang berasal dari kawasan lembab memiliki kandungan aflatoksin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dan kacang yang diperoleh dari kawasan panas dan kering (Atehnkeng et al.2008 dan Kaaya et al. 2006). Ruang penyimpanan dengan kelembaban relatif yang tinggi dapat meningkatkan kontaminasi aflatoksin 10 kali lebih tinggi dalam waktu 3 hari (Hell et al. 2008). Namun perlu diwaspadai bahwa jumlah aflatoksin pada jagung yang disimpan pada kondisi ruang (suhu 30 oC dan RH 75%) dapat menyamai jumlah aflatoksin yang terbentuk pada suhu 30 oC dan RH 90% seperti yang diperoleh pada penelitian ini. Yousefi et al. (2009) menyebutkan cemaran aflatoksin relatif tinggi pada bahan pangan dikawasan tropis dan sub-tropis, suhu yang relatif hangat dan kelembaban relatif tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi pertumbuhan kapang A. flavus penghasil aflatoksin.
Pengendalian pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 oleh
Saccharomyces cerevisiae ATCC 9376 pada media PDA, jagung, dan kedelai
Pada penelitian ini kamir yang dipilih sebagai kamir antagonis adalah
S.cerevisiae ATCC 9376. Pada Gambar 9 memperlihatkan pertumbuhan A. flavus BIO
2237 dan BCC F0213 akibat adanya S. cerevisiae ATCC 9376. Pada Gambar 9 terlihat bahwa S. cerevisiae ATCC 9376 dapat mengendalikan laju pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada media PDA, jagung, dan kedelai. Lebar koloni perlakuan
A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 dengan S. cerevisiae ATCC 9376 menurun drastis
dibandingkan yang tanpa perlakuan. Persentasi penurunan atau hambatan pertumbuhan
A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 oleh S. cerevisiae ATCC 9376 dapat dilihat pada
Tabel 12. Penghambatan terkecil A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 terjadi pada kedelai (45 dan 38 %), sementara untuk penghambatan tertinggi A. flavus BIO 2237 terjadi pada jagung (47%) dan penghambatan tertinggi BCC F0213 terjadi pada media PDA (52%).
A B
Gambar 9 Penghambatan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 (A) dan BCCF0231 (B) oleh
S. cerevisiae ATCC 9376. Kontrol adalah pertumbuhan A. flavus BIO 2237
atau BCC F0213 tanpa S. cerevisiae ATCC 9376.
Proses penurunan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 dapat terjadi karena adanya kompetisi nutrisi antar kedua mikroorganisme tersebut untuk tumbuh dan berkembang dalam satu media yang sama. Kapang A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 tidak dapat tumbuh dengan baik karena adanya mikroba pengganggu yaitu
S. cerevisiae ATCC 9376. Tentu saja, pertumbuhan dua jenis mikroorganisme dalam
satu media yang sama akan berbeda dengan pertumbuhan mikroorganisme tunggal yang cenderung lebih baik.
Tabel 12 Daya hambat S. cerevisiae ATCC 9376 terhadap pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213.
Media Lebar koloni (mm) Daya hambat (%)1
A. flavus BIO 2237 A. flavus BCCF0213 A. flavus
BIO 2237
A. flavus BCC
F0213 Perlakuan Kontrol Perlakuan Kontrol
PDA 39.0 72.3 39.3 82.3 46.08b 52.22b Jagung 39.3 74.3 40.0 83.0 47.08c 51.80c Kedelai 41.3 75.7 50.7 81.7 45.37a 37.95a 1
Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada satu kolom tidak menunjukkan perbedaan nyata (taraf uji 5%).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kusumangtyas (2006) memperlihatkan S. cerevisiae F0206 yang digunakan hanya mereduksi pertumbuhan
A. flavus BCC F0213 sebesar 35% pada media sintetik. Persentasi penghambatan oleh
strain S. cerevisiae ini lebih kecil dibandingkan dengan strain yang digunakan pada penelitian ini (ATCC 9376) yaitu sebesar 52%. Dari perbandingan hasil yang diperoleh ini terlihat strain S. cerevisiae ATCC 9376 yang digunakan lebih baik dalam menekan laju pertumbuhan A. flavus BCC F0213.
Penurunan pertumbuhan A. flavus diduga tidak hanya terjadi karena kompetisi nutrisi untuk tumbuh antara A. flavus (BIO 2237 dan BCC F0213) dengan S. cerevisiae
ATCC 9376, namun ada kemungkinan S. cerevisiae ATCC 9376 menghasilkan metabolit yang dapat menghambat pembentukan spora A. flavus (Bianchini dan
0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Di amet er k o lo n i (mm )
Waktu pertumbuhan (hari)
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Di am et er kol oni (m m )
Waktu pertumbuhan (hari)
Kontrol PDA Kontrol Jagung Kontrol Kedelai Antagonis PDA Antagonis Jagung Antagonis Kedelai
Bullerman 2009). Dari hasil pengamatan terlihat pertumbuhan A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 yang terus menurun sementara pertumbuhan S. cerevisiae ATCC 9376 tidak pula bertambah, hal ini menunjukkan bahwa hambatan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 bukan terjadi karena kompetisi antara kedua mikroorganisme
tersebut, kemungkinan karena adanya suatu senyawa yang dikeluarkan oleh
S. cerevisiae ATCC 9376. Mekanisme penghabatan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213
oleh senyawa yang dihasilkan oleh S. cerevisiae ATCC 9376 dapat dibuktikan pada penelitian selanjutnya.
Metode pengendalian pertumbuhan A. flavus menggunakan mikroba yang aman terus dikembangkan saat ini. Pengendalian pertumbuhan A. flavus pada bahan pangan seperti jagung dan kedelai merupakan hal yang penting untuk dilakukan sebagai salah satu alternatif menghindari keberadaan A. flavus dan aflatoksin pada jagung dan kedelai khususnya selama penyimpanan. Saat ini baik dibidang pangan maupun di bidang lainnya, pengujian beberapa jenis mikroba sebagai kompetitor terhadap pertumbuhan
A. flavus penghasil aflatoksin terus dikembangkan. Menurut Aguero et al. (2008),
genus Trichodema spp. dapat diandalkan untuk menghambat proliferasi kapang
A. flavus toksigenik. Filamen kapang Trichoderma spp. diketahui bersifat parasit
terhadap mikroba patogen dan dipastikan juga terhadap kapang toksigenik seperti
A. flavus. Trichoderma harzianum dapat mengendalikan laju pertumbuhan A. flavus
sebesar 31.7% pada media sintetik Malt Extract Agar (MEA). Kapang A. flavus dan
T. harzianum ketika ditumbuhkan bersamaan akan berkompetisi satu sama lain untuk
berkembang biak. Selain itu, T. harzianum dapat menghasilkan senyawa volatil yang juga berperan dalam mengendalikan pertumbuhan A. flavus yaitu dengan cara menghambat pembentukan miseliumnya, sehingga Aguero et al. (2008) menyakini bahwa penghambatan A. flavus toksigenik tidak hanya terjadi karena kompetisi nutrisi, akan tetapi juga kerena adanya senyawa volatil berupa komponen aldehid yang dihasilkan oleh T. harzianum.
Sifat antagonis dari kapang T. harzianum secara keseluruhan juga diakibatkan adanya reaksi antibiosis dan beberapa enzim yang dihasilkan oleh T. harzianum seperti
β-1,3-glukanase, protease, dan kitinase. Umumnya komponen utama pada dinding sel kapang A. flavus adalah kitin, sehingga kitinase yang diproduksi oleh T. harzianum
dapat mendegradasi dan melisis kitin dinding sel A. flavus hingga A. flavus mati (Ruiqian et al. 2013). Mikroba antagonis lainnya yang memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan A. flavus adalah Rhodococcus erythropolis, Pseudomonas
fluorescens, Bacillus subtilis, dan Trichoderma viride dengan persentasi penghambatan
masing-masing sebesar 100, 74, 72, dan 65% pada sorgum (Reddy et al. 2010). Selain itu kapang A. flavus non toksigenik dapat berperan sebagai kapang antagonis terhadap
A. flavus toksigenik. Kapang A. flavus non toksigenik akan berinteraksi satu sama lain
dan mulai membentuk molekul-molekul yang sensitif terhadap A. flavus toksigenik sejak 24 jam pertama masa inisiasi, sehingga penghambatan A. flavus toksigenik dapat terjadi (Huang et al. 2011).
Diameter tumbuh A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada media PDA, jagung, dan kedelai tanpa adanya S. cerevisiae 9376 hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan adanya S. cerevisiae 9376. Tanpa adanya mikroba lain seperti S. cerevisiae, kapang A. flavus dapat tumbuh lebih cepat karena tidak terjadi kompetisi nutrisi atau tidak adanya unsur yang dapat menghambat pertumbuhannya, tetapi apabila adanya
A. flavus ditumbuhkan bersamaan dengan S. cerevisiae maka akan terjadi kompetisi
Nutrisi yang terdapat pada komoditi pangan memiliki peranan tersendiri bagi
pertumbuhan kapang A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213, serta bagi kamir
S. cerevisiae ATCC 9376. Kedelai yang mengandung protein dan lemak tinggi
(Tabel 13) lebih cocok bagi pertumbuhan A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 dibandingkan dengan S. cerevisiae ATCC 9376 sehingga pertumbuhan A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 lebih menonjol dan sulit ditekan oleh S. cerevisiae ATCC 9376. Alhasil, persentasi penghambatan kedua strain A. flavus pada kedelai cenderung kecil. Sementara jagung yang memiliki karbohidrat dua kali lebih tinggi dari kedelai akan didominasi oleh kamir S. cerevisiae ATCC 9376 dibandingkan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213, dengan demikian S. cerevisiae ATCC 9376 mampu mengendalikan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 lebih tinggi dibandingkan pada kedelai. Penelitian Penna et al. (2004) juga mengungkapkan bahwa tingginya kandungan karbohidrat (glukosa) pada jagung lebih mengutungkan bagi pertumbuhan kamir genus Kluyveromyces spp. dibandingkan A. flavus.
Tabel 13 Kandungan gizi dalam tiap 100 g jagung dan kedelai1
Kandungan gizi Kedelai keringa Jagung pipilan b
Protein (g) 30.90 7.90
Lemak (g) 15.10 3.40
Karbohidrat (g) 30.10 63.60
1
Sumber :a) Rukmana 1997; b) Badan Pusat Informasi Jagung2013.
Protein, lemak, dan karbohidrat merupakan unsur-unsur yang dapat ditemukan pada jagung dan kedelai. Kapang A. flavus umumnya memanfaatkan molekul-molekul sederhana lemak (asam lemak) dan protein (asam amino) yang mengandung unsur karbon sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya. Sementara itu, S. cerevisiae
merupakan jenis kamir yang cenderung memanfaatkan karbohidrat (glukosa) sebagai sumber nutrisi pertumbuhannya (Penna et al. 2004). Perbedaan komposisi protein, lemak, dan karbohidrat antara jagung dan kedelai ternyata menghasilkan persentasi
penghambatan A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 yang berbeda pula oleh
S. cerevisiae ATCC 9376. Perbedaan persentasi penghambatan ini terjadi diduga
berkaitan dengan mikroorganisme mana yang lebih berperan atau dominan untuk tumbuh pada jagung dan kedelai. Jagung dengan komposisi karbohidrat yang lebih besar dari pada kedelai lebih menguntungkan pertumbuhan S. cerevisiae ATCC 9376 dibandingkan A. flavus BIO 2237 atau BCC F0213 sehingga persentasi pengendaliannya lebih tinggi. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perbedaan media tumbuh akan menghasilkan persentasi penghambatan yang berbeda pula oleh
S. cerevisiae ATCC 9376. Hal senada juga ditemukan oleh Aguero et al. (2008) yaitu
sifat antagonis dari T. harzianum terhadap A. flavus akan berbeda ketika media tumbuhnya berbeda. Ketika ditumbuhkan pada media malt extract agar (MEA),
T. harzianum dapat menghalangi pertumbuhan A. flavus sebesar 31.7% dan sebaliknya
ketika media MEA diganti dengan media defatted corn germ-rice husk (DCGRH) justru menunjukkan tidak adanya perbedaan (p > 0.05) pertumbuhan antara perlakuan (antagonis) dengan kontrol (A. flavus tanpa T. harzianum).
Hasil analisis secara statistik menunjukkan bahwa keberadaan S. cerevisiae
ATCC 9376 sebagai mikroba antagonis berpengaruh sangat nyata (Sig < 0.05) terhadap pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 pada media PDA, jagung, dan kedelai. Tiga media yang digunakan ternyata juga berpengaruh nyata (Sig < 0.05)
terhadap penurunan pertumbuhan A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 oleh S. cerevisiae
ATCC F0213. Media kedelai merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan
A. flavus BIO 2237 dan BCC F0213 yang digunakan, hal ini terlihat dari persentasi
penghambatan yang lebih kecil dibandingkan dengan dua media lainnya (PDA dan jagung).
Pemilihan mikroba kompetitor bagi pertumbuhan A. flavus pada bahan pangan tentunya harus melewati berbagai pertimbangan, diantaranya adalah mikroba yang digunakan tidak memicu kapang A. flavus untuk menghasilkan aflatoksin yang lebih tinggi lagi selama proses interaksi kedua mikroorganisme tersebut. Menurut Penna et al.
(2004), kamir dapat berperan sebagai mikroba antagonis yang dapat menurunkan pertumbuhan A. flavus dengan menghambat pembentukan miseliumnya baik secara in
vitro maupun pada saat penyimpanan bahan pangan. Pengendalian pertumbuhan
A. flavus tentunya dapat mengendalikan pembentukan aflatoksin pada bahan pangan
(Juodeikiene et al. 2012). Penghambatan pertumbuhan A. flavus penghasil aflatoksin pada bahan pangan berperan penting dalam membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan baik pada manusia maupun pada hewan dan sekaligus meningkatkan mutu pangan (Babaei et al. 2013).