Hasil
Hubungan Panjang-Bobot Kerang Kijing (Anodonta woodiana)
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Pantai Pasir Putih Parparean terhadap hubungan panjang botot kerang kijing pada stasiun I ini diperoleh sebanyak 265 individu bahwa hubungan panjang dan bobot kerang kijing Pada stasiun I yang berjumlah 265 individu mengasilkan regresi W = 0,111L1,6077 dengan koefisen determinasi (R2) sebesar 0,4195 dan kolerasi (r) sebesar 0,65 dimana hubungan panjang bobot kerang kijing memiliki korelasi yang sangat kuat karena nilai r mendekati 1 (satu). Pendugaan pola pertumbuhan berdasarkan hasil uji-t, memiliki nilai thitung<ttabel yaitu dengan nilai masing-masing sebesar -0,86<1,60 yang berarti memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif (b<3). Pola pertumbuhan stasiun I dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 11. Hubungan panjang bobot kerang kijing pada stasiun I
y = 0.111x1.6077 R² = 0.4195
0 100 200 300 400 500 600
0 20 40 60 80 100 120 140
bobot (gr)
panjang (mm)
Sedangkan untuk hubungan panjang bobot pada stasiun II dapat diketahui bahwa paling sedikit tertangkap dengan jumlah 104 individu yang mengasilkan regresi W = 0,0051L2,4099 dengan koefisen determinasi (R2) sebesar 0,5588 dan kolerasi (r) sebesar 0,75 dimana hubungan panjang bobot kerang kijing memiliki korelasi yang sangat kuat karena nilai r mendekati 1 (satu). Pendugaan pola pertumbuhan berdasarkan hasil uji-t, memiliki nilai thitung<ttabel yaitu dengan nilai masing-masing sebesar -0,05<2,40 yang berarti memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif (b<3). Pola pertumbuhan kijing dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 12. Hubungan panjang bobot kerang kijing pada stasiun II
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada stasiun III jumlah kijing yang tertangkap dengan jumlah 182 individu mengasilkan regresi W = 0,1356L1,6713 dengan koefisen determinasi (R2) sebesar 0,246 dan kolerasi (r) sebesar 0,50 dimana hubungan panjang bobot kerang kijing memiliki korelasi yang sangat kuat karena nilai r mendekati 1 (satu). Pendugaan pola pertumbuhan berdasarkan hasil uji-t, memiliki nilai thitung<ttabel yaitu dengan nilai
masing-y = 0.0051x2.4099
masing sebesar -0,56<1,97 yang berarti memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif (b<3). Pola pertumbuhan kijing dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 13. Hubungan panjang bobot kerang kijing pada stasiun III
Pola pertumbuhan diperoleh dengan menghitung hubungan panjang dan bobot total kerang pada masing-masing stasiun. Hasil perhitungan panjang-bobot kerang kijing pada stasiun penelitian, didapatkan nilai konstanta b pada setiap stasiun. Nilai hubungan panjang bobot tersaji dalam Tabel 6.
Tabel 6. Data hubungan panjang bobot kerang kijing (Anodonta woodiana) pada setiap stasiun
No Stasiun b Pola Pertumbuhan
1 I 1,6077 Alometrik negatif
2 II 2,4099 Alometrik negatif
3 III 1,6713 Alometrik negatif
y = 0.1356x1.6713 R² = 0.246
0 100 200 300 400 500 600 700
0 50 100 150 200
bobot (gr)
panjang (mm)
Distribusi Kerang Kijing (Anodonta woodiana)
Dari hasil penelitian didapatkan nilai indeks distribusi kerang kijing di Pantai Pasir Putih Parparean pada stasiun I, stasiun II dan stasiun III termasuk kategori mengelompok. Nilai indeks distribusi (Id) kerang kijing tiap stasiunnya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Indeks distribusi kerang kijing tiap stasiun penelitian Stasiun
I II III
Jumlah Individu 265 104 182
Id 3,07 3,29 3,66 Kategori Mengelompok Mengelompok Mengelompok
Kelimpahan Populasi
Berdasarkan hasil penelitian terhadap kelimpahan populasi diperoleh secara keseluruhan bahwa jumlah individu kerang kijing yang tertangkap pada penelitian ini diperoleh sebanyak 551 individu, yang dapat dilihat pada Lampiran 6. Jumlah individu kerang kijing yang diperoleh bervariasi dari setiap stasiun penelitian.
Nilai kelimpahan kerang kijing dari setiap stasiun penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Kelimpahan populasi kerang kijing (Anodonta woodiana) pada setiap stasiun penelitian
No Stasiun Jumlah Individu
1 I 265
2 II 104
3 III 181
Parameter Fisika dan Kimia Pantai Parparean
Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia pantai parparean dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Parameter fisika dan kimia Pantai Parparean
Parameter Satuan
Stasiun
I II III
Fisika
Suhu °C 27,7 26,5 26,3
Kecerahan perairan Cm 53,8 25,3 49,16
Kedalaman Cm 54,3 61,1 62,73
Kimia
pH - 8,5 7,53 7,97
DO mg/L 6,26 5,67 6,36
Nitrat mg/L 1,53 0,46 1,2
Fosfat Mg/L 0,07 0,16 0,08
Tekstur Substrat dan C-organik Pantai Parparean
Penelitian tekstur substrat dan pengukuran C organik dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Nilai pengukuran substrat dan C organik dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Hasil pengukuran substrat dan c-organik
Stasiun Fraksi C- Organik
Pasir Debu Liat (%) USDA (%) (%) (%)
Stasiun I 98 1 1 0,52 Pasir Stasiun II 90 9 1 0,71 Pasir Stasiun III 98 1 1 0,14 Pasir
Metode Storet
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan diperoleh nilai indeks storet pada stasiun I, stasiun II dan pada stasiun III memiliki kategori kondisi air yang tercemar ringan. Hasil perhitungan kualitas air dengan metode indeks pencemaran di Pantai Pasir Putih Parparean dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Kualitas air Pantai Parparean dengan metode storet
Stasiun Skor Kualitas Air
Stasiun I -8 Tercemar ringan
Stasiun II -10 Tercemar ringan
Stasiun III -8 Tercemar ringan
Metode Indeks Pencemaran (IP)
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan diperoleh nilai indeks pencemaran pada stasiun I, stasiun II dan stasiun III memiliki kategori kondisi air yang tercemar ringan. Hasil perhitungan kualitas air dengan metode indeks pencemaran di Pantai Pasir Putih Parparean dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Kualitas air Pantai Parparean dengan indeks pencemaran (IP)
Stasiun Indeks Pencemaran Kategori
Stasiun I 2,4 Kondisi tercemar ringan
Stasiun II 3,4 Kondisi tercemar ringan
Stasiun III 2,3 Kondisi tercemar ringan
Metode Canadian Council of Ministers of the Environment (CCME)
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan diperoleh nilai indeks CCME pada setiap stasiun memiliki nilai yang bervariasi. Stasiun I memiliki kategori
baik sedangkan stasiun II dan stasiun III berkategori cukup. Hasil perhitungan kualitas air dengan metode indeks CCME di Pantai Pasir Putih Parparean dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Kualitas air Pantai Parparean dengan metode CCME
Stasiun Skor Kualitas Air
Stasiun I 81,11 Baik
Stasiun II 62,29 Cukup
Stasiun III 79,97 Cukup
Principal Component Analysis (PCA)
Hasil analisis interpretasi lingkaran korelasi antar variabel dapat dilihat dari pembentukan sudut yang terbentuk antar bentukan variabel seperti pada Gambar 14. Hasil antar korelasi PCA didapatkan dimana faktor lingkungan yang berkorelasi positif terhadap kelimpahan dimana yang membentuk <900 yaitu suhu, pH, DO, nitrat dan fosfat, sedangkan faktor lingkungan yang berkorelasi negatif terhadap kelimpahan dimana membentuk sudut >900 yaitu C-organik.
Gambar 14. Hubungan kelimpahan kerang kijing dengan parameter fisika dan kimia di Pantai Pasir Putih Parparean
Kelimpahan
Suhu ph Do Nitrat Fosfat
C-Organik
F2 (28,64 %)
F1 (39,74 %)
Berdasarkan hasil pengukuran parameter fisika dan kimia perairan yang dihubungkan dengan menggunakan analisis komponen utama terhadap kelimpahan kerang kijing diperoleh nilai korelasi antar parameter. Nilai korelasi analisis komponen utama dengan kelimpahan kerang kijing dapat dilihat dari Tabel 14.
Tabel 14. Nilai korelasi analisis komponen utama dengan kelimpahan kerang kijing (Anodonta woodiana)
Parameter Nilai Korelasi Tingkat hubungan
Suhu 0,709 Kuat
pH 0,790 Kuat
DO 0,890 Sangat kuat
Nitrat 0,650 Kuat
Fosfat 0,195 Sangat rendah
C-Organik -0,626 Kuat
Pembahasan
Hubungan Panjang-Bobot Kerang Kijing (Anodonta woodiana)
Hasil analisis pendugaan pola pertumbuhan kerang kijing berdasarkan uji-t dengan hipotesis jika thitung<ttabel maka terima H0. Dimana pada ketiga stasiun masingmasing memiliki thitung<ttabel yaitu pada stasiun I dengan nilai sebesar -0,86<1,60, stasiun II sebesar -0,05<2,40 dan stasiun III sebesar -0,13<1,67. Pada ketiga stasiun diketahui bahwa nilai thitung lebih kecil dibandingkan dengan nilai ttabel yang artinya kerang kijing mempunyai pola pertumbuhan yang alometrik negatif dengan nilai b<3. Yang mengindikasikan pertambahan berat lebih lambat daripada pertambahan panjang cangkangnya. Hal ini sesuai dengan Hasan et al (2014) yang menyatakan laju pertambahan total berat dengan panjang cangkang tidak seimbang. Proses pertambahan panjang cangkang lebih dominan jika
dibandingkan dengan pertambahan berat. Sorong (2007) pertambahan panjang cangkang sangat cepat dan terjadi pada individu yang masih dalam fase muda.
Cangkang yang masih dalam fase muda sangat tipis, sehingga memudahkan proses pertambahan panjang yang cepat.
Berdasarkan hasil grafik pertumbuhan kerang kijing dapat diketahui nilai koefisien relatif setiap stasiun. Dimana koefisien determinasi (R2) pada staisun I sebesar 0,4195 dengan nilai koefisen korelasi (r) sebesar 0,65, stasiun II nilai (R2) sebesar 0,5588 dengan nilai koefisen kolerasi (r) sebesar 0,75 sedangkan pada stasiun III nilai (R2) sebesar 0,246 dengan nilai koefisen korelasi (r) sebesar 0,50.
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa koefisen relasi setiap stasiun mendekati 1 dimana hal ini menunjukkan hubungan panjang berat tubuh kijing memiliki korelasi yang sangat kuat. Hal ini diduga karena kondisi perairan yang mampu mendukung untuk kehidupan kijing yang tertangkap cukup baik. Hal ini sesuai dengan Rochmady (2012) yang menyatakan bahwa bobot total kerang dengan panjang cangkang memiliki hubungan yang erat, yang ditunjukkan dengan harga koefisien korelasi (r) mendekati 1.
Berdasarkan data pada grafik, maka pola pertumbuhan kerang kijing pada setiap stasiun penelitian memiliki nilai konstanta b pada stasiun I dengan nilai b<3, dimana pada staisun I nilai b =1,6077, stasiun II nilai b = 2,4099 dan pada stasiun III nilai b = 1,6713 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan bersifat allometrik negatif artinya pertumbuhan panjang lebih dominan dibandingkan bobot. Dimana pertumbuhan kerang A. woodiana dapat diamati dengan melihat pertambahan ukuran cangkang kerang. Bertambahnya ukuran kerang ditandai dengan bertambahnya garis pertumbuhan. Secara umum pengukuran panjang
merupakan salah satu parameter untuk mengetahui pertumbuhan kerang. Hal ini sesuai dengan Sinaga et al., (2018) yang menyatakan bahwa pada umumnya, nilai parameter b dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi fisiologis, kualitas air, ketersediaan pakan, dan perkembangan gonad.
Indeks Distribusi Kerang Kijing (Anodonta woodiana)
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan nilai indeks distribusi kijing di Pantai Parparean pada ketiga stasiun termasuk kedalam kategori mengelompok dengan nilai pada ketiga stasiun (Ind/m2) sebesar 3,071527; 3,298544 dan 3,66098. Ketiga stasiun tersebut memiliki nilai indeks >1 yang menyatakan bahwa pola distribusinya bersifat mengelompok. Ketiga Jenis pola penyebaran secara mengelompok ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sesuai, karena merupakan perairan yang relatif cocok bagi organisme kijing yang mendukung untuk dapat tumbuh dan berkembang. Hal ini sesuai dengan Putri (2019) yang menyatakan bahwa tipe distribusi mengelompok disebabkan karena keadaan lingkungan tersebut sesuai untuk kehidupan organisme kijing yang berpengaruh terhadap kondisi lingkungan (fisika, kimia, air dan sedimen).
Selain itu setiap spesies mempunyai kondisi fisiologi, anatomi dan perilaku untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungan, sehingga akan mempengaruhi pola sebaran spesies tersebut. Pola penyebaran mengelompok yang paling umum terjadi karena individu-individu dalam populasi cendrung membentuk kelompok dalam berbagai ukuran. Hal ini sesuai dengan Guntara (2020) yang menyatakan bahwa penyebaran mengelompok ini diduga karena genus-genus tersebut hanya dapat hidup dengan kondisi lingkungan tertentu atau dapat pula karena adanya penyebaran sumber makanan yang tidak merata.
Kelimpahan Populasi Kerang Kijing (Anodonta woodiana)
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun I tentunya cenderung dipengaruhi oleh nilai parameter yaitu suhu dan pH. Adapun suhu tertinggi terdapat pada stasiun I dengan nilai 27,7ºC dan pH 8,5. Hal ini bahwa semakin tinggi nilai suhu yang masih pada batas optimum pertumbuhan, maka reaksi kimia pada tubuh biota akan semakin meningkat. Kenaikan dan penurunan 1oC sangat berpengaruh terhadap proses-proses fisiologi dalam tubuh kerang kijing. Menurut Suwignyo (2015) bahwa pada kisaran suhu air 20-30ºC merupakan suhu air yang sesuai bagi kehidupan plankton yang juga sebagai makanan alami kerang kijing (A. woodiana).
Dari ketiga stasiun dapat diketahui bahwa kelimpahan populasi terendah berada pada stasiun II dengan jumlah 104 individu. Rendahnya jumlah kerang yang ditemukan disebabkan oleh intensitas cahaya dan ketersediaan makanan yang mempengaruhi tingkat populasi serta rendahnya kandungan nitrat sebesar 0,46. Intensitas cahaya yang masuk ke dalam air semakin berkurang dengan bertambahnya kedalaman perairan, sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan biota didalamnya sehingga unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan akan diserap dalam jumlah banyak. Hal ini sesuai dengan Gosling (2004) yang menyatakan bahwa cahaya merupakan salah satu faktor yang cukup mendukung pertumbuhan dan perkembangan kerang. Nitrat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan biomassa eceng gondok dimana kandungan nitrat diperairan cenderung menurun seiring dengan meningkatnya biomassa eceng gondok. Brahmana et al., (2010) menyatakan bahwa senyawa
ammonium dan nitrat banyak diserap oleh tumbuhan dan ganggang untuk proses pertumbuhan.
Parameter Fisika Kimia Perairan Pantai Parparean Suhu
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap kualitas air suhu rata-rata dari seluruh stasiun pengamatan menunjukkan kenaikan dan penurunan sebesar 1-2oC dari tiga kali pengamatan, hal tersebut kemungkinan dipengaruhi sinar matahari yang membuat suhu air menjadi seragam, sedangkan pengukuran suhu air tertinggi pada stasiun I yaitu 27,7oC, pada stasiun II 26,3oC dan suhu terendah pada stasiun yaitu sebesar III 25,7oC. Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi distribusi suatu organisme. Kisaran suhu yang terdapat pada setiap pengamatan merupakan kisaran suhu yang mampu mendukung kehidupan kerang kijing. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan untuk mengetahui kondisi air yang layak untuk pertumbuhannya. Hal ini sesuai Hastuti et al., (2012) yang menyatakan bahwa genus Anodonta dapat hidup di perairan dengan temperatur berkisar 11-29oC.
Kecerahan
Berdasarkan hasil pengukuran kecerahan air dari seluruh stasiun, kecerahan air tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu sebesar 53,8 cm, hal tersebut disebabkan karena partikel-partikel tersuspensi yang melayang di permukaan relatif sedikit sehingga cahaya matahari mampu menembus hingga ke kolom air. Sedangkan tingkat kecerahan air terendah terdapat pada stasiun II sebesar 25,3 cm, hal tersebut karena faktor warna perairan yang keruh cenderung kecokelatan adanya
vegetasi tumbuhan yang cukup tinggi menyebabkan tumbuhan air kesulitan dalam melakukan proses fotosintesis sehingga oksigen terlarut dan energi dalam air tidak dihasilkan optimal. Hal ini sesuai dengan Astari et al., (2018) kisaran optimal parameter kecerahan bagi kerang kijing (A. woodiana) adalah 34-70 cm.
Pengukuran kecerahan air secara tidak langsung mempunyai pengaruh besar bagi organisme air, yaitu sebagai sumber energi untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan yang akan menjadi sumber makanan.
Kedalaman
Berdasarkan hasil pengukuran penelitian yang dilakukan selama pengamatan menunjukkan nilai kedalaman tertinggi berada pada stasiun III dengan rata-rata sebesar 62,7 m dan kedalaman terendah berada pada stasiun I dengan rata-rata 54,3 m. Kedalaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan suatu organisme, perairan yang dangkal akan memberikan keuntungan bagi kerang A. woodiana karena perairan tersebut merupakan perairan yang subur cahaya matahari menembus sampai ke kolom air.
Hal ini sesuai dengan Minggawati (2013) daerah dangkal biasanya memiliki variasi habitat yang lebih besar dari pada daerah yang lebih dalam sehingga cenderung mempunyai makrozoobentos yang beranekaragam dan interaksi kompetisi lebih kompleks.
Oksigen Terlarut (Dissolved oxygen)
Hasil pengukuran oksigen terlarut yang dilakukan di tiga stasiun pengamatan menunjukkan nilai oksigen terlarut tertinggi berada pada stasiun III sebesar 6,36 mg/l dan terendah pada stasiun II sebesar 5,67 mg/l. Nilai oksigen
terlarut pada stasiun II disebabkan oleh pengamatan secara visual di lokasi penelitian banyak ditemukan eceng gondok dan tumbuhan air lainnya. Hal ini dimungkinkan menjadi penyebab rendahnya nilai DO pada perairan yang pertumbuhan yang tidak terkendali dapat mempengaruhi ekosistem danau tersebut. Hal tersebut dapat mengakibatkan rendahnya oksigen (O2) dan terganggunya proses nitrifikasi. Hal ini sesuai dengan Purnomo et al., (2013) yang menyatakan bahwa nilai kandungan DO yang sangat rendah dimungkinkan karena banyaknya limbah organik yang bersumber dari hasil aktivitas manusia.
Hal tersebut didukung oleh pendapat Simanjuntak (2007), kadar oksigen terlarut semakin menurun seiring semakin meningkatnya limbah organik di perairan tersebut. Hal ini sesuai dengan Hastuti et al., (2012) yang menyatakan bahwa Anodonta woodiana memerlukan oksigen terlarut 3,8-12, mg/l tetapi mampu bertahan dengan kadar oksigen sedikit dalam jangka waktu pendek.
Derajat Keasaman (pH)
Berdasarkan hasil pengukuran derajat keasamaan (pH) yang dilakukan pada ketiga stasiun pengamatan, menunjukkan nilai rata-rata derajat keasamaan rata-rata pada stasiun I yaitu 8,5, nilai pH rata-rata pada stasiun II yaitu 7,53 dan nilai pH rata-rata pada stasiun III yaitu 7,97. Nilai tersebut termasuk basa dan masih tergolong cocok bagi kehidupan organisme di bahwanya dan masih ideal bagi kehidupan kerang kijing. Semakin tinggi pH suatu perairan maka semakin besar sifat basanya, dan semakin rendah nilai pH maka semakin asam suatu perairan. Nilai pH dipengaruhi oleh beberapa parameter. Hal ini sesuai dengan Elvince dan Kembarawati (2021) yang menyatakan bahwa konsentrasi pH mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad
renik. Untuk nilai pH yang ideal bagi kehidupan biota air tawar adalah antara 6,8-8,5.
Nitrat (NO3)
Berdasarkan pengukuran nitrat yang dilakukan di lapangan didapatkan nilai stasiun I sebesar 1,53 mg/L, stasiun II 0,46 mg/L sebesar dan pada stasiun III sebesar 1,2 mg/L. Diketahui bahwa nilai nitrat tertinggi berada pada stasiun I yang dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat disekitarnya dan aliran yang berhubungan langsung dengan limbah permukiman penduduk sehingga menyebabkan nitrat menjadi tinggi. Hal ini sesuai dengan Lihawa dan Mahmud (2017) yang menyatakan bahwa nitrat di alam dapat dihasilkan secara alami maupun dari aktivitas manusia. Sumber alami nitrat adalah dari siklus nitrogen sedangkan sumber yang berasal dari aktivitas manusia adalah penggunaan pupuk nitrogen, limbah industri.
Fosfat (PO4)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa nilai fosfat rata-rata pada stasiun I yaitu 0,07 mg/L, nilai fosfat rata-rata pada stasiun II yaitu 0,16 mg/L dan nilai fosfat rata-rata pada stasiun III pantai Pasir Putih Parparean yaitu 0,08 mg/L. Hasil nilai fosfat pada satsiun I dan stasiun III masih memenuhi baku mutu menurut PP NO. 22 Tahun 2021 dengan baku mutu 0,01 mg/l.
Sedangkan nilai fosfat perairan pada stasiun II sudah melebihi baku mutu.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa konsentrasi fosfat pada stasiun III termasuk konsentrasi yang rendah dibandingkan dengan stasiun I dan stasiun II. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kadar
fosfat pada sedimen adalah karena fosfat memiliki sifat yang gampang tersuspensi dan terikat. Hal ini sesuai dengan Utomo et al., (2018) yang menyatakan bahwa setiap senyawa fosfat dalam air terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat dalam sel organisme air. Tinggi rendahnya fosfat di perairan dipengaruhi oleh adanya limbah domestik yang mengandung detergen. Detergen dapat meningkatkan kadar fosfat karena ion fosfat merupakan salah satu komposisi penyusun detergen.
Metode Storet
Berdasarkan hasil penelitian pada metode storet didasarkan pada titik pengambilan sampel dan pada parameter yang telah ditentukan yaitu parameter fisika dan kimia. Baku mutu air yang digunakan adalah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup kelas II dimana merupakan air yang peruntukannya dapat digunakan untuk rekreasi, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi tanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan metode storet pada tabel 8 dapat disimpulkan bahwa pada stasiun I – III mempunyai status mutu air tercemar ringan dengan nilai indeks pencemaran tertinggi terdapat pada stasiun II yaitu -10.
Status mutu air yang tercemar ringan dapat dilihat dari tingginya yang kandungan parameter fosfat yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia melakukan pembangunan pariwisata sehingga mengakibatkan pengerukan tumbuhan eceng gondok yang berlokasi ± 4 km dari lokasi pantai dan memiliki kondisi perairan tenang. Hal ini sesuai dengan Patricia et al (2018) yang menyatakan bahwa
tingginya kadar fosfat adalah salah satu bahan nutrisi yang memicu pertumbuhan yang sangat luar biasa pada alga dan rumput-rumputan dalam danau, estuaria, dan sungai berair tenang.
Indeks Pencemaran (IP)
Berdasarkan hasil penelitian dengan perhitungan inkdes pencemaran yang diperoleh dari tabel 9 bahwa nilai tertinggi terdapat pada stasiun II yaitu dengan skor 3,4 dan nilai terendah pada stasiun III dengan skor 2,3. Hal ini dapat dilihat bahwa nilai fosfat di perairan melebihi ambang batas yang ditentukan.
diakibatkan karena tingginya kandungan fosfat di perairan yang dipengaruhi oleh adanya aktivitas manusia melakukan pengerukan tumbuhan eceng gondok yang dekat dengan stasiun II. Hal ini sesuai dengan Ramadhan et al (2020) yang menyatakan bahwa sumber fosfat di perairan berasal dari limbah peternakan, limbah manusia terutama detergen, pertanian terutama penggunaan pupuk anorganik, limbah industri serta dari proses alamiah di lingkungan itu sendiri.
Metode Canadian Council of Ministers of the Environment (CCME)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa nilai tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu dengan skor 81,11 dengan kategori cukup, stasiun II dengan skor 62,29 dengan katogori cukup, dan stasiun III menunjukkan kualitas air dengan katogori cukup dengan skor 79,97. Dapat disimpulkan bahwa stasiun I merupakan stasiun dengan katogori cukup baik. Hal ini dipengaruhi dikarenakan stasiun ini berada di kawasan pemukiman padat penduduk yang mendapat masukan limbah domestik secara terus menerus. Hal ini sesuai dengan Wahyuni et al (2021) yang menyatakan bahwa bahwa tingginya konsentrasi zat
hara nitrat di perairan dapat disebabkan tingginya pengaruh daratan yang banyak mensuplai zat organik dari limbah antropogenik seperti aktivitas rumah tangga, permukiman, pertanian dan peternakan.
Tekstur Substrat dan C-organik di Pantai Parparean
Berdasarkan hasil pengukuran tekstur substrat pada penelitian di pantai Pasir Putih Parparean didapatkan jenis substrat menurut segitiga USDA yang menunjukkan bahwa ketiga stasiun penelitian memiliki jenis substrat yang sama yaitu pasir dikarenakan hasil laboratorium menunjukkan nilai fraksi paling tinggi yaitu pasir sebesar 98%. Jenis substrat dapat menentukan keberadaan kerang kijing hal ini didugua karena banyak ditemukan jenis bivalvia yang membenamkan diri di substrat pasir. Hal ini sesuai dengan Yanuardi et al., (2015) yang menyatakan bahwa kerang Unionidae dari subfamili Anodontidae menyukai substrat pasir atau campuran pasir dengan material lain.
Berdasarkan hasil pengukuran tekstur substrat pada penelitian di pantai Pasir Putih Parparean didapatkan jenis substrat menurut segitiga USDA yang menunjukkan bahwa ketiga stasiun penelitian memiliki jenis substrat yang sama yaitu pasir dikarenakan hasil laboratorium menunjukkan nilai fraksi paling tinggi yaitu pasir sebesar 98%. Jenis substrat dapat menentukan keberadaan kerang kijing hal ini didugua karena banyak ditemukan jenis bivalvia yang membenamkan diri di substrat pasir. Hal ini sesuai dengan Yanuardi et al., (2015) yang menyatakan bahwa kerang Unionidae dari subfamili Anodontidae menyukai substrat pasir atau campuran pasir dengan material lain.